Menikahi Puisi

bocah laki-laki itu memandangi aksara yang rapi berbaris di hadapannya,
serupa seorang perempuan cantik tengah berdiri di sana,
menunggunya.
tapi seperti kuda kampung yang berharap ditunggangi arjuna,
atau sang dewi-dewi dari negeri dongeng,
kesia-siaan serupa musim yang selalu lebih panjang dari perkiraan.

ah, kau cantik sekali. seperti puteri raja. bocah itu berbisik mesra.
diciumnya bibir itu hingga sekonyong-konyong ranum bibirnya bermimpi.
kau lebih molek dari janda di kampung sebelah. ia berbisik lagi.
bibirnya tersenyum, seolah serbuk kopi pagi yang sering diseduhnya
melindap di bawah lidahnya.
kelu, matanya menatap nanar lekuk-lekuk cantik di atas secarik kertas,
mengingatkannya pada seorang perempuan;
yang ditunggunya.

ah, perempuan itu sama manisnya dengan kau, cantik. dia berbisik lagi,
tapi kali ini dengan udara di depannya.
dia ingat betapa perempuan itu datang dan pergi sesuka hati,
seperti puisi yang seringkali mampir ke kepalanya,
kemudian dilupakan sebab lupa ia tulis di atas kertas.
tapi perempuan itu kadangkala seperti mantra penebus dosa,
ia rapal berkali-kali, setiap hari karena takut neraka.
hingga dalam kepalanya, berkas-berkas ingatan tentang perempuan itu
serupa meja kerjanya yang seorang editor naskah.

senja. laut. sungai. gunung. bukit. laju kereta api. bunga mawar. wajah bulan.
perempuan itu ialah keindahan dari perpaduan antara alam dan keajaiban di luar dunia.
seperti surga, katanya. ah, ia sedang dimabuk asmara yang tak berkesudahan.
puisi-puisi berserakan di kepalanya serupa naskah-naskah yang harus ia baca berkali-kali.

“aku sudah punya tunangan, fred. aku akan menikah.”
perempuan itu menyayat dirinya dan bocah laki-laki itu lewat tuturnya;
laut yang selama ini menenggelamkan bocah laki-laki itu.
ia mengangguk. barangkali, bukan hanya kesia-siaan yang sepanjang musim,
tetapi kesedihannya, yang musim hujan pun kalah panjang.

suatu hari, ia menemukan lagi perempuannya.
dalam balutan luka dan kepedihan yang purba;
sesuatu yang takkan kembali, akan kembali dalam bentuk yang lain.
perempuan itu lagi, datang kepadanya suatu hari,
lewat aksara-aksara yang berbaris rapi di hadapannya.
dan ia meyakini dalam hati, jauh dalam palung hati;
aku akan menikahimu, cantik. bisiknya pilu.

source: weheartit.com

source: weheartit.com

—END
Depok, 28 April 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s