Menonton Puisi Berbicara

lampu berkelipan di matamu,
ia bercakap-cakap dengan kesepianmu
yang tak pernah terlihat siapa pun kecuali aku
dan kau tak pernah mengakui, duka seperti apa yang tinggal dalam dadamu.

bibirmu berceloteh seakan-akan ingkar pada kesedihanmu
kakimu menjejak tegas pada tubuh panggung yang kau injak-injak
sandiwara dan topeng tidak pernah lepas dari tubuh dan wajahmu
tapi di sana bukan berupa dusta. kau hanya mengingkari dirimu sendiri.

cermin itu retak ketika kau berkaca.
ia marah, tak lagi mengenali wajahmu yang kini asing.
tapi kau bisa berkaca di mataku,
satu-satunya tempat kau bisa menjelma siapa saja.

kau masih berbicara ketika tubuhku sudah hampir tenggelam
dalam buai suaramu yang laut. suara yang tak pernah terekam dalam ponsel atau kenangan.
kau masih di sana, di atas panggung sambil menggenggam pesonamu
ketika aku duduk di kursi penonton. mencari-cari yang hilang di matamu;

aku.

kesedihan dan kesepian itu.

yang kauingkari. berkali-kali.

Depok, 30 Mei 2015

Iklan

Berkilo-kilo Meter Dari Rumah

jauh. bersekat.
sudah kulewati lampu-lampu jalan di jalan itu.
langkah kaki terseret, lelah oleh kumparan waktu.
ah, jalan ini sungguh panjang, dan melebamkan kata demi kata.

tak sampai-sampai.
jalanan ini lengang dan gelap.
seperti kesedihan yang berhasil disembunyikan senyuman.
dan luka yang terbenam di mataku tak akan terbit lagi ketika berpapasan.

puisi tak mampu lagi menerjemahkan,
apa-apa yang disimpan pada ingatanku.
kian lama kian memudar seperti tinta di kertas usang itu.
larik-larik puisi pernah terukir di sana semacam takdir pahit yang terus ingin dirayakan.

kadangkala, aku ingin berhenti.
menulis kata-demi-kata yang tak pernah kau baca.
kadangkala aku ingin meneruskan perjalanan,
jauh. sampai jauh.

dan kau masih seperti matahari,
yang kukejar dari perjalanan tak sudah-sudah ini.
dan kau akan terus menjadi matahari,
yang terbenam di mataku. sekali lagi.

Depok, 30 Mei 2015

Langit yang Tak Pernah Terjangkau

waktu berlarian kemudian bercakap-cakap dengan kesepian
lalu kau berada di sana sebagai kabut yang tipis
ada tetapi tak terlihat mata
kau lah yang mereka percakapkan

kau adalah rahasia yang tak dimiliki sepasang mataku
bahasa yang diam seperti keheningan yang sering kau lalui
senyumanmu, kau tahu, ialah dosa-dosa yang kusembunyikan
dalam diriku, kau adalah langit yang tak terjangkau jemariku

tubuh-tubuhmu seperti senja di puncak munara
dan aku pendaki yang kelelahan menanjak
takut maut tiba-tiba datang menawarkan jalan yang lain
yang lebih lengang tenang tanpa terjal

bibirmu merah muda selembut warna langit saat fajar tiba
dan aku adalah manusia yang sering bangun kesiangan
melewatimu sambil merutuki diri sendiri
dan menikmati kopi yang tak semanis lengkung sabitmu

kau adalah buku puisi yang ada di rak-rak toko buku
membacamu sepintas takkan pernah membuatku merasa cukup
memindahkanmu seluruhnya ke dalam kepalaku, ingatanku, dan ruang tidurku,
aku tidak mampu

seandainya aku memiliki cukup keberanian
aku ingin meminta menjadi seekor kupu-kupu
yang bisa mengepakkan sayap kepadamu;
langit yang tak pernah mampu terjangkau jemariku

seandainya aku memiliki cukup nyali
aku ingin menjadi pendaki yang sampai di puncak
menatap keindahanmu banyak-banyak
dan bangun lebih pagi, demi sabit di bibirmu

dan waktu masih bercakap-cakap dengan kesepian
lalu aku, masih seseorang yang memandangi langit yang tak pernah terjangkau jemariku.

—END

Depok, 21 Mei 2015

Sepi yang Bermukim di Matamu

hening berjatuhan dari bibirmu
seolah hujan sedang mendiami suatu kota
untuk kemudian pergi
dan meninggalkan jejak-jejak kenangan

bunga yang bermekaran di dadamu itu
bukan mawar, ataupun melati
di sana tumbuh kembang perasaan
yang kaupetik bukan untukku

tangan kurusmu yang seperti batang bambu
sebab keteduhan berasal dari sana
sedang menjulur kepada seorang wanita
yang menawarimu sekuntum luka; sebagai imbalan atas kembang yang kaupetik untuknya

seperti puisi yang ditukar kesedihan
sekuntum kembangmu layu disiram matahari musim kemarau
kian lama, kian meranggas satu-satu
lalu mati kering sukarela di tanah pecah-pecah

jari-jarimu kemudian seperti seorang ibu
yang melahirkan puisi-puisi patah hati
matamu kemudian seperti tanah lapang;
kosong, tak menyisakan apa-apa kecuali sepi

lalu sepi bermukim di matamu
ibarat sebuah kota dihuni seorang saja
yang merayakan hidup sendirian
yang menangisi kesedihannya sebatang kara

dan aku masih seperti sedia kala
sebelum sepi menghuni matamu
menjadi seekor kupu-kupu
yang tinggal dalam dadamu

menanti kembang itu mekar
sekali lagi.

—END

Depok, 16 Mei 2015

Saya Dan Mas Priyatno

Cinta itu sederhana, bagi saya dan Mas Priyatno. Sebelum rahasianya terkuak di hadapan saya. Sebelum ia datang dengan dua martabak manis cokelat keju kesukaan saya dan Ibu saya, lalu bercakap-cakap di teras depan sambil minum kopi sachet dan biskuit pandan kesukaan kami. Sebelum semuanya dikatakannya, dengan berat hati. Dan sepersekian detik membuat bibir saya menganga saking terkejutnya.

Saya dan Mas Priyatno sudah hampir dua tahun menjalin hubungan. Rencananya, bulan depan akan merencanakan pernikahan. Usia saya dan Mas Priyatno sudah tidak muda lagi. Masing-masing dari kami sudah hampir memasuki usia kepala tiga dan empat. Saya masih perawan. Belum pernah tersentuh laki-laki mana pun. Sedangkan Mas Priyatno ini duda tanpa anak. Entah sebab apa, rumah tangga Mas Priyatno seperti terkena kutukan, ia berkali-kali gagal membina rumah tangga. Ya, istrinya selingkuh dengan atasannya lah, ya orangtua istrinya menuntut cerai karena menuduh Mas Priyatno mandul, meninggal sebab penyakit yang tidak wajar dan yang paling parah adalah yang terakhir. Mantan istri Mas Priyatno adalah pelacur kelas kakap. Ia memergoki istrinya di hotel di bilangan Jakarta saat ia sendiri ditugaskan untuk melacak tempat-tempat prostitusi. Bukan main, betapa hidup telah mengacak-acak Mas Priyatno.

Mungkin kalian bertanya, mengapa sampai memasuki usia kepala tiga, saya masih melajang, bahkan perawan. Hal yang jarang dijumpai di masa sekarang. Nama saya, Damira Tanasa. Nama asli saya Damira Tan, di tahun terburuk selama saya tinggal di negeri Indonesia Ibu menyuruh saya menyembunyikan identitas saya sebagai Tan. Saat itu saya masih berusia 11 tahun, kelas 6 SD. Saya tahu nama saya tiba-tiba berubah di kelas 5 SD, sebagai Damira Tanasa. Banyak teman-teman saya yang berwajah putih seperti tepung dan bermata kecil di masa itu yang mengubah nama belakang mereka, tanpa saya tahu penyebabnya. Sekarang, saya tahu, mereka, dan ibu saya mengubah namanya dan anak-anaknya demi keselamatan. Tetapi harapan itu tidak menolong kakak saya. Liana Tan, yang mengubah namanya menjadi Lina Talina.

Liana Tan. Mungkin nama itu pernah muncul di surat kabar-surat kabar tahun itu. Tahun tergelap bagi keluarga kami. Ibu, seorang Jawa yang memiliki wajah hitam manis mirip gula khas Jawa, harus rela kehilangan suaminya, Ayah, seorang Tionghoa yang menghilang saat kerusuhan 12 Mei 17 tahun lalu. Ayah pamit berdagang, tetapi hingga kini beliau tiada kabar lagi. Mungkin beliau turut hangus dalam kota api itu. Atau pergi mencari perempuan tionghoa yang lain. Entahlah, saya selalu mengharapkan pemikiran yang ke dua.

Saya tiga bersaudara. Liana Tan adalah kakak saya, anak petama. Wajahnya mirip sekali dengan Ayah saya, kelihatan sekali khas wajah tionghoa-nya. Kalau saya mirip keduanya; Ayah dan Ibu, tidak terlalu tionghoa, tidak pula terlalu jawa. Perpaduan yang tidak begitu mengancam jiwa saat 17 tahun silam. Adik saya Meychan lebih beruntung lagi, wajahnya sangat Ibu. Jawa. Mata bulat, hidung bangir, tetapi kulitnya mengambil kulit Ayah, putih langsat. Tetapi Meychan dianggap keturunan Jawa-Sunda oleh teman-temannya sampai sekarang.

Mei. Liana Tan. Ialah dua hal yang selalu terhubung dalam benak saya, mengapa saya dulu begitu membenci laki-laki dan jijik apabila melihat bahkan menyentuhnya. Karena merekalah yang membuat kakak saya mendekam di jeruji rumah sakit jiwa bertahun-tahun. Karena merekalah yang membuat kakak saya tidak ingin bicara, hanya ingin menangis dan meraung sepanjang hidupnya. Karena merekalah saya jijik apabila melihat laki-laki. Jangankan mau berteman dengan laki-laki, bicara saja hanya seperlunya. Sampai kerabat sekolah, kuliah, sampai kerja pun heran dengan saya. Dan saya tidak ingin siapa pun mengetahui penyebabnya. Dan saya tidak ingin laki-laki mana pun menyentuh saya. Apa lagi laki-laki Jawa, berkulit hitam, yang kulitnya selalu mengilat karena berkeringat. Saya akan melihatnya sebagai keringat berahi setan. Berahi yang menghabisi akal sehat kakak saya.

Tragedi Mei 1998. Siapa yang akan melupakan bulan dan tahun iblis itu? Mungkin yang melupakan ialah penjarah-penjarah, pelaku petrus (penembakan misterius), dan pemerkosa kakak saya. Mereka pasti berusaha melupakan dosa mereka, padahal dosa-dosa mereka persis seperti noda karat pada besi, tidak bisa dihapus semudah guratan pensil pada kertas. Beruntunglah petinggi negeri zaman itu yang sudah mati, ia bebas dari ingatan-ingatan dosa masa silam. Tidak, saya tidak membenci presiden di zaman itu, saya hanya mengutuk rezimnya agar tidak lagi meneror negeri ini. Tragedi itu seperti ribuan pisau dalam satu genggaman tangan, membunuh ribuan jiwa, dan melukai ratusan orang termasuk Ibu, Ayah, dan Kakak saya, Liana Tan.

Kakak saya memang tidak meninggal seperti ribuan jiwa yang melayang sia-sia karena keegoisan dan kepicikan. Ia menderita luka dalam yang sulit disembuhkan. Luka yang membuatnya menderita bertahun-tahun lamanya. Lina Talina, gadis Tionghoa ditemukan terkapar di pinggir ruko bekas penjarahan tanpa busana, begitulah berita yang ditulis media ecek-ecek yang masih hidup di zaman itu karena memihak pemerintahan, tidak seperti media-media lain yang dibredel, atau editor dan pimpinan redaksinya lenyap tiba-tiba. Lina Talina, atau Liana Tan belum mengembuskan napas terakhir, ia tidak ikut tewas dalam peristiwa itu, entahlah harus bersyukur atau memaki, karena setelahnya hidup menjadi tidak adil bagi keluarga kami. Ayah menghilang, Ibu menjadi tulang punggung, berjualan jamu gendong, Kakak harus mendekam di rumah sakit jiwa karena mengalami terauma yang sangat parah mengganggu syarafnya, dan saya menjadi katakanlah lesbian hampir selama lima tahun menjalin hubungan cinta dengan sesama perempuan. Sebelum Mas Priyatno datang ke hidup saya dan menyelamatkan saya dari berahi pria di kereta listrik dua tahun lalu.

Liana Tan diperkosa beramai-ramai oleh segeromboan penjarah. Itulah yang saya tangkap dan masih saya pertanyakan dalam benak saya. Karena sebelumnya tidak pernah jelas kasusnya, mengabur bersama ingatan dan luka yang tak ingin diingat lagi. Ibu seperti pasrah pada kehidupan. Ia percaya, Tuhan masih melimpahinya berkat. Ada sesuatu yang tersembunyi dalam cobaan-cobaan yang menimpanya, beliau tidak ingin mengulik penyebab apa yang membuat Ayah menghilang dan Kakak terkapar di jalanan tanpa busana. Tidak seperti saya, yang diam-diam menyimpan dendam pada rezim itu. Dan gerombolan orang yang saya pun tidak mengenalnya. Tetapi barusan saya mengenalnya. Ya, sangat mengenalnya.

Saya dan Mas Priyatno bertemu dua tahun lalu di dalam kereta listrik yang penuh oleh kesibukan manusia-manusia robot, termasuk saya. Orang yang menghamburkan waktunya demi uang yang tak seberapa, yang akan habis tiap tanggal lima. Begitulah. Saat itu saya sedang ribut dengan Andita, mantan kekasih saya, dia perempuan yang sama seperti kakak saya; mengalami terauma dengan laki-laki. Saya pikir, jalan saya benar, karena saya pikir laki-laki diciptakan hanya untuk merusak. Tetapi saya salah. Dugaan saya meleset ketika saya terpaksa masuk gerbong campur antara laki-laki dan perempuan di jam pulang kerja. Memang pada mulanya, ketika di dalam kereta itu saya tidak dapat tempat duduk, dan terpaksa berhimpitan dengan laki-laki, saya merasakan ada sesuatu yang menyodok pantat saya. Keras dan gerakannya naik turun. Tiba-tiba kejadian berangsur cepat, seseorang laki-laki berkemeja biru, di samping kanan saya langsung memukul pria berbaju merah kotak-kotak dengan tas kerjanya. Pria berkemeja biru itulah Mas Priyatno yang menyelamatkan saya dari perlakuan asusila. Laki-laki berkemeja merah kotak-kotak itupun langsung dikeroyok masa sebelum dilerai oleh petugas kereta yang bertugas. Saya berterima kasih kepada laki-laki itu, dan entah mengapa saya merasakan perlindungan, rasa terlindungi yang sudah lama sekali tidak saya rasakan dari seorang laki-laki. Mas Priyatno adalah laki-laki yang membuat saya jatuh cinta kali pertama, dan terakhir, mungkin.

Tadi, setelah Mas Priyatno mengantarkan martabak cokelat keju ke rumah, dan mengobrol di teras depan, saya mengajaknya ke rumah sakit jiwa, tempat Liana Tan makan, minum, tidur, dan meraung seharian. Hari itu ialah kali pertama saya mengajak kekasih saya datang bertemu Kakak saya. Saya juga sekaligus mengajak kakak saya bicara, meminta izin kepadanya untuk melangsungkan pernikahan dengan Mas Priyatno, meskipun saya tahu dia tidak akan paham.

Tetapi hidup tidak bisa diduga-duga seperti cuaca. Ia lebih mirip cangkir dengan kopi hitam, misterius, dan sulit ditebak. Di bangsal tempat Kakak saya tidur, makan, minum, dan buang air, mata mereka bertemu. Liana Tan, dan Mas Priyatno. Mata mereka seperti sepasang mata yang saling menemukan masa lalu yang hilang. Liana Tan yang biasanya meraung-raung melihat saya datang, kini bungkam seribu satu raungan ketika melihat Mas Priyatno. Laki-laki bertubuh tinggi, besar, dan berkulit hitam manis yang mengilat karena keringat itu pun bergeming ketika melihat Liana Tan dalam bangsalnya dengan rambut acak-acakan dan wajah yang pucat.

Dengan jari-jemari yang gemetar, Liana Tan mencoba menempelkan jari telunjuknya di wajah Mas Priyatno. Saya seperti sapi dungu yang tidak mengetahui kalau ia akan disembelih setengah jam lagi. Saya mencoba menelan semua arti dan petunjuk dari bisunya Liana Tan dan Mas Priyatno, tetapi gagal.

“D….dia……” suara Liana Tan bergetar. Baru kali ini ia fasih berbicara bahasa Indonesia setelah kejadian itu. Tetapi kata itu tak pernah dilanjutkan sampai Mas Priyatno sendiri yang melanjutkannya.

Di ruang tunggu bangsal. Di bangku panjang warna putih bergaris-garis hitam, Mas Priyatno menjelaskan semuanya. Semua pertanyaan dari masa lalu. Semua pertanyaan dari 17 tahun silam. Tentang gadis tionghoa yang terkapar di pinggir ruko tanpa busana. Tentang Liana Tan.

“Mir, aku lah yang memperkosa Kakakmu di dalam ruko 17 tahun silam. Aku lah pelakunya…..” katanya sambil menangis tersedu-sedu. Bersujud di kaki saya memohon ampun.

Cinta menurut saya begitu sederhana. Kadangkala hidup dan hubungan masa lalu membuatnya lebih rumit. Kini saya masih memaku di tempat. Mas Priyatno masih menciumi tangan dan kaki saya bergantian. Entah apa lagi yang berkecamuk di benak saya setelah semuanya terungkap.

HAHAHAHAHA. Saya tertawa.

HAHAHAHAHA.

Hidup itu tragedi. HAHAHAHAHA.

Kau tidak pernah tahu, betapa hidupmu baik-baik saja ketika tidak mempedulikan sekitar.
Hidupmu baik-baik saja ketika kau tidak tahu bagaimana kehidupan manusia yang lainnya.

HAHAHAHAHA.

HUHUHUHUHU. Hidup?

HAHAHAHAHA.

Dan Mas Priyatno masih menangis sambil menciumi tangan dan kaki saya.

sumber: natgeo

sumber: natgeo

—END

Depok, 12 Mei 2015

Hubungan Gelap Antara Ibu Pertiwi Dan Nepotisme

bibir ibu pertiwi merah delima
sebab gincu yang dibelinya
di tanah abang mangga dua
dia janda muda beranak jutaan jiwa

tubuhnya masih molek
meski digerogoti keserakahan
wajahnya masih nampak ayu
meski ditumbuhi malu sebab anak-anaknya banyak tak punya malu

lalu nepotisme adalah pria yang gagah
seperti kapiten
yang punya pedang panjang
sayang, gemar curang dan punya jiwa pecundang

keelokan ibu pertiwi
membuatnya berahi
tidak ketolong, tidak bisa dicegah siapa-siapa
keunggulannya, ia pandai merayu

sepulang dari pasar,
membeli pangan buat anak-anaknya
pakai anggaran negara
nepotisme merayunya

bualannya semanis
biang gula-gula yang dijual di kantin sekolah
ibu pertiwi tersipu malu,
pipinya merona merah mirip tomat dalam keranjang belanjanya

aih, duhai
cumbu rayu itu memikat ibu pertiwi
janda beranak ratusan jiwa
anak konglomerat, terhormat, bersanding dengan berandal tengik

aduhai malapetaka
cumbu rayu itu sampai kasur ibu pertiwi
bercintanya sejoli itu gelap-gelapan
seperti sepasang pengantin suami-istri

aduhai malapetaka
ibu pertiwi kemudian hari mengandung
jiwa-jiwa yang baru dari buah nepotisme
yang mendarah daging

hingga kini….

hingga habis suatu hari nanti…

—END

Depok, 12 Mei 2015

Hujan Di Sebuah Kota Di Sepasang Mata

air itu berjatuhan
di pelupuk mata seorang perempuan
yang diam-diam sibuk merindukan
mendambakan dan
mendoakan

air itu berjatuhan
di sudut kota itu
angin bersahut-sahutan
seolah berlomba
menyapa kesedihan

seorang bernama kenangan lewat
di jalan kota itu
tanpa payung,
tanpa jas hujan
hanya beralas kaki
warna biru;
warna kesedihannya

kepalanya menunduk,
tubuhnya kuyup oleh luka masa lalu
diam-diam bertanya
pada aspal di bawah alas kakinya
“bagaimana bisa hati seorang manusia
tidak kapok melakukan kesalahan yang sama,
mencintai seseorang, lalu terluka berkali-kali?”

aspal itu diam
tapi dia tidak bisu
genangan yang diciptakan hujan
mampu menjawab pertanyaan
satu kata;
cinta

“cinta? apa itu cinta?”
ia bertanya lagi,
tapi kakinya sibuk menyusuri
kota yang hujan itu

rambutnya basah,
kuyup oleh duka
wajahnya pucat pasi
tangannya menggigil
oleh kesedihan yang tak habis-habis

“cinta itu luka.” bisik aspal pelan
kenangan hanya memberikan senyum
di setengah bibirnya

tak lama kemudian hujan berhenti
lalu kenangan itu
melenyapkan dirinya sendiri

“sampai jumpa lagi di hujan selanjutnya.” katanya sebelum pamit pergi.

—END

Depok, 10 Mei 2015