Orang-orang Yang Bercakap-cakap Dalam Puisi

seorang penyair berdiri
di pinggir panggung, terasing oleh hiruk-pikuk,
membaca sepi dalam sunyi senyap.
di bibirnya, bisu merintih dalam pekik luka.

kata-kata seolah lapar, haus didengar
sementara orang-orang tengok kanan,tengok kiri,
bertanya-tanya siapa, apa, darimana datangnya huruf-huruf ini
yang terdengar sumbang di telinga, asing, dan jauh kedengarannya.

“siapa dia? mengatakan apa? apa? hah? maksudnya?”
orang-orang bercakap-cakap dalam puisi,
penyair itu tak diam seribu atau limaribu bahasa,
ia masih berdiri di pinggir panggung,
asing oleh cahaya-cahaya remang sinar temaram kemegahan,
masih asik berdiskusi sendirian dalam puisinya sendiri.

tangan, kakinya menghentak-hentak,
mencuri dengar ketidak adilan negeri ini,
lantang melakoni petinggi atau rakyat jelata,
dalam puisi, semua bisa jadi apa saja, siapa saja bisa jadi semua.
kebebasan adalah tangan dan bibir penyair,
kecuali bila waktu menghendakinya terkunci.
tapi seperti yang sudah-sudah, puisi ialah paduan keindahan dan keabadian.

siapa yang takut mati bila tangan dan bibirnya sudah jadi ajimat kekekalan?

tetapi puisi bukan mata uang, bukan pula nasi serta lauk-pauk.
sama seperti doa, puisi tidak bisa buat kenyang, tapi bisa buat tenang.

lalu orang-orang itu sambil berdecak-decak,
berbisik-bisik, tertawa, berdiri, jongkok, menari,
ramai sendiri, puisi seperti bicara pada tembok,
orang gila yang diasingkan dari mata-mata orang yang katanya waras.

saya diam. penyair itu masih asik berdialog
dengan puisinya yang bicara pada tembok.
ingin saya¬†katakan padanya, “hai puisi, kau masih punya pendengar.”
saya akan menatapnya dan lekas menciuminya dalam-dalam, mengobati kesedihannya.
dan orang-orang akan acuh, orang-orang akan terus bercakap-cakap.

sampai hati rasanya menitikkan air mata, pipi basah, mata hujan,
penyair itu lalu membungkuk.
digandengnya telapak tangan mungil puisinya,
ia berterima kasih, atas tepuk tangan yang sama sepinya dengan pasar tradisional,
ia berterima kasih, atas ramai yang bukan miliknya sendiri.

dan orang-orang itu masih bercakap-cakap,
dengan kehampaannya masing-masing.

sumber : weheartit.com

sumber : weheartit.com

—END

Depok, 01 Mei 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s