Hujan Di Sebuah Kota Di Sepasang Mata

air itu berjatuhan
di pelupuk mata seorang perempuan
yang diam-diam sibuk merindukan
mendambakan dan
mendoakan

air itu berjatuhan
di sudut kota itu
angin bersahut-sahutan
seolah berlomba
menyapa kesedihan

seorang bernama kenangan lewat
di jalan kota itu
tanpa payung,
tanpa jas hujan
hanya beralas kaki
warna biru;
warna kesedihannya

kepalanya menunduk,
tubuhnya kuyup oleh luka masa lalu
diam-diam bertanya
pada aspal di bawah alas kakinya
“bagaimana bisa hati seorang manusia
tidak kapok melakukan kesalahan yang sama,
mencintai seseorang, lalu terluka berkali-kali?”

aspal itu diam
tapi dia tidak bisu
genangan yang diciptakan hujan
mampu menjawab pertanyaan
satu kata;
cinta

“cinta? apa itu cinta?”
ia bertanya lagi,
tapi kakinya sibuk menyusuri
kota yang hujan itu

rambutnya basah,
kuyup oleh duka
wajahnya pucat pasi
tangannya menggigil
oleh kesedihan yang tak habis-habis

“cinta itu luka.” bisik aspal pelan
kenangan hanya memberikan senyum
di setengah bibirnya

tak lama kemudian hujan berhenti
lalu kenangan itu
melenyapkan dirinya sendiri

“sampai jumpa lagi di hujan selanjutnya.” katanya sebelum pamit pergi.

—END

Depok, 10 Mei 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s