Saya Dan Mas Priyatno

Cinta itu sederhana, bagi saya dan Mas Priyatno. Sebelum rahasianya terkuak di hadapan saya. Sebelum ia datang dengan dua martabak manis cokelat keju kesukaan saya dan Ibu saya, lalu bercakap-cakap di teras depan sambil minum kopi sachet dan biskuit pandan kesukaan kami. Sebelum semuanya dikatakannya, dengan berat hati. Dan sepersekian detik membuat bibir saya menganga saking terkejutnya.

Saya dan Mas Priyatno sudah hampir dua tahun menjalin hubungan. Rencananya, bulan depan akan merencanakan pernikahan. Usia saya dan Mas Priyatno sudah tidak muda lagi. Masing-masing dari kami sudah hampir memasuki usia kepala tiga dan empat. Saya masih perawan. Belum pernah tersentuh laki-laki mana pun. Sedangkan Mas Priyatno ini duda tanpa anak. Entah sebab apa, rumah tangga Mas Priyatno seperti terkena kutukan, ia berkali-kali gagal membina rumah tangga. Ya, istrinya selingkuh dengan atasannya lah, ya orangtua istrinya menuntut cerai karena menuduh Mas Priyatno mandul, meninggal sebab penyakit yang tidak wajar dan yang paling parah adalah yang terakhir. Mantan istri Mas Priyatno adalah pelacur kelas kakap. Ia memergoki istrinya di hotel di bilangan Jakarta saat ia sendiri ditugaskan untuk melacak tempat-tempat prostitusi. Bukan main, betapa hidup telah mengacak-acak Mas Priyatno.

Mungkin kalian bertanya, mengapa sampai memasuki usia kepala tiga, saya masih melajang, bahkan perawan. Hal yang jarang dijumpai di masa sekarang. Nama saya, Damira Tanasa. Nama asli saya Damira Tan, di tahun terburuk selama saya tinggal di negeri Indonesia Ibu menyuruh saya menyembunyikan identitas saya sebagai Tan. Saat itu saya masih berusia 11 tahun, kelas 6 SD. Saya tahu nama saya tiba-tiba berubah di kelas 5 SD, sebagai Damira Tanasa. Banyak teman-teman saya yang berwajah putih seperti tepung dan bermata kecil di masa itu yang mengubah nama belakang mereka, tanpa saya tahu penyebabnya. Sekarang, saya tahu, mereka, dan ibu saya mengubah namanya dan anak-anaknya demi keselamatan. Tetapi harapan itu tidak menolong kakak saya. Liana Tan, yang mengubah namanya menjadi Lina Talina.

Liana Tan. Mungkin nama itu pernah muncul di surat kabar-surat kabar tahun itu. Tahun tergelap bagi keluarga kami. Ibu, seorang Jawa yang memiliki wajah hitam manis mirip gula khas Jawa, harus rela kehilangan suaminya, Ayah, seorang Tionghoa yang menghilang saat kerusuhan 12 Mei 17 tahun lalu. Ayah pamit berdagang, tetapi hingga kini beliau tiada kabar lagi. Mungkin beliau turut hangus dalam kota api itu. Atau pergi mencari perempuan tionghoa yang lain. Entahlah, saya selalu mengharapkan pemikiran yang ke dua.

Saya tiga bersaudara. Liana Tan adalah kakak saya, anak petama. Wajahnya mirip sekali dengan Ayah saya, kelihatan sekali khas wajah tionghoa-nya. Kalau saya mirip keduanya; Ayah dan Ibu, tidak terlalu tionghoa, tidak pula terlalu jawa. Perpaduan yang tidak begitu mengancam jiwa saat 17 tahun silam. Adik saya Meychan lebih beruntung lagi, wajahnya sangat Ibu. Jawa. Mata bulat, hidung bangir, tetapi kulitnya mengambil kulit Ayah, putih langsat. Tetapi Meychan dianggap keturunan Jawa-Sunda oleh teman-temannya sampai sekarang.

Mei. Liana Tan. Ialah dua hal yang selalu terhubung dalam benak saya, mengapa saya dulu begitu membenci laki-laki dan jijik apabila melihat bahkan menyentuhnya. Karena merekalah yang membuat kakak saya mendekam di jeruji rumah sakit jiwa bertahun-tahun. Karena merekalah yang membuat kakak saya tidak ingin bicara, hanya ingin menangis dan meraung sepanjang hidupnya. Karena merekalah saya jijik apabila melihat laki-laki. Jangankan mau berteman dengan laki-laki, bicara saja hanya seperlunya. Sampai kerabat sekolah, kuliah, sampai kerja pun heran dengan saya. Dan saya tidak ingin siapa pun mengetahui penyebabnya. Dan saya tidak ingin laki-laki mana pun menyentuh saya. Apa lagi laki-laki Jawa, berkulit hitam, yang kulitnya selalu mengilat karena berkeringat. Saya akan melihatnya sebagai keringat berahi setan. Berahi yang menghabisi akal sehat kakak saya.

Tragedi Mei 1998. Siapa yang akan melupakan bulan dan tahun iblis itu? Mungkin yang melupakan ialah penjarah-penjarah, pelaku petrus (penembakan misterius), dan pemerkosa kakak saya. Mereka pasti berusaha melupakan dosa mereka, padahal dosa-dosa mereka persis seperti noda karat pada besi, tidak bisa dihapus semudah guratan pensil pada kertas. Beruntunglah petinggi negeri zaman itu yang sudah mati, ia bebas dari ingatan-ingatan dosa masa silam. Tidak, saya tidak membenci presiden di zaman itu, saya hanya mengutuk rezimnya agar tidak lagi meneror negeri ini. Tragedi itu seperti ribuan pisau dalam satu genggaman tangan, membunuh ribuan jiwa, dan melukai ratusan orang termasuk Ibu, Ayah, dan Kakak saya, Liana Tan.

Kakak saya memang tidak meninggal seperti ribuan jiwa yang melayang sia-sia karena keegoisan dan kepicikan. Ia menderita luka dalam yang sulit disembuhkan. Luka yang membuatnya menderita bertahun-tahun lamanya. Lina Talina, gadis Tionghoa ditemukan terkapar di pinggir ruko bekas penjarahan tanpa busana, begitulah berita yang ditulis media ecek-ecek yang masih hidup di zaman itu karena memihak pemerintahan, tidak seperti media-media lain yang dibredel, atau editor dan pimpinan redaksinya lenyap tiba-tiba. Lina Talina, atau Liana Tan belum mengembuskan napas terakhir, ia tidak ikut tewas dalam peristiwa itu, entahlah harus bersyukur atau memaki, karena setelahnya hidup menjadi tidak adil bagi keluarga kami. Ayah menghilang, Ibu menjadi tulang punggung, berjualan jamu gendong, Kakak harus mendekam di rumah sakit jiwa karena mengalami terauma yang sangat parah mengganggu syarafnya, dan saya menjadi katakanlah lesbian hampir selama lima tahun menjalin hubungan cinta dengan sesama perempuan. Sebelum Mas Priyatno datang ke hidup saya dan menyelamatkan saya dari berahi pria di kereta listrik dua tahun lalu.

Liana Tan diperkosa beramai-ramai oleh segeromboan penjarah. Itulah yang saya tangkap dan masih saya pertanyakan dalam benak saya. Karena sebelumnya tidak pernah jelas kasusnya, mengabur bersama ingatan dan luka yang tak ingin diingat lagi. Ibu seperti pasrah pada kehidupan. Ia percaya, Tuhan masih melimpahinya berkat. Ada sesuatu yang tersembunyi dalam cobaan-cobaan yang menimpanya, beliau tidak ingin mengulik penyebab apa yang membuat Ayah menghilang dan Kakak terkapar di jalanan tanpa busana. Tidak seperti saya, yang diam-diam menyimpan dendam pada rezim itu. Dan gerombolan orang yang saya pun tidak mengenalnya. Tetapi barusan saya mengenalnya. Ya, sangat mengenalnya.

Saya dan Mas Priyatno bertemu dua tahun lalu di dalam kereta listrik yang penuh oleh kesibukan manusia-manusia robot, termasuk saya. Orang yang menghamburkan waktunya demi uang yang tak seberapa, yang akan habis tiap tanggal lima. Begitulah. Saat itu saya sedang ribut dengan Andita, mantan kekasih saya, dia perempuan yang sama seperti kakak saya; mengalami terauma dengan laki-laki. Saya pikir, jalan saya benar, karena saya pikir laki-laki diciptakan hanya untuk merusak. Tetapi saya salah. Dugaan saya meleset ketika saya terpaksa masuk gerbong campur antara laki-laki dan perempuan di jam pulang kerja. Memang pada mulanya, ketika di dalam kereta itu saya tidak dapat tempat duduk, dan terpaksa berhimpitan dengan laki-laki, saya merasakan ada sesuatu yang menyodok pantat saya. Keras dan gerakannya naik turun. Tiba-tiba kejadian berangsur cepat, seseorang laki-laki berkemeja biru, di samping kanan saya langsung memukul pria berbaju merah kotak-kotak dengan tas kerjanya. Pria berkemeja biru itulah Mas Priyatno yang menyelamatkan saya dari perlakuan asusila. Laki-laki berkemeja merah kotak-kotak itupun langsung dikeroyok masa sebelum dilerai oleh petugas kereta yang bertugas. Saya berterima kasih kepada laki-laki itu, dan entah mengapa saya merasakan perlindungan, rasa terlindungi yang sudah lama sekali tidak saya rasakan dari seorang laki-laki. Mas Priyatno adalah laki-laki yang membuat saya jatuh cinta kali pertama, dan terakhir, mungkin.

Tadi, setelah Mas Priyatno mengantarkan martabak cokelat keju ke rumah, dan mengobrol di teras depan, saya mengajaknya ke rumah sakit jiwa, tempat Liana Tan makan, minum, tidur, dan meraung seharian. Hari itu ialah kali pertama saya mengajak kekasih saya datang bertemu Kakak saya. Saya juga sekaligus mengajak kakak saya bicara, meminta izin kepadanya untuk melangsungkan pernikahan dengan Mas Priyatno, meskipun saya tahu dia tidak akan paham.

Tetapi hidup tidak bisa diduga-duga seperti cuaca. Ia lebih mirip cangkir dengan kopi hitam, misterius, dan sulit ditebak. Di bangsal tempat Kakak saya tidur, makan, minum, dan buang air, mata mereka bertemu. Liana Tan, dan Mas Priyatno. Mata mereka seperti sepasang mata yang saling menemukan masa lalu yang hilang. Liana Tan yang biasanya meraung-raung melihat saya datang, kini bungkam seribu satu raungan ketika melihat Mas Priyatno. Laki-laki bertubuh tinggi, besar, dan berkulit hitam manis yang mengilat karena keringat itu pun bergeming ketika melihat Liana Tan dalam bangsalnya dengan rambut acak-acakan dan wajah yang pucat.

Dengan jari-jemari yang gemetar, Liana Tan mencoba menempelkan jari telunjuknya di wajah Mas Priyatno. Saya seperti sapi dungu yang tidak mengetahui kalau ia akan disembelih setengah jam lagi. Saya mencoba menelan semua arti dan petunjuk dari bisunya Liana Tan dan Mas Priyatno, tetapi gagal.

“D….dia……” suara Liana Tan bergetar. Baru kali ini ia fasih berbicara bahasa Indonesia setelah kejadian itu. Tetapi kata itu tak pernah dilanjutkan sampai Mas Priyatno sendiri yang melanjutkannya.

Di ruang tunggu bangsal. Di bangku panjang warna putih bergaris-garis hitam, Mas Priyatno menjelaskan semuanya. Semua pertanyaan dari masa lalu. Semua pertanyaan dari 17 tahun silam. Tentang gadis tionghoa yang terkapar di pinggir ruko tanpa busana. Tentang Liana Tan.

“Mir, aku lah yang memperkosa Kakakmu di dalam ruko 17 tahun silam. Aku lah pelakunya…..” katanya sambil menangis tersedu-sedu. Bersujud di kaki saya memohon ampun.

Cinta menurut saya begitu sederhana. Kadangkala hidup dan hubungan masa lalu membuatnya lebih rumit. Kini saya masih memaku di tempat. Mas Priyatno masih menciumi tangan dan kaki saya bergantian. Entah apa lagi yang berkecamuk di benak saya setelah semuanya terungkap.

HAHAHAHAHA. Saya tertawa.

HAHAHAHAHA.

Hidup itu tragedi. HAHAHAHAHA.

Kau tidak pernah tahu, betapa hidupmu baik-baik saja ketika tidak mempedulikan sekitar.
Hidupmu baik-baik saja ketika kau tidak tahu bagaimana kehidupan manusia yang lainnya.

HAHAHAHAHA.

HUHUHUHUHU. Hidup?

HAHAHAHAHA.

Dan Mas Priyatno masih menangis sambil menciumi tangan dan kaki saya.

sumber: natgeo

sumber: natgeo

—END

Depok, 12 Mei 2015

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s