Berdo’a

langit malam legam bersama doa-doa
tanganmu menengadah ke langit, meminta pada Nya
kau percaya, Dia mendengar, Dia mengabulkan.
doamu seperti puisi yang gemetar di langit-langit

di atas sajadah, kau menemukan namanya
lindap di antara puisi-puisi yang kaurangkai itu
jauh dari pelupuk matamu,
ada yang diam-diam tersenyum; Dia, si Maha Puitis

air mata jatuh seolah mengaminkan harapanmu
turut sukacita mengingatmu mengingat-Nya.
dalam dadamu, diam-diam duka berangkat melangkahkan kaki
setelah kau lipat sajadah dan kesedihan itu

kau merasa udara segar memenuhi rongga paru-paru
dan kepalamu berubah lengang oleh suara-suara,
dan dadamu seperti jalan raya di pukul tiga;
angin bebas meriap di segala penjuru; melepas senyap, kemudian damai.

hawa sejuk menghampiri sisimu
puisi-puisi tertidur dalam kepalamu,
dan matamu kan terpejam seiring semilir cumbu udara.
legam sudah segalanya, lengang sudah, tentram jiwa.

lalu rindu-rindu akan menunggu di bawah bantalmu,
sementara mimpi telah siap jatuh di ruang imajimu.

tunggu aku.
tunggu aku.

—END
Depok, 21 Juni 2015

Iklan

Pujangga yang Mendiami Kepalamu

barangkali sudah lama betul
duka dan luka itu bermukim di tubuhmu
sesekali tatapmu berbicara pada kesedihanmu
kau tahu, mata serupa anak kecil yang tak pandai menipu

kadangkala tubuhmu seperti buku puisi
ditulisnya kata-kata yang terluka
di tubuh kertas yang tak punya dosa apa-apa
lalu di pelupuk matamu, tumbuh sungai

kemudian suatu hari nanti
kau akan menemui dirimu sendiri
dalam sajak-sajak patah hati
yang kautulis jauh-jauh hari

lalu kau akan terpingkal
sungai itu tumbuh lagi di matamu
sebagai pelepas dahaga sepi-sepi itu
kau ingat-ingat lagi, betapa luka begitu puisi, begitu sendu

kau tak pernah bangun dari mimpi ini;
di dalam kepalamu hidup seorang pujangga
yang sebatang kara, berkarib sepi dan kopi
berkali-kali patah hati, lalu pergi memeluk diri—dengan kata-kata

rahasia yang tak pernah kauketahui;
pujangga itu menikahi kesedihannya
dan puisi-puisi lahir dari rahim waktu;
membuat kau lupa, bagaimana wujud kesedihanmu

suatu hari nanti, aku tak tahu kapankah,
pujangga itu akan mati
dimakamkan tanpa bunga-bunga
hanya ada hampa…dan kau tak tahu itu. kau tak tahu.

—END
Depok, 20 Juni 2015

Rumah Di Pinggir Pantai Itu…

waktu berdetak di dadamu
sekaligus sepi-sepi itu
tak kauhitung jumlah duka-luka
yang ditinggalkan perempuan pemilik puisi-puisi itu

setiap pagi, pukul tujuh
terselip kenangan di antara aroma kopi
bertandang bagai tamu
atau kupu-kupu yang menghinggapi tirai jendela

dan tiba-tiba
kepalamu, dan dadamu menjelma rumah
di pinggir pantai—
seperti yang kau impi-impi

di sana tinggal seekor kupu
hinggap di tirai jendela
di kepulan asap secangkir kopi
atau sebagai tamu yang datang tiba-tiba

waktu masih berdetak di dadamu
iramanya masih sepurba dulukala
mengikuti riap gravitasi bumi
kelak, cepat atau lamban, kau takjua menghitung sepi

direlakannya kesedihan itu
mendiami rumah di pinggir pantai itu

—END

Depok, 20 Juni 2015

Cita-cita Perempuan yang Mencintaimu

suatu hari aku pernah mengunjungi sebuah kota
tidak ada yang bisa kulihat di sana selain sepi
duka, dan hal-hal lain yang berupa kesedihan
tidak ada yang bisa kudengar kecuali hening yang menyayat batin

kota itu mirip matamu;
sepasang matahari yang terbit di wajahmu
di bulan juni, di musim hujan
dan kabut-kabut tipis menghalau hangatnya

di sana, aku seorang pengunjung
duduk di sudut taman tanpa seorang kawan
untungnya aku masih mampu bercakap-cakap
dengan kesepian dan secangkir kopi

lampu-lampu berpendaran kala malam datang
sering kulihat seorang perempuan melintas berkali-kali
tapi bukan tubuhku
tubuhku hanya pengunjung yang tak punya tempat tinggal

perempuan itu berlarian kesana – kemari
mirip burung-burung pengantar surat atau angin
perempuan itu lalu lalang tapi tak sendiri, sepertiku
ia bergerombol bersama puisi-puisi yang memiliki mata sendu

kota itu hidup pukul tujuh pagi
aroma kopi dan perempuan yang sering melintas menguarkan wanginya
dan kota itu tutup saat tengah malam atau pukul tiga
puisi dan perempuan itu ialah yang terakhir berada di kota itu

dan aku hanya pejalan kaki yang tersesat
bermimpi punya bangunan yang kusebut rumah
membunuh perempuan yang seringkali melintas itu suatu waktu
sebelum kucuri kesepian itu seluruhnya

kota itu mirip matamu
dan aku sedang berkunjung ke dalam matamu
bercita-cita suatu hari bisa bermukim di sana
tanpa sepi, dan perempuan itu

Depok, 12 Juni 2015

Mengisahkan Sepasang Matamu

padamu, yang sedang tertidur di tumpukan awan-awan kapas
mirip gulali yang sering kaulumat ketika bahagia masih kaugenggam di jemarimu
masa lalu yang tak sempat kau rindukan
sebab waktu lebih dulu mengosongkan ingatanmu bahkan sebelum dosa menyentuhmu

aku perempuan yang terpana pada senyum dan matamu;
tempat-tempat persembunyian duka kesedihan dan dosa orang-orang di sekitarmu
matamu, ialah puisi paling sedih yang menyayat hati siapa-siapa yang membacanya
senyummu, ialah benteng yang kaususun untuk menyimpan rapi rahasia dosa mereka

kau malaikat
yang ditingkahi takdir juga waktu yang tak pernah sempat kaupahami
Tuhan sedang sendu ketika membuat matamu
sayu, dan pintar mengubur duka-duka sendiri

Tuhan sedang jatuh cinta ketika mencipta lengkung bibirmu;
sabit yang paling benderang kala legam langit malam harus menjadi warna di hidupmu
dan orang-orang akan terpana menatapnya berlama-lama
sambil melantunkan lagu sedih atau sukacita; kepadamu

aku ingin mengisahkan sepasang matamu
yang sayu dan penuh rahasia dan kesedihan
tetapi puisi tak mampu mengukirkan aksaranya di layar elektronik ini
sebab, matamu ialah segala kesedihan yang tak mampu dijabarkan puisi

pada hari kematianmu,
Tuhan menemukan kembali sepasang matamu yang sendu itu
orang-orang akan menyalakan cahaya dari bibir-bibir mereka
berharap cahaya itu sampai ke dalam matamu

pada hari kematianmu,
malaikat menemukan lagi bulan sabit yang sempat mekar di bumi sekejap saja
lengkung paling rahasia yang pernah diciptakan Tuhan
dan orang-orang akan melantunkan doa dan lagu untuk menghiburmu

dan jauh setelah hari kematianmu,
aku mengisahkan sepasang matamu;
yang tak mampu dijamah puisi
paling perih, paling luka, atau paling lirih mana pun.

dan jauh setelah hari kematianmu,
kau akan mengabadi sendiri
dengan atau tanpa puisi.

Depok, 11 Juni 2015


Puisi ini didedikasikan kepada Angeline. Gadis mungil yang diumumkan hilang di Denpasar dan ditemukan telah dibunuh dan dikubur di halaman belakang rumah orangtua angkatnya.
Kekerasan pada anak kerap terjadi dan dijumpai sehari-hari. Baik di dalam rumah, atau di jalan-jalan. Jangan diam, jangan bungkam, kecuali anda mengaminkan kekerasan pada anak adalah hal yang lumrah.
Pertanyaannya, ke mana perginya nurani anda ketika pencabutan nyawa yang dilakukan oleh manusia adalah hal yang lumrah dan wajar?