Mengisahkan Sepasang Matamu

padamu, yang sedang tertidur di tumpukan awan-awan kapas
mirip gulali yang sering kaulumat ketika bahagia masih kaugenggam di jemarimu
masa lalu yang tak sempat kau rindukan
sebab waktu lebih dulu mengosongkan ingatanmu bahkan sebelum dosa menyentuhmu

aku perempuan yang terpana pada senyum dan matamu;
tempat-tempat persembunyian duka kesedihan dan dosa orang-orang di sekitarmu
matamu, ialah puisi paling sedih yang menyayat hati siapa-siapa yang membacanya
senyummu, ialah benteng yang kaususun untuk menyimpan rapi rahasia dosa mereka

kau malaikat
yang ditingkahi takdir juga waktu yang tak pernah sempat kaupahami
Tuhan sedang sendu ketika membuat matamu
sayu, dan pintar mengubur duka-duka sendiri

Tuhan sedang jatuh cinta ketika mencipta lengkung bibirmu;
sabit yang paling benderang kala legam langit malam harus menjadi warna di hidupmu
dan orang-orang akan terpana menatapnya berlama-lama
sambil melantunkan lagu sedih atau sukacita; kepadamu

aku ingin mengisahkan sepasang matamu
yang sayu dan penuh rahasia dan kesedihan
tetapi puisi tak mampu mengukirkan aksaranya di layar elektronik ini
sebab, matamu ialah segala kesedihan yang tak mampu dijabarkan puisi

pada hari kematianmu,
Tuhan menemukan kembali sepasang matamu yang sendu itu
orang-orang akan menyalakan cahaya dari bibir-bibir mereka
berharap cahaya itu sampai ke dalam matamu

pada hari kematianmu,
malaikat menemukan lagi bulan sabit yang sempat mekar di bumi sekejap saja
lengkung paling rahasia yang pernah diciptakan Tuhan
dan orang-orang akan melantunkan doa dan lagu untuk menghiburmu

dan jauh setelah hari kematianmu,
aku mengisahkan sepasang matamu;
yang tak mampu dijamah puisi
paling perih, paling luka, atau paling lirih mana pun.

dan jauh setelah hari kematianmu,
kau akan mengabadi sendiri
dengan atau tanpa puisi.

Depok, 11 Juni 2015


Puisi ini didedikasikan kepada Angeline. Gadis mungil yang diumumkan hilang di Denpasar dan ditemukan telah dibunuh dan dikubur di halaman belakang rumah orangtua angkatnya.
Kekerasan pada anak kerap terjadi dan dijumpai sehari-hari. Baik di dalam rumah, atau di jalan-jalan. Jangan diam, jangan bungkam, kecuali anda mengaminkan kekerasan pada anak adalah hal yang lumrah.
Pertanyaannya, ke mana perginya nurani anda ketika pencabutan nyawa yang dilakukan oleh manusia adalah hal yang lumrah dan wajar?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s