Rumah Di Pinggir Pantai Itu…

waktu berdetak di dadamu
sekaligus sepi-sepi itu
tak kauhitung jumlah duka-luka
yang ditinggalkan perempuan pemilik puisi-puisi itu

setiap pagi, pukul tujuh
terselip kenangan di antara aroma kopi
bertandang bagai tamu
atau kupu-kupu yang menghinggapi tirai jendela

dan tiba-tiba
kepalamu, dan dadamu menjelma rumah
di pinggir pantai—
seperti yang kau impi-impi

di sana tinggal seekor kupu
hinggap di tirai jendela
di kepulan asap secangkir kopi
atau sebagai tamu yang datang tiba-tiba

waktu masih berdetak di dadamu
iramanya masih sepurba dulukala
mengikuti riap gravitasi bumi
kelak, cepat atau lamban, kau takjua menghitung sepi

direlakannya kesedihan itu
mendiami rumah di pinggir pantai itu

—END

Depok, 20 Juni 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s