Cerita Semalam Suntuk

Namaku Gandru. Seingatku, aku masih berusia tiga puluh-an saat ini. Tapi mulut orang-orang berdengung-degung di telingaku berdenging-denging seperti suara jangkrik di malam hari. Mereka berdesis-desis seperti mulut ular berbisa. Apa yang bisa mereka banggakan dari diri mereka jika dibandingkan denganku? Mereka bilang, aku gila? Hah? Apa mereka pikir, mereka waras? Hah? Ha ha ha ha ha…. Perempuan itu yang gila. Aku tidak. Ya, aku tidak. Mana mungkin, lelaki sepertiku, mantan vokalis band yang tidak begitu terkenal di kota, tetapi digandrungi banyak wanita ini tidak waras? Dan mereka bilang apa hah? Aku gila? Ha ha ha ha ha… suara mereka berdenging-denging mirip suara laron. Eh, tetapi laron tidak punya suara ya? Ya, pokoknya mereka sering berkerubung di dekat lampu-lampu jalan, di warung remang-remang dekat taman, dan di bangku dekat taman itu. Mereka membicarakan aku. Ah, pih! Kalau aku gila, aku tidak mungkin menjadi penting dan dibicarakan banyak orang. Benar kan? Iya kan? Ha ha ha ha ha…

Aku mendengar diriku sendiri tertawa entah karena apa, dan dengan siapa, tetapi aku tidak peduli, aku hanya ingin tertawa tanpa memikirkan apa-apa. Kau tahu? Terkadang orang harus mengosongkan pikirannya hanya untuk tertawa. Pikiran-pikiran kadang-kadang seperti batu yang menghantam keras lego-lego yang pernah kususun di masa kecil. Setelah aku tertawa, aku mendengar desis-desis ular, ular yang bisa bicara itu berdesis-desis. Tetapi anehnya, aku paham apa yang ular itu desiskan, dan aku tidak peduli.

“Eh, ada orang gila..” bisik si perempuan kepada laki-laki yang sedang rebah di bahunya sambil memegang handphone. Ah, perempuan itu mengingatkan aku pada Diana… Ah, mengingat dia, malam jadi begitu kusut. Pikiranku jadi semerawut. Awut-awutan, berantakan. Memang sudah begitu kan, setelah dia pergi, dan memilih menikah dengan pria barunya. Ha ha ha ha..entah kenapa sekarang aku jadi merasa sedih. Semua ini berawal dari perempuan gila itu. Ah, keparat!

Diana. Dia perempuan paling istimewa setelah ibuku. Dia memang tidak pandai memasak sayur asam kesukaanku, merajut baju hangatku, melukis potrait wajahku ketika masih umur balita, dan memberiku nasihat dan petuah yang panjang-panjang. Dia hanya perempuan yang gemar menulis puisi-puisi sendu untuk kujadikan lagu band-ku. Aku tidak menamainya band, sih.. lebih mirip kelompok musik akustikan yang senang manggung dari kampus-ke-kampus. Lirik-lirik sendu dari lagu kami yang diciptakan oleh Diana digilai muda-mudi galau atau yang sedang patah hati. Kata-kata yang ia ciptakan begitu menusuk perih rongga batinku. Kesedihan yang tak bisa dijabarkan oleh apa-apa. Entah, aku mengibaratkan kumpulan puisinya itu sebagai perempuan-perempuan bermata sendu, yang sama dengan miliknya. Sepasang mata sendu yang begitu meneduhkan. Seperti mendung. Kabut-kabut yang ngelangut di langit itu seperti kesedihan-kesedihan yang ia simpan sejak lama, menyempurnakan mata sendunya, yang bagiku amat cantik.

Sebelum dia menjadi pacarku, Diana adalah temanku. Teman baikku. Kami tidak pernah terpikir akan menjalin sebuah hubungan lebih dari teman saat kami bersama. Tapi aku memang sudah menyukainya entah sejak kapan, itu tidak pasti, dan tidak begitu penting. Yang penting adalah dia mampu menjelma sebuah rem ketika diriku menjadi motor liar yang kebut-kebutan di jalan raya. Dia adalah penghenti semua kegilaanku. Dia adalah tempat aku mengakhiri petualangan liar seorang laki-laki. Dia tempatku berhenti mencari. Sebelum dia jadi pacarku, aku adalah laki-laki beringas, bahkan bisa dikatakan brengsek, yang tidur dengan banyak wanita. Cinta tidak pernah membuatku tersentuh untuk membawanya ketika sedang dilanda nafsu berahi di dalam diriku. Tidak pernah ada cinta, begitulah yang kubawa sejak orangtuaku bercerai saat umurku menginjak remaja. Dan sebelum ini tidak ada cinta dalam persenggamaanku dengan banyak wanita, termasuk Elena.Si perempuan gila itu, benar-benar gila!

Aku ingin menceritakan bagaimana aku mencintai Diana terlebih dahulu sebelum kuceritakan tentang Elena, si perempuan gila. Sudah kukatakan, Diana adalah rem disaat aku menjadi motor yang ugal-ugalan di jalan. Perceraian kedua orang tua-ku yang tak pernah kuduga dan kuharap sebelumnya telah membuat Gandruasta kecil yang baik menjadi remaja nakal. Setelah perceraian ayah-ibuku, aku tinggal di rumah nenek. Orang tua-ku entah ke mana, aku tidak tahu lagi. Betapapun aku merindukan mereka, mereka tidak pernah datang, bahkan hingga saat ini. Saat nenekku sudah mati, dan aku yang waktu itu tinggal sebatang kara, menjadi pemuda tanggung yang kehilangan pegangan sama sekali. Untungnya, aku bertemu dengan teman-teman se-bandku; Roy, Rudi, Gon, dan Diana. Mereka-lah yang menumbuhkan bakat seniku. Diana lah yang pertama mengatakan, suaraku bagus, mendayu-dayu, dan bergetar. Ia mengaku sempat meleleh mendengar suaraku yang sangat laki-laki, katanya.

Suatu hari, saat kita bercinta di kamar kos Roy, Diana memuji suaraku. Katanya, suaramu sexy, Dru, sambil mengerling nakal dan menciumi bibirku dengan gemas. Dru adalah panggilan kesukaannya kepadaku. Ah, Diana, betapa kini semua sudah terlanjur menghilang dari kehidupanku. Jauh, dimakan waktu yang rakus itu. Ha ha ha ha. Waktu. Aku membenci mahkluk itu. Dia lah yang mengambil kasih sayang kedua orangtua-ku, nyawa nenek dan kakek, Gandruasta kecil yang baik, dan juga langkah kaki Diana yang pergi. Semuanya perbuatan waktu yang rakus. Kurasa, dia begitu membenciku hingga segala yang kupunya dilahapnya sampai habis tak bersisa. Sekarang, aku masa bodoh dengan kehadiran waktu. Biar saja, biar dia tahu rasa, bagaimana rasanya diabaikan dan tidak dicintai. Ha ha ha ha ha…

Oh, iya aku lupa menceritakan siapa Elena, dan mengapa aku membencinya. Ya, karena perempuan itu gila! Ha ha ha ha ha… Ya, perempuan itu pernah tidur denganku beberapa kali. Dia memberikanku yang terbaik dari yang ia punya. Ciuman terbaik, lumatan bibirnya yang lembut dan penuh kasih, dan permainan terliar yang pernah kurasakan. Elena pernah membuatku tergila-gila sebentar. Ya, karena aku hanya menggilai caranya bersetubuh denganku. Perempuan itu benar-benar panas di ranjang, dan setelah puas, kami merokok berdua dan tidak membahas apa-apa lagi, seperti tidak terjadi apapun. Tapi ia sering menatapku dan mengatakan hal-hal romantis. Ya, sangat romantis. Kupikir, dia hanya seorang perayu ulung yang hebat di ranjang, tapi ternyata aku salah. Elena mencintaiku. Ya, dia mencintaiku. Iya, Elena, perempuan gila itu!

Aku ingat, malam yang dipenuhi asap rokok itu, pukul dua dini hari. Setelah semua selesai, dan keringat di tubuh kami berdua sudah hampir mengering.

“Na, mengapa ketika bercinta denganmu, aku menjadi begitu penuh?” kataku tak sengaja merayu. Dia tersenyum nakal. Tetapi matanya sayu, meski bagiku sepasang mata itu lebih mirip senja yang terbakar merah daripada mendung seperti mata Diana.

“Aku melakukannya dengan cinta, kau tahu?” katanya sambil mengerling genit lalu menyemburkan asap rokoknya ke udara dan mulai melumat bibirku lagi.

“Dru, aku mencintaimu..” bisiknya. Kupikir, semalam sebelum kami bercinta dia mabuk dulu, tetapi aku tidak melihat boto-botol alkohol di kamarku. Dan matanya… Mata itu mengingatkanku dengan matahari yang tenggelam di pantai ketika aku berlibur bersama kedua orangtuaku dahulu. Mata itu…mengingatkanku akan masa kecilku. Yang bahagia. Aku hampir menangis mengenang masa kecilku. Tetapi kau tahu, senja tidak selalu membahagiakan, kadang ia menyiratkan sebuah pesan menyedihkan tentang kehilangan, dan kedatangan yang singkat. Dan aku melihat itu pada mata Elena. Sepasang mata senja.

“Kamu mabuk?” tanyaku memastikan. Dia menggeleng, matanya masih berbinar-binar. Aku kewalahan menanggapinya.

“Ka..kamu serius?” dan kau tahu? Elena mengangguk dan ingin menciumi bibirku lagi. Aku menahannya. Cukup. Hubungan ini tidak akan sampai ke sana. Aku mengatakannya begitu pada dia, dan bibirnya bergetar. Ya, bibir yang biasa melumat bibirku dengan lembut kemudian beringas kemudian lembut lagi itu bergetar hebat. Ia menahan tangis yang memburu napasnya. Dan matanya…matanya…senja itu telah padam. Ia benar-benar kelihatan sedih. Aku sedikit merasa bersalah. Bersalah karena melukai hati perempuan. Perempuan yang mencintaiku, bukan hanya tubuhku atau ketenaranku yang tak seberapa. Tidak seperti perempuan-perempuan sebelumnya.

Ia pulang dengan mata sembab, dan tidak berbicara apa-apa lagi padaku. Dan kami tak bertemu selama hampir tiga bulan. Tiga bulan berikutnya, aku sudah bersama Diana. Aku memang menyukai perempuan itu sejak ia memuji suaraku dan menjadikanku vokalis band akustikan itu. Lalu Diana yang membuatkan lagu-lagu sendu band akustikan, yang kami namai Perindu. Melankoli sekali, bukan? Karena itu banyak wanita yang menggilai band kami, terutama aku yang menjadi vokalisnya. Ibarat di film, aku adalah si bintang utama, yang mendapat lampu sorot paling terang di antara yang lainnya.

Hampir empat bulan setelah kepergian Elena malam itu, perempuan gila itu mengirimiku surat di pagi-pagi buta, entah dengan cara apa, ia menyelipkan surat itu di kamar kos-ku. Setiap hari. Ya, setiap hari. Surat itu berisi tentang betapa sedih ia meninggalkanku malam itu, dan betapa terbakarnya ia menginginkanku. Puisi-puisi cinta selalu hadir di akhir surat itu. Aku tidak mau mengingat surat-surat keparat yang membuatku berkali-kali pindah kos, tetapi surat itu tetap saja menemui keberadaanku. Aneh. Padahal, aku tidak pernah membalas surat itu sama sekali, apa lagi menuliskan alamat ketika membalasnya, menulis untuk sekadar membalas suratnya pun, aku enggan. Dia, perempuan gila! Aku diteror habis-habisan dengan surat dan puisi-puisi cintanya yang ia kirim setiap hari.

Elena memang mencintaiku sebegitu demikian hebat dan besarnya. Aku tidak mengerti cinta sebelum Diana memberikan rasa sakral dan aneh itu kepadaku, yang berujung pedih yang tak terobati. Barangkali, begitu juga yang dirasakan Elena karena cintanya tak terbalas olehku, apalagi surat-suratnya. Tetapi surat-surat itu selalu kubaca. Di pagi hari, dengan secangkir kopi panas, uap mengepul, wangi kopi meguar-nguar di udara yang masih segar itu, surat selalu terselip di celah-celah pintu bagian bawah, dan aku membacanya dengan khidmat, juga sendu dan perasaan bersalah yang menyelimuti. Surat-surat itu muram seperti matanya yang kulihat terakhir kali; senja yang padam. Aku—walaupun membenci surat-surat itu—tidak mau melewati begitu saja surat dari Elena, walaupun akhirnya perasaan bersalah itu seperti semak belukar yang meninggi di dadaku. Tidak bisa dicerabut asal-asalan, karena esok hari ia akan tumbuh subur kembali oleh surat muram yang baru.

Awalnya, aku tidak mengerti, apakah dicintai seseorang bisa membuat kita merasa terbebani dan penuh oleh rasa bersalah? Karena aku merasa begitu ketika dicintai Elena. Perasaan bersalah yang penuh karena berhasil melukai hati perempuan yang mencintaiku. Aku membayangkan wajah ibu. Ibu yang pandai memasak sayur asam, merajut baju hangat, dan pandai memelukku ketika aku bersedih. Tiba-tiba aku rindu Ibu, tapi kemudian kuhempaskan kembali bayangan itu, mengingat ia tidak merindukanku.

Surat-surat itu tetap datang sampai beberapa tahun berikutnya. Sampai aku dan Diana hampir menikah. Bodohnya, aku tidak pernah membuang ataupun membakar surat-surat itu, yang ada, aku justru menyimpannya dalam kardus bekas mie instan yang atasnya kututupi dengan lakban, dan kemudian dilubangi seperti celengan ayam, tujuannya untuk memasuki surat-surat Elena ke dalam kardus, setiap hari. Suatu hari, Diana menemukan kotak itu dan membongkarnya. Percis satu bulan sebelum menikah. Dan dia membaca semuanya. Ya, semuanya. Beratus-ratus surat-surat muram itu. Sialnya, Elena juga menulis kenangan-kenangan dan adegan-adegan hebat kami saat bersetubuh. Aku menganggapnya, permainan, ia menganggapnya kenangan yang terus hidup dalam kepala dan rongga dadanya.

Kau bisa menebaknya, ah, iya. Diana menangis atas kesedihan Elena dan kebejatan seorang Gandru yang telah berani melukai hati perempuan. Menyepelekan cinta seseorang. Setelah itu, ya, kau bisa menebaknya juga. Diana pergi dari hidupku. Semudah membalikkan telapak tangan. Ia membatalkan rencana pernikahan dan memberikan cincin pertunangan kami kepadaku. Ia bilang, cincin itu pantas untuk Elena. Ia akan membayar kesedihan Elena dengan cara memberikan aku kepadanya. Memangnya aku barang yang bisa dihibahkan sesuka hatinya? Seandainya ia tahu, kesedihan tidak bisa dibayar oleh apa-apa kecuali oleh dirinya sendiri. Dan dengan dia meninggalkanku, dia malah membuat dua kali kesedihan. Pertama, aku tidak akan membalas surat-surat Elena, dan akan membencinya, kedua, ialah kembalinya aku menjadi seseorang yang tak memiliki pegangan. Sudah. Berantakan sudah.

Band-ku bubar, karena personelnya sudah menikah dan memiliki pekerjaan mapan, Diana pergi meninggalkanku, dan surat-surat Elena terus menghantuiku. Sampai suatu ketika berhenti. Dan aku frustasi. Merasa tidak dicintai, dan sendirian. Kadang, aku kerap menunggu datangnya surat itu, surat keparat yang membuat Diana pergi, tetapi itu sudah tidak ada lagi. Dua tahun dihinggapi kesendirian dan mimpi-mimpi buruk, mengantarkanku ke sebuah keadaan abnormal. Kepada ingatan-ingatan yang lalu-lalang. Tentang masa kecil, pertengkaran Ayah-Ibuku dulu, Diana, dan persetubuhan dengan Elena. Yang terakhir lebih sering menghantuiku. Mereka semua partikel-partikel masa lalu yang berseliweran dalam kepalaku, membuatku ingin tertawa, dan menangis tersedu-sedu. Kadang aku cekikikan di teras kos-kosan, kadang aku tersedu-sedu menangis seperti sedih sekali sampai akhirnya aku diusir oleh ibu kosku. Katanya, aku gila! Enak saja. Dia yang edan, mengusirku seenaknya! Hek..hek..hek..

“Dan akhirnya aku kemari. Duduk di sini bercerita denganmu. Aku rindu bercerita tentang hidupku, tentang masa laluku, dan masa kecilku. Kamu baik. Kamu mau mendengarkan aku. Tidak seperti orang-orang gila itu, yang sibuk mbicara’in aku! Hik hik hik hik….” aku tertawa cekikikan. Lawan bicaraku diam saja, tapi tak nampak ketakutan. Sepasang muda-mudi yang melintas menatapku dengan tatapan gusar sekaligus aneh dan jijik. Aku masa bodoh, sudah biasa. Tetapi lawan bicaraku nampak tidak keberatan. Ia lebih manusia dari manusia biasa meskipun dia bukan manusia.

“Ih, orang gila! Ngomong sama bangku!” sayup-sayup perempuan yang melintas itu bicara pada laki-laki di sebelahnya. Lagi-lagi perempuan yang lain itu mengingatkan aku pada Diana….tiba-tiba aku ingin menangis tersedu-sedu.

—–END——

Depok, 6 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s