Lelaki Kesepian dan Seekor Anjing

“Tiada yang lebih setia selain kesepianmu sendiri. Bila kau menginginkan kesetiaan dan seorang teman sekaligus, maka rawatlah seekor anjing. Tiada yang dapat meragukan kesetiaan seekor anjing.”

Begitulah yang diresapi Sardjono semasa hidupnya. Kata-kata itu adalah petuah dari Ayahnya sebelum beliau pergi untuk merantau ke tanah surga. Pulang kampung bertemu si Maha Besar. Tempat segala-galanya bermula. Giginya bergemeletukan. Ia telah menghabiskan secangkir kopi buatannya sendiri. Itu merupakan ritual paginya, sebelum membaca koran harian, dan pergi ke taman komplek bersama Jacqualine.

Samar, bibirnya yang sudah mengkeriput karena usia, tersenyum kecil. Tubuhnya kemudian turun, membungkuk. Tangannya mencoba meraih kepala Jacqualine yang sedang duduk bersimpuh di kakinya dan ia membelainya lembut. Betina itu akan tersenyum malu-malu dan kegirangan. Kalau sudah melihat Jacqualine bahagia seperti itu, hati Sardjono menghangat. Mirip matahari pagi di luar yang membagi hawa hangatnya hanya kepada pagi. Begitulah rasanya kebahagiaan. Hangat. Tidak seperti kecemburuan yang seperti matahari siang. Terik, dan menyimpan banyak dendam.

Hari ini hari Minggu. Setiap hari Minggu adalah perayaan bagi Sardjono. Bukan karena hari libur, karena setiap hari adalah tanggal merah untuknya. Hari Minggu adalah harinya koran Minggu. Ia akan membeli beberapa koran dan melupakan membaca berita-berita di halaman depan ataupun halaman berikutnya. Tangannya yang semakin kurus tetapi masih kelihatan liat itu gesit menemukan rubrik favoritnya. Tempat di mana bahasa menjadi sarana berpergian. Ia bisa liburan ke mana saja dengan bahasa. Bahkan, kadangkala ia bisa menjumpai surga di sana, atau membayangi ia sedang berciuman bersama seorang kekasih di bawah rinai hujan di negeri sakura, tempat ia menjumpai mantan kekasihnya dahulu. Cerpen dan kumpulan puisi dihabisinya setiap Minggu pagi. Koran-koran itu ditelanjanginya satu-satu demi menemukan sisi puncak kenikmatannya di rubrik favoritnya itu. Setelahnya, ia seperti bocah SD yang disuruh mengumpulkan klipingan untuk tugas sekolah. Ia menggunting cerpen-cerpen itu satu-satu biar terlepas dari tubuh induknya, kemudian dengan hati-hati dan tangan bergetar, ia menempelkan secarik demi secarik potongan cerpen itu di tubuh bagian dalam jurnalnya. Bedanya, ia tidak lagi melakukan kegiatan pengklipingan itu untuk tugas sekolah, tetapi untuk dirinya sendiri. Dan mungkin, ya, untuk Jacqualine bila suatu hari Si Maha Besar menjemputnya ke tanah surga.

Sudah genap duaratus cerpen telah diklipingnya sampai hari ini. Dia tersenyum puas memandangi jurnal tebalnya penuh oleh karya-karya sastra lokal. Ia jarang menyukai buku-buku atau karya orang luar negeri, bukan, bukan, Sardjono bukan orang yang terlampau fanatik kepada negerinya sendiri, dan memegang teguh nasionalisme dalam jiwanya. Sardjono hanya menganggap, ketika ia membaca karya terjemahan, ia merasa gagal memahami isi cerita yang dimaksud penulis asalnya. Bahasanya kadang bertele-tele dan terlalu baku, Sardjono merasa tidak sedang menuju fantasi sastra, yang seperti ketika ia membaca karya-karya penulis lokal. Lagipula, pikirnya, ketika ia membaca cerpen lokal, asal Lubuklinggau, misalnya, ia merasa sedang berkenalan dengan negerinya sendiri. Baginya, buku adalah sebuah laut, kadangkala menjelma sebagai tiket keberangkatan menuju sebuah kota, dan ia hanya ingin menyelam dan menjelajahi negerinya sendiri sampai sedalam-dalamnya. Setelah itu, barulah Sardjono merasa penuh. Ia merasa telah berkunjung ke Lubuklinggau, ke Tanah Toraja, ke Pantai Lovina, atau tempat-tempat lain yang tak pernah dijejaki kakinya. Ia merasa kaya.

Selain cerpen, Sardjono juga mengoleksi klipingan puisi-puisi di jurnal yang berbeda. Bila jurnal tebal berisi cerpen-cerpen itu bersampul hijau lumut, jurnal untuk puisinya bersampul cokelat tanah. Dua-duanya dari kulit kuda, dan sama-sama dari mantan kekasihnya dahulu. Kadang ia merasa beruntung memiliki Jacqualine yang bukan seorang perempuan yang rewel, dan akan membakar semua benda-benda dari kekasihnya dulu, dan sekaligus menghanguskan kebebasannya. Ia juga bersukur pernah memiliki kekasih-kekasih yang berbaik hati telah menghadiahkan jurnal-jurnal bersampul kulit kepadanya. Ia menyukai buku jurnal, yang di dalamnya hanyalah kertas tanpa proses pemutihan sehingga warnanya menjadi kuning redup, dan terasa begitu sedih dan dramatis. Kertas-kertas polos tanpa garis-garis yang menghalangi kebebasannya melakukan apa saja pada buku jurnalnya. Ia tidak menyukai garis, sama seperti ia tidak menyukai pengekangan. Baginya, garis adalah bentuk pengekangan yang lain selain perempuan, dan pernikahan. Ketika ia menggunting kumpulan puisi karya Dedy Tri Riyadi, tangannya semakin bergetar, tetapi ini bukan karena usia, melainkan karena ingatan yang terbang ke masa lampau. Ia selalu merasa tergetar dan menghangat ketika menyentuh puisi, entah puisi siapa saja. Ia tiba-tiba saja mengingat Ayahnya, yang betapa seringnya membeli buku-buku puisi dan membacanya kala ia ingin tertidur. Selalu begitu ketika tanganya menyentuh puisi dan hendak mengguntingnya. Perasaan-perasaan seperti itu tidak akan terjadi ketika ia menempelkan potongan cerpen dalam jurnal bersampul hijau lumut.

Ada dua hal yang mengingatkannya kepada puisi. Pertama adalah masa kecil bersama Ayahnya, yang setiap malam mendongenginya sebuah puisi, bukan dongeng rusa atau kancil yang nakal. Kedua, ah, ia sangat ingin melupakan hal yang ini sebetulnya, hanya saja, setelah bertahun-tahun lamanya, bayangan yang ini tidak pernah terlepas dari ingatannya. Tameera. Gadis asia berkulit putih langsat, rambutnya hitam, lurus, dan lembut, alisnya lebat, tetapi matanya sedikit sipit, tungkainya panjang dan ramping, dan lehernya jenjang. Ia bertemu dengan Tameera di kota Tokyo, tempat di mana ia mengenyam pendidikan terakhirnya. Tameera adalah mantan kekasih terakhir yang begitu berbekas meninggalkan buih-buih kesedihan dan kerinduan yang begitu mendalam. Sampai saat ini. Ya, sampai saat ini. Dia adalah perempuan aneh pertama yang berhasil membuat Sardjono jatuh cinta. Perempuan yang tidak umum. Dia bukan hanya perempuan yang tidak umum, tetapi selain itu dia juga berkebangsaan Indonesia, tetapi besar di negeri Sakura. Keanehan Tameera adalah kelainan hormon berbelanja perempuan. Ia tidak seperti perempuan yang gila berbelanja pakaian, sepatu, tas, dan aksesoris lain yang berkerlipan. Pernah suatu kali, ia mengajak perempuan itu ke Shibuya, tetapi perempuan itu malah murung seharian. Ia sama seperti Sardjono, tidak begitu menyukai keramaian. Hanya saja, ia pikir, setiap perempuan sama. Menyukai berbelanja. Sepulang dari Shibuya, Tameera tidak berbelanja apa-apa. Aneh, bukan? Ia malah merayu Sardjono untuk mengajaknya ke toko buku atau perpustakaan di pinggir kota, dan menghabiskan banyak uangnya hanya untuk buku-buku puisi Sylvia Plath, Walter Scott, Oscar Wilde, dan Rabindranath Tagore. Itu kali pertamanya ia menyentuh puisi setelah kepergian Ayahnya yang tiba-tiba di Batavia, tanah masa kecilnya.

Tameera berhasil membuatnya kembali membaca puisi setelah tiga tahun lamanya tak berani membaca puisi karena takut menemukan dirinya sebagai pecundang yang tidur melingkar dan mengisapi jempol, kemudian merindukan Ayahnya yang telah pulang bertahun-tahun lalu. Sebagai laki-laki cengeng. Tetapi kali itu, kesedihan tumpah kepada Tameera. Ia berani menelanjangi kejujuran dan bekas-bekas masa kecilnya kepada Tameera. Ia menceritakan bagaimana Ibunya pergi meninggalkan dirinya dan Ayahnya yang melankolis itu bersama pria lain, yang katanya sangat ia cintai. Setelah perselingkuhan ibunya, ia tak pernah lagi memiliki sosok pengganti Ibu. Baginya, Ayahnya adalah Ibunya juga. Ia juga menceritakan tentang Ayahnya yang setiap malam mendongenginya puisi sebelum tidur. Ia pernah sesekali waktu, menemukan Ayahnya menangis tersedu-sedu ketika membaca puisi sendirian di sofa kamarnya. Saat itu ia terbangun dari tidurnya dan tak sengaja menemukan kejadian langka itu. Seorang Ayah yang kuat, menangis, merindukan.

“Begitu dalamnya rindu itu, Jo..” Tameera sering memanggilnya Jo, entah mengapa, ia menyukainya.

“Rindu itu seperti belati. Bisa melumpuhkan siapa saja. Yang lemah, ataupun yang kuat.” perempuan beraroma sakura itu tersenyum. Sardjono mendengar kata-kata itu begitu teduh.

“Sepakat denganmu. Barangkali, bukan hanya rindu, tetapi rasa kesepian. Rasa sepi bisa membuat ayahku yang begitu baja menjadi seperti kayu bakar yang sebentar lagi hangus. Ia menjadi begitu rapuh karena kesepiannya yang bertahun-tahun.” mata Sardjono menerawang.

“Mengapa ayahmu tidak menikah lagi?” tanya Tameera. Sardjono tersenyum, membayangi muka ayahnya.

“Ia lebih memilih anjing daripada perempuan. Belakangan, aku tahu, laki-laki yang membawa pergi ibuku adalah sahabat karibnya sendiri.” Sardjono tersenyum getir kepada udara di depannya. Membiarkan bibir Tameera yang merah delima itu terbuka karena terkejut. Laki-laki bertubuh kurus itu seperti berkaca pada kisahnya yang lalu. Lalu sekali.

Ingatan melemparnya ke sebuah sel-sel kecil masa lalu. Partikel-partikelnya membuat ia seperti melihat dan mengalami kembali kisah-kasih semasa sekolahnya bersama Riana. Perempuan Jawa yang sering dikepang dua dan memiliki senyum termanis di ingatannya. Perempuan pertamanya. Yang membuat ia tersenyum malu-malu kucing, dan berdebar-debar keras saat ada di dekatnya. Perempuan yang pernah menjalin kasih dengannya, lalu menikah dengan Kaedarmo, sahabat pembagi kisah-kisah suka dukanya. Itu terjadi dua tahun sebelum ia terbang ke Tokyo dan melunaskan pendidikannya di sana. Saat dikhianati begitu, Sardjono menginginkan Ayahnya ada di sampingnya, memeluknya, dan membagi kisah bersama, sebab kisah mereka bagai pinang dibelah dua. Mirip sekali seperti kembar identik. Ia merasa, Riana adalah sosok ibunya yang pergi dengan laki-laki sialan yang bukan lain sahabatnya sendiri. Tempat ia membagi suka dan dukanya.

“Aku ingin kamu lebih setia daripada sepi dan seekor anjing.” kata Sardjono kepada Tameera setelah melepaskan masa lalunya di telinga perempuan itu sepenuhnya. Ia telah mendengar kisah Ayah-Ibunya, dan Riana, si perempuan Jawa berkepang dua yang senyumnya amat manis. Sardjono berharap, setelah ia mengisahkan dua kisah pahit itu, Tameera tidak akan mengkhianatinya dan membuat dosa seperti dosa dua perempuan yang ia kisahkan.

Tameera hanya tersenyum menanggapi kata-kata Sardjono. Ia ingin menjadi yang lebih setia daripada kesepian dan seekor anjing, tapi ia takut apabila rasa seorang manusianya memupuskan keinginan Sardjono. Bagaimana pun, Tameera sadar, ia hanya manusia yang suatu waktu bisa melakukan kesalahan fatal, dan melukai hati siapa saja. Ia ingin tetapi takut. Dan ketakutannya menghinggapi segalanya. Ketakutan itu menjadi nyata senyata-nyatanya. Ia jatuh cinta. Lain, bukan kepada Sardjono, walaupun laki-laki kurus itu ialah kekasihnya dan sudah merajut cinta kasih hampir selama tiga tahun lamanya. Perempuan itu jatuh cinta pada Kuriyoshima, dan laki-laki berkebangsaan Jepang itu tak lain ialah teman dekat Sardjono. Dari Sardjono ia tahu, ia tidak lagi memiliki sahabat karib setelah Kaedarmo itu, tetapi sejauh ini Kuriyoshima adalah teman yang paling dekat dengannya di antara yang lain-lain. Dan sialnya, bukan hanya jatuh cinta, tetapi ia justru tergila-gila dengan Kuriyoshima yang rupawan dan pembawaannya yang memikat jiwanya.

Ia merasa lain bila berhadapan dengan Sardjono dan Kuriyoshima di saat yang bersamaan. Di lain sisi, ia mencintai Sardjono dengan segala kepintaran dan ketabahannya menghadapi dirinya yang menurut Sardjono, aneh. Tapi seperti koin, di sisi lainnya justru ia terpikat dalam jerat pesona keelokan Kuriyoshima.

“Kalau aku pulang ke Batavia, aku mau turut serta membawamu..” kata Sardjono suatu hari di sebuah toko buku di pinggir kota Tokyo.

“A-apa? Ke Batavia?” ini waktu yang baik, pikir Tameera. Sardjono mengangguk sambil tersenyum.

“Aku akan pulang bulan depan.”

“Tidak akan kembali ke sini lagi?” Temeera menggigit bibirnya. Berharap-harap cemas.

“Pasti setiap tahun kita akan pulang kemari, mengunjungi kedua orangtuamu, Mee(Mi)” Sardjono tersenyum lagi. Diam-diam dada Tameera menghangat. Tapi ia merasa tidak yakin akan melanjutkan hubungan ini. Kuriyoshima benar-benar telah menghancurkan pikirannya. Perempuan itu terdiam beberapa menit. Pandangan matanya mengambang. Buku di hadapannya tidak lagi dibaca dan tiba-tiba menjadi tidak lagi menarik di matanya.

“Jo, aku takut, tidak bisa lebih setia daripada kesepianmu. Bahkan daripada seekor anjing.” ungkap Tameera dingin.

“Mengapa berbicara begitu?” tangan Sardjono terangkat ke atas, menyelipkan sebuah buku puisi ke dalam raknya.

“Entahlah, aku merasa…” Perempuan itu menggantungkan begitu saja kalimatnya. Laki-laki yang dipanggil ‘Jo’ sedang menunggu.

“Lupakan saja, Jo.” lanjut Tameera sambil melanjutkan membaca buku yang dipegangnya. Tapi pikirannya melayang-layang, seperti selendang yang terbang terbawa angin pantai dan menuju ke entah. Lalu kemudian berlabuh dengan sendirinya kepada seorang laki-laki berkebangsaan Jepang itu. Kuriyoshima.

Hari itu ialah hari terakhir ia bertemu Tameera. Sardjono tidak tahu apa yang terjadi sampai ia pulang ke Batavia dan meninggalkan Tokyo tanpa membawa serta perempuan tinggi semampai yang cantik itu. Ia pulang membawa sekoper baju-baju, buku-buku puisi, buku jurnal bersampul cokelat tanah pemberian dari Tameera, dan kenangan bersama perempuan itu. Dua bulan kemudian, perempuan itu memberinya sebuah kabar sukacita, tetapi duka baginya. Ia mengirimkan kartu pos permintaan maaf. Di kartu pos itu ada gambar Tameera, dirinya, dan laki-laki yang sangat dikenalnya. Kuriyoshima. Teman sejawatnya di Tokyo. Di kartu pos itu, Tameera menuliskan penyesalannya. Dia mengutuk dirinya sendiri sebagai perempuan yang melakukan dosa seperti dua perempuan masa lalu yang telah meninggalkannya. Ibunya, dan Riana. Kartu pos itu sekaligus mengatakan bahwa ketakutan yang selama ini digenggam Tameera benar. Perempuan cantik yang dicintainya, untuk kedua kali, jatuh di pelukan orang terdekatnya sendiri. Kaedarmo, dan Kuriyoshima. Dua laki-laki yang berbeda perangainya, tetapi sama-sama memiliki keberuntungan, dapat mengambil apa yang ia inginkan. Dulu ia menyalahkan Kaedarmo sepenuhnya atas pernikahannya dengan Riana. Tapi kini tidak lagi, ia mulai menyalahi dirinya sendiri dan takdir yang iakenakan.

“Tiada yang lebih setia selain kesepianmu sendiri. Bila kau menginginkan kesetiaan dan seorang teman sekaligus, maka rawatlah seekor anjing. Tiada yang dapat meragukan kesetiaan seekor anjing.” Ia teringat petuah Ayahnya lagi. Kini ia mulai merindukan ayahnya. Ayah yang tabah menghabiskan masa tuanya bersama kesepian dan seekor anjing jantan bernama Debong.

Ayahnya benar. Tiada yang lebih setia daripada kesepianmu sendiri. Bahkan, mautpun tidak dapat mengambil kesepianmu itu dari genggamanmu. Sebab, di liang kubur nanti, kau hanya akan berdua saja dengan kesepianmu. Sardjono mulai mengartikan kesepiannya sendiri. Kesepian yang tidak pernah pergi sejengkalpun darinya, bahkan ketika ramai mencoba merebutnya dari Sardjono. Kesepian tidak pernah lepas. Ia selalu di samping Sardjono. Setia seperti anjing. Seperti Jacqualine, anjing betina kesayangannya.

Tak terasa, air matanya menetes, di atas puisi berjudul Aku Membayangi Diri Sebagai Delima Merah, milik Dedy Tri Riyadi. Ia terpaku pada kata-kata di sana, aku tak bisa membayangkan dengan benar; paruh-paruh itu atau pisau lebih nyeri dari sepiku. Tetapi ia merasa sepi itu bukanlah pisau, ia lebih mirip seorang karib yang tidak akan pernah mengkhianatinya. Pengkhianatan dan kebohongan, baginya, lebih mirip paruh-paruh elang yang akan mencabik isi dagingmu, atau pisau belati yang nantinya menusuk dan mengorek-ngorek punggungmu.

Tangan kurus dan keriputnya masih setia melepas kumpulan puisi-puisi itu dari tubuh induknya, meskipun masih bergetar dan mulai berkeringat. Waktu dan kesepian telah membuatnya semakin rapuh dan semakin kuat. Lalu ia menempelkan puisi itu ke dalam buku jurnal bersampul cokelat tua, dari mantan kekasihnya dulu, yang ia cintai.

—END—

Depok, 08 Juli 2015

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s