Penyair Kota

Aroma dari dalam cangkir kopi menguar-nguar, mengeluarkan wangi-wangi yang bagi lelaki di hadapannya, adalah tempat imajinasi-imajinasi tersembunyi. Ia seringkali menemukan kesedihan-kesedihan dan cinta dari dalam secangkir kopi. Di lain kesempatan, lelaki bertopi koboi itu juga berjumpa dengan mantan-mantan kekasihnya, dan ibunya yang sudah lama tiada. Ia begitu banyak menyimpan penyesalan dalam secangkir kopi. Kenangan memang biasanya hidup di tempat-tempat favorit kita. Seperti di kedai kopi, rak-rak buku, atau di depan jendela tatkala hujan bertandang ke kotamu. Tapi bagi lelaki paruh baya dalam kedai kopi itu, tak ada yang lebih baik menyimpan kenangan selain dalam kepalanya sendiri. Di dalam kepalanya, kenangan hidup seperti anak-anak yang rewel dan manja, tapi tidak pernah menyebalkan baginya.

Meja kayu bulat dan pipih itu sudah diisi oleh beragam macam benda; cangkir berisi americano coffee, sebungkus rokok sampoerna mild, ponsel keluaran terbaru, dan tak lupa juga tab hybird keluaran vendor china yang baru dibelinya dari hasil upahnya mengais puisi-puisi di kepalanya. Menggali ingatan, sekaligus menggali tambang emas. Tapi baginya, puisi bukan hanya penolak lupa atas kenangan-kenangan dalam ingatannya, ia juga telah menjadi penghasil uang buat makan, minum, dan ngafe. Kebutuhan primer yang baru. Lagipula, puisi sebenarnya bisa menjadi alat sebagai sarana menyampaikan aspirasi—yang sebenarnya membangkang pemerintahan, tapi perlu dicatat,—dengan cara yang indah. Ia sendiri sudah sudah lama menulis puisi. Sejak tamat SD, ia mulai rajin membeli buku-buku puisi, hasil dari tidak membeli jajanan di kantin. Ia sudah cukup kenyang membaca sajak-sajak.

Lelaki bertopi koboi itu sudah tidak muda lagi. Umurnya hampir melewati kepala empat, tapi kesendirian masih sangat akrab pada dirinya. Padahal, bila dilihat secara fisik, lelaki itu cukup punya daya pikat di hadapan perempuan-perempuan bersepatu hak tinggi. Alisnya hitam dan lebat, memanjang seperti langit malam yang menaungi sepasang mata sendunya. Mata, yang kata kekasihnya dulu, seperti kegelapan yang mempu menyedot dirinya sampai ke dasar. Ah, yang berkata begitu hanyalah Arini, mantan kekasihnya, yang juga mencintai puisi sama seperti ia mencintai dirinya sendiri. Lelaki itu tersenyum. Ia teguk lagi kopi itu ke dalam mulutnya, yang banyak mendendangkan sajak-sajak, atau keluhan-keluhan. Bibirnya sedikit tersenyum ketika mengingat Arini, yang sudah menikah dan memiliki sepasang anak kembar yang lucu dan juga manis, mirip ibunya. Dulu, ia bermimpi memiliki sepasang anak kembar dengan Arini. Perempuan itu memiliki kakak yang juga kembar. Tapi mimpi itu putus oleh perpisahan. Ah, mengapa semua hal yang berbau mimpi dan harapan harus dipupuskan oleh perpisahan? Dan, mengapa waktu harus juga menciptakan perpisahan? Suatu hari, ia ingin sekali mengubah zaman, ia ingin menjadi pembuat kamus, dan tidak ada kata perpisahan di dalam sana. Tidak ada. Tapi memang dasar, lelaki itu tukang khayal, ia sering menemukan dirinya sendiri hampir mati karena tenggelam dalam imajinasinya yang membanjir. Arini pun, meninggalkannya karena ia terlalu banyak berkhayal tanpa melakukan apa-apa.

Arini, lihatlah aku sekarang, masih bujang, dan foya-foya dengan honor dari imajinasi-imajinasi yang kau bilang tidak berguna itu. Lihatlah. Ia membatin dalam hati. Tetapi, tetapi, apa benar bila kau nanti hidup bersamaku, dan memiliki sepasang anak kembar, akankah aku mampu membeli susu atau popok? Sekarang ia mulai ngeri, membayangkan dia menjadi seorang Ayah yang tidak berguna. Hanya pandai berpuisi atau mendongeng, tanpa bisa memberikan mereka makan, minum atau uang untuk sekadar ngafe. Kini ia mulai bersyukur. Ia tidak perlu menjadi seorang Ayah dari anak-anak kecil yang rewel dan manja. Ia juga tidak perlu menjadi suami seorang wanita yang akan membakar habis kebebasannya. Ia cukup menjadi ayah bagi kenangan-kenangan yang hidup seperti anak kecil dalam kepalanya. Ia juga cukup menjadi seorang kekasih bagi puisi-puisinya.

Suatu hari, saat sakit kepalanya kumat, ia ketakutan, apabila anak kecil di dalamnya ikut merasakan sakit, dan tiba-tiba akan mati, hingga suatu hari tidak akan ada lagi kenangan-kenangan yang setiap kali merengek seperti anak kecil itu lagi di kepalanya. Ia juga takut kehilangan puisi-puisinya. Kehilangan kekasihnya. Pernah ia berharap bisa menikahi puisi-puisinya. Tapi ia segera sadar, negaranya bukanlah tempat di mana pernikahan bisa melegalkan segala jenis cinta. Ini kata sepasang sahabatnya, Roy, dan Dimas—nama disamarkan—yang menyembunyikan jalinan cintanya selama hampir lima tahun. Jangankan sepasang gay seperti dua sahabatnya, aku saja bakal ditentang apabila berani datang ke KUA dan mengatakan kalau aku akan menikahi puisi-puisi. Ia membatin lagi. Teringat dua sahabatnya itu. Roy ditemukan mati konyol. Ia gantung diri di kamar apartemennya setelah dua hari polisi menemukan jasad Dimas mengapung di Kali Ciliwung. Hidup memang penuh misteri dan praduga-praduga yang belum tentu benar. Ia teringat lagi, seperti kiamat 2012 itu… Sampai sekarang, ia malah bertanya-tanya, apakah Dimas dibunuh oleh Roy? Atau Roy benar-benar bunuh diri karena ditinggal mati Dimas? Ini adalah pertanyaan yang begitu rumit dan seringkali dikatakan oleh kepalanya.

Kadangkala, ia merasa, kepalanya seperti bisa berbicara sendiri. Kepala yang menyebalkan itu sering bertanya hal yang menjadi keraguan di benaknya. Kepalanya rewel sekali. Tapi ia segera ingat, kepalanya adalah tempat anak kecil bermain. Kenangan adalah anak kecil yang menguasai taman bermain.

Malam semakin beranjak tua, dan kedai itu semakin ramai oleh orang-orang kesepian seperti dirinya. Ia sering sekali menyangkal kalau dirinya termasuk golongan makhluk kesepian itu, tetapi kenyataan tidak bisa disangkal. Tangannya lincah mengetik-ngetik di atas papan ketik tanpa kabel itu. Ia sedang menulis—mengetik puisi yang akan ia posting di blog, lalu ia akan menulis puisi lainnya untuk mengisi perutnya. Dikirim ke surat kabar harian, atau majalah. Media-media tenar di Jakarta sebagian ini merupakan pelanggan tetap puisi-puisinya. Hingga, penggemar sastra mana yang tidak mengenal penyair semacamnya? Namanya sudah begitu dikenal banyak orang (yang menyukai sastra). Perlu tanda kurung, karena, ya, penyuka sastra itu termasuk golongan minioritas, dan mayoritasnya adalah penyuka acara-acara di teve, film, atau kelab malam, dan hal-hal lain yang ia menolak mengerti. Baginya, hanya puisi yang layak ia pahami, karena yang lainnya membuat bingung. Atau memang dia yang tidak terbiasa dengan hal lain selain puisi.

Di zaman ini, banyak hal yang tidak bisa ia mengerti, termasuk menullis puisi di layar digital. Bukan di atas kertas kosong, atau di kertas yang dihentak-hentak oleh huruf-huruf dari mesin tik jadul. Zaman memang telah berubah. Melazimkan hal-hal yang tak lazim. Tapi, ia bukan penyair ketinggalan zaman, ia kini penyair kota. Seorang laki-laki yang mengubah gemerlap kota sekaligus boroknya menjadi suguhan kata-kata yang dinikmati banyak orang. Dulu, ia pikir, hidup di kota itu sumpek dan penuh oleh kubus-kubus yang mengekang seperti kekasih. Hidup tua di kota karena kemacetan yang bertubi-tubi. Hidup tua di kota dan menjadi tuli karena bising suara kendaraan yang melintas beribu-ribu-berjuta-juta kali. Namun, ia salah. Memang, sebagian benar; kemacetan, dan bising lalu lintas kota. Tapi selalu ada yang tersembunyi di balik gaun anggun dan nakalnya ibu kota. Selalu ada yang rahasia di balik kemolekan suatu kota. Dan ia menemukannya. Banyak yang harus ia keluhkan di kota ini, dan ia akan mengubahnya menjadi sajak cantik di koran-koran lokal.

Ia pernah membayangkan; puisinya sedang duduk manis di atas meja, di beranda istana, di samping secangkir kopi spesial yang dihidangkan untuk bapak presiden (kalau ia penyuka kopi dan sastra). Dan bapak paruh baya, yang hampir sama dengan usianya sekarang, akan membuka laman-demi-laman koran di depannya, mencari-cari rubrik sastra, dan menemukan puisinya yang cantik itu di sana. Ia akan menatap puisi itu lama dan jatuh cinta, tapi penyair itu takkan cemburu. Ia akan senang, karena artinya aspirasi itu telah sampai. Dan kota yang ia singgahi ini, tidak akan lagi menjadi tempat sekejam ibu tiri.

Arini pernah mendengar harapannya yang ini. Ah, Arini lagi. Perempuan itu selalu terkenang di dalam kepalanya. Barangkali, dialah si anak kecil yang pandai merengek itu. Meskipun ada puluhan perempuan, Arini tidak pernah hilang, seperti nama-nama lain yang ia sudah lupakan. Barangkali karena Arini sama gilanya dengan dirinya. Gila? Ya, dia jadi teringat sebuah percakapan di sebuah kedai kopi. Kedai kopi yang sama seperti yang ia datangi malam ini.

“Kau gila?” ejek Arini setelah mendengar harapannya; puisinya akan sampai di tangan pak presiden.

“Semua penyair itu gila, Ar. Hanya saja mereka pandai menyembunyikannya dalam puisi-puisinya.” penyair itu terkekeh.

“Kau bukan penyair, kau pengkhayal, sayang.” Arini juga tertawa, tapi masih mempertahankan ejekannya.

Arini memang begitu. Anak kecil yang hidup dalam kepalanya, dan penyair itu tak berkeberatan menjadi Ayah baginya. Dan, dia juga kekasihnya. Sebab, puisi-puisi itu adalah Arini, dan kota. Arini, dan kota. Dua hal yang terus ia sajakkan. Dua hal yang terus mengeram di kepalanya. Sampai entah.

Apakah aku penyair? Atau benarkah aku hanya pengkhayal? 

Ia membatin lagi. Keraguan lebih mampu membuatnya gila daripada kegilaan itu sendiri.

—-END—-

Depok, 11 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s