Merah Senja di Bengawan Solo

Rona senja menerpa sisi kulit pipi kirinya yang sudah mengerut terlumat masa. Senyumnya tak lagi bisa sedikit lebih terlihat bahagia dari ini. Bibirnya yang dinaungi keriput-keriput itu, kaku oleh luka yang diberikan zaman terhadapnya. Zaman yang memakan kebahagiaannya seperti mulut-mulut harimau kelaparan yang mengoyak-ngoyak isi daging mangsanya. Zaman juga yang telah mengambil paksa nyawa kekasihnya yang kini tubuhnya entah sudah berhenti atau masih mengarungi sungai Bengawan Solo. Di hadapannya, sungai itu terhampar panjang dan lebar. Cahaya senja seperti merasuki pori-pori air sungai yang tak bisa lagi dijadikan cermin matahari yang ingin menyaksikan tubuhnya sekali lagi, sebelum terbenam di ufuk barat.

Semalam, takbir mengucur deras dari bibir orang-orang di kampungnya. Semua bahagia oleh hari yang fitri dan malam penuh berkah. Tak terkecuali dirinya. Di dalam sebuah rumah sederhana, bercat hijau tua, dan berdinding rotan itu, pelan-pelan bibirnya gemetar mengucap takbir. Dadanya berdesir mengingat almarhum suaminya. Seperti apel yang disayat pisau dapur, luka itu menguliti seluruh dinding hatinya. Ngilu. Kesedihan membara di sana tak pernah padam sedikit pun. Kebencian juga pernah ada di sana, membakar seluruh kebahagiaan yang ia miliki. Perlahan padam sebab ia sadar, di usianya yang sudah renta, ia tak bisa lagi menyimpan dendam lebih lama. Mungkin, seperti api yang dipaksa padam, dan percikan-percikannya masih meletup-letup di dalam sana. Tidak ada yang tahu. Tak terkecuali dirinya. Ia hanya berserah kepada Allah Ta’ala yang telah memberi takdir sebegitu rumitnya kepadanya. Tidak, ia tidak sedang mengutuk kebaikan Tuhan yang telah memberinya kehidupan, ia hanya menjabarkan realita hidupnya. Rumit. Dan kesedihan berdebur-debur bagai ombak di pantai hidupnya yang sering terkena tsunami.

Kadang, ia bertanya-tanya, mengapa Tuhan memberi garis hidupnya sedemikian pedih. Mengapa Ia tetap membiarkannya hidup sebatang kara di tanah kelahirannya sendiri. Ditinggal pergi dari orang-orang yang dicintainya dengan cara yang amat keji dari tangan-tangan besi, yang ia pikir, tidak samasekali memiliki nadi dan aliran darah seorang manusia beradab. Ia juga bertanya setiap di penghujung malam, di atas sajadah yang sudah lusuh karena sudah berpuluh-puluh tahun menemaninya berdo’a pada yang Maha Kuasa. Sajadah itulah yang menyimpan air mata dan juga do’anya. Ia bertanya, mengapa dulu ia tak ikut diseret bersama suaminya oleh segerombolan orang-orang berbadan besar, yang kalau berjalan kaki-kakinya berderap bagai suara kuda-kuda di medan pertempuran. Mereka memberikan kecemasan luarbiasa yang sama. Derap-derap langkah kematian yang sampai ke dalam gendang telinganya. Mengapa ia tak ikut suaminya dilarungkan ke sungai Bengawan Solo dan menebus kematian bersama di sana. Bukankah kesetiaan itu tetap ada sampai maut menjemput? Dan ia ingin menjemput maut bersama kekasihnya, dengan cara bagaimana pun.

Usianya kini sudah mencapai angka ke tujuhpuluh tiga. Tentu bukan usia yang muda lagi dan telah matang untuk menebus kematian. Tapi kematian seperti tamu yang tak pernah datang meski ditunggunya bertahun-tahun yang lalu. Sejak Sudarmo meninggal dunia. Jasadnya mengapung mengarungi sungai Bengawan Solo. Darahnya menebar ke segala penjuru bersama darah orang-orang yang terbunuh limapuluh tahun lalu. Bukan, bukan terbunuh, tetapi dibunuh oleh tangan-tangan yang tak memiliki nadi dan tak ada darah seperti darahnya mengalir di sana; darah manusia. Kepala suaminya, yang dulu tempat dongeng dan puisi-puisi romantis untuknya bermuara, dipopor senapan kemudian……ledakan berdebum persis di pelipis kanannya. Musnahlah dongeng-dongeng dan puisi yang pernah disimpan di kepala suaminya. Mengalir  bersama arus Bengawan Solo. Menjadi dongeng legenda yang ia putar berkali-kali kepada putri semata wayangnya, Sriwedari, yang pada masa itu, masa suaminya dan kaum dari suaminya dihabisi dengan cara yang tak pantas ada di peradaban manusia, baru berusia enam bulan.

Sudarmo adalah pria biasa yang iakenal sebagai pribadi yang berbudi baik, santun, dan romantis. Darmo, begitu ia memanggil mesra suaminya. Pernah, ketika ia sedang mengandung buah dari cintanya, Darmo mencarikan buah kenari sampai ia sendiri memanjat pohon yang tinggi menjulang di halaman depan rumah rekannya, yang tanggal kematian dan cara kematiannya menyerupai suaminya. Darmo bukanlah pria yang taat beragama, yang mengimami dirinya sholat lima waktu, dan tangannya ia kecup setelah menuntaskan rakaat akhir. Darmo juga bukan pula pria yang rajin berpuasa. Namun walaupun begitu, ia tetap mensyukuri kebaikan hati suaminya. Darmo, seringkali membangunkan ia tengah malam untuk sembahyang malam, atau sahur di bulan ramadhan saat ia tengah sibuk di depan meja kerjanya, menulis tak-tik-tok-tak-tik-tok dari mesin tik yang berisik sekali. Darmo senang menuliskannya sebuah puisi. Katanya, “aku mencintaimu, dan aku ingin mengawetkanmu ke dalam puisi.” bisik Darmo mesra diiringi kekehan tawanya yang renyah dan hangat. Kadang juga, Darmo menulis naskah pidato. Entah untuk apa, ia tak pernah mencampuri urusan suaminya. Sing penting iso mangan, Nduk, kata suaminya suatu hari. Sampai suatu ketika, di tahun-tahun penuh ancaman di kotanya, banyak orang yang mati misterius. Tengah malam diseret segerombolan orang, esoknya ditemukan mengapung di Bengawan, atau ditimbun di balik semak-semak belukar. Bengawan Solo menjadi bau anyir.

Suatu hari, pukul dua dinihari, Darmo seperti biasa sedang menggoyangkan kakinya lembut. Membangunkannya untuk mengingatkan sembahyang malam. Ia terbangun, namun dengan perasaan ganjil. Uluhatinya terasa ada yang meremas-remas. Dengan air wudhu, ia basuh seluruh wajahnya, tangannya, telinganya, kakinya, kemudian menggelar sajadah di kamar depan. Suaminya masih asik dengan mesin tiknya. Tapi anehnya, tidak seberisik tempo lalu. Kali ini lebih pelan, dan lamban, tidak menggebu-gebu. Ia mulai memasang mukenahnya. Dimulainya rakaat pertama. Suara mesin tik perlahan-lahan hilang. Digantikan suara pintu terbuka. Berdebum keras. Suara orang berderap-derap lari; entah mengejar, atau melarikan diri. DRUAK! DRAK! KRAAAKK! Senyap. Airmatanya menetes. Ia tak berani menoleh ke belakangnya. Setelah salam, ia lebih memilih menjatuhkan wajahnya ke kedua tangannya yang tengadah. Ia tahu, itu suara maut, yang datang menghampiri suaminya. Malam itu, ialah giliran suaminya menemui maut.

Lututnya gemetar ketika menemukan suaminya telah tiada di meja kerja. Mesin tiknya rengat, seperti kena amukan masa. Para bala tentara itu barangkali telah membantingnya kuat-kuat ke tanah. Bangku yang biasa diduduki, kaki-kakinya yang dari kayu Jepara itu patah. Kertas-kertas berhamburan di lantai. Tulisan-tulisan yang tak selesai, menyisakan sepenggal ruang sebagai tanda bahwa kepergian Darmo tidak disertai pamitan dan ciumtangan dari istrinya. Darmo… Darmo, apa kesalahanmu sampai ikut ditangkap tangan-tangan besi itu? Hatinya nelangsa menemukan suaminya ikut lenyap. Ia sudah merasa pasti kalau Darmo itu akan dimatikan dengan cara yang keji. Entah ditembak, ditebas lehernya, atau disiksa seumur hidupnya. Ia tak berani membayangkan apa yang terjadi kelak kepada suaminya. Ia tidak berani…

Dua hari kemudian, tersiar kabar, bahwa, Darmo, suaminya, tengah malam itu dibawa ke hilir sungai Bengawan Solo. Darmo tidak sendiri tetapi didampingi tiga pria besar berseragam loreng. Tangannya diikat ke belakang, dan pelipisnya dipopor senapan berkali-kali sebelum bunyi gaduh tembakan terdengar nyaring di tengah hening malam, dan suara jernih air menghantarkan jasad Darmo mengarungi sungai Bengawan Solo. Ia tidak tahu siapa yang pertama membuat kabar seperti itu, tetapi ia percaya kabar burung itu. Darmo meninggal tanpa nisan, tanpa identitas, tanpa nama. Hanya tubuh yang kosong melompong, meninggalkan dunia fana ini dengan berenang tenang menuju surga-Nya. Ya, ia percaya. Darmo orang baik, setidaknya ia suami yang baik. Darmo tidak pernah kurang memberinya nafkah dan kasih sayang yang tak putus-putus selama hidupnya. Sampai ia menemui ajalnya, yang ia yakin, bukanlah keinginan suaminya.

Ziarah, di hari yang fitri ini merupakan tradisi yang wajib dilakoni oleh umat islam di Indonesia. Di Solo, kotanya. Tepat, limapuluh tahun setelah Darmo dilarung di sungai Bengawan Solo, setelah huru-hara pergantian orde lama menuju orde baru. Kini semua berubah. Benar-benar berubah pesat. Bengawan Solo tak lagi semolek dahulu, tetapi tetap meninggalkan keanggunan yang membekas di sana. Baginya, Bengawan Solo merupakan prasasti sejarah, muara dari kelamnya sejarah Indonesia yang disembunyikan berpuluh-puluh tahun, dan muara doa-doanya selama ini dilarungkan kepada yang Maha Segala. Ia datang dengan langkah tegas, meski tubuhnya yang masih ramping itu menua, dan kelihatan ringkih, tetapi jiwanya tidak gentar. Kaki-kakinya yang kurus masih kuat menopang tubuhnya dan juga semangat hidupnya meski seringkali ia bertanya-tanya, kapan tepatnya maut itu datang menjemputnya. Tangannya membawa sekeranjang bunga ziarah. Bau melati, kenanga, mawar menguar dari sana. Bau kematian yang harum, bisiknya. Ia telah sampai di depan makam suaminya. Pekuburan tanpa nisan, tanpa identitas, dan tanpa gundukan tanah. Air mengalir namun tak sejernih dahulu, seperti sepasang matanya yang melamur, lagi-lagi karena ulah waktu. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit memanjatkan doa. Khidmat. Sunyi. Tiada lagi yang terdengar di telinganya kecuali suara kecipak air di bawah telapak kakinya. Perlahan, matanya terbuka. Sinar matahari menyambut pupil matanya dengan sengatan yang menggigit kulitnya yang tipis. Tangan kanannya kemudian mengambil seraup bunga ziara dari keranjang sambil melemparkannya ke Bengawan Solo. Bunga-bunga itu mengapung, mengikuti arus bersama doa-doa yang barusan ia panjatkan. Menghantarkan keikhlasan dari kematian suaminya limapuluh tahun yang lalu. Dalam hati, ia bertanya-tanya, kapan gilirannya mengunjungi tanah Surga dan bertemu Darmo dan putrinya, Sriwedari yang menjemput ajal terlebuh dahulu daripada dirinya yang sudah hampir bau tanah.

Darmo, apakah aku akan abadi seperti puisi-puisimu? Bisiknya getir dalam hati.

—END—

Depok, 21 Juli 2015

*Karangan ini terinspirasi dari buku Mati Baik-Baik, Kawan-nya Martin Aleida. Sebuah kumpulan cerpen yang menawarkan kisah-kisah eks tapol dan membobol kunci sejarah yang selama ini terkunci rapat mengenai PKI, Gerwani, dan Lekra. Mohon maaf apabila ada kesamaan tokoh atau peristiwa, karena karangan ini murni fiktif namun berdasarkan riset kisah dari buku-buku tentang peristiwa 1965-1968 yang banyak merenggut nyawa manusia secara paksa. Terima kasih telah membaca, saran dan kritik sangat diterima dan diperlukan untuk saya.

8 Comments

  1. Kak aku merinding baca ini serius ;-;

    Dan, maaf aku nggak tau mau komen apa lagi kak beneran udah speechless :””) juga komenanku nggak berguna gini ((slapped))

    Keep writing kakak ‘-‘b
    xx, Ay

    Suka

    Balas

      1. waduh, aku hanya penikmat kata, bukan penjuri atau suka menilai. semua karya itu baik, dan aku apresiasi itu. tapi, oke deh, nanti kubaca-baca tulisanmu, dan memberi komentar di kolom komentar saja ya 🙂

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s