Belati di Tanah Musim Kemarau

//1//

mengalir deras kegersangan itu di tubuhku,
setelah kaubasuh dadaku (terlebih dahulu) dengan sebilah luka
tak ada gema tangis yang mengisi ruang di gendang telingamu
rupanya kau (terlebih dahulu) tuli sebelum aku berduka

bunga-bunga layu, kumbang-kumbang mati di mukaku
lalat-lalat hinggap sebagai penanti kematian yang lain lagi
cermin retak ketika berkaca pada mata seorang anak kecil yang kehilangan masa kecilnya
direnggut oleh waktu yang makin beringas karena waktu

detik-detik mengucur deras di keningku
serupa air zam-zam yang keluar dari kaki jibril
kita, kau, atau barangkali aku, tidak sempat mengambil
barang sebotol saja untuk bekal minum di hari-hari nanti

//2//

melayang, kepak burung melayang tinggi
bagai ia lupa, kalau sayapnya punya kadaluwarsa
sebab waktu makin beringas karena waktu
zaman makin kejam karena zaman

peluru-peluru ditetaskan moncong senjata
siap menembak siapa saja yang bernyawa
siap menebus kematian siapa saja yang (tak) dikehendaki
dan aku menjadi daratan retak yang bersimbah darah

kau mulai lagi menghilangkan angin
membiarkan dirimu menang atas tubuhku
dan aku makin patah karena ulahmu
makin bersimbah-simbah darah

//3//

kerinduan membelah dadaku dengan musim
komat-kamit doa dilarungkan ke langit
memintamu, kekasihku, kembali menciumi wajahku
sebab rindu ini telah membuatku menua

aku takut, pabila kau kembali nanti
kau tak lagi jatuh cinta kepadaku
lalu enggan menciumi wajahku yang kusam ini
dan aku makin bersimbah-simbah darah

—END—

Depok, 25 Juli 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s