Surat Kepada Pluto, Jupiter, Uranus, Saturnus, Atau Kau

Sebenarnya, kata-kata ini ingin kujadikan puisi. Tetapi, ini aneh memang, menulis puisi untuk seseorang, khususnya lakilaki yang tidak pernah kujumpai sekalipun, seperti planet-planet yang kujabarkan pada judul. Aku mengenalmu hanya pada sebingkai gambar. Kemudian, penasaran itu seperti benalu tumbuh di dadaku. Kalau kamu tak suka benalu, aku akan menyebutnya rumput liar, yang jika terpangkas, atau dipangkas, ia akan tumbuh lagi seperti semula, atau bahkan lebih tinggi. Hei, aku tahu ini gila, tapi aku tak bisa mengendalikan kegilaan ini, dan hei lagi, siapa yang bisa mengendalikan kegilaan? Nah, aku lanjutkan, kamu tahu? Dari sebingkai gambar itu, aku mulai mencari bingkai-bingkai lain yang menyusun wajahmu, kebiasaanmu, perangaimu, buku-buku yang kamusuka, dan musik-musik barat yang kamusuka dengarkan itu. Tetapi kutahu, jawanmu pasti tidak tahu, karena mengapa? Karena kamu tak tahu kalau aku membututimu lewat dunia maya. Ini terdengar gila, dan mengerikan, bukan? Tapi aku tahu kamu menyukai kegilaan itu. Aku tahu itu dari bingkai-bingkai yang menyusun kamu.

Sekarang aku ingin menuliskanmu sebuah puisi. Kamu boleh melewatkan bagian atas dan bagian ini, tapi jangan lewatkan di bagian bawah ini, puisi ini :

Pertama dari bingkai, kedua dari potraitmu, ketiga dari kopi dan bukubuku
Apakah kau percaya, bahwa jarak dan sekat—apapun itu bentuknya—tak bisa menghalangi siapapun jatuh cinta
Barangkali begitu, sebab aku tlah dilenakan bingkai-bingkai, tetapi terlalu dini untuk mengatakan aku jatuh cinta pada kamu

Aku kambing betina, dan konon mudah jatuh cinta
Gampang percaya, termasuk pada bingkai-bingkai

Entah dari bingkai, aku ingin saja mejabarkan kamu seperti ini;

Kita barangkali dua mahkluk yang tenggelam dalam kopi
Bernapas dengan kenangan dan kesedihan yang berlarut-larut
Berenang mengarungi malam dengan kesepian atau kepala yang carutmarut
Kita acapkali tersesat pada rindu kepada entah siapa, dan puisi-puisi

Puisi dan kopi barangkali dua hal yang bagi kita belantara
Hutan yang menyimpan banyak hujan dan luka, dan kita tersesat dengan sukacita
Begitukah cara kita menamai kenangan yang selama ini membelenggu?
Ataukah kita sedang memainkan dramaturgi yang dituliskan oleh Tuhan sang Maha Agung, dan cuma Satu?

Kulihat bola matamu—lewat bingkai— yang redup seperti lampu tidurku 
Gelap, senyap, dan meneduhkan. Nama lain dari rahasiamu, bukan?
Banyak ‘atau’ dan ‘entah’ di sajak ini, karena kau ialah pertanyaan;
Seperti Pluto, Jupiter, Uranus, Saturnus, dan kau salahsatu yang tak pernah kujumpai di sini, atau di situ

Di bingkai selanjutnya, tibatiba aku menginginkan ini;
Menjadi kekasih Seno, yang iabawakan senja di saku bajunya
Dan aku ingin menjadikan kamu Kafka di rak bukuku
Dan lagi, mungkin berbulanmadu di Bandung seperti Arjuna dan Van Damme, Jesuit insyaf itu

Kau tahu? Ini gila, kan?
Ya, aku rasa berdebar berdentum-dentum dalam dadaku ketika menulis puisi ini
Apa ini puisi menurutmu?
Atau karya picisan cengeng?

Nah, aku ingin membagimu satu rahasia; yang tak lagi jadi rahasia;
Aku memiliki paranoid ketika luka nantinya membuatku seperti Nietzsche (aku tak tahu cara menyebutnya, tolong ajarkan via ciuman);
Dia mengatakan, tidak pada halhal romantika yang dominan melibatkan perasaan
Dan kalau kesimpulanku, luka membuat hati, yang hot chocolate itu mendingin seperti eskopi (dingin dan pahit)

Aku ingin mengutip karya Soe Hok Gie,
Kita berbeda dalam hal apa pun, kecuali cinta
Aku ingin menambahkan kata ‘buku dan’ sebelum kata kecuali
Bacalah buku Aan Mansyur, Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi; kau akan membayangkan bulanmadu di atas tumpukan bukubuku

Kau pasti merasa, atau berpikir, bait-bait di atas tidak laras
Tapi jangan khawatir, kamu sudah sampai di bait terakhir;
Suatuhari semoga kopi mendaratkan kita, dan kita akan berenang-renang, lalu tersesat, tapi berdua
Ke dalam kenangan, kesedihan, dan kesepian itu, kita lucuti bersama sampai tegukan terakhir

Sebab, pada sisa kopi di bibirmu, sisakan aku untuk mencicipinya.

———————————————————————————————————————————————————

Mungkin kamu tidak akan tahu puisi ini untuk siapa. Untuk kamu, atau untuk orang lain. Puisi ini memang untuk Pluto, Jupiter, Uranus, Saturnus, atau apa dan siapa pun yang tak pernah kujumpai sekali pun, termasuk kamu. Tetapi bila kamu mengerti, kemungkinan besar puisi ini memang untuk kamu. Ya sudah, semoga kopi mendaratkan kita kali lain, di hari lain, di bulan lain, di tahun lain, atau di tempat lain. Semoga luka masa lampauku, atau masa lampaumu tidak membuat kita seperti Nietzsche ( ajarkan aku membaca nama ini ); yang tidak percaya atau dingin kepada hal-hal romantika. Bacalah buku puisi atau berdoalah, untuk menyelamatkanmu dari kelogikan-kelogikaan yang diam-diam mematikan nalar mencintai sesama manusia.

Di akhir Surat Kepada Pluto, Jupiter, Uranus, Saturnus, Atau Kau, aku ingin menulis sepenggal lirik dari Echosmith, Bright :

“Did you and Jupiter conspire to get me?
I think you and the Moon, and Neptune got it right
Cause now I’m shining bright, so bright
And I get lost in your eyes”

fgfghghgh

—END—

Depok, 28 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s