Penyair Patah Hati Telah Mati

seorang penyair terbenam
di bibir puisi, ia tenggelam
kesedihannya lesap oleh pasir-pasir
di matanya, sungai berhenti punya air

sepasang mata waktu berubah matahari
kering koreng di dadanya jadi kerontang
ia lupai itu nama-nama kesedihan
ia bakar sajak-sajak yang bersembunyi di dada

segelas, dua gelas cangkir kopi tiap pagi
pahit ialah kawan yang setia selain sepi
janji kedatangannya tak akan ingkar
setelah manis-manis, pahit pasti tandang

satu, dua lagu sedih ia putar ulang di benak
dikenang-kenang lah lirik-lirik picisan
lalu ia membuat puisi-puisi patah, luka
seperti ranting remuk dihantam deru angin

setiap malam tandang ke rumah,
ia selalu berada di kamar, dalam ranjang
berpeluh ke dalam jurang masa lampau
ia setubuhi kenangan hingga lelap mimpi-mimpi

semalam, ia dikabari bahwa kenangan telah mati
barangkali sebabnya, karena terlalu tua
atau terlalu lelah menjajahi tubuhnya kepada penyair itu
yang nantinya akan dijadikan puisi-puisi menyedihkan

kenangan berpulang
penyair itu tak mampu ingat apa-apa
setiap malam hanya bersulang pada sepi
berdansa dengan sunyi

hari ini, penyair tercinta kita mati
ia terbenam pada kesedihannya sendiri
lebur bersama jingga di langit senja
menemui kenangan di surga…

bernostalgi,
dan kembali.

—END—

Depok, 29 Agustus 2015

Pulang ke Rumah Sajak

Mari sayangku, kita saling memapah kaki dan kata kita menuju rumah dari atap cinta dan berpintu puisi.
Mengepak pelukan-pelukan dan ciuman-ciuman kita ke dalam lemari kenangan.
Biarkan ingatan-ingatan bermain di halaman saat kita bercumbu di atas dipan aksara.
Nikmatilah bunyi derit, derik, dan desah yang hujan di telingamu sebagai lagu cinta.

Di dalam rumah sajak, kita sebagai yang tinggal, dan cinta tetap menjadi bunyi hujan dalam rumah;
bergema, bergemuruh, berirama penuh sukacita dan membuat basah sekujur tubuh.
Di dalam rumah sajak, kau tahu kita tak perlu lagi tungku api tuk menghangatkan dari gigil hujan,
cukupkan pelukan dan ciuman menjelma selimut atau api unggun ketika kaki-kaki kita kedinginan.

Kata-kata menjadi dinding,
luka, dan kesedihan biarlah menjadi lantai-lantai kayu,
kita lupakan tanah, dan melayang di atas ranjang puisi.
Membagi duka, dan suka, cita, dan cinta.

Rebahkan sisa perjalananmu di kursi teras,
aku akan menyeduhkan kopi bagi kita berdua,
tetapi kali ini kita tak tenggelam dalam lautan sendu.
Kita akan mengingat, perjalanan dan masa lampau ialah bagian dari yang maha hidup.

Lepas sepatumu.
Sebab kaki yang berjalan begitu jauh, kini tak butuh alas untuk kembali.
Lipat peta, dan layangkan ke udara.
Sisa perjalanan biarlah dilumat angkasa, sebab ia hanya perlu tinggal sebagai angan-angan kenangan.

Di sini, kata dan kita kembali di rumah sajak.
Melepas sandal dan sepatu, sebab kembali tidak perlu alaskaki.
Ingatan-ingatan bermain di halaman, sedang kita menangis, haru, dan tertawa.
Kita, telah pulang ke rumah sajak.

Depok, 20 Agustus 2015

Ibu Pulang

kaki-kaki waktu berjinjit-jinjit
menanti ibu sajak dari pasar malam
tangan ibu akan penuh gulali dan kain rajut
ia akan datang dengan dongeng dan makan malam

sebelum pergi ke pasar malam itu, ibu berjanji takkan terpikat lampu neon
atau lampu-lampu kendaraan berderum-derum
ibu juga berjanji takkan terpana ketika melihat bianglala bercat merah marun
dia akan setia kepada kami, waktu yang menunggu hampir terpejam

pada jendela, kulihat ibu perlahan-lahan datang
dibawanya kopi pahit dan gula-gula pemanis
ia lupa pada gulali dan kain rajut
yang ia ingat hanya lampu neon dan gemerlapnya bianglala

ketika sampai di muka pintu, ia tidak menyapa kami,
ia begitu muram mirip seperti bulan berwajah pucat pasi
katanya, ia habis ditipu penjual kain rajut dan gulali
“tak ada kehangatan dan manis-manis, sayangku,” katanya kepada kami

malam ini, ibu sajak pulang dari pasar malam itu
ia menyeduh kopi pahit dengan gula satu sendok teh saja
bunyinya berdenting-denting di telinga waktu
hening, dan hanya ada ibu sajak yang luka

Depok, 20 Agustus 2015

Marsinah, Aku Merdeka Tanpa Kebebasan

Garut, Agustus 1979

Kumandang kata-kata merdeka ada di mana-mana setiap bulan Agustus bertandang ke negeriku yang katanya sudah merdeka 29 tahun yang lalu.  Bendera merah putih berkibar di halaman rumah A’ Anwar Sadikin, abangku beda bapak, beda ibu. Kupandangi kain merah-putih yang tertiup angin sore. Begitu menggetarkan, begitu haru aku memandangnya sebagai kemegahan yang sangat, sangat. Bulu tengkukku merinding, bagaimanapun negeri pernah membuat luka di batin dan tubuhku, tetapi aku masih terpesona pada keluguan ibu muda bernama Pertiwi ini. Lantas, bibirku tersenyum beku ketika berdiri memandangi bendera Indonesia, bendera yang dipuja semua orang di negeri ini. Betapapun aku pernah dihinakan, dikoyakkan sanubarinya, bahkan tubuh ini, aku tidak mengapa. Aku tidak sekalipun menyimpan dendam terhadap negeri ini meskipun pemimpin negara saat ini lah yang selalu terbakar dalam tungku api di dadaku. Sekarang boleh saja cecunguk itu tersenyum lebar dengan tongkat dan singgasana seorang pemimpin, pemangku segala kuasa negeri ini. Menjabat sebagai orang nomor satu di tanah airku yang tak memiliki dosa apa-apa yang pernah beleleran darah dan air mata.

Tiba-tiba saja pikiranku melayang-layang ke tahun-tahun lalu sebelum aku diasingkan ke pulau antah-berantah, dibiarkan kelaparan dan mati busuk. Untunglah, tuhan belum mau memutuskan urat nadi di leherku. Dalam catatan tuhan, aku bukan mati di tahun-tahun keparat itu. Ia pasti takkan membiarkanku mati oleh tangan-tangan mahapencabut nyawa manusia. Manusia-manusia yang berlagak tuhan, seolah-olah ia sudah ada deal dengan malaikat pencabut nyawa untuk sedikit meringankan beban kerja malaikat Izroil . Ia masih sedia memberikanku napas meski terengah-engah, lalu dengan maha baik tuhan pun memberikan sesuatu yang amat sangat berharga kepadaku. Kebebasan. Aku menghirup udara yang mahaluas lagi setelah bertahun-tahun didekam dalam pulau buangan itu. Ya, aku bebas dua tahun lalu. Tahun 1977 aku bebas bersama kawan-kawanku yang masih memiliki nyawa dalam tubuhnya. Tetapi kebebasan itu tak lantas membuatku lupa diri. Aku harus eling, siapa diriku, dan mengapa sampai aku dibuang sehina-hinanya di pulau buru? Dan karena siapa atau karena apa aku bisa bebas menarik napas yang sepanjang-panjangnya lagi? Rasanya tak terjabarkan. Seperti hidup kembali. Dilahirkan kembali. Tetapi tidak sepenuhnya rasa itu ada. Gelimang dan bayang-bayang dosa masih meraja di benakku. Ketakutan itu pun kerap menyambangiku di hari-hari berikutnya. Takut apabila pemerintah berubah pikiran dan lantas ingin melenyapi orang-orang seperti aku. Toh, setelah hari pembebasan itu, aku masih harus wajib melapor dan memegang KTP bertanda E.T yang membuatku harus terkungkung di penjara kecil bernama rumah. Tapi tidak apa-apa, aku masih bisa makan enak, tidur enak, kencing, enak, ngopi pun sekarang bisa dan dilayani oleh istri abangku. Ia perempuan baik seperti Marsinah. Perempuan yang membayang-bayangi aku dari tahun ke tahun berikutnya. Yang membuat harapanku runtuh ketika huru-hara itu. Kadang, aku ingin mati saja, tapi kadang aku harus bertahan hidup demi menebus janjiku dulu kepadanya. Tapi sekarang aku tersadar, janji itu harus menguap bersama tanda E.T di KTP-ku. Aku takkan bisa membahagiakannya. Takkan bisa. Aku tak mungkin membiarkannya terus melayani aku tetapi aku tidak mampu memberi nafkah kepadanya karena tanda kecil berwarna merah di kartu tanda penduduk milikku.

Marsinah, hari ini Indonesia sedang merayakan kemerdekaan, tetapi kemerdekaan itu bukan milikku. Mar, apa kamu masih mengingat janjiku dulu kepadamu? Hanya kamu satu-satunya perempuan yang ingin kujadikan sebagai tiang hidupku. Satu-satunya perempuan yang akan tidur bersamaku sambil memanen pahala di atas ranjang. Kamu satu-satunya perempuan yang ingin kupanggil dengan sebutan Ibu, yang nanti akan ditiru oleh anak-anak kita nanti. Bayanganmu selalu muncul ketika aku ditangkap segerombol orang, ketika aku mendekam di penjara, ketika aku diturunkan seperti sapi ternak di suatu pulau tak berpenghuni, dan ketika aku menatap nanar biru langit di pulau yang lain. Di kota yang lain. Kedua mataku meneteskan air mata, untuk kali pertamanya, menginjak bayangan kebebasan. Aku tidak menangis sedikitpun ketika ditangkap dan merasakan harapan hidupku menipis, ketika digerombol ke dalam truk dan diturunkan secara tidak pantas, seperti memperlakukan hewan saja untuk menginjak tanah pengasingan itu. Tetapi bayang-bayang kebebasan itu membuatku menangis. Aku mengingatmu, Mar. Saat itu aku sadar, aku akan benar-benar melepasmu, dan melupakan keinginan-keinginanku untuk hidup bersamamu. Keinginan kita. Janji-janjiku yang sangat ingin kutepati. Namun nanti kamu akan tahu, aku tidak akan mampu melakukannya.

Mar, kini aku sedang bersenandika, sambil menatap bendera yang melambai-lambai tetapi masih menyimpan kegagahan, dan kepolosan bumi kita Pertiwi. Apa kabar Madiun? Kamu masih tinggal di sana, ataukah menetap di kota lain? Apa kamu ada di Garut sepertiku juga, Mar? Sungguh, setelah hari pembebasan itu aku tak berani lagi menginjakkan kaki di kampung kecilku. Aku tak berani lagi menatap tetangga-tetangga yang bersekongkol untuk menyerbuku di rumah. Aku tak siap memandang wajah-wajah itu lagi. Aku takut memandang wajahmu, Mar. Aku takut mendengar tanggapanmu mengenai aku. Pemuda bebal yang keras kepala menjadi pemberontak pemerintahan dan kolonialisme. Pemuda yang, barangkali ada di pikiranmu, tidak bertuhan. Apa hal semacam itu mengendapi kepalamu, Mar? Sungguh, aku ingin kamu percaya, aku masih mempercayai adanya Tuhan. Tetapi bila kamu bersikeras tidak percaya, aku tidak akan memaksamu. Kamu tahu, lantunan ayat-ayat sucimu itu seringkali menjadi mimpi indahku. Aku suka terbangun dan menyebutkan namamu saja. Aku sering bermimpi kita menikah dan memiliki sepasang anak kembar yang manis sepertimu, dan gagah sepertiku. Belakangan ini, aku mulai rajin sembahyang, seperti perintahmu dulu kepadaku. Perintah yang selalu aku sepelekan, dan kuabaikan. Tetapi, aku ingin sekali kamu tahu, bahwa setiap aku berdoa, aku teringat kamu. Marsinah, apa kamu masih menungguku melunasi janji itu? Di lain sisi aku berharap, kamu masih sendiri, dalam kamarmu, masih rajin sembahyang dan berdoa tentang keselamatanku sebab kamu sangat khawatir kepadaku. Itukah yang menyebabkanku masih bisa bernapas hingga sekarang? Kamu tahu, selamat dari tragedi cacat kemanusiaan besar-besaran itu ialah mukjizat bagiku. Apakah itu karena doa-doamu? Sesungguhnya, aku sangat ingin kamu tahu bahwa aku masih hidup, dan masih segar-bugar di kota kecil ini. Aku ingin kamu tidak mengenangku atau menangisi kematianku yang kamu sangka-sangkakan itu. Aku masih hidup, Mar. Seandainya kamu tahu.

Marsinah, apa kamu sudah menikah dan memiliki sepasang anak kembar yang akan kitanamai Sekar, dan Karno, seperti ocehan-ocehan kita di masa lalu itu. Apa kamu sudah mewujudkan mimpi kita bersama orang lain? Sebenarnya itulah momok bagi hidupku selama mendekam di pulau dan pindah ke kota ini. Aku ingin pulang, bertemu denganmu dan mengajakmu menikah. Melunasi janji dan memenuhi mimpi kita yang sederhana. Tetapi nyaliku akan selalu ciut ketika mendengar nama kota kelahiranku itu yang kini berubah mengerikan di mataku. Bahkan, aku tak berani lagi menginjak daerah-daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Itulah yang mengantarkanku ke sebuah kota kecil di Jawa Barat ini. Di sini efek-efek pemberontakan tidak terlalu kentara. Untungnya, aku masih ingat bila pamanku tinggal di kota nyunda ini, dan dengan tekad bulat-bulat ingin melupakanmu dan kota kecilku, aku berangkat mantap untuk tinggal di Garut. Kini aku masih bergelandang di rumah orang, Marsinah. Aku membantu abangku menjaga toko sembako kecil-kecilan sebagai imbalan atas kebaikan abangku meski itu takkan pernah cukup. Marsinah, pertanyaanku itu betul-betul, apa kamu sudah menikah? Pertanyaanku memang betul-betul, tetapi aku belum punya cukup nyali untuk mencari jawabannya. Aku masih tak berani menengok sedikit kotaku itu. Aku benar-benar hilang nyali.

Seandainya kamu tahu, Mar. Aku masih hidup. Aku masih menyimpan janji-janji kita sehingga tiada seorang perempuanpun yang ingin kunikahi selain kamu. Aku masih membayang-bayang mimpi kita yang sederhana. Hidup berdua di kota Solo, kamu ingin sekali lepas dari kedua orangtuamu yang katamu kolot itu. Kita akan benar-benar membangun rumah tangga berdua, dan memiliki sepasang anak kembar. Pokoknya harus kembar, walaupun di antara kita tidak memiliki gen kembar sekalipun. Kamu keras kepala, tetapi lembut hatinya. Cocok sekali menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Anak-anak kita. Sekar dan Karno, namanya bukan?
Marsinah, seandainya kamu tahu, aku masih menyimpan doa-doaku untukmu. Semoga kamu masih menyimpan aku dalam benakmu. Semoga kamu tidak pernah melupakan janji semata wayangku kepadamu dulu. Dan, semoga kamu masih mengingat aku sebagai pemberontak yang masih mencintaimu.

Aku masih berdiri memandangi bendera merah-putih yang diam, tidak lagi dikibari angin. Ia terkulai anggun di hadapan cakrawala senja. Aku menangis, haru.

*ET : eks tapol (tahanan politik)

—END—
Depok, 15 Agustus 2015

PS : Cerpen ini khusus dipersembahkan untuk Dio Tata Iskandar sebagai kado ulangtahun ke-20 pada tanggal 11 Agustus lalu. Dia memintaku menulis cerita yang didasari lagu ‘Hitamku’ Andra & The Backbone. Selamat ulangtahun ke-20!

Hitamku – Andra ATB

Masih adakah separuh hatiku
yang ku berikan hanya untukmu
ku harap engkau masih menyimpannya
jangan kau pernah melupakannya

maafkan kata yang tlah terucap
akan kuhapus jika ku mampu
andai ku dapat meyakinkanmu
ku hapus hitamku

masih adakah separuh janjiku
yang kubisikkan hanya padamu
ku harap engkau masih mengingatnya
jangan kau pernah melupakannya

andai ku dapat memutar waktu
semuanya takkan terjadi

maafkan kata yang tlah terucap
akan kuhapus jika ku mampu
andai ku dapat meyakinkanmu
ku hapus hitamku untukmu
simpan separuh hatiku
ku hapus hitamku untukmu
simpan separuh janjiku
ku hapus hitamku untukmu
simpan separuh hatiku

simpan separuh janjiku
simpan separuh hatiku
simpan separuh janjiku

Surat-surat Tengah Malam

Hallo, Arkanta.
Apa kabar? Hehe, basa-basi sekali ya? Padahal, kamu ingat, atau barangkali lupa kalau aku tidak suka berbasa-basi. Tapi, ini sungguhan, Arkanta. Aku sungguh-sungguh ingin tahu kabarmu.
Kamu mungkin akan menerima surel ini besok pagi, ditemani secangkir kopi di meja kerja dalam kamarmu. Aku sudah membayangkan raut mukamu nanti saat pagi setelah membuat kopi dengan asap yang mengepul di atasnya, lalu kamu akan menyalakan komputermu sambil tangan kiri memegang cangkir dan tangan kanan mengoperasikan mouse. Sepasang alis matamu yang tipis dan memanjang itu akan saling bertemu, dan dahimu akan berkerut. Hahahaha (aku betul-betul tertawa ketika menulis ini). Kamu tidak pernah tahu kalau aku selalu terhibur dengan raut wajahmu yang begitu ekspresif, apalagi kalau aku membayangkan wajahmu ketika kamu terkejut karena suatu hal yang aku atau orang lain ucapkan. Sungguh, lucu sekali!

Arkanta, kalau di benakmu timbul pertanyaan setelah membaca surel ini, aku akan menjawabnya sekarang. Aku baik-baik saja, dan pernikahanku pun demikian. Justru, kamu yang aku khawatirkan. Kamu betulan baik-baik saja? Ke mana saja kamu? Kenapa kamu tidak datang ke pesta pernikahanku tiga bulan lalu? Sungguh, aku merasa sudah lama betul tidak menghubungimu. Kamu benar-benar misterius, dan sekaligus menyebalkan. Apa coba maksudnya menghilang setelah kejadian di apartemenmu itu? Dan, kenapa kamu tidak menghadiri pernikahanku? Apa kamu tidak penasaran dengan Mas Ocan? Laki-laki dari masa kecilku yang dulu aku ceritakan kepadamu, kamu pasti masih ingat, kan? Kamu pasti berpikir, pertanyaanku kok banyak banget. Hei, aku pernah menjadi wartawan selama bertahun-tahun! Dan semoga saja kamu masih ingat lalu kemudian merasa maklum, hehe. Aku serius tentang pertanyaan-pertanyaanku, jadi sila jawab lewat email balasan nanti. Ya, nanti. Aku belum mau mengakhiri surel ini, aku ingin bercerita tentang hubungan rumah tanggaku dengan Mas Ocan. Tenang, Kanta, tenang…aku tidak akan menceritakan bagaimana permainan kami di ranjang dan membuatmu panas dingin ketika membacanya, hahaha. Makanya, cepatlah menikah. Mendekam luka itu tidak baik, Kanta. Kamu berhak bahagia. Kamu butuh ciuman-ciuman dan pelukan panjang seorang kekasih agar kesepian tidak begitu menggerogotimu.

Begini, Kanta…
Kamu tahukan, sudah berapa lama aku tidak menulis dan bekerja sebagai wartawan. Setelah menjadi istri sah Mas Ocan, aku hanya serupa perempuan-perempuan kebanyakan. Mendekam di rumah, membenahi ruang-ruang berebu, mencuci pakaian, menyetrika, memasak untuk suami dan diriku sendiri, dan menunggu suamiku pulang sambil terkantuk-kantuk. Awalnya, memang terasa manis, dan amat sangat bahagia. Aku tidak perlu berlari-larian mengejar narasumber, aku tidak perlu menulis dan menyetor tulisan ke editorku yang galaknya setengah mati, aku tidak perlu meninggalkan rumah berhari-hari karena harus meliput ke luar kota. Awalnya menyenangkan, sungguh! Segalanya sesuai ekspektasiku. Ketika pagi aku membangunkan Mas Ocan, membuatkan kopi untuknya di meja dapur dan setelahnya sedikit yah…you know lah
Tetapi, Kanta. Aku jenuh. Aku mulai merindukan rutinitasku sebagai wartawan. Rapat redaksi, meliput ke lapangan, ke luar kota, ke berbagai daerah untuk mencicipi kuliner khas, menonton teater untuk review, menonton upacara adat, menulis, dan diamuk-amuk editor karena bahan beritanya kurang lah, strukturnya belum benar, berantakan, disuruh meliput ulang lah. Ya Tuhan, aku merindukan keruwetan itu. Hal semacam itulah yang membuat hidup terasa hidup. Terakhir, aku ingin menyampaikan sesuatu. Katakanlah aku ini tak tahu diri, atau lacur, atau apalah…tetapi aku merindukanmu, Kanta.

Jujur saja, lewat surel ini aku mengeluhkan segala hal tentangku. Aku rindu bercerita banyak hal padamu. Mungkin kamu pikir, apakah aku tidak bisa bercerita dan mengungkapkan unek-unek yang mengendap di kepalaku itu kepada Mas Ocan? Tentu saja bisa. Tetapi dia bukan teman berdiskusi yang cocok denganku, sepertimu. Ada hal lain yang kuinginkan di atas ranjang. Bukan hanya tubuh telanjang, dan pergulatan jasmani untuk menghasilkan bayi-bayi lucu, tetapi lebih sakral daripada itu. Daripada seks. Aku menginginkan adanya percakapan di atas ranjang. Entah, membicarakan apa saja yang terjadi di keseharian kita, di lingkungan sekitar kita, dan di negeri kita, kemudian disusul dengan perdebatan-perdebatan sengit antara kita berdua, lalu diakhiri dengan tawa terbahak-bahak sampai akhirnya berbisik, “Aku ngantuk, Mas…” atau “Wah, sudah pukul tiga, kita harus tidur..” semacam itulah. Tetapi aku tidak mendapatkannya bersama Mas Ocan, sehingga unek-unek ini sudah menumpuk di seluruh tubuhku, tubuhku jadi seperti tumpukan surat berisi keluhan-keluhan. Entahlah, dia selalu tertidur pulas sambil mendengkur sebelum tengah malam, bahkan sebelum aku atau dia memulai debat kusir. Nah, saat ini dia sedang tidur, makanya aku menuliskan surel kepadamu, yang akan kamu baca esok pagi.

Kanta, aku harap kamu baik-baik saja dan ketika kamu membaca ini, kamu dalam kondisi yang segar bugar. Aku tidak pernah ingin mendengar kabarmu sedang sakit, atau bagaimana, itu membuatku khawatir dan gelisah tidak dapat berbuat banyak, bahkan kalau kamu sakit, aku belum tentu bisa mejengukmu.

Kanta, surel ini barangkali akan kulanjutkan di lain tengah malam. Kamu tahu? Dengan menulis surat seperti ini kepadamu, aku merasa jenuhku menguap. Kamu bagai obat yang meredakan kecemasan-kecemasanku. Aku tidak perlu mabuk, aku hanya perlu kamu untuk melupakan segala kurumitan yang baru kuhadapi. Kamu pernah dengar lagu dari Rita Ora, yang berjudul Poison? I pick my poison and it’s you. Itu sepenggal liriknya. Aku sering mendengarkannya di radio-radio gaul Jakarta, lalu mengingatmu.

Kanta,  di akhir surel ini, aku sangat berharap kamu tahu bila aku akan sangat bahagia dan merasa sembuh jika kamu mau membalas surelku ini. Di baris terakhir ini, kamu harus tahu, aku sudah mengantuk dan legaaaaa. Terima kasih sebelumnya, Kan.

Salam, Deliana.

Jakarta, 15 Agustus 2015

PS : Baca juga : Kisah Pengantin Perempuan:

|
||

|||

PS II : Surat-surat ini akan dilanjutkan.

Sepasang Mata yang Menyala

Matahari dan kokokan ayam jago selalu terlambat membangunkan kesadaran saya. Sepasang mata saya yang sudah renta tak pernah lagi mengerjap-ngerjap dan seketika terbuka untuk menatap dan menyapa pagi yang seolah mengejek-ejek saya yang selalu termenung di beranda, dengan kepulan asap rokok murah yang banyak dijual di warung-warung. Kadir, cucu bungsu saya kerap kali membantu saya jajan rokok di warung dengan imbalan uang dua ribu rupiah. Tanpa rokok, hidup saya adalah bayang-bayang hitam penuh lumuran dosa dan darah yang selalu hinggap di dasar nurani saya. Kadang, kepulan asap putih dari lintingan tembakau itu mampu mengaburkan dosa-dosa saya, sejenak. Setelah habis lintingan-lintingan itu, tibalah saya termenung dengan kesadaran sepenuh-penuhnya sebagai manusia yang berdosa dan ciut pada taring-taring malam yang seolah mencabik-cabik dosa-dosa saya di masa lampau.

Orang-orang mengetahui saya sebagai si pemberani. Salah satu pahlawan penumpasan organisasi merah secara besar-besaran. Pembela kaum beragama dengan menumpas orang-orang yang tak beragama. Pembangun revolusi besar-besaran. Di mata mereka, saya orang besar. Sejarah harus mencatat saya sebagai salah satu algojo yang ikut membantai ratusan orang dalam satu hari, tentu berdampingan dengan nama kawan-kawan saya yang lain. Sumitro, bagi keluarga adalah nama yang membopong mereka naik ke tangga-tangga sosial. Siapa yang tak kenal saya dan keluarga saya setelah revolusi itu di desa kami? Sumitro, sang mantan algojo yang ikut menebas kepala-kepala orang kafir. Orang yang dengan congkaknya tidak percaya kepada Tuhan. Ya, itulah yang dikatakan sekumpulan orang-orang itu kepada saya dan kawan-kawan saya. Enak betul mereka, mengambil padi orang, tidak berusaha bahkan tidak berdoa karena kepongahan mereka yang tidak mau menyembah Si Maha Pencipta Segalanya, lalu mendapat tanah berhektar-hektar, cih! Itulah yang menyulut emosi saya dan massa agamis yang ikut membara dendamnya. Sekeping informasi yang kami bawa untuk menghabisi nyawa manusia dengan cara apapun.

Nah, itulah saya ceritakan di sini tentang dosa-dosa saya. Banyak hal dan cara-cara membunuh paling keji yang saya terapkan untuk menghabisi ratusan nyawa itu dan tak akan saya jabarkan di sini. Cukuplah satu kata, membunuh. Ya, saya adalah pembunuh. Saya mengakuinya di hadapan sekalian semua dengan rasa bangga yang dari dulu hinggap di dada saya, dan kini kebanggaan itu semakin terkikis oleh cabikan-cabikan waktu. Usia saya sudah memasuki kepala sembilan. Umur saya barangkali masih beberapa tahun ke depan, harapan saya sih, begitu. Apa lagi yang bisa saya harapkan dari usia yang kian renta dan menanggung beban dosa sedemikian banyak jumlahnya selain datangnya kematian yang hakiki? Kawan-kawan saya, bahkan kepala revolusi itu telah menemui maut dengan beragam cara yang berbeda-beda.

Saya ingat betul bagaimana Gumindho, sahabat dekat saya mati bertahun-tahun lalu. Di usianya yang sudah setua itu, ia menemui maut dengan cara yang paling menakutkan bagi saya. Saat itu ba’da dzuhur, orang-orang telah menuntaskan ibadah sholat di masjid terdekat yang jaraknya lumayan jauh. Gumindho selalu berangkat ibadah mengendarakan kendaraan roda dua pemberian mantu kesayangannya itu boncengan dengan saya. Kebetulan saat itu saya sedang tidak enak badan, dan memutuskan untuh beribadah di rumah. Biar sajalah, pikir saya, Alloh Ta’ala pasti tahu kalau hambanya ini sedang tidak mampu menuju rumahNya karena penyakit yang Ia berikan pula. Mujur mungkin bagi saya, atau malah sebaliknya, karena Gumindho pulang dengan keadaan yang amat tragis. Tubuhnya yang sudah kurus kering, dengan kulit yang kian menipis, ia harus menghadapi kematian yang amat tidak ramah kepadanya. Tubuh Gumindho pulang dengan keadaan koyak terlindas truk kuning pengangkut pasir antar daerah. Tak ada yang mampu mengenali bila itu tubuh dari kawan lama saya, Gumindho. Tetapi mata seekor elang seperti milik Gumindho itu tak mampu disangkal. Hampir seluruh badan Gumindho koyak dan hancur, kecuali sepasang matanya yang terbuka. Seolah-olah ratusan jiwa yang pernah dilenyapkan secara tak hormat oleh Gumindho itu menuntaskan pembalasannya.

Lintingan tembakau itu saya sulut lagi hingga kelepas-kelepus asap dari bibir saya mampu mengelabui saya dari rasa bersalah. Sepanjang hari saya selalu menghabiskan lima bungkus rokok. Habis-ambil-bakar-klepas-klepus-habis-ambil-bakar, begitu seterusnya sampai malam menjelang. Bila datang waktunya makan, ya saya makan saja sedikit. Entah, bertahun-tahun tinggal sebagai jiwa pembunuh ratusan nyawa, saya pernah menyaksikan darah keluar dari organ-organ tubuh manusia yang sebenarnya tak ingin mati dengan cara paling tak wajar seperti itu, saya tidak mampu menelan nasi atau ayam atau tempe orek atau sambal goreng atau lalapan sebagai bentuk-bentuk dasar mereka, saya selalu membayangkan organ-organ dalam manusia dengan warna merah darah, dan untuk menetralkan hal itu saya selalu merokok setelah makan dan berlanjut hingga saya menjelang tidur.

Lampu dipadamkan. Gelap mengisi ruang kamar saya. Senyap. Sesungguhnya saya tak menginginkan malam datang, atau lebih tepatnya saya tidak mau tidur dan kantuk menyerang tubuh saya. Secangkir kopi barangkali bagi kalian mampu mengusir rasa kantuk yang terkutuk itu, tetapi apa daya, kepekatan kopi selalu mengingatkan saya kepada segelas cairan merah kental yang harus saya minum ketika menjadi algojo. Bau dan rasa amis yang menyengat dari cairan merah itu membuat saya tak mampu menikmati kopi sebagaimana laiknya, bahkan teh dan beragam minuman berwarna lainnya. Maka saya selalu pasrah kepada kantuk yang terkutuk itu. Terlelap dan membiarkan mimpi mengoyak-ngoyak saya seperti pengecut yang ditelanjangi dan dipermalukan sebagai tontonan. Bertahun-tahun hidup tanpa menginginkan malam. Bertahun-tahun hidup diteror alam bawah sadar sendiri. Bertahun-tahun hidup sebagai pengecut di alam mimpi. Dan, bertahun-tahun hidup sebagai penyandang mantan pembunuh yang menginginkan kematian. Lucu, atau bahkan miris saya katakan, dulu saya yang dengan mudah mematikan nyawa-nyawa manusia itu dengan sekali tarikan atau sekali tebas, tetapi entah mengapa saya malah sulit menciptakan maut untuk saya sendiri.

Sepasang mata itu menyala terang berwarna merah, saya tidak mampu untuk memalingkan wajah dan tak melihat ke arah matanya yang membius jiwa saya dengan ketakutan-ketakutan yang amat sangat, sangat, sangat. Pemilik sepasang mata itu mendekat, mendekat, dan semakin mendekat. Tubuh saya gemetar, menggigil! Gigi bergemeletuk, dan saya benar-benar ketakutan. Ia, si pemilik mata merah itu bukan hanya berpakaian hitam seperti malaikat maut, tetapi…sebilah samurai. Pedang panjang. Dan dia…mendekat, mendekat, astaghfirullah… samurai itu menempel di permukaan kulit leher saya…dingin dan mematikan sekujur syaraf saya untuk merasakan…kali itu saya membungkuk, seperti sepasang mata itu menuntun saya untuk disembelih laiknya kambing kurus yang tak ada daya. Kemudian ia tersenyum, bibir itu menyungging penuh kemenangan, matanya masih merah membara, kulitnya pucat pasi, kemudian dengan kecepatan yang pasti ia mengangkat samurainya itu dan hendak menebas leher sa….

“SAMSUUUULLLLL, maafkan saya. Ampun! Ampun…Samsul, maafkan saya…Ampun…Ampun…” saya menangis sejadi-jadinya sambil menyebut nama salah satu korban yang tak ingin lagi saya ingat bagaimana ia menemui ajal lewat tangan besi saya ketika itu. Bantal dan kasur sudah basah oleh keringat dan airmata ketakutan. Kemudian saya membuka mata. Lampu masih padam, gelap, dan senyap. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain saya yang sedang meringis ketakutan. Jam dinding itu masih berderik melantunkan gerak-gerik detik seolah menertawakan kepecundangan saya yang tersembunyi selama belasan tahun ke belakang. Paranoid dan mimpi buruk saya diperparah dengan kematian Gumindho dan sepasang matanya yang terbelalak itu. Masih pukul tiga, bisik saya setelah mengusap air mata yang berurai di pipi, memperjelas kekerdilan saya.

Saya bangkit dengan sisa keberanian dan langkah tergopoh-gopoh menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Usapan air wudhu mampu mendinginkan hati dan membasuh lembut sanubari saya dengan ketenangan yang tak terkira. Sekembalinya ke dalam kamar, saya menyalakan lampu. Terang-benderang cahaya itu memenuhi indera pengelihatan saya yang sudah mulai melamur. Saya gelar sajadah kuning keemasan itu dan kembali mematikan lampu. Gelap. Senyap. Tidak ada lagi sepasang mata merah milik Samsul yang terbeliak waktu kali terakhir saya menghabisinya. Tidak ada lagi darah bergelimpangan di dalam bayang-bayang saya. Sembahyang kepada Si Maha Kuasa, Si Empunya Segala Yang Segala Ada Di Dunia, termasuk ratusan nyawa yang mati atas kehendakNya, dan juga saya yang masih menunggu kematian dari tanganNya, dikhusyukan. Kepala dan hati saya ditujukan hanya kepada Sang Khalik. Saya hanya berdiri, membungkuk, dan bersujud sebagai kesadaran seorang manusia yang kerdil, berlumuran dosa, dan beragam macam kesalahan yang pernah saya lakukan di BumiNya. Tersedu-sedu saya menangis seperti bayi yang ketakutan akan manusia-manusia bertubuh lebih besar, memohonan ampunan atas dosa-dosa yang selama ini menghantui saya. Tertunduk saya, tersadar bahwa saya hanya manusia yang tak bisa menciptakan apa-apa tanpa kehendakNya. Saya gulung dan bakar seperti lintingan tembakau segala kesombongan yang saya punya. Tersungkur bagai setitik kecil dari berjuta-juta partikel lainnya, tersadar bahwa selama ini saya hanya manusia peminta-minta, yang masih merengek kepada Tuhan, atau bahkan merajuk seperti bocah yang meminta mainan kepada induk semangnya. Dalam doa malam yang panjang itu, saya hanya menginginkan kematian yang hakiki. Tenang di atas kasur dengan tubuh celentang, dan yang terpenting adalah dengan mata yang tertutup, menandakan saya telah menemui maut dengan jalan yang damai. Ya, amat damai…

Sehabis menunaikan sembahyang malam, saya kembali ke tempat tidur yang masih basah oleh keringat dan air mata. Biasanya, saya akan terjaga hingga matahari membumbung tinggi, menempatkan diri di singgasana tertinggi sealam jagat. Tetapi rasa kantuk yang luar biasa mematahkan ketakutan saya untuk kembali terpejam. Kemudian gelap. Senyap. Dan saya enggan terbangun lagi.

—END—

Depok, 14 Agustus 2015

 

PS : Cerpen ini didasari riset dari film JAGAL (The Act Of Killing by Joshua) & SENYAP.

Ini Bukan Puisi Bukan…

Ini bukan puisi, sayang. Tetapi bila kau lebih lihai membaca buku, maka rupa-rupa di dalam dada saya adalah buku puisi yang paling kausukai. Ambil gitarmu, dan bernyanyilah tentang tubuhku. Kubiarkan dirimu menjelma kepala nahkoda kapal. Buang petamu, kau tak butuh itu untuk menaklukan samuderamu, tertanda aku.

Ini bukan kopi, sayang. Tetapi bila kau lebih menyukai kopi tanpa gula, maka rupa-rupa luka di tubuhku barangkali mampu membuatmu lupa terlelap. Seduh kopimu, dan biarkan aku melayang-layang di udara sebagai kepulan asap yang menari. Temui aku di setiap pagimu, baik yang baik maupun buruk. Bawa aku ke dalam kamarmu. Rebahkanku di sisimu, di samping kiri ranjangmu. Kecup aku sekali lagi. Teguk sampai kau merasa bahwa hari ini akan berjalan semestinya. Seolah lelahmu mati pada ciumanmu yang kali pertama kepadaku. Kutuklah dunia di sekitarmu sambil perlahan menikmati aku yang masih tenggelam di dasar cangkir kopi pagimu.

Ini bukan jendela, sayang. Tetapi bila kau lebih menyukai jendela yang luas di lantai paling atas, maka jadikan aku sebagai tempat kau melihat seluruh dunia. Menjelajahi kota masa kecilmu. Menjerajahi petualangan. Kau akan melihat gunung menjulang tinggi, sungai yang mengalir sejernih airmata bayi, dan hutan belantara yang membuat kita tersesat. Kau juga akan menemukan hangat pelukan ibumu, atau ayahmu, atau kekasih masa lalu yang kau rindukan. Di sini, padaku, kau akan melihat matahari datang dan pergi. Kau akan menyaksikan bagaimana komposisi waktu menciptakan dan melenyapkan senja kesukaanmu. Ingat-ingat…kisah siapa yang ikut dilenyapi?

Ini bukan rumah, sayang. Tetapi bila kau merindukan kampung halamanmu, datanglah kemari. Lepas penat, dan topeng yang kaukenakan seumur hidupmu. Di sini, padaku kau bisa telanjang bulat untuk benar-benar dicintai. Lupakanlah kopi yang melukai rinai lembut air di matamu. Pura-pura tenggelam dalam pahit, mematikan nalarmu untuk merasa manis, sayangku. Di sini, padaku kau tak perlu puisi, kopi, atau sebuah jendela untuk melihat dunia. Kau hanya perlu lihat ke dalam ke dalam mataku. Dan segala yang kau cari berada di sana..

Segalanya.

—END—

Depok, 11 Agustus 2015