Menceritakan Buku Crossroads

Sebenarnya isi postingan ini tidak akan menceritakan isi buku Crossroads seperti yang tertera di judul ini. Tetapi tenang, judul ini bukan modus penipuan publik kok. Saya hanya ingin menceritakan proses pembuata buku saya, novel berjudul Crossroads yang arti dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Persimpangan. Ya, alhamdulillah, puji syukur, karena saya telah menyelesaikan sebuah novel meskipun diterbitkan secara indie atau selfpublishing, bukan lewat penerbitan mayor yang nampang di toko-toko buku. Buku saya hanya dijual online di nulisbuku.com . Sebuah media antara saya dan buku saya.

Beberapa bulan lalu, sekitar bulan Februari, Crossroads kali pertama dijual online di situs nulisbuku.com , setelah itu banyak kata-kata ucapan selamat, atau sebagainya. Saya ingat, ada yang meminta saya menceritakan proses pembuatan buku Crossroads, tetapi saya tidak ingat siapa orangnya. Lalu Crossroads juga sempat ditarik oleh saya karena harus mengalami proses revisi oleh saya sendiri. Maka setelah tahap revisi yang agak memakan waktu beberapa bulan, kemarin, awal Agustus, buku saya muncul lagi di situs online tersebut. Linknya akan saya tera di bawah postingan ini saja ya. Dan, ya, postingan ini hanya untuk menunaikan janji saya kepada orang yang meminta cerita proses di balik buku Crossroads.


Baiklah, saya mulai dari membeberkan secara garis besar mengenai buku ini. Buku ini menceritakan sosok Anna, Alfrod, dan Luna. Pasti sudah bisa membayangkan kisah cinta segitiga yang dialami mereka dalam Crossroads. Namun sesungguhnya, Anna, Alfrod, dan Luna mengalami cinta yang lebih rumit, ribet, njelimet dari apa yang dibayangkan. Nah, kisah selanjutnya silakan beli dan baca sendiri (Oke, ini promosi, hehe).

Ketiga tokoh ini saya ceritakan dengan sudut pandang orang pertama. Artinya, aku adalah Anna, aku adalah Alfrod, aku adalah Luna. Ketiga tokoh ini mengajarkan saya untuk mengenal kesedihan saya sendiri. Untuk menjabarkan ketakutan-ketakutan saya dan melepaskan satu per satu, dan menerima bahwa semua itu hanya ilusi. Kesedihan dan ketakutan-ketakutan itu saya yang ciptakan sendiri. Terutama pada Anna. Saya belajar banyak pada Anna. Dia perempuan kuat, tetapi sinting. Dia mengajarkan saya ketabahan, setelah dia menonjok saya dengan luka-lukanya. Dia menceritakan ketakutan-ketakutan saya, dan dia juga yang melepaskan. Anna benar-benar membuat saya percaya, waktu tak pernah ingkar. Dan ketulusan selalu melegakan. Kunci dari melepas luka dan masa lalu hanyalah dengan menerima diri sendiri dan mengikhlaskan. Terdengar bullshit memang, tapi itulah yang dirasakan Anna, yang dirasakan saya. Alfrod juga mengajarkan banyak hal pada saya, termasuk kejujuran. Kemudian, Luna mengajarkan saya arti menunggu dan menyalurkan hasrat-hasrat mencintai dan ingin memiliki lewat puisi-puisi yang sering dia tulis di buku jurnalnya. Ayah Luna juga mengajarkan tentang arti pulang yang sesungguhnya. Pulang yang selalu dirindukan meskipun ribuan kaki dari rumah.

Kau (yang membaca postingan ini), pasti tak percaya kalau novel ini saya tulis hanya dalam jangka waktu sebulan lebih beberapa hari. Tetapi saya melakukannya. Benar-benar melakukannya. Katakan, kalau karya ini menjelma sampah atau apa pun hanyak karena dikerjakan dalam waktu yang pendek. Tetapi sebenarnya kisah ini telah ditulis lebih panjang sebelum penulisannya yang selama sebulan itu. Saya menulis kisah ini di pertengahan bulan Desember, setelah saya mengalami beberapa kisah yang tak bisa saya lupakan begitu saja. Kisah-kisah yang jika hanya dipendam dan didekam dalam kepala saya sendiri, saya bisa saja mendadak gila, atau tersedu-sedu sendirian di kamar setiap hari, setiap malam. Tetapi Anna, Alfrod, dan Luna menyelamatkan saya. Terlebih keoptimisan Anna yang sinting itu. Anna melakukan apa saja yang menyenangkan hidupnya. Menantang luka. Menentang perasaannya sendiri. Tapi Anna tahu, di balik itu semua, Tuhan pasti menyelipkan sesuatu yang amat berharga untuknya. Sebuah pelajaran hidup. Percayalah, walaupun hanya menyelesaikan dalam waktu satu bulan, bukan berarti saya menelantarkan nilai-nilai yang ada untuk membuat sebuah novel. Awalnya, saya tidak meniatkan Crossroads lahir sebagai novel, melainkan hanya sebuah kumpulan cerpen yang menjahit halaman-per-halamannya sebagai rangkaian kisah Anna, Alfrod, dan Luna. Begini awalnya :

Di pertengahan bulan Desember, setelah bermacam hal saya lalui selama satu tahun, dan sangat amat kebetulan bulan itu adalah bulannya libur semester, yang artinya saya harus berdiam di rumah. Kebetulan lagi, saya selalu ditinggal sendirian di dalam rumah. Ayah saya kerja, adik saya sekolah, dan Mama saya baru menekuni usaha jualan gandum goreng, jadilah setiap pagi sampai menjelang sore, saya selalu sendiri di rumah. Kau pasti tahu penatnya macam apa. Seperti dalam penjara. Tetapi bukan itu sebenarnya. Ada sebuah tragedi yang tak perlu saya beberkan di sini, dan itu bisa saja membuat saya seperti orang tak waras bila menyimpan kegusaran-kegusaran saya terhadap hidup ini sendirian. Terlalu berbahaya membiarkan orang gila tinggal sendirian dalam rumah. Saya mungkin bisa saja mengambil pisau dapur dan menggorok leher saya sendiri, atau silet untuk menggores nadi saya sampai saya kehabisan darah, atau lagi mungkin mempersiapkan tali tambang. Tetapi yang saya lakukan cukup melegakan bagi saya sendiri dan keluarga saya. Saya membuka, manekan tombol power pada laptop dan menulis sesuatu di dalam sana. Saya berpikir, mungkin saya akan menulis beberapa tokoh dan menjadikan mereka sahabat bagi masa lalu dan luka saya. Karena saya merasa tubuh saya seperti gelas tinggi (yang biasa dipakai orang-orang minum air mineral setiap pagi) bening yang terus dikucuri kata-kata. Kata-kata itu semakin hari semakin waktu beranjak, semakin penuh, sampai akhirnya saya seperti mau meledak. Saya takut gelas bening itu akan pecah dan kata-kata berhamburan, belecetan ke sana-kemari, tak ada juntrungannya. Tak rapi tersimpan muaranya. Jadi mawur ‘ndak jelas. Jadi, saya memutuskan untuk menulis. Dan saya memiliki ritual khusus untuk menuliskan Crossroads.

Pukul sebelas siang, secangkir kopi yang sudah dicampur krimer, gula, cokelat, atau susu kental manis selalu tersedia di samping saya. Dan saya (yang hampir meledak setiap hari) mulai menulis. Ketika menulis Crossroads, menuliskan Anna lebih tepatnya, saya merasa sedang menulis surat untuk kekasih saya. Membicarakan apa yang ingin saya katakan, yang saya rasakan. Saya merasa sedang berbincang ketika sedang menulis mereka. Dan kau tahu? Kegelisahan-kegelisahan yang hampir meledak berhamburan, belecetan kemana-mana itu mereda seiring halaman-per-halaman yang saya tulis. O, ya saya melakukannya setiap hari. Ya, setiap hari. Dari pukul 11 siang sampai bertemu di pukul 11 malam. Bab per bab. Satu hari, satu bab. Tentu saja dengan kopi yang sudah dicampur beragam pemanis itu (meski pahit juga sih) berada di samping saya. Kau pernah merasakan rindu-rindu menggunung di dadamu? kemudian ketika bertemu dengan orang yang kau rindukan, perlahan gunung-gunung itu seperti tertelan bumi begitu saja? Menguap seperti parfum yang berada dalam botol yang terbuka? Begitulah yang saya rasakan ketika menulis berbab-bab kisah Anna, Alfrod, dan Luna.

Kisah ini selesai di akhir Januari. Dan saya merasa amat sangat lega. Berhari-hari saya mengobrol dengan Anna, Alfrod, dan Luna. Berperan sebagai Anna, seperti menanggung beban luka yang dialami Anna. Berperan sebagai Alfrod dan ikut mengingat-ingat masa lalunya, dan perasaan berat hati, kesedihan, kebimbangan, kegembiraan, dan kelapangan hati Alfrod. Dia adalah laki-laki yang berhati lapang. Saya mencoba menjadi Alfrod, tetapi hati saya tidak bisa selapang dia. Dan saya berkali-kali marah kepada keyboard laptop saya, berkali-kali saya memukul laptop saya dan marah kepada diri saya sendiri ketika menuliskan Luna. Berperan menjadi Luna kadang ingin buru-buru selesai. Luna perempuan yang beruntung sebenarnya, dan saya agak cemburu dengan keberuntungan yang ia peroleh. Dia juga memiliki nama yang bagus. Suatu hari saya ingin menamai anak saya seperti nama panjang Luna.

Bulan Februari, saya baru berani mengirimkan Crossroads ke penerbitan mayor (belum dapat konfirmasi sampai sekarang) dan berusaha menerbitkan buku secara indie atau selfpublishing di nulisbuku. Dan ketika buku dari nulisbuku berhasil sampai di rumah saya, saya merasa…berdebar-debar. Merasa….the pain is worth it.

Terakhir, mungkin pertanyaan seperti ini terselip; “Apakah ini kisah nyata?”

Percayalah, kisah ini fiktif. Tetapi sekat antara fiksi dan realita kadangkala setipis triplek atau bahkan lebih tipis dari iPhone 6 yang terbaru itu kan? Nah, silakan baca dan simpulkan sendiri.

Terima kasih telah membaca sampai di garis terakhir ini.

Klik untuk mengenal Anna, Alfrod, dan Luna lebih jauh, bukan hanya dari yang saya tuturkan :

Crossroads by Siska Permata Sastra @nulisbuku.com

cover2

Ps : Selain saya menceritakan Buku Crossroads, saya juga sedang melakukan promosi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s