Kisah Pengantin Perempuan (DIALOG)

Cerita ini hanya berisi dialog antara Arkanta (A) dan Deliana (D).

Kedai Kopi di daerah Kemang, nama kedai tidak tercantum, 19.21 WIB

A : H-hai. Sori terlambat. (menjabat tangan)

D : No problem, Kan. Aku sudah biasa dengan keterlambatanmu.

A : (tersenyum) terima kasih telah mengingat aku sedemikian rupa.

D : (tertawa) kau menghantuiku sejak malam itu, Kan.. (mencoba tersenyum)

A : (tersenyum kikuk) Jadi, ini dia calon pengantin perempuan yang bertemu laki-laki lain. (tertawa)

D : Hush! Jangan keras-keras…

A : Calon suamimu tahu kalau kamu ke mari?

D : (menggeleng) Aku tidak gila, Kanta. Dia bisa mencincangmu.

A : Wow, calon suamimu tukang jagal? (tertawa mengejek)

D : Kantaaaa, kamu itu dari dulu menyebalkan ya sampai sekarang..menyesal nih mengiyakan tawaranmu.

A : (tertawa) Jangan begitu dong, kan mumpung kamu belum jadi istri orang.

D : (tertawa) Pesanlah dulu kopimu

A : (memesan kopi)

D : (menyeruput kopi yang biasa dipesannya, moka)

A : (cengengesan)

D : Kamu pesan apa?

A : Kopi yang sama sepertimu…

D : Latah. Omong-omong, aku kan belum jadi istri orang, kamu bagaimana? Sudah jadi Ayah dari berapa anak? em…biar, biar kutebak, enam? (tertawa)

A : (memaksakan tertawa) Sialan. Aku masih bujangan.

D : (mata membulat) Ah, kau. Serius! Jangan tipu aku seolah kamu bujangan ya.

A : Aku serius. (menunduk) (menatap mata D) Ibuku masih belum mau merestuinya…

D : Hanya itu?

A : Tidak, bukan itu saja. Aku tetap ingin menikahinya…tapi…

D : Tapi? (raut wajah penasaran, sekaligus kecewa karena Kanta masih mau menikahi Almira)

A : Almira meninggal satu tahun lalu. Ia bunuh diri.

D : Hah? B-bunuh diri?

A : Ya, bunuh diri. (tersenyum) Balaraja dipenjara, ia harus menafkahi tiga anaknya. Aku membantunya, sebulan sekali aku menemuinya. Sekilas dia kelihatan bahagia bila aku datang ke rumahnya dan bermain dengan tiga anaknya. Mereka gampang akrab denganku. Aku seperti suaminya. Menemaninya membeli susu untuk Dinda yang masih dua tahun, menemani Dawong ke sekolah TK, sementara Almira menjaga Mirta dan Dinda di rumah. Kadangkala aku tak yakin dengan pilihan hidupku yang begini… I just feel so empty. Suwung, kamu tahu kan?

D : Y-ya. Tapi, Almira bunuh diri.

A : Dia tidak kuat menanggung hidup sedemikian berat, Deliana. Sementara dia kesusahan begitu, hidup luntang-luntung di rumah, sendirian, mengurusi anak, bapak-ibunya tak peduli lagi padanya karena urusan perceraian dengan Balaraja. Orangtua Almira malu. Tidak sepatutnya perempuan menalak cerai suaminya, dia sakit hati kepada orangtuanya. Berkali-kali ia menelponku, katanya ia sudah lelah hidup menderita. Ia tak suka kodratnya sebagai perempuan dilecehkan begitu. Malam terakhir sebelum ia bunuh diri, ia bilang padaku, ia ingin mati dan hidup kembali menjadi seorang laki-laki yang bebas. Tidak perlu ada orang tua apalagia adat-istiadat tengik perjodohan-perjodohan semacam itu. Dia bilang, aku ingin mati, Kanta. Hidup sebagai laki-laki atau perempuan juga tak apalah, asal lahir dari keluarga yang harmonis, bukan keluarga hasil perjodohan macam orangtuaku. (bernapas panjang)
Keesokan harinya ia ditemukan tewas gantung diri di pohon mangga, kebun milik bapaknya sendiri. Bapaknya shock, sekarang kena struk.

D : (ternganga) Ya Tuhan…Kanta, are you ok?

A : (tersenyum) I’m oke Del, kejadian itu sudah satu tahun berlalu.

D : No, no, you’re not okay. (menggenggam tangan A, mengusapnya, simpati)

A : Aku baik-baik saja, Del. Lagi pula, aku mengajakmu bertemu ingin tahu siapa sih calon pengantin laki-lakimu? (tersenyum menggoda)

D : (memaksakan senyum, mengaduk-aduk kopi, mengetuk-ngetuk sendok) Tunggu dulu, aku masih kepikiran dengan Almira…eh bagaimana anak-anaknya?

A : Dia aman bersama neneknya (tersenyum). Aku tetap menengoknya, tapi tidak sesering dulu…aku masih trauma kalau melewati kebun milik ayahnya Almira.

D : (mengusap tangan A) Aku turut berduka, Kanta.

A : Nah, lupakan. Sekarang aku mau dengar tentang pria-mu itu. Siapa?

D : (tersipu) Dia teman masa kecilku.. anak dari kawan ibuku. Kita bertemu lagi satu tahun lalu.

A : Teman masa kecilmu? Biar kutebak, dia, Apin yang dulu kauberi bunga setiap pagi? Atau ah, Ocan yang dulu ketika baju olahraganya tertinggal di rumahmu, kau menciuminya. (tertawa) heran, ada ya anak kecil sepicisan kamu. (tertawa terpingkal)

D : Sialan kamu! Tapi lucu juga ya..(tertawa)

A : Jadi, siapa?

D : Ocan. (tersipu)

A : Ya Tuhan, gayung bersambut dong kalau begitu. (tertawa)

D : (tertawa) Ya…. Sudah ah, aku malu. Kamu tinggal di mana sekarang? Eh ya, kantormu masih yang dulu?

A : Aku sekarang tinggal di apartemen ******. Aku sudah pindah kantor, tak lama dari kau resign mendadak.

D : (cengenges)

A : Jadi, kenapa tiba-tiba mendadak pindah?

D : Aku tidak ingin membahas itu. Aku terlalu terbawa emosi saat itu.

A : (sedikit tertawa mengejek) Kalau jaman sekarang, namanya baper..

D : Aduh, bapak-bapak ini kok kekinian sekali sih… (tertawa geli)

A : (terpana) Kamu makin terlihat bahagia..

D : Tentu. Aku akan menikah. (tersenyum singkat)

A : (tersenyum) Aku boleh tanya sesuatu?

D : (mengangguk, melahap roti bakar yang baru sampai) Tentu.

A : Omong-omong pipimu tambah bakpao saja…

D : (berhenti mengunyah) Kantaaaaaaaaaaaaaa!

A : (tertawa) Aku serius. (tertawa)

D : (mata melotot, bibir meruncing)

A : Maaf, maaf aku teringat dulu. Aku ingin bertanya, begaimana kamu menentukan pilihan kalau ‘he is the one’?

D : Aku mengenalnya lagi satu tahun terakhir ini. Dia berniat serius, dia melamarku, dan voila sekarang aku calon istrinya. (tersenyum singkat, melahap lagi roti bakar)

A : (menatap D seksama, memperhatikan gerak-geriknya, tersenyum) Is it enough for you?

D : Kanta, yang paling terpenting dari semuanya adalah, dia mencintaiku. It’s enough.

A : Really? For marriage?

D : I really do, Kanta. I’m sure.

A : Aku selalu berharap kamu bahagia, Deliana. Sungguh. Sebab matamu itu seolah hantu di kolong tempat tidurku. Terakhir kulihat, mata itu penuh kantung hitam dan sembab. Dan berita kebahagiaanmu membuatku lega. (tersenyum tulus)

D : (tersipu, menepuk-nepuk punggung tangan A)

A : Tetapi…kamu mencintainya juga kan?

D : Ya, of course. Aku mencintai dia karena dia mencintaiku. (tersenyum)

A : (tercenung : Aku mencintai dia karena dia mencintaiku)

D : (melahap roti bakar sampai habis, menenggak moka sampai tandas)

A : (masih terpaku, pandangan mata kosong)

D : Kanta? (melambai-lambaikan tangan)

A : (tergeragap) Y..ya? Eh, kenapa, Del?

D : Sepulang dari sini aku mau mampir ke apartemenmu, boleh ya. Hanya ingin tahu.

A : O.. oke. Tentu. Mampir saja. (tersenyum kikuk, termenung lagi : Aku mencintai dia karena dia mencintaiku)

—BERSAMBUNG—

Depok, 090815

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s