Kisah Pengantin Perempuan

Arkanta, kau masih ingat aku? Perempuan yang…aku tak bisa mengatakan kalau aku perempuan yang kaucintai, tetapi kau pasti tahu aku telah mencintaimu sejak dulu, walaupun perasaanku harus bernasib sama dengan surat-surat yang tak terbalas. Kau tidak perlu merasa bersalah sedemikian dalam, aku sudah memaafkanmu sejak kali pertama dan terakhir kau melukai hatiku. Kau pun tidak perlu mengingat senja di bibir pantai itu, tempat paling romantis untuk menanam luka di hati seorang perempuan, haha (aku sedang sungguh-sunguh tertawa sebab ketika menulis ini, aku mengingat wajahmu yang akan kusut setelah membaca bagian ini). Sungguh, Arkanta, lupakanlah kata-katamu padaku waktu lalu itu, aku benar-benar paham bila cinta tidak bisa dipaksakan, bukan? Yang lalu, biarkanlah tertiup angin. Ia tahu harus ke mana meniadakan luka, dan juga rindu. Mungkin, kenyataan ini akan membuatmu lega, mungkin juga tidak. Aku sudah bahagia, Kanta. Aku akan menikah.

Salam, Deliana.


Surat elektronik itu baru saja kuterima pagi tadi. Aku masih saja menggenggam cangkir kopi yang baru kuseduh sendiri. Asapnya masih meliuk-liuk di udara, semacam menertawai kegetiranku. Laptop sialan itu memberi kabar buruk sepagi ini, di saat aku harus mengecek email dari klien, berharap tender-ku menang, yang datang malah kabar pernikahan dari Deliana. Ah, perempuan itu, datang-datang lagi ke hidupku ketika sudah mau menikah. Nasib, nasib.

Bayanan tentang Deliana kini ikut meliuk-liuk di udara bersama kepulan asap kopi itu. Serupa bingkai-bingkai film yang diputar mundur dan cepat. Di kantor lamaku. Di kedai kopi Kimung. Di bibir pantai Ujung Genteng. Tiga tempat itu seperti alur ceritaku dengannya. Perempuan berambut ikal bergelombang indah itu ialah pegawai baru di kantor lamaku. Matanya sayu seperti mata perempuan yang terluka, tetapi teduh karena alis matanya seperti hutan lebat yang menaungi sepasang mata sayu berbola cokelat hangat itu. Bulu-bulu matanya lentik, menambah aura sedihnya. Hidungnya seperti gunung yang menjulang memisahi daratan pipi kanan dan pipi kiri yang merupa gurun pasir putih yang lembut. Bibirnya merah sebab gincu yang diolesnya setiap hari, sebab itu aku tidak pernah mengetahui warna asli bibirnya. Tetapi dari segala rupa bagian wajahnya yang membuat Delina sangat dikagumi banyak orang di kantor lamaku, aku menyukai pipinya yang tembam bagai bakpao isi daging ayam. Aku tertawa mengingatnya. Deliana akan mendelik sebal dan mencubit lenganku bila kukatakan pipinya bagai bakpao isi daging ayam. Tapi setelah itu ia kan tertawa, bahunya kuraih dan kita terhuyung-huyung oleh asmara.

Deliana menyukai kopi. Sangat. Itu sebabnya, dia seringkali mengajakku ke kedai kopi langganannya. Teman-teman sekantor seringkali iri memandangiku. Apalagi Chandra, jelas sekali dia menyukai Deliana, tetapi perempuan itu memilihku. Di kedai kopi, ia memesan moka, dan masa lalunya. Ia bisa bicara ngelantur ndak jelas kalau sudah berhadapan dengan kopi dan aku. Aneh, padahalkan moka bukan wine atau whisky. Sering sekali Deliana meracau soal masa lalunya, dari yang ia dikhianati teman sejawatnya di kantor sampai gagal menikah. Itu sebabnya ia memiliki sepasang mata berbola cokelat hangat yang sering berkaca-kaca, pikirku. Lambat laun, masa lalu menjadi hal yang tidak menarik lagi untuk bahan meracau. Kita pun membahas hal-hal lain yang lebih seru, misalnya saja harga tiket kereta api yang terlampau mahal, campuran kopi dan susu mil*o yang rasanya aneh padahal dia sendiri yang membuatnya pagi tadi sebelum berangkat ke kantor. Membiacarakan tentang muka tembok si koruptor yang rajin tersenyum ketika ditangkap sebagi pelacur politik, tentang poligami. Ia bertanya, apakah aku tertarik pada sunnah nabi yang satu itu, dan apakah aku setuju? Aku sebagai laki-laki justru merasa diuji dengan sunnah itu, kataku. Dia bertanya alasannya, katanya dia jarang menemui laki-laki yang enggan berpoligami seperti para laki-laki saleh yang bercelana cingkrang dan berjanggut panjang.

“Aku berpikir sunnah itu bertujuan untuk mengujiku, kaum laki-laki.”  kataku sambil menyeruput kopi moka juga. Aku tertular dia.

“Mengapa begitu? Bukankah kau senang bisa memiliki dua istri?” dia bertanya penuh selidik seolah sedang mengintrogasi calon suaminya untuk mengetes kesetiaan, misalnya.

Aku tersenyum menanggapi keingintahuannya.

“Surat An-Nisa mengatakan begini, nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja.” kataku. Deliana takzim.

“Kau hafal sekali…” Ia tertawa sedikit mengejekku. Dia lupa aku lulusan terbaik SDIT, aku pernah menceritakannya. Tidak penting juga, sih.

“Kau lupa, rupanya…” aku tertawa, dia pun begitu. “Banyak yang mengabaikan atau bahkan membuang kalimat setelah kemudian. Jika kalian takut tidak dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja. Sekarang aku tanya, siapa yang bisa berlaku adil selain nabi kita, Muhammad?”

“Kupikir malah tidak ada, sekalipun yang mengawini banyak perempuan itu kebanyakan ustad, tetapi aku tetap saja sangsi, tak yakin kalau mereka adil kepad dua istrinya. Bahkan, seorang ibu saja kadankala tak adil kepada anak-anaknya.”

“Bukan kadangkala, Deliana. Itu memang benar. Manusia sulit berlaku adil, bahkan hampir mustahil. Maka kupikir, sunnah itu merupakan sebuah ujian bagi kaum laki-laki seperti aku.” Untuk pertama kalinya setelah mengenal Deliana, baru kali ini aku menemukan sepasang matanya cerah menatapku. Sepasang mata sayu itu tidak lagi berkaca-kaca, tapi penuh dengan konfeti.

“Aku kagum padamu, Kan.” dia memanggilku Kanta.

Itulah secarik kenangan tentang Deliana. Kita banyak berbincang ina-ini-ita-itu. Barangkali sepenggal lirik lagu dari Payung Teduh bisa mewakili kisah aku dengannya yang sesingkat liriknya juga, sesungguhnya berbicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita selalu bisa membuat semua lebih bersahaja.

Malam jangan berlalu, jangan datang dulu terang. Di bibir pantai itu, sejak senja berlalu meninggalkan pantai, yang tersisa hanya gelap malam tanpa bintang-bintang. Langit mendung seolah ikut membasahi mata sayu Deliana. Aku ingat, pantai itu ialah tempat terakhir kami bertemu. Setelah penghabisan senja di pantai itu, Deliana resign dari kantor, tanpa alasan yang jelas. Aku yakin sekali kalau itu karena ulahku.

Bibir pantai Ujung Genteng, 17:20 WIB

Angin menerpa-nerpa sekujur tubuh kami. Kita duduk di depan bibir pantai seolah meminta ciuman dari air laut. Deliana sibuk memainkan pasir putih di tangannya seperti anak kecil. Ombak-ombak menyambut kaki kami yang kini basah. Perempuan itu tertawa kecil. Di situ, sebenarnya aku sudah berniat menyatakan hal-hal ganjil yang selama ini menghantuiku ketika dekat dengannya. Sebuah masa lalu yang tersimpan rapat dan tak pernah terbuka. Perasaan laki-laki yang terbungkam sendirian di pojok ruang hati. Rahasia yang menjadi momok selama sepuluh tahun ke belakang.

“Del..” aku memanggilna pelan.

“Hmmm..” dia tak menoleh, masih asik bermain pasir di kakinya.

“Masa kecilmu kurang bahagia, ya?” tanyaku meledek. Dia baru menoleh, dan mendorongku pelan.

“Sialan.” ia tersipu-sipu.

Jeda. Debur ombak pelan-pelan mengisi syahdu di gendang telinga.

“Menurutmu kita ini apa?” Deliana menoleh. Ia seperti terkejut mendengar perkataanku.

“Apa? Kamu mau kita sebagai apa?” ia tersipu lagi. Pipinya merona. Apakah….?

“Aku kan yang bertanya, kenapa balik bertanya? Dasar. Pantas saja Tuhan mengutuk pipimu jadi bakpao isi ayam…” aku berseloroh. Selanjutnya dia menghantamku, melempari tubuhku dengan pasir dan menaburi wajahku bersamanya.

“Kantaaaaaaaaaaaaa! Ya ampun, kamu nggak tau kalo kata-katamu itu bisa nggak diampuni sama perempuan!” Deliana memekik, serangan pasir menerpa tubuhku. Pipinya makin cembung sebab bibirnya yang selalu dipoles gincu itu mengkerut.

“Aku ingin menceritakan masa laluku, boleh?” kataku setelah jeda yang cukup lama. Kita akan menginap di resort malam ini jadi bisa menghabiskan sepanjang malam di pantai.

“Tentu saja. Masa lalu yang mana lagi? Kamu kan sering eh, kita kan sering saling bercerita tentang masa lalu kita..”

“Kamu belum pernah dengar yang ini..”

“Oke, just tell me, sir..”


Aku ingin menceritakan Almira. Gadis desa di kampungku. Teman sepermainanku sejak kecil. Aku menyukainya sejak duduk di bangku SMA, tapi dia tidak sempat melanjutkan pendidikan sepertiku. Dia hanya tamat SMP, tahun ketiga aku menyukainya, dia dinikahkan oleh kedua orangtuanya. Dengan temanku sendiri. Oke, terlalu klise ceritaku memang, tapi ini sungguhan. Siti Nurbaya masih hidup di negeriku, yang katanya demokrasi. Tahun-tahun belakangan ini, setelah Almira memiliki tiga anak dari temanku, ia baru mengatakan kalau sebenarnya yang ia inginkan hanya aku. Bukan si Balaraja, teman sepermainanku juga di masa kecil. Ia bercerita kalau dia sering dipukuli Balaraja karena tak bisa meninabobokan bayi dengan becus, tak bisa membuat kopi enak seenak buatan ibunya, tak bisa memasak rendang seenak ibunya, tidak bisa membuat sambal ijo semantap ibunya. Almira selalu diperlakukan Balaraja, laki-laki keparat yang kebetulan temanku itu dengan kasar. Anak-anaknya, Dawon, Mirta, Dinda pun tak jarang terkena amukannya. Perempuan malang yang menjadi cinta pertamaku itu harus melalui hidup yang sedemikian pahit. Kau tahu Deliana, aku bekerja selama ini, pulang lembur, mengambil job tambahan sebagai pengajar kursus, hanya untuk dia. Almira. Aku ingin menikahinya, aku ingin membebaskannya dari tangan Balaraja keparat itu. Aku ingin memboyongnya tinggal bersamaku bersama ketiga anaknya. Dua bulan lalu aku mengambil cuti seminggu, aku pulang ke Padang, bertemu Ibu dan Bapakku, aku meminta restu darinya untuk menikahi Almira yang bersuami dan memiliki tiga anak itu. Aku ceritakanlah seluruhnya tentang getirnya hidup Almira bersam Balaraja selama ini. Aku ceritakan pula kalau Almira ialah cinta pertamaku. Dan perempuan itu juga menginginkanku. Ibu dan Bapakku masih sangsi merestuiku. Aku juga bertemu Almira dan ketiga anaknya. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, terlebih Almira dengan mata celong dan bertubuh semakin kurus, aku tidak tega…

Kau pasti tahu, kita pernah membahas ini. Pernikahan. Pernikahan adalah ibadah, terlebih bila karena Allah. Ini ada hubungannya. Seminggu lalu, aku ditelfon Almira, dia bilang Balaraja sudah dipenjara, kena pasal berlapis karena narkoba dan penganiayaan terhadap perempuan dan anak di bawah umur. Anak-anaknya. Setelah ini, Almira akan menuntut cerai, dan kami akan menikah dalam waktu dekat.

Deliana, aku tahu perasaanmu kepadaku. Aku lelaki normal, aku bisa merasakannya meski tak yakin. Sekarang katakan, apa dugaanku itu benar?


Setelah malam itu, sepasang mata sayu Deliana kembali ke bentuk aslinya. Berbola warna cokelat hangat yang seperti menyimpan basah airmata. Dia hanya menggumam setelah mendengar ceritaku. Tak sempat mengeluarkan sepatah kata pun. Menuju resort sampai menutup pintu kamar, kita tak saling bicara. Seandainya Delana tahu, aku tidak tidur malam itu, aku tahu dia juga tak tidur karena kantung matanya kelihatan jelas sekali. Mata sayu itu makin terlihat menyedihkan karena sembab. Dia pasti menangis malam itu, aku yakin benar. Sepanjang perjalanan dengan motor, dia tidak berbicara apa-apa. Hanya sesekali menggumam tidak jelas atau sekarar oh, ya, hmmm, tidak apa-apa yang keluar dari mulutnya untuk menanggapi seluruh celotehku. Aku mengantarnya sampai depan pintu kosnya. Dia turun dari motorku tanpa mengatakan apa-apa lagi. Dia berjalan memunggungiku, tetapi aku mengikutinya sampai depan pintunya.

“Deliana…”

“Ya?”

“Kau tidak apa-apa?” perempuan itu tersenyum samar, meskipun kedua mata itu berbicara lain.

Ia menggelang. “Aku lelah.” katanya hampir menutup pintu. Dengan gerakan cepat, aku menahannya.

“Del, aku minta maaf..aku….merasa perlu menyampaikan hal itu…aku…”

Deliana memaksakan bibirnya tersenyum. “Aku tidak apa-apa, Kanta. Sungguh. Almira jauh lebih membutuhkanmu daripada aku. Percayalah.” katanya. Bibirnya mengembang seperti adonan kue manis.

“Kanta, selalu ada yang tidak selesai dalam hidup ini. Cinta, termasuk di dalamnya. Jadi jangan khawatirkan aku. Pulanglah, jangan membuatku tambah bersedih.” ia menutup pintunya sambil meninggalkan senyum yang lenyap seketika pintu ditutup.

Aku beku di tempat. Tergopoh berjalan menghampiri motorku yang terparkir di luar. Saat itu, aku tidak tahu, apakah pilihanku tepat atau tidak.


Kuambil ponselku, berharap kemujuran datang kepada seorang bajing bernama Arkanta ini, yang telah menyakiti hati dua perempuan. Aku berharap-harap cemas, menghubungi Deliana dengan segenap ketidaktahudirian-ku. Berharap-harap cemas Deliana masih menggunakan nomor lama itu.

Tuut. Alhamdulillah. Arkanta mujur. Deliana masih memakai kartu lamanya itu,

“Halo..siapa?”

“Kanta. Arkanta. Aku menerima emailmu tadi pagi.”

“Ya Tuhan, Kanta!” perempuan itu memekik. Pekikannya masih sama nyaring seperti dulu ketika kuledek pipinya yang sebulat bakpao isi ayam.

“Omong-omong, selamat ya..” kataku. Deliana diam.

“Aku..akan menikah dengan orang yang mencintaiku.” katanya.

“Kau mencintainya juga bukan?” tanyaku ragu-ragu.

“Ya, tentu saja.” pufh. Aku bernapas lega. Deliana tidak boleh mengulangi kesalahan Almira. Jangan.

“Aku ingin bertemu. Apakah itu terdengar kurang ajar?” tanyaku. Aku siap ditampar lewat sambungan telepon.

Delian tertawa. “Tidak. Aku belum sah jadi istri orang..”

“Jadi?”

“Aku juga…”

—BERSAMBUNG—

Depok, 09-Agustus-2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s