Kisah Pengantin Perempuan (ENDING)

Cahaya matahari menelusup perlahan ke celah-celah hordeng yang sedikit terbuka. Mataku silau, tiba-tiba hidungku menciumi bau kopi. Aku mengerjapkan mataku, mencoba bangkit dan menyeret tubuhku ke dapur, berharap ada seorang perempuan di dapur yang sedang menyeduh kopi untukku. Menyeduh moka. Saat kulongok dapur, di sana tidak ada siapa-siapa. Tidak ada kopi yang sedang diseduh pula. Kosong melompong. Mungkin aku banyak berhalusinasi akhir-akhir ini, menjelang pernikahan Deliana. Atau barangkali, tadi itu hantu Almira yang sedang menyeduh kopi. Mungkinkah? Bulu kudukku merinding seketika, teringat calon istriku yang tewas gantung diri di pohon mangga, di kebun bapaknya. Mungkin dia mengingatkan aku untuk sering-sering berkunjung ke makamnya, menaburi bunga, atau sekadar menceritakan hal-hal yang telah kulalui di ibu kota setelah dia meninggalkan dunia, meninggalkan aku.

Mataku terpaku pada jam dinding. Masih pukul sepuluh. Hari ini hari Sabtu, aku tidak berniat ke mana-mana. Menghabiskan lima hari di luar habitatku sudah cukup. Aku butuh istirahat. Nanti malam memang malam Minggu, lalu kenapa? Aku tidak merayakannya seperti pemuda-pemudi mabuk asmara itu. Mereka cuma belum tahu rasanya menjomlo satu tahun karena ditinggal mati calon istrinya bunuh diri. Mereka tidak akan tahu rasanya. Aku berjalan menuju bufet, meraih kalender duduk yang anteng di meja. Oh, satu minggu lagi. Tanggal yang dilingkar merah itu hanya berjarak tujuh hari dari hari ini. Tanggal pernikahan Deliana.

Terakhir aku bertemu Deliana di kedai kopi itu. Memesan kopi dan masa lalu. Dia tak begitu banyak bercerita tentang calon suaminya, mungkin ia simpati mendengar ceritaku tentang Almira, dan ketiga anaknya. Kita malah seperti dulu. Banyak membicarakan hal-hal yang bukan kita. Tentang perjodohan, takdir, masa kecil, dan yang terakhir dia membicarakan masalah Tolikara. Masjid yang hangus di hari raya, menimbulkan banyak spekulasi, dan mengangkat isu intoleransi beragama di Indonesia. Dan banyak hal lainnya. Aku kebanyakan bercerita tentang masa kecilku yang rajin mengaji di pondokan, tentang temanku yang meninggal mendadak setelah Ospek di SMP, tentang ibuku yang masakan rendangnya paling enak, bagiku, tentang buku-buku dongeng yang diceritakan Ayahku semasa kecil. Deliana menceritakan masa kecilnya yang lucu. Ia mengulang cerita, ia jatuh cinta di umur yang sangat balita. Umur empat tahun dia sudah jatuh cinta dengan anak laki-laki di satu taman kanak-kanaknya. Setiap pagi sebelum berangkat ke TK, Deliana akan memetik bunga yang ditanam di pot tetangganya, lalu memberikannya kepada bocah laki-laki itu. Lucu, dia bilang, dia begitu karena termakan sinetron Indonesia, Tersanjung. Nah, bagi yang mempunyai anak kecil, sebaiknya hindari menonton sinetron, nanti hasilnya menjadi seperti Deliana. Masih balita sudah jatuh cinta. Aku kembali terpingkal dengan cerita masa kecilnya ini. Dia juga bercerita kalau dulu waktu masih berseragam merah-putih, ia sering bertengkar sampai memukuli anak laki-laki karena tidak mau memberi contekan. Hahaha. Gahar juga, masa kecil Deliana. Lalu ini lagi, dia pernah jatuh cinta sama teman sekelasnya di sekolah dasar itu hanya karena bocah laki-laki itu membantunya melukis di pelajaran kesenian.

Deliana dan aku biasa menghabiskan berjam-jam duduk di café dengan masing-masing secangkir kopi atau kalau lapar, menambah dua roti bakar, atau stik kentang goreng, membicarakan apa saja. Melantur tidak jelas. Kita juga membicarakan Meggy, sekertaris pribadi boss yang jutek setengah mati pada Deliana, dan sekarang ia menikah dengan Chandra. You know what it means, right? Haha. Aku banyak menceritakan pekerjaanku sekarang di kantor advertising, jadi orang kreatif yang membuat tagline iklan dan segala macam tetek-bengek lainnya. Dia sekarang sibuk menjadi jurnalis di tetangga sebelah kantor lamaku. Katanya, gaya penulisan di kantornya yang sekarang lebih pas dengannya. Dia juga menceritakan bagaimana ia menjadi seorang jurnalis perempuan yang memiliki kepribadian introvert. Ini lumayan sulit baginya. Untungnya pimpinan redaksi di kantornya sangat baik hati kepadanya. Dia dipilihkan desk job yang sesuai dengan minatnya seperti rubrik seni, kuliner, dan traveling. Dia bercerita, dengan mata yang berbinar-binar, bagaimana ia mewawancarai Seno Gumira Ajidarma, si sastrawan besar itu, meliput peluncuran buku Novel Hujan Bulan Juni Sapardi Djoko Damono, bertemu dengan pengarang favoritnya Aan Mansyur di Makassar, dan beberapa sastrawan lainnya. Katanya lagi, dia bersyukur hidup sebagai jurnalis di masa sekarang, terlebih memegang desk yang diminati, karena teknologi terkadang memudahkannya. Sebagai seorang introvert, dia sering mengandalkan email untuk mewawancarai narasumber. Pimrednya tidak keberatan, karena bila dibandingkan dengan mewawancarai via langsung dan telepon, Deliana lebih luwes ketika mewawancara via tulisan atau email. Dengan begitu, dia tidak memerlukan tape recorder.

“Enak benar bossmu yang baru..” kataku terkekeh. Dia hanya tersenyum kenes.

“Bossku itu punya bakat psikolog juga. Dia tahulah kekurangan introvert macam aku…” ia terkekeh lagi.

“Tetapi aku resign, Kan.”

“Lho?”

“Aku mau menikah, aku memilih jadi istri rumahan saja. Mengurus suami, memasak, membuat kopi…,” ia tersenyum lebar.

“You look so happy, Del..”

“Of course.” ia tersenyum lagi.

“I envy you…”

“Kamu cemburu sama aku, atau sama calon suamiku?”

“The last word would be my answer…”

“Kanta, you’re too late…” katanya. Dia memandangku dengan raut sedih. Mata sayu itu lagi…

Aku tertawa. “Bercanda…you’re too serious. Baper..” aku terkekeh lagi.

“Kantaaaaa!”


Tok, tok, tok

Suara ketukan pintu itu membuyarkan segala lamunanku. Aku membuka knopnya, dan terkejut melihat seseorang di depan pintu. Seorang perempuan berkebaya putih, berkain batik, dan bersepatu teplek yang sempurna berpadu dengan kebaya adat Sunda. Rambutnya disanggul cantik dengan melati-melati di sisi kirinya. Di atas kepalanya, aku melihat ada mahkota, yang biasanya diselipkan di rambut mempelai perempuan. Aku pikir, aku sedang berhalusinasi, dan hampir gila ketika menemukan sesosok perempuan di hadapanku dengan baju nikahan. Aku pikir, itu hantu Almira, tetapi….

“Deliana?” aku ternganga. Aku mencubit lenganku sendiri. Aku tidak sedang bermimpi. Ini sungguhan.

“Hai, Kanta. Maaf tidak bilang mau ke sini. Aku habis foto prewedding, dan suamiku meninggalkanku ke luar kota. Aku bingung mau ke mana, kebetulan lokasi fotonya dekat dengan apartemenmu, jadi aku kemari. Tidak apa-apa kan?” katanya menjelaskan panjang lebar. Aku masih terpukau.

“D-dengan baju seperti ini?”

“Aku tadi diantar supir pribadi mas Ocan. Lagi pula, aku naik lift. Aku tidak diajak masuk, nih?”

“Oh, sorry, sorry, masuklah…”

“Ya Tuhan… Jakarta panas banget, ya. Aku lelah hari ini, berjam-jam di bawah terik matahari, pose ini, pose itu…” dia langsung meluncurkan celotehnya.

“Untung kamu seorang jurnalis introvert, bukan model, atau reporter yang biasa membawa kabar kemacetan lalu lintas.” Aku terkekeh.

“Hei, aku pernah jadi reporter semacam itu selama setengah tahun, ya!” dia ikut terkekeh juga.

“Duh, kebanyakan diam di rumah setelah resign, jadi begini. Terjerang panas sedikit, penyakit lamaku langsung kambuh…”

“Pusing? Kamu boleh memakai tempat tidurku kalau mau beristirahat…” kataku.

“Tidak apa-apa?” tanyanya meyakinkan. Aku mengangguk. Sekejap saja dia sudah berlari ke kamarku, dan ambruk di kasurku.

“Ya Tuhan…enak sekali…..” kemudian dia menutup kedua matanya yang berbola mata cokelat hangat tetapi sering berkaca-kaca, dulu. Kelopak mata itu walaupun sayu, tetapi kini berwarna-warni. Lihatlah, ada warna pink, biru, dan hijau berbaur di sana. Riasan matanya bagai ekor burung cendrawasih.

Aku memperhatikannya terpejam. Dia cantik sekali dengan kebaya itu, dengan kain batik itu, dengan riasan pengantin itu. Matanya yang sayu berwarna-warni, hidungnya yang mancung semakin terlihat lebih tinggi karena ulah make up, pipinya yang bakpao isi daging itu merona merah muda, dan bibirnya merah, as always.

How beautiful you are. How lucky he is. How pity I am…

Aku memberanikan diri, membenarkan posisi tidurnya. Sedikit mengangkat tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas bantal. Sanggul yang terpasang di belakang rambutnya, tidak membuat Deliana merasa tak nyaman untuk pulas di kasurku. Tubuhku duduk di atas kasur, di sebelah kirinya, lalu ikut berbaring di sampingnya. Tersenyum. Kadang, aku merindukan hal-hal sepicisan ini. Tertidur di samping tubuh seorang perempuan, dan menatapnya sedang bermimpi, walaupun aku samasekali tidak mampu masuk ke dalam mimpinya, setidaknya kedamaian yang menguar dari tidurnya akan merenggut sedihku yang sudah lama berkarat itu.

Pulasnya Deliana, dia pasti lelah sekali…


Selanjutnya akan berupa dialog panjang antara Arkanta (A) dan Deliana (D).

A : (mata mengerjap-ngerjap, menemukan Deliana menatapnya, dengan posisi tubuh miring) Kamu sudah bangun Del…

D : Ya… (tersenyum)

A : Pukul berapa ini? (mencari-cari letak jam dinding, tiba-tiba menjadi linglung)

D : Masih pukul empat..

A : (ingin bangkit dari kasur)

D : (menahan tangan A) Mau ke mana?

A : Mau keluar sebentar, kamu istirahat saja…

D : Jangan. Di sini saja.. (menggigit bibir)

A : Kenapa? (kelihatan bingung, kemudian kembali berbaring dengan menghadap D)

D : Aku boleh meminta sesuatu…kepadamu…sebelum aku menikah….” (menunduk)

A : (berdebar) Meminta apa? Kamu mau, apa?

D : (menunduk) Peluk aku, Kan..

A : Jangan…mengapa begitu?

D : Just hold me.. please.

A : (mendekatkan tubuhnya kepada D, mencoba meraih pinggul D, dan memeluknya sebentar) Why? Ada yang salah dengan rencana pernikahanmu?

D : Absolutely, not. (memegang kedua kedua sisi pipi A, kemudian menariknya, menenggelamkan diri dalam ciuman senja yang panjang)

A : (melepaskan pergulatan bibir) Are you okay, Del?

D : (terisak, matanya basah, riasan luntur) I’m okay, now…

A : (memegang kedua sisi pipi D, menghapus air matanya) Deliana, kamu tidak baik-baik saja. Katakan. Ada apa? (menatap mata D yang basah dan makin terlihat sayu menyedihkan)

D : (memaksakan tersenyum) Aku hanya merasa perlu melakukannya. (meraih kedua tangan A yang berada pada pipinya, dan meletakannya di pinggang D) Do you love me, Kan?

A : Buat apa kamu menanyakan itu? (tertawa getir)

D : Katakan…sebelum semua terlambat..

A : Aku sudah terlambat, Deliana. Sungguh. (A melepaskan pelukannya)

D : Kenapa setahun lalu kamu tidak bilang padaku kalau kau tak jadi menikahi Almira?

A : Aku merasa tidak perlu mengganggu hidupmu lagi…

D : Aku akan senang bila mendengarnya…

A : Kamu tahu? Setelah di pantai itu….

D : (meletakkan telunjuknya di bibir A) Sssshhh….jangan ingat itu lagi. Setelah hari itu, aku menunggumu kembali. Menunggu keajaiban datang, kamu menghubungiku dan bilang kalau kamu tak jadi menikahi Almira. Dua tahun lebih aku menunggumu. Berharap kamu datang dan tak terlambat seperti sekarang…

A : Aku sudah terlambat, Deliana. Sekarang kamu hanya perlu berbahagia dengan suamimu.

D : I will do that.

A : Dia mencintaimu dan kamu pun begitu kan?

D : Ya… But I always want you…

A : You have me now. You have to be happy… Kadang aku ingin kembali padamu, kamu menghantuiku, tahu? Tetapi aku berpikir, aku terlalu bajingan untuk kembali. Aku tak merasa pantas datang kembali padamu setelah malam itu… Kesalahanku membuat nyaliku ciut untuk kembali menghubungimu.

D : I will always want you…

A : (tertawa getir) Itu lirik lagu miley cyrus…

D : And you’re my wrecking ball (tersenyum menggoda)

A : (tersenyum, menatap D dengan seksama)

D : Yang kamu tidak tahu, aku menunggumu selama itu…aku takut kamu terlambat datang ke hidupku…dan ketakutanku benar…kau terlambat, Ka. Aku memang kini mencintai dia, calon suamiku.

A : (tersenyum miris) Ya, kamu benar. Kamu mencintainya karena dia mencintaimu…kata-katamu membuatku gila! (terkekeh, kemudian celentang)

D : Gila, kenapa? (menatap A bingung, kemudian mejatuhi tangannya ke dada A yang bidang, ia merasakan debar itu…)

A : (meraih tangan D dan menggenggamnya, matanya melihat ke arah langit-langit) Seandainya dulu aku memahami kata-katamu itu…

D : (masih menatap A seksama dengan raut bingung) Maksudnya?

A : (berbaring miring lagi, dan menatap D) Aku harusnya mencintaimu, karena kamu mencintaiku. (tersenyum getir)

D : (tergagap, mata berkaca-kaca) Seharusnya…. Kamu terlambat, Kanta. Cinta kita bukan novel romance. Kalau novel barangkali aku akan kabur dari rumah, dan kawin lari denganmu. Itu bisa saja kan? Tapi kita tinggal di dunia real. Realitas kita tidak sekhayali novel-novel romance. (tersenyum getir)

A : Aku tahu… (memilin anak-anak rambut D yang sanggulnya sudah berantakan)

D : Setelah kamu pergi, aku tidak membaca buku-buku novel romance picisan lagi..

A : Oh ya? Lalu kamu membaca apa? (merasa tak perlu bertanya mengapa, karena sudah tahu jawabannya)

D : Aku membaca buku-buku filsafat atau biografi seseorang. Satre, Nietzsche, Socrates. Aku membaca buku-buku sastra karya Yusi Pareanom, Remy Sylado, Martin Aleida, Leila S. Chudori..

A : Bagus. Peningkatan….biar nggak baper terus

D : Kanta, kamu mah…. (mengerutkan bibir)

A : (tertawa, merapihkan rambut yang jatuh di wajah D) Aku ingat kata-katamu saat terakhir aku mengantarmu pulang. Sebelum kamu menutup pintu… (tersenyum, mengenang)

D : Yang mana?

A : Selalu ada yang tak selesai dalam hidup, termasuk kisah cinta. Ya, kurang lebih begitulah katamu…

D : Maksudmu kita?

A : Ya… (diam. menatap D seksama)

D : (diam. menatap A seksama)

A : (tangannya meraih kedua sisi D) For the last time?

D : (tertawa, hampir terisak) Yeah, please….


Di hari menuju senja, mereka menitipkan sebuah ciuman yang panjang. Ciuman terakhir, ciuman perpisahan. Arkanta membiarkan tubuhnya wangi melati senja itu karena terus bersentuhan dengan melati-melati di tubuh Deliana. Perempuan calon pengantin itu membiarkan tubuhnya basah dengan ciuman yang bergelora saat masih mengenakan kebaya putih dan kain batik. Mereka seperti dua dosa yang pasrah dihardik tuhan…seolah mereka berpura-pura menjadi pengantin baru yang berciuman di balik sinar matahari terbenam. Deliana membiarkan gincu merahnya luntur, dan membiarkan Arkanta menyaksikan warna bibirnya yang alami. Mereka akan tertawa-tawa sebagai dua orang yang pernah dimabuk asmara yang begitu tak terduga akhirnya.

Dan di akhir kisah ini, kalian akan mendengar mereka bersenandung…

If You Leave Me Now – Chicago

If you leave me now, you’ll take away the biggest part of me
No baby please don’t go
If you leave me now, you’ll take away the very heart of me
No baby please don’t go
A love like ours is love that’s hard to find
How could we let it slip away
We’ve come too far to leave it all behind
How could we end it all this way
When tomorrow comes we’ll both regret
Things we said today
Cause I need you more than you’ll ever know

How could we end it all this way? When tomorrow comes we’ll both regret, things we said today.
And now we’re both regret…

(by weheartit.com)

(by weheartit.com)

—END—

Depok, 10 Agustus 2015

PS: Baca juga :

Kisah Pengantin Perempuan I
Kisah Pengantin Perempuan II

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s