Sepasang Mata yang Menyala

Matahari dan kokokan ayam jago selalu terlambat membangunkan kesadaran saya. Sepasang mata saya yang sudah renta tak pernah lagi mengerjap-ngerjap dan seketika terbuka untuk menatap dan menyapa pagi yang seolah mengejek-ejek saya yang selalu termenung di beranda, dengan kepulan asap rokok murah yang banyak dijual di warung-warung. Kadir, cucu bungsu saya kerap kali membantu saya jajan rokok di warung dengan imbalan uang dua ribu rupiah. Tanpa rokok, hidup saya adalah bayang-bayang hitam penuh lumuran dosa dan darah yang selalu hinggap di dasar nurani saya. Kadang, kepulan asap putih dari lintingan tembakau itu mampu mengaburkan dosa-dosa saya, sejenak. Setelah habis lintingan-lintingan itu, tibalah saya termenung dengan kesadaran sepenuh-penuhnya sebagai manusia yang berdosa dan ciut pada taring-taring malam yang seolah mencabik-cabik dosa-dosa saya di masa lampau.

Orang-orang mengetahui saya sebagai si pemberani. Salah satu pahlawan penumpasan organisasi merah secara besar-besaran. Pembela kaum beragama dengan menumpas orang-orang yang tak beragama. Pembangun revolusi besar-besaran. Di mata mereka, saya orang besar. Sejarah harus mencatat saya sebagai salah satu algojo yang ikut membantai ratusan orang dalam satu hari, tentu berdampingan dengan nama kawan-kawan saya yang lain. Sumitro, bagi keluarga adalah nama yang membopong mereka naik ke tangga-tangga sosial. Siapa yang tak kenal saya dan keluarga saya setelah revolusi itu di desa kami? Sumitro, sang mantan algojo yang ikut menebas kepala-kepala orang kafir. Orang yang dengan congkaknya tidak percaya kepada Tuhan. Ya, itulah yang dikatakan sekumpulan orang-orang itu kepada saya dan kawan-kawan saya. Enak betul mereka, mengambil padi orang, tidak berusaha bahkan tidak berdoa karena kepongahan mereka yang tidak mau menyembah Si Maha Pencipta Segalanya, lalu mendapat tanah berhektar-hektar, cih! Itulah yang menyulut emosi saya dan massa agamis yang ikut membara dendamnya. Sekeping informasi yang kami bawa untuk menghabisi nyawa manusia dengan cara apapun.

Nah, itulah saya ceritakan di sini tentang dosa-dosa saya. Banyak hal dan cara-cara membunuh paling keji yang saya terapkan untuk menghabisi ratusan nyawa itu dan tak akan saya jabarkan di sini. Cukuplah satu kata, membunuh. Ya, saya adalah pembunuh. Saya mengakuinya di hadapan sekalian semua dengan rasa bangga yang dari dulu hinggap di dada saya, dan kini kebanggaan itu semakin terkikis oleh cabikan-cabikan waktu. Usia saya sudah memasuki kepala sembilan. Umur saya barangkali masih beberapa tahun ke depan, harapan saya sih, begitu. Apa lagi yang bisa saya harapkan dari usia yang kian renta dan menanggung beban dosa sedemikian banyak jumlahnya selain datangnya kematian yang hakiki? Kawan-kawan saya, bahkan kepala revolusi itu telah menemui maut dengan beragam cara yang berbeda-beda.

Saya ingat betul bagaimana Gumindho, sahabat dekat saya mati bertahun-tahun lalu. Di usianya yang sudah setua itu, ia menemui maut dengan cara yang paling menakutkan bagi saya. Saat itu ba’da dzuhur, orang-orang telah menuntaskan ibadah sholat di masjid terdekat yang jaraknya lumayan jauh. Gumindho selalu berangkat ibadah mengendarakan kendaraan roda dua pemberian mantu kesayangannya itu boncengan dengan saya. Kebetulan saat itu saya sedang tidak enak badan, dan memutuskan untuh beribadah di rumah. Biar sajalah, pikir saya, Alloh Ta’ala pasti tahu kalau hambanya ini sedang tidak mampu menuju rumahNya karena penyakit yang Ia berikan pula. Mujur mungkin bagi saya, atau malah sebaliknya, karena Gumindho pulang dengan keadaan yang amat tragis. Tubuhnya yang sudah kurus kering, dengan kulit yang kian menipis, ia harus menghadapi kematian yang amat tidak ramah kepadanya. Tubuh Gumindho pulang dengan keadaan koyak terlindas truk kuning pengangkut pasir antar daerah. Tak ada yang mampu mengenali bila itu tubuh dari kawan lama saya, Gumindho. Tetapi mata seekor elang seperti milik Gumindho itu tak mampu disangkal. Hampir seluruh badan Gumindho koyak dan hancur, kecuali sepasang matanya yang terbuka. Seolah-olah ratusan jiwa yang pernah dilenyapkan secara tak hormat oleh Gumindho itu menuntaskan pembalasannya.

Lintingan tembakau itu saya sulut lagi hingga kelepas-kelepus asap dari bibir saya mampu mengelabui saya dari rasa bersalah. Sepanjang hari saya selalu menghabiskan lima bungkus rokok. Habis-ambil-bakar-klepas-klepus-habis-ambil-bakar, begitu seterusnya sampai malam menjelang. Bila datang waktunya makan, ya saya makan saja sedikit. Entah, bertahun-tahun tinggal sebagai jiwa pembunuh ratusan nyawa, saya pernah menyaksikan darah keluar dari organ-organ tubuh manusia yang sebenarnya tak ingin mati dengan cara paling tak wajar seperti itu, saya tidak mampu menelan nasi atau ayam atau tempe orek atau sambal goreng atau lalapan sebagai bentuk-bentuk dasar mereka, saya selalu membayangkan organ-organ dalam manusia dengan warna merah darah, dan untuk menetralkan hal itu saya selalu merokok setelah makan dan berlanjut hingga saya menjelang tidur.

Lampu dipadamkan. Gelap mengisi ruang kamar saya. Senyap. Sesungguhnya saya tak menginginkan malam datang, atau lebih tepatnya saya tidak mau tidur dan kantuk menyerang tubuh saya. Secangkir kopi barangkali bagi kalian mampu mengusir rasa kantuk yang terkutuk itu, tetapi apa daya, kepekatan kopi selalu mengingatkan saya kepada segelas cairan merah kental yang harus saya minum ketika menjadi algojo. Bau dan rasa amis yang menyengat dari cairan merah itu membuat saya tak mampu menikmati kopi sebagaimana laiknya, bahkan teh dan beragam minuman berwarna lainnya. Maka saya selalu pasrah kepada kantuk yang terkutuk itu. Terlelap dan membiarkan mimpi mengoyak-ngoyak saya seperti pengecut yang ditelanjangi dan dipermalukan sebagai tontonan. Bertahun-tahun hidup tanpa menginginkan malam. Bertahun-tahun hidup diteror alam bawah sadar sendiri. Bertahun-tahun hidup sebagai pengecut di alam mimpi. Dan, bertahun-tahun hidup sebagai penyandang mantan pembunuh yang menginginkan kematian. Lucu, atau bahkan miris saya katakan, dulu saya yang dengan mudah mematikan nyawa-nyawa manusia itu dengan sekali tarikan atau sekali tebas, tetapi entah mengapa saya malah sulit menciptakan maut untuk saya sendiri.

Sepasang mata itu menyala terang berwarna merah, saya tidak mampu untuk memalingkan wajah dan tak melihat ke arah matanya yang membius jiwa saya dengan ketakutan-ketakutan yang amat sangat, sangat, sangat. Pemilik sepasang mata itu mendekat, mendekat, dan semakin mendekat. Tubuh saya gemetar, menggigil! Gigi bergemeletuk, dan saya benar-benar ketakutan. Ia, si pemilik mata merah itu bukan hanya berpakaian hitam seperti malaikat maut, tetapi…sebilah samurai. Pedang panjang. Dan dia…mendekat, mendekat, astaghfirullah… samurai itu menempel di permukaan kulit leher saya…dingin dan mematikan sekujur syaraf saya untuk merasakan…kali itu saya membungkuk, seperti sepasang mata itu menuntun saya untuk disembelih laiknya kambing kurus yang tak ada daya. Kemudian ia tersenyum, bibir itu menyungging penuh kemenangan, matanya masih merah membara, kulitnya pucat pasi, kemudian dengan kecepatan yang pasti ia mengangkat samurainya itu dan hendak menebas leher sa….

“SAMSUUUULLLLL, maafkan saya. Ampun! Ampun…Samsul, maafkan saya…Ampun…Ampun…” saya menangis sejadi-jadinya sambil menyebut nama salah satu korban yang tak ingin lagi saya ingat bagaimana ia menemui ajal lewat tangan besi saya ketika itu. Bantal dan kasur sudah basah oleh keringat dan airmata ketakutan. Kemudian saya membuka mata. Lampu masih padam, gelap, dan senyap. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain saya yang sedang meringis ketakutan. Jam dinding itu masih berderik melantunkan gerak-gerik detik seolah menertawakan kepecundangan saya yang tersembunyi selama belasan tahun ke belakang. Paranoid dan mimpi buruk saya diperparah dengan kematian Gumindho dan sepasang matanya yang terbelalak itu. Masih pukul tiga, bisik saya setelah mengusap air mata yang berurai di pipi, memperjelas kekerdilan saya.

Saya bangkit dengan sisa keberanian dan langkah tergopoh-gopoh menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Usapan air wudhu mampu mendinginkan hati dan membasuh lembut sanubari saya dengan ketenangan yang tak terkira. Sekembalinya ke dalam kamar, saya menyalakan lampu. Terang-benderang cahaya itu memenuhi indera pengelihatan saya yang sudah mulai melamur. Saya gelar sajadah kuning keemasan itu dan kembali mematikan lampu. Gelap. Senyap. Tidak ada lagi sepasang mata merah milik Samsul yang terbeliak waktu kali terakhir saya menghabisinya. Tidak ada lagi darah bergelimpangan di dalam bayang-bayang saya. Sembahyang kepada Si Maha Kuasa, Si Empunya Segala Yang Segala Ada Di Dunia, termasuk ratusan nyawa yang mati atas kehendakNya, dan juga saya yang masih menunggu kematian dari tanganNya, dikhusyukan. Kepala dan hati saya ditujukan hanya kepada Sang Khalik. Saya hanya berdiri, membungkuk, dan bersujud sebagai kesadaran seorang manusia yang kerdil, berlumuran dosa, dan beragam macam kesalahan yang pernah saya lakukan di BumiNya. Tersedu-sedu saya menangis seperti bayi yang ketakutan akan manusia-manusia bertubuh lebih besar, memohonan ampunan atas dosa-dosa yang selama ini menghantui saya. Tertunduk saya, tersadar bahwa saya hanya manusia yang tak bisa menciptakan apa-apa tanpa kehendakNya. Saya gulung dan bakar seperti lintingan tembakau segala kesombongan yang saya punya. Tersungkur bagai setitik kecil dari berjuta-juta partikel lainnya, tersadar bahwa selama ini saya hanya manusia peminta-minta, yang masih merengek kepada Tuhan, atau bahkan merajuk seperti bocah yang meminta mainan kepada induk semangnya. Dalam doa malam yang panjang itu, saya hanya menginginkan kematian yang hakiki. Tenang di atas kasur dengan tubuh celentang, dan yang terpenting adalah dengan mata yang tertutup, menandakan saya telah menemui maut dengan jalan yang damai. Ya, amat damai…

Sehabis menunaikan sembahyang malam, saya kembali ke tempat tidur yang masih basah oleh keringat dan air mata. Biasanya, saya akan terjaga hingga matahari membumbung tinggi, menempatkan diri di singgasana tertinggi sealam jagat. Tetapi rasa kantuk yang luar biasa mematahkan ketakutan saya untuk kembali terpejam. Kemudian gelap. Senyap. Dan saya enggan terbangun lagi.

—END—

Depok, 14 Agustus 2015

 

PS : Cerpen ini didasari riset dari film JAGAL (The Act Of Killing by Joshua) & SENYAP.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s