Surat-surat Tengah Malam

Hallo, Arkanta.
Apa kabar? Hehe, basa-basi sekali ya? Padahal, kamu ingat, atau barangkali lupa kalau aku tidak suka berbasa-basi. Tapi, ini sungguhan, Arkanta. Aku sungguh-sungguh ingin tahu kabarmu.
Kamu mungkin akan menerima surel ini besok pagi, ditemani secangkir kopi di meja kerja dalam kamarmu. Aku sudah membayangkan raut mukamu nanti saat pagi setelah membuat kopi dengan asap yang mengepul di atasnya, lalu kamu akan menyalakan komputermu sambil tangan kiri memegang cangkir dan tangan kanan mengoperasikan mouse. Sepasang alis matamu yang tipis dan memanjang itu akan saling bertemu, dan dahimu akan berkerut. Hahahaha (aku betul-betul tertawa ketika menulis ini). Kamu tidak pernah tahu kalau aku selalu terhibur dengan raut wajahmu yang begitu ekspresif, apalagi kalau aku membayangkan wajahmu ketika kamu terkejut karena suatu hal yang aku atau orang lain ucapkan. Sungguh, lucu sekali!

Arkanta, kalau di benakmu timbul pertanyaan setelah membaca surel ini, aku akan menjawabnya sekarang. Aku baik-baik saja, dan pernikahanku pun demikian. Justru, kamu yang aku khawatirkan. Kamu betulan baik-baik saja? Ke mana saja kamu? Kenapa kamu tidak datang ke pesta pernikahanku tiga bulan lalu? Sungguh, aku merasa sudah lama betul tidak menghubungimu. Kamu benar-benar misterius, dan sekaligus menyebalkan. Apa coba maksudnya menghilang setelah kejadian di apartemenmu itu? Dan, kenapa kamu tidak menghadiri pernikahanku? Apa kamu tidak penasaran dengan Mas Ocan? Laki-laki dari masa kecilku yang dulu aku ceritakan kepadamu, kamu pasti masih ingat, kan? Kamu pasti berpikir, pertanyaanku kok banyak banget. Hei, aku pernah menjadi wartawan selama bertahun-tahun! Dan semoga saja kamu masih ingat lalu kemudian merasa maklum, hehe. Aku serius tentang pertanyaan-pertanyaanku, jadi sila jawab lewat email balasan nanti. Ya, nanti. Aku belum mau mengakhiri surel ini, aku ingin bercerita tentang hubungan rumah tanggaku dengan Mas Ocan. Tenang, Kanta, tenang…aku tidak akan menceritakan bagaimana permainan kami di ranjang dan membuatmu panas dingin ketika membacanya, hahaha. Makanya, cepatlah menikah. Mendekam luka itu tidak baik, Kanta. Kamu berhak bahagia. Kamu butuh ciuman-ciuman dan pelukan panjang seorang kekasih agar kesepian tidak begitu menggerogotimu.

Begini, Kanta…
Kamu tahukan, sudah berapa lama aku tidak menulis dan bekerja sebagai wartawan. Setelah menjadi istri sah Mas Ocan, aku hanya serupa perempuan-perempuan kebanyakan. Mendekam di rumah, membenahi ruang-ruang berebu, mencuci pakaian, menyetrika, memasak untuk suami dan diriku sendiri, dan menunggu suamiku pulang sambil terkantuk-kantuk. Awalnya, memang terasa manis, dan amat sangat bahagia. Aku tidak perlu berlari-larian mengejar narasumber, aku tidak perlu menulis dan menyetor tulisan ke editorku yang galaknya setengah mati, aku tidak perlu meninggalkan rumah berhari-hari karena harus meliput ke luar kota. Awalnya menyenangkan, sungguh! Segalanya sesuai ekspektasiku. Ketika pagi aku membangunkan Mas Ocan, membuatkan kopi untuknya di meja dapur dan setelahnya sedikit yah…you know lah
Tetapi, Kanta. Aku jenuh. Aku mulai merindukan rutinitasku sebagai wartawan. Rapat redaksi, meliput ke lapangan, ke luar kota, ke berbagai daerah untuk mencicipi kuliner khas, menonton teater untuk review, menonton upacara adat, menulis, dan diamuk-amuk editor karena bahan beritanya kurang lah, strukturnya belum benar, berantakan, disuruh meliput ulang lah. Ya Tuhan, aku merindukan keruwetan itu. Hal semacam itulah yang membuat hidup terasa hidup. Terakhir, aku ingin menyampaikan sesuatu. Katakanlah aku ini tak tahu diri, atau lacur, atau apalah…tetapi aku merindukanmu, Kanta.

Jujur saja, lewat surel ini aku mengeluhkan segala hal tentangku. Aku rindu bercerita banyak hal padamu. Mungkin kamu pikir, apakah aku tidak bisa bercerita dan mengungkapkan unek-unek yang mengendap di kepalaku itu kepada Mas Ocan? Tentu saja bisa. Tetapi dia bukan teman berdiskusi yang cocok denganku, sepertimu. Ada hal lain yang kuinginkan di atas ranjang. Bukan hanya tubuh telanjang, dan pergulatan jasmani untuk menghasilkan bayi-bayi lucu, tetapi lebih sakral daripada itu. Daripada seks. Aku menginginkan adanya percakapan di atas ranjang. Entah, membicarakan apa saja yang terjadi di keseharian kita, di lingkungan sekitar kita, dan di negeri kita, kemudian disusul dengan perdebatan-perdebatan sengit antara kita berdua, lalu diakhiri dengan tawa terbahak-bahak sampai akhirnya berbisik, “Aku ngantuk, Mas…” atau “Wah, sudah pukul tiga, kita harus tidur..” semacam itulah. Tetapi aku tidak mendapatkannya bersama Mas Ocan, sehingga unek-unek ini sudah menumpuk di seluruh tubuhku, tubuhku jadi seperti tumpukan surat berisi keluhan-keluhan. Entahlah, dia selalu tertidur pulas sambil mendengkur sebelum tengah malam, bahkan sebelum aku atau dia memulai debat kusir. Nah, saat ini dia sedang tidur, makanya aku menuliskan surel kepadamu, yang akan kamu baca esok pagi.

Kanta, aku harap kamu baik-baik saja dan ketika kamu membaca ini, kamu dalam kondisi yang segar bugar. Aku tidak pernah ingin mendengar kabarmu sedang sakit, atau bagaimana, itu membuatku khawatir dan gelisah tidak dapat berbuat banyak, bahkan kalau kamu sakit, aku belum tentu bisa mejengukmu.

Kanta, surel ini barangkali akan kulanjutkan di lain tengah malam. Kamu tahu? Dengan menulis surat seperti ini kepadamu, aku merasa jenuhku menguap. Kamu bagai obat yang meredakan kecemasan-kecemasanku. Aku tidak perlu mabuk, aku hanya perlu kamu untuk melupakan segala kurumitan yang baru kuhadapi. Kamu pernah dengar lagu dari Rita Ora, yang berjudul Poison? I pick my poison and it’s you. Itu sepenggal liriknya. Aku sering mendengarkannya di radio-radio gaul Jakarta, lalu mengingatmu.

Kanta,  di akhir surel ini, aku sangat berharap kamu tahu bila aku akan sangat bahagia dan merasa sembuh jika kamu mau membalas surelku ini. Di baris terakhir ini, kamu harus tahu, aku sudah mengantuk dan legaaaaa. Terima kasih sebelumnya, Kan.

Salam, Deliana.

Jakarta, 15 Agustus 2015

PS : Baca juga : Kisah Pengantin Perempuan:

|
||

|||

PS II : Surat-surat ini akan dilanjutkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s