Ibu Pulang

kaki-kaki waktu berjinjit-jinjit
menanti ibu sajak dari pasar malam
tangan ibu akan penuh gulali dan kain rajut
ia akan datang dengan dongeng dan makan malam

sebelum pergi ke pasar malam itu, ibu berjanji takkan terpikat lampu neon
atau lampu-lampu kendaraan berderum-derum
ibu juga berjanji takkan terpana ketika melihat bianglala bercat merah marun
dia akan setia kepada kami, waktu yang menunggu hampir terpejam

pada jendela, kulihat ibu perlahan-lahan datang
dibawanya kopi pahit dan gula-gula pemanis
ia lupa pada gulali dan kain rajut
yang ia ingat hanya lampu neon dan gemerlapnya bianglala

ketika sampai di muka pintu, ia tidak menyapa kami,
ia begitu muram mirip seperti bulan berwajah pucat pasi
katanya, ia habis ditipu penjual kain rajut dan gulali
“tak ada kehangatan dan manis-manis, sayangku,” katanya kepada kami

malam ini, ibu sajak pulang dari pasar malam itu
ia menyeduh kopi pahit dengan gula satu sendok teh saja
bunyinya berdenting-denting di telinga waktu
hening, dan hanya ada ibu sajak yang luka

Depok, 20 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s