Gerobak Marwan

Serenceng kemasan bubuk minuman jatuh di gerobak Marwan, suamiku. Gerobak Marwan tampak seperti pohon yang ditumbuhi daun-daun dari plastik kemasan minuman bubuk. Kardus-kardus bersisian memenuhi lapak dagangan kami. Di dalamnya ada banyak mie instan untuk tetangga-tetangga kami makan. Mereka jarang sekali mengeluarkan uang dan memberi makan perut mereka dan anak-anak mereka sayur-mayur. Kesibukan mereka mencuci baju, mencari kutu sambil mengurus kehidupan Imey, si janda kembang yang suka keluyuran malam dengan mulut mereka, sehingga tak sempat memasak. Selang beberapa menit, ada saja tetangga-tetangga kami yang datang membeli makan buat perut mereka atau mulut anaknya yang doyan mengunyah penyakit. Di sini, kamu dapat mendengarkan suara gigi bayi mengunyah remah cokelat wafer, chiki jagung, dan es teh berbiang gula sebagai sarapan, makan siang, dan makan malam. Bukan hanya gerobak Marwan yang menjadi pohon makanan mereka, tetapi ada beberapa gerobak lain yang tak ditumbuhi apapun sebab tetanggaku lebih suka jendela rumahnya sebagai pohon yang ditumbuhi serenceng kemasan bubuk minuman.

Hayu, anakku sedang tertidur pulas di bahuku. Tenang sekali ia tidak memikirkan nasib orang-orang malang seperti ibunya ini. Ia tidak tahu bagaimana hangat dekapan rumah yang kini telah serupa remah-remah wafer yang dibeli bocah di sini untuk sarapan. Ia tidak pernah merasakan bila lengan-lengan yang selama hidupnya jadi tempat bernaung harus diremat dan dihancurkan oleh lengan-lengan lain yang lebih berkuasa. Pipinya tidak pernah tersentuh hangat airmata kesedihan ketika menyaksikan mainan kesayangannya menyatu dengan bumi setelah dilindas gerigi mobil. Ia bahkan tidak tahu bagaimana kenangan yang diawetkan dalam rumah bersamanya, bersama ayahnya harus dihancurkan oleh bulldozer. Kadang, aku ingin menyelinap masuk ke dalam pejamnya yang tenang. Melupakan bayangan yang sewaktu lalu aku rasakan bersama tetangga-tetangga kami yang lain; menyaksikan kenangan yang dari mula kehidupanku, sampai hari kemarin runtuh diratakan bulldozer. Kami semua diperintakan untuk pindah ke tempat yang lain, yang asing, yang aromanya dan kenangannya berbeda dengan rumahku, dengan masa kecilku, dengan masa kecil kami.

Gadis kecil di dekapanku tenang sekali seperti memasuki lorong surga yang tak kenal panasnya ibukota. Hidungnya kembang kempis, juga dadanya, seolah aroma yang ia cium ini bukan polusi udara. Rambutnya yang tipis dan kemerah-merahan tersapu angin sore. Matanya terpejam tenang dan lengang, sedangkan bapaknya, Marwan tengah sibuk menciduk es batu dari baskom ke dalam plastik. Seorang bocah SD sedang menunggu sebab-musabab batuk dan pilek dibuatkan. Haus, katanya. Ia ogah minum air putih, lebih senang minuman berwarna, katanya. Anak-anak kampung kami memang seperti itu, selalu merindukan warna. Bocah itu namanya Wiro, dulu saat di kampung halaman, dia adalah tetangga dekat kami tetapi di sini, tempat tinggal dia berjauhan, beda lantai, beda gedung, bahkan. Ayahnya sudah tiada sejak ia belum sekolah, ibunya buruh pabrik tekstil yang sekarang sedang ketar-ketir oleh ancaman PHK yang sudah mulai meluas di wajah ibukota. Aku tidak tahu darimana uang Wiro untuk belanja wafer, chiki, mie instan, es teh biang gula, atau es jeruk yang ia beli selang beberapa jam saja. Kalau dari desas-desus tetangga, Wiro ini sepulang sekolah atau di saat liburan mengamen dulu, sebab ibunya yang buruh pabrik itu jarang memberikannya uang. Kadang, kalau musim hujan tiba, aku sering melihat dia keluar rumah dengan payung besar bermotif pelangi.

Hayu, Rahayu menggeliat di dekapanku. Bahuku sudah mulai pegal menggendongnya berjam-jam demi menemani Marwan mengurus lapak dagang gratis dari pemerintah. Gerobak yang seperti pohon itu juga dari pemerintah, mungkin tebusan atas ratanya ingatan-ingatan kami di kampung halaman karenanya. Aku harus kembali ke unit, menidurkan rahayu di kasur yang kami bawa dari kampung halaman. Bau kasur itu membawa sedikit aroma kampung halaman kami. Mungkin sebab itu yang membuat tidurku bisa nyenyak seperti di rumah.

Sambil mengayunkan tubuhku dan meniupkan bunyi-bunyian pengantar tidur ke telinga Rahayu, aku menatap wajah Marwan, yang kini sedang mengelap meja gerobaknya, bekas tumpahan air, bubuk minuman atau bumbu mie instan. Sapu tangan hijau muda itu menyisir setiap tempat yang dijatuhi bercak noda hingga alumunium itu kembali berkilat ketika dijatuhi cahaya sore, sementara Marwan sambil mengelap permukaan wajahnya yang berkeringat dan cemas. Jelas sekali cemas itu nangkring di wajahnya yang kuning gelap dan ditumbuhi rambut-rambut halus di atas dan di bawah bibirnya. Saat itu tak ada yang menunggu Marwan memasak mie atau menyeduh es.

‘Rat…’ ia memanggilku. Rat. Ratri.
‘Bawa aja Hayu ke kamar. Kasihan dia, kamu juga.’ katanya masih sambil membenahi letak dagangannya.
‘Hari ini aku aja dulu yang jaga warung’

Aku diam saja sambil mengayunkan Hayu di dekapanku. Marwan seperti tahu apa yang dirasakan bahuku sekarang ini.

‘Oh iya, Rat. Kalo lapak ini udah mulai bayar bulan depan, Mas bingung mau lanjut jualan di sini lagi apa kaga..’ katanya, kali ini ia menyeka keningnya dari keringat yang hampir menetes. Keresahan dia langsung meresap masuk ke dalam keresahanku.

‘Masalah itu, lihat ke depannya aja Mas, Ratri mau bawa Hayu ke kamar dulu ya.’ kataku sambil melangkah menuju lift. Ah, untung saja lift lagi berfungsi normal, kalau tidak, bahuku akan tambah pegal membopong Hayu ke lantai lima naik tangga. Di dalam lift aku bertemu Yu Rifah, ia berjualan pecel di unitnya. Ia enggan berjualan di lantai dua, tempat gerobak-gerobak itu dibiarkan kosong, hingga yang tersisa hanya gerobak Marwan dan tiga gerobak lain yang sudah jarang difungsikan. Kata perempuan paruh baya yang hidup berdua cucunya yang sudah sd itu, tak sanggup ia harus naik-turun dari unitnya di lantai tujuh ke lantai 2 untuk mengangkut keperluan berdagangnya. Ia tetap bersikeras berjualan di unitnya, lantai 7 walaupun keadaan di sana sepi pembeli. Kalau sudah begini, kadang aku bersukur memiliki Marwan yang masih mau naik-turun mengangkut barang dagangan dari unit ke lapak dagang demi isi perut kami semua.

Sebelah tanganku memutar kunci unit. Hawa hangat sore terbawa angin yang masuk dari jendela yang terbuka. Hayu sudah kuletakkan di kasur. Tubuh mungilnya menggeliat. Di pejamnya aku melihat kesunyian yang damai. Mungkin pejam itu berasal dari aroma masa kecilku yang tersisa dari kasur yang kubawa dari kampung halamanku yang sudah rata. Menatapnya tertidur tenang, membuatku lupa akan keresahan-keresahanku yang memadati kepala. Kata-kata orang-orang yang datang untuk memberi penyuluhan kepada kami beberapa minggu lalu mengulang di kepaku. Bulan Desember nanti, Marwan dan aku, dan warga lain yang tinggal di bangunan ini harus menyiapkan uang minimal dua juta. Dulu, di kampung halaman, kami bernapas tidak pakai bayar. Di sini, tiba-tiba saja semua harus bayar sewa. Sewa tempat tinggal. Sewa listrik. Sewa air.

Ah, angin sore ini berbau lain. Asin. Asing. Tiba-tiba aku mendengar suara aku yang lain. Suara dari masa kecilku. Kemudian suara kenangan yang diruntuhkan bulldozer berdentam-dentam.

—END—

Depok, 16 Oktober 2015

p.s : karangan ini dibuat berdasarkan hasil kunjungan ke rusunawa, hunian bagi warga kampungpulo yang rumahnya diratakakan dengan tanah demi mengatasi banjir tahunan Jakarta. karangan ini fiktif, tapi sejatinya fiksi tidak jatuh terlalu jauh dari pohon realitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s