Maryam

Hai. Aku Maryam. Seorang bekas pelacur di pinggir Ibu Kota. Mereka, maksudku, para pelangganku, sering memanggilku dengan sebutan Merry. Usiaku masih terbilang muda, 25 tahun. Telah bersuami dan memiliki putra semata wayang. Tapi bulan depan aku akan menghadiri persidangan cerai. Sidang ceraiku dan suamiku sendiri. Namanya, Gofur.

Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkannya. Kami telah melalui segalanya bersama-sama. Tetapi, cinta memang terkadang aneh. Aku jatuh cinta. Tentu saja bukan dengan Gofur, suamiku, tetapi dengan Endra. Rarendra. Dia seorang penulis, tetapi bekerja sebagai wartawan foto di surat kabar ternama di Ibu Kota. Gajinya tidak terlalu besar, tetapi aku sangat yakin, dia mampu menafkahiku seutuhnya. Dan hidupku, juga Rian, putraku, akan jauh lebih baik. Aku belum pernah seyakin ini.

Gofur. Dia laki-laki yang pernah sangat kucintai. Kami jatuh cinta di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Kami bertemu semasa sekolah tingkat akhir, kemudian jatuh cinta. Sesederhana itu. Tubuhnya yang tinggi, jangkung, dengan wajah yang tampan serta memiliki tatapan yang lembut, benar-benar telah membuatku mabuk kepayang. Dia menjanjikanku masa depan yang mewah. Tinggal di Ibu Kota dengan gemerlap warna-warni lampu kota yang mentereng, sebuah rumah di perumahan mewah dengan pekarangan yang lebih luas dari pekarangan rumahku yang di ada di kampung, dan sebuah mobil yang bisa mengajak orangtua-ku keliling Jakarta dan melihat Monas (Monumen Nasional).

Gofur mencintaiku dengan baik. Dia selalu merayuku bila aku marah, dia selalu memelukku ketika nilai ujianku lebih rendah dari angka enam, dia selalu membelikan aku cokelat atau es doger bila suasana hatiku sedang muram, dan dia selalu ada untukku. Aku merasa, cintaku dengan Gofur tak perlu dihadiahi ujian, aku sangat yakin bahwa kami berdua bisa melaluinya. Itu juga yang dikatakan Gofur kepadaku di sebuah kamar sempit milik kawannya. Ketika Gofur memelukku lebih erat dari biasanya, menciumi bibirku dan bagian yang tak pernah tersentuh sebelumnya dengan amat liar, menjarahi tubuhku jauh lebih dalam, dalam, dalam, dan hingga menembus lorong tergelap dari tubuhku. Dia bilang, jangan takut, kita akan menghadapi semuanya. Kita bisa melaluinya bersama-sama.

Gofur dan aku pasti mengingat hari itu. Setelah hasil kelulusan diumumkan. Kami berjalan-jalan di alun-alun kota. Kami tertawa-tawa makan ketoprak sepiring berdua, minum es kelapa sambil melepas bujuk rayu dan bisik manja, lalu bersembunyi di balik pepohonan rindang untuk berciuman ketika malam datang dan kami hendak pulang. Sepulangnya, aku mengatakan kekhawatiranku selama dua bulan belakangan setelah Gofur mencintaiku lebih dalam di kamar sempit itu waktu lalu. Aku telat. Dalam artian, selama dua bulan ini aku tidak kedatangan bulan. Wajah Gofur panik saat mendengarkan itu. Aku juga panik. Lalu kami mampir di apotek dan membeli sebuah batang plastik yang bisa mendeteksi kehamilan. Dia menyuruhku kencing dan dimasukkan ke dalam gelas akua yang sudah kosong, lalu memasukkan benda tadi ke air kencingku.

Gofur melihatnya. Aku juga melihatnya. Dua garis di benda itu. Aku hamil.

Gofur bersikeras ingin mempertahankannya. Tapi aku ingin menggugurkannya. Aku tidak siap. Apa kata orangtuaku nanti? Lagipula, orangtuaku mengatakan aku akan dikuliahkan ke luarkota. Mereka sangat ingin kalau anak sematawayangnya ini melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi untuk bisa bekerja lebih baik nantinya, tidak seperti ayahku yang seorang buruh, dan ibuku tukang cuci. Mereka selama ini telah mengumpulkan uang untuk menjadikanku sarjana. Mereka akan sangat bangga bila anak seorang buruh pabrik dan tukang cuci jadi sarjana dan kerja enak dengan gaji yang bisa membuat orangtuaku berhenti jadi buruh pabrik dan tukang cuci. Mereka… ah, aku tak sanggup menceritakan mereka, dan membayangkan betapa hancurnya hati mereka ketika tahu aku… hamil. Mereka akan menghardikku dan aku pasti jadi aib keluarga, bagaimanapun budaya timur tidak mengenal kehamilan di luar ikatan suci. Mereka, masyarakat, umumnya sepakat bahwa hamil di luar nikah artinya aib dan malapetaka.

Di suatu pagi yang buta, aku menemukan Gofur di depan pintu rumahku dengan tas merah besar yang sudah gendut karena isinya. Dia berbisik, kita akan melalui segalanya berdua. Jangan takut. Aku menurut. Aku percaya. Aku sangat cinta kepadanya dan sangat yakin kalau Gofur juga merasakan hal yang sama. Dengan tas yang sama gendutnya dengan tas milik Gofur, kami berdua keluar Desa dan menuju ke terminal kota. Di sana ada bus yang menuju ke kota yang lain. Kami menaikinya, dan bertekad tidak akan kembali ke desa itu. Kami nekat merantau, dan membangun keluarga kecil kami tanpa perbekalan apa-apa selain baju di tas, uang yang tak seberapa, dan cinta yang begitu membara.

Di suatu pagi yang buta, kami telah sampai di kota S dan menyewa sepetak kamar yang hanya berisi sebuah kasur dan lemari kecil untuk pakaian kami. Di sepetak kamar itu, kami memulai hidup baru sebagai pasangan suami-istri yang mengaku bahwa buku nikah kami hangus terbakar bersama gubug kecil di desa kami, di Jawa Tengah. Tetangga-tetangga dan penyewa kamar percaya dengan hal itu dan mengantarkan serta memandu kami untuk membuat surat-surat baru dibantu oleh Pak RT setempat. Sebulan pertama, hidupku bersama Gofur masih sangat panas dan membara. Kami tak henti-hentinya bercinta di atas kasur kapuk yang sudah lepek dan lapuk karena keringat kami. Hampir setiap malam kami bercumbu dan membakar segala jiwa muda kami yang membara. Kami lupa, bahwa selama kami tinggal hanya berdua, tidak dibantu siapa-siapa, kami harus menafkahi diri kami sendiri. Berbulan-bulan setelahnya, hidup kami tidak semembara dan sehangat dulu. Kami harus makan dengan mie instan berhari-hari, atau telur ceplok atau dadar, dan minum air mineral akua botol berliter-liter untuk sebulan. Uang persediaan kami yang diambil dari celengan ayamku dan uang hasil ‘ngembat’ dari orangtua Gofur hanya sampai bulan ketiga. Lalu setelahnya aku mau tidak mau harus menjadi buruh cuci bagi para tetanggaku dan membantu mereka menyetrika baju atau mengepel lantai. Mereka membayarku untuk itu, dan uangnya akan dipakai untuk menyewa sepetak kamar itu dan biaya hidupku dengan Gofur. Sedangkan Gofur, tidak seperti yang aku bayangkan pada awalnya. Dia tidak sebaik, sesabar, dan selembut dahulu. Dia sering marah apabila ia bosan dengan mie instan, telur dadar yang kumasak keasinan, kopi yang terlalu pahit karena aku tidak mampu membeli gula, dan hal-hal lain yang kupikir sepele namun malah menjadi pertengkaran hebat di rumah tangga kami. Gofur lebih senang tidur seharian di kamar yang sumpek itu daripada keluar dari sana dan mencari uang untuk biaya persalinanku nanti. Dia bahkan lupa, kalau aku sedang hamil.

Di suatu pagi yang buta, anak pertamaku lahir. Anakku, dan Gofur. Dia laki-laki. Mata dan hidungnya sangat mirip Gofur, dan bibirnya diwariskan dari bibirku. Di saat persalinan, tidak seperti yang aku bayangkan. Bayangan manis bahwa Gofur akan menemaniku, menggenggam tanganku ketika aku berteriak kesakitan, atau memelukku seperti yang ia lakukan dahulu. Kenyataannya, Gofur tidak ada ketika putranya, putra kami, lahir ke dunia. Yang lebih kusesali ia tak ada bukanlah karena ia bekerja lembur untuk biaya persalinan, bahkan dia belum bekerja dan menafkahiku sebagaimana mestinya, tetapi ia malah sibuk di ‘warung jamu’, minum-minum sambil menggoda si penjaga warung yang semoknya bukan main. Untungnya ada Esti, tetangga terdekatku yang membawaku ke rumah sakit bersalin terdekat, dan menalangi biaya persalinan. Ia juga yang menceritakan kelakuan Gofur di warung jamu bersama janda muda itu.

Aku hanya bisa mengurut dada mendengar kelakuan Gofur di luaran. Mulai dari judi kartu, mabuk-mabukan, sampai menggoda janda di warung jamu. Ia lebih jarang pulang ke rumah. Ia telah lupa kalau ia sudah memiliki seorang istri dan putra. Ia lupa kalau kini ia seorang ayah yang memiliki kewajiban menafkahi. Jiwa mudanya masih sangat menggelora hingga ia lupa tanggung jawabnya sebagai suami dan seorang ayah. Ia hanya pulang ke rumah ketika lewat dari tengah malam atau siang hari untuk tidur sampai keesokan harinya. Lalu pergi main judi atau mabuk-mabukan. Selalu seperti itu, setiap hari. Atau kalau ia sedang bernafsu, ia meniduriku lalu pergi lagi. Di sini, aku mulai mempertanyakan cinta. Benarkah cinta yang kurasakan dengan Gofur saat aku berani keluar dari kampungku dan memilih tinggal bersama Gofur? Mengapa kini rasanya amat hambar dan sangat melelahkan? Aku seperti tak memiliki kehidupan lagi. Kehidupanku seperti dicuri oleh cinta yang meletup-letup ketika dahulu. Masa depanku seperti digadai oleh kesalahanku di waktu lampau. Sekarang, aku malah merasa kalau Gofur tak mencintaiku seperti dahulu, dan aku mulai mempertanyakan, sebenarnya apakah cinta itu ada?

Cinta itu ada, tetapi untuk makan dan minum, cinta saja tidak cukup. Dalam pernikahan, hidup berumah tangga, cinta seluas apapun tidak akan pernah cukup tanpa bantuan rupiah. Kau tidak bisa kenyang hanya dengan ciuman atau pelukan, bukan? Aku bilang begitu kepada Gofur. Aku ingin dia sadar bahwa ia bukan lagi pemuda tanggung yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi ia kini memiliki aku, dan Rian, putranya, yang harus dinafkahi. Akhirnya kami sepakat untuk mencari nafkah bersama-sama. Kami menyewa gerobak untuk dangdut dorong. Gofur yang mendorong gerobaknya, dan aku yang menyanyi dangdut keliling kota. Uang hasil manggung dari satu jalan ke jalan lainnya digunakan untuk sewa kamar, keperluan rumah tangga, dan baju pentasku. Gofur yang memilihkan baju untukku. Dia senang melihatku berpakaian berpotongan rendah yang memperlihatkan belahan dadaku, dan rok pendek yang ketat dan pendek. Ia bahkan senang ketika penyawer datang dan menyelipkan uang ke belahan dadaku lalu menepuk pantatku dengan gemas. Katanya, dengan begitu pemasukan kami akan bertambah.

Cinta itu ada, tetapi untuk makan dan minum, cinta saja tidak cukup. Itu yang Gofur katakan kepadaku ketika ia memaksaku menjadi budak nafsu berahi lelaki. Ia menjadikanku pelacur. Ia menjadikan istrinya sendiri sebagai pelacur. Aku masih ingat, ketika ia mengantarkanku ke sebuah gang tempat prostitusi berkembang biak. Aku dijejali ilmu seks dari ahlinya, artinya, dengan orang yang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai pelacur terlatih dan profesional. Aku diajari bagaimana cara melayani beragam jenis laki-laki, cara merayu, sampai posisi-posisi seks yang baru aku tahu. Mereka memberiku alat kontrasepsi dan pil agar aku tidak mengalami ‘kecelakaan’ saat bekerja. Aku tidak tahu mengapa aku melakukannya tetapi waktu itu aku tergiur rupiah dan orgasme yang sensasinya berbeda-beda dari tiap laki-laki yang memasuki lorong tergelapku, yang tak pernah aku rasakan ketika bercinta dengan Gofur. Banyak orang-orang memandang najis profesiku. Tapi yang harus masyarakat tahu, mereka, orang-orang yang seprofesi denganku, menjajakan tubuhnya karena satu faktor utama. Ekonomi. Bukan jadi rahasia umum lagi kan kalau di kota besar, susah sekali mencari pekerjaan yang upahnya layak? Setiap manusia bisa buta karena rupiah. Buta mata, buta hati dan nurani. Seperti suamiku. Dan aku akan melakukan apa saja demi keluarga dan anakku, Rian.

Di gang inilah kemudian yang mempertemukan aku dengan Mas Endra. Dia datang jauh-jauh dari Ibu Kota. Katanya, ia sedang menggarap proyek foto yang berlokasi di gang tempatku bekerja, dan yang memiliki objek seorang pelacur sepertiku. Dia dengan amat sopan meminta izin untuk berkenalan denganku. Aku harus mengenal objekku sebelum aku memotretnya, katanya dengan suara yang penuh penghormatan tanpa diskriminasi. Jadi, ceritakanlah segalanya tentang dirimu, lanjutnya. Aku awalnya enggan bercerita tetapi ketika aku melihat matanya yang seperti pintu terbuka, segala cerita tentangku terungkap dengan mudah di hadapannya.

“Saya percaya, tidak seorang pun ingin bekerja seperti apa yang kamu lakukan. Bukankah semua manusia melakukan sesuatu karena dilatarbelakangi satu hal lainnya? Masa lalu, misalnya..” Katanya. Aku tertegun. Laki-laki ini memang sebuah pintu yang terbuka, seperti sebuah rumah yang besar dan menerima siapa saja tak terkecuali seorang gelandangan.

Selama berminggu-minggu ia bersamaku, tinggal satu atap bersamaku, Rian, dan Gofur. Gofur tak masalah selama Mas Endra membayar dengan harga setimpal. Baginya, yang penting adalah uang, dan uang. Rarendra belum juga menyentuhku, padahal yang aku tahu, laki-laki ini masih lajang, dan kebebasan masih berada di tangannya. Yang dia lakukan hanyalah memotretku yang sedang melakukan apa saja dari kejauhan. Seperti seorang penggemar yang tak berani bertemu idolanya. Suatu hari aku mengajaknya ke dalam kamar di rumah prostitusi itu. Aku penasaran dengannya. Laki-laki yang tidak kelihatan bergairah lebih membuat penasaran daripada laki-laki yang seperti srigala kelaparan. Aku melepas semua kancing kemejaku, dan memperlihatkan tubuhku kepadanya. Dia menelan ludah. Bolehkah? Tanyanya. Aku tersenyum. Tentu. Bolehkah aku memotretmu? Gila! Hanya memotret? Akhirnya aku mengangguk saja. Dia mengarahkan poseku. Dia menyentuh pundakku, lenganku, tanganku, punggungku, pinggulku, segalanya ia sentuh dengan lembut. Aku seperti tersengat listrik. Bagaimanapun dia laki-laki yang memiliki naluri seorang lelaki. Akhirnya. Dia memasuki lorong tergelapku, tetapi tidak seperti laki-laki lainnya. Dia membawa kembang api dalam tubuhnya. Aku meledak, dan bercahaya di langit. Membuncah. Ramai. Dia seperti menghidangkan lagi kehidupanku yang dicuri itu. Dia membawakanku,cahaya. Dan harapan.

Ketika bercinta, Endra seperti radio tua yang bercerita dan menyanyikan lagu tanpa henti. Dia bercerita tentang masa kecilnya, kampung halamannya, cinta pertamanya, mengapa ia melajang sampai kini, tentang pengalamannya jadi wartawan foto, tentang kakek tua yang mempertahankan gubuk kecilnya agar tidak digusur pemerintah, tentang bagaimana orang-orang kecil sepertiku bertahan hidup, tentang orangtua yang tinggal di kampung, dan kesehariannya. Aku betul-betul seperti bocah yang sedang dininabobokan dengan dongeng tua yang sering diceritakan oleh Bapakku. Ah, Bapak, apa kabar? Ibu, apa kabar? Ah, betapa waktu sudah berlalu terlalu jauh.

Usai bercinta, ia menunjukkan hasil fotoku yang ia ambil lewat lensa kameranya. Dia benar-benar ahli melakukannya. Aku seperti hidup dalam bingkai-bingkai digital itu. Dia seperti benar-benar mengenalku.

“Kamu tahu, aku menyukai matamu. Kenapa? Karena di sana, aku melihat banyak mimpi.” Bisiknya.
“Maryam, cinta itu mengeksplorasi, bukan eksploitasi.”
“Maksudmu?”
“Aku lebih baik mengeksplorasi dirimu untukku, daripada mengeksploitasi kamu untuk dinikmati orang lain.”
“Aku tidak mengerti.”
“Aku ingin melepaskanmu. Membebaskan kamu dan Rian. Dari Gofur.”
“Tapi….dia suamiku, Mas.”
“Suami itu menafkahi, Maryam. Bukan menjual kamu demi uang.”
“Ini demi Rian, anakku!”
“Rian? Coba kamu pikirkan, bagaimana perasaan Rian bila melihatmu seperti ini?”
Aku menangis. Aku bahkan tidak berani membayangkan Rian tumbuh dewasa dan melihat ibunya ditelanjangi laki-laki lain yang bukan Ayahnya.
“Coba rasakan kembali hati kamu. Apakah kamu bahagia? Apa kamu tidak merasa terpenjara selama ini?” Endra kembali bertanya. Pertanyaan yang sebenarnya berat kuakui jawabannya. Tidak. Aku tidak bahagia. Aku terpenjara!
“Aku janji, Maryam. Aku akan membahagiakan kamu dan Rian. Aku akan menyekolahkan dia dengan layak. Aku ingin memperlakukan kamu dengan layak. Kamu pantas bahagia.”
“Bagaimana dengan Gofur?”

Endra tersenyum. Senyum yang benar tulus. “Kamu tanya lagi pada hati kecil kamu, apa kamu masih mencintai Gofur? Kalau kamu masih mencintai dia, dan bahagia bila besama dia, aku akan melepas kamu. Lusa, mungkin aku akan pulang ke Jakarta.”

Jeda. Apa aku masih mencintai Gofur? Jujur, sebenarnya setelah Rian lahir, hubunganku dengan Gofur tak lagi seperti sepasang suami-istri, lagipula kami belum benar-benar menikah. Hubungan kami belakangan ini hambar. Sangat hambar. Bahkan, aku muak. Gofur hanyalah seorang pengangguran dan ayah yang tak bertanggung jawab.

“Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku…aku… rindu kehidupanku sebagai manusia seutuhnya.”
“Jangan takut Maryam. Aku akan mengurus semuanya. Aku akan datang ke rumah orangtuamu, dan menikahimu.” Katanya sambil dengan lembutnya ia mencium keningku. Dan memelukku. Erat.

Cinta itu ada, tetapi untuk makan dan minum, cinta saja tidak cukup. Mas Endra betul-betul menunaikan janjinya. Ia menikahiku, dan menafkahi aku dan Rian sebagaimana laiknya. Bukan hanya itu, dia juga membawa semua mimpiku bersama Gofur dahulu. Tinggal di sebuah rumah di Ibu Kota dan membawa kedua orangtuaku melancong keliling Jakarta. Sedangkan Gofur? Dia harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sebelum bertanggung jawab atas kehidupan orang lain.

 

-end-

Depok, 20 November 2015

PS : Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Iklan