Bapak Itu

bapak itu menghirup cuaca
dingin hangatnya menempel di hidung
bau ikan mati, amis, dan limbah pabrik mengerubung
lalat-lalat hinggap di wajahnya

bapak itu memandangi teras rumah
ada teko kecil di atas tungku yang sudah lama padam
anak-anak kucing menetek pada induknya
di bawah bangku yang telah lama ingin dipindahkan

bapak itu mencium bokong tembakau
asapnya mengerubung wajahnya
perlahan bau laut menjauh
bau ikan mati, amis, dan limbah pabrik tetap tinggal

setiap pagi, setiap petang, setiap malam, dan di mimpinya

 

Depok, 27 Desember 2015

*Puisi ini untuk Bapak Yayang yang tinggal di pemukiman Nelayan di Pinggir Ibu Kota dan di Tengah Kemegahan Industri Limbah.

Desember 2015

manusia memiliki sejuta rahasia
salah satu dari kau, tidak sanggup menebaknya
perihal-perihal yang disembunyikan seperti gerak cuaca
kau, siapa pun tak mungkin tahu ke mana mereka menuju

desember bulan yang wangi bagi kesedihan
bunga dan tanah dibiarnya saling berkecupan
merebaklah segala yang berwujud cinta dan riwayatnya
ke mana kah ia ingin? ke mana ia akan memuja?

desember menatap matahari dengan jenaka
aku tahu kau tak menginginkannya
seperti tak mengingini santa menghadiahi sebelah kaus kaki saat natal tiba
dan dunia telah disulap menjadi hal-hal di mana mimpi tenggelam

de-sem-ber, kau mengejanya di pojok jendela
wangi-wangi yang dulu tak seabadi di pikiranmu
dunia terbatuk-batuk di sudut usianya
sebentar lagi, sebentar lagi tiba…

 

Depok, 27 Desember 2015