Cermin dan Sepasang Kekasih

Cermin itu memandang saya tanpa prasangka. Di sana tergambar wajah saya. Cekung di kedua pipi dan dua kantung hitam di bawah mata saya. Sudahkah saya bahagia hari ini? Tanya saya kepada cermin itu. Cermin itu tersenyum centil. Lagi-lagi tanpa prasangka. Saya sapukan bedak padat keluaran belahan dada dataran Eropa itu ke wajah saya yang tirus, kata saya. Spoon lembut menepuk-nepuk pelan kantung mata saya, agar samar noda usia dan akibat susah tidur itu di wajah saya. Terakhir, sapuan gincu warna kesenangan saya, merah gelap, ke bibir saya. Saya tersenyum puas. Begitu juga cermin di hadapan saya. Dia tersenyum, mengatakan saya cantik berkali-kali, menyenangkan hati saya. Tanpa prasangka. Ya, tanpa prasangka samasekali.

Dunia ini hampir tumpah oleh prasangka-prasangka buruk. Di mana sebagian manusia tumbuh hidup lebih banyak dengan pikiran-pikiran buruknya kepada manusia lain. Di mana manusia-manusia itu tumbuh tanpa mengenal perbedaan. Manusia-manusia yang katanya alangkah jauhnya dari dosa, dan menuding yang lain berdosa. Setidaknya begitu. Saya masih menatap cermin ketika angkara murka membakar dada saya. Saya lebih baik menatap cermin daripada menonton televisi. Televisi kini menelanjangi dosa manusia dan memakaikannya ke acara mereka agar diberi rating tinggi. Dosa terbanyak kalah dengan dosa yang kecil. Suara-suara indah di televisi harus tenggelam ketika yang buruk lebih mendatangkan keuntungan. Ah, saya mengeluh lagi. Sudah lama rasanya tidak melenguh dan bahagia.

Dering telepon genggam menyanyikan lagu Last Night Somebody Loved Me-nya The Smiths. Saya langsung hapal siapa yang menelepon. Drew. Tercintaku, terkasihku. Saya masih memandang cermin. Nampak kedua pipi saya yang cekung itu merona. Oh, tidak, saya belum mengenakan blush on pun, lelaki ini telah menjerang pipi saya dengan kata-katanya hingga memerah begini.

“Halo, sayang…” bisiknya manja di telepon. Saya tidak bisa menyembunyikan raut senang saya di hadapan cermin. Cermin itu tertawa tanpa prasangka. Saya membalas sapaan Drew tak kalah mesra.

“Aku rindu kamu. Sudah lama rasanya kita nggak ngopi dan bercakap-cakap bersama, mengemut batang rokok berdua, dan bercinta di kamar kosmu,” Drew berbisik manja di telepon, membuat saya terangsang. Ah, Drew.

“Dandanlah yang cantik, Nona, aku akan menjemputmu pukul tujuh. Aku ingin menghabiskan malam denganmu,” Drew merayu lagi. Saya tak punya kuasa menolak. Sungguh saya mencintai lelaki separuh baya itu. Dan tak ada yang boleh melarang saya mencintai orang lain. Tak ada.

Selesai. Telepon ditutup dan saya kegirangan di depan cermin. Oh, harus pakai gaun apa aku nanti? Oh, aku tak membutuhkan gaun. Dia mencintai saya apa adanya. Tak perlu gaun, tak perlu rok selutut, tak perlu baju ketat yang memamerkan buah dada ranum. Tidak perlu. Cinta kami barangkali aneh, tetapi yang tak perlu saya khawatirkan adalah matanya. Dua mata Drew yang tidak pernah menatap dadaku dengan wajah setengah atau sepenuh-penuhnya mupeng. Sekalipun begitu, kami bercinta dengan sangat baik. Seperti sepasang merpati yang berciuman di atas dahan pepohonan. Seperti burung gereja yang berpagut mesra dengan sebutir biji jagung yang tengah mereka perebutkan. Cinta di berbagai tempat barangkali sama, tetapi barangkali juga saya salah, cinta itu berbagi. Benarkah begitu? Dan Drew dan saya, telah saling berbagi. Benar ataupun salah.

“Cinta tak pernah menang.”

Saya sedang menyeruput mocca latte saya ketika Drew berbicara begitu. Kami tengah terlibat perbincangan yang tak ada habis-habisnya. Tentang cinta. Tetapi mendengarnya bicara begitu, hati saya seperti teriris.

“Cinta selamanya tak pernah menang melawan jeruji-jeruji yang memiliki nama lain,” Drew tersenyum. Saya menatapnya. Perlu bermenit-menit untuk memahaminya. Tetapi cinta tak pernah salah tafsir, saya tahu maksudnya, saya paham ketidakterimaannya, saya memahami kesedihannya. Seperti dia memahami kesedihan saya. Saya pegangi punggung tangannya yang dingin.

“Saya ingat kisah cinta yang begitu tragis. Tak pernah diterima bumi, karena tak elok,” dia melanjutkan ceracaunya. Inilah bagian yang paling saya tunggu-tunggu. Mendengarnya berdongeng.

“Ceritakan. Kita ke sini kan untuk bercakap-cakap…” saya mengerling nakal, mengemut ujung bibir saya.

“Baiklah. Aku rasa, kamu sudah mendengarnya berkali-kali..”

“Aku takkan pernah bosan mendengar apapun yang berulang-ulang dari bibirmu, Drew.”

“Ah, alangkah manisnya kamu.. baiklah. Begini..”

Drew mulai mengisahkan kembali kisah tragis itu. Sepasang kekasih yang saling mencintai. Ditakdirkan Tuhan untuk saling bertemu, bercakap-cakap, saling merayu, kemudian mencintai. Ah, begitukah Tuhan menciptakan cinta? Dan, apakah luka diciptakan untuk menyempurnakan cinta? Nah, dengarkan ini. Kisah yang diceritakan Drew, dan semua itu membuat saya bergairah. Untuk mencintainya.

Perempuan berkulit sehalus pahatan porselen itu kelihatan sedang menunggu di balkon istana dengan gaun yang mengembang di bawah pinggulnya. Sudah lama ia termenung-menung sejak subuh membangunkannya. Ia juga telah melihat matahari terbit dari tempatnya menunggu. Sungguh indah. Inilah dia tahu, bagaimana awalmula Tuhan menciptakan cinta. Hadirnya cinta barangkali lebih dahulu daripada Tuhan menciptakan bebunga atau kupukupu atau pagi. Siapa yang tahu? Segala keindahan bermuasal dari cinta. Ya, cinta. Dia percaya. Senyum di bibir tipis yang berwarna serupa jingganya senja tersenyum, seperti matahari yang terbit di kaki pegunungan Alpen. Jingga di tengah-tengah kerumunan salju yang putih dan puitis. Umurnya baru mencapai lima belas, dan kini ia tengah menunggu jodohnya. Pipinya yang putih tanpa cacat dan noda itu kini bersemu merah muda. Jodoh yang ditunggunya telah datang. Gerobak kuda yang penuh oleh botol-botol susu, dan seorang pemuda dari ujung benua. Pemuda itu berkulit cokelat, berhidung tinggi, dan rahangnya keras. Lelaki sejati. Bagi perempuan mahajelita itu, lelaki itu ialah seorang pengelana yang akan berakhir di sini. Di tubuhnya. Tetapi keyakinan perempuan itu segera dipatahkan. Pemuda penjual susu itu dibunuh ayahandanya sendiri. Tepat di depan matanya. Ia melihat pemuda yang iacintai digantung di kayu tinggi, tempat para tawanan, pemberontak dan pengkhianat istana dijatuhi hukuman mati. Dan, pemuda itu, pemuda yang ia cintai, pengelana jantan itu, mati. Dibunuh perasaan cintanya sendiri. Salahnya sendiri, kata perempuan jelita itu dalam hati. Ia menyesal. Di hari pernikahannya dengan lelaki yang ia tak kenali dan tak juga ia cintai, perempuan itu kabur. Lari. Lari dari takdirnya yang kembali mengikatnya dengan kehilangan yang lain. Ya, perempuan jelita itu, puteri tunggal kerajaan tak bernama itu, lari bersama pangeran penjual susu yang ia cintai. Laki-laki yang mati digantung karena sebab-musabab perasaan cinta. Cinta tulusnya. Pembunuh-pembunuh itu, ya, perempuan jelita itu memanggil ayahnya sendiri pembunuh, mengatakan lelaki yang ia cintai itu melanggar aturan dan norma. Apa katanya? Norma? Perbedaan kelas menjadi tolak ukur batas-batas norma diciptakan. Keadilan menutup mukanya ketika itu. Dan nyawa? Harus digantung sia-sia karena melawan norma yang sebenarnya tak kalah sia-sianya. Dan, ke mana cinta pergi? Perempuan itu terus bertanya-tanya. Apakah Tuhan menciptakan cinta bersama dosa sekaligus? Mengapa cinta harus disalahkan? Mengapa cintanya kepada pemuda itu justru membunuh perasaan cinta di hati manusia-manusia yang membunuh laki-laki yang ia cintai? Apakah cinta suatu kejahatan yang harus dilenyapkan? Bukankah cinta lahir atas kehendak-Nya? Oh, perempuan jelita itu berteriak histeris ketika pengelana penjual susu itu baru jadi bangkai. ‘Turunkan ia! Turunkan ia!’ perempuan itu berlari dari kursi kebesarannya. Ayahandanya terperanjat, mukanya memerah melihat kelakuan putrinya, yang baginya menghinakan. Perempuan itu menangis menyusuri lapangan gundul yang begitu dekat dengan kematian kekasihnya. Ia menghampiri kekasihnya dan tersedu-sedan memeluk lelaki yang kini sudah menjadi bangkai itu. Memeluk kaki kekasihnya yang masih digantung di tiang tinggi. ‘Tak ada cinta di tanah kita, tak ada’ bisiknya. Para algojo menarik puteri cantik itu menjauh dari bangkai yang menurut mereka tengik itu. Tetapi puteri secantik itu melawan. Dengan tangan yang sigap, ia menarik senjata laras pendek berpeluru itu dari pinggang algojonya. Dan tak kalah cekatannya, di bawah kaki kekasihnya, ia menembakkan kepalanya sendiri. Kepalanya, wajahnya yang cantik tiada tandingan di negeri itu, telah hancur berkeping-keping. Pecah tak bersisa. Hanya ada darah bersimbah dan airmata di tanah lapang yang begitu dekat dengan maut sepasang kekasih. Ayahandanya melolong, begitu pula ibundanya, dan mereka berdua kini tahu, bagaimana rasanya menjadi puteri yang semata-wayang itu, kehilangan cinta. Kehilangan cinta nyatanya lebih pahit dari kehilangan tahta dan kehormatan.

“Adakah sesungguhnya kisah itu, Drew?”saya bertanya terengah-engah. Drew sedang melumat leherku dengan ganasnya. Napasnya memburu. Panas dan membara. Kami telah berpindah lokasi. Sekarang ini bukan lagi di kedai kopi yang tadi. Ruangan ini adalah kamar kos saya.

“Kisah yang mana?” tanyanya lagi. Saya tahu dia sedang tersesat dalam tubuh saya. Lihat, matanya tengah terpejam dan dengan rakusnya melumat leher saya, kemudian bibir, kemudian kembali ke leher. Drew sangat haus. Dan saya tengah menjadi air mineral pemuas rasa hausnya.

“Emh…” saya melenguh, akhirnya.

“Kisah si puteri cantik dan si penjual susu,” saya melenguh lagi dan, ya. Dosa itu terlampau nikmat.

“Tak tahulah aku. Tetapi,” Drew menatap saya sekejap kemudian melumat kembali bibir saya. Tangannya mengembara di dada saya yang serupa dataran tanpa kawah dan gunung yang kembar. Kemudian tangannya turun lagi, menyentuh dan meremas pistol yang selama ini tersembunyi dalam celana. Pistol yang tak pernah berburu ke gua-gua. Pistol yang selama ini saling menembak bersama pistol yang lain. Dan saya, dan Drew sama-sama menyukai perang panas ini.

Sementara dunia dan isinya sibuk memberi makan prasangka masing-masing, tubuh saya dan tubuh lelaki di depan saya ini sudah bermandi peluh, dan cairan yang lain. Sementara dunia dan isinya sibuk berprasangka tentang cinta kami, cermin itu, cermin di hadapan saya, sedang mamandang kami yang telanjang, tanpa prasangka. Samasekali. O, Tuhan, apakah engkau juga memiliki prasangka?

 

TAMAT

Depok, 26 Januari 2016

Iklan

Perangkap Kata-Kata

Hidup hanyalah ilusi kata-kata.
Hidup ialah perangkap perangkap yang engkau maklumi.
Hidup ialah perangkap perangkap yang kau junjung tinggi.
Hidup ialah perangkap perangkap yang kau cintai,
Seperti agama,
Seperti kekasih,
Seperti waktu.
Kita hidup saling memeluk dan dipeluk oleh sepasang ketiadaan.
Ketiadaan yang ada.
Ketiadaan yang samar.
Ketiadaan yang tiada.

Kita menjalani hidup
Tanpa berpengetahuan dan mencaci-maki,
Berpengetahuan dan saling melukai.

Ada yang terkoyak di jantung tanah kita. Bunga-bunga mencari air. Rerumputan mencari matari. Kupukupu mencari sayapnya. Ada yang hilang di tanah kita.

Yang terkoyak telah lama mati. Dan yang dicari telah lama hilang.

Hidup ialah mencari apa yang hilang, dan tak mungkin ada, tetapi diyakini ada.

Berita hari ini: Perdamaian Tewas Ditusuk Parang Keadilan.

Adam Zulkarnaen Berangkat

Adam Zulkarnaen berangkat. Suara pintu kayu berderit ketika ia menutupnya dan meninggalkan sepetak tanah sewaan itu. Matahari belum nampak ketika itu. Udara masih sedingin air es. Tekadnya sudah bulat. Ia berjalan menyusuri kampung tempat tinggalnya, dilewatinya rumah Pak Amri si Ketua RT, surau tempatnya mengaji, dan rumah ustad Djaelani di pinggir jalan raya menuju kota.

Adam Zulkarnaen berangkat. Sepasang kaki yang dibungkus sepatu keluaran Amerika palsu, naik ke dalam angkutan umum, sejenak ia ragu, tetapi tekadnya sudah bulat. Angkutan umum itu akan mengantarkannya menuju stasiun. Angkutan umum selalu ramai ketika pagi. Ada seorang ibu paruh baya yang mengenakan busana kantor serta kerudung yang melengkapinya, ada dua anak sekolahan, ada beberapa bapak paruh baya yang sudah rapi hendak berangkat ke kantor, dan ada muda-mudi berpakaian seperti Adam, entahlah, mungkin ingin kuliah.

Adam Zulkarnaen memandang sekelilingnya, kemudian tertunduk. Entah apa yang dipikirkannya. Ia kelihatan gugup dan gelisah. Beberapa pasang mata mengarah kepadanya. Di balik kaus polo tuanya, keringat dingin sudah lama turun dari pori-porinya. Adam merasa telah tertangkap basah, ia merasa tengah diintai. Ia sampai tak berani mengangkat pandangannya dan balas memandang orang-orang yang tengah menatapnya sekilas lalu kembali lagi terpaku pada layar ponsel masing-masing.

Adam Zulkarnaen sudah sampai di stasiun kotanya. Ia memesan tiket kereta, menyebut tempat tujuannya sembari menunduk, membuat petugas Kereta Api bergumam, orang yang aneh. Kemudian Adam tergesa menuju peron dan menunggu kereta tujuannya dengan gelisah. Berulangkali ia betulkan letak topi hitam berlogo contrengan, topi buatan Amerika palsu. Membetulkan kerah kaus polonya, dan menghentak-hentak kakinya. Tangannya sibuk meremas-remas kantung celana jins-nya. Ia memegang erat-erat kartu kereta beserta tekad dan keyakinannya. Semuanya sudah bulat. Semuanya sudah matang sesuai rencana.

Adam Zulkarnaen sudah tiba di stasiun tujuannya. Masih pukul tujuh pagi, tetapi semua orang di dalam waktu pukul tujuh itu sudah tergesa-gesa. Segalanya terburu-buru seperti hendak menghindar dari kematian, dan mengejar duniawi. Adam tidak memikirkan apa-apa ketika hendak menjauh dari peron dan menempelkan kartu kereta ke mesin otomatis yang ada di depan pintu keluar stasiun. Ia masih berjalan menunduk ketika berhadapan dengan petugas Kereta Api yang mengenakan seragam hitam-hitam.
Adam Zulkarnaen kaget bukan kepalang ketika ponsel tua keluaran Finlandia itu bergetar di balik saku celana jinsnya. Ia ikut bergetar. Tangannya bergetar ketika melihat nomor yang tiada bernama itu memanggilnya. Ia menekan tombol halo.

“Uangnya sudah masuk rekeningmu. Bilang pada istrimu. Hapus panggilan ini,” kata orang di dalam ponsel itu sebelum lenyap di telinganya. Adam tak berkata apa-apa. Ia langsung menghapus nomor itu, dan melangkah lagi. Tekadnya sudah bulat.

Adam Zulkarnaen terpaku di depan gerbang stasiun. Menunggu. Sampai sebuah mobil berwarna gelap menghampirinya. Kacanya yang juga gelap terbuka. Di situ ada Moh Samin, Salaudin, dan Murkito. Mereka semua berpenampilan sama seperti seragam, tetapi sebenarnya tidak.

“Masuk.”

Adam Zulkarnaen masuk seperti robot yang diperintah manusia. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Mereka semua diam beberapa saat. Diam tak bersuara. Hanya ada deru mesin mobil yang akan membawa mereka ke tujuannya.

“Ini perang!” ujar Moh Samin.
“Kita berperang,” Salaudin membeo.
“Ya, perang.” Murkito ikut membeo.

Adam Zulkarnaen terpaku. Ia tak dapat berkata-kata, lebih tepatnya enggan. Lebih tepatnya lagi, bingung. Batinnya sendiri sedang berperang. Tetapi tekad itu sudah bulat. Ya, demi. Demi.

Adam Zulkarnaen sedang melamun. Ia biarkan dirinya dibawa terbang berjalan-jalan menuju apa pun. Ia biarkan dirinya melayang-layang menembus apa pun. Ia bayangkan sosok Siti Nur, anak juragan beras di kampungnya. Mantan kekasihnya dahulu ketika ia belum menginjakkan kakinya di tanah yang sekarang ia injak. Dahulu sebelum menikah dengan Meisarah, istrinya. Siti Nur, anak juragan beras, kekasihnya, calon istrinya apabila Allah menghendaki, dan apabila si tua juragan beras itu menginginkan. Siti Nur, mantan kekasihnya yang bunuh diri tujuh tahun lalu di kebun bapaknya karena cintanya dengan Adam Zulkarnaen tidak direstui. Karena perbedaan klas.

“Kejarlah kematianmu, Adam Zulkarnaen. Niscaya kamu akan menemui Siti Nur, kecintaanmu itu!” masih terngiang-ngiang ucapan laki-laki bersuara parau itu. Suara Moh Samin.
“Kita berada di jalan yang benar!” yakinnya lagi.
“Kamu ingat, bukan hanya akan bertemu Siti Nur saja nanti. Ingat, ibu bapakmu. Sudah berapa lama mereka ingin naik haji? Ke Makkah?” Adam Zulkarnaen masih diam. Ia sudah kalah sejak dalam perang batinnya.
“Kamu akan membahagiakan kedua orang tuamu. Percayalah. Kamu akan jadi kekasih Tuhan dan Siti Nur. Tuhan dan Siti Nur menunggumu. Laksanakan tugas ini. Kubur rasa takutmu, Adam! Kamu berada di jalan yang sebenar-benarnya!” Moh Samin kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Di dalam perang batin dan kebingungannya. Ia kalah. Ia termakan bujuk rayu Moh Samin.

Adam Zulkarnaen sudah tiba di tempat tujuannya. Matahari ketika itu sudah tak malu lagi keluar dari singgasanannya. Memperhatikan gerak-gerik Adam Zulkarnaen, Moh Samin, Salaudin dan Murkito. Pukul sepuluh pagi. Jalanan sudah mulai lancar, tidak seramai sejam sebelumnya. Ia turun dari mobil yang tadi membawanya. Membawa tekad dan keyakinannya bulat-bulat. Oh, ya, dan tak lupa bujuk rayu Moh Samin dan janjinya.

Adam Zulkarnaen tengah bersiap. Sungguh kali ini yang membenak di pikirannya bukan lagi Siti Nur dan kasih Tuhan yang menunggunya. Ia sedang terbayang Meisarah dan putri kecilnya yang sedang tidur damai di pelukan ibunya, Meisarah. Balita itu bergeliat manja ketika tangan Adam Zulkarnaen mengusap keningnya. Tidakkah kamu tidak ingin mencium tangan Ayah, Nak? Ingin sekali Adam Zulkarnaen membuang air matanya demi rasa melankoli yang tiba-tiba muncul menghampirinya, tetapi ia urung. Lebih tepatnya tidak bisa. Tidak ingin, atau tidak bisa ia tak mampu membedakannya.

“Laksanakan tugasmu, dan kamu akan mendapatkan segalanya. Ingat ini, Adam!” Moh Samin mengingatkan ketika ia melihat Adam melamun dan sedikit terlihat gurat ragu di wajahnya.
*
Adam Zulkarnaen adalah sebuah nama dari seorang Aburidjal Mutakin, yang tak lain adalah Ayahanda Adam. Ia lahir dari rahim seorang ibu bernama Rofiah. Adam Zulkarnaen lahir di tengah-tengah keluarga yang lumayan saleh. Ayahnya, Aburidjal, adalah orang yang taat, beliau selalu mengajak Adam sholat berjamaah di surau kampungnya, dan menyuruh Adam Zulkarnaen mengaji. Adam Zulkarnaen kecil yang keras kepala itu sempat dipukul pakai rotan karena tidak mau mengaji di surau bersama ustad Dullah, ustad yang mengajarinya mengaji waktu kecil. Adam Zulkarnaen lalu patuh mengaji sambil menggerundel sepanjang pejalanan dari rumah hingga surau. Ibu Rofiah, ibu dari Adam memang tidak sekeras suaminya, Aburidjal, ia hanya mampu melihat anak sematawayangnya dipukuli rotan bila tidak mau mengaji dan malas sholat berjamaah di masjid.

“Kamu ndak boleh ninggali sholat, le. Sekarang kamu hanya dipukul rotan sama bapak, nanti kalau kamu ninggali sholat, kamu dipukul pake rotan api di neraka. Kamu mau, le?” seingat kepala Adam Zulkarnaen, setelah ibunya mengatakan begitu, ia tak berani meninggalkan sholat.
“Kalau kamu rajin sholat, nanti kamu masuk surga, Nak.” Rofiah tersenyum menatap anaknya. Mata Adam Zulkarnaen kecil berbinar.
“Di surga ada apa saja, Bu?” tanyanya polos.
“Segalanya yang nikmat, halal, dan tidak ada di bumi kita ini, Nak, ada di surga. Segala apa yang kamu mau ada di surga.” Rofiah tersenyum puas. Ia senang melihat Adam, anaknya, jadi rajin sholat berjamaah di surau.

Setelah dewasa dan kehilangan Siti Nur, ia merantau ke kota kecil di luar kampung halamannya. Ia bekerja serabutan, mulai dari kurir barang, kuli bangunan, tukang ojek, sampai tukang urut. Ia masih memegang petuah ibunya untuk rajin beribadah. Sholat dan mengaji adalah yang utama. Demi surga, demi surga.

Ia kadang datang ke surau untuk mendengar ceramah Wak Damar. Surau yang terlihat seperti bukan surau. Yang datang juga bisa dihitung jari. Di tempat itulah kemudian ia bertemu Moh Samin. Moh Samin cukup aktif dalam organisasi di surau itu, dan Moh Samin-lah yang paling dekat dengannya. Bahkan, Adam Zulkarnaen mampu menceritakan tentang Siti Nur dan kematiannya yang tidak wajar kepada Moh Samin. Air muka Adam Zulkarnaen datar saja ketika ia menceritakan tentang Siti Nur, dan hal inilah yang dipegang oleh Moh Samin. Sampai akhirnya Adam Zulkarnaen menikah dengan Meisarah, Moh Samin tahu, hanya Siti Nur yang bergelayut dalam hati Adam Zulkarnaen. Moh Samin menang sejak sebelum menyusun rencana.

Sebulan sebelum penyusunan rencana, Adam Zulkarnaen pulang kampung ke tanah lahirnya. Ke tempat Aburidjal dan Rofiah tinggal. Kampungnya saat itu sedang ramai orang pulang dari tanah suci. Ini adalah musim haji. Saat Adam Zulkarnaen sampai di rumah pun, Rofiah sedang mengaji di tetangganya, Ibu Afifah yang baru pulang dari tanah suci, dan selamat dari tragedi Mina. Sedang Aburidjal sedang menonton ceramah saat Adam menginjakkan kaki di terasnya.

“Ibu kemana, Pak?” tanya Adam Zulkarnaen datar setelah menenggak air putih dingin yang baru saja ia ambil dari kulkas bekas yang dikasih tetangganya.
“Di bu Afifah. Sedang pengajian. Beruntung dia, sudah haji dua kali!” Aburidjal menggumam. Adam Zulkarnaen menganggap, ada suatu isi tersirat dari ucapan Bapaknya. Suatu keinginan di usia yang renta ini.
Selang berpuluh menit kemudian, Rofiah pulang dengan membawa bingkisan berisi besek makanan, kerudung arab, air zam-zam, dan kacang arab dari bu Afifah. Ia agak terkejut bercampur senang melihat kehadiran anak sematawayangnya yang tiba-tiba. Matanya berkaca-kaca.
“Le, kamu pulang, Nak!” Adam Zulkarnaen mencium tangan ibunya.
Beberapa menit kemudian, ibunya sudah bersemangat berapi-api menceritakan cerita yang dibawa bu Afifah dari tanah suci. Ibunya terus melantunkan subhanallah ke langit dengan mata berkaca-kaca. Rofiah menatap anak sematawayangnya yang diam saja sejak kedatangannya.
“Ibu ingin sekali naik haji, Nak.”

Kemudian, itulah yang dibawa Adam Zulkarnaen ketika kembali ke tanah perantauannya. Ke kota yang kini ia tinggali. Kalimat itulah.
*

Pukul sepuluh lewat empat puluh menit.

Adam Zulkarnaen meledak. Tubuhnya meletus seperti air laut yang berhamburan ketika dihantam batu besar. Seperti api yang marah. Ia berkobar dalam tubuhnya.

Adam Zulkarnaen telah selesai melaksanakan tugas.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh delapan menit, Adam Zulkarnaen mendengar bisikan dari telinga kanannya, sebelum ia meledak.

“Demi Allah, membunuh sesama manusia itu dosa besar! Agama manapun tidak membenarkan hal itu. Agama kita adalah agama yang damai. Yang mengindahkan perbedaan, yang meninggikan toleransi terhadap umat beragama lainnya. Jika ingin berjihad, jihadlah di jalan yang benar. Nafkahi anak dan istrimu dengan halal adalah jihad sesungguhnya!” itu adalah suara ceramah yang ditonton Aburidjal, ayahnya, di tivi, ketika ia baru sampai teras rumahnya.

 

Tetapi bisikan itu terlambat. Adam Zulkarnaen sudah meledak. Lebur bersama Moh Samin dan bujuk rayunya.

Pukul sepuluh lewat empat puluh dua menit, Siti Nur muncul.

“Bangun Bang Zul, temani aku di neraka.”

***Tamat***

ps : ini adalah fiksi belaka. bukan kejadian sebenarnya apalagi fakta. ini hanya sebuah cerita yang diilhami kejadian bom sarinah tempo lalu. salam.

Depok, 18 Januari 2016