Adam Zulkarnaen Berangkat

Adam Zulkarnaen berangkat. Suara pintu kayu berderit ketika ia menutupnya dan meninggalkan sepetak tanah sewaan itu. Matahari belum nampak ketika itu. Udara masih sedingin air es. Tekadnya sudah bulat. Ia berjalan menyusuri kampung tempat tinggalnya, dilewatinya rumah Pak Amri si Ketua RT, surau tempatnya mengaji, dan rumah ustad Djaelani di pinggir jalan raya menuju kota.

Adam Zulkarnaen berangkat. Sepasang kaki yang dibungkus sepatu keluaran Amerika palsu, naik ke dalam angkutan umum, sejenak ia ragu, tetapi tekadnya sudah bulat. Angkutan umum itu akan mengantarkannya menuju stasiun. Angkutan umum selalu ramai ketika pagi. Ada seorang ibu paruh baya yang mengenakan busana kantor serta kerudung yang melengkapinya, ada dua anak sekolahan, ada beberapa bapak paruh baya yang sudah rapi hendak berangkat ke kantor, dan ada muda-mudi berpakaian seperti Adam, entahlah, mungkin ingin kuliah.

Adam Zulkarnaen memandang sekelilingnya, kemudian tertunduk. Entah apa yang dipikirkannya. Ia kelihatan gugup dan gelisah. Beberapa pasang mata mengarah kepadanya. Di balik kaus polo tuanya, keringat dingin sudah lama turun dari pori-porinya. Adam merasa telah tertangkap basah, ia merasa tengah diintai. Ia sampai tak berani mengangkat pandangannya dan balas memandang orang-orang yang tengah menatapnya sekilas lalu kembali lagi terpaku pada layar ponsel masing-masing.

Adam Zulkarnaen sudah sampai di stasiun kotanya. Ia memesan tiket kereta, menyebut tempat tujuannya sembari menunduk, membuat petugas Kereta Api bergumam, orang yang aneh. Kemudian Adam tergesa menuju peron dan menunggu kereta tujuannya dengan gelisah. Berulangkali ia betulkan letak topi hitam berlogo contrengan, topi buatan Amerika palsu. Membetulkan kerah kaus polonya, dan menghentak-hentak kakinya. Tangannya sibuk meremas-remas kantung celana jins-nya. Ia memegang erat-erat kartu kereta beserta tekad dan keyakinannya. Semuanya sudah bulat. Semuanya sudah matang sesuai rencana.

Adam Zulkarnaen sudah tiba di stasiun tujuannya. Masih pukul tujuh pagi, tetapi semua orang di dalam waktu pukul tujuh itu sudah tergesa-gesa. Segalanya terburu-buru seperti hendak menghindar dari kematian, dan mengejar duniawi. Adam tidak memikirkan apa-apa ketika hendak menjauh dari peron dan menempelkan kartu kereta ke mesin otomatis yang ada di depan pintu keluar stasiun. Ia masih berjalan menunduk ketika berhadapan dengan petugas Kereta Api yang mengenakan seragam hitam-hitam.
Adam Zulkarnaen kaget bukan kepalang ketika ponsel tua keluaran Finlandia itu bergetar di balik saku celana jinsnya. Ia ikut bergetar. Tangannya bergetar ketika melihat nomor yang tiada bernama itu memanggilnya. Ia menekan tombol halo.

“Uangnya sudah masuk rekeningmu. Bilang pada istrimu. Hapus panggilan ini,” kata orang di dalam ponsel itu sebelum lenyap di telinganya. Adam tak berkata apa-apa. Ia langsung menghapus nomor itu, dan melangkah lagi. Tekadnya sudah bulat.

Adam Zulkarnaen terpaku di depan gerbang stasiun. Menunggu. Sampai sebuah mobil berwarna gelap menghampirinya. Kacanya yang juga gelap terbuka. Di situ ada Moh Samin, Salaudin, dan Murkito. Mereka semua berpenampilan sama seperti seragam, tetapi sebenarnya tidak.

“Masuk.”

Adam Zulkarnaen masuk seperti robot yang diperintah manusia. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Mereka semua diam beberapa saat. Diam tak bersuara. Hanya ada deru mesin mobil yang akan membawa mereka ke tujuannya.

“Ini perang!” ujar Moh Samin.
“Kita berperang,” Salaudin membeo.
“Ya, perang.” Murkito ikut membeo.

Adam Zulkarnaen terpaku. Ia tak dapat berkata-kata, lebih tepatnya enggan. Lebih tepatnya lagi, bingung. Batinnya sendiri sedang berperang. Tetapi tekad itu sudah bulat. Ya, demi. Demi.

Adam Zulkarnaen sedang melamun. Ia biarkan dirinya dibawa terbang berjalan-jalan menuju apa pun. Ia biarkan dirinya melayang-layang menembus apa pun. Ia bayangkan sosok Siti Nur, anak juragan beras di kampungnya. Mantan kekasihnya dahulu ketika ia belum menginjakkan kakinya di tanah yang sekarang ia injak. Dahulu sebelum menikah dengan Meisarah, istrinya. Siti Nur, anak juragan beras, kekasihnya, calon istrinya apabila Allah menghendaki, dan apabila si tua juragan beras itu menginginkan. Siti Nur, mantan kekasihnya yang bunuh diri tujuh tahun lalu di kebun bapaknya karena cintanya dengan Adam Zulkarnaen tidak direstui. Karena perbedaan klas.

“Kejarlah kematianmu, Adam Zulkarnaen. Niscaya kamu akan menemui Siti Nur, kecintaanmu itu!” masih terngiang-ngiang ucapan laki-laki bersuara parau itu. Suara Moh Samin.
“Kita berada di jalan yang benar!” yakinnya lagi.
“Kamu ingat, bukan hanya akan bertemu Siti Nur saja nanti. Ingat, ibu bapakmu. Sudah berapa lama mereka ingin naik haji? Ke Makkah?” Adam Zulkarnaen masih diam. Ia sudah kalah sejak dalam perang batinnya.
“Kamu akan membahagiakan kedua orang tuamu. Percayalah. Kamu akan jadi kekasih Tuhan dan Siti Nur. Tuhan dan Siti Nur menunggumu. Laksanakan tugas ini. Kubur rasa takutmu, Adam! Kamu berada di jalan yang sebenar-benarnya!” Moh Samin kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Di dalam perang batin dan kebingungannya. Ia kalah. Ia termakan bujuk rayu Moh Samin.

Adam Zulkarnaen sudah tiba di tempat tujuannya. Matahari ketika itu sudah tak malu lagi keluar dari singgasanannya. Memperhatikan gerak-gerik Adam Zulkarnaen, Moh Samin, Salaudin dan Murkito. Pukul sepuluh pagi. Jalanan sudah mulai lancar, tidak seramai sejam sebelumnya. Ia turun dari mobil yang tadi membawanya. Membawa tekad dan keyakinannya bulat-bulat. Oh, ya, dan tak lupa bujuk rayu Moh Samin dan janjinya.

Adam Zulkarnaen tengah bersiap. Sungguh kali ini yang membenak di pikirannya bukan lagi Siti Nur dan kasih Tuhan yang menunggunya. Ia sedang terbayang Meisarah dan putri kecilnya yang sedang tidur damai di pelukan ibunya, Meisarah. Balita itu bergeliat manja ketika tangan Adam Zulkarnaen mengusap keningnya. Tidakkah kamu tidak ingin mencium tangan Ayah, Nak? Ingin sekali Adam Zulkarnaen membuang air matanya demi rasa melankoli yang tiba-tiba muncul menghampirinya, tetapi ia urung. Lebih tepatnya tidak bisa. Tidak ingin, atau tidak bisa ia tak mampu membedakannya.

“Laksanakan tugasmu, dan kamu akan mendapatkan segalanya. Ingat ini, Adam!” Moh Samin mengingatkan ketika ia melihat Adam melamun dan sedikit terlihat gurat ragu di wajahnya.
*
Adam Zulkarnaen adalah sebuah nama dari seorang Aburidjal Mutakin, yang tak lain adalah Ayahanda Adam. Ia lahir dari rahim seorang ibu bernama Rofiah. Adam Zulkarnaen lahir di tengah-tengah keluarga yang lumayan saleh. Ayahnya, Aburidjal, adalah orang yang taat, beliau selalu mengajak Adam sholat berjamaah di surau kampungnya, dan menyuruh Adam Zulkarnaen mengaji. Adam Zulkarnaen kecil yang keras kepala itu sempat dipukul pakai rotan karena tidak mau mengaji di surau bersama ustad Dullah, ustad yang mengajarinya mengaji waktu kecil. Adam Zulkarnaen lalu patuh mengaji sambil menggerundel sepanjang pejalanan dari rumah hingga surau. Ibu Rofiah, ibu dari Adam memang tidak sekeras suaminya, Aburidjal, ia hanya mampu melihat anak sematawayangnya dipukuli rotan bila tidak mau mengaji dan malas sholat berjamaah di masjid.

“Kamu ndak boleh ninggali sholat, le. Sekarang kamu hanya dipukul rotan sama bapak, nanti kalau kamu ninggali sholat, kamu dipukul pake rotan api di neraka. Kamu mau, le?” seingat kepala Adam Zulkarnaen, setelah ibunya mengatakan begitu, ia tak berani meninggalkan sholat.
“Kalau kamu rajin sholat, nanti kamu masuk surga, Nak.” Rofiah tersenyum menatap anaknya. Mata Adam Zulkarnaen kecil berbinar.
“Di surga ada apa saja, Bu?” tanyanya polos.
“Segalanya yang nikmat, halal, dan tidak ada di bumi kita ini, Nak, ada di surga. Segala apa yang kamu mau ada di surga.” Rofiah tersenyum puas. Ia senang melihat Adam, anaknya, jadi rajin sholat berjamaah di surau.

Setelah dewasa dan kehilangan Siti Nur, ia merantau ke kota kecil di luar kampung halamannya. Ia bekerja serabutan, mulai dari kurir barang, kuli bangunan, tukang ojek, sampai tukang urut. Ia masih memegang petuah ibunya untuk rajin beribadah. Sholat dan mengaji adalah yang utama. Demi surga, demi surga.

Ia kadang datang ke surau untuk mendengar ceramah Wak Damar. Surau yang terlihat seperti bukan surau. Yang datang juga bisa dihitung jari. Di tempat itulah kemudian ia bertemu Moh Samin. Moh Samin cukup aktif dalam organisasi di surau itu, dan Moh Samin-lah yang paling dekat dengannya. Bahkan, Adam Zulkarnaen mampu menceritakan tentang Siti Nur dan kematiannya yang tidak wajar kepada Moh Samin. Air muka Adam Zulkarnaen datar saja ketika ia menceritakan tentang Siti Nur, dan hal inilah yang dipegang oleh Moh Samin. Sampai akhirnya Adam Zulkarnaen menikah dengan Meisarah, Moh Samin tahu, hanya Siti Nur yang bergelayut dalam hati Adam Zulkarnaen. Moh Samin menang sejak sebelum menyusun rencana.

Sebulan sebelum penyusunan rencana, Adam Zulkarnaen pulang kampung ke tanah lahirnya. Ke tempat Aburidjal dan Rofiah tinggal. Kampungnya saat itu sedang ramai orang pulang dari tanah suci. Ini adalah musim haji. Saat Adam Zulkarnaen sampai di rumah pun, Rofiah sedang mengaji di tetangganya, Ibu Afifah yang baru pulang dari tanah suci, dan selamat dari tragedi Mina. Sedang Aburidjal sedang menonton ceramah saat Adam menginjakkan kaki di terasnya.

“Ibu kemana, Pak?” tanya Adam Zulkarnaen datar setelah menenggak air putih dingin yang baru saja ia ambil dari kulkas bekas yang dikasih tetangganya.
“Di bu Afifah. Sedang pengajian. Beruntung dia, sudah haji dua kali!” Aburidjal menggumam. Adam Zulkarnaen menganggap, ada suatu isi tersirat dari ucapan Bapaknya. Suatu keinginan di usia yang renta ini.
Selang berpuluh menit kemudian, Rofiah pulang dengan membawa bingkisan berisi besek makanan, kerudung arab, air zam-zam, dan kacang arab dari bu Afifah. Ia agak terkejut bercampur senang melihat kehadiran anak sematawayangnya yang tiba-tiba. Matanya berkaca-kaca.
“Le, kamu pulang, Nak!” Adam Zulkarnaen mencium tangan ibunya.
Beberapa menit kemudian, ibunya sudah bersemangat berapi-api menceritakan cerita yang dibawa bu Afifah dari tanah suci. Ibunya terus melantunkan subhanallah ke langit dengan mata berkaca-kaca. Rofiah menatap anak sematawayangnya yang diam saja sejak kedatangannya.
“Ibu ingin sekali naik haji, Nak.”

Kemudian, itulah yang dibawa Adam Zulkarnaen ketika kembali ke tanah perantauannya. Ke kota yang kini ia tinggali. Kalimat itulah.
*

Pukul sepuluh lewat empat puluh menit.

Adam Zulkarnaen meledak. Tubuhnya meletus seperti air laut yang berhamburan ketika dihantam batu besar. Seperti api yang marah. Ia berkobar dalam tubuhnya.

Adam Zulkarnaen telah selesai melaksanakan tugas.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh delapan menit, Adam Zulkarnaen mendengar bisikan dari telinga kanannya, sebelum ia meledak.

“Demi Allah, membunuh sesama manusia itu dosa besar! Agama manapun tidak membenarkan hal itu. Agama kita adalah agama yang damai. Yang mengindahkan perbedaan, yang meninggikan toleransi terhadap umat beragama lainnya. Jika ingin berjihad, jihadlah di jalan yang benar. Nafkahi anak dan istrimu dengan halal adalah jihad sesungguhnya!” itu adalah suara ceramah yang ditonton Aburidjal, ayahnya, di tivi, ketika ia baru sampai teras rumahnya.

 

Tetapi bisikan itu terlambat. Adam Zulkarnaen sudah meledak. Lebur bersama Moh Samin dan bujuk rayunya.

Pukul sepuluh lewat empat puluh dua menit, Siti Nur muncul.

“Bangun Bang Zul, temani aku di neraka.”

***Tamat***

ps : ini adalah fiksi belaka. bukan kejadian sebenarnya apalagi fakta. ini hanya sebuah cerita yang diilhami kejadian bom sarinah tempo lalu. salam.

Depok, 18 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s