Cermin dan Sepasang Kekasih

Cermin itu memandang saya tanpa prasangka. Di sana tergambar wajah saya. Cekung di kedua pipi dan dua kantung hitam di bawah mata saya. Sudahkah saya bahagia hari ini? Tanya saya kepada cermin itu. Cermin itu tersenyum centil. Lagi-lagi tanpa prasangka. Saya sapukan bedak padat keluaran belahan dada dataran Eropa itu ke wajah saya yang tirus, kata saya. Spoon lembut menepuk-nepuk pelan kantung mata saya, agar samar noda usia dan akibat susah tidur itu di wajah saya. Terakhir, sapuan gincu warna kesenangan saya, merah gelap, ke bibir saya. Saya tersenyum puas. Begitu juga cermin di hadapan saya. Dia tersenyum, mengatakan saya cantik berkali-kali, menyenangkan hati saya. Tanpa prasangka. Ya, tanpa prasangka samasekali.

Dunia ini hampir tumpah oleh prasangka-prasangka buruk. Di mana sebagian manusia tumbuh hidup lebih banyak dengan pikiran-pikiran buruknya kepada manusia lain. Di mana manusia-manusia itu tumbuh tanpa mengenal perbedaan. Manusia-manusia yang katanya alangkah jauhnya dari dosa, dan menuding yang lain berdosa. Setidaknya begitu. Saya masih menatap cermin ketika angkara murka membakar dada saya. Saya lebih baik menatap cermin daripada menonton televisi. Televisi kini menelanjangi dosa manusia dan memakaikannya ke acara mereka agar diberi rating tinggi. Dosa terbanyak kalah dengan dosa yang kecil. Suara-suara indah di televisi harus tenggelam ketika yang buruk lebih mendatangkan keuntungan. Ah, saya mengeluh lagi. Sudah lama rasanya tidak melenguh dan bahagia.

Dering telepon genggam menyanyikan lagu Last Night Somebody Loved Me-nya The Smiths. Saya langsung hapal siapa yang menelepon. Drew. Tercintaku, terkasihku. Saya masih memandang cermin. Nampak kedua pipi saya yang cekung itu merona. Oh, tidak, saya belum mengenakan blush on pun, lelaki ini telah menjerang pipi saya dengan kata-katanya hingga memerah begini.

“Halo, sayang…” bisiknya manja di telepon. Saya tidak bisa menyembunyikan raut senang saya di hadapan cermin. Cermin itu tertawa tanpa prasangka. Saya membalas sapaan Drew tak kalah mesra.

“Aku rindu kamu. Sudah lama rasanya kita nggak ngopi dan bercakap-cakap bersama, mengemut batang rokok berdua, dan bercinta di kamar kosmu,” Drew berbisik manja di telepon, membuat saya terangsang. Ah, Drew.

“Dandanlah yang cantik, Nona, aku akan menjemputmu pukul tujuh. Aku ingin menghabiskan malam denganmu,” Drew merayu lagi. Saya tak punya kuasa menolak. Sungguh saya mencintai lelaki separuh baya itu. Dan tak ada yang boleh melarang saya mencintai orang lain. Tak ada.

Selesai. Telepon ditutup dan saya kegirangan di depan cermin. Oh, harus pakai gaun apa aku nanti? Oh, aku tak membutuhkan gaun. Dia mencintai saya apa adanya. Tak perlu gaun, tak perlu rok selutut, tak perlu baju ketat yang memamerkan buah dada ranum. Tidak perlu. Cinta kami barangkali aneh, tetapi yang tak perlu saya khawatirkan adalah matanya. Dua mata Drew yang tidak pernah menatap dadaku dengan wajah setengah atau sepenuh-penuhnya mupeng. Sekalipun begitu, kami bercinta dengan sangat baik. Seperti sepasang merpati yang berciuman di atas dahan pepohonan. Seperti burung gereja yang berpagut mesra dengan sebutir biji jagung yang tengah mereka perebutkan. Cinta di berbagai tempat barangkali sama, tetapi barangkali juga saya salah, cinta itu berbagi. Benarkah begitu? Dan Drew dan saya, telah saling berbagi. Benar ataupun salah.

“Cinta tak pernah menang.”

Saya sedang menyeruput mocca latte saya ketika Drew berbicara begitu. Kami tengah terlibat perbincangan yang tak ada habis-habisnya. Tentang cinta. Tetapi mendengarnya bicara begitu, hati saya seperti teriris.

“Cinta selamanya tak pernah menang melawan jeruji-jeruji yang memiliki nama lain,” Drew tersenyum. Saya menatapnya. Perlu bermenit-menit untuk memahaminya. Tetapi cinta tak pernah salah tafsir, saya tahu maksudnya, saya paham ketidakterimaannya, saya memahami kesedihannya. Seperti dia memahami kesedihan saya. Saya pegangi punggung tangannya yang dingin.

“Saya ingat kisah cinta yang begitu tragis. Tak pernah diterima bumi, karena tak elok,” dia melanjutkan ceracaunya. Inilah bagian yang paling saya tunggu-tunggu. Mendengarnya berdongeng.

“Ceritakan. Kita ke sini kan untuk bercakap-cakap…” saya mengerling nakal, mengemut ujung bibir saya.

“Baiklah. Aku rasa, kamu sudah mendengarnya berkali-kali..”

“Aku takkan pernah bosan mendengar apapun yang berulang-ulang dari bibirmu, Drew.”

“Ah, alangkah manisnya kamu.. baiklah. Begini..”

Drew mulai mengisahkan kembali kisah tragis itu. Sepasang kekasih yang saling mencintai. Ditakdirkan Tuhan untuk saling bertemu, bercakap-cakap, saling merayu, kemudian mencintai. Ah, begitukah Tuhan menciptakan cinta? Dan, apakah luka diciptakan untuk menyempurnakan cinta? Nah, dengarkan ini. Kisah yang diceritakan Drew, dan semua itu membuat saya bergairah. Untuk mencintainya.

Perempuan berkulit sehalus pahatan porselen itu kelihatan sedang menunggu di balkon istana dengan gaun yang mengembang di bawah pinggulnya. Sudah lama ia termenung-menung sejak subuh membangunkannya. Ia juga telah melihat matahari terbit dari tempatnya menunggu. Sungguh indah. Inilah dia tahu, bagaimana awalmula Tuhan menciptakan cinta. Hadirnya cinta barangkali lebih dahulu daripada Tuhan menciptakan bebunga atau kupukupu atau pagi. Siapa yang tahu? Segala keindahan bermuasal dari cinta. Ya, cinta. Dia percaya. Senyum di bibir tipis yang berwarna serupa jingganya senja tersenyum, seperti matahari yang terbit di kaki pegunungan Alpen. Jingga di tengah-tengah kerumunan salju yang putih dan puitis. Umurnya baru mencapai lima belas, dan kini ia tengah menunggu jodohnya. Pipinya yang putih tanpa cacat dan noda itu kini bersemu merah muda. Jodoh yang ditunggunya telah datang. Gerobak kuda yang penuh oleh botol-botol susu, dan seorang pemuda dari ujung benua. Pemuda itu berkulit cokelat, berhidung tinggi, dan rahangnya keras. Lelaki sejati. Bagi perempuan mahajelita itu, lelaki itu ialah seorang pengelana yang akan berakhir di sini. Di tubuhnya. Tetapi keyakinan perempuan itu segera dipatahkan. Pemuda penjual susu itu dibunuh ayahandanya sendiri. Tepat di depan matanya. Ia melihat pemuda yang iacintai digantung di kayu tinggi, tempat para tawanan, pemberontak dan pengkhianat istana dijatuhi hukuman mati. Dan, pemuda itu, pemuda yang ia cintai, pengelana jantan itu, mati. Dibunuh perasaan cintanya sendiri. Salahnya sendiri, kata perempuan jelita itu dalam hati. Ia menyesal. Di hari pernikahannya dengan lelaki yang ia tak kenali dan tak juga ia cintai, perempuan itu kabur. Lari. Lari dari takdirnya yang kembali mengikatnya dengan kehilangan yang lain. Ya, perempuan jelita itu, puteri tunggal kerajaan tak bernama itu, lari bersama pangeran penjual susu yang ia cintai. Laki-laki yang mati digantung karena sebab-musabab perasaan cinta. Cinta tulusnya. Pembunuh-pembunuh itu, ya, perempuan jelita itu memanggil ayahnya sendiri pembunuh, mengatakan lelaki yang ia cintai itu melanggar aturan dan norma. Apa katanya? Norma? Perbedaan kelas menjadi tolak ukur batas-batas norma diciptakan. Keadilan menutup mukanya ketika itu. Dan nyawa? Harus digantung sia-sia karena melawan norma yang sebenarnya tak kalah sia-sianya. Dan, ke mana cinta pergi? Perempuan itu terus bertanya-tanya. Apakah Tuhan menciptakan cinta bersama dosa sekaligus? Mengapa cinta harus disalahkan? Mengapa cintanya kepada pemuda itu justru membunuh perasaan cinta di hati manusia-manusia yang membunuh laki-laki yang ia cintai? Apakah cinta suatu kejahatan yang harus dilenyapkan? Bukankah cinta lahir atas kehendak-Nya? Oh, perempuan jelita itu berteriak histeris ketika pengelana penjual susu itu baru jadi bangkai. ‘Turunkan ia! Turunkan ia!’ perempuan itu berlari dari kursi kebesarannya. Ayahandanya terperanjat, mukanya memerah melihat kelakuan putrinya, yang baginya menghinakan. Perempuan itu menangis menyusuri lapangan gundul yang begitu dekat dengan kematian kekasihnya. Ia menghampiri kekasihnya dan tersedu-sedan memeluk lelaki yang kini sudah menjadi bangkai itu. Memeluk kaki kekasihnya yang masih digantung di tiang tinggi. ‘Tak ada cinta di tanah kita, tak ada’ bisiknya. Para algojo menarik puteri cantik itu menjauh dari bangkai yang menurut mereka tengik itu. Tetapi puteri secantik itu melawan. Dengan tangan yang sigap, ia menarik senjata laras pendek berpeluru itu dari pinggang algojonya. Dan tak kalah cekatannya, di bawah kaki kekasihnya, ia menembakkan kepalanya sendiri. Kepalanya, wajahnya yang cantik tiada tandingan di negeri itu, telah hancur berkeping-keping. Pecah tak bersisa. Hanya ada darah bersimbah dan airmata di tanah lapang yang begitu dekat dengan maut sepasang kekasih. Ayahandanya melolong, begitu pula ibundanya, dan mereka berdua kini tahu, bagaimana rasanya menjadi puteri yang semata-wayang itu, kehilangan cinta. Kehilangan cinta nyatanya lebih pahit dari kehilangan tahta dan kehormatan.

“Adakah sesungguhnya kisah itu, Drew?”saya bertanya terengah-engah. Drew sedang melumat leherku dengan ganasnya. Napasnya memburu. Panas dan membara. Kami telah berpindah lokasi. Sekarang ini bukan lagi di kedai kopi yang tadi. Ruangan ini adalah kamar kos saya.

“Kisah yang mana?” tanyanya lagi. Saya tahu dia sedang tersesat dalam tubuh saya. Lihat, matanya tengah terpejam dan dengan rakusnya melumat leher saya, kemudian bibir, kemudian kembali ke leher. Drew sangat haus. Dan saya tengah menjadi air mineral pemuas rasa hausnya.

“Emh…” saya melenguh, akhirnya.

“Kisah si puteri cantik dan si penjual susu,” saya melenguh lagi dan, ya. Dosa itu terlampau nikmat.

“Tak tahulah aku. Tetapi,” Drew menatap saya sekejap kemudian melumat kembali bibir saya. Tangannya mengembara di dada saya yang serupa dataran tanpa kawah dan gunung yang kembar. Kemudian tangannya turun lagi, menyentuh dan meremas pistol yang selama ini tersembunyi dalam celana. Pistol yang tak pernah berburu ke gua-gua. Pistol yang selama ini saling menembak bersama pistol yang lain. Dan saya, dan Drew sama-sama menyukai perang panas ini.

Sementara dunia dan isinya sibuk memberi makan prasangka masing-masing, tubuh saya dan tubuh lelaki di depan saya ini sudah bermandi peluh, dan cairan yang lain. Sementara dunia dan isinya sibuk berprasangka tentang cinta kami, cermin itu, cermin di hadapan saya, sedang mamandang kami yang telanjang, tanpa prasangka. Samasekali. O, Tuhan, apakah engkau juga memiliki prasangka?

 

TAMAT

Depok, 26 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s