Biru Kue Velvet

Mereka melihat benda ini hanya sebuah botol berisikan cairan adiksi, yang sering mereka sebut alkohol, tetapi benda ini adalah cinta. Cinta pertama dan terakhir. Saya tertawa kecil ketika memberitahu ini kepada anda semua yang membaca. Kalian pikir saya sedang berkelakar? Sedang membual? Tidak. Sepenuh-penuhnya tidak. Anda semua tidak percaya, kan? Dia, yang kalian sebut hanya sebuah botol berisikan cairan adiksi ini, telah membuat saya bahagia lebih dari apapun dan siapapun yang ada di dunia beserta omong kosongnya ini. Dia, seorang botol yang mempunyai sayap di punggunya, membuat saya terbang ke langit yang berwarna merah muda dan awan-awan putih yang seempuk sofa di rumah anda atau bantal yang saat ini sedang anda tepuk-tepuk. Kedengarannya lucu. Tidak, tidak saya tidak sedang menjadi pelawak, pelenong, atau stand-up comedian di televisi. Anda semua tahu, saya hanya seorang penyanyi dengan lirik-lirik paling sedih di kota ini. Kota yang indah ini, para penyimak sekalian.

Anda mungkin mengira, saya depresi dan semacamnya. Kalau begitu, anda salah. Saya bahagia, hanya lagu-lagu saya saja yang menyedihkan. Lagu-lagu yang saya tuliskan sendiri, dan kalian dengarkan di radio, di mobil bersama kekasih kerabat atau keluarga tercinta, di televisi, di situs video, di mana pun. Saya bahagia. Saya bahagia. Hahaha. Baiklah, saya bohong. Kalian tahu? Saat saya menulis saya bahagia sebanyak tiga kali, saya sedang bersama kekasih saya. Kekasih tercinta yang memabukan. Haha, ya, saya menemukan beberapa botol anggur di meja setelah saya terbangun. Dan ketika saya meneruskan tulisan ini, saya baru saja pulang dari petualangan langit merah muda, bintang biru terang, hijau limun, kuning mentari, dan di langit itu, sepotong wajah bulan seperti wajah seorang yang sedang mabuk. Merah bersemu. Tetapi bulan itu tak putus-putus cekikikan sambil menyanyi. Entahlah, lebih tepatnya saya terbangun dari mabuk semalaman. Baiklah, saya bingung hendak menulis apa lagi, ya? Saya lagi tersadar, dan mendadak lebih dungu untuk menulis ketimbang saya yang lagi mabuk. Oh, ya, saya baru ingat, hari ini saya ada konser menyanyi, mengisi festival hari kasih sayang di kota saya. Lagu yang akan saya nyanyikan, tentu saja, Jantung Kekasihku dalam Tas Ransel Kekasihmu. Sebuah lagu yang menyedihkan tentang seorang perempuan yang membunuh orang yang sangat ia cintai, namun tragis, tak bisa ia miliki karena laki-laki itu telah memiliki perempuan lain. Perempuan itu kemudian membunuh laki-laki itu di hotel setelah mereka bercinta untuk kesekian kalinya, mencongkel dada laki-laki itu dengan pisau dapur seharga ratusan dolar, dan mengambil jantungnya. Jantung yang tak lagi berdebar. Perempuan itu berniat akan menaruh jantung merah yang lama-kelamaan menjadi pucat itu ke tas ransel kekasih laki-laki itu, tetapi perempuan itu keburu ditangkap polisi setempat. Itu tragedi nyata, saya katakan. Saya terinspirasi dari tragedi pembunuhan yang paling puitik oleh seorang chef di restoran ternama di kota ini. Kalian pasti pernah mendengarnya apabila kalian bukan pendatang atau imigran. Sebab pembunuhan ini berada di headline koran-koran selama sebulan.

Cinta adalah jantungmu,
yang merah delima sebagai bibir kekasihmu,
Ya Tuhan, saya ingin jadi pencuri
Pendosa bagi pertama dan terakhir kali
Mimpi menggenggam jantungmu yang berdenyut tiga kali,
Lalu semua saya akhiri

Begitulah isi di dalam buku harian perempuan pembunuh itu. Sungguh puitik, bukan? Barangkali karena St. Valentine adalah sebuah tanggal kematian seseorang yang telah memperjuangkan cintanya, saya akhirnya memilih lagu ini. Supaya anda, kalian, yang mendengar itu tahu bahwa, cinta itu berbahaya. Tidak ada cinta yang tak berbahaya. Saya mungkin bisa mati di diskotek, di meja, di kasur, di kamar hotel, atau di manapun karena kekasih saya. Ya, dia, seorang botol bersayap itu. Mungkin karena saya terlalu bergairah padanya dan menghabiskan banyak cairan adiksi lalu terkapar di meja bar, ataupun meja di ruang tengah rumah saya. Tak ada yang tahu. Tetapi anda, kalian, harus tahu. Cinta itu berbahaya. Cinta yang terlalu bergairah, cinta yang selalu terlalu selalu berbahaya.

Saya sudah terlalu banyak melalui jatuh cinta, segala macam jenis jatuh cinta. Orangtua saya juga begitu. He, keduanya berakhir mengenaskan oleh sebab yang sama. Cinta. Baiklah, saya akan memulai kisah saya di sini. Sssttt! Jangan katakan pada siapa-siapa! Berjanjilah? Janji? Ayo, kaitkan kelingkingku dan kelingkingmu sekarang! Nah, begitu… saya selalu melakukan hal semacam itu di masa kecil saya kalau saya sehabis memecahkan vas bunga, memecahkan guci, mencoret tembok rumah, memilok body mobil ayah saya, atau memasukan anak kucing ke guci besar di rumah. Saya berjanji, saya tidak akan nakal lagi. Tetapi orangtua saya mudah sekali ditipu. Tapi, anda, kalian semua, berjanjilah jangan membohongi saya. Janji? Kebohongan sudah banyak di dunia ini, jadilah diri sendiri, dan jadilah unik. Jujur itu, unik, karena dia langka.

Orangtua saya, maksudnya mendiang orangtua saya mati karena kebohongannya sendiri. Bumi, kalian tahu, akan melenyapkan orang-orang yang pandai menipu. Pertama, ibu saya. Terkutuklah saya, Ibu saya adalah penipu paling gila yang pernah saya kenal. Tetapi saya mencintainya seperti seorang anak kepada ibunya sendiri. Saya tidak menyalahkan mengapa ia berbohong. Karena cinta telah mengajarkannya begitu. Terakhir, saya bersamanya ketika ia mengantarkan saya ke sekolah pagi itu. Dia bilang, sepulang nanti saya akan dijemput oleh Ayah, karena dia sendiri ada urusan pekerjaan. Saya percaya. Ibu selalu pergi ke luar kota. Dan itu merupakan hal yang wajar bagi saya. Ibu suka berangkat pagi dan pulang siang hari keesokan harinya. Tetapi saya tidak memiliki prasangka bahwa ia takkan pernah kembali lagi. Saya ingat betul pakaian terakhirnya. Biru bersinar yang gelap. Bukan biru donker, bukan juga biru cerah. Biru yang berkerlip-kerlip tetapi gelap. Sekarang saya mengenang dan menamai biru itu dengan istilah ‘biru kue velvet’. Dia cantik sekali dengan gaun biru kue velvet. Seperti kue yang menggoda bagi kaum laki-laki yang kelaparan. Dan dia mati, disantap laki-laki kelaparan itu. Di sebuah hotel, di kota ini, sekarang berganti jadi gedung kafe yang tidak pernah laku. Di kota ini, semua mengenal sejarah sebaik mereka mengenal bagian tubuh mereka sendiri. Mungkin itu yang menyebabkan kafe itu tidak laku karena dibangun di atas jasad Ibu saya dan laki-laki yang kelaparan yang sedang bercinta yang dua-duanya telah menjadi abu. Oleh api yang merah. Di hari itu, kau tahu, tidak ada senja. Senja seakan berpindah ke atap langit hotel yang terbakar itu. Tempat bercinta Ibu saya dan laki-laki kelaparan, yang bukan Ayah saya. Itulah kebohongan pertama yang saya tahu.

Setelah hari naas itu, sehari setelah hari terakhir saya bertemu Ibu saya, Ayah saya tak pernah berbicara pada saya barang sepatahpun. Ia begitu muram dan jadi penyendiri. Selamanya ia duduk di bangku kesayangannya. Sebuah sofa tua dengan warna biru kue velvet yang warnanya hampir menjadi abu-abu karena menjadi begitu muram setelah kematian Ibu. Laki-laki kesepian itu selalu menyeduh kopi di dapur dengan menambahkan sesloki anggur, menyetel pemutar musik tua yang memutar lagu-lagu jazz sedih. Betapa Ayah saya mencintai Ibu saya. Karena ia selalu mendengarkan lagu-lagu ibu saya. Ibu saya seorang penyanyi jazz tak terkenal yang liriknya begitu sedih dan lagunya hampir setiap hari saya dengarkan setelah hari kematiannya di pemutar musik tua yang dinyalakan Ayah saya setiap pagi. Saya menghabiskan separuh masa remaja saya dengan membuatkan telur dadar dan sosis bakar untuk Ayah saya, selain melihat kematian dan mengingatnya sepanjang hidup.

Di sebuah pagi yang mendung, dingin menusuk kulit, dan seluruh penduduk kota harus mengenakan mantel agar tak mati kedinginan, saya justru menemukan mayat laki-laki di ruang tengah. Di sofa tua biru kue velvet. Hening. Saya seperti tercekik tangan saya sendiri. Padahal pagi itu saya belum membuatkan sarapan telur dadar dan sosis bakar, tetapi. Ayah saya mati tanpa sarapan. Hanya ada secangkir kopi, tiga botol anggur, dan botol kecil kosong yang tak bernama. Dan sebuah surat.

Saya pernah katakan padamu, Alexandrine, saya mencintaimu, saya mencintaimu, dan cinta selamanya berbahaya. Kamu mati bersama dia, dan saya akan mati sendiran di sofa favoritmu, yang kaubeli demi mengingat laki-laki itu yang menyukai warna biru seperti sofa di rumah kita. Saya mencintaimu, Alexandrine, semoga kita bertemu di neraka, dan saya akan membunuh laki-laki itu di sana. Dengan pisau kesukaanmu. Kamu selamanya istriku, di dunia, ataupun di neraka. Sampai jumpa.

  • Brian McAdam

Seluruh bekas-bekas kematian Ayah saya di sofa dan di meja akhirnya diangkut ke kantor polisi. Dan koran-koran kota itu kemudian menurunkan berita kematian Ayah saya berjudul: Pria Mati Bunuh Diri dengan Anggur Basi. Kemudia mengganti beritanya lagi dengan: Seorang Pria Mati Menenggak Racun. Bukan anggur basi.

Bertahun-tahun kemudian, setelah kematian sejoli yang tidak saling mencintai, karena Ibu saya tidak mencintai Ayah saya, saya menemukan buku besampul hitam dengan corak bunga tinta perak. Buku rahasia Ibu saya. Di situ ada hal-hal yang mengejutkan. Sangat mengejutkan.Termasuk catatan ini, yang disadur dari isi catatan Chef Pencuri Jantung Kekasihnya:

Cinta adalah jantungmu,
yang merah delima sebagai bibir istrimu, di pesta pernikahanmu,

Ya Tuhan, saya ingin jadi pendosa
Pecinta bagi pertama dan terakhir kali yang penghabisan di tubuhnya
Mimpi menggenggam jantungnya yang berdenyut tiga kali,
Lalu semua saya akhiri

Rialtoputico Hotel, 02:01 a.m
Sampai jumpa, Malaikat. Kutitip putri kecilku.
Dan suami yang tak mampu kucintai dia daripada kau.

 

Saya terbangun dan menemukan tulisan ini. Semalaman saya mabuk. Saya tidak menyangka, kalau saya yang menulis ini. Tetapi, ini dia. Daripada saya hapus, lebih baik untuk kalian baca. Supaya kalian tahu, cinta yang terlalu selalu berbahaya. Hati-hati.

 

 

—END—

Depok, 17 Februari 2016

 

*Cerpen ini hanya fiktif belaka namun terinspirasi oleh lirik lagu Lana Del Rey berjudul: Blue Velvet*

“Blue Velvet”

She wore Blue Velvet
Bluer than velvet was the night
Softer than satin was the light
From the stars

She wore blue velvet
Bluer than velvet were her eyes
Warmer than May her tender sighs
Love was ours

Ours a love I held tightly
Feeling the rapture grow
Like a flame burning brightly
But when she left gone was the glow of

Blue Velvet
But in my heart there’ll always be
Precious and warm a memory through the years
And I still can see Blue Velvet through my tears

sdjfk

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s