Pria Tua yang Mati dan Kenangan yang diabadikan jadi Taman Kota

Pagi itu saya sedang menyirami mawar di teras depan ketika dua kompi pria berseragam yang menyebut dirinya aparat negara datang ke perkampungan kami. Saya tidak tahu mengapa mereka datang begitu ramai dan berisik. Mereka juga tidak meninggalkan sepatah sapa ketika melewati saya yang sedang menyirami mawar-mawar. Seorang di antaranya melihat saya dengan pandangan yang tidak menyenangkan ketika lewat di hadapan saya. Sungguh, aparat negara macam apa? Dikerahkan demi melindungi rakyat, tapi melihat saya seolah saya ini seonggok bangkai tikus yang tertinggal di jalan. Dia pikir lucu melihat seorang kakek tua begini menyirami mawar di halaman depan rumahnya? Atau dia mencibir tubuh ringkih saya? Heh, nanti tua juga tubuhnya begitu. Dia tak tahu saja siapa saya ini dan siapa saya di masa muda saya dulu! Lebih gagah dari dia!

Setelah menyirami mawar-mawar, saya hendak pergi ke kedai bubur ayam milik Pak Samin yang kalau malam berubah jadi tempat perempuan-perempuan cantik berpakaian minim ketawa cekikikan bareng banyak laki-laki. Bubur Pak Samin memang dikenal enak sejak saya dan mendiang istri saya masih muda. Sayang, Pak Samin tak panjang umur seperti saya, dia lebih dulu pergi setahun sebelum istri saya yang meninggal karena kanker apa itu, stadium empat. Tapi untungnya, Pak Samin sempat mewarisi resep bubur ayamnya pada Khofifah, anak perempuan satu-satunya. Walaupun buburnya terasa sedikit berbeda, tetapi tetap enak, juara nomor satu di kampung sini! Walah, dalah, ada apa ini kedai bubur Pak Samin kok tutup dan jadi markas kumpulan aparat negara begini? Mereka asik saja duduk, ngerokok, dan ngopi di situ, mungkin beli di warung rokok Samsul. Waduh, saya terpaksa mencari tempat sarapan lain. Tapi kok, nasi uduk Bu Yani juga tutup? Biyung! Perut saya sudah kruyuk-kruyuk begini. Lela, anak saya, belum mengunjungi saya minggu ini, dan sembako sudah habis semua. Ah, terpaksa saya membeli telor dan memasaknya sendiri. Oh, iya seingat saya, minyak juga sudah habis. Duhalah, biyung! Kenapa bisa tutup semua begini?

Setelah ke warung Pak Budiman, Bu Saleh, yang tutup, saya akhirnya ke warung si Bakrie, yang lumayan jauh dari rumah saya. Saya bilang mau beli telor seperempat, dan minyak curah satu kantong kepada istrinya, kebetulan yang sedang jaga warung itu istrinya. Dia bilang, tumben saya belanja di situ. Saya ceritakan saja, di mana-mana warung makan dan sembako tutup, hanya di sini yang buka.

“Lho, bapak emang belum tahu, ya?”
“Belum tahu apa ya, bu?”
“Kampung kita ini mau digusur!”

Digusur?

Saya diam. Kehabisan kata-kata. Bulu kuduk saya merinding. Membayangkan rumah saya yang satu-satunya itu hancur berikut dengan mawar-mawar dan kenang-kenangan kampung ini bersama kerabat, tetangga, dan mendiang istri saya.

“Kata polisi-polisi itu, tanah ini digusur karena milik pemerentah!”

Tanah pemerintah? Tanah yang selama ini saya tinggali selama hidup saya, dibilang tanah pemerintah?

“Katanya buat lahan penghijauan, Pak! Buat bikin taman!”

Pemerintah menggusur kampung halaman ini untuk buat taman kota? Untuk sebuah taman kota harus menggusur rakyat-rakyat kecil seperti saya ini? Saya yang cuma pandai merawat kenangan dan mawar-mawar peninggalan istri saya?

Untuk sebuah taman kota haruskah menghancurkan ratusan taman milik kami?

Suara tertawa istri saya yang masih muda dan cantik tiba-tiba terdengar. Kemudian suara tangis Lela yang masih bayi. Kemudian suara Bapak dan Ibu saya yang sudah lama sekali meninggal. Kemudian suara saya sendiri yang melamar mendiang istri saya di kedai bubur Pak Samin. Kemudian suara ‘iya’ dari mendiang istri saya yang malu-malu ketika menerima lamaran saya. Kemudian suara Lela yang tertawa dan giginya yang ompong itu dipamerkan kepada saya, lalu saya menciumi gadis kecil saya satu-satunya itu. Kemudian suara mendiang istri saya yang selalu bersenandung bila sedang menyirami mawar. Kemudian wajah istri saya yang bahagia. Kemudian kenangan-kenangan baik dengan tetangga-tetangga kami. Kemudian rasa nikmat bubur ayam Pak Samin sambil bersenda gurau bersama istri tercinta. Kemudian tangisan terakhir istri saya menjelang kematiannya. Kemudian wangi mawar yang merebak semenit sebelum kematian istri saya. Kemudia permintaan terakhir istri saya; tolong rawat dan jaga mawar-mawarku seperti kamu merawat aku saat sakit seperti ini, Bang. Tolong cintai mawar-mawarku seperti kamu cintai aku, Bang. Saya ingat, dik. Saya ingat. Tetapi…tanah ini mau digusur, berikut juga mawar-mawar kita.

Barangkali para penggusur itu tak memiliki kenangan. Seperti kita ini, dik.

Saya diam cukup lama di depan warung Bakrie dan tidak berkata apa-apa kecuali mendengar perkataan istri Bakrie tadi. Kata-kata ‘tanah ini mau digusur. tanah ini milik negara. mau dibikin taman!’ telah membuat dada saya sakit sekali. Seperti ada yang meremas jantung saya seperti siswa yang meremas kertas ulangannya yang cuma dapat nilai tiga. Reflek, tangan saya memegang dada bagian kiri, dan tak mampu bergerak lagi.

“Pak! Pak Sutoyo, Pak!”

Kemudian mereka semua mengerubung di hadapan saya yang sudah rubuh tak bergerak. Tetapi berita tidak pernah memuat jasad saya. Dan sebentar lagi kenangan kami diganti dengan sebuah taman kota. Selamat menikmati!

 

Depok, 22 Februari 2016

 

P.S : Cerita ini hanya fiktif belaka. Tetapi fiksi, tak terlalu berjarak dengan realita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s