Ali Syamsudin, Si Aktipis

Waktu yang bersumber dari jam tangan Alba KW yang melingkari tangan Ali Syamsudin masih menunjukkan pukul dua siang. Masih pagi bagi Ali yang gemar mengaku sebagai aktivis kampus itu untuk pulang ke rumah dan rebahan di kasur sambil memikirkan nasib negara yang kini berada di genggaman penipu besar, begitu pikirnya, kesimpulan yang ia ambil berdasarkan diskusi kecil-kecilan. Usai menghabiskan satu jam tigapuluh menit di ruang kelas filsafat sambil menyiyiri konsep-konsep dan teori komunis-atheis tanpa ia ingin mendalami dan mengerti, Ali merasakan getaran di perutnya. Ia lapar. Belum makan siang. Sambil berjalan sengak, merasa paling tahu segala, dan merasa paling ‘mahasiswa’ karena demen berdiskusi dan berdemo dengan senior yang sikap dan gagasan kritis-nya tak perlu diragukan lagi, Si Aktivis Kampus pergi menuju kantin dan pesan hamberger Mang Anung. Lumayan, cukup sepuluh ribu rupiah, perut kenyang.  Sembari menunggu Mas Anung membuatkan pesanannya, Ali mengeluarkan sebungkus malboro dari saku celana jeans yang jarang dicuci. Ia ambil satu batang dari bungkus mungil itu dan menyelipkannya di antara telunjung dan jari tengah seakan ia sudah mahir melakukannya. Merokoklah ia sambil memikirkan nasib negara yang makin pro kapitalis, goblok, dan palsu itu. Sesekali ia memikirkan juga nasib kuliahnya yang sudah ditekuninya hampir sepuluh semester dan terancam ditendang dari kampus. Tetapi, selama kampus masih kepingin duit, Ali Syamsudin, si Aktivis Kampus akan aman-aman saja, pikirnya. Terkadang juga ia ngenes, memikirkan Ratih pacarnya yang jarang diajak jalan-jalan, bukan apa-apa, apalah Ali Syamsudin ini, cuma mahasiswa semester sepuluh yang boro-boro nyari duit tambahan buat pacaran, kuliah aja senen-kamis bareng sama bayar puasa yang bolong-bolong tahun lalu.

Hamberger pesanannya sudah diantarkan Mas Anung ke meja Ali. Kedua matanya langsung bersinar, perutnya bergetar lagi. Makanlah ia dengan lahapnya siang itu. Tak sampai lima menit, hambergernya sudah tinggal bungkusnya saja. Masih merasa kenyang, dan lupa bersukur, ia duduk sambil asik main gawai merek iPhune miliknya, cicilannya masih dua bulan lagi, itu juga bayarnya hasil minta sama orangtua. Akhirnya, pesan yang ditunggunya bunyi juga. Pesan dari Abang Marten, itu lho, senior maha kritis, yang sering mengajak Ali berdiskusi tentang kebusukan pemerentah dan mengajak Ali menggerakan kawan-kawannya untuk turun aksi ke jalan-jalan. Kan, biar mahasiswa banget tuh. Mahasiswa apaan tuh, yang anti sama demo-demo!

“Ali, nanti ke Kafe Olip, kita diskusi. Kemungkinan kita akan bikin pergerakan lagi,” begitu isi pesan Bang Marten.

Wah, bukan main semangatnya Ali Syamsudin mengangkat pantatnya dan pergi ke Kafe Olip. Kata-kata berdiskusi, dan pergerakan, menyalakan api semangatnya di tanggal-tanggal-muda-enggak-tua-juga-enggak. Biar tak ada uang, asal turun aksi, Bung!

Sampai di Kafe Olip, kedai makanan yang menjual beragam macam mie goreng dan sejenisnya, ia langsung melihat Bang Maten dengan seseorang yang tak pernah ia lihat. Wah, siapa tuh? tanyanya kepo dalam hati. Ali tak segan-segan menghampiri Bang Marten yang sedang bercakap-cakap serius dengan tamunya itu. Ali tanpa malu-malu tetapi sopan, langsung menyalami Bang Marten dan tamunya. Ali tersenyum dan ikut berbincang. Tak lama, Ali yang memang supel, mampu terlibat dalam percakapannya dengan Bang Marten dan Bang Raung, yang katanya kerja di dunia perpolitikan dan membawa isu-isu baru untuk bahan pergerakan.

“Jadi, bagaimana, Li? Kamu mau kan mengorganisir kawan-kawan di kampus? Lumayan lho, ini order besar sekali!”

“Gampang itu, Bang. Asal, persenan Ali di atas dari biasanya ya. Sekarang susah, Bang, ngajak mahasiswa buat demo. Mereka kebanyakan apatis, kerjanya belajar doang terus habis lulus jadi budak kapitalis!”

“Urusan persenan gampang, Li. Kewajiban kamu sekarang kerahkan massa secepatnya!”

 

—Tamat—

Depok, 08 Maret 2016

 

*: sekadar catatan, cerita ini murni fiksi tapi tidak menutup kemungkinan bahwa di dunia ini, khususnya di negeri kita, masih ada mahasiswa yang seperti ini. mengaku aktivis kampus, tetapi lupa kewajibannya sebagai mahasiswa. mengaku aktivis kampus, melakukan pergerakan, tetapi dibayar. perjuangan terlalu murah bila dibayar pakai uang yang tak seberapa. mengaku aktivis kampus di barisan paling depan, tetapi di kelas, duduk paling belakang (nah, ini kata dosen). saya di sini tak maksud menggurui, atau menyindir individu atau kelompok tertentu. saya juga mahasiswa dan pernah berdemo juga (waktu itu penasaran bagaimana sih rasanya berdemo, hehe). maka saya menuliskan ini untuk mengingatkan diri saya dan kalian yang mengaku mahasiswa untuk kembali ke jalan yang benar. maha-siswa itu lebih dari sekadar siswa yang kerjanya hanya masuk kelas dan belajar, tapi tak lantas ada gelar maha, mahasiswa jadi merasa superior. kewajiban-kewajiban tambahan seperti, perlunya memperhatikan isu-isu yang berkembang di tanah air kita, mempelajarinya, memahaminya, menelaah, dan mengkritisi. mengkritisi itu wajib dan perlu selama berada di jalan yang benar tanpa ada campuran sentimen pribadi dan dengan pikiran dan nalar yang terbuka. jangan gampang ikut arus, gampang tersulut, gampang terprovokasi, gampang turun ke jalan bukan untuk mengkritsi tapi hanya untuk memenangkan ego pribadi atau buruknya, dibayar. mengkritisi butuh nalar, itu sebabnya mahasiswa wajib sekali untuk sering membaca di luar buku-buku kuliah yang kebanyakan hanya teori-teori yang sulit dipahami dan malah ditafsir secara asal-asalan. nah, di akhir kalimat ini, saya mengajak diri saya, dan seluruh mahasiswa yang membaca untuk kembali ke kodratnya: belajar-banyak membaca-memahami-baru mengkritisi! terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s