Menggibahi Waktu

“Waktu adalah milik kita, namun datangnya dari Tuhan,” begitu pendapat saya perihal waktu yang Jumat (22/4) ini digibahi di acara peluncuran buku ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ karya Zivanna Letisha di Markas Bukalapak, Plaza City View, Kemang, Jakarta Selatan.

Peluncuran buku dan talkshow yang keduanya menggibahi waktu tersebut dibintangi oleh Putri Indonesia 2008 sekaligus penulis buku yang sedang diluncurkan Zivanna Letisha, dan CEO BukaLapak Ahmad Zaky. Keduanya saling membagi cerita tentang waktu yang terus berjalan gontai, yang kerap menimbulkan duri-duri dilema, dan memunculkan tanda tanya: “Waktu berjalan cepat, semua manusia memiliki waktu yang sama porsinya. Namun, mengapa ada manusia yang sukses dalam hidup dan karir, sementara ada juga yang biasa-biasa saja?”

Pertanyaan yang hinggap di benak Zivanna Letisha, kemudian mengantarnya ke layar monitor dan papan ketik. Ia menulis. Tentu, tahap sebuah menulis tidak semudah pergi dan bertatap muka dengan layar monitor sementara jari-jemari bersentuhan dengan papan ketik. Ia menulis. Ia mengingat-ingat kembali pengalamannya. Kenangannya bersama waktu, ia curahkan di layar kosong. Ia menulis.

Selama lima bulan bertatap mesra dengan layar, bersentuhan dengan papan ketik, kemudian terbitlah ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ yang dicetak oleh penerbit ternama Gagas Media, yang buku-buku cetakannya menghuni toko buku-toko buku besar, dan tak jarang ada di rak penjualan buku terbaik. Akhirnya, Jumat (22/4) sore yang—kita semua rekan media dan blogger harus bersyukur—didukung semesta karena cuaca yang baik dan tidak turun hujan, peluncuran buku dan penggibahan waktu dilalui dengan khidmat.

Waktu berjalan gontai. Banyak dari kita yang dikejar waktu. Bukan berjalan bersama waktu dan melakukan sesuatu untuk membangun mimpi. Banyak dari kita yang kelelahan dikejar-kejar waktu yang berjalan gontai. Terengah-engah menyusuri lorong-lorong waktu. Dan mendapati diri ini kosong, lelah, pegal, dan tak karuan melawan kecepatan waktu. Mungkin itulah yang menyebabkan kalimat seperti, “Wah, sudah Senin saja, padahal kemarin Minggu,” yang kerap muncul di awal minggu. Kalimat tadi diungkapkan dengan berat hati, sambil ngantuk, dan terpaksa bangkit dari kasur untuk mandi pagi, karena kelelahan begadang semalaman suntuk.

Lelah, lesu, lemah, pegal-pegal, dan keseleo, mungkin tidak akan terjadi apabila kita rajin minum sangobion bisa mengatur waktu. Banyak dari kita yang bertanya, “Mengatur waktu? Bagaimana caranya? Apakah semudah mengatur settingan di ponsel android?”

Zivanna Letisha, dalam acara penggibahan waktu tersebut menjawab, “Mengatur waktu sama artinya seperti battle dengan diri sendiri,” dalam artian, tidak semudah menyetting ponsel android agar bisa terkoneksi dengan wifi di kantor BukaLapak, misalnya. Perlu ada cara tersendiri. Langkah awalnya adalah, mengetahui dan mengenali diri sendiri. Jawaban Putri Indonesia 2008 itu mengatakan ada ‘battle’ dengan dirinya sendiri ketika mengatur waktu. Nah, bila kita ingin mengalahkan lawan, kenali dulu siapa lawan kita. Tanpa mengenali siapa lawan kita dan tekad yang kuat untuk melawan, kita tidak akan menang.

Waktu berjalan gontai. Dan kita jangan berjalan membungkuk di belakangnya atau berpeluh-peluhan dikejar waktu. Masih banyak cara berkawan dengan waktu. Merangkul ia dan mengajaknya membangun mimpi demi masa depan cemerlang. Mengajaknya berjalan santai hingga sampai ke tujuan. Caranya? Anda bisa pergi ke toko buku menggunakan kendaraan atau kuota internet dan segera membaca ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ karena saya pun harus memulai berkawan dengan waktu dengan… tidur bersama waktu. Esok pagi, ketika udara masih segar, baru deh baca bukunya Zivanna Letisha.

:))

Processed with VSCO

Foto launching buku ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ 

PS: Peluncuran buku saya kapan-kapan deh. Doain aja :”)

 

Depok, 22 April 2016

Iklan

Subuh di Balik Pintu

Gelap malam menghantarkan saya kepada kesunyian-kesunyian. Tidak ada suara di luar. Senyap. Andoro Mega, anakku yang masih merah sudah tertidur pulas setelah saya susui. Saya memandang ke luar dari jendela dekat pintu utama. Sepi. Saya baru saja hendak tidur, tapi perasaan ganjil yang tak mengenakkan ini menekan uluhati. Ada apa? Tiba-tiba saja saya teringat Mas Gun. Suami saya yang selepas sholat maghrib tadi pamit untuk rapat internal partai.

Pukul sepuluh lewat duabelas menit, Mas Gun belum pulang. Barangkali dia menginap di kantor partai. Barangkali rapatnya sangat penting sehingga belum pulang selarut ini, kata saya coba menghibur diri. Saya memilih untuk menulis saja. Saya menyalakan lilin, dan mengambil buku catatan saya. Sambil terkenang Mas Gun yang memberi buku catatan ini. Dia senang sekali mengoleksi buku catatan yang ia dapat dari percetakan tempat dia bekerja. Mas Gun, selain anggota partai, ia juga penggerak penerbitan milik partai itu.

Saya mulai menuangkan kata-kata di kepala saya di kertas kuning ini. Warna kertas yang hangat dan permukaannya yang agak kasar, menambah inspirasi saya menggores-goresi pena di atasnya. Inspirasi bisa datang dari mana saja dengan cara yang apa saja, memang. Pasca-kemerdekaan, banyak permasalahan-permasalahan ekonomi, politik, dan sosial, terkadang saya mengambil masalah-masalah itu untuk menjadi bahan tulisan di kertas ini. Saya menulis apa saja, esai, cerita, atau puisi. Saya memang sudah kepalang cinta dengan negeri ini, negeri yang kemerdekaannya direbut dengan tumpah darah, dengan mayat-mayat orang-orang yang berjuang, pahlawan-pahlawan kemerdekaan. Biarlah banyak permasalahan yang ditanggung negeri ini, toh ini semua adalah proses yang harus dijalani. Negeri ini biar nanti, dewasa dengan sendirinya, seiring perkembangan pola pikir masyarakatnya.

Setelah setengah jam lewat saya menulis, perasaan ganjil ini rupanya belum lenyap juga. Ada apa gerangan? Tetapi rasa kantuk ini merubuhkan saya. Akhirnya saya bangkit dan menuju kamar. Sambil dalam hati, meminta maaf pada Mas Gun karena tak menunggunya pulang. Biarlah, semoga saja dia tidur di kantornya. Pulang sebegini larut bisa membahayakan keselamatannya. Negeri ini, walau sudah merdeka, belum sepenuhnya aman.

“Dik…” sayup suara itu membangunkan saya. Ternyata Mas Gun sudah pulang, entah pukul berapa.

“Mas…sudah pulang?” saya mencium tangannya, tanda hormat. Ia mencium kening saya, sayang.

“Dik, Mas pulang hanya sebentar. Keadaan di luar kota sedang genting. Sebentar lagi Mas mau pergi…”

“Lho, Mas, ada apa lagi, lho?” saya bertanya khawatir. Setelah saya benar-benar melek, saya baru sadar ternyata langit masih gelap. Saya makin panik.

“Situasi politik di Jakarta sedang panas, Dik. Tujuh jendral diculik, enam jendral tewas, dan partai Mas ini, Dik, dianggap sebagai dalang!”

“Apa?” bulu kuduk saya berdiri. Entah ada apa lagi sekarang ini. Politik macam apa yang sedang dijalankan. Rencana apa lagi ini?

“Mas tidak tahu apa-apa tentang ini, Dik. Tetapi dari rapat kemarin, Mas dengar, kejadian kemarin itu sangat membahayakan anggota partai. Kita harus waspada. Kamu jaga Mega baik-baik ya…” Mas Gun tersenyum. Wajahnya pucat. Saya tahu dia juga takut dan khawatir seperti saya, tapi dia mencoba sabar. Ya Tuhan…negeri ini mau Kau apakan lagi? Dada saya teriris.

“Tapi Mas…sesubuh ini harus pergi?”

“Benar, Dik. Mas harus mencari perlindungan.”

“Mas…..”

“Kuatkan diri kamu, Dik. Kamu perempuan yang kuat yang pernah saya kenal. Terus menulis, dan kenanglah saya sewaktu-waktu apabila saya tak kembali.”

Saya menangis deras. Saya rasakan Mas Gun mengusap lengan saya, menyabarkan, kemudia memeluk saya. Erat sekali. Saya rasakan napasnya hangat di ubun-ubun saya, kemudian rambut saya basah. Mas Gun menangis…

“Dik, semua ini bukan Mas yang kehendaki, Gusti Allah yang kehendaki semuanya. Kamu tahu, Mas hanya berjuang. Kita hanya berjuang, Dik!” Mas Gun mengusap punggung saya. Saya menangis makin hebat. Punggung kami tersentak-sentak. Seolah sadar bila pertemuan ini adalah pertemuan terakhir.

“Dik, kamu tidak perlu berjuang seperti Mas. Kamu bisa berjuang tanpa melakukan apa yang Mas lakukan. Kamu bisa berjuang dengan cara kamu sendiri. Kamu wanita yang mandiri. Kamu wanita yang perkasa. Ingat ini, Dik! Kamu bisa hidup tanpa Mas…”

“Mas!” saya sudah tidak tahan dengan omongannya. Mas Gun sangat pesimis kali ini. Sama, saya pun juga. Tapi saya perempuan. Saya pendampingnya! Saya harus lebih tegar!

“Mas, saya yakin kamu masih mampu berjuang. Saya tahu, Mas pejuang yang tulus, dan ketulusan tidak bisa dilumpuhkan oleh kekejian. Biarkan saja, mungkin ini bagian dari drama politik, entah siapa yang menjadi dalang semua ini. Biar nanti terbongkar sendiri! Saya yakin Mas nggak bersalah, dan taka da yang boleh menghukum orang yang tak bersalah!”

“Terima kasih, Dik. Mas benar-benar harus pergi sekarang juga. Ingat pesan Mas. Kamu dan Mega hati-hati. Tetaplah waspada. Semoga Mas cepat pulang.” Mas Gun memaksa tersenyum. Saya tahu dia sangat ketakutan kali ini. Saya peluk dia sekali lagi sebelum benar-benar pergi.

Koran-koran dipenuhi berita-berita politik dan kematian-kematian enam jendral yang dibunuh. Kemudian perintah pengganyangan anggota partai. Dada saya berdegup. Nyeri. Lemas. Tiba-tiba teringat Mas Gun yang memeluk saya dinihari tadi. Saya terkulai lemas di beranda membaca berita itu. Waspada, Dik, waspada. Saya langsung tercenung, mengingat kata-kata Mas Gun. Saya menutup Koran pagi. Menutup pintu dan menguncinya. Merosot tak berdaya. Oalah, Gusti…apa nanti Mas-ku akan diganyang? Dengan peluru senapan? Oalah…siapa yang bersalah, siapa yang dihukum?  Apakah kecintaan saya dan suami saya kepada negeri ini akan membawa kami ke tiang gantung? Atau menjadikan kami sasaran tembak?

Pintu digedor keras. Dada saya berdegup kencang sekali. Bertanya-tanya, siapa itu di luar pintu. Apakah tentara yang akan mengganyang saya? Tapi apa salah saya?

“Dik…” Mas Gun! Saya terlonjak. Cepat-cepat saya menghapus air mata saya dan membuka pintu.

“Mas…” Mas Gun cepat-cepat masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan menguncinya.

“Dik, ini berbahaya. Mas dengar pengganyangan ini akan sampai ke pelosok-pelosok. Di Solo, anggota-anggota partai beserta keluarganya diserbu warga. Kawan-kawan perempuanmu yang ikut mengajar juga dihabisi. Sungguh mereka tidak punya berbelas kasihan kepada perempuan! Mereka semua meneriaki kita pecundang pengkhianat bangsa padahal kelakuan mereka tidak lebih baik atau malah lebih hina daripada apa yang mereka sangkakan kepada kita! Kita harus pergi, Dik. Kemasi barang-barangmu. Titip Mega kepada ibumu. Ibu pasti maklum keadaan kita.”

“Sungguh biadab! Apa sebabnya mereka membunuh perempuan-perempuan? Apa salahnya mereka? Apa salahnya kita, Mas? Mengapa kita harus lari seperti orang yang benar-benar punya salah tetapi tidak bertanggung jawab?” saya menangis. Saya tidak menyangka bahwa saya juga dikejar-kejar. Padahal, saya, sebagai istri Mas Gun yang anggota partai hanya berjuang sesuai dengan kemampuan saya. Sesuai kemampuan istri-istri anggota lain. Dan…teman-teman saya….dihabisi…sungguh kejam! Dosa macam apa yang sedang dilakukan negeri ini, Gusti?!

“Kita harus tahu apa kesalahan kita sebenarnya. Mengapa kita dikejar Mas! Itu baru adil!” kata saya.

Mas Gun menggeleng. Matanya sedih.

“Hari ini sedang tidak ada keadilan, Dik. Nyawa murah. Kawan-kawan kita dibunuh hanya karena prasangka dan dugaan! Jangan harapkan keadilan, Dik.. jangan…” Mas Gun mengusap wajahnya yang lelah. Menghampiri saya dan menuntun saya ke kamar. Saya duduk lemas di atas kasur. Memeluk Mega yang kini tidur pulas.

“Dik, ayo kemasi barang-barangmu…”

1352448174

ilustrasi didapat dari google image

 

Tamat

Depok, 160416

Catatan: Cerita fiksi ini dibuat dengan tujuan mengingat sejarah kelam yang dilalui oleh sebagian perempuan di Indonesia pasca kemerdekaan. Peran perempuan di cerita ini menonjolkan sisi perempuan yang mempunyai hak-hak yang sama dengan laki-laki dalam kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Dalam cerita ini mengisahkan tentang seorang perempuan sekaligus istri yang melaksanakan tugasnya dengan baik seperti mengurus anak dan melayani suami, tetapi di sini sosok istri juga sebagai penopang kekuatan laki-laki (suami).
Perempuan tidak harus mampu betul-betul setara dengan laki-laki atau lebih tinggi dari laki-laki dan melupakan kodratnya sebagai perempuan, tetapi bagaimana si perempuan mampu menyeimbangi laki-laki dalam hal berpikir dan menyuarakan hak-hak serta pendapat. Maka dari itu, perempuan wajib memiliki kecerdasan dan mampu berjuang dengan caranya sendiri demi hidup dan juga bangsanya.

 

Sebuah Kota

Siang bersinar terik sekali. Membakar kulit hingga ke tulang-tulang. Di langit sedang tidak ada awan yang sudi memayungi makhluk-makhluk ciptaan Gusti Allah. Pohon-pohon tumbuh di tempat yang sia-sia, yang fungsi dasarnya sebagai peneduh dari panas dan penghasil oksigen, kini bergeser jadi dekorasi ruang kota.

Gedung-gedung pencakar langit berlomba-lomba menumbuhkan dirinya sendiri. Siapa yang paling dekat dengan langit, dia lah yang paling kokoh, seolah karena tingginya yang sangat menjulang, ia bisa angkuh dan mengaku-aku kawan Tuhan. Orang-orang di dalam gedung sedang menikmati kenyamanan sejuk palsu dari mesin yang kerapkali berbunyi sekaligus sedang tersiksa karena tidak bisa bergerak leluasa padahal negara sudah merdeka sejak puluhan tahun lalu.

Sedangkan, orang-orang di luar gedung memayungi dirinya sendiri dengan belas kasihan orang lain dan bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai penyebrang jalan satu ke satu yang lain. Seorang ibu mendekap bayi yang masih merah, bayi itu ia bungkus dengan sehelai selendang merah tua kumal yang bau apak dan pesing bekas si bayi mengompol kemarin dan belum dibersihkan. Bapak-bapak tua di bawah jembatan itu meringis kepanasan, kain bajunya ia gunakan sebagai penyeka keringatnya. Ia hitung-hitung, rasanya sudah delapan jam ia di situ dan baru mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah. Orang-orang semakin kaya sekaligus miskin. Mereka tergesa ke dalam gedung dengan wajah segar tetapi pucat dan tebal, lalu pulang dengan loyo, pucat, dan tebal.

Di pinggir trotoar, depan gedung yang paling tinggi, seorang perempuan layu bak bunga mawar yang sekarat, yang kelopak-kelopaknya sudah mulai kering dan kuning, tak segar lagi, dan sedikit lagi mati. Perempuan itu membuka warung rokok bersama suaminya. Tapi suaminya sedang enak-enakan berjudi sambil menggoda janda kembang yang melingkari pundaknya tatkala ia sedang membanting-banting kartu. Perempuan itu cucu-ku. Lihatlah, betapa kuyu dia di tengah kota yang berpura-pura megah. Kasihan dia. Kasihan Desaku. Oh, Desaku.

Kalian barangkali tak percaya dengan ceritaku ini. Kota ini, dulu hanyalah desa dengan hamparan sawah yang hijau sepanjang mata memandang. Lahan-lahan padi, tebu, jagung, kebun-kebun tomat, wortel, cabai, bawang, semua kami punya dan kami yang menanam dan merawatnya seperti merawat bocah-bocah sendiri. Kami merawat mereka seperti merawat kehidupan kami. Pohon-pohon masih sangat banyak. Di depan rumah, di halaman belakang, di pos RT, di jalan-jalan setapak, di mana-mana. Pohon-pohon sepanjang mata memandang. Di depan rumahku sendiri ada pohon mangga yang kalau musim panen tiba, ibu-ibu di desa kami mengerubung sambil merujak seusai bertani. Ya, di desa kami ini, hampir seluruh penduduknya adalah petani. Mau bapak-bapak atau ibu-ibu, setiap pagi kami beriringan menuju sawah milik kami sambil bercengkrama, menggarap sawah kami masing-masing sambil mengobrol ringan dan menertawakan hal-hal keseharian, berleha-leha bersama suami di saung dekat sawah kami. Makan siang dengan tempe, telur dadar, dan sambal terasi bersama suami. Oh, kalian tidak akan percaya ini sebab di kota tempat sekarang tinggal, kalian samasekali tidak menemui apa yang baru saja kuceritakan tadi.

Kulihat dari ketinggian ini, desaku yang tercinta berubah jadi mengerikan. Tidak ada lagi hijau-hijau sejauh mata memandang. Hanya ada abu-abu gedung yang mengkilat, cokelat yang bukan lagi tanah tetapi kayu-kayu palsu, dan warna-warna lain dengan warna yang bau amis dan menyengat. Orang-orang tidak saling sapa, tidak saling bercengkrama, tidak tertawa bersama, dan jarang sekali makan bersama selain karena sebuah perayaan yang pura-pura dirayakan agar tak kesepian. Sekawanan perempuan makan bersama di meja, tetapi tidak saling bicara, hanya terpaku pada apa yang digenggamnya saja. Sibuk mengetik pesan ke teman di sebelahnya, sibuk memesan makanan dengan jari. Mereka jarang sekali menggunakan mulutnya. Jari mereka lebih cerewet ketimbang mulutnya. Bibir mereka hanya tersenyum ketika difoto atau saat memotret diri sendiri. Barangkali saat mati nanti, para malaikat lebih sering bertanya kepada jari mereka daripada mulut. Benar-benar kota yang abu-abu.

Sebenarnya, kota ini tidak akan ada bila perjuanganku dan kawan-kawanku semasa hidup tidak dikhianati orang-orang setelah kami yang hidup, yakni orang-orang yang kini menyesal karena hanya bisa melongo melihat perubahan desanya yang ramah menjadi kota buas. Mereka hanya bisa menengadah ke atas sambil mengeluarkan liur karena mengkhianati perjuangan kami. Mereka mengalahkan perjuangan kami dengan uang. Walau sedikit dari mereka ada yang membela kami, tapi pada zaman itu, keadaan sulit. Banyak yang butuh uang, banyak yang terprovokasi, dan banyak pula yang menawarkan uang dengan cara mudah. Mereka menghasut, mereka terhasut, mereka menikmati uang, kemudian menyesalinya hari ini. Lihatlah cucuku yang kuyu itu wajahnya. Dulu pipinya merah segar, kini pucat pasi. Bibirnya kering, tubuhnya kurus seperti padi yang kering di musim kemarau panjang. Dulu, dia membela kami, dia mengingat aku sebagai sosok nenek yang pernah berjuang, tetapi suaminya yang brengsek itu! Dia yang menghasut cucuku dan cucuku manggut saja karena kepalang cinta! Laki-laki yang hanya bisa berjudi itu menerima puluhan juta untuk jadi bajingan-bajingan kecil setelahnya. Cucuku ditelantarkan, cicitku dibiarkan menangis sampai kelelahan karena kelaparan. O, cucuku dan cicitku yang malang.

Seandainya saja cucuku tegas, sebagai seorang perempuan, memiliki wibawa, dan mampu berjuang tanpa terpancing iming-iming cinta lelaki, ia pasti tak jadi begini. Seandainya ia mampu bergerak, menghasut warga yang belum terhasut, menceritakan perjuanganku dan kawan-kawanku pada mereka yang mudah ditipu duit, pasti, barangkali, mungkin saja kota ini tidak berdiri sewenang-wenangnya saja. Sewenag-wenang, karena, kota ini berkuasa atas kehidupan manusia seluruh dan seutuhnya. Lapar harus beli beras impor, telur impor, daging impor, gula impor, jagung impor, segala bahan pangan impor! Bila haus, air harus beli, air gunung kami yang dulu gratis, kini dikemas botol-botol plastik yang susah diurai tanah, tetapi kini tanah sudah jarang, adanya aspal dan beton. Sungguh mahalnya hidup sekarang ini. Untung saja aku sudah mati! Tapi, kasihan cucuku…

Astaga, aku jadi dongkol lagi setelah melihat di sebelah utara desa kami yang kini sudah jadi kota. Itu dia lihat! Sebuah bangunan yang dengan congkak memusnahkan sawah-sawah kami, kebun-kebun kami, pohon-pohon kami, rumah-rumah kami, desa kami, hidup kami… Itu dia! Gara-gara pabrik semen itu! Aku jadi teringat dulu-dulu kala, saat aku masih mampu berjuang walaupun sudah tua, tetapi belum ringkih! Tenagaku masih sisa banyak karena sering menggarap sawah dengan sukacita. Aku ingat ketika menumbuk lesung berjam-jam di depan calon pabrik itu, duduk di atas lesung sebagai bentuk protes, jangan ambil desa kami! Jangan ratakan tanah kami! Itu hidup kami! Banyak orang yang membantu kami dalam aksi tersebut, aku jadi sering bicara dengan orang asing, orang yang mengaku wartawan dari kota, orang yang membantu perjuangan kami. Tak ada yang mewakili kami berdemo, bersuara, selain diri kami sendiri. Kami berdiri menentang orang-orang bersepatu lars dan berseragam itu yang ternyata lebih pengecut dari kami, kami dipukuli, hingga ada salah seorang temanku yang dilempar ke semak-semak. Astaga, Gusti! Pelindung kami apakah akan jadi buas ketika dikepreti duit? Kalimat ‘membela wong cilik’, sekarang cuma jadi alat sebagai slogan penuh tipudaya menjelang kampanye!

Kakiku kini merasa kaku, seolah aku berada di depan istana negara puluhan tahun lalu, saat masih berjuang, saat kakiku dipasung semen, kalau kalian bertanya untuk apa, ya itu! Untung memperjuangkan tanah kami! Penghidupan kami! Desa kami!

Kakiku sungguh merasa kaku, tetapi dadaku nyeri. Ealah, Ndoro Gusti Pangeraaannn! Tidak ada yang sia-sia, termasuk perjuangan kami, memang. Tetapi… ah!

Awan bergerumbul memenuhi langit yang keruh oleh polusi-polusi yang lahir setiap waktu. Langit sama abu-abunya seperti kota yang berpura-pura hidup dengan mesin-mesin penggerak, dan manusia-manusia yang digerakkan. Perempuan yang berwajah kuyu, ibu yang sedang menggendong bayi merah itu, laki-laki tua itu, diam-diam mengucap syukur karena lepas dari sengatan matahari yang membakar kulit hingga tulang-tulangnya. Dadaku masih nyeri, Tuhan yang Maha Tahu Segala, menatapku dengan iba. Perlahan hujan turun membasahi kota yang abu-abu itu, lalu manusia-manusia sibuk menghalau banjir yang mungkin saja tiba sebentar lagi…

large

 

-fin-

Depok, 160416