Sebuah Kota

Siang bersinar terik sekali. Membakar kulit hingga ke tulang-tulang. Di langit sedang tidak ada awan yang sudi memayungi makhluk-makhluk ciptaan Gusti Allah. Pohon-pohon tumbuh di tempat yang sia-sia, yang fungsi dasarnya sebagai peneduh dari panas dan penghasil oksigen, kini bergeser jadi dekorasi ruang kota.

Gedung-gedung pencakar langit berlomba-lomba menumbuhkan dirinya sendiri. Siapa yang paling dekat dengan langit, dia lah yang paling kokoh, seolah karena tingginya yang sangat menjulang, ia bisa angkuh dan mengaku-aku kawan Tuhan. Orang-orang di dalam gedung sedang menikmati kenyamanan sejuk palsu dari mesin yang kerapkali berbunyi sekaligus sedang tersiksa karena tidak bisa bergerak leluasa padahal negara sudah merdeka sejak puluhan tahun lalu.

Sedangkan, orang-orang di luar gedung memayungi dirinya sendiri dengan belas kasihan orang lain dan bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai penyebrang jalan satu ke satu yang lain. Seorang ibu mendekap bayi yang masih merah, bayi itu ia bungkus dengan sehelai selendang merah tua kumal yang bau apak dan pesing bekas si bayi mengompol kemarin dan belum dibersihkan. Bapak-bapak tua di bawah jembatan itu meringis kepanasan, kain bajunya ia gunakan sebagai penyeka keringatnya. Ia hitung-hitung, rasanya sudah delapan jam ia di situ dan baru mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah. Orang-orang semakin kaya sekaligus miskin. Mereka tergesa ke dalam gedung dengan wajah segar tetapi pucat dan tebal, lalu pulang dengan loyo, pucat, dan tebal.

Di pinggir trotoar, depan gedung yang paling tinggi, seorang perempuan layu bak bunga mawar yang sekarat, yang kelopak-kelopaknya sudah mulai kering dan kuning, tak segar lagi, dan sedikit lagi mati. Perempuan itu membuka warung rokok bersama suaminya. Tapi suaminya sedang enak-enakan berjudi sambil menggoda janda kembang yang melingkari pundaknya tatkala ia sedang membanting-banting kartu. Perempuan itu cucu-ku. Lihatlah, betapa kuyu dia di tengah kota yang berpura-pura megah. Kasihan dia. Kasihan Desaku. Oh, Desaku.

Kalian barangkali tak percaya dengan ceritaku ini. Kota ini, dulu hanyalah desa dengan hamparan sawah yang hijau sepanjang mata memandang. Lahan-lahan padi, tebu, jagung, kebun-kebun tomat, wortel, cabai, bawang, semua kami punya dan kami yang menanam dan merawatnya seperti merawat bocah-bocah sendiri. Kami merawat mereka seperti merawat kehidupan kami. Pohon-pohon masih sangat banyak. Di depan rumah, di halaman belakang, di pos RT, di jalan-jalan setapak, di mana-mana. Pohon-pohon sepanjang mata memandang. Di depan rumahku sendiri ada pohon mangga yang kalau musim panen tiba, ibu-ibu di desa kami mengerubung sambil merujak seusai bertani. Ya, di desa kami ini, hampir seluruh penduduknya adalah petani. Mau bapak-bapak atau ibu-ibu, setiap pagi kami beriringan menuju sawah milik kami sambil bercengkrama, menggarap sawah kami masing-masing sambil mengobrol ringan dan menertawakan hal-hal keseharian, berleha-leha bersama suami di saung dekat sawah kami. Makan siang dengan tempe, telur dadar, dan sambal terasi bersama suami. Oh, kalian tidak akan percaya ini sebab di kota tempat sekarang tinggal, kalian samasekali tidak menemui apa yang baru saja kuceritakan tadi.

Kulihat dari ketinggian ini, desaku yang tercinta berubah jadi mengerikan. Tidak ada lagi hijau-hijau sejauh mata memandang. Hanya ada abu-abu gedung yang mengkilat, cokelat yang bukan lagi tanah tetapi kayu-kayu palsu, dan warna-warna lain dengan warna yang bau amis dan menyengat. Orang-orang tidak saling sapa, tidak saling bercengkrama, tidak tertawa bersama, dan jarang sekali makan bersama selain karena sebuah perayaan yang pura-pura dirayakan agar tak kesepian. Sekawanan perempuan makan bersama di meja, tetapi tidak saling bicara, hanya terpaku pada apa yang digenggamnya saja. Sibuk mengetik pesan ke teman di sebelahnya, sibuk memesan makanan dengan jari. Mereka jarang sekali menggunakan mulutnya. Jari mereka lebih cerewet ketimbang mulutnya. Bibir mereka hanya tersenyum ketika difoto atau saat memotret diri sendiri. Barangkali saat mati nanti, para malaikat lebih sering bertanya kepada jari mereka daripada mulut. Benar-benar kota yang abu-abu.

Sebenarnya, kota ini tidak akan ada bila perjuanganku dan kawan-kawanku semasa hidup tidak dikhianati orang-orang setelah kami yang hidup, yakni orang-orang yang kini menyesal karena hanya bisa melongo melihat perubahan desanya yang ramah menjadi kota buas. Mereka hanya bisa menengadah ke atas sambil mengeluarkan liur karena mengkhianati perjuangan kami. Mereka mengalahkan perjuangan kami dengan uang. Walau sedikit dari mereka ada yang membela kami, tapi pada zaman itu, keadaan sulit. Banyak yang butuh uang, banyak yang terprovokasi, dan banyak pula yang menawarkan uang dengan cara mudah. Mereka menghasut, mereka terhasut, mereka menikmati uang, kemudian menyesalinya hari ini. Lihatlah cucuku yang kuyu itu wajahnya. Dulu pipinya merah segar, kini pucat pasi. Bibirnya kering, tubuhnya kurus seperti padi yang kering di musim kemarau panjang. Dulu, dia membela kami, dia mengingat aku sebagai sosok nenek yang pernah berjuang, tetapi suaminya yang brengsek itu! Dia yang menghasut cucuku dan cucuku manggut saja karena kepalang cinta! Laki-laki yang hanya bisa berjudi itu menerima puluhan juta untuk jadi bajingan-bajingan kecil setelahnya. Cucuku ditelantarkan, cicitku dibiarkan menangis sampai kelelahan karena kelaparan. O, cucuku dan cicitku yang malang.

Seandainya saja cucuku tegas, sebagai seorang perempuan, memiliki wibawa, dan mampu berjuang tanpa terpancing iming-iming cinta lelaki, ia pasti tak jadi begini. Seandainya ia mampu bergerak, menghasut warga yang belum terhasut, menceritakan perjuanganku dan kawan-kawanku pada mereka yang mudah ditipu duit, pasti, barangkali, mungkin saja kota ini tidak berdiri sewenang-wenangnya saja. Sewenag-wenang, karena, kota ini berkuasa atas kehidupan manusia seluruh dan seutuhnya. Lapar harus beli beras impor, telur impor, daging impor, gula impor, jagung impor, segala bahan pangan impor! Bila haus, air harus beli, air gunung kami yang dulu gratis, kini dikemas botol-botol plastik yang susah diurai tanah, tetapi kini tanah sudah jarang, adanya aspal dan beton. Sungguh mahalnya hidup sekarang ini. Untung saja aku sudah mati! Tapi, kasihan cucuku…

Astaga, aku jadi dongkol lagi setelah melihat di sebelah utara desa kami yang kini sudah jadi kota. Itu dia lihat! Sebuah bangunan yang dengan congkak memusnahkan sawah-sawah kami, kebun-kebun kami, pohon-pohon kami, rumah-rumah kami, desa kami, hidup kami… Itu dia! Gara-gara pabrik semen itu! Aku jadi teringat dulu-dulu kala, saat aku masih mampu berjuang walaupun sudah tua, tetapi belum ringkih! Tenagaku masih sisa banyak karena sering menggarap sawah dengan sukacita. Aku ingat ketika menumbuk lesung berjam-jam di depan calon pabrik itu, duduk di atas lesung sebagai bentuk protes, jangan ambil desa kami! Jangan ratakan tanah kami! Itu hidup kami! Banyak orang yang membantu kami dalam aksi tersebut, aku jadi sering bicara dengan orang asing, orang yang mengaku wartawan dari kota, orang yang membantu perjuangan kami. Tak ada yang mewakili kami berdemo, bersuara, selain diri kami sendiri. Kami berdiri menentang orang-orang bersepatu lars dan berseragam itu yang ternyata lebih pengecut dari kami, kami dipukuli, hingga ada salah seorang temanku yang dilempar ke semak-semak. Astaga, Gusti! Pelindung kami apakah akan jadi buas ketika dikepreti duit? Kalimat ‘membela wong cilik’, sekarang cuma jadi alat sebagai slogan penuh tipudaya menjelang kampanye!

Kakiku kini merasa kaku, seolah aku berada di depan istana negara puluhan tahun lalu, saat masih berjuang, saat kakiku dipasung semen, kalau kalian bertanya untuk apa, ya itu! Untung memperjuangkan tanah kami! Penghidupan kami! Desa kami!

Kakiku sungguh merasa kaku, tetapi dadaku nyeri. Ealah, Ndoro Gusti Pangeraaannn! Tidak ada yang sia-sia, termasuk perjuangan kami, memang. Tetapi… ah!

Awan bergerumbul memenuhi langit yang keruh oleh polusi-polusi yang lahir setiap waktu. Langit sama abu-abunya seperti kota yang berpura-pura hidup dengan mesin-mesin penggerak, dan manusia-manusia yang digerakkan. Perempuan yang berwajah kuyu, ibu yang sedang menggendong bayi merah itu, laki-laki tua itu, diam-diam mengucap syukur karena lepas dari sengatan matahari yang membakar kulit hingga tulang-tulangnya. Dadaku masih nyeri, Tuhan yang Maha Tahu Segala, menatapku dengan iba. Perlahan hujan turun membasahi kota yang abu-abu itu, lalu manusia-manusia sibuk menghalau banjir yang mungkin saja tiba sebentar lagi…

large

 

-fin-

Depok, 160416

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s