Subuh di Balik Pintu

Gelap malam menghantarkan saya kepada kesunyian-kesunyian. Tidak ada suara di luar. Senyap. Andoro Mega, anakku yang masih merah sudah tertidur pulas setelah saya susui. Saya memandang ke luar dari jendela dekat pintu utama. Sepi. Saya baru saja hendak tidur, tapi perasaan ganjil yang tak mengenakkan ini menekan uluhati. Ada apa? Tiba-tiba saja saya teringat Mas Gun. Suami saya yang selepas sholat maghrib tadi pamit untuk rapat internal partai.

Pukul sepuluh lewat duabelas menit, Mas Gun belum pulang. Barangkali dia menginap di kantor partai. Barangkali rapatnya sangat penting sehingga belum pulang selarut ini, kata saya coba menghibur diri. Saya memilih untuk menulis saja. Saya menyalakan lilin, dan mengambil buku catatan saya. Sambil terkenang Mas Gun yang memberi buku catatan ini. Dia senang sekali mengoleksi buku catatan yang ia dapat dari percetakan tempat dia bekerja. Mas Gun, selain anggota partai, ia juga penggerak penerbitan milik partai itu.

Saya mulai menuangkan kata-kata di kepala saya di kertas kuning ini. Warna kertas yang hangat dan permukaannya yang agak kasar, menambah inspirasi saya menggores-goresi pena di atasnya. Inspirasi bisa datang dari mana saja dengan cara yang apa saja, memang. Pasca-kemerdekaan, banyak permasalahan-permasalahan ekonomi, politik, dan sosial, terkadang saya mengambil masalah-masalah itu untuk menjadi bahan tulisan di kertas ini. Saya menulis apa saja, esai, cerita, atau puisi. Saya memang sudah kepalang cinta dengan negeri ini, negeri yang kemerdekaannya direbut dengan tumpah darah, dengan mayat-mayat orang-orang yang berjuang, pahlawan-pahlawan kemerdekaan. Biarlah banyak permasalahan yang ditanggung negeri ini, toh ini semua adalah proses yang harus dijalani. Negeri ini biar nanti, dewasa dengan sendirinya, seiring perkembangan pola pikir masyarakatnya.

Setelah setengah jam lewat saya menulis, perasaan ganjil ini rupanya belum lenyap juga. Ada apa gerangan? Tetapi rasa kantuk ini merubuhkan saya. Akhirnya saya bangkit dan menuju kamar. Sambil dalam hati, meminta maaf pada Mas Gun karena tak menunggunya pulang. Biarlah, semoga saja dia tidur di kantornya. Pulang sebegini larut bisa membahayakan keselamatannya. Negeri ini, walau sudah merdeka, belum sepenuhnya aman.

“Dik…” sayup suara itu membangunkan saya. Ternyata Mas Gun sudah pulang, entah pukul berapa.

“Mas…sudah pulang?” saya mencium tangannya, tanda hormat. Ia mencium kening saya, sayang.

“Dik, Mas pulang hanya sebentar. Keadaan di luar kota sedang genting. Sebentar lagi Mas mau pergi…”

“Lho, Mas, ada apa lagi, lho?” saya bertanya khawatir. Setelah saya benar-benar melek, saya baru sadar ternyata langit masih gelap. Saya makin panik.

“Situasi politik di Jakarta sedang panas, Dik. Tujuh jendral diculik, enam jendral tewas, dan partai Mas ini, Dik, dianggap sebagai dalang!”

“Apa?” bulu kuduk saya berdiri. Entah ada apa lagi sekarang ini. Politik macam apa yang sedang dijalankan. Rencana apa lagi ini?

“Mas tidak tahu apa-apa tentang ini, Dik. Tetapi dari rapat kemarin, Mas dengar, kejadian kemarin itu sangat membahayakan anggota partai. Kita harus waspada. Kamu jaga Mega baik-baik ya…” Mas Gun tersenyum. Wajahnya pucat. Saya tahu dia juga takut dan khawatir seperti saya, tapi dia mencoba sabar. Ya Tuhan…negeri ini mau Kau apakan lagi? Dada saya teriris.

“Tapi Mas…sesubuh ini harus pergi?”

“Benar, Dik. Mas harus mencari perlindungan.”

“Mas…..”

“Kuatkan diri kamu, Dik. Kamu perempuan yang kuat yang pernah saya kenal. Terus menulis, dan kenanglah saya sewaktu-waktu apabila saya tak kembali.”

Saya menangis deras. Saya rasakan Mas Gun mengusap lengan saya, menyabarkan, kemudia memeluk saya. Erat sekali. Saya rasakan napasnya hangat di ubun-ubun saya, kemudian rambut saya basah. Mas Gun menangis…

“Dik, semua ini bukan Mas yang kehendaki, Gusti Allah yang kehendaki semuanya. Kamu tahu, Mas hanya berjuang. Kita hanya berjuang, Dik!” Mas Gun mengusap punggung saya. Saya menangis makin hebat. Punggung kami tersentak-sentak. Seolah sadar bila pertemuan ini adalah pertemuan terakhir.

“Dik, kamu tidak perlu berjuang seperti Mas. Kamu bisa berjuang tanpa melakukan apa yang Mas lakukan. Kamu bisa berjuang dengan cara kamu sendiri. Kamu wanita yang mandiri. Kamu wanita yang perkasa. Ingat ini, Dik! Kamu bisa hidup tanpa Mas…”

“Mas!” saya sudah tidak tahan dengan omongannya. Mas Gun sangat pesimis kali ini. Sama, saya pun juga. Tapi saya perempuan. Saya pendampingnya! Saya harus lebih tegar!

“Mas, saya yakin kamu masih mampu berjuang. Saya tahu, Mas pejuang yang tulus, dan ketulusan tidak bisa dilumpuhkan oleh kekejian. Biarkan saja, mungkin ini bagian dari drama politik, entah siapa yang menjadi dalang semua ini. Biar nanti terbongkar sendiri! Saya yakin Mas nggak bersalah, dan taka da yang boleh menghukum orang yang tak bersalah!”

“Terima kasih, Dik. Mas benar-benar harus pergi sekarang juga. Ingat pesan Mas. Kamu dan Mega hati-hati. Tetaplah waspada. Semoga Mas cepat pulang.” Mas Gun memaksa tersenyum. Saya tahu dia sangat ketakutan kali ini. Saya peluk dia sekali lagi sebelum benar-benar pergi.

Koran-koran dipenuhi berita-berita politik dan kematian-kematian enam jendral yang dibunuh. Kemudian perintah pengganyangan anggota partai. Dada saya berdegup. Nyeri. Lemas. Tiba-tiba teringat Mas Gun yang memeluk saya dinihari tadi. Saya terkulai lemas di beranda membaca berita itu. Waspada, Dik, waspada. Saya langsung tercenung, mengingat kata-kata Mas Gun. Saya menutup Koran pagi. Menutup pintu dan menguncinya. Merosot tak berdaya. Oalah, Gusti…apa nanti Mas-ku akan diganyang? Dengan peluru senapan? Oalah…siapa yang bersalah, siapa yang dihukum?  Apakah kecintaan saya dan suami saya kepada negeri ini akan membawa kami ke tiang gantung? Atau menjadikan kami sasaran tembak?

Pintu digedor keras. Dada saya berdegup kencang sekali. Bertanya-tanya, siapa itu di luar pintu. Apakah tentara yang akan mengganyang saya? Tapi apa salah saya?

“Dik…” Mas Gun! Saya terlonjak. Cepat-cepat saya menghapus air mata saya dan membuka pintu.

“Mas…” Mas Gun cepat-cepat masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan menguncinya.

“Dik, ini berbahaya. Mas dengar pengganyangan ini akan sampai ke pelosok-pelosok. Di Solo, anggota-anggota partai beserta keluarganya diserbu warga. Kawan-kawan perempuanmu yang ikut mengajar juga dihabisi. Sungguh mereka tidak punya berbelas kasihan kepada perempuan! Mereka semua meneriaki kita pecundang pengkhianat bangsa padahal kelakuan mereka tidak lebih baik atau malah lebih hina daripada apa yang mereka sangkakan kepada kita! Kita harus pergi, Dik. Kemasi barang-barangmu. Titip Mega kepada ibumu. Ibu pasti maklum keadaan kita.”

“Sungguh biadab! Apa sebabnya mereka membunuh perempuan-perempuan? Apa salahnya mereka? Apa salahnya kita, Mas? Mengapa kita harus lari seperti orang yang benar-benar punya salah tetapi tidak bertanggung jawab?” saya menangis. Saya tidak menyangka bahwa saya juga dikejar-kejar. Padahal, saya, sebagai istri Mas Gun yang anggota partai hanya berjuang sesuai dengan kemampuan saya. Sesuai kemampuan istri-istri anggota lain. Dan…teman-teman saya….dihabisi…sungguh kejam! Dosa macam apa yang sedang dilakukan negeri ini, Gusti?!

“Kita harus tahu apa kesalahan kita sebenarnya. Mengapa kita dikejar Mas! Itu baru adil!” kata saya.

Mas Gun menggeleng. Matanya sedih.

“Hari ini sedang tidak ada keadilan, Dik. Nyawa murah. Kawan-kawan kita dibunuh hanya karena prasangka dan dugaan! Jangan harapkan keadilan, Dik.. jangan…” Mas Gun mengusap wajahnya yang lelah. Menghampiri saya dan menuntun saya ke kamar. Saya duduk lemas di atas kasur. Memeluk Mega yang kini tidur pulas.

“Dik, ayo kemasi barang-barangmu…”

1352448174

ilustrasi didapat dari google image

 

Tamat

Depok, 160416

Catatan: Cerita fiksi ini dibuat dengan tujuan mengingat sejarah kelam yang dilalui oleh sebagian perempuan di Indonesia pasca kemerdekaan. Peran perempuan di cerita ini menonjolkan sisi perempuan yang mempunyai hak-hak yang sama dengan laki-laki dalam kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Dalam cerita ini mengisahkan tentang seorang perempuan sekaligus istri yang melaksanakan tugasnya dengan baik seperti mengurus anak dan melayani suami, tetapi di sini sosok istri juga sebagai penopang kekuatan laki-laki (suami).
Perempuan tidak harus mampu betul-betul setara dengan laki-laki atau lebih tinggi dari laki-laki dan melupakan kodratnya sebagai perempuan, tetapi bagaimana si perempuan mampu menyeimbangi laki-laki dalam hal berpikir dan menyuarakan hak-hak serta pendapat. Maka dari itu, perempuan wajib memiliki kecerdasan dan mampu berjuang dengan caranya sendiri demi hidup dan juga bangsanya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s