Sebuah Kisah Sedih yang Mungkin Saja Terjadi di Ruang-ruang Perkantoran

“Bagi saya, membaca novel itu tidak ada gunanya sama sekali,” ujar saya kepada perempuan yang sedang duduk di hadapan saya.

Mata perempuan itu hanya mampu menatap saja. Tidak ada sedikit pun garis protes di sana. Dia juga tidak mengungkapkan sepatah saja kata untuk mematahkan kalimat saya. Dan kelihatannya, dia tidak berusaha menyangkal. Barangkali dia gugup, atau mungkin saja dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak suka membaca novel seperti dia, atau mungkin saja dia enggan memancing kemarahan saya, atau barangkali dia mengerti alasan saya mengatakan hal itu kepadanya.

Beberapa detik kemudian dia hanya tersenyum dan mengatakan: ya, memang. Dengan raut yang tidak nampak sedikit pun kekesalan di sana.

Itu membuat saya lega, jujur saja. Jujur saja pula, saya mati-matian mencari kalimat yang pas untuk tidak menyakiti hati perempuan itu. Saya juga mati-matian tidak menumpahkan emosi saya di kalimat itu dan mengatakan hal yang lebih pedas dan mampu membuatnya menangis saat itu juga. Tetapi yang mampu keluar dari mulut bajingan saya hanya memang itu. Tapi untungnya, sebagai terlatih, saya mampu menyembunyikan emosi saya. Emosi dalam kalimat itu.

Tapi yang mengherankan, mengapa dia menyetujui pernyataan saya? Mengapa dia tidak berusaha menyangkal dan membela mati-matian bahwa hobi yang diasukai itu berguna? Barangkali dia gugup, atau mungkin saja dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak suka membaca novel seperti dia, atau mungkin saja dia enggan memancing kemarahan saya, atau barangkali dia mengerti alasan saya mengatakan hal itu kepadanya. Segala kemungkinan ada, dan hanya perempuan itu yang tahu.

Di bagian ini, saya akan menerangkan, bahwa kami berada di ruangan saya. Saya adalah manajer perusahaan milik orangtua saya, tentu saja. Saya pemilik warisan tunggal perusahaan ayah saya dan tentu saja saya adalah satu-satunya generasi yang akan mengurus segala aset perusahaan ayah saya. Tidak ada lagi. Dan perempuan ini, perempuan yang duduk di hadapan saya, adalah seorang pelamar kerja di perusahaan saya, tidak lebih, dan tidak kurang.

Hal yang menarik dari dia dan memancing reaksi yang ada di kalimat paling pertama adalah, dia menulis sesuatu yang menggelitik di kolom hobi dan kegiatan sehari-hari. Membaca novel (fiksi, sastra, dan sejenisnya), menulis di blog pribadi, dan menyeduh kopi, ya begitulah yang tertulis di sana. Tentu tidak ada salahnya dengan kegiatan ala-ala pengangguran tidak ada kerjaan semacam itu, tetapi dia harus tahu, saya mencari seorang yang professional. Bukan seorang yang gemar membaca novel atau kerajingan nulis di blog, apalagi sambil menyeduh kopi!

Usai kalimat paling pertama di kisah ini, kami memang berbincang sedikit. Sedikit saja. Kemudian saya cukupkan diskusi singkat itu. Barangkali dia sedikit terluka dengan ucapan saya atau dia terlalu gugup, atau entah hanya dia yang tahu alasannya. Dia keluar dari ruangan saya setelah menjabat tangan dan mengucap terima kasih. Selebihnya, hanya saya seorang. Di ruang pribadi yang selalu dingin dan selalu sepi.

Di ruang pribadi yang selalu dingin dan selalu sepi itu, saya merenungkan dia. Bukan, bukan perempuan itu. Tetapi tulisan dia di kolom hobi dan kegiatan sehari-hari dan ucapan saya barusan. Kalimat pertama di kisah ini.

Kalimat pertama dalam kisah ini sebetulnya pernah menyakiti saya. Menyakiti sampai ke akar-akarnya. Menyakiti sampai ke inti-intinya. Menyakiti sampai ke dalam sel-sel-nya.

Kalimat pertama dalam kisah ini sebetulnya pertama kali keluar dari mulut ayah saya. Keluar dari mulut ayah saya ketika saya menghabiskan uang tabungan saya untuk membeli buku-buku novel dan menghabiskan waktu liburan sekolah dengan membaca novel-novel itu di rumah. Dan mengabiskan separuh usia saya mencita-citakan sebagai penulis buku fantasi. Saya akan menjadi penulis yang hebat, saya tahu itu! Ya, dulu saya seyakin itu.

Hingga suatu ketika kalimat pertama dalam kisah ini yang keluar dari mulut ayah saya menghancurkan semuanya.

“Apa gunanya membaca novel-novel tidak berguna? Khayalanmu tidak berguna di dunia nyata! Menjadi penulis dan menjadi miskin, apa itu cita-citamu? Dasar anak bodoh! Ubah mindset kamu, Rob. Kamu satu-satunya penerus Papa…” lalu dia membanting pintu.

Selamat tinggal terburuk yang mampu kauberikan adalah selamat tinggalmu pada mimpi-mimpimu. Dan saya mengatakan selamat tinggal terburuk itu dua hari setelah ayah saya membanting pintu.

Tidak ada salahnya dari orangtua yang menginginkan anaknya meneruskan kerja kerasnya saat muda. Tidak ada salahnya dari ayah saya yang menginginkan saya meneruskan mimpi besarnya. Tidak ada salahnya dari seorang anak yang berbakti pada orangtua yang telah memberikan hampir seluruh jiwa raganya untuk menyenangkan hati saya. Rob kecil yang kini menjadi Rob besar yang akan memimpin perusahaan. Yang mana artinya saya harus merelakan mimpi masa kecil saya mati.

Tidak akan ada lagi Rob yang menandingi J.K Rowling. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Stephen King. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Stephanie Meyer. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Dean Koontz.

Ayah saya harus tahu, mereka adalah penulis yang kaya raya. Seandainya saja saya masih memegang mimpi itu, saya pasti mampu meyakini beliau bahwa saya, Robbert Schzuns, bisa kaya raya dengan menulis. Dengan mimpi masa kecil saya. Tetapi mimpi saya sudah mati. Begitu juga ayah saya.

Tetapi waktu tidak pernah bisa diputar ulang. Dan saya tidak mampu menghidupkan mimpi masa kecil saya kembali. Untuk saat ini. Untuk saat ini. Saat saya memilih menghidupi mimpi besar ayah saya. Ayah saya yang sudah mati.

Begitu pun dengan kalimat saya yang tak mampu ditarik kembali. Kalimat yang mungkin memukul perempuan itu mundur seribu langkah untuk meninggalkan mimpinya. Kalimat yang mungkin membuat perempuan itu berhenti membaca novel dan menulis di blog sambil menyeduh kopi. Kalimat yang mungkin mendorong dia untuk berdiam di kamar sambil mengepak novel-novelnya. Dan dua hari kemudian membuat dia mengucapkan selamat tinggal terburuk dalam hidupnya.

Saya merasa berdosa…

Saya merasa bersalah…

Tapi tidak ada yang mampu saya perbuat selain berharap agar perempuan itu tidak berhenti menulis.

Dan tidak berhenti bermimpi.

hgj

 

[TMT]


Depok, 26 Oktober 2016

Iklan

Kisah Cinta Perempuan Itu dan Sikap-sikap Buruknya

Sudah duabelas kali hatinya dihancurkan. Sebenarnya limabelas kali, tetapi ketiga sisanya dia yang menghancurkan sendiri sekaligus meremukkan hati ketiga laki-laki itu. Bukan kemauan dia sebenarnya. Hanya saja, entah mengapa, semua laki-laki yang dikencaninya mengaku tidak betah dengan sikap-sikap buruk dia.

Seperti perempuan kebanyakan, dia juga sama seperti perempuan kebanyakan. Dia ingin diterima apa adanya. Seperti ketika dia menginginkan laki-lakinya menerima dia ketika dia menumpahkan sikap-sikap buruknya di permulaan kencannya. Dia, kubilang, seperti perempuan kebanyakan. Biasa saja. Tidak ada yang berbeda, kecuali ekspektasi limabelas kekasihnya.

Dia seperti halnya perempuan pada umumnya. Memiliki payudara dan lubang, tentu saja. Senang berdandan dan gemar belanja. Memiliki hobi dan berkegiatan seperti biasa. Tapi tentu, ada hal-hal yang tidak bisa disamakan dengan perempuan pada umumnya. Sama, seperti perempuan pada umumnya yang tidak dapat disamakan satu-sama-lain. Hal-hal buruk ini lah yang membuat dia kerap berganti pasangan. Hal-hal buruk ini lah alasan dia menerima hatinya dihancurkan. Hal-hal buruk ini lah yang dia pertahankan demi kelangsungan menjadi dirinya sendiri.

Dia seperti halnya perempuan pada umumnya, namun di kala bersamaan, dia tidak seperti perempuan pada umumnya.

Dia memiliki payudara dan lubang, tentu saja. Senang berdandan bila hendak keluar rumah dan kencan, tentu saja. Gemar belanja, amatlah lazim bagi seorang perempuan. Tetapi barang belanjanya bukan pakaian seperti perempuan pada umumnya. Dia menghabiskan separuh gajinya demi buku-buku. Buku-buku yang dia beli setiap bulan-setiap minggu-setiap dia mampir ke toko buku- dibiarkannya menumpuk di rumah kontrakannya. Di meja tamu, di lantai, di kolong kasur, di atas lemari, di atas mesin cuci, di atas rak sepatu, di mana saja. Tapi dia hanya punya dua puluh tiga potong baju atasan, dua potong jeans, dan tiga pasang baju rumah. Dan selama dia memiliki gaji setiap bulan, dia tidak hendak menambahkannya.

Dia memiliki hobi seperti perempuan pada umumnya. Di samping senang membaca, dia juga hobi sinis. Nyinyir, walaupun dalam KBBI, arti nyinyir bukan sinis. Sarkas. Dia tidak segan ngomong goblok, anjing, bangsat, tolol, serta beruk-beruk umpatan lain yang tidak sempat dituliskan di kamus maupun kitab mana pun, bila diperlukan. Dia jorok. Jarang mandi bila tidak ada hal-hal penting seperti acara keluarga, kedatangan tamu, atau ada kencan. Jarang memoles tubuhnya dengan benda-benda ajaib di salon atau ruang spa. Dia, bahkan, tidak akan mengeluh, berteriak manja, mencakar kuku ke tembok, bila rambut yang dipotong di salon terlalu pendek karena ketidaksengajaan pegawai salon. Dia malah bilang; bondol saja lah mbak, lebih asyik.

Sudah duabelas kali hatinya dihancurkan. Sebenarnya limabelas, tetapi tiga sisanya dia yang menghancurkannya sendiri. Tujuh mantan kekasihnya mengaku menyerah dengan sikap-sikap buruknya selama hampir dua pekan. Empat mantan kekasihnya bosan dengan kemonotonan hidupnya selama hampir tiga pekan. Dan tiga sisanya, dia tidak pernah yakin dengan ketahanan laki-laki terhadap sikap buruk dan kemonotonan hidupnya. Dan dengan mantap, dia memutuskan perkaranya dengan ketiga laki-laki itu dalam jangka waktu masing-masing hampir sepekan.

*

Satu bulan setelah dia menganggur dari percintaan, dia pikir, dia tidak mau mulai lagi. Tetapi yang namanya hati, yang namanya takdir, yang namanya kebetulan tidak akan pernah tidak kita lewati dan bisa ditebak.

Namanya Galih. Dia bertemu dengan laki-laki itu di suatu minimarket di stasiun Cikini. Mereka sama-sama ingin menyeduh pop mie dan kopi instan setelah lelah bekerja dan malas berdesakan di kereta. Sayangnya, atau barangkali ini sebuah kesengajaan langit, mesin air panas di minimarket itu mati dan baru saja selesai diperbaiki. Artinya, mereka berdua sama-sama ingin menyeduh pop mie dan kopi instan tetapi harus menunggu mesin itu dinyalakan dan memanaskan airnya selama beberapa waktu yang telah ditentukan oleh pegawai minimarket itu.

“Mohon maaf kak, mesin air panasnya baru dinyalakan. Ditunggu saja 30 menit,” kata pegawai itu ramah.

Dalam hati perempuan itu, dia mengumpatkan beruk-beruk umpatan yang tidak sempat dicetak dalam kamus besar atau kitab manapun.

Dalam hati laki-laki itu, saya, sebagai pencerita, tidak tahu, mohon maaf sekali. Laki-laki ini sangat misterius, semoga pembaca maklum.

Sambil menunggu, perempuan dan laki-laki itu duduk menunggu di kursi yang disediakan di minimarket tersebut. Perempuan itu terpaksa memesan susu dingin dulu demi mengisi kekosongannya. Laki-laki itu duduk santai. Ia meletakkan tas, dan mengeluarkan sebuah novel. Perempuan itu juga duduk kesal, sambil minum susu rendah lemak, meletakkan tas, dan mengeluarkan sebuah novel.

Apakah langit sedang bercanda? Atau sedang menulis naskah cinta-cintaan?

Mereka berdua tidak tahu. Yang mereka berdua tahu hanyalah, novel yang mereka akan baca itu sama-sama karangan Tutu Bijaya. Judulnya, Stasiun. Perempuan itu membuka halaman 184, dan laki-laki itu membuka halaman 84.

Saat itu, memang langit sedang coba-coba membuat naskah cinta. Tetapi, ayolah, jangan terlalu banyak kebetulan!

Dan mereka berdua hanya menikmati takdir itu dan tidak mengirakan atau mempersangkakan langit.

Dari situ. Dari situ lah cerita bermula.

Dan pertanyaan ini bermula. Ayo, apa kalian, pembaca, mampu menjawabnya secara acak atau sistematis?

  1. Apakah mereka akan bersama?
  2. Apakah laki-laki itu menjadi laki-laki ke-tigabelas?
  3. Apakah laki-laki itu menjadi laki-laki ke-empat?
  4. Apakah laki-laki itu dihancurkan atau menghancurkan?
  5. Apakah perempuan itu akan menghancurkan atau dihancurkan?
  6. Apa kisah ini akan berakhir bahagia?
  7. Apa kisah ini akan berakhir sedih?

 

1a

 


Depok, 23 Oktober 2016

 

Suatu Hari di Ruang Redaksi

Seorang laki-laki setengah baya, rapi, dan klimis, tiba-tiba datang. Masuk ke dalam ruang rapat. Ia tersenyum. Tidak, tidak, lebih tepatnya menyeringai. Kita, semua yang ada dalam ruang rapat seketika terperangah kemudian saling berpandangan. Si pemimpin rapat, yang terkenal galak betul, tiba-tiba mukanya kusut dan mrengut.

“Saya habis membunuh istri saya. Tolong angkat saya jadi headline!” kata laki-laki setengah baya itu, sambil tetap tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai. Dingin. Girang!

Seketika saja ruang rapat bergemuruh dengan tawa. Di situ ada Sony Marpaung Redaktur Rubrik Nasional, Imran Hakim Redaktur Metropolitan, Isro Basuki Redaktur Pelaksana, Muis Sadikin, saya, dan jajaran redaksi lainnya. Semua tertawa. Bapak-bapak ini gila atau bagaimana? Apakah dia benar-benar membawa berita sungguhan? Atau lelucon semata?

“Bapak dari mana?” tanya salah satu kawan saya. Iseng. Orang gila kok ditanggapi.

“Saya dari gang Haji Salim. Istri saya masih tergeletak di sana, kalau bapak-bapak mau membuktikan,” katanya meyakinkan. Kita semua berpandangan. Ini sungguhan kah?

“Mengapa bapak ke sini? Bukan ke kantor polisi?” Sony menambahkan. Saya diam saja, memperhatikan. Kira-kira apa mau bapak ini?

“Saya mau masuk koran!” laki-laki tua itu menjawab tegas setegas-tegasnya.

“Masuk koran?”

“Ya!”

“Dengan cara apa bapak membunuh istri bapak?”

“Saya ajak bercinta, kemudian saya lubangi dadanya pakai pisau dapur. Pisau bekas saya bekerja. Harganya mahaaaalll sekali! Berkilat-kilat, mengkilau, dan berdarah!” laki-laki itu cengengesan. Saya bergidik. Orang gila!

Kami, di ruangan ini, masih berpandang-pandangan. Bertanya-tanya lewat tatapan. Mas Isro kemudian mengajak dia ke luar dari ruang rapat dan mengajaknya bercakap-cakap. Wajah bapak itu dingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas Isro. Dia sesekali mengangguk, tersenyum, terkekeh-kekeh. Muka Mas Isro yang tegang. Dengan suara berat dan intimidatif, Mas Isro memanggil Imran Hakim dan saya. Kami berdua ditugaskan membuktikan omongan bapak ini. Yang artinya, kami berdua harus datang ke gang Haji Salim nomor 12, dan membuktikan ada tidaknya mayit perempuan yang tergeletak di sana.

Kami bergerak ke lokasi menggunakan sepeda motor karena tidak terlalu jauh dan tidak memakan waktu. Rumah itu ada di pojok gang Haji Salim. Jalanan sepi, tak ada orang yang berlalu lalang. Dari jauh, kami tak mencium gelagat yang mencurigakan, misalnya bau amis darah atau bangkai. Namun ketika berjarak beberapa langkah dari rumah nomor 12 itu, kami samar-samar mencium bau bangkai dan amis darah.

Rumah nomor 12 itu tidak terkunci tapi tertutup. Pagar hijau tua itu ditutup rapat dan dislot, sedang pintu rumah warna merah maroon itu tertutup tanpa meninggalkan kesan mencurigakan sedikit pun. Kami mengetuk pintu terlebih dahulu. Takut-takut kalau bapak itu bohong dan di dalam ada pemilik rumah. Kami mengetuk pintu namun hingga lima menit menunggu tetap tidak ada jawaban sama sekali.

Akhirnya kami memutuskan masuk. Memutar knopnya perlahan-lahan. Bau itu benar-benar ada. Bangkai dan bau amis darah. Kami mencari sumber bau itu. Bau dan kerubungan lalat itu ternyata berpusat di dapur.

Perempuan muda. Cantik. Sintal. Ranum. Terbuka. Dan berdarah. Bangkai manusia!

*

“Benar kan?” bapak itu tersenyum.

“Orang gila!”

“Kita amankan bapak itu di sini. Nurdin dan Imran sedang ke kantor polisi.”

*

Detik itu juga, turun sebuah berita lelucon: Seorang Pria Membunuh Istri Demi Masuk Koran. Bapak itu senyum-senyum di dalam lapas.

“Ini saya! Masuk koran!” bapak itu terkekeh kepada teman satu lapasnya.

“Orang gila!” teman satu lapasnya itu mengumpat.

*

Seorang perempuan setengah baya mendatangi kantor. Ketika rapat redaksi keesokan hari setelah berita itu turun. Ia mengaku bekas istrinya. Istri ketiga. Memang, diketahui, mayit perempuan itu adalah istri kelima tersangka. Motif pembunuhannya adalah mental si tersangka yang diketahui mengidap psikopat. Kronologinya tak dijelaskan di koran, karena akan menimbulkan dampak sosial yang membahayakan.

“Yang anda beritakan itu suami saya,” kata perempuan itu.

“Ibu ini….siapa?”

“Saya istri ketiga bapak itu.”

“Mengapa datang ke sini?”

“Karena kami yang merencanakannya.”

“Anda kongkalikong?”

“Ya… kami ingin rujuk.”

“Anda otak pembunuhan itu? Tapi bapak itu tidak menyebut-nyebut nama ibu…”

“Ya, memang. Dia egois! Dia ingin menguasai laman koran sendirian, dan tanpa aku.”

“Sebentar…tanpa ibu? Maksudnya?”

“Saya juga mau masuk koran!”

Lelucon apakah ini, Tuhan?

conference20room_s

 

-fin-

Depok, 2016

Sebuah Kisah Cinta yang Bukan Kisah Cinta Biasa

Thalia
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak menyangka kalau kita menggulung kisah ini secepat menggulung karpet atau menggulung kalender atau menggulung kertas yang tak lagi dipakai. Apa kau bakal menyangka seperti ini? Apa kau menulis puisi untukku? Apa kau sedih ketika meninggalkanku? Apa kau menangis? Apa kau selalu merinduiku, seperti yang selalu kau ulang-ulang ketika kau mau pulang ke kotamu? Apa kau bahagia hari ini?

Dhanis
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku selalu berpikir, kaulah yang nanti memiliki seluruh pagi dan malamku. Aku selalu berpikir, kaulah tempat segalaku berbagi. Berbagi kegembiraan, kesedihan, dan kekosongan-kekosonganku. Apa kau masih menyimpan puisi-puisiku? Apa kau akan menangis ketika membacanya ulang? Apa kau masih ingin membacanya lagi? Apa masih kau simpan? Aku membuatkanmu tujuhbelas puisi selama satu tahun kita tak lagi berjumpa dan bercumbu. Puisi-puisimu, masih rapi tersimpan di laciku. Bersama foto-foto kita. Bersama puisi-puisiku yang tak pernah kukirimkan.

Bandara Soekarno – Hatta, 14 Desember 2015:

Dhanis
Aku tidak menyangka bakal begini jadinya. Pertengkaran kemarin adalah hal yang tak pernah kuduga-duga ketika aku kemari. Aku hanya mengharapkan peluk hangatmu, dapur hangatmu, ranjang hangatmu. Tapi kau siksa aku dengan dinginmu. Dinginmu, kau tahu, seperti dinding, aku tak mampu leluasa menyentuhmu lagi. Saat itu, kali terakhir aku mencium tengkukmu, saat itu pula aku tahu bahwa jiwamu tak lagi bersamaku. Hanya ragamu. Hanya raga dan kata-katamu yang semua bohong.

Thalia
Maafkan aku, Dhanis. Pertengkaran kemarin seharusnya tidak terjadi. Dan kepulanganmu seharusnya bukan hari ini. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Maaf aku tidak memelukmu yang lama dan erat seperti biasanya. Maaf aku tidak memintamu tinggal. Maaf aku tidak sempat meminta maaf.

15 Januari 2013

Thalia
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Dhanis. Pemilik nama itu yang menebus hatiku dari jerat-jerat masalalu dan krat-krat bir yang selalu kuminum setiap malam. Dhanis sangat baik, supel, dermawan, dan mampu membuat kedua mataku tak berpaling darinya ketika dia berbicara. Ini gila. Ini tidak pernah terjadi. Daya pikatnya kurasa terbuat dari serbuk ajaib yang terbuat dari rumah kurcaci atau peri-peri baik. Dia selalu menatap mataku ketika berbicara. Matanya tersenyum. Kupikir mata itu hanya laut dangkal, tetapi nyatanya sungai yang deras. Lima menit pertama aku terseret, lima menit kedua aku hanyut, lima menit ketiga aku tenggelam, lima menit keempat aku masuk ke dalam samudranya, dan lima menit kelima aku rasa aku tidak akan bisa kembali lagi. Ini sungguh gila, kan? Apa jatuh cinta segila ini?

Dhanis
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Yang benar saja, dia membaca Haruki Murakami dari Norwegian Wood hingga 1Q84, Emily Dickinson, dan Robert Frost. Yang benar saja, dia mendengarkan musik The Smiths, Simon & Garfunkel, The Everly Brothers, dan Bob Dylan. Yang benar saja, dia menggilai lagu-lagu Morissey. Yang benar saja, kita berdiskusi dari lepas pagi hingga semua toko tutup. Matanya, ada yang mengganjal di sana. Barangkali kesedihan. Dia seperti menyembunyikan kegelapan dalam matanya. Lima menit pertama, aku tak dapat melihat sama sekali, lima menit ke dua aku tersesat, lima menit ketiga aku kelimpungan, lima menit keempat aku mulai menikmati gelap itu, lima menit kelima aku menemukan cahaya. Cahaya itu bersinar setitik saat kita bertatapan. Ah, apakah ini ilusi melankolia saja? Atau memang jatuh cinta segila ini?

Maret, 2013

Thalia
Ada yang ingin meledak dalam tubuhku. Kau memasukkan puisi ke dalam tubuhku. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin meledakkan diriku saat itu juga. Puisi yang sunyi. Seperti malam dan hujan rintik-rintik turun bersamaan dari langit. Heningnya membuat terpaku. Kau menatapku. Sekali lagi, aku tidak ingin kembali. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

Dhanis
Ada yang ingin pecah dalam tubuhku. Aku memasuki belantara hutan paling gelap. Paling rimbun. Paling basah. Paling dingin. Dan paling berangin. Aku duduk di salah satu batunya dan menulis puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin menggetarkan hutan. Menggetarkanmu. Kemudian puisi paling sunyi. Puisi yang meninabobokanmu dalam rengkuhaku. Dalam selimut hangat kita. Pejammu sehening laut mati. Aku ingin berenang di sana dan tak kembali lagi. Mati pun boleh saja, aku tak keberatan. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

April 2013

Thalia & Dhanis
Kita tidak ingin meminta apa-apa lagi. Rasanya sudah lengkap. Kami saling mengisi kekosongan satu sama lain. Kami saling menukar kado. Isi kado itu selalu cerita yang Thalia bawa, atau Dhanis bawa setelah tak berjumpa. Thalia di Jakarta, Dhanis di Manado. Seminggu sekali kita bertemu, berciuman, berpelukan, bercinta. Kadang dua minggu sekali. Jarak tidak melunturkan cinta kami, kami yakin itu.

Thalia
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa kembali. Ketika kau pulang ke kotamu, aku akan terus tenggelam mencintaimu. Hari ini kau akan kembali ke Manado. Aku sudah buatkanmu bekal makan masakanku dan puisiku. Ada tiga puisi.

Dhanis
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa melihat dengan jernih. Ketika aku pulang ke kotaku, aku akan terus tersesat mencintaimu. Hari ini aku kembali ke Manado. Kita akan berpisah. Terima kasih bekalmu. Nasi goreng telur hangat yang enak. Aku sudah menyelipkan tiga puisi di buku puisi Lang Leav yang kuberikan padamu. Oh iya, aku akan membawakanmu masakan khas Manado ketika aku kembali. Tapi bukan masakanku, melainkan masakan ibuku, karena aku tidak bisa memasak, hehehe.

September 2014

Thalia & Dhanis
Terbukti, jarak tidak melunturkan cinta kami. Mungkin resepnya adalah puisi. Sudah tradisi kami, ketika hendak berpisah, masing-masing kami menulis puisi untuk dihadiahkan ke satu sama lain. Ini resep agar cinta tidak cepat luntur dan awet. Lagi pula, dalam diri kami tidak hanya ada cinta. Tetapi ada pula rasa persahabatan dan persaudaraan yang terjalin begitu saja. Kami, misalnya, bisa saja berdiskusi dari semua toko buka hingga semua toko tutup. Yang dibicarakan ada saja. Buku, musik, puisi, politik, kesenian, ekonomi, sosial budaya, soal-soal remeh keseharian, ya begitu lah. Kadangkala, bisa saja kami bertengkar seperti sepasang kakak adik yang rebutan remot tv, perkara rebutan makanan, perkara remeh yang membuat kami saling cemberut satu sama lain. Tapi tak pernah lama. Satu-dua jam, mungkin kami akan kembali tertawa dan bercinta di kamar tidur, kamar mandi, atau sofa. Thalia senang sekali di sofa. Kalau Dhanis lebih senang di kamar mandi.

Januari 2015

Thalia
Hampir sebulan kita tak bertemu. Apa kau rindu padaku? Kau selalu bilang, ‘aku selalu merindukanmu. I’ll miss you’. Kau selalu bilang, hari-harimu tidak pernah tidak dipenuhi rindu. Benarkah? Mengapa kini kau sibuk sekali? Tenggelam dalam rutinitasmu dan pekerjaan-pekerjaanmu. Mengapa semakin hari kau semakin dingin saja? Aku ingin datang ke Manado dan mengambil cuti kerja, tetapi kau selalu katakan jangan. Kau selalu bilang ‘aku sibuk. minggu depan aku akan datang ke Jakarta. Tunggu saja,’ katamu. Tapi, hei, ini sudah dua minggu!

Dhanis
Hampir sebulan kita tak bertemu. Aku sangat rindu padamu. Aku akan menemuimu, tapi tidak minggu ini. Maafkan aku. Wajahmu pasti sedang memasang raut kesal. Membayangkannya, aku ingin mencubit pipimu dan menenggelamkan wajahmu ke wajahku. Kau akan memasang wajah cemberut, dan aku akan memelukmu. Memelukmu erat. Dan kuyakin kau akan menangis dan memukuli punggungku. Kau benci punggung. Itu kan yang kau tulis di puisi-puisimu padaku? Belakangan ini aku memang sedang sibuk. Kuharap kau tak memiliki prasangka buruk kepadaku. Aku sedang mempersiapkan ini untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan kita. Untuk percakapan yang panjang, pagi yang lebih panjang, senja yang selalu merona, dan malam yang duakali lipat lebih hangat dan panjang. Rasanya dunia kita tidak memiliki siang. Tidak memiliki terik. Aku harap kau tabah menungguku. Aku akan kembali dan tersesat.

Agustus 2015

Thalia
Dhanis, entah mengapa ini rasanya lain bagiku. Asing. Asin.

Dhanis
Thalia, apa yang berubah darimu? Entah mengapa ini rasanya lain.

September 2015

Thalia
Apakah kita bisa jatuh cinta kepada dua orang secara bersamaan? Aku rasa, aku tidak bisa meneruskan ini, Dhanis. Tapi, apa yang terjadi denganku bila tanpa kamu? Aku rasa aku tidak bakal mati, tetapi aku akan kehilangan.

Dhanis
Kau bilang, aku adalah samudera di mana kau tak bisa kembali. Thalia, apa kau kini menemukan sebuah perahu dan berniat kembali?

Oktober 2015

Thalia
Aku tidak sanggup untuk tidak kembali. Aku ingin kembali. Aku tidak bisa berenang.

Dhanis
Proyekku gagal sudah. Maafkan aku Thalia, mungkin aku tak akan datang ke Jakarta dalam jangka waktu yang ditentukan. Aku perlu sendiri. Aku perlu merenung. Aku perlu memperbaiki.

November 2015

Thalia
Saat kau kembali ke Jakarta, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kulihat wajahmu dan tanganmu melambai, aku tak bisa menyunggingkan senyum tulusku. Tapi aku tetap tersenyum. Senyum palsu. Kau merasakan itu?

Dhanis
Saat aku kembali ke Jakarta, aku ingin segera memelukmu erat-erat. Tetapi ada apa matamu, Thalia? Gelap. Mengapa tak ada cahaya lagi? Aku seperti menemukan kegelapan yang sama saat pertama kali kita bertemu di bar itu. Bar tempat kau mencurahkan segala kesedihanmu dalam krat-krat bir di meja. Karena itu, aku tak jadi memelukmu. Hanya menggenggam tanganmu. Pelan.

Thalia
Saat kau memelukku, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kuliahat matamu, ternyata aku tidak terseret lagi. Aku sudah kembali ke daratan. Pun ketika kau masuki aku. Kau hentak-hentak tubuhmu ke dalam aku. Kau ciumi seluruh tubuhku. Kau hinggapi tengkukku berlama-lama. Telanjang. Basah. Berdenyut. Dan berdebar. Aku tidak akan meledak, tetapi aku berpura-pura meledakkan diri. Kita tidak bercinta. Bukan dalam artian sebenarnya. Kita tidak bercinta. Kita bersenggama.

Dhanis
Saat aku memelukmu, aku hanya merasakan dingin. Ketika kulihat matamu, gelap itu kini kembali menjadi dinding. Tembok batu. Keras dan tak tertembus apapun. Pun dengan sentuhan-sentuhanku yang katamu adalah puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut dan berdebar. Aku ingin menggetarkanmu lagi, tapi ku rasa kau hanya pura-pura bergetar. Kurasa kita tidak sedang bercinta. Tetapi bersenggama.

Desember 2015

Thalia
Sampai sini saja.

Dhanis
Sampai sini saja?

Sepanjang 2016

Dhanis
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Thalia. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Thalia hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Thalia, hanya Thalia yang mampu membuatnya. Perempuan itu bernama Rani. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Tahun depan aku akan menikahinya. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin, waktu satu dua hari pun tidak cepat bagimu.

Thalia
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Dhanis. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Dhanis hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Dhanis, hanya Dhanis yang mampu membuatnya. Laki-laki itu bernama Romi. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Minggu ini dia melamarku. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin. Aku dan Romi sudah yakin. Kami sepakat menikah tahun depan.

large

 

—END—

 

Depok, 14 Oktober 2016

 

Penulis yang Ganjil

Dia yakin akan hidup selamanya. Dia sangat percaya pada kata-katanya. Kata-kata, pikirnya, akan mampu memberi dia napas selamanya bahkan hingga raganya sudah diantar ke liang lahat. Dia sangat menyakini itu, maka dia tidak pernah berhenti menulis.

Selama hidup, dia hanya berkawan sepi dan kata-kata. Kawan sepermainannya sangat sedikit, bisa terhitung oleh jari. Dari dulu, dia memang tak pandai bergaul. Tak pernah mau repot berbasa-basi dengan orang lain. Menghindari kemunafikan, sebutnya.

Awalnya, dia pun heran dengan dirinya sendiri. Mengapa dia bisa sebegitu anti dengan orang lain, padahal mereka pun manusia. Dan anehnya, dia, sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Maka itu, tulisannya selalu tentang polah dan peristiwa manusia dan kemanusiaan. Tapi ia kesal lihat orang lain!

Setelah kerajingan jalan-jalan di internet lewat smartphone yang dia beli tempo lalu, ia jadi tahu mengapa ia sebegitu anti berhubungan dengan orang lain. Mengapa dia begitu khawatir berdekatan dengan orang lain. Akhirnya, dia menyebut dirinya introvert. Tak lama kemudian, dia mendaku-daku memiliki penyakit kejiwaan bernama Social Anxiety Disorder (SAD), yaitu penyakit yang membuat penderitanya selalu memiliki kekhawatiran berlebih bila berkomunikasi dengan orang lain. Ketika dia melihat keterangan itu di internet, dia langsung sumringah. Dia merasa kalau dia baru saja mampu mengenali dirinya sendiri. Dia seperti terlahir kembali.

Dia menelan segala informasi itu. Segala detil informasi itu terpenrinci masuk ke dalam batok kepalanya, rongga dadanya, dan celah-celah jiwanya. Dia menyebarkan informasi itu kepada orangtuanya yang sering mengeluhkan prilakunya yang enggan bersosialisasi. Dia menceritakan informasi itu kepada teman-temannya, agar mereka maklum atas sikap anehnya, atau agar mereka maklum ketika dia tiba-tiba tidak ingin diganggu gugat oleh siapa-siapa. Dia mengabarkan itu kepada kekasihnya, dan ia menambahkan embel-embel, seperti “sekarang kamu tahu kan kenapa aku tidak mau diajak ke rumahmu? bertemu saudara-saudaramu membuat aku tersiksa. Bukannya aku tidak serius, tapi nanti pasti ada waktunya.”

Awalnya mereka semua mafhum dengan penjelasan yang dia jelaskan dengan semangat. Tapi lama-kelamaan, dia jadi semakin tertutup. Semakin tertutup. Tertutup. Orangtuanya menuntut dia yang tertutup untuk terbuka mencari pekerjaan. Kekasihnya mengeluhkan bahwa dia telah berubah jadi semakin pendiam dan tertutup, kekasihnya menuntut dia yang tertutup menjadi kembali terbuka. Tapi dia bilang, tertutup dan terbuka adalah lawan kata yang mustahil disamakan. Dan dia tertutup. Orang lain tidak boleh mencoba membuatnya terbuka. Terbuka hanya memperparah penyakitnya, belanya di pikiran dia.

Orang-orang terdekatnya memberi saran, “Lawan SAD yang kau bilang! Itu omong kosong!”

“Kamu hanya memberi makan takutmu. Dan dia bisa hidup lebih kuat dari kamu!” begitu kata orangtuanya.

“Kamu tidak akan berubah kalau kamu tidak menkehendaki itu..” kata kekasihnya.

Tapi dia bersikeras.

“Kalian semua tidak merasakan. Yang tidak merasakan, tidak bakal mengerti!” Jiwanya tertekan.

Tapi ia tidak berhenti menulis. Hanya itu cara yang dia yakini mampu mengobati rasa kecewanya terhadap orang sekitar. Ia menulis terus. Setiap hari. Setiap matahari hampir sampai di atas kepala. Sampai menjelang malam. Omongan semua orang hanya dianggap angin lalu. Bagi dia, hanya sepi, kata-kata, dan kopi untuk menemaninya kuat begadang. Untuk apa lagi kalau bukan menulis? Dia menulis. Mengirimkan puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, esai-esainya ke surat-surat kabar, ke penerbit buku, ke tempat yang mau menerima tulisannya. Dia menyentuh dan menyinggung berkali-kali tentang hakikat kemanusiaan tanpa ia mau bersentuhan dengan manusia. Tapi dia mengerti, dia mengerti lewat bacaan-bacaan dia. Hanya itu! Dan sedikit perbekalan yang dia jadikan pengalaman.

Dia tidak memiliki kawan di dunia perbukuan, di dunia tulis menulis. Dia berjuang sendiri mengantar karyanya ke halaman-halaman Koran Minggu. Dia disarankan untuk ikut acara diskusi buku atau pelatihan menulis. Dia bersikeras menolak dengan alasan, semua itu hanya omong kosong untuk mengisi pundi-pundi rupiah si empunya acara atau penulis bersangkutan, karena dunia tulis menulis tidak mampu mengisi dompet mereka. Ya, dia sesinis itu. Dia sepesimis itu.

Tahun pertama nihil. Tidak ada yang mau memuat karyanya. Bukan tidak bagus. Karya dia jelas brilliant bagi dia sendiri dan beberapa kawan yang membaca. Tahun kedua, ada satu dua surat kabar yang mau memuat karyanya. Selebihnya tidak ada lagi. Tenggelam dengan nama-nama sastrawan muda dan baru. Selebihnya ia lelah menulis. Ia memberi dirinya rehat selama beberapa bulan tidak menulis.

Orangtuanya makin gencar menuntutnya tidak menganggur. ‘Cari kerja! Percuma sarjanamu!’ Oh iya, dalam riwayatnya, memang dia seorang sarjana komunikasi dengan ipk yang tidak buruk-buruk amat. Sarjana. Komunikasi. Dua kata yang seharusnya membuat dia mumpuni untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama manusia. Atau mumpuni pula untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah yang banyak.

Kekasihnya semakin gencar mengeluhkan dia bahwa dia tak sama sekali ada upaya untuk mengubah dirinya agar lebih baik. Dia bingung, “lebih baik yang bagaimana? Aku ini sudah melakukan yang terbaik. Kamu tidak pernah tahu. Kamu hanya senang menuntut!”
Kemudian dia ditinggalkan. Dia berusaha tegar. Dia membela dirinya, “alah, perempuan itu, saya tidak butuh perempuan yang banyak menuntut. Saya hanya butuh kekasih yang menerima saya apa adanya. Tidak banyak menuntut. Dan cukup bahagia bersama saya, kesepian saya, dan kata-kata saya.”

Ia akhirnya keluar dari rumah. Ia pamit kepada orangtuanya untuk merantau. Orangtuanya tak yakin sebenarnya, tapi mereka juga sebal bila bujangnya hanya berdiam diri di rumah. Jadi mau tak mau mereka merestuinya dan memberikan sedikit uang untuk biaya hidup dia selama beberapa bulan, selebihnya dia yang berusaha.

Di tempatnya merantau, dia menyewa kos paling murah. Ruang sempit. Hanya ada satu alas tidur, satu almari kecil, dan satu gantungan baju bekas orang yang dulu menyewa. Kamar mandi luar.

Kesendirian yang mewah itu membuat dia lebih rajin menulis. Lebih produktif menulis. Dalam satu hari dia bisa menulis 2 cerpen, 3 puisi, dan 1 esai. Bukan main! Semuanya dia kirim ke surat kabar. Besok dan besoknya seperti itu lagi. Hasilnya lumayan. Satu-dua-tiga minggu, karyanya dimuat. Upahnya dibelikan kuota internet, buku-buku, dan sekali dua menulis di kafe. Beberapa pembaca koran Minggu menyukai karyanya, sisanya lebih menyukai karya karangan sastrawan terkenal atau penyair terkenal. Dia mulai diperhitungkan karyanya bagi beberapa pembaca. Bagi sisanya, dia bukan siapa-siapa.

Belakangan dia merasa semua gemerlap ada padanya. Ada di matanya. Dia tidak perlu bekerja jadi apa-apa sekarang. Dia penulis, dan dia bangga. Tapi kebanggaan itu perlahan membunuh dirinya, sepinya, dan kata-katanya. Kebanggaan itu terlalu kuat, terlalu bising, terlalu tajam untuk menumpulkan kata-katanya.

Dia tidak menulis semenjak kebanggan itu ada.

Sementara, untuk membiayai hidupnya, dia perlu uang. Dia sadar akan hal itu. Terdesaknya akan makan dan minum dan menyambung hidup, akhirnya membuat dia mau tidak mau, menjual koleksi-koleksi bukunya. Satu buku yang laku bisa membiayai hidupnya satu sampai tiga hari kemudian. Tentunya, dengan dihemat-hematkan. Makan hanya dengan mie instan, minum dia rebus sendiri dari air keran, kopi dia seduh sendiri dari kopi bubuk  instan yang diabeli bulan lalu. Berbulan-bulan dia seperti itu. Inspirasi tidak datang sama sekali. Dirinya ada, kesepian pun ada, tetapi kata-kata sudah meninggalkannya.

Sampai suatu hari dia tumbang. Makan yang tidak teratur. Makan selalu dengan mie instan, kadang telor ceplok, bila hasil penjualan bukunya lumayan. Air keran yang direbus asal-asalan. Dan kopi sachetan yang sering diminumnya, kadang lebih dari lima kali sehari.

Dia tidak bisa bangun lagi dari kasur tipisnya. Dia tidak mampu bersuara untuk meminta tolong. Dia tidak bisa membuka pintu kamar kosnya untuk sekadar melihat matahari. Ia terkepung di situ, di dalam kamar itu. Dengan kesepian, dan kata-kata yang tak mampu ditulisnya lagi.

Orang-orang sekitar bukannya tidak mau peduli, bukannya jahat, bukannya kejam, bukannya membiarkan. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu siapa dia. Mereka bahkan tidak pernah berlangganan koran. Apalagi membaca koran Minggu.

Di hari kematiannya itu, dia mengubur jasadnya bersama kata-kata dan keyakinannya. Hanya ada petugas kepolisian, beberapa wartawan yang meliput peristiwa mayat tak dikenal yang mati di kamar kos di bilangan Jakarta Timur, dan warga sekitar yang penasaran.

Kemudian setelah diketahui identitasnya, Ali Ramlan Sadikin, Tempat Tanggal Lahir: Purworejo, 12 Januari 1984, Golongan Darah: A, keluarganya datang dengan terisak. Mereka membenarkan bahwa jasad itu benar-benar Ali Ramlan Sadikin. Anaknya, saudaranya, karibnya.

Nama Ali Ramlan Sadikin tidak pernah populer. Tidak pernah dikenang-kenang. Tidak dijadikan tanggal peringatan, apalagi hari libur nasional, atau hari cerpen nasional. Tidak ada. Tidak ada yang ingat karya-karyanya seperti apa. Tidak ada keabadian nama yang sering dia ucapkan. Tidak ada yang mengingat dia kecuali orangtuanya, dan mantan kekasih yang kini memiliki anak yang lucu-lucu.

082409_a

 

Depok, 13 Oktober 2016