Penulis yang Ganjil

Dia yakin akan hidup selamanya. Dia sangat percaya pada kata-katanya. Kata-kata, pikirnya, akan mampu memberi dia napas selamanya bahkan hingga raganya sudah diantar ke liang lahat. Dia sangat menyakini itu, maka dia tidak pernah berhenti menulis.

Selama hidup, dia hanya berkawan sepi dan kata-kata. Kawan sepermainannya sangat sedikit, bisa terhitung oleh jari. Dari dulu, dia memang tak pandai bergaul. Tak pernah mau repot berbasa-basi dengan orang lain. Menghindari kemunafikan, sebutnya.

Awalnya, dia pun heran dengan dirinya sendiri. Mengapa dia bisa sebegitu anti dengan orang lain, padahal mereka pun manusia. Dan anehnya, dia, sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Maka itu, tulisannya selalu tentang polah dan peristiwa manusia dan kemanusiaan. Tapi ia kesal lihat orang lain!

Setelah kerajingan jalan-jalan di internet lewat smartphone yang dia beli tempo lalu, ia jadi tahu mengapa ia sebegitu anti berhubungan dengan orang lain. Mengapa dia begitu khawatir berdekatan dengan orang lain. Akhirnya, dia menyebut dirinya introvert. Tak lama kemudian, dia mendaku-daku memiliki penyakit kejiwaan bernama Social Anxiety Disorder (SAD), yaitu penyakit yang membuat penderitanya selalu memiliki kekhawatiran berlebih bila berkomunikasi dengan orang lain. Ketika dia melihat keterangan itu di internet, dia langsung sumringah. Dia merasa kalau dia baru saja mampu mengenali dirinya sendiri. Dia seperti terlahir kembali.

Dia menelan segala informasi itu. Segala detil informasi itu terpenrinci masuk ke dalam batok kepalanya, rongga dadanya, dan celah-celah jiwanya. Dia menyebarkan informasi itu kepada orangtuanya yang sering mengeluhkan prilakunya yang enggan bersosialisasi. Dia menceritakan informasi itu kepada teman-temannya, agar mereka maklum atas sikap anehnya, atau agar mereka maklum ketika dia tiba-tiba tidak ingin diganggu gugat oleh siapa-siapa. Dia mengabarkan itu kepada kekasihnya, dan ia menambahkan embel-embel, seperti “sekarang kamu tahu kan kenapa aku tidak mau diajak ke rumahmu? bertemu saudara-saudaramu membuat aku tersiksa. Bukannya aku tidak serius, tapi nanti pasti ada waktunya.”

Awalnya mereka semua mafhum dengan penjelasan yang dia jelaskan dengan semangat. Tapi lama-kelamaan, dia jadi semakin tertutup. Semakin tertutup. Tertutup. Orangtuanya menuntut dia yang tertutup untuk terbuka mencari pekerjaan. Kekasihnya mengeluhkan bahwa dia telah berubah jadi semakin pendiam dan tertutup, kekasihnya menuntut dia yang tertutup menjadi kembali terbuka. Tapi dia bilang, tertutup dan terbuka adalah lawan kata yang mustahil disamakan. Dan dia tertutup. Orang lain tidak boleh mencoba membuatnya terbuka. Terbuka hanya memperparah penyakitnya, belanya di pikiran dia.

Orang-orang terdekatnya memberi saran, “Lawan SAD yang kau bilang! Itu omong kosong!”

“Kamu hanya memberi makan takutmu. Dan dia bisa hidup lebih kuat dari kamu!” begitu kata orangtuanya.

“Kamu tidak akan berubah kalau kamu tidak menkehendaki itu..” kata kekasihnya.

Tapi dia bersikeras.

“Kalian semua tidak merasakan. Yang tidak merasakan, tidak bakal mengerti!” Jiwanya tertekan.

Tapi ia tidak berhenti menulis. Hanya itu cara yang dia yakini mampu mengobati rasa kecewanya terhadap orang sekitar. Ia menulis terus. Setiap hari. Setiap matahari hampir sampai di atas kepala. Sampai menjelang malam. Omongan semua orang hanya dianggap angin lalu. Bagi dia, hanya sepi, kata-kata, dan kopi untuk menemaninya kuat begadang. Untuk apa lagi kalau bukan menulis? Dia menulis. Mengirimkan puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, esai-esainya ke surat-surat kabar, ke penerbit buku, ke tempat yang mau menerima tulisannya. Dia menyentuh dan menyinggung berkali-kali tentang hakikat kemanusiaan tanpa ia mau bersentuhan dengan manusia. Tapi dia mengerti, dia mengerti lewat bacaan-bacaan dia. Hanya itu! Dan sedikit perbekalan yang dia jadikan pengalaman.

Dia tidak memiliki kawan di dunia perbukuan, di dunia tulis menulis. Dia berjuang sendiri mengantar karyanya ke halaman-halaman Koran Minggu. Dia disarankan untuk ikut acara diskusi buku atau pelatihan menulis. Dia bersikeras menolak dengan alasan, semua itu hanya omong kosong untuk mengisi pundi-pundi rupiah si empunya acara atau penulis bersangkutan, karena dunia tulis menulis tidak mampu mengisi dompet mereka. Ya, dia sesinis itu. Dia sepesimis itu.

Tahun pertama nihil. Tidak ada yang mau memuat karyanya. Bukan tidak bagus. Karya dia jelas brilliant bagi dia sendiri dan beberapa kawan yang membaca. Tahun kedua, ada satu dua surat kabar yang mau memuat karyanya. Selebihnya tidak ada lagi. Tenggelam dengan nama-nama sastrawan muda dan baru. Selebihnya ia lelah menulis. Ia memberi dirinya rehat selama beberapa bulan tidak menulis.

Orangtuanya makin gencar menuntutnya tidak menganggur. ‘Cari kerja! Percuma sarjanamu!’ Oh iya, dalam riwayatnya, memang dia seorang sarjana komunikasi dengan ipk yang tidak buruk-buruk amat. Sarjana. Komunikasi. Dua kata yang seharusnya membuat dia mumpuni untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama manusia. Atau mumpuni pula untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah yang banyak.

Kekasihnya semakin gencar mengeluhkan dia bahwa dia tak sama sekali ada upaya untuk mengubah dirinya agar lebih baik. Dia bingung, “lebih baik yang bagaimana? Aku ini sudah melakukan yang terbaik. Kamu tidak pernah tahu. Kamu hanya senang menuntut!”
Kemudian dia ditinggalkan. Dia berusaha tegar. Dia membela dirinya, “alah, perempuan itu, saya tidak butuh perempuan yang banyak menuntut. Saya hanya butuh kekasih yang menerima saya apa adanya. Tidak banyak menuntut. Dan cukup bahagia bersama saya, kesepian saya, dan kata-kata saya.”

Ia akhirnya keluar dari rumah. Ia pamit kepada orangtuanya untuk merantau. Orangtuanya tak yakin sebenarnya, tapi mereka juga sebal bila bujangnya hanya berdiam diri di rumah. Jadi mau tak mau mereka merestuinya dan memberikan sedikit uang untuk biaya hidup dia selama beberapa bulan, selebihnya dia yang berusaha.

Di tempatnya merantau, dia menyewa kos paling murah. Ruang sempit. Hanya ada satu alas tidur, satu almari kecil, dan satu gantungan baju bekas orang yang dulu menyewa. Kamar mandi luar.

Kesendirian yang mewah itu membuat dia lebih rajin menulis. Lebih produktif menulis. Dalam satu hari dia bisa menulis 2 cerpen, 3 puisi, dan 1 esai. Bukan main! Semuanya dia kirim ke surat kabar. Besok dan besoknya seperti itu lagi. Hasilnya lumayan. Satu-dua-tiga minggu, karyanya dimuat. Upahnya dibelikan kuota internet, buku-buku, dan sekali dua menulis di kafe. Beberapa pembaca koran Minggu menyukai karyanya, sisanya lebih menyukai karya karangan sastrawan terkenal atau penyair terkenal. Dia mulai diperhitungkan karyanya bagi beberapa pembaca. Bagi sisanya, dia bukan siapa-siapa.

Belakangan dia merasa semua gemerlap ada padanya. Ada di matanya. Dia tidak perlu bekerja jadi apa-apa sekarang. Dia penulis, dan dia bangga. Tapi kebanggaan itu perlahan membunuh dirinya, sepinya, dan kata-katanya. Kebanggaan itu terlalu kuat, terlalu bising, terlalu tajam untuk menumpulkan kata-katanya.

Dia tidak menulis semenjak kebanggan itu ada.

Sementara, untuk membiayai hidupnya, dia perlu uang. Dia sadar akan hal itu. Terdesaknya akan makan dan minum dan menyambung hidup, akhirnya membuat dia mau tidak mau, menjual koleksi-koleksi bukunya. Satu buku yang laku bisa membiayai hidupnya satu sampai tiga hari kemudian. Tentunya, dengan dihemat-hematkan. Makan hanya dengan mie instan, minum dia rebus sendiri dari air keran, kopi dia seduh sendiri dari kopi bubuk  instan yang diabeli bulan lalu. Berbulan-bulan dia seperti itu. Inspirasi tidak datang sama sekali. Dirinya ada, kesepian pun ada, tetapi kata-kata sudah meninggalkannya.

Sampai suatu hari dia tumbang. Makan yang tidak teratur. Makan selalu dengan mie instan, kadang telor ceplok, bila hasil penjualan bukunya lumayan. Air keran yang direbus asal-asalan. Dan kopi sachetan yang sering diminumnya, kadang lebih dari lima kali sehari.

Dia tidak bisa bangun lagi dari kasur tipisnya. Dia tidak mampu bersuara untuk meminta tolong. Dia tidak bisa membuka pintu kamar kosnya untuk sekadar melihat matahari. Ia terkepung di situ, di dalam kamar itu. Dengan kesepian, dan kata-kata yang tak mampu ditulisnya lagi.

Orang-orang sekitar bukannya tidak mau peduli, bukannya jahat, bukannya kejam, bukannya membiarkan. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu siapa dia. Mereka bahkan tidak pernah berlangganan koran. Apalagi membaca koran Minggu.

Di hari kematiannya itu, dia mengubur jasadnya bersama kata-kata dan keyakinannya. Hanya ada petugas kepolisian, beberapa wartawan yang meliput peristiwa mayat tak dikenal yang mati di kamar kos di bilangan Jakarta Timur, dan warga sekitar yang penasaran.

Kemudian setelah diketahui identitasnya, Ali Ramlan Sadikin, Tempat Tanggal Lahir: Purworejo, 12 Januari 1984, Golongan Darah: A, keluarganya datang dengan terisak. Mereka membenarkan bahwa jasad itu benar-benar Ali Ramlan Sadikin. Anaknya, saudaranya, karibnya.

Nama Ali Ramlan Sadikin tidak pernah populer. Tidak pernah dikenang-kenang. Tidak dijadikan tanggal peringatan, apalagi hari libur nasional, atau hari cerpen nasional. Tidak ada. Tidak ada yang ingat karya-karyanya seperti apa. Tidak ada keabadian nama yang sering dia ucapkan. Tidak ada yang mengingat dia kecuali orangtuanya, dan mantan kekasih yang kini memiliki anak yang lucu-lucu.

082409_a

 

Depok, 13 Oktober 2016

 

 

Iklan

4 Comments

  1. Duh kok merasa tersindir ya. Aku juga seorang introvert, punya masalah dengan kecemasan sosial, dan lebih suka bekerja sendirian. Cerpen ini jadi pelajaran kalau kita tetep membutuhkan orang lain. Mantap

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s