Sebuah Percakapan Laknat Dua Orang Jomlo di Hari Ulangtahun Salah Satunya

“Hari ini ulangtahun gue. Dan mantan gue yang masih sangat gue cintai lagi makan enak di Richesse bareng pacar barunya. Coba sebutin, ada nggak yang lebih tai daripada ini?”

“Merayakan ulangtahun tanpa punya uang?”

“Yap. Benar. Lo mau gue traktir apaan?”

“Hmm… seafood, maybe. Tapi kopi dan kentang goreng juga boleh.”

“Ide bagus. Ayo, cabut!”


“Bob Dylan pernah bilang, sometimes life must gets lonely. Tapi ini lonely-nya kelamaan anjir….”

“Kan gue udah bilang, lo cari aja yang baru. Nggak usah nungguin dia. Nggak akan balik ke lo.”

“Susah emang kalau curhat sama orang nggak percaya sama takdir.”

“Yes I am. Otak lo aja yang masih lawas!”

“Takdir nggak mengenal usia, fyi aja sih…”

“Alah kuno. Liat aja playlist lo tuh. Semua music taun 60’an masih nyangkut di sana. dan lo betah dengerinnya.”

“Good music always be good. Musik sekarang sampah.”

“Nggak semua sih. Tapi lagu lagu lawas lo tuh, aduh…. Berasa nginep di kuburan gue tiap dengeriinya.”

“Bangsat lo. Berisik.”

[Ketawa]

[Ketawa]


“Menurut lo gue jodoh nggak sih sama dia?”

“Nih ya, lo dengerin. Orang yang udah pergi dari lo itu Cuma punya dua pilihan: satu, bener bener pergi dan bukan buat lo. Dua, dia bakal balik lagi dan nyakitin lo kemudian.”

“Bera. Lo kebanyakan disakitin anjir.”

“Engga. Ini realistis aja gue. Biar lo nggak masuk lumpur buat beberapa kali.”

“Lawas quote lo!”

“Bangsat!”

“Serius gue. Gimana ya, I feel magic with his eyes. Gue nggak bisa ngelupain segala hal yang pernah gue lakuin sama dia meski itu hal sepele.”

“Kebanyakan cangkem. Magic is bullshit, you know. Lo nggak bisa lupain karena lo membiarkan dia tetep hidup di kepala lo.”

“Gitu?”

“Iyalah. Jelas.”

“Terus bikin dia mati dari kepala gue gimana?”

[Ketawa]

“Kenapa ketawa lo anjir?”

“Nggak. Gue baru sadar lo goblok banget aja.”

“Ye bangsat.”

“Ya lo tinggal matiin aja. Anggap dia udah nggak ada. Gampang kan?”

“Monyet, nggak segampang itu ya.”

“Ya, lo kan bisa ngarang. Lo ngarang cerita aja buat diri lo sendiri kalau dia udah mati. Nggak bisa diharapin lagi. Atau anggap aja lo bener-bener nggak pernah ketemu dia.”

“Nggak bisa lah benga.”

“Dia aja bisa anggap lo nggak ada, kenapa lo nggak bisa? Simpel kan?”

“Ya….mungkin dia sibuk.”

“Sibuk sama siapa? Pacar barunya? Sibuk bahagia maksud lo?”

“Yeee mulut nggak ditatur itu!”

“Lo buang-buang waktu lo buat ngeluhin dia. Lo buang-buang waktu lo buat memandang punggung dia. Bahkan lo kayak orang bego, nggak sadar kalo dia nggak bakal noleh lagi ke lo.”

“Anjir. Sakit ya.”

“Sakit emang, but your life isn’t disaster yet.”

“Ya terus apaan dong?”

“Yaaa apa ya. Sampah kali. Apa drama sedih.”

“Alah bera lo punya cangkem!”

[Ketawa]

“Jadi gue sama dia nggak jodoh nih?”

“NGA!”

“Hm. Okay. Yaudah, kita omongin yang lain aja.”

“Apaan?”

“Tentang gebetan lo aja yang sipit cakep itu dan tidak bakal tergapai.”

“Bangsat lo punya cangkem!”

[Ketawa]

[Ketawa]

“Yaudah. Ngomongin pacar mantan gue yang…yah… ayo kita lihat foto terbarunya. Jangan ngakak ya. Jangan. Pokoknya jangan.”

“Bangsat ini apaan dah?”

[Ngakak] “Anjirr…”

[Ngakak]

“Laper nih gue.”

“Makanya jangan ngetawain orang mulu. Pesen dimsum aja ayo.”

“Ayo.”

“Anjir ngantri panjang banget kayak ngantri sembako pas mao lebaran.”

“Life. If you want something, go for it till it hurts.”

“Alah quote tai!”

 

Tamat

Lelaki Penjaga Pintu

Sabtu adalah hari yang sibuk, begitu juga dengan Minggu. Ya, Minggu, hari ini. Bagi Roni semua hari sama saja. Sama-sama sibuk dan macet. Kecuali saat dia libur. Entah itu hari Kamis, Rabu, atau Jumat? Dan dia lebih senang kalau hari liburnya itu hari Senin. Ya, karena dengan libur di hari Senin dia bisa berpergian pukul sepuluh pagi tanpa kena macet. Pergi ke mall, ke toko buku, gerai musik atau film, atau sekadar ngopi ganteng di kafe tanpa keramaian yang tidak berarti.

Namun sayangnya, hari ini bukan Senin. Hari ini Minggu dan dia harus segera berangkat. Segera bertugas. Bukan jalan-jalan. Dan sayangnya lagi, Senin besok bukan hari liburnya. Jadi, pagi itu dia berangkat bertugas. Seperti biasa, masuk ke ruangannya dan duduk di kursi. Kursi yang juga diduduki orang lain ketika dia tidak dalam masa tugas atau ketika dia libur.

Roni bekerja sebagai penjaga pintu tol. Menerima kartu tol atau uang, memberikan kembalian (bila ada), dan membuka pintu tol. Jangan lupa tersenyum dan terima kasih. Bila perlu dan bila ada yang menanyakan kondisi lalu lintas di dalam tol, dia akan segera menginfokannya.

“Lancar, Pak. Silakan.”

Atau

“Macet, Pak. Tadi pagi ada truk terguling.”

Walaupun terdengar sederhana, pekerjaan Roni sebenarnya rumit juga. Bayangkan saja, bila dia tidak tangkas, kendaraan akan mengular lebih panjang, dan tak jarang telinganya merah karena keluhan-keluhan pengguna yang kadang lupa beretika. Dan yang lebih rumit dari itu sebenarnya adalah keinginan Roni sendiri.

Ya. Selama bekerja hampir dua tahun, Roni hanya ingin satu. Satu yang paling rumit dan yang paling jarang. Dia hanya ingin menemui seorang pengendara yang menyetel lagu favoritnya. Tentu saja mudah apabila Roni menyukai lagu dangdut yang sedang hits atau lagu-lagu pop kekinian. Tetapi sayangnya Roni hanya suka satu jenis musik. Dari sebuah band yang sepertinya sudah bubar. Dan satu lagu. Satu lagu yang jarang sekali didengarkan orang di kota tempat dia bekerja.

Perbandingannya, bila anda bicara soal statistik adalah 3:100, atau kalu di persentasikan menjadi 3% dari 100%. Tapi lupakan persentasi. Masalah Roni sebenarnya adalah mimpinya tiga bulan lalu. Mimpi aneh yang tidak perlu diomongkan tetapi membuat dia begitu terobsesi dan tambah sedikit bersemangat untuk memulai kerjanya. Masalahnya adalah, akan nyata kah mimpinya?

Kita semua tahu, kadang mimpi hanya bualan. Impian tak sampai. Atau omong kosong orang mengantuk. Tetapi dari dulu, Roni selalu percaya mimpi. Berkat buku-buku teenlit yang diabaca. Berkat quote-quote cinta yang ditulis para pengarang. Berkat lirik-lirik sendu musik kesukaannya. Berkat film-film romantis yang pernah diatonton bersama mantan kekasihnya.

Mantan kekasihnya bernama Amalia. Amalia yang kulitnya sawo matang cemerlang, Amalia yang matanya seperti kelereng, Amalia yang hidungnya mancung seperti orang Arab, Amalia yang bibirnya merah kehitam-hitaman karena dia merokok, Amalia yang giginya agak kuning karena sering minum kopi, Amalia yang tubuhnya tinggi semampai seperti model victoria, Amalia yang kalau makan apa pun tidak akan pernah gendut, Amalia yang tertawa menyerupai biskuit pagi Roma Kelapa. Renyah.

Amalia bekerja di toko kue sekarang. Dulu, selama hampir dua tahun berpacaran dengan Roni, Amalia bekerja sebagai pegawai di gerai musik dan toko buku paling besar di kotanya. Karena Amalia, Roni menyukai musik barat seperti The Script, Yellow Card, My Chemical Romance, atau Creed. Karena Amalia dia menyukai buku-buku romantis macam buku terbitan Gagas Media, atau buku-buku konyol seperti buku Raditya Dika. Dia senang yang romatis-romantis seperti di film, di buku, atau di lirik lagu. Bukan hanya Roni, tetapi Amalia pun begitu.

Mereka berdua menciptakan sinopsis sendiri. Mereka berdua menciptakan alurnya sendiri. Menciptakan soundtrack-soundtrack yang diambil dari lagu-lagu favorit mereka berdua. Menciptakan konflik cerita sendiri. Dan menciptakan akhir, yang juga sendiri. Akhir yang tidak seperti di film. Akhir yang tidak seperti di buku-buku cinta. Akhir yang tidak bermelodi seperti musik-musik favorit mereka.

Roni dan Amalia berpisah. Tragis. Roni menemukan Amalia chatting dengan pria lain. Dengan nada mesra dan emotikon senyum. Roni tidak terima, Amalia juga tidak terima kalau Roni mengganggu ruang pribadinya. Roni minta putus. Amalia menyetujui. Begitulah perjanjian tidak tertulisnya. Diam-diam Roni menginginkan Amalia tetap mempertahankan hubungan. Diam-diam Amalia menginginkan Roni mengejarnya lagi.

I wish you could stay, bisik Roni dalam hati.

You said you love me, and then why’d you go away? Bisik Amalia.

I want you to stay, bisik Roni dalam hati.

I want you to run for me, bisik Amalia dalam hati.

She’s gone, she’s really gone, bisik Roni.

He never loves me. He lies, bisik Amalia.

Mereka berdua kembali tenggelam. Dalam buku cinta, dalam film romantis, dalam lagu-lagu sendu. Tetapi tidak lagi berdua. Mereka tenggelam dalam lautnya masing-masing. Menatap jendela kamar, jendela dekat ruang tamu, dan sering melamun bila hujan datang.

Roni sering menatap jendela bila hujan, dan membayangkan Amalia sedang bersamanya sekarang. Atau membayangkan Amalia merindukannya. Atau membayangkan Amalia memulai chat duluan di BBM. Ah, tetapi tidak mungkin, pikir Roni. Dia kini pasti sedang sibuk chatting sama teman lelakinya yang kemarin kupergoki, sangka Roni. Dan dia akan tetap menatap jendela dan hujan. Sampai benar-benar reda atau sampai dia mengantuk.

Beda lagi dengan Amalia. Amalia lebih sering menatap pintu. Menatap pagar rumahnya. Akan segera bangkit dari duduk ketika ada suara motor bebek dan kemudian kecewa karena motor itu bukan suara motor Roni, melainkan motor baru tetangganya. Amalia sering membayangkan apabila Roni akan datang ke rumahnya, membawa seikat bunga, cokelat, atau es doger kesukaannya, meminta maaf, dan mengajaknya kembali. Kembali ke pelukan Roni. Amalia sering melihat layar smartphone, sering membuka BBM tanpa sebab dan tanpa ada satu pesan pun dari Roni.

Tetapi tidak ada yang terjadi di antara keduanya. Tidak ada lagi.

Amalia sudah move on dan berpacaran dengan teman di tempat kerja barunya di toko kue. Sedangkan Roni masih mengingat jejak Amalia dengan baik. Masih suka menonton film romantis kesukaan mereka berdua sendirian. Masih suka mendengar soundtrack lagu mereka berdua sendirian saat pulang kerja. Tapi berbeda dengan selera bukunya. Kini Roni lebih senang membaca buku Robohnya Surau Kami, A.A Navis, Siti Nurbaya, buku-buku Ayu Utami, buku-buku Okky Madasari, buku-buku Pramoedya Ananta Toer, buku terbitan mojok, buku Yusi Avianto, atau bukunya Martin Suryajaya.

Lama kelamaan selera film dan musik Roni juga berubah. Roni lebih suka film romantis berakhir tragis seperti 500 Days Of Summer. Dia juga lebih menyukai lagu-lagu di dalam film itu seperti The Smiths. Tragis tapi happy. Happy tapi tragis. Ya, kan begitu hidup. Tidak selalu bahagia, tidak selalu tertawa. Kadang harus juga sedih. Kadang harus juga menangis. Nikmati kesedihan itu selagi bisa merasa.

Tidak ada lagi Amalia dalam hidupnya. Tidak ada lagi romantis-romantisan macam di film roman kacangan.

“I’m a rock, I’m an island!”

Karena batu tidak merasakan sakit terluka, karena pulau tidak pernah menangis. Lagu dari Simon and Garfunkel. Lagu yang menggambarkan kondisi dirinya akhir-akhir ini.

***

Minggu itu Roni bekerja seperti biasa. Melayani pengguna tol. Mengambil kartu tol/uang – memberi kembalian (bila ada) – membukakan pintu tol. Sejauh ini belum ada yang menanyakan kondisi lalu lintas di dalam tol.

Seperti biasa pula, pengendara yang lewat hampir tidak ada yang menyetel musik. Paling banter radio dari Gen FM atau Prambors. Atau kadang ada yang nyetel dangdut koplo atau tembang jawa. Itu pun kurang terdengar karena volumenya diset pelan.

Pukul sebelas malam. Tol hampir lengang karena besok Senin dan orang-orang harus bangun lebih pagi. Seorang perempuan membuka kaca mobil dan menyerahkan kartu tol. Roni mendengar suara yang familiar.

“Mas, arah Cawang macet nggak?” tanyanya. Tapi Roni terbengong.

Didengarnya lagi. Dipertajam lagi pendengarannya. Benarkah?

Take me out tonight.

“Mas?”

“Eh. Nggak macet, Mbak. Lengang.”

“Oh. Kirain ada truk terguling lagi. Atau bis tabrakan. Seperti…” kemudian perempuan itu menggumam: ‘if the double decker bus crashes into us’.

Roni membuka pintu tol. Dan mobil merah perempuan itu melaju kencang begitu saja.

To die by your side is such a heavenly way to die.”

Roni melanjutkan dalam hati. Ketika perempuan itu sudah pergi. Jauh. Bahkan dia tidak tahu nopol kendaraannya. Atau bahkan nama. Atau bahkan menanyakan dia,

Are you Summer? I dreamt of you three months ago.”

Kemudian kelengangan itu pecah,
Oleh bunyi-bunyi klakson yang tidak pernah tahu cara bersabar.


 

Depok, 21 Desember 2016
2:53 PM

Mimpi Buruk Raja Zein

Hari itu Raja Zein tidak bisa tidur siang seperti biasanya. Semalam dia mimpi buruk. Dia mimpi kepalanya dipenggal orang tak dikenal. Tangan dan kakinya diikat pakai tali plastik murahan. Kepala yang dipenggal itu kemudian dibawa pulang si pemenggal dan badannya dimasukkan karung dan dilarungkan ke sungai di belakang istananya.

Raja Zein tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang meremangkan bulu kuduknya. Sesuatu yang, ah, sudahlah. Dia terlalu lelah membaca berita-berita di gawai, dia terlalu lelah memikirkan rakyat-rakyatnya selama hampir enam jam lamanya. Dia mengantuk. Tapi badannya selalu grasak-gurusuk. Muter-muter. Dia takut mimpi buruknya berlanjut lagi. Dia takut melihat kematian dirinya sendiri, meski itu dalam mimpi.

Rakyat Gole-gole hari itu sama saja dengan hari biasanya. Adem-ayem. Tentram. Tidak ada yang mengganggu ketentraman Rakyat Golegole meski di dalam istana, Rajanya tidak bisa tidur siang. Rakyat Golegole sesiang ini masih wajar. Ada yang memasak makan siang, ada yang bekerja, ada yang menumbuk padi, ada yang menanam padi, ada yang menonton tv, ada yang menyetel musik, ada yang menyeduh kopi, dan ada yang tidur siang dengan nyenyaknya. Sayangnya itu bukan Raja Zein. Raja Zein sedang gelisah.

Akhirnya Raja Zein terlelap juga. Terlelap pada saat pukul dua siang. Jadwal tidur siang yang telat. Raja  Zein biasanya tidur tepat tengah hari bolong. Setelah makan dua porsi lidah sapi panggang dan satu porsi kepala babi Zimbabwe. Babi paling enak di seluruh negeri Golegole yang hanya bisa dinikmati Raja Zein seorang. Dan istri yang setelah itu nguik-nguik di kamar mandi demi mengeluarkan seluruh isi perutnya. Dan anak-anak Raja Zein yang gemuk-gemuk bagai sapi impor.

Tidur siang Raja Zein ternyata tidak nyenyak-nyenyak amat. Pukul setengah empat sore dia mendadak terbangun dengan badan basah kuyup kemringet dan wajah pucat pasi. Istrinya yang sedang tidur di sebelahnya juga mau tak mau ikut terbangun. Dan menanyakan, apakah ada sesuatu yang buruk? Apakah kau mimpi buruk, sayang? Tetapi Raja Zein diam saja. Dia bangun dari kasurnya yang empuk dan mewah yang di pinggir-pinggir kasurnya terdapat besi berlapis emas 23 karat. Raja Zein langsung menuang segelas anggur putih 200 tahun lalu dari Swedia. Glek, glek, glek… tetapi bayangan di mimpi itu belum hilang.

“Aku merasa aku akan digulingkan, istriku. Aku merasa saya akan dibunuh. Dan kau dan anak-anak kita akan dibakar,” kata Raja Zein.

Istrinya melotot. Antara bertanya-tanya dan ngeri.

“Apa yang sedang kau bicarakan, suamiku? Sejak kapan Raja bisa merasa? Ada-ada saja. Hal buruk semacam itu tidak akan terjadi. Kau memegang tampuk kekuasaan. Kalau ada hal yang akan mengancam jiwa kita, kau tinggal kerahkan prajurit Golegole yang perkasa itu. Tidak mungkin itu terjadi.”

“Istriku, hal buruk adalah suatu kemungkinan yang mungkin terjadi. Apapun itu. Bukan tidak mungkin kalau kepalaku, kepala raja, dipenggal dan jadi pajangan di rumah orang miskin. Rumah rakyat!”

“Kau itu ngomong apa? Rakyat Golegole mana yang akan berani memenggal kepala? Kau hanya mimpi buruk.”

“Tidak…tidak. Ini nyata, istriku. Dan rakyat yang memenggalku adalah rakyat yang memberontak. Ya, rakyat yang memberontak.”

“Tidak usah macam-macam. Sekarang mandi saja. Sudah sedia sarsaparilla hangat untuk kau mandi. Aku akan minta pelayan membuatkanmu daging cendrawasih dan darah buaya supaya kau bisa tenang.”

“Baiklah. Terima kasih, istriku.”

Raja Zein kemudian mengangkat tubuhnya dari kasur dan meninggalkan istrinya. Dia pergi ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dalam bath tub berisi sarsaparilla hangat. Lumayan. Tetapi tidak melupakan bayang-bayang hitam di dalam mimpinya. Bayang-bayang hitam yang menyelundup ke istana dan memenggal kepalanya dengan mudah. Semudah dia mengangkat bokongnya.

Masih terbayang kilatan samurai itu di matanya ketika dia sedang memotong-motong daging cendrawasih dengan pisaunya. Kilatan samurai yang dengan gampang memutus leher dan kepalanya. Kilatan samurai yang kelihatannya sangat ringan untuk menebas lehernya. Dia memotong kepala cendrawasih itu dan tiba-tiba tangannya berhenti. Ia membayangkan apabila kepala cendrwasih itu adalah kepalanya. Dan pisau makan itu adalah samurai. Dan dirinya itu adalah si bayang-bayang hitam. Si pemenggal.

“Ada apa, Tuan? Apa kepala cendrawasihnya terlalu alot?” tanya pelayannya. Dia tidak menggubris. Dia malah memerintahkan untuk membuang kepala cendrawasih itu. Ke mana pun.

“Di mana kau buang itu kepala cendrawasih, hah?” tanyanya ketika pelayan itu kembali berdiri di samping meja perjamuannya.

“Ke sungai, Tuan.” Glek. Bulu roma Raja Zein meremang.

Apakah mimpi itu? Apakah….

Apakah pelayan ini nanti yang akan memenggal kepalanya dan membuangnya ke sungai di belakang istana? Apakah ini wangsit? Apa….

Hari itu juga pelayan yang membuang kepala cendrawasih ke sungai dipecat. Pelayan itu tidak tahu apa-apa. Tidak tahu alasan mengapa ia dipecat dan diusir dari istana. Pelayan itu tidak tahu mengapa ia dicampakkan setelah selama hampir separuh hidupnya ia mengabdi di sana. Selama hampir separuh hidupnya ia memasak daging-daging kesukaan raja-raja. Bahkan, sebelum Raja Zein ada.

Bukan hanya dipecat, pelayan itu juga tidak diperkenankan mendekati istana. Prajurit-prajurit di garda depan sudah mencatat dan menghapal wajah, suara, dan lekak-lekuk tubuhnya agar tidak sampai mendekat dan memasuki istana. Pelayan itu tidak tahu mengapa.

Prajurit itu juga tidak tahu mengapa dia harus melarang pelayan itu mendekati istana. Padahal tadinya pelayan itu begitu dihormati prajurit karena dianggap sepuh oleh prajurit-prajurit baru. Pelayan itu juga dikenal baik hati karena suka menyisakan daging-daging yang dia masak ke prajurit-prajurit garda depan.

Tetapi tiga hari setelah pengusiran itu, beredar cerita dari Raja bahwa pelayan itu akan membunuhnya, memenggal kepalanya, dan membuangnya ke sungai. Para prajurit itu bertanya-tanya, saling berpandangan, dan bilang bahwa hal itu tidak mungkin, si pelayan sangat baik. Tetapi apakah di balik kebaikannya ada sesuatu? Apakah diam-diam ia akan meracuni Raja dan memenggal kepalanya? Lama-lama cerita Raja itu dipercaya meski para prajurit itu tidak tahu kebenarannya. Karena Raja yang bicara, maka itulah kebenaran yang sesungguhnya.

Jauh dari istana, pelayan itu kini hanya jadi rakyat Golegole biasa. Hidup di pinggir kota dan bekerja sebagai buruh pabrik. Tetapi tak lama setelah dia diterima jadi buruh pabrik, empunya pabrik ternyata mendengar cerita raja tentang pelayan itu. Maka dipecat lagi lah pelayan itu. Dan pelayan itu tidak pernah tahu mengapa.

Kemudian pelayan itu, sebut saja namanya Dowo, kini bekerja sebagai petani di sawah milik orang lain. Serabutan. Dowo hanya bisa membawa pulang sedikit beras untuk makannya sendiri dan singkong cacat yang tidak laku dijual. Atau kadang-kadang kalau tidak menggarap sawah, dia jadi tukang ojek dari meminjam motor ke tetangganya. Lumayan, dari itu Dowo bisa hidup tentram dan makan meski hanya dengan beras, tok.

Di istana, Raja Zein sakit keras. Dia tidak bisa tidur selama dua bulan belakangan sehingga kantung matanya sudah sebesar bakso rudal. Dia tampak lelah dan kurus karena tidak makan daging selama tiga minggu. Dia hanya mau makan soup ayam, bayam, dan tahu. Seperti rakyat. Kadang, kalau ada, dan kalau dibolehkan, dia makan mie instan. Seperti rakyat kecil.

Mimpi-mimpi Raja Zein semakin jelas. Wajah di mimpinya itu semakin kentara. Dia sudah bisa melihat kepalanya tergantung di pintu rumah seorang rakyat Golegole. Dia sudah bisa melihat tubuhnya hanyut hampir ke muara. Dan wajah itu….wajah si pemenggal…

Dia bukan Dowo. Bukan pelayan itu.

Raja Zein merasa familier dengan pemenggal itu.

Dia merasa de ja vu.

Wajah itu…

Wajah itu…

Wajah itu… Ah, dia ingat.

Itu adalah wajah Woro Geni.

Dia Woro Geni, laki-laki yang tangan dan kakinya ia ikat dengan tali tambang. Laki-laki yang kepalanya dia penggal. Dan tubunya dia larungkan ke sungai.

Woro Geni yang seharusnya menjadi Raja Geni. Bukan Raja Zein.


 

Depok, 19 Desember 2016