Lelaki Penjaga Pintu

Sabtu adalah hari yang sibuk, begitu juga dengan Minggu. Ya, Minggu, hari ini. Bagi Roni semua hari sama saja. Sama-sama sibuk dan macet. Kecuali saat dia libur. Entah itu hari Kamis, Rabu, atau Jumat? Dan dia lebih senang kalau hari liburnya itu hari Senin. Ya, karena dengan libur di hari Senin dia bisa berpergian pukul sepuluh pagi tanpa kena macet. Pergi ke mall, ke toko buku, gerai musik atau film, atau sekadar ngopi ganteng di kafe tanpa keramaian yang tidak berarti.

Namun sayangnya, hari ini bukan Senin. Hari ini Minggu dan dia harus segera berangkat. Segera bertugas. Bukan jalan-jalan. Dan sayangnya lagi, Senin besok bukan hari liburnya. Jadi, pagi itu dia berangkat bertugas. Seperti biasa, masuk ke ruangannya dan duduk di kursi. Kursi yang juga diduduki orang lain ketika dia tidak dalam masa tugas atau ketika dia libur.

Roni bekerja sebagai penjaga pintu tol. Menerima kartu tol atau uang, memberikan kembalian (bila ada), dan membuka pintu tol. Jangan lupa tersenyum dan terima kasih. Bila perlu dan bila ada yang menanyakan kondisi lalu lintas di dalam tol, dia akan segera menginfokannya.

“Lancar, Pak. Silakan.”

Atau

“Macet, Pak. Tadi pagi ada truk terguling.”

Walaupun terdengar sederhana, pekerjaan Roni sebenarnya rumit juga. Bayangkan saja, bila dia tidak tangkas, kendaraan akan mengular lebih panjang, dan tak jarang telinganya merah karena keluhan-keluhan pengguna yang kadang lupa beretika. Dan yang lebih rumit dari itu sebenarnya adalah keinginan Roni sendiri.

Ya. Selama bekerja hampir dua tahun, Roni hanya ingin satu. Satu yang paling rumit dan yang paling jarang. Dia hanya ingin menemui seorang pengendara yang menyetel lagu favoritnya. Tentu saja mudah apabila Roni menyukai lagu dangdut yang sedang hits atau lagu-lagu pop kekinian. Tetapi sayangnya Roni hanya suka satu jenis musik. Dari sebuah band yang sepertinya sudah bubar. Dan satu lagu. Satu lagu yang jarang sekali didengarkan orang di kota tempat dia bekerja.

Perbandingannya, bila anda bicara soal statistik adalah 3:100, atau kalu di persentasikan menjadi 3% dari 100%. Tapi lupakan persentasi. Masalah Roni sebenarnya adalah mimpinya tiga bulan lalu. Mimpi aneh yang tidak perlu diomongkan tetapi membuat dia begitu terobsesi dan tambah sedikit bersemangat untuk memulai kerjanya. Masalahnya adalah, akan nyata kah mimpinya?

Kita semua tahu, kadang mimpi hanya bualan. Impian tak sampai. Atau omong kosong orang mengantuk. Tetapi dari dulu, Roni selalu percaya mimpi. Berkat buku-buku teenlit yang diabaca. Berkat quote-quote cinta yang ditulis para pengarang. Berkat lirik-lirik sendu musik kesukaannya. Berkat film-film romantis yang pernah diatonton bersama mantan kekasihnya.

Mantan kekasihnya bernama Amalia. Amalia yang kulitnya sawo matang cemerlang, Amalia yang matanya seperti kelereng, Amalia yang hidungnya mancung seperti orang Arab, Amalia yang bibirnya merah kehitam-hitaman karena dia merokok, Amalia yang giginya agak kuning karena sering minum kopi, Amalia yang tubuhnya tinggi semampai seperti model victoria, Amalia yang kalau makan apa pun tidak akan pernah gendut, Amalia yang tertawa menyerupai biskuit pagi Roma Kelapa. Renyah.

Amalia bekerja di toko kue sekarang. Dulu, selama hampir dua tahun berpacaran dengan Roni, Amalia bekerja sebagai pegawai di gerai musik dan toko buku paling besar di kotanya. Karena Amalia, Roni menyukai musik barat seperti The Script, Yellow Card, My Chemical Romance, atau Creed. Karena Amalia dia menyukai buku-buku romantis macam buku terbitan Gagas Media, atau buku-buku konyol seperti buku Raditya Dika. Dia senang yang romatis-romantis seperti di film, di buku, atau di lirik lagu. Bukan hanya Roni, tetapi Amalia pun begitu.

Mereka berdua menciptakan sinopsis sendiri. Mereka berdua menciptakan alurnya sendiri. Menciptakan soundtrack-soundtrack yang diambil dari lagu-lagu favorit mereka berdua. Menciptakan konflik cerita sendiri. Dan menciptakan akhir, yang juga sendiri. Akhir yang tidak seperti di film. Akhir yang tidak seperti di buku-buku cinta. Akhir yang tidak bermelodi seperti musik-musik favorit mereka.

Roni dan Amalia berpisah. Tragis. Roni menemukan Amalia chatting dengan pria lain. Dengan nada mesra dan emotikon senyum. Roni tidak terima, Amalia juga tidak terima kalau Roni mengganggu ruang pribadinya. Roni minta putus. Amalia menyetujui. Begitulah perjanjian tidak tertulisnya. Diam-diam Roni menginginkan Amalia tetap mempertahankan hubungan. Diam-diam Amalia menginginkan Roni mengejarnya lagi.

I wish you could stay, bisik Roni dalam hati.

You said you love me, and then why’d you go away? Bisik Amalia.

I want you to stay, bisik Roni dalam hati.

I want you to run for me, bisik Amalia dalam hati.

She’s gone, she’s really gone, bisik Roni.

He never loves me. He lies, bisik Amalia.

Mereka berdua kembali tenggelam. Dalam buku cinta, dalam film romantis, dalam lagu-lagu sendu. Tetapi tidak lagi berdua. Mereka tenggelam dalam lautnya masing-masing. Menatap jendela kamar, jendela dekat ruang tamu, dan sering melamun bila hujan datang.

Roni sering menatap jendela bila hujan, dan membayangkan Amalia sedang bersamanya sekarang. Atau membayangkan Amalia merindukannya. Atau membayangkan Amalia memulai chat duluan di BBM. Ah, tetapi tidak mungkin, pikir Roni. Dia kini pasti sedang sibuk chatting sama teman lelakinya yang kemarin kupergoki, sangka Roni. Dan dia akan tetap menatap jendela dan hujan. Sampai benar-benar reda atau sampai dia mengantuk.

Beda lagi dengan Amalia. Amalia lebih sering menatap pintu. Menatap pagar rumahnya. Akan segera bangkit dari duduk ketika ada suara motor bebek dan kemudian kecewa karena motor itu bukan suara motor Roni, melainkan motor baru tetangganya. Amalia sering membayangkan apabila Roni akan datang ke rumahnya, membawa seikat bunga, cokelat, atau es doger kesukaannya, meminta maaf, dan mengajaknya kembali. Kembali ke pelukan Roni. Amalia sering melihat layar smartphone, sering membuka BBM tanpa sebab dan tanpa ada satu pesan pun dari Roni.

Tetapi tidak ada yang terjadi di antara keduanya. Tidak ada lagi.

Amalia sudah move on dan berpacaran dengan teman di tempat kerja barunya di toko kue. Sedangkan Roni masih mengingat jejak Amalia dengan baik. Masih suka menonton film romantis kesukaan mereka berdua sendirian. Masih suka mendengar soundtrack lagu mereka berdua sendirian saat pulang kerja. Tapi berbeda dengan selera bukunya. Kini Roni lebih senang membaca buku Robohnya Surau Kami, A.A Navis, Siti Nurbaya, buku-buku Ayu Utami, buku-buku Okky Madasari, buku-buku Pramoedya Ananta Toer, buku terbitan mojok, buku Yusi Avianto, atau bukunya Martin Suryajaya.

Lama kelamaan selera film dan musik Roni juga berubah. Roni lebih suka film romantis berakhir tragis seperti 500 Days Of Summer. Dia juga lebih menyukai lagu-lagu di dalam film itu seperti The Smiths. Tragis tapi happy. Happy tapi tragis. Ya, kan begitu hidup. Tidak selalu bahagia, tidak selalu tertawa. Kadang harus juga sedih. Kadang harus juga menangis. Nikmati kesedihan itu selagi bisa merasa.

Tidak ada lagi Amalia dalam hidupnya. Tidak ada lagi romantis-romantisan macam di film roman kacangan.

“I’m a rock, I’m an island!”

Karena batu tidak merasakan sakit terluka, karena pulau tidak pernah menangis. Lagu dari Simon and Garfunkel. Lagu yang menggambarkan kondisi dirinya akhir-akhir ini.

***

Minggu itu Roni bekerja seperti biasa. Melayani pengguna tol. Mengambil kartu tol/uang – memberi kembalian (bila ada) – membukakan pintu tol. Sejauh ini belum ada yang menanyakan kondisi lalu lintas di dalam tol.

Seperti biasa pula, pengendara yang lewat hampir tidak ada yang menyetel musik. Paling banter radio dari Gen FM atau Prambors. Atau kadang ada yang nyetel dangdut koplo atau tembang jawa. Itu pun kurang terdengar karena volumenya diset pelan.

Pukul sebelas malam. Tol hampir lengang karena besok Senin dan orang-orang harus bangun lebih pagi. Seorang perempuan membuka kaca mobil dan menyerahkan kartu tol. Roni mendengar suara yang familiar.

“Mas, arah Cawang macet nggak?” tanyanya. Tapi Roni terbengong.

Didengarnya lagi. Dipertajam lagi pendengarannya. Benarkah?

Take me out tonight.

“Mas?”

“Eh. Nggak macet, Mbak. Lengang.”

“Oh. Kirain ada truk terguling lagi. Atau bis tabrakan. Seperti…” kemudian perempuan itu menggumam: ‘if the double decker bus crashes into us’.

Roni membuka pintu tol. Dan mobil merah perempuan itu melaju kencang begitu saja.

To die by your side is such a heavenly way to die.”

Roni melanjutkan dalam hati. Ketika perempuan itu sudah pergi. Jauh. Bahkan dia tidak tahu nopol kendaraannya. Atau bahkan nama. Atau bahkan menanyakan dia,

Are you Summer? I dreamt of you three months ago.”

Kemudian kelengangan itu pecah,
Oleh bunyi-bunyi klakson yang tidak pernah tahu cara bersabar.


 

Depok, 21 Desember 2016
2:53 PM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s