Suatu Hari di Ruang Redaksi

Seorang laki-laki setengah baya, rapi, dan klimis, tiba-tiba datang. Masuk ke dalam ruang rapat. Ia tersenyum. Tidak, tidak, lebih tepatnya menyeringai. Kita, semua yang ada dalam ruang rapat seketika terperangah kemudian saling berpandangan. Si pemimpin rapat, yang terkenal galak betul, tiba-tiba mukanya kusut dan mrengut.

“Saya habis membunuh istri saya. Tolong angkat saya jadi headline!” kata laki-laki setengah baya itu, sambil tetap tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai. Dingin. Girang!

Seketika saja ruang rapat bergemuruh dengan tawa. Di situ ada Sony Marpaung Redaktur Rubrik Nasional, Imran Hakim Redaktur Metropolitan, Isro Basuki Redaktur Pelaksana, Muis Sadikin, saya, dan jajaran redaksi lainnya. Semua tertawa. Bapak-bapak ini gila atau bagaimana? Apakah dia benar-benar membawa berita sungguhan? Atau lelucon semata?

“Bapak dari mana?” tanya salah satu kawan saya. Iseng. Orang gila kok ditanggapi.

“Saya dari gang Haji Salim. Istri saya masih tergeletak di sana, kalau bapak-bapak mau membuktikan,” katanya meyakinkan. Kita semua berpandangan. Ini sungguhan kah?

“Mengapa bapak ke sini? Bukan ke kantor polisi?” Sony menambahkan. Saya diam saja, memperhatikan. Kira-kira apa mau bapak ini?

“Saya mau masuk koran!” laki-laki tua itu menjawab tegas setegas-tegasnya.

“Masuk koran?”

“Ya!”

“Dengan cara apa bapak membunuh istri bapak?”

“Saya ajak bercinta, kemudian saya lubangi dadanya pakai pisau dapur. Pisau bekas saya bekerja. Harganya mahaaaalll sekali! Berkilat-kilat, mengkilau, dan berdarah!” laki-laki itu cengengesan. Saya bergidik. Orang gila!

Kami, di ruangan ini, masih berpandang-pandangan. Bertanya-tanya lewat tatapan. Mas Isro kemudian mengajak dia ke luar dari ruang rapat dan mengajaknya bercakap-cakap. Wajah bapak itu dingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas Isro. Dia sesekali mengangguk, tersenyum, terkekeh-kekeh. Muka Mas Isro yang tegang. Dengan suara berat dan intimidatif, Mas Isro memanggil Imran Hakim dan saya. Kami berdua ditugaskan membuktikan omongan bapak ini. Yang artinya, kami berdua harus datang ke gang Haji Salim nomor 12, dan membuktikan ada tidaknya mayit perempuan yang tergeletak di sana.

Kami bergerak ke lokasi menggunakan sepeda motor karena tidak terlalu jauh dan tidak memakan waktu. Rumah itu ada di pojok gang Haji Salim. Jalanan sepi, tak ada orang yang berlalu lalang. Dari jauh, kami tak mencium gelagat yang mencurigakan, misalnya bau amis darah atau bangkai. Namun ketika berjarak beberapa langkah dari rumah nomor 12 itu, kami samar-samar mencium bau bangkai dan amis darah.

Rumah nomor 12 itu tidak terkunci tapi tertutup. Pagar hijau tua itu ditutup rapat dan dislot, sedang pintu rumah warna merah maroon itu tertutup tanpa meninggalkan kesan mencurigakan sedikit pun. Kami mengetuk pintu terlebih dahulu. Takut-takut kalau bapak itu bohong dan di dalam ada pemilik rumah. Kami mengetuk pintu namun hingga lima menit menunggu tetap tidak ada jawaban sama sekali.

Akhirnya kami memutuskan masuk. Memutar knopnya perlahan-lahan. Bau itu benar-benar ada. Bangkai dan bau amis darah. Kami mencari sumber bau itu. Bau dan kerubungan lalat itu ternyata berpusat di dapur.

Perempuan muda. Cantik. Sintal. Ranum. Terbuka. Dan berdarah. Bangkai manusia!

*

“Benar kan?” bapak itu tersenyum.

“Orang gila!”

“Kita amankan bapak itu di sini. Nurdin dan Imran sedang ke kantor polisi.”

*

Detik itu juga, turun sebuah berita lelucon: Seorang Pria Membunuh Istri Demi Masuk Koran. Bapak itu senyum-senyum di dalam lapas.

“Ini saya! Masuk koran!” bapak itu terkekeh kepada teman satu lapasnya.

“Orang gila!” teman satu lapasnya itu mengumpat.

*

Seorang perempuan setengah baya mendatangi kantor. Ketika rapat redaksi keesokan hari setelah berita itu turun. Ia mengaku bekas istrinya. Istri ketiga. Memang, diketahui, mayit perempuan itu adalah istri kelima tersangka. Motif pembunuhannya adalah mental si tersangka yang diketahui mengidap psikopat. Kronologinya tak dijelaskan di koran, karena akan menimbulkan dampak sosial yang membahayakan.

“Yang anda beritakan itu suami saya,” kata perempuan itu.

“Ibu ini….siapa?”

“Saya istri ketiga bapak itu.”

“Mengapa datang ke sini?”

“Karena kami yang merencanakannya.”

“Anda kongkalikong?”

“Ya… kami ingin rujuk.”

“Anda otak pembunuhan itu? Tapi bapak itu tidak menyebut-nyebut nama ibu…”

“Ya, memang. Dia egois! Dia ingin menguasai laman koran sendirian, dan tanpa aku.”

“Sebentar…tanpa ibu? Maksudnya?”

“Saya juga mau masuk koran!”

Lelucon apakah ini, Tuhan?

conference20room_s

 

-fin-

Depok, 2016

Sebuah Kisah Cinta yang Bukan Kisah Cinta Biasa

Thalia
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak menyangka kalau kita menggulung kisah ini secepat menggulung karpet atau menggulung kalender atau menggulung kertas yang tak lagi dipakai. Apa kau bakal menyangka seperti ini? Apa kau menulis puisi untukku? Apa kau sedih ketika meninggalkanku? Apa kau menangis? Apa kau selalu merinduiku, seperti yang selalu kau ulang-ulang ketika kau mau pulang ke kotamu? Apa kau bahagia hari ini?

Dhanis
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku selalu berpikir, kaulah yang nanti memiliki seluruh pagi dan malamku. Aku selalu berpikir, kaulah tempat segalaku berbagi. Berbagi kegembiraan, kesedihan, dan kekosongan-kekosonganku. Apa kau masih menyimpan puisi-puisiku? Apa kau akan menangis ketika membacanya ulang? Apa kau masih ingin membacanya lagi? Apa masih kau simpan? Aku membuatkanmu tujuhbelas puisi selama satu tahun kita tak lagi berjumpa dan bercumbu. Puisi-puisimu, masih rapi tersimpan di laciku. Bersama foto-foto kita. Bersama puisi-puisiku yang tak pernah kukirimkan.

Bandara Soekarno – Hatta, 14 Desember 2015:

Dhanis
Aku tidak menyangka bakal begini jadinya. Pertengkaran kemarin adalah hal yang tak pernah kuduga-duga ketika aku kemari. Aku hanya mengharapkan peluk hangatmu, dapur hangatmu, ranjang hangatmu. Tapi kau siksa aku dengan dinginmu. Dinginmu, kau tahu, seperti dinding, aku tak mampu leluasa menyentuhmu lagi. Saat itu, kali terakhir aku mencium tengkukmu, saat itu pula aku tahu bahwa jiwamu tak lagi bersamaku. Hanya ragamu. Hanya raga dan kata-katamu yang semua bohong.

Thalia
Maafkan aku, Dhanis. Pertengkaran kemarin seharusnya tidak terjadi. Dan kepulanganmu seharusnya bukan hari ini. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Maaf aku tidak memelukmu yang lama dan erat seperti biasanya. Maaf aku tidak memintamu tinggal. Maaf aku tidak sempat meminta maaf.

15 Januari 2013

Thalia
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Dhanis. Pemilik nama itu yang menebus hatiku dari jerat-jerat masalalu dan krat-krat bir yang selalu kuminum setiap malam. Dhanis sangat baik, supel, dermawan, dan mampu membuat kedua mataku tak berpaling darinya ketika dia berbicara. Ini gila. Ini tidak pernah terjadi. Daya pikatnya kurasa terbuat dari serbuk ajaib yang terbuat dari rumah kurcaci atau peri-peri baik. Dia selalu menatap mataku ketika berbicara. Matanya tersenyum. Kupikir mata itu hanya laut dangkal, tetapi nyatanya sungai yang deras. Lima menit pertama aku terseret, lima menit kedua aku hanyut, lima menit ketiga aku tenggelam, lima menit keempat aku masuk ke dalam samudranya, dan lima menit kelima aku rasa aku tidak akan bisa kembali lagi. Ini sungguh gila, kan? Apa jatuh cinta segila ini?

Dhanis
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Yang benar saja, dia membaca Haruki Murakami dari Norwegian Wood hingga 1Q84, Emily Dickinson, dan Robert Frost. Yang benar saja, dia mendengarkan musik The Smiths, Simon & Garfunkel, The Everly Brothers, dan Bob Dylan. Yang benar saja, dia menggilai lagu-lagu Morissey. Yang benar saja, kita berdiskusi dari lepas pagi hingga semua toko tutup. Matanya, ada yang mengganjal di sana. Barangkali kesedihan. Dia seperti menyembunyikan kegelapan dalam matanya. Lima menit pertama, aku tak dapat melihat sama sekali, lima menit ke dua aku tersesat, lima menit ketiga aku kelimpungan, lima menit keempat aku mulai menikmati gelap itu, lima menit kelima aku menemukan cahaya. Cahaya itu bersinar setitik saat kita bertatapan. Ah, apakah ini ilusi melankolia saja? Atau memang jatuh cinta segila ini?

Maret, 2013

Thalia
Ada yang ingin meledak dalam tubuhku. Kau memasukkan puisi ke dalam tubuhku. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin meledakkan diriku saat itu juga. Puisi yang sunyi. Seperti malam dan hujan rintik-rintik turun bersamaan dari langit. Heningnya membuat terpaku. Kau menatapku. Sekali lagi, aku tidak ingin kembali. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

Dhanis
Ada yang ingin pecah dalam tubuhku. Aku memasuki belantara hutan paling gelap. Paling rimbun. Paling basah. Paling dingin. Dan paling berangin. Aku duduk di salah satu batunya dan menulis puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin menggetarkan hutan. Menggetarkanmu. Kemudian puisi paling sunyi. Puisi yang meninabobokanmu dalam rengkuhaku. Dalam selimut hangat kita. Pejammu sehening laut mati. Aku ingin berenang di sana dan tak kembali lagi. Mati pun boleh saja, aku tak keberatan. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

April 2013

Thalia & Dhanis
Kita tidak ingin meminta apa-apa lagi. Rasanya sudah lengkap. Kami saling mengisi kekosongan satu sama lain. Kami saling menukar kado. Isi kado itu selalu cerita yang Thalia bawa, atau Dhanis bawa setelah tak berjumpa. Thalia di Jakarta, Dhanis di Manado. Seminggu sekali kita bertemu, berciuman, berpelukan, bercinta. Kadang dua minggu sekali. Jarak tidak melunturkan cinta kami, kami yakin itu.

Thalia
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa kembali. Ketika kau pulang ke kotamu, aku akan terus tenggelam mencintaimu. Hari ini kau akan kembali ke Manado. Aku sudah buatkanmu bekal makan masakanku dan puisiku. Ada tiga puisi.

Dhanis
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa melihat dengan jernih. Ketika aku pulang ke kotaku, aku akan terus tersesat mencintaimu. Hari ini aku kembali ke Manado. Kita akan berpisah. Terima kasih bekalmu. Nasi goreng telur hangat yang enak. Aku sudah menyelipkan tiga puisi di buku puisi Lang Leav yang kuberikan padamu. Oh iya, aku akan membawakanmu masakan khas Manado ketika aku kembali. Tapi bukan masakanku, melainkan masakan ibuku, karena aku tidak bisa memasak, hehehe.

September 2014

Thalia & Dhanis
Terbukti, jarak tidak melunturkan cinta kami. Mungkin resepnya adalah puisi. Sudah tradisi kami, ketika hendak berpisah, masing-masing kami menulis puisi untuk dihadiahkan ke satu sama lain. Ini resep agar cinta tidak cepat luntur dan awet. Lagi pula, dalam diri kami tidak hanya ada cinta. Tetapi ada pula rasa persahabatan dan persaudaraan yang terjalin begitu saja. Kami, misalnya, bisa saja berdiskusi dari semua toko buka hingga semua toko tutup. Yang dibicarakan ada saja. Buku, musik, puisi, politik, kesenian, ekonomi, sosial budaya, soal-soal remeh keseharian, ya begitu lah. Kadangkala, bisa saja kami bertengkar seperti sepasang kakak adik yang rebutan remot tv, perkara rebutan makanan, perkara remeh yang membuat kami saling cemberut satu sama lain. Tapi tak pernah lama. Satu-dua jam, mungkin kami akan kembali tertawa dan bercinta di kamar tidur, kamar mandi, atau sofa. Thalia senang sekali di sofa. Kalau Dhanis lebih senang di kamar mandi.

Januari 2015

Thalia
Hampir sebulan kita tak bertemu. Apa kau rindu padaku? Kau selalu bilang, ‘aku selalu merindukanmu. I’ll miss you’. Kau selalu bilang, hari-harimu tidak pernah tidak dipenuhi rindu. Benarkah? Mengapa kini kau sibuk sekali? Tenggelam dalam rutinitasmu dan pekerjaan-pekerjaanmu. Mengapa semakin hari kau semakin dingin saja? Aku ingin datang ke Manado dan mengambil cuti kerja, tetapi kau selalu katakan jangan. Kau selalu bilang ‘aku sibuk. minggu depan aku akan datang ke Jakarta. Tunggu saja,’ katamu. Tapi, hei, ini sudah dua minggu!

Dhanis
Hampir sebulan kita tak bertemu. Aku sangat rindu padamu. Aku akan menemuimu, tapi tidak minggu ini. Maafkan aku. Wajahmu pasti sedang memasang raut kesal. Membayangkannya, aku ingin mencubit pipimu dan menenggelamkan wajahmu ke wajahku. Kau akan memasang wajah cemberut, dan aku akan memelukmu. Memelukmu erat. Dan kuyakin kau akan menangis dan memukuli punggungku. Kau benci punggung. Itu kan yang kau tulis di puisi-puisimu padaku? Belakangan ini aku memang sedang sibuk. Kuharap kau tak memiliki prasangka buruk kepadaku. Aku sedang mempersiapkan ini untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan kita. Untuk percakapan yang panjang, pagi yang lebih panjang, senja yang selalu merona, dan malam yang duakali lipat lebih hangat dan panjang. Rasanya dunia kita tidak memiliki siang. Tidak memiliki terik. Aku harap kau tabah menungguku. Aku akan kembali dan tersesat.

Agustus 2015

Thalia
Dhanis, entah mengapa ini rasanya lain bagiku. Asing. Asin.

Dhanis
Thalia, apa yang berubah darimu? Entah mengapa ini rasanya lain.

September 2015

Thalia
Apakah kita bisa jatuh cinta kepada dua orang secara bersamaan? Aku rasa, aku tidak bisa meneruskan ini, Dhanis. Tapi, apa yang terjadi denganku bila tanpa kamu? Aku rasa aku tidak bakal mati, tetapi aku akan kehilangan.

Dhanis
Kau bilang, aku adalah samudera di mana kau tak bisa kembali. Thalia, apa kau kini menemukan sebuah perahu dan berniat kembali?

Oktober 2015

Thalia
Aku tidak sanggup untuk tidak kembali. Aku ingin kembali. Aku tidak bisa berenang.

Dhanis
Proyekku gagal sudah. Maafkan aku Thalia, mungkin aku tak akan datang ke Jakarta dalam jangka waktu yang ditentukan. Aku perlu sendiri. Aku perlu merenung. Aku perlu memperbaiki.

November 2015

Thalia
Saat kau kembali ke Jakarta, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kulihat wajahmu dan tanganmu melambai, aku tak bisa menyunggingkan senyum tulusku. Tapi aku tetap tersenyum. Senyum palsu. Kau merasakan itu?

Dhanis
Saat aku kembali ke Jakarta, aku ingin segera memelukmu erat-erat. Tetapi ada apa matamu, Thalia? Gelap. Mengapa tak ada cahaya lagi? Aku seperti menemukan kegelapan yang sama saat pertama kali kita bertemu di bar itu. Bar tempat kau mencurahkan segala kesedihanmu dalam krat-krat bir di meja. Karena itu, aku tak jadi memelukmu. Hanya menggenggam tanganmu. Pelan.

Thalia
Saat kau memelukku, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kuliahat matamu, ternyata aku tidak terseret lagi. Aku sudah kembali ke daratan. Pun ketika kau masuki aku. Kau hentak-hentak tubuhmu ke dalam aku. Kau ciumi seluruh tubuhku. Kau hinggapi tengkukku berlama-lama. Telanjang. Basah. Berdenyut. Dan berdebar. Aku tidak akan meledak, tetapi aku berpura-pura meledakkan diri. Kita tidak bercinta. Bukan dalam artian sebenarnya. Kita tidak bercinta. Kita bersenggama.

Dhanis
Saat aku memelukmu, aku hanya merasakan dingin. Ketika kulihat matamu, gelap itu kini kembali menjadi dinding. Tembok batu. Keras dan tak tertembus apapun. Pun dengan sentuhan-sentuhanku yang katamu adalah puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut dan berdebar. Aku ingin menggetarkanmu lagi, tapi ku rasa kau hanya pura-pura bergetar. Kurasa kita tidak sedang bercinta. Tetapi bersenggama.

Desember 2015

Thalia
Sampai sini saja.

Dhanis
Sampai sini saja?

Sepanjang 2016

Dhanis
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Thalia. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Thalia hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Thalia, hanya Thalia yang mampu membuatnya. Perempuan itu bernama Rani. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Tahun depan aku akan menikahinya. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin, waktu satu dua hari pun tidak cepat bagimu.

Thalia
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Dhanis. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Dhanis hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Dhanis, hanya Dhanis yang mampu membuatnya. Laki-laki itu bernama Romi. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Minggu ini dia melamarku. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin. Aku dan Romi sudah yakin. Kami sepakat menikah tahun depan.

large

 

—END—

 

Depok, 14 Oktober 2016

 

Sebuah Kota

Siang bersinar terik sekali. Membakar kulit hingga ke tulang-tulang. Di langit sedang tidak ada awan yang sudi memayungi makhluk-makhluk ciptaan Gusti Allah. Pohon-pohon tumbuh di tempat yang sia-sia, yang fungsi dasarnya sebagai peneduh dari panas dan penghasil oksigen, kini bergeser jadi dekorasi ruang kota.

Gedung-gedung pencakar langit berlomba-lomba menumbuhkan dirinya sendiri. Siapa yang paling dekat dengan langit, dia lah yang paling kokoh, seolah karena tingginya yang sangat menjulang, ia bisa angkuh dan mengaku-aku kawan Tuhan. Orang-orang di dalam gedung sedang menikmati kenyamanan sejuk palsu dari mesin yang kerapkali berbunyi sekaligus sedang tersiksa karena tidak bisa bergerak leluasa padahal negara sudah merdeka sejak puluhan tahun lalu.

Sedangkan, orang-orang di luar gedung memayungi dirinya sendiri dengan belas kasihan orang lain dan bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai penyebrang jalan satu ke satu yang lain. Seorang ibu mendekap bayi yang masih merah, bayi itu ia bungkus dengan sehelai selendang merah tua kumal yang bau apak dan pesing bekas si bayi mengompol kemarin dan belum dibersihkan. Bapak-bapak tua di bawah jembatan itu meringis kepanasan, kain bajunya ia gunakan sebagai penyeka keringatnya. Ia hitung-hitung, rasanya sudah delapan jam ia di situ dan baru mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah. Orang-orang semakin kaya sekaligus miskin. Mereka tergesa ke dalam gedung dengan wajah segar tetapi pucat dan tebal, lalu pulang dengan loyo, pucat, dan tebal.

Di pinggir trotoar, depan gedung yang paling tinggi, seorang perempuan layu bak bunga mawar yang sekarat, yang kelopak-kelopaknya sudah mulai kering dan kuning, tak segar lagi, dan sedikit lagi mati. Perempuan itu membuka warung rokok bersama suaminya. Tapi suaminya sedang enak-enakan berjudi sambil menggoda janda kembang yang melingkari pundaknya tatkala ia sedang membanting-banting kartu. Perempuan itu cucu-ku. Lihatlah, betapa kuyu dia di tengah kota yang berpura-pura megah. Kasihan dia. Kasihan Desaku. Oh, Desaku.

Kalian barangkali tak percaya dengan ceritaku ini. Kota ini, dulu hanyalah desa dengan hamparan sawah yang hijau sepanjang mata memandang. Lahan-lahan padi, tebu, jagung, kebun-kebun tomat, wortel, cabai, bawang, semua kami punya dan kami yang menanam dan merawatnya seperti merawat bocah-bocah sendiri. Kami merawat mereka seperti merawat kehidupan kami. Pohon-pohon masih sangat banyak. Di depan rumah, di halaman belakang, di pos RT, di jalan-jalan setapak, di mana-mana. Pohon-pohon sepanjang mata memandang. Di depan rumahku sendiri ada pohon mangga yang kalau musim panen tiba, ibu-ibu di desa kami mengerubung sambil merujak seusai bertani. Ya, di desa kami ini, hampir seluruh penduduknya adalah petani. Mau bapak-bapak atau ibu-ibu, setiap pagi kami beriringan menuju sawah milik kami sambil bercengkrama, menggarap sawah kami masing-masing sambil mengobrol ringan dan menertawakan hal-hal keseharian, berleha-leha bersama suami di saung dekat sawah kami. Makan siang dengan tempe, telur dadar, dan sambal terasi bersama suami. Oh, kalian tidak akan percaya ini sebab di kota tempat sekarang tinggal, kalian samasekali tidak menemui apa yang baru saja kuceritakan tadi.

Kulihat dari ketinggian ini, desaku yang tercinta berubah jadi mengerikan. Tidak ada lagi hijau-hijau sejauh mata memandang. Hanya ada abu-abu gedung yang mengkilat, cokelat yang bukan lagi tanah tetapi kayu-kayu palsu, dan warna-warna lain dengan warna yang bau amis dan menyengat. Orang-orang tidak saling sapa, tidak saling bercengkrama, tidak tertawa bersama, dan jarang sekali makan bersama selain karena sebuah perayaan yang pura-pura dirayakan agar tak kesepian. Sekawanan perempuan makan bersama di meja, tetapi tidak saling bicara, hanya terpaku pada apa yang digenggamnya saja. Sibuk mengetik pesan ke teman di sebelahnya, sibuk memesan makanan dengan jari. Mereka jarang sekali menggunakan mulutnya. Jari mereka lebih cerewet ketimbang mulutnya. Bibir mereka hanya tersenyum ketika difoto atau saat memotret diri sendiri. Barangkali saat mati nanti, para malaikat lebih sering bertanya kepada jari mereka daripada mulut. Benar-benar kota yang abu-abu.

Sebenarnya, kota ini tidak akan ada bila perjuanganku dan kawan-kawanku semasa hidup tidak dikhianati orang-orang setelah kami yang hidup, yakni orang-orang yang kini menyesal karena hanya bisa melongo melihat perubahan desanya yang ramah menjadi kota buas. Mereka hanya bisa menengadah ke atas sambil mengeluarkan liur karena mengkhianati perjuangan kami. Mereka mengalahkan perjuangan kami dengan uang. Walau sedikit dari mereka ada yang membela kami, tapi pada zaman itu, keadaan sulit. Banyak yang butuh uang, banyak yang terprovokasi, dan banyak pula yang menawarkan uang dengan cara mudah. Mereka menghasut, mereka terhasut, mereka menikmati uang, kemudian menyesalinya hari ini. Lihatlah cucuku yang kuyu itu wajahnya. Dulu pipinya merah segar, kini pucat pasi. Bibirnya kering, tubuhnya kurus seperti padi yang kering di musim kemarau panjang. Dulu, dia membela kami, dia mengingat aku sebagai sosok nenek yang pernah berjuang, tetapi suaminya yang brengsek itu! Dia yang menghasut cucuku dan cucuku manggut saja karena kepalang cinta! Laki-laki yang hanya bisa berjudi itu menerima puluhan juta untuk jadi bajingan-bajingan kecil setelahnya. Cucuku ditelantarkan, cicitku dibiarkan menangis sampai kelelahan karena kelaparan. O, cucuku dan cicitku yang malang.

Seandainya saja cucuku tegas, sebagai seorang perempuan, memiliki wibawa, dan mampu berjuang tanpa terpancing iming-iming cinta lelaki, ia pasti tak jadi begini. Seandainya ia mampu bergerak, menghasut warga yang belum terhasut, menceritakan perjuanganku dan kawan-kawanku pada mereka yang mudah ditipu duit, pasti, barangkali, mungkin saja kota ini tidak berdiri sewenang-wenangnya saja. Sewenag-wenang, karena, kota ini berkuasa atas kehidupan manusia seluruh dan seutuhnya. Lapar harus beli beras impor, telur impor, daging impor, gula impor, jagung impor, segala bahan pangan impor! Bila haus, air harus beli, air gunung kami yang dulu gratis, kini dikemas botol-botol plastik yang susah diurai tanah, tetapi kini tanah sudah jarang, adanya aspal dan beton. Sungguh mahalnya hidup sekarang ini. Untung saja aku sudah mati! Tapi, kasihan cucuku…

Astaga, aku jadi dongkol lagi setelah melihat di sebelah utara desa kami yang kini sudah jadi kota. Itu dia lihat! Sebuah bangunan yang dengan congkak memusnahkan sawah-sawah kami, kebun-kebun kami, pohon-pohon kami, rumah-rumah kami, desa kami, hidup kami… Itu dia! Gara-gara pabrik semen itu! Aku jadi teringat dulu-dulu kala, saat aku masih mampu berjuang walaupun sudah tua, tetapi belum ringkih! Tenagaku masih sisa banyak karena sering menggarap sawah dengan sukacita. Aku ingat ketika menumbuk lesung berjam-jam di depan calon pabrik itu, duduk di atas lesung sebagai bentuk protes, jangan ambil desa kami! Jangan ratakan tanah kami! Itu hidup kami! Banyak orang yang membantu kami dalam aksi tersebut, aku jadi sering bicara dengan orang asing, orang yang mengaku wartawan dari kota, orang yang membantu perjuangan kami. Tak ada yang mewakili kami berdemo, bersuara, selain diri kami sendiri. Kami berdiri menentang orang-orang bersepatu lars dan berseragam itu yang ternyata lebih pengecut dari kami, kami dipukuli, hingga ada salah seorang temanku yang dilempar ke semak-semak. Astaga, Gusti! Pelindung kami apakah akan jadi buas ketika dikepreti duit? Kalimat ‘membela wong cilik’, sekarang cuma jadi alat sebagai slogan penuh tipudaya menjelang kampanye!

Kakiku kini merasa kaku, seolah aku berada di depan istana negara puluhan tahun lalu, saat masih berjuang, saat kakiku dipasung semen, kalau kalian bertanya untuk apa, ya itu! Untung memperjuangkan tanah kami! Penghidupan kami! Desa kami!

Kakiku sungguh merasa kaku, tetapi dadaku nyeri. Ealah, Ndoro Gusti Pangeraaannn! Tidak ada yang sia-sia, termasuk perjuangan kami, memang. Tetapi… ah!

Awan bergerumbul memenuhi langit yang keruh oleh polusi-polusi yang lahir setiap waktu. Langit sama abu-abunya seperti kota yang berpura-pura hidup dengan mesin-mesin penggerak, dan manusia-manusia yang digerakkan. Perempuan yang berwajah kuyu, ibu yang sedang menggendong bayi merah itu, laki-laki tua itu, diam-diam mengucap syukur karena lepas dari sengatan matahari yang membakar kulit hingga tulang-tulangnya. Dadaku masih nyeri, Tuhan yang Maha Tahu Segala, menatapku dengan iba. Perlahan hujan turun membasahi kota yang abu-abu itu, lalu manusia-manusia sibuk menghalau banjir yang mungkin saja tiba sebentar lagi…

large

 

-fin-

Depok, 160416

 

 

 

Lelaki Kesepian dan Seekor Anjing

“Tiada yang lebih setia selain kesepianmu sendiri. Bila kau menginginkan kesetiaan dan seorang teman sekaligus, maka rawatlah seekor anjing. Tiada yang dapat meragukan kesetiaan seekor anjing.”

Begitulah yang diresapi Sardjono semasa hidupnya. Kata-kata itu adalah petuah dari Ayahnya sebelum beliau pergi untuk merantau ke tanah surga. Pulang kampung bertemu si Maha Besar. Tempat segala-galanya bermula. Giginya bergemeletukan. Ia telah menghabiskan secangkir kopi buatannya sendiri. Itu merupakan ritual paginya, sebelum membaca koran harian, dan pergi ke taman komplek bersama Jacqualine.

Samar, bibirnya yang sudah mengkeriput karena usia, tersenyum kecil. Tubuhnya kemudian turun, membungkuk. Tangannya mencoba meraih kepala Jacqualine yang sedang duduk bersimpuh di kakinya dan ia membelainya lembut. Betina itu akan tersenyum malu-malu dan kegirangan. Kalau sudah melihat Jacqualine bahagia seperti itu, hati Sardjono menghangat. Mirip matahari pagi di luar yang membagi hawa hangatnya hanya kepada pagi. Begitulah rasanya kebahagiaan. Hangat. Tidak seperti kecemburuan yang seperti matahari siang. Terik, dan menyimpan banyak dendam.

Hari ini hari Minggu. Setiap hari Minggu adalah perayaan bagi Sardjono. Bukan karena hari libur, karena setiap hari adalah tanggal merah untuknya. Hari Minggu adalah harinya koran Minggu. Ia akan membeli beberapa koran dan melupakan membaca berita-berita di halaman depan ataupun halaman berikutnya. Tangannya yang semakin kurus tetapi masih kelihatan liat itu gesit menemukan rubrik favoritnya. Tempat di mana bahasa menjadi sarana berpergian. Ia bisa liburan ke mana saja dengan bahasa. Bahkan, kadangkala ia bisa menjumpai surga di sana, atau membayangi ia sedang berciuman bersama seorang kekasih di bawah rinai hujan di negeri sakura, tempat ia menjumpai mantan kekasihnya dahulu. Cerpen dan kumpulan puisi dihabisinya setiap Minggu pagi. Koran-koran itu ditelanjanginya satu-satu demi menemukan sisi puncak kenikmatannya di rubrik favoritnya itu. Setelahnya, ia seperti bocah SD yang disuruh mengumpulkan klipingan untuk tugas sekolah. Ia menggunting cerpen-cerpen itu satu-satu biar terlepas dari tubuh induknya, kemudian dengan hati-hati dan tangan bergetar, ia menempelkan secarik demi secarik potongan cerpen itu di tubuh bagian dalam jurnalnya. Bedanya, ia tidak lagi melakukan kegiatan pengklipingan itu untuk tugas sekolah, tetapi untuk dirinya sendiri. Dan mungkin, ya, untuk Jacqualine bila suatu hari Si Maha Besar menjemputnya ke tanah surga.

Sudah genap duaratus cerpen telah diklipingnya sampai hari ini. Dia tersenyum puas memandangi jurnal tebalnya penuh oleh karya-karya sastra lokal. Ia jarang menyukai buku-buku atau karya orang luar negeri, bukan, bukan, Sardjono bukan orang yang terlampau fanatik kepada negerinya sendiri, dan memegang teguh nasionalisme dalam jiwanya. Sardjono hanya menganggap, ketika ia membaca karya terjemahan, ia merasa gagal memahami isi cerita yang dimaksud penulis asalnya. Bahasanya kadang bertele-tele dan terlalu baku, Sardjono merasa tidak sedang menuju fantasi sastra, yang seperti ketika ia membaca karya-karya penulis lokal. Lagipula, pikirnya, ketika ia membaca cerpen lokal, asal Lubuklinggau, misalnya, ia merasa sedang berkenalan dengan negerinya sendiri. Baginya, buku adalah sebuah laut, kadangkala menjelma sebagai tiket keberangkatan menuju sebuah kota, dan ia hanya ingin menyelam dan menjelajahi negerinya sendiri sampai sedalam-dalamnya. Setelah itu, barulah Sardjono merasa penuh. Ia merasa telah berkunjung ke Lubuklinggau, ke Tanah Toraja, ke Pantai Lovina, atau tempat-tempat lain yang tak pernah dijejaki kakinya. Ia merasa kaya.

Selain cerpen, Sardjono juga mengoleksi klipingan puisi-puisi di jurnal yang berbeda. Bila jurnal tebal berisi cerpen-cerpen itu bersampul hijau lumut, jurnal untuk puisinya bersampul cokelat tanah. Dua-duanya dari kulit kuda, dan sama-sama dari mantan kekasihnya dahulu. Kadang ia merasa beruntung memiliki Jacqualine yang bukan seorang perempuan yang rewel, dan akan membakar semua benda-benda dari kekasihnya dulu, dan sekaligus menghanguskan kebebasannya. Ia juga bersukur pernah memiliki kekasih-kekasih yang berbaik hati telah menghadiahkan jurnal-jurnal bersampul kulit kepadanya. Ia menyukai buku jurnal, yang di dalamnya hanyalah kertas tanpa proses pemutihan sehingga warnanya menjadi kuning redup, dan terasa begitu sedih dan dramatis. Kertas-kertas polos tanpa garis-garis yang menghalangi kebebasannya melakukan apa saja pada buku jurnalnya. Ia tidak menyukai garis, sama seperti ia tidak menyukai pengekangan. Baginya, garis adalah bentuk pengekangan yang lain selain perempuan, dan pernikahan. Ketika ia menggunting kumpulan puisi karya Dedy Tri Riyadi, tangannya semakin bergetar, tetapi ini bukan karena usia, melainkan karena ingatan yang terbang ke masa lampau. Ia selalu merasa tergetar dan menghangat ketika menyentuh puisi, entah puisi siapa saja. Ia tiba-tiba saja mengingat Ayahnya, yang betapa seringnya membeli buku-buku puisi dan membacanya kala ia ingin tertidur. Selalu begitu ketika tanganya menyentuh puisi dan hendak mengguntingnya. Perasaan-perasaan seperti itu tidak akan terjadi ketika ia menempelkan potongan cerpen dalam jurnal bersampul hijau lumut.

Ada dua hal yang mengingatkannya kepada puisi. Pertama adalah masa kecil bersama Ayahnya, yang setiap malam mendongenginya sebuah puisi, bukan dongeng rusa atau kancil yang nakal. Kedua, ah, ia sangat ingin melupakan hal yang ini sebetulnya, hanya saja, setelah bertahun-tahun lamanya, bayangan yang ini tidak pernah terlepas dari ingatannya. Tameera. Gadis asia berkulit putih langsat, rambutnya hitam, lurus, dan lembut, alisnya lebat, tetapi matanya sedikit sipit, tungkainya panjang dan ramping, dan lehernya jenjang. Ia bertemu dengan Tameera di kota Tokyo, tempat di mana ia mengenyam pendidikan terakhirnya. Tameera adalah mantan kekasih terakhir yang begitu berbekas meninggalkan buih-buih kesedihan dan kerinduan yang begitu mendalam. Sampai saat ini. Ya, sampai saat ini. Dia adalah perempuan aneh pertama yang berhasil membuat Sardjono jatuh cinta. Perempuan yang tidak umum. Dia bukan hanya perempuan yang tidak umum, tetapi selain itu dia juga berkebangsaan Indonesia, tetapi besar di negeri Sakura. Keanehan Tameera adalah kelainan hormon berbelanja perempuan. Ia tidak seperti perempuan yang gila berbelanja pakaian, sepatu, tas, dan aksesoris lain yang berkerlipan. Pernah suatu kali, ia mengajak perempuan itu ke Shibuya, tetapi perempuan itu malah murung seharian. Ia sama seperti Sardjono, tidak begitu menyukai keramaian. Hanya saja, ia pikir, setiap perempuan sama. Menyukai berbelanja. Sepulang dari Shibuya, Tameera tidak berbelanja apa-apa. Aneh, bukan? Ia malah merayu Sardjono untuk mengajaknya ke toko buku atau perpustakaan di pinggir kota, dan menghabiskan banyak uangnya hanya untuk buku-buku puisi Sylvia Plath, Walter Scott, Oscar Wilde, dan Rabindranath Tagore. Itu kali pertamanya ia menyentuh puisi setelah kepergian Ayahnya yang tiba-tiba di Batavia, tanah masa kecilnya.

Tameera berhasil membuatnya kembali membaca puisi setelah tiga tahun lamanya tak berani membaca puisi karena takut menemukan dirinya sebagai pecundang yang tidur melingkar dan mengisapi jempol, kemudian merindukan Ayahnya yang telah pulang bertahun-tahun lalu. Sebagai laki-laki cengeng. Tetapi kali itu, kesedihan tumpah kepada Tameera. Ia berani menelanjangi kejujuran dan bekas-bekas masa kecilnya kepada Tameera. Ia menceritakan bagaimana Ibunya pergi meninggalkan dirinya dan Ayahnya yang melankolis itu bersama pria lain, yang katanya sangat ia cintai. Setelah perselingkuhan ibunya, ia tak pernah lagi memiliki sosok pengganti Ibu. Baginya, Ayahnya adalah Ibunya juga. Ia juga menceritakan tentang Ayahnya yang setiap malam mendongenginya puisi sebelum tidur. Ia pernah sesekali waktu, menemukan Ayahnya menangis tersedu-sedu ketika membaca puisi sendirian di sofa kamarnya. Saat itu ia terbangun dari tidurnya dan tak sengaja menemukan kejadian langka itu. Seorang Ayah yang kuat, menangis, merindukan.

“Begitu dalamnya rindu itu, Jo..” Tameera sering memanggilnya Jo, entah mengapa, ia menyukainya.

“Rindu itu seperti belati. Bisa melumpuhkan siapa saja. Yang lemah, ataupun yang kuat.” perempuan beraroma sakura itu tersenyum. Sardjono mendengar kata-kata itu begitu teduh.

“Sepakat denganmu. Barangkali, bukan hanya rindu, tetapi rasa kesepian. Rasa sepi bisa membuat ayahku yang begitu baja menjadi seperti kayu bakar yang sebentar lagi hangus. Ia menjadi begitu rapuh karena kesepiannya yang bertahun-tahun.” mata Sardjono menerawang.

“Mengapa ayahmu tidak menikah lagi?” tanya Tameera. Sardjono tersenyum, membayangi muka ayahnya.

“Ia lebih memilih anjing daripada perempuan. Belakangan, aku tahu, laki-laki yang membawa pergi ibuku adalah sahabat karibnya sendiri.” Sardjono tersenyum getir kepada udara di depannya. Membiarkan bibir Tameera yang merah delima itu terbuka karena terkejut. Laki-laki bertubuh kurus itu seperti berkaca pada kisahnya yang lalu. Lalu sekali.

Ingatan melemparnya ke sebuah sel-sel kecil masa lalu. Partikel-partikelnya membuat ia seperti melihat dan mengalami kembali kisah-kasih semasa sekolahnya bersama Riana. Perempuan Jawa yang sering dikepang dua dan memiliki senyum termanis di ingatannya. Perempuan pertamanya. Yang membuat ia tersenyum malu-malu kucing, dan berdebar-debar keras saat ada di dekatnya. Perempuan yang pernah menjalin kasih dengannya, lalu menikah dengan Kaedarmo, sahabat pembagi kisah-kisah suka dukanya. Itu terjadi dua tahun sebelum ia terbang ke Tokyo dan melunaskan pendidikannya di sana. Saat dikhianati begitu, Sardjono menginginkan Ayahnya ada di sampingnya, memeluknya, dan membagi kisah bersama, sebab kisah mereka bagai pinang dibelah dua. Mirip sekali seperti kembar identik. Ia merasa, Riana adalah sosok ibunya yang pergi dengan laki-laki sialan yang bukan lain sahabatnya sendiri. Tempat ia membagi suka dan dukanya.

“Aku ingin kamu lebih setia daripada sepi dan seekor anjing.” kata Sardjono kepada Tameera setelah melepaskan masa lalunya di telinga perempuan itu sepenuhnya. Ia telah mendengar kisah Ayah-Ibunya, dan Riana, si perempuan Jawa berkepang dua yang senyumnya amat manis. Sardjono berharap, setelah ia mengisahkan dua kisah pahit itu, Tameera tidak akan mengkhianatinya dan membuat dosa seperti dosa dua perempuan yang ia kisahkan.

Tameera hanya tersenyum menanggapi kata-kata Sardjono. Ia ingin menjadi yang lebih setia daripada kesepian dan seekor anjing, tapi ia takut apabila rasa seorang manusianya memupuskan keinginan Sardjono. Bagaimana pun, Tameera sadar, ia hanya manusia yang suatu waktu bisa melakukan kesalahan fatal, dan melukai hati siapa saja. Ia ingin tetapi takut. Dan ketakutannya menghinggapi segalanya. Ketakutan itu menjadi nyata senyata-nyatanya. Ia jatuh cinta. Lain, bukan kepada Sardjono, walaupun laki-laki kurus itu ialah kekasihnya dan sudah merajut cinta kasih hampir selama tiga tahun lamanya. Perempuan itu jatuh cinta pada Kuriyoshima, dan laki-laki berkebangsaan Jepang itu tak lain ialah teman dekat Sardjono. Dari Sardjono ia tahu, ia tidak lagi memiliki sahabat karib setelah Kaedarmo itu, tetapi sejauh ini Kuriyoshima adalah teman yang paling dekat dengannya di antara yang lain-lain. Dan sialnya, bukan hanya jatuh cinta, tetapi ia justru tergila-gila dengan Kuriyoshima yang rupawan dan pembawaannya yang memikat jiwanya.

Ia merasa lain bila berhadapan dengan Sardjono dan Kuriyoshima di saat yang bersamaan. Di lain sisi, ia mencintai Sardjono dengan segala kepintaran dan ketabahannya menghadapi dirinya yang menurut Sardjono, aneh. Tapi seperti koin, di sisi lainnya justru ia terpikat dalam jerat pesona keelokan Kuriyoshima.

“Kalau aku pulang ke Batavia, aku mau turut serta membawamu..” kata Sardjono suatu hari di sebuah toko buku di pinggir kota Tokyo.

“A-apa? Ke Batavia?” ini waktu yang baik, pikir Tameera. Sardjono mengangguk sambil tersenyum.

“Aku akan pulang bulan depan.”

“Tidak akan kembali ke sini lagi?” Temeera menggigit bibirnya. Berharap-harap cemas.

“Pasti setiap tahun kita akan pulang kemari, mengunjungi kedua orangtuamu, Mee(Mi)” Sardjono tersenyum lagi. Diam-diam dada Tameera menghangat. Tapi ia merasa tidak yakin akan melanjutkan hubungan ini. Kuriyoshima benar-benar telah menghancurkan pikirannya. Perempuan itu terdiam beberapa menit. Pandangan matanya mengambang. Buku di hadapannya tidak lagi dibaca dan tiba-tiba menjadi tidak lagi menarik di matanya.

“Jo, aku takut, tidak bisa lebih setia daripada kesepianmu. Bahkan daripada seekor anjing.” ungkap Tameera dingin.

“Mengapa berbicara begitu?” tangan Sardjono terangkat ke atas, menyelipkan sebuah buku puisi ke dalam raknya.

“Entahlah, aku merasa…” Perempuan itu menggantungkan begitu saja kalimatnya. Laki-laki yang dipanggil ‘Jo’ sedang menunggu.

“Lupakan saja, Jo.” lanjut Tameera sambil melanjutkan membaca buku yang dipegangnya. Tapi pikirannya melayang-layang, seperti selendang yang terbang terbawa angin pantai dan menuju ke entah. Lalu kemudian berlabuh dengan sendirinya kepada seorang laki-laki berkebangsaan Jepang itu. Kuriyoshima.

Hari itu ialah hari terakhir ia bertemu Tameera. Sardjono tidak tahu apa yang terjadi sampai ia pulang ke Batavia dan meninggalkan Tokyo tanpa membawa serta perempuan tinggi semampai yang cantik itu. Ia pulang membawa sekoper baju-baju, buku-buku puisi, buku jurnal bersampul cokelat tanah pemberian dari Tameera, dan kenangan bersama perempuan itu. Dua bulan kemudian, perempuan itu memberinya sebuah kabar sukacita, tetapi duka baginya. Ia mengirimkan kartu pos permintaan maaf. Di kartu pos itu ada gambar Tameera, dirinya, dan laki-laki yang sangat dikenalnya. Kuriyoshima. Teman sejawatnya di Tokyo. Di kartu pos itu, Tameera menuliskan penyesalannya. Dia mengutuk dirinya sendiri sebagai perempuan yang melakukan dosa seperti dua perempuan masa lalu yang telah meninggalkannya. Ibunya, dan Riana. Kartu pos itu sekaligus mengatakan bahwa ketakutan yang selama ini digenggam Tameera benar. Perempuan cantik yang dicintainya, untuk kedua kali, jatuh di pelukan orang terdekatnya sendiri. Kaedarmo, dan Kuriyoshima. Dua laki-laki yang berbeda perangainya, tetapi sama-sama memiliki keberuntungan, dapat mengambil apa yang ia inginkan. Dulu ia menyalahkan Kaedarmo sepenuhnya atas pernikahannya dengan Riana. Tapi kini tidak lagi, ia mulai menyalahi dirinya sendiri dan takdir yang iakenakan.

“Tiada yang lebih setia selain kesepianmu sendiri. Bila kau menginginkan kesetiaan dan seorang teman sekaligus, maka rawatlah seekor anjing. Tiada yang dapat meragukan kesetiaan seekor anjing.” Ia teringat petuah Ayahnya lagi. Kini ia mulai merindukan ayahnya. Ayah yang tabah menghabiskan masa tuanya bersama kesepian dan seekor anjing jantan bernama Debong.

Ayahnya benar. Tiada yang lebih setia daripada kesepianmu sendiri. Bahkan, mautpun tidak dapat mengambil kesepianmu itu dari genggamanmu. Sebab, di liang kubur nanti, kau hanya akan berdua saja dengan kesepianmu. Sardjono mulai mengartikan kesepiannya sendiri. Kesepian yang tidak pernah pergi sejengkalpun darinya, bahkan ketika ramai mencoba merebutnya dari Sardjono. Kesepian tidak pernah lepas. Ia selalu di samping Sardjono. Setia seperti anjing. Seperti Jacqualine, anjing betina kesayangannya.

Tak terasa, air matanya menetes, di atas puisi berjudul Aku Membayangi Diri Sebagai Delima Merah, milik Dedy Tri Riyadi. Ia terpaku pada kata-kata di sana, aku tak bisa membayangkan dengan benar; paruh-paruh itu atau pisau lebih nyeri dari sepiku. Tetapi ia merasa sepi itu bukanlah pisau, ia lebih mirip seorang karib yang tidak akan pernah mengkhianatinya. Pengkhianatan dan kebohongan, baginya, lebih mirip paruh-paruh elang yang akan mencabik isi dagingmu, atau pisau belati yang nantinya menusuk dan mengorek-ngorek punggungmu.

Tangan kurus dan keriputnya masih setia melepas kumpulan puisi-puisi itu dari tubuh induknya, meskipun masih bergetar dan mulai berkeringat. Waktu dan kesepian telah membuatnya semakin rapuh dan semakin kuat. Lalu ia menempelkan puisi itu ke dalam buku jurnal bersampul cokelat tua, dari mantan kekasihnya dulu, yang ia cintai.

—END—

Depok, 08 Juli 2015

Cerita Semalam Suntuk

Namaku Gandru. Seingatku, aku masih berusia tiga puluh-an saat ini. Tapi mulut orang-orang berdengung-degung di telingaku berdenging-denging seperti suara jangkrik di malam hari. Mereka berdesis-desis seperti mulut ular berbisa. Apa yang bisa mereka banggakan dari diri mereka jika dibandingkan denganku? Mereka bilang, aku gila? Hah? Apa mereka pikir, mereka waras? Hah? Ha ha ha ha ha…. Perempuan itu yang gila. Aku tidak. Ya, aku tidak. Mana mungkin, lelaki sepertiku, mantan vokalis band yang tidak begitu terkenal di kota, tetapi digandrungi banyak wanita ini tidak waras? Dan mereka bilang apa hah? Aku gila? Ha ha ha ha ha… suara mereka berdenging-denging mirip suara laron. Eh, tetapi laron tidak punya suara ya? Ya, pokoknya mereka sering berkerubung di dekat lampu-lampu jalan, di warung remang-remang dekat taman, dan di bangku dekat taman itu. Mereka membicarakan aku. Ah, pih! Kalau aku gila, aku tidak mungkin menjadi penting dan dibicarakan banyak orang. Benar kan? Iya kan? Ha ha ha ha ha…

Aku mendengar diriku sendiri tertawa entah karena apa, dan dengan siapa, tetapi aku tidak peduli, aku hanya ingin tertawa tanpa memikirkan apa-apa. Kau tahu? Terkadang orang harus mengosongkan pikirannya hanya untuk tertawa. Pikiran-pikiran kadang-kadang seperti batu yang menghantam keras lego-lego yang pernah kususun di masa kecil. Setelah aku tertawa, aku mendengar desis-desis ular, ular yang bisa bicara itu berdesis-desis. Tetapi anehnya, aku paham apa yang ular itu desiskan, dan aku tidak peduli.

“Eh, ada orang gila..” bisik si perempuan kepada laki-laki yang sedang rebah di bahunya sambil memegang handphone. Ah, perempuan itu mengingatkan aku pada Diana… Ah, mengingat dia, malam jadi begitu kusut. Pikiranku jadi semerawut. Awut-awutan, berantakan. Memang sudah begitu kan, setelah dia pergi, dan memilih menikah dengan pria barunya. Ha ha ha ha..entah kenapa sekarang aku jadi merasa sedih. Semua ini berawal dari perempuan gila itu. Ah, keparat!

Diana. Dia perempuan paling istimewa setelah ibuku. Dia memang tidak pandai memasak sayur asam kesukaanku, merajut baju hangatku, melukis potrait wajahku ketika masih umur balita, dan memberiku nasihat dan petuah yang panjang-panjang. Dia hanya perempuan yang gemar menulis puisi-puisi sendu untuk kujadikan lagu band-ku. Aku tidak menamainya band, sih.. lebih mirip kelompok musik akustikan yang senang manggung dari kampus-ke-kampus. Lirik-lirik sendu dari lagu kami yang diciptakan oleh Diana digilai muda-mudi galau atau yang sedang patah hati. Kata-kata yang ia ciptakan begitu menusuk perih rongga batinku. Kesedihan yang tak bisa dijabarkan oleh apa-apa. Entah, aku mengibaratkan kumpulan puisinya itu sebagai perempuan-perempuan bermata sendu, yang sama dengan miliknya. Sepasang mata sendu yang begitu meneduhkan. Seperti mendung. Kabut-kabut yang ngelangut di langit itu seperti kesedihan-kesedihan yang ia simpan sejak lama, menyempurnakan mata sendunya, yang bagiku amat cantik.

Sebelum dia menjadi pacarku, Diana adalah temanku. Teman baikku. Kami tidak pernah terpikir akan menjalin sebuah hubungan lebih dari teman saat kami bersama. Tapi aku memang sudah menyukainya entah sejak kapan, itu tidak pasti, dan tidak begitu penting. Yang penting adalah dia mampu menjelma sebuah rem ketika diriku menjadi motor liar yang kebut-kebutan di jalan raya. Dia adalah penghenti semua kegilaanku. Dia adalah tempat aku mengakhiri petualangan liar seorang laki-laki. Dia tempatku berhenti mencari. Sebelum dia jadi pacarku, aku adalah laki-laki beringas, bahkan bisa dikatakan brengsek, yang tidur dengan banyak wanita. Cinta tidak pernah membuatku tersentuh untuk membawanya ketika sedang dilanda nafsu berahi di dalam diriku. Tidak pernah ada cinta, begitulah yang kubawa sejak orangtuaku bercerai saat umurku menginjak remaja. Dan sebelum ini tidak ada cinta dalam persenggamaanku dengan banyak wanita, termasuk Elena.Si perempuan gila itu, benar-benar gila!

Aku ingin menceritakan bagaimana aku mencintai Diana terlebih dahulu sebelum kuceritakan tentang Elena, si perempuan gila. Sudah kukatakan, Diana adalah rem disaat aku menjadi motor yang ugal-ugalan di jalan. Perceraian kedua orang tua-ku yang tak pernah kuduga dan kuharap sebelumnya telah membuat Gandruasta kecil yang baik menjadi remaja nakal. Setelah perceraian ayah-ibuku, aku tinggal di rumah nenek. Orang tua-ku entah ke mana, aku tidak tahu lagi. Betapapun aku merindukan mereka, mereka tidak pernah datang, bahkan hingga saat ini. Saat nenekku sudah mati, dan aku yang waktu itu tinggal sebatang kara, menjadi pemuda tanggung yang kehilangan pegangan sama sekali. Untungnya, aku bertemu dengan teman-teman se-bandku; Roy, Rudi, Gon, dan Diana. Mereka-lah yang menumbuhkan bakat seniku. Diana lah yang pertama mengatakan, suaraku bagus, mendayu-dayu, dan bergetar. Ia mengaku sempat meleleh mendengar suaraku yang sangat laki-laki, katanya.

Suatu hari, saat kita bercinta di kamar kos Roy, Diana memuji suaraku. Katanya, suaramu sexy, Dru, sambil mengerling nakal dan menciumi bibirku dengan gemas. Dru adalah panggilan kesukaannya kepadaku. Ah, Diana, betapa kini semua sudah terlanjur menghilang dari kehidupanku. Jauh, dimakan waktu yang rakus itu. Ha ha ha ha. Waktu. Aku membenci mahkluk itu. Dia lah yang mengambil kasih sayang kedua orangtua-ku, nyawa nenek dan kakek, Gandruasta kecil yang baik, dan juga langkah kaki Diana yang pergi. Semuanya perbuatan waktu yang rakus. Kurasa, dia begitu membenciku hingga segala yang kupunya dilahapnya sampai habis tak bersisa. Sekarang, aku masa bodoh dengan kehadiran waktu. Biar saja, biar dia tahu rasa, bagaimana rasanya diabaikan dan tidak dicintai. Ha ha ha ha ha…

Oh, iya aku lupa menceritakan siapa Elena, dan mengapa aku membencinya. Ya, karena perempuan itu gila! Ha ha ha ha ha… Ya, perempuan itu pernah tidur denganku beberapa kali. Dia memberikanku yang terbaik dari yang ia punya. Ciuman terbaik, lumatan bibirnya yang lembut dan penuh kasih, dan permainan terliar yang pernah kurasakan. Elena pernah membuatku tergila-gila sebentar. Ya, karena aku hanya menggilai caranya bersetubuh denganku. Perempuan itu benar-benar panas di ranjang, dan setelah puas, kami merokok berdua dan tidak membahas apa-apa lagi, seperti tidak terjadi apapun. Tapi ia sering menatapku dan mengatakan hal-hal romantis. Ya, sangat romantis. Kupikir, dia hanya seorang perayu ulung yang hebat di ranjang, tapi ternyata aku salah. Elena mencintaiku. Ya, dia mencintaiku. Iya, Elena, perempuan gila itu!

Aku ingat, malam yang dipenuhi asap rokok itu, pukul dua dini hari. Setelah semua selesai, dan keringat di tubuh kami berdua sudah hampir mengering.

“Na, mengapa ketika bercinta denganmu, aku menjadi begitu penuh?” kataku tak sengaja merayu. Dia tersenyum nakal. Tetapi matanya sayu, meski bagiku sepasang mata itu lebih mirip senja yang terbakar merah daripada mendung seperti mata Diana.

“Aku melakukannya dengan cinta, kau tahu?” katanya sambil mengerling genit lalu menyemburkan asap rokoknya ke udara dan mulai melumat bibirku lagi.

“Dru, aku mencintaimu..” bisiknya. Kupikir, semalam sebelum kami bercinta dia mabuk dulu, tetapi aku tidak melihat boto-botol alkohol di kamarku. Dan matanya… Mata itu mengingatkanku dengan matahari yang tenggelam di pantai ketika aku berlibur bersama kedua orangtuaku dahulu. Mata itu…mengingatkanku akan masa kecilku. Yang bahagia. Aku hampir menangis mengenang masa kecilku. Tetapi kau tahu, senja tidak selalu membahagiakan, kadang ia menyiratkan sebuah pesan menyedihkan tentang kehilangan, dan kedatangan yang singkat. Dan aku melihat itu pada mata Elena. Sepasang mata senja.

“Kamu mabuk?” tanyaku memastikan. Dia menggeleng, matanya masih berbinar-binar. Aku kewalahan menanggapinya.

“Ka..kamu serius?” dan kau tahu? Elena mengangguk dan ingin menciumi bibirku lagi. Aku menahannya. Cukup. Hubungan ini tidak akan sampai ke sana. Aku mengatakannya begitu pada dia, dan bibirnya bergetar. Ya, bibir yang biasa melumat bibirku dengan lembut kemudian beringas kemudian lembut lagi itu bergetar hebat. Ia menahan tangis yang memburu napasnya. Dan matanya…matanya…senja itu telah padam. Ia benar-benar kelihatan sedih. Aku sedikit merasa bersalah. Bersalah karena melukai hati perempuan. Perempuan yang mencintaiku, bukan hanya tubuhku atau ketenaranku yang tak seberapa. Tidak seperti perempuan-perempuan sebelumnya.

Ia pulang dengan mata sembab, dan tidak berbicara apa-apa lagi padaku. Dan kami tak bertemu selama hampir tiga bulan. Tiga bulan berikutnya, aku sudah bersama Diana. Aku memang menyukai perempuan itu sejak ia memuji suaraku dan menjadikanku vokalis band akustikan itu. Lalu Diana yang membuatkan lagu-lagu sendu band akustikan, yang kami namai Perindu. Melankoli sekali, bukan? Karena itu banyak wanita yang menggilai band kami, terutama aku yang menjadi vokalisnya. Ibarat di film, aku adalah si bintang utama, yang mendapat lampu sorot paling terang di antara yang lainnya.

Hampir empat bulan setelah kepergian Elena malam itu, perempuan gila itu mengirimiku surat di pagi-pagi buta, entah dengan cara apa, ia menyelipkan surat itu di kamar kos-ku. Setiap hari. Ya, setiap hari. Surat itu berisi tentang betapa sedih ia meninggalkanku malam itu, dan betapa terbakarnya ia menginginkanku. Puisi-puisi cinta selalu hadir di akhir surat itu. Aku tidak mau mengingat surat-surat keparat yang membuatku berkali-kali pindah kos, tetapi surat itu tetap saja menemui keberadaanku. Aneh. Padahal, aku tidak pernah membalas surat itu sama sekali, apa lagi menuliskan alamat ketika membalasnya, menulis untuk sekadar membalas suratnya pun, aku enggan. Dia, perempuan gila! Aku diteror habis-habisan dengan surat dan puisi-puisi cintanya yang ia kirim setiap hari.

Elena memang mencintaiku sebegitu demikian hebat dan besarnya. Aku tidak mengerti cinta sebelum Diana memberikan rasa sakral dan aneh itu kepadaku, yang berujung pedih yang tak terobati. Barangkali, begitu juga yang dirasakan Elena karena cintanya tak terbalas olehku, apalagi surat-suratnya. Tetapi surat-surat itu selalu kubaca. Di pagi hari, dengan secangkir kopi panas, uap mengepul, wangi kopi meguar-nguar di udara yang masih segar itu, surat selalu terselip di celah-celah pintu bagian bawah, dan aku membacanya dengan khidmat, juga sendu dan perasaan bersalah yang menyelimuti. Surat-surat itu muram seperti matanya yang kulihat terakhir kali; senja yang padam. Aku—walaupun membenci surat-surat itu—tidak mau melewati begitu saja surat dari Elena, walaupun akhirnya perasaan bersalah itu seperti semak belukar yang meninggi di dadaku. Tidak bisa dicerabut asal-asalan, karena esok hari ia akan tumbuh subur kembali oleh surat muram yang baru.

Awalnya, aku tidak mengerti, apakah dicintai seseorang bisa membuat kita merasa terbebani dan penuh oleh rasa bersalah? Karena aku merasa begitu ketika dicintai Elena. Perasaan bersalah yang penuh karena berhasil melukai hati perempuan yang mencintaiku. Aku membayangkan wajah ibu. Ibu yang pandai memasak sayur asam, merajut baju hangat, dan pandai memelukku ketika aku bersedih. Tiba-tiba aku rindu Ibu, tapi kemudian kuhempaskan kembali bayangan itu, mengingat ia tidak merindukanku.

Surat-surat itu tetap datang sampai beberapa tahun berikutnya. Sampai aku dan Diana hampir menikah. Bodohnya, aku tidak pernah membuang ataupun membakar surat-surat itu, yang ada, aku justru menyimpannya dalam kardus bekas mie instan yang atasnya kututupi dengan lakban, dan kemudian dilubangi seperti celengan ayam, tujuannya untuk memasuki surat-surat Elena ke dalam kardus, setiap hari. Suatu hari, Diana menemukan kotak itu dan membongkarnya. Percis satu bulan sebelum menikah. Dan dia membaca semuanya. Ya, semuanya. Beratus-ratus surat-surat muram itu. Sialnya, Elena juga menulis kenangan-kenangan dan adegan-adegan hebat kami saat bersetubuh. Aku menganggapnya, permainan, ia menganggapnya kenangan yang terus hidup dalam kepala dan rongga dadanya.

Kau bisa menebaknya, ah, iya. Diana menangis atas kesedihan Elena dan kebejatan seorang Gandru yang telah berani melukai hati perempuan. Menyepelekan cinta seseorang. Setelah itu, ya, kau bisa menebaknya juga. Diana pergi dari hidupku. Semudah membalikkan telapak tangan. Ia membatalkan rencana pernikahan dan memberikan cincin pertunangan kami kepadaku. Ia bilang, cincin itu pantas untuk Elena. Ia akan membayar kesedihan Elena dengan cara memberikan aku kepadanya. Memangnya aku barang yang bisa dihibahkan sesuka hatinya? Seandainya ia tahu, kesedihan tidak bisa dibayar oleh apa-apa kecuali oleh dirinya sendiri. Dan dengan dia meninggalkanku, dia malah membuat dua kali kesedihan. Pertama, aku tidak akan membalas surat-surat Elena, dan akan membencinya, kedua, ialah kembalinya aku menjadi seseorang yang tak memiliki pegangan. Sudah. Berantakan sudah.

Band-ku bubar, karena personelnya sudah menikah dan memiliki pekerjaan mapan, Diana pergi meninggalkanku, dan surat-surat Elena terus menghantuiku. Sampai suatu ketika berhenti. Dan aku frustasi. Merasa tidak dicintai, dan sendirian. Kadang, aku kerap menunggu datangnya surat itu, surat keparat yang membuat Diana pergi, tetapi itu sudah tidak ada lagi. Dua tahun dihinggapi kesendirian dan mimpi-mimpi buruk, mengantarkanku ke sebuah keadaan abnormal. Kepada ingatan-ingatan yang lalu-lalang. Tentang masa kecil, pertengkaran Ayah-Ibuku dulu, Diana, dan persetubuhan dengan Elena. Yang terakhir lebih sering menghantuiku. Mereka semua partikel-partikel masa lalu yang berseliweran dalam kepalaku, membuatku ingin tertawa, dan menangis tersedu-sedu. Kadang aku cekikikan di teras kos-kosan, kadang aku tersedu-sedu menangis seperti sedih sekali sampai akhirnya aku diusir oleh ibu kosku. Katanya, aku gila! Enak saja. Dia yang edan, mengusirku seenaknya! Hek..hek..hek..

“Dan akhirnya aku kemari. Duduk di sini bercerita denganmu. Aku rindu bercerita tentang hidupku, tentang masa laluku, dan masa kecilku. Kamu baik. Kamu mau mendengarkan aku. Tidak seperti orang-orang gila itu, yang sibuk mbicara’in aku! Hik hik hik hik….” aku tertawa cekikikan. Lawan bicaraku diam saja, tapi tak nampak ketakutan. Sepasang muda-mudi yang melintas menatapku dengan tatapan gusar sekaligus aneh dan jijik. Aku masa bodoh, sudah biasa. Tetapi lawan bicaraku nampak tidak keberatan. Ia lebih manusia dari manusia biasa meskipun dia bukan manusia.

“Ih, orang gila! Ngomong sama bangku!” sayup-sayup perempuan yang melintas itu bicara pada laki-laki di sebelahnya. Lagi-lagi perempuan yang lain itu mengingatkan aku pada Diana….tiba-tiba aku ingin menangis tersedu-sedu.

—–END——

Depok, 6 Juli 2015

Cinta Tak Sesederhana Menjadi Bahagia

Mungkin mereka pikir saya kelewat dungu, atau ketakutan. Mereka pikir, saya adalah pecundang paling naif yang tinggal di negeri ini. Pecundang yang mereka kenal sebagai pemuja cinta, padahal sebenarnya cinta lah yang menghabisi nyali saya. Cinta lah yang pecundangi saya selain dunia dan caci-maki mereka. Cinta. Ah, sebuah kata yang mengubah saya menjadi manusia yang bukan saya. Kata yang mengubah jiwa saya.

“Adendong, lama deh lo dandannya, yang mau kencan kan gue, masa jadi cakepan elo!” Itu suara Liana. Dia perempuan paling cantik setelah ibu saya. Dia perempuan paling gagah setelah ayah saya.

“Ey, mak! Secakep-cakepnya gue, laki lo nggak mungkin naksir sama gue!” Sahut saya sekenanya. Perempuan itu tertawa, suaranya renyah serenyah biskuit penganan teh sore.

Liana berkaca di cermin rias saya sekali lagi, merapikan sisa cokelat di bibir yang sudah dipoles gincu merah marun. Tangannya asik menyisir rambut sebahunya dengan jari-jari lentiknya. Jari-jari yang sering saya lihat mengambang di udara dengan gerakan-gerakan naik-turun seperti lenggokan pinggul penari yang paling gemulai. Ya, Liana suka menari. Dan saya suka melihatnya menari.

“Iya juga sih, lagi elo nama doang Adam, tapi kelakuan Hawa,” Liana terbahak.

“Ye, kampret lo, mak!” saya mencubit lengannya gemas, dia meringis.

*

Masih teringat di benak saya bagaimana suara Liana berteriak sekencang suara badai di telinga saya. Bagaimana suara tangisnya yang meraung-raung mencabik bahu saya. Suara-suara yang keluar mirip suara ibu saya di rumah ketika saya kecil. Suara-suara pilu perempuan terluka sebab laki-laki.

“Remon udah merkosa gue, Dam. Gue nggak tau harus gimana lagi. Gue udah kotor!” Liana terisak. Suaranya lirih seperti burung yang ingin menjemput ajalnya. Indah, tetapi menyedihkan. Suara Liana lima tahun silam. Suara yang tidak ingin saya dengar lagi.

Suara yang sama seperti masa lalu saya;

“Ampun, Yah. Ampuuunnn!” perempuan itu terisak setelah suara beling pecah di lantai. Suara tangisnya ikut pecah di muka pintu kamar saya. Saya mendengarnya.

Itu suara ibu saya. Setelah itu saya keluar kamar, dan melihat ibu saya tergolek di lantai dengan vas bunga pemberian ayah saya yang sudah pecah berhamburan. Seperti hati ibu saya. Usai malam itu, saya tidak pernah melihat vas bunga ditaruh di meja, dan juga ayah saya.

Tidak ada yang bisa saya lakukan kepada dua orang tersayang itu kecuali memberi rasa aman yang tak seberapa. Mereka membenci laki-laki, saya juga. Bedanya, saya adalah laki-laki, yang membenci raga saya sendiri.

*

Lima tahun sudah berlalu sejak tangis dan raungan Liana mendekam serupa ingatan di kepala saya. Hampir lima tahun pula saya tidak bisa mendengar suara tawa Liana yang serenyah biskuit penganan kopi pagi. Hampir lima tahun sebelum ia bertemu dengan Rajib Waguna Alanasakti, laki-laki pemabuk di bar langganan saya. Laki-laki itu senang menghabiskan lima botol chivas ketika menjelang pukul dua dini hari. Saya sempat mengobrol dengannya, sebelum ia dan Liana bertemu tak sengaja, katanya, hidup bahagia di dunia ini sebagai orang yang benar-benar sadar ialah dusta. Maka, ia habiskan tujuh tahun belakangan ini dengan mabuk-mabukan. Ketika saya bertanya alasannya, dia bilang, get drunk is my way to pleasure myself.

“Gue nggak bilang kalo bahagia itu harus dengan mabuk, but it’s my own way dan orang lain nggak berhak ngurusin gue seolah-olah ini dosa besar. Well, setiap orang punya dosanya masing-masing. Just, get a life, man.” katanya. Di depan saya dan Liana. Yang saya tahu, setelah itu senyum biskuit Liana terdengar lagi. Perempuan itu jatuh cinta. Dan saya baru sadar, letak kesalahan terbesar saya adalah ketika mengajak Liana ke bar langganan saya dan mengenalkannya pada Rajib.

*

Colony, 21:18 WIB.

Rajib sudah lebih dulu datang sebelum saya dan Liana. Mereka akan berkencan di depan saya, tapi yang saya suka dari Rajib adalah laki-laki ini tidak seperti laki-laki lainnya yang mencoba menjauhkan hubungan saya dengan Liana, dia malah sebaliknya. Dia tidak menghilangkan sebagian potongan dari hidup Liana, termasuk masa lalunya yang kelam dan juga saya. Tangan laki-laki itu seolah kuncup mawar yang mekar; terbuka untuk siapa dan apa saja tanpa pilih-pilih ras ataupun orientasi seksual.

people just people who judging each other. I may say that i’m not kind of them, but i’m only human.” dia pernah berkata begitu. Itulah yang saya tahu bahwa laki-laki bertubuh kurus dan berkulit cokelat gelap ini mempunyai hati yang lapang. Well, he’s not talking bullshit, anyway. Jadi saat dia bilang dia mencintai Liana, saya tahu laki-laki itu sungguh-sungguh. Dan saya tidak menyesali kesalahan saya; mempertemukan Liana dan Rajib. They’re such of lovely couple i’ve ever met.

Entah berapa jam kami bertiga menghabiskan waktu, dan berbotol-botol bir di sini dengan percakapan-percakapan yang tak kenal kata usai. Berkali-kali saya melihat bibir Liana dan Rajib bersentuhan seperti bibir saya dengan gelas bir di tangan saya. Berkali-kali ciuman mereka liar membangkitkan emosi saya. Berkali-kali saya berdebar melepaskan cemas di dada, berharap tatapan mata dari Rajib adalah kesungguhan pada Liana. Saya sama sekali tidak ingin mendengar tangis Liana. Tidak lagi. Namun yang saya lihat adalah kebahagiaan sekaligus kehilangan pada mata dan ciuman Rajib. Dia betul-betul mencintai Liana. Hal itu melegakan, membahagiakan, sekaligus menyakitkan bagi saya. Bila kalian ingin bertanya apa sebabnya, saya ingin mengakui beberapa hal; rahasia terbesar dalam hidup saya selama terjebak dalam tubuh ini;

Saya mencintai Liana. Setelah saya tahu dia membenci laki-laki, saya putuskan agar saya tidak menjadi laki-laki. Saya menjadi perempuan untuknya. Karena cinta.

Saya mencintai Rajib. Dia adalah laki-laki ‘straight’ satu-satunya yang saya cintai.

Pada mulanya, semua membingungkan. Apalagi ketika berhadapan dengan dua orang yang saya cintai dan tidak pernah bisa saya miliki. Dua orang yang saya cintai saling mencintai. It’s more difficult than you think. But at least, I know that, I love the way Rajib loves Liana.

Saya membiarkan dua orang yang saya cintai berbahagia dengan saling mencintai satu sama lain. Dan yang lebih membahagiakan untuk saya adalah, dua orang itu juga mencintai saya. Walau tak pernah bisa saya miliki.

Mereka boleh berpikir saya pecundang, atau bahkan sampah dunia, tetapi yang mereka tidak tahu adalah, bahwa Tuhan menciptakan manusia selalu ada gunanya, He knows what people don’ts, right?

At least, saya mungkin belum menemukan letak kebahagiaan saya yang utuh, tetapi saya tahu apa yang sedang saya lakukan; menjemput takdir. Seperti puisi yang pernah saya tulis.


Takdir Di Tangga Waktu

Saya pikir, saya pecundang
Saya pikir, dunia bukan untuk saya yang malang

Saya pikir, dunia tidak adil
Saya pikir, pemikiran saya yang kerdil

Saya pikir, manusia hanyalah manusia
Yang nanti akan menemukan takdir masing-masing

Biar saja waktu menyeret saya dari tanpa cahaya, sampai ada cahaya lagi
Terseret anak-anak tangga sambil mengaduh kesakitan
Berjalan meniti tangga naik
Menjemput takdir

Adam,
(Klender, 23 Januari 2014)

(sumber: weheartit.com)

(sumber: weheartit.com)

END-

Depok, 24 Maret 2015

Ilusi Pagi

Selamat berganti hari, kau yang sedang sibuk entah dengan apa. Aku tidak akan mengucapkan selamat pagi lagi, sebab aku bangun ketika pagi sudah menua dan berakhir mati terbakar terik matahari siang. Hari ini suratku ingin menceritakanmu sebuah dongeng, ya.
Dongeng tentang bunga yang mekar di kepala perindu, judulnya Ilusi Pagi. Entah mengapa, sejak aku terbangun, aku ingin sekali berdongeng kepadamu, tentang apa saja seperti yang sering kaulakukan dulu. Yang sering kita lakukan dulu; bercerita. Ah, kau tahu kini ketika aku mulai menulis surat ini, aku sedang rindu-rindunya pada alis, mata, hidung, bibir, dan tanganmu yang bergerak-gerak ketika kau bercerita. Lucu sekali!
Hehe..kumulai saja ya dongengnya;


Pada suatu malam, ketika gugusan bintang pagi mulai merayapi langit yang kini tak hitam lagi sebab jarak antara bumi dan matahari semakin dekat, sekuntum bunga mekar pada kepala seorang perempuan. Bunga itu mekar disirami air mata dari sepasang mata perindu yang begitu lama menunggu temu.

Perempuan itu barangkali terlalu lelah menunggu harapan yang tak kunjung jadi nyata, menunggu do’a-do’a nya dianggukkan semesta. Ia tersedu sedan di kamarnya yang gulita oleh padam lampu di langit-langit kamarnya.

“Duhai Tuhan, sampai kapan aku menunggu dia yang tak lekas datang? Kau tahu, aku menunggunya sejak malam memiliki langit sehitam gaun malamku hingga warna langit malam itu luntur oleh cahaya matahari dan berubah ungu.” perempuan itu masih menengadahkan tangan sambil menatap jendela yang mempertunjukan warna langit yang hitamnya perlahan mengungu. Semesta tak kunjung mengangguk, Tuhan tak kunjung menjawab pertanyaan si perempuan.

Perempuan itu kini sudah pejam. Mengatupkan sepasang matanya yang masih menyisakan genangan air. Dibiarkannya air mata itu mengering sendiri diembus angin malam yang lewat dari ventilasi udara dalam kamarnya. Diam-diam, Tuhan masuk ke dalam kamar perempuan itu. Mengendap-endap, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia menghampiri perempuan malang itu dan menanam sesuatu di kepalanya. Bibit bunga. Tuhan menghadiahi perempuan itu bibit bunga. Usai menanam bibit bunga dalam kepala perempuan yang sedang tidur,Tuhan segera pulang ke tempat asalnya. Mengendap-endap tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dibiarkannya angin tak berembus ke dalam ventilasi kamar perempuan itu. Tuhan sengaja menahan angin agar tak tembus ke kamar perempuan itu supaya air matanya bisa menyirami bibit bunga yang baru saja Ia tanam di keningnya. Perlahan, senyum Tuhan terkembang di sudut-sudut bibirnya.

Malam itu, gugusan bintang pagi merayapi langit. Bulan purnama sudah menghapus riasan di wajahnya, bersiap pulang dan rebah pada ranjangnya. Pementasan langit malam sudah usai, diganti oleh dinihari. Dalam kepala perempuan itu, bunga perlahan mekar. Air mata di dua ujung kelopak matanya diserap bibit bunga tadi dan membuat kelopak-kelopak bunga yang indah. Perlahan, perempuan itu tersenyum. Sebab, di dalam kelopak bunga dalam kepalanya keluar seorang laki-laki. Laki-laki yang membuatnya menunggu sekian lama.

“Selamat pagi, Rinai.” ujar laki-laki itu menyapa perempuan yang sedang terpana di hadapannya. Perempuan yang semalam menanyakan keberadaannya pada Tuhan. Perempuan yang dipanggil Rinai, tersenyum.

“A…Awan…” ya, laki-laki itu bernama awan.

Laki-laki yang bernama Awan turun dari kelopak bunga, lalu menghampiri Rinai. Awan memeluk Rinai. Dibiarkannya tangis Rinai membasahi kemeja awan. Kemeja yang sering dipakainya. Awan mendekap perempuan itu lekat-lekat. Sekejap saja, sebelum akhirnya dilepas dan digantikan genggaman tangannya pada Rinai.

“Maafkan aku harus pergi dan meninggalkanmu.” kata laki-laki itu dengan wajah bersalah. Rinai mengangguk.

“Aku merindukanmu sepanjang malam.” Rinai mendesah lirih.

“Aku tahu. Ini berat untukmu, dan juga untukku, andai kau tahu.” Awan masih menggenggam tangan Rinai yang dingin. Yang halusnya masih sama seperti dulu.

“Aku tahu, Awan. Tetapi malam ketika merindumu itu terus berulang setiap malam.” Rinai menangis. Awan masih sibuk menghangatkan tangan Rinai.

“Kau seharusnya tidak merindukanku.” ujar Awan. Kini laki-laki itu menangis.

“A…aku tahu. Aku seharusnya melepasmu dan tak perlu lagi menunggu…” Rinai berkata lemah. Ia lepaskan genggaman tangan Awan lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Awan yang termangu sambil melelehkan air mata di sepasang mata yang jarang menangis. Kini ia menangis.

Rinai kini telah sampai di entah di mana. Meninggalkan Awan yang ingin sekali ia temui. Meninggalkan begitu saja laki-laki yang sudah ribuan malam ditunggunya. Angin membelai rambut sebahu Rinai. Dibiarkannya air mata itu kini dikeringkan angin dan waktu. Perempuan itu kembali terpejam. Dirasakannya air mata itu menghangatkan pipinya juga perasaannya. Ia ingat kata-kata Awan; kau seharusnya tidak merindukanku.
Ah, kini perempuan itu merasa dungu telah dipermainkan malam yang ia habiskan demi menunggu laki-laki itu. Laki-laki yang justru tidak menginginkan rindunya. Ia terpejam, mengingat detik-detik perpisahan waktu lalu dengan pelukan singkat dan aroma-aroma tubuh Awan yang lebih mirip hujan. Ia terpejam, mengingat air mata lelaki itu. Tunggu…air mata? Laki-laki itu menangis?

Perlahan, Rinai membuka matanya. Terang. Kini yang perempuan itu lihat hanya terang yang memenuhi pandangannya. Langit malam yang ungu itu sudah tak nampak, digantikan kuning matahari yang sedang nyengir pongah. Ia tahu ini musim panas dan bukan lagi musim hujan.
Perempuan itu ingin kembali, ke tempat di mana Awan berada di depannya, menggenggam tangannya, dan menangis. Tapi ia tak bisa kembali lagi. Pagi sudah memberangus mimpi itu menjadi tiada, bahkan bantalpun tak sanggup merekamnya. Ah, ya, yang barusan itu hanya mimpi belaka. Ilusi pagi yang sementara. Namun hujan di sepasang mata lelaki itu kembali mengusiknya, membuat ia ingin berlari ke tempat Awan berdiri, dan bertanya;
“Awan, apa kau bahagia?” hanya itu. Perempuan itu hanya ingin memastikan, apakah laki-laki yang ia rindukan, yang ia cintai itu bahagia dengan pilihan hidupnya; pilihan untuk pergi meninggalkan Rinai berdua saja oleh luka.

Ah, ia ingat doa semalam pada Tuhan yang ia pikir malas menjawab doanya. Ia ingat bunyi-bunyian semalam, suara mengendap-endap. Bunga itu. Bunga yang ditanam Tuhan di kepalanya semalam. Bunga itu dinamakannya bunga ilusi. Ilusi pagi. Perlahan, perempuan itu kembali tersenyum, dengan kesadaran yang lain; ternyata, Tuhan menjawab do’a umatnya dengan cara yang berbeda-beda. Seperti caraNya menjawab doaku lewat mimpi, bisiknya dalam hati sekaligus menyisipkan ucapan terima kasihnya pada Tuhan.

Perempuan itu kembali terpejam. Kali ini, bukan untuk kembali melihat Awan berada di kepalanya, tetapi untuk melupakan. Melupakan mimpi. Melupakan tangisan Awan. Dan menganggap, rindunya pada Awan telah usai diberangus matahari yang kian tinggi.

Tamat.


Bagaimana dongengnya? Kau suka?
Ah, Kau tahu?
Semalam, bunga yang sama mekar juga di kepalaku. Aku tidak menanggap ini sebuah pertanda atau apa,
tetapi, semoga kau selalu bahagia dan baik-baik saja.

Depok, 25 Februari 2015

Perempuan Di Depan Pintu

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

“Diam. Diam di situ.” terdengar suara tawa dari balik pintu.
“Ah, kau memelukku terlalu erat!” suara perempuan memekik, lalu disusul gelak tawa.
“Bukan. Aku mencintaimu terlalu dalam.” suara laki-laki. Ah, kuhapal betul suara itu. Suaramu. Perempuan itu tertawa.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam? Bisikku. Tentu ada. Kau. Dan dia. Perempuan itu.

Suara tawa makin nyaring terdengar, ketukan pintu itu dianggapnya hanya suara angin yang lewat. Tidak terdengar, bilapun terdengar, tidak penting. Bagimu. Baginya. Bagi kalian.
Aku melabuhkan tubuhku sendiri pada pintu kayu itu. Semakin lama, semakin tenggelam tubuhku ke bawah. Terduduk lemah, sambil memeluk lututku sendiri. Menangis. Ah, bodoh! Sudah sejak kapan aku berada di sini? Di depan pintu, sebagai tamu yang tak pernah diajak masuk, atau disuguhi segelas teh saja. Menunggu kau membukakan pintu. Bodoh! Sudah berapa lama? Rutukku dalam hati. Hatiku tak mampu menjawab, ia lupa sudah berapa lama aku di sini.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

Tulang-tulang jemariku rasanya sakit sekali, lebam di segala permukaannya, lelah mengetuk pintu. Bukan hanya itu, rasanya tanganku juga pegal sebab setiap hari aku menulis surat untukmu dan menyelipkan puluhan surat itu di bawah pintu. Surat yang tak pernah tersentuh olehmu. Aku masih bisa melihat puluhan surat itu menumpuk di dalam, pada lantai kayu berwarna hangat, dan seringkali surat-surat itu terinjak olehmu, oleh perempuan itu. Yang kulakukan justru bukannya geram, tetapi malah tetap diam di sini. Di depan pintu. Seperti orang tolol yang tengah duduk di depan pintu, dilumuri air mata disekujur wajah, dan menunggui dua orang yang sedang dimabuk asmara. Dan aku mencintai salah satunya. Kau.

Tok, tok, tok.
Ada orang, di dalam? suaraku sudah melemah.

Kemudian hujan datang mengguyur tubuhku dengan gerimisnya yang tipis-tipis, kemudian menjadi deras yang menghujam tubuhku. Kuyup sudah. Namun aku masih terkulai di depan pintumu. Aku tidak bisa ke mana-mana. Aku tidak mau.
Seorang perempuan datang, lewat di depan pintu itu, mengenakan payung merah jambu. Perempuan itu menoleh.

“Hei, hujan. Meneduhlah sini.” katanya. Aku menggeleng.

“Ah, kau ingin menikmati hujan?” tanyanya. Aku mengangguk. Perempuan itu kemudian hanya tersenyum, lalu pergi.

Kemudian, satu, dua, tiga laki-laki lewat di hadapanku. Mengenakan jas hujan, tapi membawa payung.

“Hei, hujan! Mau satu payung denganku?” mereka menanyakan hal serupa. Aku menggeleng untuk ketiganya.

“Baiklah.” tukasnya sebelum pergi. “Ah, ya, jangan berlama-lama di bawah hujan, nanti flu.” sambung yang lain. Aku hanya bisa mengangguk.

Setelah hujan pasti ada pelangi. Aku percaya itu. Aku percaya.
Langit semakin gelap, hujan telah berangsur-angsur mereda bersama warna langit yang menghitam sebab hari lagi dilahap malam. Bulan hanya memamerkan separuh tubuhnya, entahlah ke mana separuhnya lagi. Namun, bulan itu masih menyisakan keindahan walaupun hanya terlihat separuh. Bintang-bintang berhamburan di angkasa raya. Aku tersenyum. Aku menunggu gelap ini; gelap yang kugunakan untuk merapalkan namamu dalam setiap larik doaku.

Hening.

Tok, tok, tok.
Perempuan itu masih di dalam. Kau juga. Entah sudah berapa lama perempuan itu di dalam sana hingga kau lupa untuk menyapa matahari, menyapa pagi, dan melihat tubuhku yang sudah sangat menyedihkan ini masih berada di depan pintu. Menunggu. Menunggu.

“Hei, kau masih ingin berada di situ sampai kapan?” tanya seorang laki-laki yang kebetulan melintas. Tapi aku sering melihatnya.

“Aku masih ingin–”

“Pergi saja. Dia tidak menginginkanmu!” ujar laki-laki itu jujur. Iya, aku tahu. Aku mengangguk.

“Aku tidak akan pergi.” kataku. Dia tersenyum meremehkan.

“Terserah saja.” katanya. Aku mengulas senyum untuk membalas perkataannya. Lalu laki-laki itu pergi.

Tok, tok, tok.
Aku kembali mengetuk pintu, meski jemariku masih lebam karenanya. Masa bodoh. Aku tidak peduli. Sama sekali.

Kemudian suara gelak tawa itu lagi. Disusul suara gaduh lainnya. Ah, aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Aku tersenyum pahit. Seperti kopi hitam yang kauseduh tanpa gula. Tanpa pemanis apa-apa. Itulah wujud senyumku kini.
Ah, bodoh! Sudah berapa lama aku di sini? Di depan pintu hati seseorang yang tak kunjung membukakan pintu, hati seseorang yang sedang sibuk oleh mabuk sebab cinta. Dan yang menyedihkan lagi, mabuknya itu bukan denganku. Ah! Tolol! Aku memaki diri.

Tapi, kau harus tahu; aku tidak akan pergi, entah sampai kapan aku bertahan, aku tidak tahu. Setidaknya, sampai hari ini, aku belum berniat untuk melangkahkan kaki dari sini; dari hatimu. Di luar hatimu, lebih tepatnya. Aku belum mau pergi. Biar saja hujan menghajarku sampai belur, dan menggigil. Biar saja matahari membakar tubuhku hingga legam. Biar saja bulan dan bintang menertawai aku, dan biar saja orang-orang menganggapku bodoh atau gila, aku tidak peduli.
Aku akan menunggumu, membukakan pintu. Untukku.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

i’ll always be a homeless woman in front of the door called your heart.

Depok, 14 Februari 2015

Perempuan Berambut Bondol Di Ujung Kafe

Perempuan berambut bondol itu masih duduk di sana. Di kursi kayu dekat sekat kaca yang memisahi antara kafe dan luar mall. Di mejanya, secangkir kopi yang dipesannya beberapa menit lalu masih penuh. Perempuan itu malah semakin asik dengan notebook yang dibawanya. Ia tengah sibuk mengerjakn deadline kantor. Artikel-artikel yang harus ia kirim ke redaksi berhari-hari lalu, terbengkalai dan baru bisa ia kerjakan sekarang.

Beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Biasa, tatapan laki-laki tua yang masih ingin menyandang julukan buaya darat. Laki-laki tua mata keranjang. Berdasi, tapi tidak beretika. Perempuan itu memang cantik meski rambutnya berpotongan ala laki-laki, hal itu malah semakin membuat laki-laki tertarik. Smart, bisik laki-laki tua yang duduk tak jauh darinya–hanya dipisahi beberapa set kursi & meja. Perempuan itu mendelik jutek ke arah om-om tua gendut di seberang mejanya, ia jengah ditatapi seperti itu; seperti melihat perempuan tanpa busana. Padahal, hari ini dia tidak mengenakan pakaian yang memancing berahi pria. Ia hanya mengenakan potongan dress selutut warna hitam, dan sepatu heels hitam yang sempurna terpasang di kaki jenjangnya. Perempuan itu juga tidak memiliki kulit putih, bersih, dan berkilau, yang membuat banyak laki-laki meneteskan air liurnya, malah kalau diperhatikan, kulit perempuan itu cenderung gelap. Eksotis, kata laki-laki yang juga memperhatikannya. Laki-laki tua yang berbeda, namun isi otaknya sama; payudara, bokong, dan selangkangan. Tidak jauh-jauh dari itu, pikir perempuan itu skeptis.

Umurnya sudah dibilang tidak muda lagi. Hampir menginjak kepala tiga, namun auranya belum hilang. Aura cantiknya masih sama seperti sepuluh tahun silam. Tak ada satupun kerutan di wajahnya. Maupun wajah dan tubuhnya masih sama-sama kencang dan kenyal. Ya, uang hasil jerih payahnya memegang satu perusahaan media, seringkali hanya dipakai untuk merawat tubuh dan kecantikan wajahnya. Bukan untuk keperluan rumah tangga, atau biaya sekolah anak-anak yang biasanya dihabiskan perempuan-perempuan seusianya di luar sana. Dia berbeda. Perempuan itu belum menikah, apalagi memiliki anak. Belum. Entah, dia terlalu menikmati kesendirian.

Pernikahan. Dia membenci kata itu. Dalam kamusnya, pernikahan ialah kata yang paling mengganggu di telinganya. Kedua, setelah kata laki-laki. Tidak, tidak, perempuan itu bukan lesbian, hanya saja cinta tak lagi dapat menyentuh hatinya yang tlah lama gigil oleh sepi kesendirian. Cinta baginya hanyalah kata-kata omong kosong manusia melankolis yang belum pernah merasakan bagaimana cinta bisa memporak-porandakan dua hati yang seharusnya bisa bersatu, tapi semesta berkehendak lain. Yang perempuan itu tahu, dewi cinta–entah siapa namanya–itu membenci dirinya, entah karena alasan apa. Ia tidak tahu. Selama duabelas tahun berlalu, dia belum kunjung mengetahui mengapa dewi cinta itu membencinya. Ia tidak tahu. Dan sekarang, ia masa bodoh.

Cibiran, gunjingan orang di sekitarnya, bahkan karyawannya sendiri, tak pernah lepas membayang-bayangi kepalanya. Telinganya tak pernah absen dari warna merah. Apalagi ucapan Mamanya yang pedas, wanita renta yang meminta seorang cucu. Sayangnya, mendapatkan cucu untuk mamanya harus melewati tahapan menikah dulu. Dan perempuan itu, benci pernikahan. Dan laki-laki, tentu saja.

Perempuan itu pernah jatuh cinta. Ya, perempuan itu juga manusia. Dan jatuh cinta ialah hal yang manusiawi, bukan?
Sekali. Hanya sekali perempan itu jatuh cinta. Dan ia kapok.

Namanya, Fairul.Perempuan itu bisa bebas memanggilnya, Fai. Fai. Laki-laki beragama islam yang taat beribadah. Laki-laki yang dari kecil menemani perempuan itu sampai pada suatu ketika; perempuan itu mendapati dirinya menatap Fai dengan perasaan yang lain. Aneh. Dadanya berdegup cepat sekali, perutnya mual, seperti ada serangga yang sedang berhinggapan di sana. Tubuhnya bergetar, dan rasanya selalu tak sabar ingin bertemu dengannya. Ah, Fai. Fai. Seharusnya, ia tidak memiliki perasaan seperti itu.

Saat ia sadar telah jatuh cinta pada laki-laki itu, tetangga sebelah rumahnya, Fai, ia masih duduk di bangku SMA. Rambutnya masih panjang sepinggang. Lurus, hitam, lembut, dan panjang. Ia malah tak suka jika rambutnya diikat. Ia begitu ke-perempuanan. Tidak ada tanda-tanda tomboy sama sekali. Cantik. Sangat cantik. Sampai cinta merenggut semuanya. Segalanya, termasuk rambut panjangnya.

Fai ketika itu ialah mahasiswa teknik ITB yang berpengaruh di angkatannya. Bagaimana perempuan itu tidak terpukau? Perempuan itu selalu terpukau pada Fai sejak hari itu. Hari dia jatuh cinta. Padahal, dia dan Fai sudah berteman sejak kecil. Oh, bodohnya aku. Ke mana saja aku selama ini?, bisik perempuan itu.
Bertahun-tahun berlalu, perempuan itu tahu, seharusnya ia tidak jatuh cinta pada Fai. Perempuan itu seharusnya tahu, semesta tidak akan pernah bisa menyatukannya dalam damai di bawah naungan Tuhan yang sama. Ya, seharusnya ia tahu. Dirinya dan Fai berbeda. Jauh. Seharusnya ia tidak jatuh cinta.

Meski, ia pernah mendengar Fai berbicara pada dirinya, dalam bisikan yang menyiratkan kesedihan;
“Alea, aku…menyayangimu. Aku tahu ini salah, tetapi….” ucapannya terputus. Perempuan itu menunggu kelanjutan kalimatnya. “Kau tahu? Kita berbeda.” Ya, aku tahu. Perempuan itu mendesah kecewa. Ingatan masa lalu itu membasahi lagi luka yang tlah lama mengering di dasar hatinya.

Bertahun kemudian, setelah hari itu, Fai menikah. Ya, Fai. Fairul yang perempuan itu begitu cintai. Fai yang perempuan itu tunggu. Laki-laki beruntung itu menikah dengan gadis berkerudung. Gadis yang pastinya lebih baik dariku, pikir perempuan itu. Gadis yang cocok untuk Fai. Fai. Fairul-ku, bisik perempuan itu.
Di hari pernikahan tetangga rumahnya, yang tak lain adalah Fairul, perempuan itu menghabiskan harinya di Gereja. Berdo’a. Sibuk tangannya tengadah, sambil bertanya-tanya dalam pejamnya. Dalam hati. Tuhan, mengapa ini semua Kaulakukan padaku? Mengapa aku tak bisa merengkuh cinta yang Kauberi? Mengapa? Mengapa? dan kata tanya mengapa, lainnya. Menangis. Perempuan itu hanya bisa menangis. Ia berharap, air matanya mampu menghapus Fai dalam hatinya. Meski ia tahu, ia bodoh dengan mengharapkan begitu. Fai tidak akan terhapus, pikirnya.

Baginya, cinta cuma hadir sekali seumur hidup. Dan cinta itu hanya milik Fai. Fai-lah cintanya. Cinta yang sekali seumur hidup.

Setelah Fai menikah, perempuan itu rela hidup dalam kesendirian. Ia yakin, Fai akan kembali. Ia yakin, ia dan Fai dapat bersatu nanti. Ya, nanti. Ia tak yakin kapan pastinya. Tapi perempuan itu yakin.

Alea seyakin itu.

Dan suatu hari, ia akan menikah. Ia menginginkan juga pernihakah. Dengan Fai. Ya, Fai. Fairul-nya.

-end-

Depok, 09 Februari 2015

[CERPEN] Sekali Lagi – Sheila On 7

https://soundcloud.com/reno-as-a-hippearce/sheila-on-7-sekali-lagi


Taman ini masih sama bentuknya, tata letak bangkunya, bahkan aromanya pun masih seperti dulu. Malam ini juga mirip seperti malam-malam kita yang lalu. Bertabur bintang. Indah. Kau pernah bilang, bintang-bintang itu ialah pikiran-pikiranku yang cemerlang, berkilauan, dan membuatmu terkagum. Kau ingat? Ah, kedengarannya aku begitu mengharapkanmu, padahal kan….memang iya. Tapi, apakah masih mungkin kau mengingatku sekarang? Setelah berjauh-jauh hari yang lalu keadaan tak sama lagi, dan kau kini sedang memiliki seseorang, apa masih sempat mengingatku? Ah, mana mungkin. Aku kan hanya serpihan debu saja di ingatanmu.

Bangku taman warna hijau pudar yang sisi pinggirnya berkarat kini menjadi sandaran dudukku. Tak ada siapa-siapa lagi yang duduk di sana kecuali aku. Dulu, kau duduk di sampingku. Membicarakan apa saja yang telah terjadi pada harimu bahkan sampai membicarakan hal yang sedang terjadi di sekitar kita. Apapun. Aku tidak mengingat kita memperbincangkan apa saja sih, terlalu banyak bahasan dan memori otakku tak mampu menampung sebanyak itu. Atau biasanya, taman ini hanya dipakai untuk kita bertemu sebentar lalu setelah itu pergi ke mana, entah nonton, entah ke toko buku, entah makan malam.

Aku ingat betul ketika menyuruhmu berdandan sebelum bertemu denganku. Bukannya aku tidak menerimamu apa adanya. Kau cantik meski wajahmu tak tersentuh make up, tetapi alangkah kau akan seribu kali lebih cantik bila berdandan, sedikit saja. Satu jam aku menunggu di taman ini, menunggumu berdandan. Dan aku benar. Kau seribu kali lebih cantik. Malam itu kau mengenakan dress selutut warna hitam berkilau, mirip langit malam. Rambutmu yang biasa diikat, tergerai lurus di belakang bahumu. Riasan tipis di wajahmu membuatmu nampak lebih segar dan tidak pucat seperti biasanya. Bibirmu kelihatan menggoda dengan gincu merah yang kaupoles tipis-tipis. Terbayar sudah waktuku untuk menunggumu. Kau benar-benar seribu kali lebih cantik.

Kau tersipu setelah kupuji demikian. Keesokannya lagi, setiap ingin bertemu denganku, kau selalu berdandan. Aku tetap setia menunggumu di bangku taman warna hijau pudar yang di pinggirnya terdapat karat-karat besi. Tidak peduli satu, dua, bahkan tiga jam aku menunggumu, tidak masalah.
Namun, setelah sekian lama kejadian itu terus berlangsung, perangaimu jadi berubah. Kau yang polos tanpa make up dan kau yang bergincu merah tipis menjadi dua pribadi yang berbeda padahal satu orang yang sama. Aku tidak mengerti.

Hanya tiga bulan kita menjalin kasih, tiba-tiba kau datang padaku menuntut perpisahan. Bukan main rasanya, kau tidak harus merasakannya, cukup aku katakan saja. Itu menyakitkan! Di saat cintaku padamu sedang mekar-mekarnya, kemudian kau gunting batang bunga itu dan kau buang ke tempat sampah. Kedengarannya kejam ya? Iya memang seperti itu lah adanya.

Aku mengiyakan permintaanmu. Perpisahan yang kau tuntut itu berhasil kupenuhi tanpa air mata. Kupikir saat itu, gampang saja aku melupakanmu nanti, toh kita hanya berjalan tiga bulan. Seumur jagung. Aku pasti akan melupakanmu dan cepat menemukan penggantimu.
Malam itu ialah malam terakhir kita bertemu. Setelah kita saling menukar kata pisah, hujan datang tipis-tipis seolah ikut bersedih dengan perpisahan ini. Kau pulang dengan air mata waktu itu, entah itu air mata sungguhan atau buaya, aku tidak tahu.

Kau tahu? Malam itu aku menunggumu dari pukul tujuh malam, lalu kau datang hampir pukul sembilan malam dengan wajah senyum-bersalah. Kulihat senyum itu berbeda, dan benar. Alasanmu meninggalkanku cukup terdengar masuk akal; Kita tidak bisa meneruskan ini, aku tidak tahu mengapa sebabnya, tapi rasanya hambar. Itu. Hambar katamu? Jadi, cinta itu hanya mekar sendirian di dadaku, dan sebaliknya di dadamu. Mungkin, cuaca buruk sedang melanda hatimu sehingga cinta tidak ikut mekar di sana. Atau ada cinta yang lain, entahlah. Setelah kau berkata begitu, aku mengerti. Kau menginginkan perpisahan. Bukannya aku tidak mau berjuang lagi, hanya saja percuma bukan? Menanam pohon misalnya saat musim kekeringan dan tidak ada hujan sama sekali? Tidak akan mekar, tidak akan tumbuh subur. Lalu kau pulang meninggalkanku dengan raut sedih lengkap dengan air mata pula. Aku masih duduk di bangku taman, tidak berniat pulang dalam keadaan kacau seperti itu.

Malam itu, aku duduk di taman sampai pukul dua belas. Merenungi saja sebelum memutuskan untuk ke toko tujuh-sebelas dan memesan beberapa kaleng bir.
Kupikir, mengapa aku sampai setolol itu? Baru kali ini aku putus cinta lalu setelahnya minum-minum. Biasanya, setelah putus cinta aku lebih memilih bermain gitar, nge-band dengan teman-temanku atau semacamnya. Tidak pernah berpikir untuk melupakan seorang perempuan dengan minum-minum bir sendirian. Yah, walaupun tidak sampai mabuk sih, tapi kupikir lucu saja bisa terlihat semenyedihkan itu aku kehilanganmu. Padahal, putus cinta bukan hal yang baru untukku. Bahkan, aku pernah putus dari mantan pacarku yang sudah menjalin kasih sampai tiga tahun lamanya, aku tidak mengapa. Tidak sampai menenggak belasan bir kaleng seperti malam itu.

Aku salah. Ternyata dugaanku kali ini salah. Aku tak mampu melupakanmu secepat kilat seperti aku melupakan perempuan-perempuan yang pernah singgah di hidupku. Aku tidak pernah menyangka sampai sejauh itu perasaanku padamu, sampai sedalam ini aku terluka olehmu. Padahal, kedekatan kita hanya sesaat. Seumur jagung. Entah mengapa. Sudah hampir satu tahun aku mendekam dengan perasaan seperti ini. Luntang-luntung memikirkanmu yang sudah melupakanku. Beberapa kawan pernah mengenalkanku dengan beberapa perempuan, tapi tak sama sepertimu. Bagiku, kau cuma satu. Terdengar gombal? Memang, tapi aku tidak sedang merayumu. Ini sungguhan.

Bagaimana kabarmu? Itu adalah pertanyaan pertama yang ingin kulontarkan padamu. Apakah kau bahagia setelah kita berpisah, atau sama sepertiku? Itu adalah pertanyaan yang kedua. Masih banyak lagi hal yang ingin kutanyakan padamu namun tak pernah sempat, dan kita tak pernah bertemu lagi semenjak hari itu.
Ah, aku harap kau di sini. Duduk di sampingku, di bangku taman warna hijau pudar yang pinggir-pinggirnya sudah berkarat dimakan usia. Membicarakan banyak hal lagi. Mungkin bila kau di sini, kita akan membahas isu-isu terhangat yang sedang terjadi di bumi kita seperti misalnya saja, kasus Charlie Hebdo. Aku ingin tahu, ingin mendengarmu bercerita tentang tanggapanmu terhadap kasus dua pemuda yang meneror kantor surat kabar kontroversial itu. Lalu mengenai hukuman mati pada narapidana pengedar narkoba. Aku juga ingin tahu apa pendapatmu mengenai Jokowi, presiden favoritmu itu yang mencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri dan perseteruan antara KPK vs POLRI yang sedang ramai. Lalu yang lebih parahnya lagi, tentang kasus penangkapan Bambang Widjojanto, wakil ketua KPK yang sebab-musababnya ditangkap masih mengambang tidak jelas dan terkesan dibuat-buat.

dasaaaaaa

ilustrasi : weheartit

Aku ingin tahu. Aku ingin mendengar argumenmu. Permintaan yang tidak muluk-muluk bukan? Tapi rasanya mustahil dikabulkan.

Tak pernah aku menyangka
Sejauh ini aku melangkah
Tak pernah aku menyangka
Sedalam ini aku terluka

Aku tak pernah menyangka bisa sejauh ini. Bisa sesakit ini.
Mungkin aku terlalu congkak, mengatakan bahwa melupakanmu adalah hal yang mudah dan tidak begitu sulit. Tapi nyatanya? Jauh api dari panggangan. Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan harapan dan kenyataan yang kupunya saat ini.

Tapi biarlah. Mungkin aku perlu waktu. Entah sampai berapa lama untuk melupakanmu. Melenyapkanmu dari ingatanku. Bila kemarin aku begitu merasa bahagia bersamamu, kali ini terpuruk sedih. Tidak apa. Bagian dari hidup. Bagian dari hukum alam bahwa hidup akan terus berputar. Bumi akan terus berputar pada rotasinya sampai ia menua dan tak mampu lagi berputar alias kiamat.

Jika hidup terus berputar
Biarlah berputar
Akan ada harapan
Sekali lagi
Seperti dulu

Aku percaya, pasti akan ada harapan lagi untuk kita kembali bertemu. Entah di mana, dan entah dengan keadaan seperti apa. Semoga.

So, aku masih duduk di bangku taman warna hijau pudar yang pinggirannya sudah dipenuhi karat. Di bawah langit malam yang bertaburan bintang. Sendirian. Seolah aku menunggu seseorang. Menunggumu.

-FIN-

Depok, 26 Januari 2015