Risalah Mulut Besar dan Rencana Perang Rakyat Zapulatule

Besok akan ada perang besar di negeri Zapulatule. Begitulah berita yang didengar Yazumbe, salah satu rakyat Zapulatule. Menurut Yahmen, si tukang penyebar berita, Zapulatule akan dipecahkan oleh perang saudara. Perang antara rakyat Zapulatule pemuja Zhanzagah dengan rakyat Zapulatule pemuja Zhanamilut. Biang onarnya adalah Apelitua, penganut ajaran Zhanamilut, yang dikenal bermulut congor dan senang membual. Apelitua sudah dikenal begitu, bukan berarti penganut Zhanamilut memiliki kelakuan yang sama dengan Apelitua.

Apelitua. Dia lelaki yang dikenal di negeri Zapulatule sebagai pemabuk dan penceracau. Sepanjang jalan kerap melontarkan kata-kata yang tidak pantas, baik itu kebenaran maupun keisengannya belaka. Bila Apelitua sedang mabuk, dia akan berjalan menyusuri negeri kecil Zapulatule dan menghina siapa saja yang berpapasan. Beberapa masyarakat paham perangai buruk Apelitua, dia juga kerap menerima pukulan kecil berkat ulahnya itu, tetapi Apelitua tidak pernah kapok. Besok, besok, besok, dan besoknya lagi Apelitua akan selalu mabuk dan menceracau dan menghina siapa pun yang lewat di depannya.

Suatu subuh yang dingin menggigit kulit, Apelitua sedang berjalan ke rumah usai dari mabuk-mabukan. Di saat yang sama, Zamrud yang terkenal gampang marah dan suka main tangan itu, baru pulang dari tempat kerjanya dan dengan kesialan Zamrud yang baru saja dipecat dan dimaki-maki tuannya. Apelitua dan Zamrud berpapasan.

“Heh, kacung Wan Aragaba baru pulang..hik… kasihan….hik…berangkat pagi pulang subuh tetapi tetap miskin!” ujar Apelitua serampangan. Mata Zamrud memerah.

“Kau tahu, anak-anakmu hanya makan kerikil tadi pagi. Tolol kau, hik…mau saja digobloki Wan Aragaba si tengik itu…hik….dan kau…hik….si kacung tengik!” ujarnya lagi sambil tertawa kegirangan.

“Ke mana Zhanzagah-mu? Dasar tolol!”

Zamrud tahu Apelitua sedang mabuk. Tetapi ia tidak mampu meredam emosinya. Hingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.

Apelitua dipukuli dengan kepalan tangannya hingga badannya runyak dan berdarah-darah. Giginya tanggal dua. Apelitua tidak sempat memohon ampun, dia malah memaki Zamrud lebih serampangan lagi. Dan Zamrud makin kalap.

Zamrud hanyalah seorang budak dari Wan Aragaba. Ia miskin dan memiliki tujuh anak. Anak-anaknya, yang Apelitua temui pagi sehari sebelumnya, tengah mengumpulkan kerikil untuk direbus dan dimakan bersama. Istri Zamrud sudah mati setelah melahirkan anak terakhir satu tahun lalu. Dan saat ia berpapasan dengan Apelitua, ia sedang dilanda musibah. Zamrud dipecat Wan Aragaba dan dia tidak punya uang sama sekali untuk makan esok hari. Sial untuk Zamrud. Sial pula untuk Apelitua yang dihajar habis-habisan hingga pingsan di pinggir jalan.

Apelitua tidak mati. Belum. Dia hanya koma sepuluh hari di rumah rawat tabib Abazizaziwue. Dia koma sepuluh hari dan sembuh total dalam keadaan penuh dendam yang hampir tumpah.

Apelitua kembali turun ke jalan. Dia masih menyimpan dendam kepada Zamrud. Hingga dia mendesiskan fitnah-fitnah ke seantero negeri Zapulatule.

Dia berbisik kepada kawan-kawannya, “Zamrud menghajar saya dan menghina Zhanamilut kita. Dia bilang, Zhanamilut tidak ada.  Dia hanya mitos.”

Kebetulan. Sangat  kebetulan, Zamrud adalah masyarakat Zapulatule yang memuja Zhanzagah. Dan Apelitua sangat membenci Zhanzagah karena Dia telah mengambil Ayah dan Ibu Apelitua saat dia masih kecil. Apelitua marah kepada Zhanzagah dan dia berhenti memuja Zhanzagah sejak saat itu. Dan seterusnya.

“Zamrud bilang lagi, bahwa pemuja Zhanzagah lebih baik dan lebih unggul daripada pemuja Zhanamilut. Pemuja Zhanamilut dibilang anak buah setan!” begitu mulut Apelitua berucap.

Beberapa pemuja Zhanamilut murka. Bukan lagi kepada Zamrud, tetapi juga kepada pemuja Zhanzagah. Sebagian kawan Apelitua menginginkan perang. Sebagian lagi menyebarkan cerita ke seantero rakyat pemuja Zhanamilut. Beberapa tahu kalau itu hanya ulah Apelitua, namun beberapa lagi tersulut.

Yazumbe adalah salah satu bagian dari kelompok pertama. Dia tahu siapa Apelitua. Dia tahu bagaimana perangainya. Dia pula yang mendengar cerita pertama dari Apelitua dan mendengar pula cerita dari Zamrud. Yazumbe mendengar dari dua pihak. Apelitua adalah tetangga dekat Yazumbe, sedangkan Zamrud adalah kawan dekatnya. Yazumbe tahu bagaimana Apelitua dan dia pun tahu bagaimana Zamrud.

Yazumbe tahu perang akan segera terjadi. Sebagian besar golongannya, golongan pemuja Zhanamilut, akan turun ke tanah dan membawa senjata untuk mengepung Gunung Zapentehu, tempat pemujaan penganut Zhanzagah. Yazumbe tahu dan sudah memperingatkan mereka dengan kata yang baik dan santun. Tetapi sebagian besar dari mereka tidak mau mendengar. Mereka malah mencap Yazumbe sebagai hamba Zhanamilut palsu. Tapi Yazumbe yakin Zhanamilut tidak akan berpikir begitu. Yazumbe yakin Zhanamilut tahu kalau dia mempercayainya meskipun sebagian hambanya berkata Yazumbe ingkar.

Yazumbe pasrah. Dia sudah memang sudah melakukan sesuatu untuk mencegah perang saudara besok hari. Tetapi ia tahu, mereka yang ingin perang sedang dibutakan oleh Nafsu yang besar. Nafsu itulah iblis pertama yang turun di tanah Zapulatule. Iblis berbadan besar dan hitam, memiliki bola mata merah menyala, kuku-kukunya tajam, dan memiliki kemampuan mengelabui siapa saja yang membawa dia ke dalam jiwa mereka. Yazumbe juga bisa saja dikelabui, tetapi Zhanamilut lebih perkasa di dalam jiwa Yazumbe, dan warga lainnya yang tidak terpicu amarah dan tipudaya Apelitua.

Malam hari sebelum perang, Apelitua sedang gembira. Dia berjanji akan menebas leher Zamrud. Dia mempersiapkan samurai panjang yang sudah diasahnya.

Gunung Zapentehu akan berdarah dan Zhanzagah tidak mampu melakukan apa-apa, batinnya.

Malam hari sebelum perang, para pasukan sedang mempersiapkan senjata dan kuda-kudanya. Dia yakin, Zhanamilut akan bangga kepada mereka. Zhanamilut akan bangga dan berkata, “mereka lah pemuja-pemuja setiaku,” kepada Zhanzagah.

Malam hari sebelum perang, para penganut Zhanzagah tengah mempersiapkan ayam merah, lintingan tembakau, dua batok beras padi burgun (padi yang bewarna ungu), buah kelepato (kelapa muda), kaki kambing bunting, cingur babi hutan, dan ceker ayam untuk dibawa ke Gunung Zapentehu. Mereka akan melawat esok pagi kepada Zhanzagah. Begitu juga Zamrud dan tujuh anaknya yang menyisihkan sebagian beras kampung untuk Zhanzagah. Hanya itu yang mampu mereka berikan kepada Zhanzagah. Dia tidak tahu, Apelitua sedang menyiapkan kematiannya.

Malam hari sebelum perang, Yazumbe mendaki bukit Zalapatuta. Dia ingin berbicara kepada Zhanamilut tentang keluh kesahnya. Tentang perang esok. Ini jalan terakhirnya. Sepanjang malam dia duduk di puncak bukit Zalapatuta, memohon kepada Zhanamilut untuk menghentikan perang esok hari. Menghentikan pertumpahan darah yang akan terjadi.

“Saya percaya, ya Zhanamilut, kau ada di pihak kami, dan kau akan menghentikan perang. Saya percaya, ya Zhanamilut, kau dan Zhanzagah tidak akan menghendaki perang terjadi. Saya percaya ya Zhanamilut dan Zhanzagah bahwa kau akan menghetikan perang. Kau tidak akan rela para pemujamu mati bersimbah darah karena bualan semata. Ya Zhanzagah, saya percaya pada kau yang tidak akan menyertai mereka yang dikelabui Nafsu. Karena ajaranmu ya Zhanamilut dan ajaranmu ya Zhanzagah, adalah untuk saling menciptakan kedamaian dan cinta kepada negeri Zapulatule.” Begitu Yazumbe memohon.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Hujan rintik-rintik dan keyakinan akan terkabulnya permohonan, menyertai Yazumbe turun dari bukit Zalapatuta, bukit yang dipercaya tempat tinggal Zhanamilut dan Zhanzagah. Titik temu pemuja Zhanamilut dan Zhanzagah yang selalu hidup rukun sebelum Apelitua menebar fitnah.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Dan dia melewati kedai di mana Apelitua, sang pemimpin perang yang akan menebas leher Zamrud, sedang minum-minum. Begitu juga dari golongan mereka yang esok akan ikut menyerbu Gunung Zapentehu.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Dan entah bagaimana, ia yakin perang tidak akan terjadi.

Yazumbe sampai rumah saat tengah malam. Ia mencuci kaki dan segera tidur dengan hati yang tenang dan juga lapang.

Sedangkan di langit dini hari, permohonan Yazumbe sedang diproses dengan cara yang sangat jauh dari nalar pemuja Zhanamilut dan Zhanzagah atau seluruh rakyat negeri Zapulatule.

 

Tamat.


Depok, 3 November 2016

Sebuah Kisah Sedih yang Mungkin Saja Terjadi di Ruang-ruang Perkantoran

“Bagi saya, membaca novel itu tidak ada gunanya sama sekali,” ujar saya kepada perempuan yang sedang duduk di hadapan saya.

Mata perempuan itu hanya mampu menatap saja. Tidak ada sedikit pun garis protes di sana. Dia juga tidak mengungkapkan sepatah saja kata untuk mematahkan kalimat saya. Dan kelihatannya, dia tidak berusaha menyangkal. Barangkali dia gugup, atau mungkin saja dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak suka membaca novel seperti dia, atau mungkin saja dia enggan memancing kemarahan saya, atau barangkali dia mengerti alasan saya mengatakan hal itu kepadanya.

Beberapa detik kemudian dia hanya tersenyum dan mengatakan: ya, memang. Dengan raut yang tidak nampak sedikit pun kekesalan di sana.

Itu membuat saya lega, jujur saja. Jujur saja pula, saya mati-matian mencari kalimat yang pas untuk tidak menyakiti hati perempuan itu. Saya juga mati-matian tidak menumpahkan emosi saya di kalimat itu dan mengatakan hal yang lebih pedas dan mampu membuatnya menangis saat itu juga. Tetapi yang mampu keluar dari mulut bajingan saya hanya memang itu. Tapi untungnya, sebagai terlatih, saya mampu menyembunyikan emosi saya. Emosi dalam kalimat itu.

Tapi yang mengherankan, mengapa dia menyetujui pernyataan saya? Mengapa dia tidak berusaha menyangkal dan membela mati-matian bahwa hobi yang diasukai itu berguna? Barangkali dia gugup, atau mungkin saja dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak suka membaca novel seperti dia, atau mungkin saja dia enggan memancing kemarahan saya, atau barangkali dia mengerti alasan saya mengatakan hal itu kepadanya. Segala kemungkinan ada, dan hanya perempuan itu yang tahu.

Di bagian ini, saya akan menerangkan, bahwa kami berada di ruangan saya. Saya adalah manajer perusahaan milik orangtua saya, tentu saja. Saya pemilik warisan tunggal perusahaan ayah saya dan tentu saja saya adalah satu-satunya generasi yang akan mengurus segala aset perusahaan ayah saya. Tidak ada lagi. Dan perempuan ini, perempuan yang duduk di hadapan saya, adalah seorang pelamar kerja di perusahaan saya, tidak lebih, dan tidak kurang.

Hal yang menarik dari dia dan memancing reaksi yang ada di kalimat paling pertama adalah, dia menulis sesuatu yang menggelitik di kolom hobi dan kegiatan sehari-hari. Membaca novel (fiksi, sastra, dan sejenisnya), menulis di blog pribadi, dan menyeduh kopi, ya begitulah yang tertulis di sana. Tentu tidak ada salahnya dengan kegiatan ala-ala pengangguran tidak ada kerjaan semacam itu, tetapi dia harus tahu, saya mencari seorang yang professional. Bukan seorang yang gemar membaca novel atau kerajingan nulis di blog, apalagi sambil menyeduh kopi!

Usai kalimat paling pertama di kisah ini, kami memang berbincang sedikit. Sedikit saja. Kemudian saya cukupkan diskusi singkat itu. Barangkali dia sedikit terluka dengan ucapan saya atau dia terlalu gugup, atau entah hanya dia yang tahu alasannya. Dia keluar dari ruangan saya setelah menjabat tangan dan mengucap terima kasih. Selebihnya, hanya saya seorang. Di ruang pribadi yang selalu dingin dan selalu sepi.

Di ruang pribadi yang selalu dingin dan selalu sepi itu, saya merenungkan dia. Bukan, bukan perempuan itu. Tetapi tulisan dia di kolom hobi dan kegiatan sehari-hari dan ucapan saya barusan. Kalimat pertama di kisah ini.

Kalimat pertama dalam kisah ini sebetulnya pernah menyakiti saya. Menyakiti sampai ke akar-akarnya. Menyakiti sampai ke inti-intinya. Menyakiti sampai ke dalam sel-sel-nya.

Kalimat pertama dalam kisah ini sebetulnya pertama kali keluar dari mulut ayah saya. Keluar dari mulut ayah saya ketika saya menghabiskan uang tabungan saya untuk membeli buku-buku novel dan menghabiskan waktu liburan sekolah dengan membaca novel-novel itu di rumah. Dan mengabiskan separuh usia saya mencita-citakan sebagai penulis buku fantasi. Saya akan menjadi penulis yang hebat, saya tahu itu! Ya, dulu saya seyakin itu.

Hingga suatu ketika kalimat pertama dalam kisah ini yang keluar dari mulut ayah saya menghancurkan semuanya.

“Apa gunanya membaca novel-novel tidak berguna? Khayalanmu tidak berguna di dunia nyata! Menjadi penulis dan menjadi miskin, apa itu cita-citamu? Dasar anak bodoh! Ubah mindset kamu, Rob. Kamu satu-satunya penerus Papa…” lalu dia membanting pintu.

Selamat tinggal terburuk yang mampu kauberikan adalah selamat tinggalmu pada mimpi-mimpimu. Dan saya mengatakan selamat tinggal terburuk itu dua hari setelah ayah saya membanting pintu.

Tidak ada salahnya dari orangtua yang menginginkan anaknya meneruskan kerja kerasnya saat muda. Tidak ada salahnya dari ayah saya yang menginginkan saya meneruskan mimpi besarnya. Tidak ada salahnya dari seorang anak yang berbakti pada orangtua yang telah memberikan hampir seluruh jiwa raganya untuk menyenangkan hati saya. Rob kecil yang kini menjadi Rob besar yang akan memimpin perusahaan. Yang mana artinya saya harus merelakan mimpi masa kecil saya mati.

Tidak akan ada lagi Rob yang menandingi J.K Rowling. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Stephen King. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Stephanie Meyer. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Dean Koontz.

Ayah saya harus tahu, mereka adalah penulis yang kaya raya. Seandainya saja saya masih memegang mimpi itu, saya pasti mampu meyakini beliau bahwa saya, Robbert Schzuns, bisa kaya raya dengan menulis. Dengan mimpi masa kecil saya. Tetapi mimpi saya sudah mati. Begitu juga ayah saya.

Tetapi waktu tidak pernah bisa diputar ulang. Dan saya tidak mampu menghidupkan mimpi masa kecil saya kembali. Untuk saat ini. Untuk saat ini. Saat saya memilih menghidupi mimpi besar ayah saya. Ayah saya yang sudah mati.

Begitu pun dengan kalimat saya yang tak mampu ditarik kembali. Kalimat yang mungkin memukul perempuan itu mundur seribu langkah untuk meninggalkan mimpinya. Kalimat yang mungkin membuat perempuan itu berhenti membaca novel dan menulis di blog sambil menyeduh kopi. Kalimat yang mungkin mendorong dia untuk berdiam di kamar sambil mengepak novel-novelnya. Dan dua hari kemudian membuat dia mengucapkan selamat tinggal terburuk dalam hidupnya.

Saya merasa berdosa…

Saya merasa bersalah…

Tapi tidak ada yang mampu saya perbuat selain berharap agar perempuan itu tidak berhenti menulis.

Dan tidak berhenti bermimpi.

hgj

 

[TMT]


Depok, 26 Oktober 2016

Kisah Cinta Perempuan Itu dan Sikap-sikap Buruknya

Sudah duabelas kali hatinya dihancurkan. Sebenarnya limabelas kali, tetapi ketiga sisanya dia yang menghancurkan sendiri sekaligus meremukkan hati ketiga laki-laki itu. Bukan kemauan dia sebenarnya. Hanya saja, entah mengapa, semua laki-laki yang dikencaninya mengaku tidak betah dengan sikap-sikap buruk dia.

Seperti perempuan kebanyakan, dia juga sama seperti perempuan kebanyakan. Dia ingin diterima apa adanya. Seperti ketika dia menginginkan laki-lakinya menerima dia ketika dia menumpahkan sikap-sikap buruknya di permulaan kencannya. Dia, kubilang, seperti perempuan kebanyakan. Biasa saja. Tidak ada yang berbeda, kecuali ekspektasi limabelas kekasihnya.

Dia seperti halnya perempuan pada umumnya. Memiliki payudara dan lubang, tentu saja. Senang berdandan dan gemar belanja. Memiliki hobi dan berkegiatan seperti biasa. Tapi tentu, ada hal-hal yang tidak bisa disamakan dengan perempuan pada umumnya. Sama, seperti perempuan pada umumnya yang tidak dapat disamakan satu-sama-lain. Hal-hal buruk ini lah yang membuat dia kerap berganti pasangan. Hal-hal buruk ini lah alasan dia menerima hatinya dihancurkan. Hal-hal buruk ini lah yang dia pertahankan demi kelangsungan menjadi dirinya sendiri.

Dia seperti halnya perempuan pada umumnya, namun di kala bersamaan, dia tidak seperti perempuan pada umumnya.

Dia memiliki payudara dan lubang, tentu saja. Senang berdandan bila hendak keluar rumah dan kencan, tentu saja. Gemar belanja, amatlah lazim bagi seorang perempuan. Tetapi barang belanjanya bukan pakaian seperti perempuan pada umumnya. Dia menghabiskan separuh gajinya demi buku-buku. Buku-buku yang dia beli setiap bulan-setiap minggu-setiap dia mampir ke toko buku- dibiarkannya menumpuk di rumah kontrakannya. Di meja tamu, di lantai, di kolong kasur, di atas lemari, di atas mesin cuci, di atas rak sepatu, di mana saja. Tapi dia hanya punya dua puluh tiga potong baju atasan, dua potong jeans, dan tiga pasang baju rumah. Dan selama dia memiliki gaji setiap bulan, dia tidak hendak menambahkannya.

Dia memiliki hobi seperti perempuan pada umumnya. Di samping senang membaca, dia juga hobi sinis. Nyinyir, walaupun dalam KBBI, arti nyinyir bukan sinis. Sarkas. Dia tidak segan ngomong goblok, anjing, bangsat, tolol, serta beruk-beruk umpatan lain yang tidak sempat dituliskan di kamus maupun kitab mana pun, bila diperlukan. Dia jorok. Jarang mandi bila tidak ada hal-hal penting seperti acara keluarga, kedatangan tamu, atau ada kencan. Jarang memoles tubuhnya dengan benda-benda ajaib di salon atau ruang spa. Dia, bahkan, tidak akan mengeluh, berteriak manja, mencakar kuku ke tembok, bila rambut yang dipotong di salon terlalu pendek karena ketidaksengajaan pegawai salon. Dia malah bilang; bondol saja lah mbak, lebih asyik.

Sudah duabelas kali hatinya dihancurkan. Sebenarnya limabelas, tetapi tiga sisanya dia yang menghancurkannya sendiri. Tujuh mantan kekasihnya mengaku menyerah dengan sikap-sikap buruknya selama hampir dua pekan. Empat mantan kekasihnya bosan dengan kemonotonan hidupnya selama hampir tiga pekan. Dan tiga sisanya, dia tidak pernah yakin dengan ketahanan laki-laki terhadap sikap buruk dan kemonotonan hidupnya. Dan dengan mantap, dia memutuskan perkaranya dengan ketiga laki-laki itu dalam jangka waktu masing-masing hampir sepekan.

*

Satu bulan setelah dia menganggur dari percintaan, dia pikir, dia tidak mau mulai lagi. Tetapi yang namanya hati, yang namanya takdir, yang namanya kebetulan tidak akan pernah tidak kita lewati dan bisa ditebak.

Namanya Galih. Dia bertemu dengan laki-laki itu di suatu minimarket di stasiun Cikini. Mereka sama-sama ingin menyeduh pop mie dan kopi instan setelah lelah bekerja dan malas berdesakan di kereta. Sayangnya, atau barangkali ini sebuah kesengajaan langit, mesin air panas di minimarket itu mati dan baru saja selesai diperbaiki. Artinya, mereka berdua sama-sama ingin menyeduh pop mie dan kopi instan tetapi harus menunggu mesin itu dinyalakan dan memanaskan airnya selama beberapa waktu yang telah ditentukan oleh pegawai minimarket itu.

“Mohon maaf kak, mesin air panasnya baru dinyalakan. Ditunggu saja 30 menit,” kata pegawai itu ramah.

Dalam hati perempuan itu, dia mengumpatkan beruk-beruk umpatan yang tidak sempat dicetak dalam kamus besar atau kitab manapun.

Dalam hati laki-laki itu, saya, sebagai pencerita, tidak tahu, mohon maaf sekali. Laki-laki ini sangat misterius, semoga pembaca maklum.

Sambil menunggu, perempuan dan laki-laki itu duduk menunggu di kursi yang disediakan di minimarket tersebut. Perempuan itu terpaksa memesan susu dingin dulu demi mengisi kekosongannya. Laki-laki itu duduk santai. Ia meletakkan tas, dan mengeluarkan sebuah novel. Perempuan itu juga duduk kesal, sambil minum susu rendah lemak, meletakkan tas, dan mengeluarkan sebuah novel.

Apakah langit sedang bercanda? Atau sedang menulis naskah cinta-cintaan?

Mereka berdua tidak tahu. Yang mereka berdua tahu hanyalah, novel yang mereka akan baca itu sama-sama karangan Tutu Bijaya. Judulnya, Stasiun. Perempuan itu membuka halaman 184, dan laki-laki itu membuka halaman 84.

Saat itu, memang langit sedang coba-coba membuat naskah cinta. Tetapi, ayolah, jangan terlalu banyak kebetulan!

Dan mereka berdua hanya menikmati takdir itu dan tidak mengirakan atau mempersangkakan langit.

Dari situ. Dari situ lah cerita bermula.

Dan pertanyaan ini bermula. Ayo, apa kalian, pembaca, mampu menjawabnya secara acak atau sistematis?

  1. Apakah mereka akan bersama?
  2. Apakah laki-laki itu menjadi laki-laki ke-tigabelas?
  3. Apakah laki-laki itu menjadi laki-laki ke-empat?
  4. Apakah laki-laki itu dihancurkan atau menghancurkan?
  5. Apakah perempuan itu akan menghancurkan atau dihancurkan?
  6. Apa kisah ini akan berakhir bahagia?
  7. Apa kisah ini akan berakhir sedih?

 

1a

 


Depok, 23 Oktober 2016

 

Suatu Hari di Ruang Redaksi

Seorang laki-laki setengah baya, rapi, dan klimis, tiba-tiba datang. Masuk ke dalam ruang rapat. Ia tersenyum. Tidak, tidak, lebih tepatnya menyeringai. Kita, semua yang ada dalam ruang rapat seketika terperangah kemudian saling berpandangan. Si pemimpin rapat, yang terkenal galak betul, tiba-tiba mukanya kusut dan mrengut.

“Saya habis membunuh istri saya. Tolong angkat saya jadi headline!” kata laki-laki setengah baya itu, sambil tetap tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai. Dingin. Girang!

Seketika saja ruang rapat bergemuruh dengan tawa. Di situ ada Sony Marpaung Redaktur Rubrik Nasional, Imran Hakim Redaktur Metropolitan, Isro Basuki Redaktur Pelaksana, Muis Sadikin, saya, dan jajaran redaksi lainnya. Semua tertawa. Bapak-bapak ini gila atau bagaimana? Apakah dia benar-benar membawa berita sungguhan? Atau lelucon semata?

“Bapak dari mana?” tanya salah satu kawan saya. Iseng. Orang gila kok ditanggapi.

“Saya dari gang Haji Salim. Istri saya masih tergeletak di sana, kalau bapak-bapak mau membuktikan,” katanya meyakinkan. Kita semua berpandangan. Ini sungguhan kah?

“Mengapa bapak ke sini? Bukan ke kantor polisi?” Sony menambahkan. Saya diam saja, memperhatikan. Kira-kira apa mau bapak ini?

“Saya mau masuk koran!” laki-laki tua itu menjawab tegas setegas-tegasnya.

“Masuk koran?”

“Ya!”

“Dengan cara apa bapak membunuh istri bapak?”

“Saya ajak bercinta, kemudian saya lubangi dadanya pakai pisau dapur. Pisau bekas saya bekerja. Harganya mahaaaalll sekali! Berkilat-kilat, mengkilau, dan berdarah!” laki-laki itu cengengesan. Saya bergidik. Orang gila!

Kami, di ruangan ini, masih berpandang-pandangan. Bertanya-tanya lewat tatapan. Mas Isro kemudian mengajak dia ke luar dari ruang rapat dan mengajaknya bercakap-cakap. Wajah bapak itu dingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas Isro. Dia sesekali mengangguk, tersenyum, terkekeh-kekeh. Muka Mas Isro yang tegang. Dengan suara berat dan intimidatif, Mas Isro memanggil Imran Hakim dan saya. Kami berdua ditugaskan membuktikan omongan bapak ini. Yang artinya, kami berdua harus datang ke gang Haji Salim nomor 12, dan membuktikan ada tidaknya mayit perempuan yang tergeletak di sana.

Kami bergerak ke lokasi menggunakan sepeda motor karena tidak terlalu jauh dan tidak memakan waktu. Rumah itu ada di pojok gang Haji Salim. Jalanan sepi, tak ada orang yang berlalu lalang. Dari jauh, kami tak mencium gelagat yang mencurigakan, misalnya bau amis darah atau bangkai. Namun ketika berjarak beberapa langkah dari rumah nomor 12 itu, kami samar-samar mencium bau bangkai dan amis darah.

Rumah nomor 12 itu tidak terkunci tapi tertutup. Pagar hijau tua itu ditutup rapat dan dislot, sedang pintu rumah warna merah maroon itu tertutup tanpa meninggalkan kesan mencurigakan sedikit pun. Kami mengetuk pintu terlebih dahulu. Takut-takut kalau bapak itu bohong dan di dalam ada pemilik rumah. Kami mengetuk pintu namun hingga lima menit menunggu tetap tidak ada jawaban sama sekali.

Akhirnya kami memutuskan masuk. Memutar knopnya perlahan-lahan. Bau itu benar-benar ada. Bangkai dan bau amis darah. Kami mencari sumber bau itu. Bau dan kerubungan lalat itu ternyata berpusat di dapur.

Perempuan muda. Cantik. Sintal. Ranum. Terbuka. Dan berdarah. Bangkai manusia!

*

“Benar kan?” bapak itu tersenyum.

“Orang gila!”

“Kita amankan bapak itu di sini. Nurdin dan Imran sedang ke kantor polisi.”

*

Detik itu juga, turun sebuah berita lelucon: Seorang Pria Membunuh Istri Demi Masuk Koran. Bapak itu senyum-senyum di dalam lapas.

“Ini saya! Masuk koran!” bapak itu terkekeh kepada teman satu lapasnya.

“Orang gila!” teman satu lapasnya itu mengumpat.

*

Seorang perempuan setengah baya mendatangi kantor. Ketika rapat redaksi keesokan hari setelah berita itu turun. Ia mengaku bekas istrinya. Istri ketiga. Memang, diketahui, mayit perempuan itu adalah istri kelima tersangka. Motif pembunuhannya adalah mental si tersangka yang diketahui mengidap psikopat. Kronologinya tak dijelaskan di koran, karena akan menimbulkan dampak sosial yang membahayakan.

“Yang anda beritakan itu suami saya,” kata perempuan itu.

“Ibu ini….siapa?”

“Saya istri ketiga bapak itu.”

“Mengapa datang ke sini?”

“Karena kami yang merencanakannya.”

“Anda kongkalikong?”

“Ya… kami ingin rujuk.”

“Anda otak pembunuhan itu? Tapi bapak itu tidak menyebut-nyebut nama ibu…”

“Ya, memang. Dia egois! Dia ingin menguasai laman koran sendirian, dan tanpa aku.”

“Sebentar…tanpa ibu? Maksudnya?”

“Saya juga mau masuk koran!”

Lelucon apakah ini, Tuhan?

conference20room_s

 

-fin-

Depok, 2016

Sebuah Kisah Cinta yang Bukan Kisah Cinta Biasa

Thalia
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak menyangka kalau kita menggulung kisah ini secepat menggulung karpet atau menggulung kalender atau menggulung kertas yang tak lagi dipakai. Apa kau bakal menyangka seperti ini? Apa kau menulis puisi untukku? Apa kau sedih ketika meninggalkanku? Apa kau menangis? Apa kau selalu merinduiku, seperti yang selalu kau ulang-ulang ketika kau mau pulang ke kotamu? Apa kau bahagia hari ini?

Dhanis
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku selalu berpikir, kaulah yang nanti memiliki seluruh pagi dan malamku. Aku selalu berpikir, kaulah tempat segalaku berbagi. Berbagi kegembiraan, kesedihan, dan kekosongan-kekosonganku. Apa kau masih menyimpan puisi-puisiku? Apa kau akan menangis ketika membacanya ulang? Apa kau masih ingin membacanya lagi? Apa masih kau simpan? Aku membuatkanmu tujuhbelas puisi selama satu tahun kita tak lagi berjumpa dan bercumbu. Puisi-puisimu, masih rapi tersimpan di laciku. Bersama foto-foto kita. Bersama puisi-puisiku yang tak pernah kukirimkan.

Bandara Soekarno – Hatta, 14 Desember 2015:

Dhanis
Aku tidak menyangka bakal begini jadinya. Pertengkaran kemarin adalah hal yang tak pernah kuduga-duga ketika aku kemari. Aku hanya mengharapkan peluk hangatmu, dapur hangatmu, ranjang hangatmu. Tapi kau siksa aku dengan dinginmu. Dinginmu, kau tahu, seperti dinding, aku tak mampu leluasa menyentuhmu lagi. Saat itu, kali terakhir aku mencium tengkukmu, saat itu pula aku tahu bahwa jiwamu tak lagi bersamaku. Hanya ragamu. Hanya raga dan kata-katamu yang semua bohong.

Thalia
Maafkan aku, Dhanis. Pertengkaran kemarin seharusnya tidak terjadi. Dan kepulanganmu seharusnya bukan hari ini. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Maaf aku tidak memelukmu yang lama dan erat seperti biasanya. Maaf aku tidak memintamu tinggal. Maaf aku tidak sempat meminta maaf.

15 Januari 2013

Thalia
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Dhanis. Pemilik nama itu yang menebus hatiku dari jerat-jerat masalalu dan krat-krat bir yang selalu kuminum setiap malam. Dhanis sangat baik, supel, dermawan, dan mampu membuat kedua mataku tak berpaling darinya ketika dia berbicara. Ini gila. Ini tidak pernah terjadi. Daya pikatnya kurasa terbuat dari serbuk ajaib yang terbuat dari rumah kurcaci atau peri-peri baik. Dia selalu menatap mataku ketika berbicara. Matanya tersenyum. Kupikir mata itu hanya laut dangkal, tetapi nyatanya sungai yang deras. Lima menit pertama aku terseret, lima menit kedua aku hanyut, lima menit ketiga aku tenggelam, lima menit keempat aku masuk ke dalam samudranya, dan lima menit kelima aku rasa aku tidak akan bisa kembali lagi. Ini sungguh gila, kan? Apa jatuh cinta segila ini?

Dhanis
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Yang benar saja, dia membaca Haruki Murakami dari Norwegian Wood hingga 1Q84, Emily Dickinson, dan Robert Frost. Yang benar saja, dia mendengarkan musik The Smiths, Simon & Garfunkel, The Everly Brothers, dan Bob Dylan. Yang benar saja, dia menggilai lagu-lagu Morissey. Yang benar saja, kita berdiskusi dari lepas pagi hingga semua toko tutup. Matanya, ada yang mengganjal di sana. Barangkali kesedihan. Dia seperti menyembunyikan kegelapan dalam matanya. Lima menit pertama, aku tak dapat melihat sama sekali, lima menit ke dua aku tersesat, lima menit ketiga aku kelimpungan, lima menit keempat aku mulai menikmati gelap itu, lima menit kelima aku menemukan cahaya. Cahaya itu bersinar setitik saat kita bertatapan. Ah, apakah ini ilusi melankolia saja? Atau memang jatuh cinta segila ini?

Maret, 2013

Thalia
Ada yang ingin meledak dalam tubuhku. Kau memasukkan puisi ke dalam tubuhku. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin meledakkan diriku saat itu juga. Puisi yang sunyi. Seperti malam dan hujan rintik-rintik turun bersamaan dari langit. Heningnya membuat terpaku. Kau menatapku. Sekali lagi, aku tidak ingin kembali. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

Dhanis
Ada yang ingin pecah dalam tubuhku. Aku memasuki belantara hutan paling gelap. Paling rimbun. Paling basah. Paling dingin. Dan paling berangin. Aku duduk di salah satu batunya dan menulis puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin menggetarkan hutan. Menggetarkanmu. Kemudian puisi paling sunyi. Puisi yang meninabobokanmu dalam rengkuhaku. Dalam selimut hangat kita. Pejammu sehening laut mati. Aku ingin berenang di sana dan tak kembali lagi. Mati pun boleh saja, aku tak keberatan. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

April 2013

Thalia & Dhanis
Kita tidak ingin meminta apa-apa lagi. Rasanya sudah lengkap. Kami saling mengisi kekosongan satu sama lain. Kami saling menukar kado. Isi kado itu selalu cerita yang Thalia bawa, atau Dhanis bawa setelah tak berjumpa. Thalia di Jakarta, Dhanis di Manado. Seminggu sekali kita bertemu, berciuman, berpelukan, bercinta. Kadang dua minggu sekali. Jarak tidak melunturkan cinta kami, kami yakin itu.

Thalia
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa kembali. Ketika kau pulang ke kotamu, aku akan terus tenggelam mencintaimu. Hari ini kau akan kembali ke Manado. Aku sudah buatkanmu bekal makan masakanku dan puisiku. Ada tiga puisi.

Dhanis
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa melihat dengan jernih. Ketika aku pulang ke kotaku, aku akan terus tersesat mencintaimu. Hari ini aku kembali ke Manado. Kita akan berpisah. Terima kasih bekalmu. Nasi goreng telur hangat yang enak. Aku sudah menyelipkan tiga puisi di buku puisi Lang Leav yang kuberikan padamu. Oh iya, aku akan membawakanmu masakan khas Manado ketika aku kembali. Tapi bukan masakanku, melainkan masakan ibuku, karena aku tidak bisa memasak, hehehe.

September 2014

Thalia & Dhanis
Terbukti, jarak tidak melunturkan cinta kami. Mungkin resepnya adalah puisi. Sudah tradisi kami, ketika hendak berpisah, masing-masing kami menulis puisi untuk dihadiahkan ke satu sama lain. Ini resep agar cinta tidak cepat luntur dan awet. Lagi pula, dalam diri kami tidak hanya ada cinta. Tetapi ada pula rasa persahabatan dan persaudaraan yang terjalin begitu saja. Kami, misalnya, bisa saja berdiskusi dari semua toko buka hingga semua toko tutup. Yang dibicarakan ada saja. Buku, musik, puisi, politik, kesenian, ekonomi, sosial budaya, soal-soal remeh keseharian, ya begitu lah. Kadangkala, bisa saja kami bertengkar seperti sepasang kakak adik yang rebutan remot tv, perkara rebutan makanan, perkara remeh yang membuat kami saling cemberut satu sama lain. Tapi tak pernah lama. Satu-dua jam, mungkin kami akan kembali tertawa dan bercinta di kamar tidur, kamar mandi, atau sofa. Thalia senang sekali di sofa. Kalau Dhanis lebih senang di kamar mandi.

Januari 2015

Thalia
Hampir sebulan kita tak bertemu. Apa kau rindu padaku? Kau selalu bilang, ‘aku selalu merindukanmu. I’ll miss you’. Kau selalu bilang, hari-harimu tidak pernah tidak dipenuhi rindu. Benarkah? Mengapa kini kau sibuk sekali? Tenggelam dalam rutinitasmu dan pekerjaan-pekerjaanmu. Mengapa semakin hari kau semakin dingin saja? Aku ingin datang ke Manado dan mengambil cuti kerja, tetapi kau selalu katakan jangan. Kau selalu bilang ‘aku sibuk. minggu depan aku akan datang ke Jakarta. Tunggu saja,’ katamu. Tapi, hei, ini sudah dua minggu!

Dhanis
Hampir sebulan kita tak bertemu. Aku sangat rindu padamu. Aku akan menemuimu, tapi tidak minggu ini. Maafkan aku. Wajahmu pasti sedang memasang raut kesal. Membayangkannya, aku ingin mencubit pipimu dan menenggelamkan wajahmu ke wajahku. Kau akan memasang wajah cemberut, dan aku akan memelukmu. Memelukmu erat. Dan kuyakin kau akan menangis dan memukuli punggungku. Kau benci punggung. Itu kan yang kau tulis di puisi-puisimu padaku? Belakangan ini aku memang sedang sibuk. Kuharap kau tak memiliki prasangka buruk kepadaku. Aku sedang mempersiapkan ini untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan kita. Untuk percakapan yang panjang, pagi yang lebih panjang, senja yang selalu merona, dan malam yang duakali lipat lebih hangat dan panjang. Rasanya dunia kita tidak memiliki siang. Tidak memiliki terik. Aku harap kau tabah menungguku. Aku akan kembali dan tersesat.

Agustus 2015

Thalia
Dhanis, entah mengapa ini rasanya lain bagiku. Asing. Asin.

Dhanis
Thalia, apa yang berubah darimu? Entah mengapa ini rasanya lain.

September 2015

Thalia
Apakah kita bisa jatuh cinta kepada dua orang secara bersamaan? Aku rasa, aku tidak bisa meneruskan ini, Dhanis. Tapi, apa yang terjadi denganku bila tanpa kamu? Aku rasa aku tidak bakal mati, tetapi aku akan kehilangan.

Dhanis
Kau bilang, aku adalah samudera di mana kau tak bisa kembali. Thalia, apa kau kini menemukan sebuah perahu dan berniat kembali?

Oktober 2015

Thalia
Aku tidak sanggup untuk tidak kembali. Aku ingin kembali. Aku tidak bisa berenang.

Dhanis
Proyekku gagal sudah. Maafkan aku Thalia, mungkin aku tak akan datang ke Jakarta dalam jangka waktu yang ditentukan. Aku perlu sendiri. Aku perlu merenung. Aku perlu memperbaiki.

November 2015

Thalia
Saat kau kembali ke Jakarta, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kulihat wajahmu dan tanganmu melambai, aku tak bisa menyunggingkan senyum tulusku. Tapi aku tetap tersenyum. Senyum palsu. Kau merasakan itu?

Dhanis
Saat aku kembali ke Jakarta, aku ingin segera memelukmu erat-erat. Tetapi ada apa matamu, Thalia? Gelap. Mengapa tak ada cahaya lagi? Aku seperti menemukan kegelapan yang sama saat pertama kali kita bertemu di bar itu. Bar tempat kau mencurahkan segala kesedihanmu dalam krat-krat bir di meja. Karena itu, aku tak jadi memelukmu. Hanya menggenggam tanganmu. Pelan.

Thalia
Saat kau memelukku, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kuliahat matamu, ternyata aku tidak terseret lagi. Aku sudah kembali ke daratan. Pun ketika kau masuki aku. Kau hentak-hentak tubuhmu ke dalam aku. Kau ciumi seluruh tubuhku. Kau hinggapi tengkukku berlama-lama. Telanjang. Basah. Berdenyut. Dan berdebar. Aku tidak akan meledak, tetapi aku berpura-pura meledakkan diri. Kita tidak bercinta. Bukan dalam artian sebenarnya. Kita tidak bercinta. Kita bersenggama.

Dhanis
Saat aku memelukmu, aku hanya merasakan dingin. Ketika kulihat matamu, gelap itu kini kembali menjadi dinding. Tembok batu. Keras dan tak tertembus apapun. Pun dengan sentuhan-sentuhanku yang katamu adalah puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut dan berdebar. Aku ingin menggetarkanmu lagi, tapi ku rasa kau hanya pura-pura bergetar. Kurasa kita tidak sedang bercinta. Tetapi bersenggama.

Desember 2015

Thalia
Sampai sini saja.

Dhanis
Sampai sini saja?

Sepanjang 2016

Dhanis
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Thalia. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Thalia hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Thalia, hanya Thalia yang mampu membuatnya. Perempuan itu bernama Rani. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Tahun depan aku akan menikahinya. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin, waktu satu dua hari pun tidak cepat bagimu.

Thalia
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Dhanis. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Dhanis hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Dhanis, hanya Dhanis yang mampu membuatnya. Laki-laki itu bernama Romi. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Minggu ini dia melamarku. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin. Aku dan Romi sudah yakin. Kami sepakat menikah tahun depan.

large

 

—END—

 

Depok, 14 Oktober 2016

 

Sebuah Kota

Siang bersinar terik sekali. Membakar kulit hingga ke tulang-tulang. Di langit sedang tidak ada awan yang sudi memayungi makhluk-makhluk ciptaan Gusti Allah. Pohon-pohon tumbuh di tempat yang sia-sia, yang fungsi dasarnya sebagai peneduh dari panas dan penghasil oksigen, kini bergeser jadi dekorasi ruang kota.

Gedung-gedung pencakar langit berlomba-lomba menumbuhkan dirinya sendiri. Siapa yang paling dekat dengan langit, dia lah yang paling kokoh, seolah karena tingginya yang sangat menjulang, ia bisa angkuh dan mengaku-aku kawan Tuhan. Orang-orang di dalam gedung sedang menikmati kenyamanan sejuk palsu dari mesin yang kerapkali berbunyi sekaligus sedang tersiksa karena tidak bisa bergerak leluasa padahal negara sudah merdeka sejak puluhan tahun lalu.

Sedangkan, orang-orang di luar gedung memayungi dirinya sendiri dengan belas kasihan orang lain dan bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai penyebrang jalan satu ke satu yang lain. Seorang ibu mendekap bayi yang masih merah, bayi itu ia bungkus dengan sehelai selendang merah tua kumal yang bau apak dan pesing bekas si bayi mengompol kemarin dan belum dibersihkan. Bapak-bapak tua di bawah jembatan itu meringis kepanasan, kain bajunya ia gunakan sebagai penyeka keringatnya. Ia hitung-hitung, rasanya sudah delapan jam ia di situ dan baru mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah. Orang-orang semakin kaya sekaligus miskin. Mereka tergesa ke dalam gedung dengan wajah segar tetapi pucat dan tebal, lalu pulang dengan loyo, pucat, dan tebal.

Di pinggir trotoar, depan gedung yang paling tinggi, seorang perempuan layu bak bunga mawar yang sekarat, yang kelopak-kelopaknya sudah mulai kering dan kuning, tak segar lagi, dan sedikit lagi mati. Perempuan itu membuka warung rokok bersama suaminya. Tapi suaminya sedang enak-enakan berjudi sambil menggoda janda kembang yang melingkari pundaknya tatkala ia sedang membanting-banting kartu. Perempuan itu cucu-ku. Lihatlah, betapa kuyu dia di tengah kota yang berpura-pura megah. Kasihan dia. Kasihan Desaku. Oh, Desaku.

Kalian barangkali tak percaya dengan ceritaku ini. Kota ini, dulu hanyalah desa dengan hamparan sawah yang hijau sepanjang mata memandang. Lahan-lahan padi, tebu, jagung, kebun-kebun tomat, wortel, cabai, bawang, semua kami punya dan kami yang menanam dan merawatnya seperti merawat bocah-bocah sendiri. Kami merawat mereka seperti merawat kehidupan kami. Pohon-pohon masih sangat banyak. Di depan rumah, di halaman belakang, di pos RT, di jalan-jalan setapak, di mana-mana. Pohon-pohon sepanjang mata memandang. Di depan rumahku sendiri ada pohon mangga yang kalau musim panen tiba, ibu-ibu di desa kami mengerubung sambil merujak seusai bertani. Ya, di desa kami ini, hampir seluruh penduduknya adalah petani. Mau bapak-bapak atau ibu-ibu, setiap pagi kami beriringan menuju sawah milik kami sambil bercengkrama, menggarap sawah kami masing-masing sambil mengobrol ringan dan menertawakan hal-hal keseharian, berleha-leha bersama suami di saung dekat sawah kami. Makan siang dengan tempe, telur dadar, dan sambal terasi bersama suami. Oh, kalian tidak akan percaya ini sebab di kota tempat sekarang tinggal, kalian samasekali tidak menemui apa yang baru saja kuceritakan tadi.

Kulihat dari ketinggian ini, desaku yang tercinta berubah jadi mengerikan. Tidak ada lagi hijau-hijau sejauh mata memandang. Hanya ada abu-abu gedung yang mengkilat, cokelat yang bukan lagi tanah tetapi kayu-kayu palsu, dan warna-warna lain dengan warna yang bau amis dan menyengat. Orang-orang tidak saling sapa, tidak saling bercengkrama, tidak tertawa bersama, dan jarang sekali makan bersama selain karena sebuah perayaan yang pura-pura dirayakan agar tak kesepian. Sekawanan perempuan makan bersama di meja, tetapi tidak saling bicara, hanya terpaku pada apa yang digenggamnya saja. Sibuk mengetik pesan ke teman di sebelahnya, sibuk memesan makanan dengan jari. Mereka jarang sekali menggunakan mulutnya. Jari mereka lebih cerewet ketimbang mulutnya. Bibir mereka hanya tersenyum ketika difoto atau saat memotret diri sendiri. Barangkali saat mati nanti, para malaikat lebih sering bertanya kepada jari mereka daripada mulut. Benar-benar kota yang abu-abu.

Sebenarnya, kota ini tidak akan ada bila perjuanganku dan kawan-kawanku semasa hidup tidak dikhianati orang-orang setelah kami yang hidup, yakni orang-orang yang kini menyesal karena hanya bisa melongo melihat perubahan desanya yang ramah menjadi kota buas. Mereka hanya bisa menengadah ke atas sambil mengeluarkan liur karena mengkhianati perjuangan kami. Mereka mengalahkan perjuangan kami dengan uang. Walau sedikit dari mereka ada yang membela kami, tapi pada zaman itu, keadaan sulit. Banyak yang butuh uang, banyak yang terprovokasi, dan banyak pula yang menawarkan uang dengan cara mudah. Mereka menghasut, mereka terhasut, mereka menikmati uang, kemudian menyesalinya hari ini. Lihatlah cucuku yang kuyu itu wajahnya. Dulu pipinya merah segar, kini pucat pasi. Bibirnya kering, tubuhnya kurus seperti padi yang kering di musim kemarau panjang. Dulu, dia membela kami, dia mengingat aku sebagai sosok nenek yang pernah berjuang, tetapi suaminya yang brengsek itu! Dia yang menghasut cucuku dan cucuku manggut saja karena kepalang cinta! Laki-laki yang hanya bisa berjudi itu menerima puluhan juta untuk jadi bajingan-bajingan kecil setelahnya. Cucuku ditelantarkan, cicitku dibiarkan menangis sampai kelelahan karena kelaparan. O, cucuku dan cicitku yang malang.

Seandainya saja cucuku tegas, sebagai seorang perempuan, memiliki wibawa, dan mampu berjuang tanpa terpancing iming-iming cinta lelaki, ia pasti tak jadi begini. Seandainya ia mampu bergerak, menghasut warga yang belum terhasut, menceritakan perjuanganku dan kawan-kawanku pada mereka yang mudah ditipu duit, pasti, barangkali, mungkin saja kota ini tidak berdiri sewenang-wenangnya saja. Sewenag-wenang, karena, kota ini berkuasa atas kehidupan manusia seluruh dan seutuhnya. Lapar harus beli beras impor, telur impor, daging impor, gula impor, jagung impor, segala bahan pangan impor! Bila haus, air harus beli, air gunung kami yang dulu gratis, kini dikemas botol-botol plastik yang susah diurai tanah, tetapi kini tanah sudah jarang, adanya aspal dan beton. Sungguh mahalnya hidup sekarang ini. Untung saja aku sudah mati! Tapi, kasihan cucuku…

Astaga, aku jadi dongkol lagi setelah melihat di sebelah utara desa kami yang kini sudah jadi kota. Itu dia lihat! Sebuah bangunan yang dengan congkak memusnahkan sawah-sawah kami, kebun-kebun kami, pohon-pohon kami, rumah-rumah kami, desa kami, hidup kami… Itu dia! Gara-gara pabrik semen itu! Aku jadi teringat dulu-dulu kala, saat aku masih mampu berjuang walaupun sudah tua, tetapi belum ringkih! Tenagaku masih sisa banyak karena sering menggarap sawah dengan sukacita. Aku ingat ketika menumbuk lesung berjam-jam di depan calon pabrik itu, duduk di atas lesung sebagai bentuk protes, jangan ambil desa kami! Jangan ratakan tanah kami! Itu hidup kami! Banyak orang yang membantu kami dalam aksi tersebut, aku jadi sering bicara dengan orang asing, orang yang mengaku wartawan dari kota, orang yang membantu perjuangan kami. Tak ada yang mewakili kami berdemo, bersuara, selain diri kami sendiri. Kami berdiri menentang orang-orang bersepatu lars dan berseragam itu yang ternyata lebih pengecut dari kami, kami dipukuli, hingga ada salah seorang temanku yang dilempar ke semak-semak. Astaga, Gusti! Pelindung kami apakah akan jadi buas ketika dikepreti duit? Kalimat ‘membela wong cilik’, sekarang cuma jadi alat sebagai slogan penuh tipudaya menjelang kampanye!

Kakiku kini merasa kaku, seolah aku berada di depan istana negara puluhan tahun lalu, saat masih berjuang, saat kakiku dipasung semen, kalau kalian bertanya untuk apa, ya itu! Untung memperjuangkan tanah kami! Penghidupan kami! Desa kami!

Kakiku sungguh merasa kaku, tetapi dadaku nyeri. Ealah, Ndoro Gusti Pangeraaannn! Tidak ada yang sia-sia, termasuk perjuangan kami, memang. Tetapi… ah!

Awan bergerumbul memenuhi langit yang keruh oleh polusi-polusi yang lahir setiap waktu. Langit sama abu-abunya seperti kota yang berpura-pura hidup dengan mesin-mesin penggerak, dan manusia-manusia yang digerakkan. Perempuan yang berwajah kuyu, ibu yang sedang menggendong bayi merah itu, laki-laki tua itu, diam-diam mengucap syukur karena lepas dari sengatan matahari yang membakar kulit hingga tulang-tulangnya. Dadaku masih nyeri, Tuhan yang Maha Tahu Segala, menatapku dengan iba. Perlahan hujan turun membasahi kota yang abu-abu itu, lalu manusia-manusia sibuk menghalau banjir yang mungkin saja tiba sebentar lagi…

large

 

-fin-

Depok, 160416

 

 

 

Lelaki Kesepian dan Seekor Anjing

“Tiada yang lebih setia selain kesepianmu sendiri. Bila kau menginginkan kesetiaan dan seorang teman sekaligus, maka rawatlah seekor anjing. Tiada yang dapat meragukan kesetiaan seekor anjing.”

Begitulah yang diresapi Sardjono semasa hidupnya. Kata-kata itu adalah petuah dari Ayahnya sebelum beliau pergi untuk merantau ke tanah surga. Pulang kampung bertemu si Maha Besar. Tempat segala-galanya bermula. Giginya bergemeletukan. Ia telah menghabiskan secangkir kopi buatannya sendiri. Itu merupakan ritual paginya, sebelum membaca koran harian, dan pergi ke taman komplek bersama Jacqualine.

Samar, bibirnya yang sudah mengkeriput karena usia, tersenyum kecil. Tubuhnya kemudian turun, membungkuk. Tangannya mencoba meraih kepala Jacqualine yang sedang duduk bersimpuh di kakinya dan ia membelainya lembut. Betina itu akan tersenyum malu-malu dan kegirangan. Kalau sudah melihat Jacqualine bahagia seperti itu, hati Sardjono menghangat. Mirip matahari pagi di luar yang membagi hawa hangatnya hanya kepada pagi. Begitulah rasanya kebahagiaan. Hangat. Tidak seperti kecemburuan yang seperti matahari siang. Terik, dan menyimpan banyak dendam.

Hari ini hari Minggu. Setiap hari Minggu adalah perayaan bagi Sardjono. Bukan karena hari libur, karena setiap hari adalah tanggal merah untuknya. Hari Minggu adalah harinya koran Minggu. Ia akan membeli beberapa koran dan melupakan membaca berita-berita di halaman depan ataupun halaman berikutnya. Tangannya yang semakin kurus tetapi masih kelihatan liat itu gesit menemukan rubrik favoritnya. Tempat di mana bahasa menjadi sarana berpergian. Ia bisa liburan ke mana saja dengan bahasa. Bahkan, kadangkala ia bisa menjumpai surga di sana, atau membayangi ia sedang berciuman bersama seorang kekasih di bawah rinai hujan di negeri sakura, tempat ia menjumpai mantan kekasihnya dahulu. Cerpen dan kumpulan puisi dihabisinya setiap Minggu pagi. Koran-koran itu ditelanjanginya satu-satu demi menemukan sisi puncak kenikmatannya di rubrik favoritnya itu. Setelahnya, ia seperti bocah SD yang disuruh mengumpulkan klipingan untuk tugas sekolah. Ia menggunting cerpen-cerpen itu satu-satu biar terlepas dari tubuh induknya, kemudian dengan hati-hati dan tangan bergetar, ia menempelkan secarik demi secarik potongan cerpen itu di tubuh bagian dalam jurnalnya. Bedanya, ia tidak lagi melakukan kegiatan pengklipingan itu untuk tugas sekolah, tetapi untuk dirinya sendiri. Dan mungkin, ya, untuk Jacqualine bila suatu hari Si Maha Besar menjemputnya ke tanah surga.

Sudah genap duaratus cerpen telah diklipingnya sampai hari ini. Dia tersenyum puas memandangi jurnal tebalnya penuh oleh karya-karya sastra lokal. Ia jarang menyukai buku-buku atau karya orang luar negeri, bukan, bukan, Sardjono bukan orang yang terlampau fanatik kepada negerinya sendiri, dan memegang teguh nasionalisme dalam jiwanya. Sardjono hanya menganggap, ketika ia membaca karya terjemahan, ia merasa gagal memahami isi cerita yang dimaksud penulis asalnya. Bahasanya kadang bertele-tele dan terlalu baku, Sardjono merasa tidak sedang menuju fantasi sastra, yang seperti ketika ia membaca karya-karya penulis lokal. Lagipula, pikirnya, ketika ia membaca cerpen lokal, asal Lubuklinggau, misalnya, ia merasa sedang berkenalan dengan negerinya sendiri. Baginya, buku adalah sebuah laut, kadangkala menjelma sebagai tiket keberangkatan menuju sebuah kota, dan ia hanya ingin menyelam dan menjelajahi negerinya sendiri sampai sedalam-dalamnya. Setelah itu, barulah Sardjono merasa penuh. Ia merasa telah berkunjung ke Lubuklinggau, ke Tanah Toraja, ke Pantai Lovina, atau tempat-tempat lain yang tak pernah dijejaki kakinya. Ia merasa kaya.

Selain cerpen, Sardjono juga mengoleksi klipingan puisi-puisi di jurnal yang berbeda. Bila jurnal tebal berisi cerpen-cerpen itu bersampul hijau lumut, jurnal untuk puisinya bersampul cokelat tanah. Dua-duanya dari kulit kuda, dan sama-sama dari mantan kekasihnya dahulu. Kadang ia merasa beruntung memiliki Jacqualine yang bukan seorang perempuan yang rewel, dan akan membakar semua benda-benda dari kekasihnya dulu, dan sekaligus menghanguskan kebebasannya. Ia juga bersukur pernah memiliki kekasih-kekasih yang berbaik hati telah menghadiahkan jurnal-jurnal bersampul kulit kepadanya. Ia menyukai buku jurnal, yang di dalamnya hanyalah kertas tanpa proses pemutihan sehingga warnanya menjadi kuning redup, dan terasa begitu sedih dan dramatis. Kertas-kertas polos tanpa garis-garis yang menghalangi kebebasannya melakukan apa saja pada buku jurnalnya. Ia tidak menyukai garis, sama seperti ia tidak menyukai pengekangan. Baginya, garis adalah bentuk pengekangan yang lain selain perempuan, dan pernikahan. Ketika ia menggunting kumpulan puisi karya Dedy Tri Riyadi, tangannya semakin bergetar, tetapi ini bukan karena usia, melainkan karena ingatan yang terbang ke masa lampau. Ia selalu merasa tergetar dan menghangat ketika menyentuh puisi, entah puisi siapa saja. Ia tiba-tiba saja mengingat Ayahnya, yang betapa seringnya membeli buku-buku puisi dan membacanya kala ia ingin tertidur. Selalu begitu ketika tanganya menyentuh puisi dan hendak mengguntingnya. Perasaan-perasaan seperti itu tidak akan terjadi ketika ia menempelkan potongan cerpen dalam jurnal bersampul hijau lumut.

Ada dua hal yang mengingatkannya kepada puisi. Pertama adalah masa kecil bersama Ayahnya, yang setiap malam mendongenginya sebuah puisi, bukan dongeng rusa atau kancil yang nakal. Kedua, ah, ia sangat ingin melupakan hal yang ini sebetulnya, hanya saja, setelah bertahun-tahun lamanya, bayangan yang ini tidak pernah terlepas dari ingatannya. Tameera. Gadis asia berkulit putih langsat, rambutnya hitam, lurus, dan lembut, alisnya lebat, tetapi matanya sedikit sipit, tungkainya panjang dan ramping, dan lehernya jenjang. Ia bertemu dengan Tameera di kota Tokyo, tempat di mana ia mengenyam pendidikan terakhirnya. Tameera adalah mantan kekasih terakhir yang begitu berbekas meninggalkan buih-buih kesedihan dan kerinduan yang begitu mendalam. Sampai saat ini. Ya, sampai saat ini. Dia adalah perempuan aneh pertama yang berhasil membuat Sardjono jatuh cinta. Perempuan yang tidak umum. Dia bukan hanya perempuan yang tidak umum, tetapi selain itu dia juga berkebangsaan Indonesia, tetapi besar di negeri Sakura. Keanehan Tameera adalah kelainan hormon berbelanja perempuan. Ia tidak seperti perempuan yang gila berbelanja pakaian, sepatu, tas, dan aksesoris lain yang berkerlipan. Pernah suatu kali, ia mengajak perempuan itu ke Shibuya, tetapi perempuan itu malah murung seharian. Ia sama seperti Sardjono, tidak begitu menyukai keramaian. Hanya saja, ia pikir, setiap perempuan sama. Menyukai berbelanja. Sepulang dari Shibuya, Tameera tidak berbelanja apa-apa. Aneh, bukan? Ia malah merayu Sardjono untuk mengajaknya ke toko buku atau perpustakaan di pinggir kota, dan menghabiskan banyak uangnya hanya untuk buku-buku puisi Sylvia Plath, Walter Scott, Oscar Wilde, dan Rabindranath Tagore. Itu kali pertamanya ia menyentuh puisi setelah kepergian Ayahnya yang tiba-tiba di Batavia, tanah masa kecilnya.

Tameera berhasil membuatnya kembali membaca puisi setelah tiga tahun lamanya tak berani membaca puisi karena takut menemukan dirinya sebagai pecundang yang tidur melingkar dan mengisapi jempol, kemudian merindukan Ayahnya yang telah pulang bertahun-tahun lalu. Sebagai laki-laki cengeng. Tetapi kali itu, kesedihan tumpah kepada Tameera. Ia berani menelanjangi kejujuran dan bekas-bekas masa kecilnya kepada Tameera. Ia menceritakan bagaimana Ibunya pergi meninggalkan dirinya dan Ayahnya yang melankolis itu bersama pria lain, yang katanya sangat ia cintai. Setelah perselingkuhan ibunya, ia tak pernah lagi memiliki sosok pengganti Ibu. Baginya, Ayahnya adalah Ibunya juga. Ia juga menceritakan tentang Ayahnya yang setiap malam mendongenginya puisi sebelum tidur. Ia pernah sesekali waktu, menemukan Ayahnya menangis tersedu-sedu ketika membaca puisi sendirian di sofa kamarnya. Saat itu ia terbangun dari tidurnya dan tak sengaja menemukan kejadian langka itu. Seorang Ayah yang kuat, menangis, merindukan.

“Begitu dalamnya rindu itu, Jo..” Tameera sering memanggilnya Jo, entah mengapa, ia menyukainya.

“Rindu itu seperti belati. Bisa melumpuhkan siapa saja. Yang lemah, ataupun yang kuat.” perempuan beraroma sakura itu tersenyum. Sardjono mendengar kata-kata itu begitu teduh.

“Sepakat denganmu. Barangkali, bukan hanya rindu, tetapi rasa kesepian. Rasa sepi bisa membuat ayahku yang begitu baja menjadi seperti kayu bakar yang sebentar lagi hangus. Ia menjadi begitu rapuh karena kesepiannya yang bertahun-tahun.” mata Sardjono menerawang.

“Mengapa ayahmu tidak menikah lagi?” tanya Tameera. Sardjono tersenyum, membayangi muka ayahnya.

“Ia lebih memilih anjing daripada perempuan. Belakangan, aku tahu, laki-laki yang membawa pergi ibuku adalah sahabat karibnya sendiri.” Sardjono tersenyum getir kepada udara di depannya. Membiarkan bibir Tameera yang merah delima itu terbuka karena terkejut. Laki-laki bertubuh kurus itu seperti berkaca pada kisahnya yang lalu. Lalu sekali.

Ingatan melemparnya ke sebuah sel-sel kecil masa lalu. Partikel-partikelnya membuat ia seperti melihat dan mengalami kembali kisah-kasih semasa sekolahnya bersama Riana. Perempuan Jawa yang sering dikepang dua dan memiliki senyum termanis di ingatannya. Perempuan pertamanya. Yang membuat ia tersenyum malu-malu kucing, dan berdebar-debar keras saat ada di dekatnya. Perempuan yang pernah menjalin kasih dengannya, lalu menikah dengan Kaedarmo, sahabat pembagi kisah-kisah suka dukanya. Itu terjadi dua tahun sebelum ia terbang ke Tokyo dan melunaskan pendidikannya di sana. Saat dikhianati begitu, Sardjono menginginkan Ayahnya ada di sampingnya, memeluknya, dan membagi kisah bersama, sebab kisah mereka bagai pinang dibelah dua. Mirip sekali seperti kembar identik. Ia merasa, Riana adalah sosok ibunya yang pergi dengan laki-laki sialan yang bukan lain sahabatnya sendiri. Tempat ia membagi suka dan dukanya.

“Aku ingin kamu lebih setia daripada sepi dan seekor anjing.” kata Sardjono kepada Tameera setelah melepaskan masa lalunya di telinga perempuan itu sepenuhnya. Ia telah mendengar kisah Ayah-Ibunya, dan Riana, si perempuan Jawa berkepang dua yang senyumnya amat manis. Sardjono berharap, setelah ia mengisahkan dua kisah pahit itu, Tameera tidak akan mengkhianatinya dan membuat dosa seperti dosa dua perempuan yang ia kisahkan.

Tameera hanya tersenyum menanggapi kata-kata Sardjono. Ia ingin menjadi yang lebih setia daripada kesepian dan seekor anjing, tapi ia takut apabila rasa seorang manusianya memupuskan keinginan Sardjono. Bagaimana pun, Tameera sadar, ia hanya manusia yang suatu waktu bisa melakukan kesalahan fatal, dan melukai hati siapa saja. Ia ingin tetapi takut. Dan ketakutannya menghinggapi segalanya. Ketakutan itu menjadi nyata senyata-nyatanya. Ia jatuh cinta. Lain, bukan kepada Sardjono, walaupun laki-laki kurus itu ialah kekasihnya dan sudah merajut cinta kasih hampir selama tiga tahun lamanya. Perempuan itu jatuh cinta pada Kuriyoshima, dan laki-laki berkebangsaan Jepang itu tak lain ialah teman dekat Sardjono. Dari Sardjono ia tahu, ia tidak lagi memiliki sahabat karib setelah Kaedarmo itu, tetapi sejauh ini Kuriyoshima adalah teman yang paling dekat dengannya di antara yang lain-lain. Dan sialnya, bukan hanya jatuh cinta, tetapi ia justru tergila-gila dengan Kuriyoshima yang rupawan dan pembawaannya yang memikat jiwanya.

Ia merasa lain bila berhadapan dengan Sardjono dan Kuriyoshima di saat yang bersamaan. Di lain sisi, ia mencintai Sardjono dengan segala kepintaran dan ketabahannya menghadapi dirinya yang menurut Sardjono, aneh. Tapi seperti koin, di sisi lainnya justru ia terpikat dalam jerat pesona keelokan Kuriyoshima.

“Kalau aku pulang ke Batavia, aku mau turut serta membawamu..” kata Sardjono suatu hari di sebuah toko buku di pinggir kota Tokyo.

“A-apa? Ke Batavia?” ini waktu yang baik, pikir Tameera. Sardjono mengangguk sambil tersenyum.

“Aku akan pulang bulan depan.”

“Tidak akan kembali ke sini lagi?” Temeera menggigit bibirnya. Berharap-harap cemas.

“Pasti setiap tahun kita akan pulang kemari, mengunjungi kedua orangtuamu, Mee(Mi)” Sardjono tersenyum lagi. Diam-diam dada Tameera menghangat. Tapi ia merasa tidak yakin akan melanjutkan hubungan ini. Kuriyoshima benar-benar telah menghancurkan pikirannya. Perempuan itu terdiam beberapa menit. Pandangan matanya mengambang. Buku di hadapannya tidak lagi dibaca dan tiba-tiba menjadi tidak lagi menarik di matanya.

“Jo, aku takut, tidak bisa lebih setia daripada kesepianmu. Bahkan daripada seekor anjing.” ungkap Tameera dingin.

“Mengapa berbicara begitu?” tangan Sardjono terangkat ke atas, menyelipkan sebuah buku puisi ke dalam raknya.

“Entahlah, aku merasa…” Perempuan itu menggantungkan begitu saja kalimatnya. Laki-laki yang dipanggil ‘Jo’ sedang menunggu.

“Lupakan saja, Jo.” lanjut Tameera sambil melanjutkan membaca buku yang dipegangnya. Tapi pikirannya melayang-layang, seperti selendang yang terbang terbawa angin pantai dan menuju ke entah. Lalu kemudian berlabuh dengan sendirinya kepada seorang laki-laki berkebangsaan Jepang itu. Kuriyoshima.

Hari itu ialah hari terakhir ia bertemu Tameera. Sardjono tidak tahu apa yang terjadi sampai ia pulang ke Batavia dan meninggalkan Tokyo tanpa membawa serta perempuan tinggi semampai yang cantik itu. Ia pulang membawa sekoper baju-baju, buku-buku puisi, buku jurnal bersampul cokelat tanah pemberian dari Tameera, dan kenangan bersama perempuan itu. Dua bulan kemudian, perempuan itu memberinya sebuah kabar sukacita, tetapi duka baginya. Ia mengirimkan kartu pos permintaan maaf. Di kartu pos itu ada gambar Tameera, dirinya, dan laki-laki yang sangat dikenalnya. Kuriyoshima. Teman sejawatnya di Tokyo. Di kartu pos itu, Tameera menuliskan penyesalannya. Dia mengutuk dirinya sendiri sebagai perempuan yang melakukan dosa seperti dua perempuan masa lalu yang telah meninggalkannya. Ibunya, dan Riana. Kartu pos itu sekaligus mengatakan bahwa ketakutan yang selama ini digenggam Tameera benar. Perempuan cantik yang dicintainya, untuk kedua kali, jatuh di pelukan orang terdekatnya sendiri. Kaedarmo, dan Kuriyoshima. Dua laki-laki yang berbeda perangainya, tetapi sama-sama memiliki keberuntungan, dapat mengambil apa yang ia inginkan. Dulu ia menyalahkan Kaedarmo sepenuhnya atas pernikahannya dengan Riana. Tapi kini tidak lagi, ia mulai menyalahi dirinya sendiri dan takdir yang iakenakan.

“Tiada yang lebih setia selain kesepianmu sendiri. Bila kau menginginkan kesetiaan dan seorang teman sekaligus, maka rawatlah seekor anjing. Tiada yang dapat meragukan kesetiaan seekor anjing.” Ia teringat petuah Ayahnya lagi. Kini ia mulai merindukan ayahnya. Ayah yang tabah menghabiskan masa tuanya bersama kesepian dan seekor anjing jantan bernama Debong.

Ayahnya benar. Tiada yang lebih setia daripada kesepianmu sendiri. Bahkan, mautpun tidak dapat mengambil kesepianmu itu dari genggamanmu. Sebab, di liang kubur nanti, kau hanya akan berdua saja dengan kesepianmu. Sardjono mulai mengartikan kesepiannya sendiri. Kesepian yang tidak pernah pergi sejengkalpun darinya, bahkan ketika ramai mencoba merebutnya dari Sardjono. Kesepian tidak pernah lepas. Ia selalu di samping Sardjono. Setia seperti anjing. Seperti Jacqualine, anjing betina kesayangannya.

Tak terasa, air matanya menetes, di atas puisi berjudul Aku Membayangi Diri Sebagai Delima Merah, milik Dedy Tri Riyadi. Ia terpaku pada kata-kata di sana, aku tak bisa membayangkan dengan benar; paruh-paruh itu atau pisau lebih nyeri dari sepiku. Tetapi ia merasa sepi itu bukanlah pisau, ia lebih mirip seorang karib yang tidak akan pernah mengkhianatinya. Pengkhianatan dan kebohongan, baginya, lebih mirip paruh-paruh elang yang akan mencabik isi dagingmu, atau pisau belati yang nantinya menusuk dan mengorek-ngorek punggungmu.

Tangan kurus dan keriputnya masih setia melepas kumpulan puisi-puisi itu dari tubuh induknya, meskipun masih bergetar dan mulai berkeringat. Waktu dan kesepian telah membuatnya semakin rapuh dan semakin kuat. Lalu ia menempelkan puisi itu ke dalam buku jurnal bersampul cokelat tua, dari mantan kekasihnya dulu, yang ia cintai.

—END—

Depok, 08 Juli 2015