Pekuburan Hati

Sore yang basah oleh hujan itu, kau tak datang. Aku ialah satu-satuya yang sibuk memegangi payung hitam dan membetulkan letak tudungku yang berwarna senada. Angin berembus-embus mendramatisir kota yang sedang dalam suasana kabung. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana kecuali aku. Batu abu-abu itu berdiri tegas, seolah ksatria yang berhasil melumpuhkan prajurit yang jatuh. Pada batu itu, kueja nama yang terukir di sana; Hati. R.I.P  H-a-t-i.

Aku masih terdiam di atas gundukan tanah yang di dalamnya tertanam jasad bernama Hati. Ya, Hatiku. Dia sudah lama sekali sekarat, dan kematian adalah hal yang selalu ditunggunya. Dia bosan hidup penuh luka. Dia bosan hidup untuk kembali terjatuh. Dia bosan merapuh dan menjadi dungu karena cinta. Dia bosan hidup hanya untuk jatuh cinta lalu jatuh luka. Ah, dia memang terlalu melankolis. Temannya, Otak, bukannya turut berkabung, malah kesenangan karena dengan kematian Hati, ia bisa menang dan tak perlu susah-susah berdebat dengannya. Hati memang keras kepala bila berdebat dengan otak, tapi ketololannya membuat argumen yang ia rangkai menjadi tidak masuk akal dan sulit dicerna logika. Ia begitu mempercayai keajaiban dan juga dongeng. Hal-hal yang kita tahu hanyalah bualan dunia belaka yang dibuat oleh Hati-Hati para penulis kisah yang sama melankolisnya dengannya. Apa itu keajaiban? Ya, kali ini aku lebih sepakat dengan Otak.

Senja sepeninggal matahari, aku pergi meninggalkan padang yang luas oleh rerumputan. Padang Kematian, namanya. Di sana tempat penguburan Hati, perasaan, cinta, rindu, dan bahkan ada yang menguburkan otaknya. Beberapa memilih menguburkan otaknya karena lebih mempercayai kedunguan Hati yang kupikir malah akan menyusahkan hidupnya. Bagaimana tidak? Memangnya enak hidup terus-terusan mengikuti keinginan hati? Jatuh cinta, terluka, galau, jatuh cinta lagi. Ah, menyusahkan sekali.
Tapi,  yang kudengar-dengar dari kuncen di tempat ini, orang yang sempat menguburkan otaknya adalah orang yang paling bahagia. Ah, masa iya? Memangnya enak hidup tanpa otak? Hidup dengan kedunguan asal punya hati?
Ah, masa bodoh lah. Urusan orang lain, aku tidak perlu ikut campur. Memang apa untungnya untukku? Menghasilkan ilmu saja tidak, uang apalagi. Kita tidak bisa menyambung hidup dengan kepedulian terhadap manusia lain, kan? Jadi biarkan saja. Mau mengubur hatinya kek, otaknya kek, masa bodoh.

Malam itu aku berjalan pulang menyusuri rute perjalanan sampai di rumah. Tanpa tersenyum, tanpa apa-apa. Rasanya hampa. Seperti berjalan tanpa nyawa.
Aku berjalan melewati rel kereta api yang di pinggirnya dipenuhi rumah-rumah dari seng, kayu, atau kerdus bekas. Beberapa anak kecil bermain-main, menyapaku. Ibu-ibu tersenyum padaku sambil mengangguk. Bapak-bapak di sana juga menyapa dengan ramah. Tidak ada satu pun yang kugubris. Hanya ada pemikiran, “Buat apa bikin rumah di pinggir rel? Memangnya tidak bising ketika kereta lewat? Apa itu tidak mengganggu jalur kereta?” aku hanya membalas mereka dengan tatapan sinis sekaligus muak. “Kalau begini, julukan Negeri kumuh memang layak disandang.” aku kembali mencemooh sepanjang jalan. Memaki sampai tak kulihat lagi rel-rel kereta api.
Tetapi anehnya, aku masih bisa melihat mereka tersenyum ramah di balik kesusahan mereka. Masih repot-repot mau menyapaku walaupun kubalas dengan tatapan sinis itu.

Aku menyusuri jalan setapak. Tak kurasakan lagi embusan angin yang menyejukkan jiwa. Tak kurasakan lagi wangi hujan mendamaikan sanubari. Tak kurasakan lagi ketenangan lewat sunyi. Tak dapat lagi kurenungi perjalanan seprti dulu kala. Seperti saat Hatiku masih hidup. Kupikir, saat-saat ini aku begitu membenci diriku sendiri yang sibuk memaki, dan mengeluh sepanjang jalan. Melogikakan hal yang tak perlu dilogikan. Dan melogikakan hal yang harusnya cukup dirasakan. Aku seperti kehilangan….nurani.
Kini, kekosongan itu begitu nyata. Begitu nganga. Betapa hampa hidup hanya dengan otak tanpa hati. Betapa hinanya ketika menjalani hidup hanya dengan otak sebagai tumpuan. Betapa mata kini hanya dipenuhi amarah, muak, dan ketidaksukaan karena suatu hal yang alasannya cukup dengan kata ‘itu merugikan, itu membuat tidak sedap dipandang, itu membuat kotor’ dan sebagainya. Tanpa pernah merasakan apa yang orang lain rasa. Bagaimana merasakan apa yang orang lain rasa, aku saja kini tak bisa merasakan apa yang seharusnya aku rasakan. Ah, rumit. Kini kepalaku pening. Otakku mulai lelah bekerja sendirian.

Dalam perjalanan itu, tak lagi kutemui rasa iba pada sekeluarga yang tinggal di dalam gerobak itu saat tak sengaja melewatinya.

“Pulang, neng.” sapa Ibu itu ramah yang sedang duduk di samping gerobak. Anak kecil di sampingnya ikut tersenyum. Aku hanya menoleh tanpa berkata apa-apa. Aku ingin tersenyum, asal kau tahu saja, tapi rasanya bibir ini kaku. Aku tidak dapat lagi tersenyum. Setelah kehilangan hati, aku kehilangan nurani, lalu empati, lalu….senyumku. Astaga..gawat!

“Nay, sudah pulang?” sesampai di rumah, Mama menyapaku. Aku hanya memberi anggukan sebagai jawaban.

“Habis dari mana?” Mama betanya lagi. Hah, kali ini aku harus menjawabnya pakai suara.

“Pemakaman.” jawabku singkat.

“Lho, siapa yang mati?” tanyanya lagi. Ugh, aku lelah, andai dia tahu!

“Hati.” aku menjawabnya singkat lagi tanpa menoleh ke arahnya.

“Biar Mama tebak, hatimu yang mati?” kini nadanya menjengkelkan. Aku mengangguk saja otakku sudah lelah mengajaknya berdebat.

“Pantas…” perempuan itu kini menghapiriku dengan langkah gemulai. Lalu tangannya mengusapi ubun-ubunku. Aku menepisnya. Aneh sekali rasanya, tak seperti biasanya. Rasanya asing. Tak ada lagi hangat yang menjalari dadaku.

“Nak, manusia tidak bisa hidup hanya dengan otak.” katanya lembut. Matanya menatapku sedih.

“Manusia butuh hati meski berkali-kali disakiti. Manusia butuh otak meski sering dikatai dungu, atau dibilang tidak punya otak.” perempuan itu kembali mencerocos. Namun cerucusannya dapat mengendap di kepalaku. Menjadi renungan.

“Mereka seperti sejoli yang terlihat saling membenci padahal mencintai. Hati dan Otak, tidak bisa dipisahkan. Hmm..jadi mengapa kamu mengubur hatimu, Nay?”

“Otakku lelah. Dan aku sepaham dengannya.” jawabku seadanya. Perempuan itu malah tersenyum. Senyum yang tak dapat kubalas.

“Sekarang, apa otakmu tidak lelah bekerja sendirian?” aku mengedikkan bahu. Tidak tahu.

“Tidak tahu. Aku lelah, Ma. Aku mau tidur.” kataku sambil memutar gagang pintu kamar.

“Baiklah.” kini perempuan itu membiarkanku tenggelam dalam kamar.

Aku sudah lelah. Otakku sudah lelah. Tak mampu diajak berpikir jernih. Tak mampu merasakan apa-apa lagi selain rasa lelah yang luarbiasa dan juga kantuk. Ah, sial! Mama benar! Manusia tidak bisa hidup tanpa salah satu di antara otak dan hati. Manusia perlu keduanya untuk menyelaraskan. Dan aku ingin Hatiku hidup kembali. Hatiku tidak mati dan mampu bereikarnasi menjadi Hati yang baru. Yang benar-benar baru dan tangguh untuk kembali menghadapi jatuh cinta yang baru dan juga luka-luka baru. Ya, bagaimanapun aku harus menghidupi hatiku lagi. Bagaimana caranya? Ah, otakku sudah tidak bisa diajak berpikir. Ia sudah kelelahan dan butuh tidur. Tidur yang mampu memulihkan.

Dan astaga….teman-teman, kau harus tahu, hidup sebagai manusia yang tanpa hati itu sangat tidak enak. Seperti zombie yang diizinkan Tuhan bertamasya ke bumi. Kosong. Hampa. Hidup tapi mati. Mati tapi hidup. Begitulah.

Ah, aku perlu tidur.
Selamat malam. Semoga besok aku bisa menemukan cara agar hatiku hidup kembali.

Iklan

Huruf-huruf Untuk Tuhan Baca

Sebenarnya, ‘kau’ di sini bukanlah kepadaTuhan. Melainkan memang untukmu. Iya, kau.
Ini sebabnya, judul surat ini juga bukan Surat Untuk Tuhan macam judul film itu. Bukan.
Hanya saja, surat-surat ini perlu dibaca Tuhan. Huruf-huruf yang kutulis di sini, untuk Tuhan baca, sebab ini berisi doa. Untukmu. Bahagiamu.

Baiklah, aku tidak perlu mengulang lagi, memperkenalkan aku ialah siapa dan kau ialah siapa untukku. Kau mungkin sudah bosan membaca aksara-aksaraku yang menulisimu setiap harinya, atau mungkin kau tidak peduli sampai rasanya tidak perlu membaca surat-suratku. Ini memang menyedihkan, di lain sisi. Tetapi buatku, ini cukup melegakan dan menyenangkan sebab rasanya seperti berbicara kepadamu secara langsung, tanpa perantara apa pun, dan tanpa kendala apapun. Menulis bagiku bukan hanya pengusir kesedihan, melainkan pengusir rindu yang kian hari kian menumpuk menyesaki rongga batin. Kau tahu? Ah, kau pasti tahu, aku tidak bisa apa-apa lagi selain menulis surat untukmu. Berbicara lewat aksara yang kuketik untukmu seolah-olah aku sedang berbicara sekaligus bertatap mata langsung denganmu. Aku tahu, aku dungu, tapi biarkanlah aku dungu untuk hal semacam ini lebih lama lagi karena ternyata dungu dalam mencintaimu tidak seburuk menjadi dungu pada pelajaran hitung-hitungan.

yang ingin kusampaikan di sini pendek saja, aku ingin kau tahu, dan huruf-huruf ini untuk Tuhan baca,
aku ingin kau bahagia, tersenyum, dan tertawa konyol dengan-atau-bukan-karena ulahku. Aku ingin kau bahagia sebab menjadi kau, tidak perlu jadi siapa-siapa untuk membuat dirimu dan orang lain bahagia.
Di surat ini, aku sekaligus menitipkan kebahagiaanku, sebab bahagiaku cukup sederhana; melihatmu bahagia, dan mencapai mimpimu lekas-lekas walau bukan aku yang memeluk tubuhmu dari belakang ketika engkau sibuk bersepeda mengayuh mimpi. Biar doa saja yang kutitipi lewat langit menuju Tuhan agar kau kuat mengayuh sepeda dan lekas sampai menuju mimpimu.

Huruf-huruf ini untuk kau baca, untuk Tuhan baca,
semoga dengan entah bagaimana, surat ini bisa sampai ke tanganmu. Sebab aku tahu, surat ini pasti sampai ke tangan Tuhan bahkan Ia sudah membaca tiap kata surat ini saat aku masih sibuk mengetik-hapus-dan ketik ulang. Pasti. Kau bilang, Tuhan Mah Tahu Segalanya, kan? Dan aku percaya.

Demikian saja ya isi suratku ini. Berbahagialah selalu, dengan siapa pun itu. Biar saja aku di sini menjadi penyaksi bahagiamu, sebab aku bukan hanya menyaksikan sambil mengiris-iris bawang, tetapi aku menikmatinya seolah sedang menikmati hidangan yang disajikan Tuhan untuk hidupku.
Kau pernah mengajariku bersyukur, ikhlas dalam hal melepaskan, dan beginilah caraku mengamalkan nilai hidup yang pernah kauajarkan.

Terima kasih.

Depok, 19 Februari 2015

Peniup Ruh Baru

Kepada engkau yang giat merajut benang-benang kata menjadi puisi paling memilukan sekaligus syahdu dalam satu-waktu, penjahit kata-kata yang kerap patah dalam dadamu yang ingar-bingar oleh apa yang tidak aku pahami.
Lagi-lagi, kukirimkan surat–entah keberapa kali–untukmu, tanpa bosan meski tanpa balasan.

Selamat mendengar kucuran hujan dari langit yang kian hari kian melebam, kian sembab oleh air mata dari mata musim.
Engkau tidakkah bertanya-tanya? Perihal judul Peniup Ruh Baru padahal Tuhan bukanlah gelarmu. Kau hanya Tuan dari kata-kata yang hidup dalam nadiku. Ya, nadiku yang basah oleh syair-syair yang kautulis di mana saja, rentetan aksara yang berulangkali buatku bertanya, dan mencoba mengerti seperti memahami apa yang tertulis pada buku ratusan lembar dengan sampul beledu merah muda; kau seringkali menyebutnya alkitab.
Aku ialah mata yang membaca judul-judul pada bait pertama yang kau tulis, mata yang mengeja tiap larik kesedihan yang kaualirkan ke darahku, dan mata yang terbuai oleh cantiknya aksaramu.

“Mengapa judul suratmu Peniup Ruh Baru, bukan Tuan Puisi saja?” bila hatimu bertanya demikian tuan, kau bisa lebih agung dari sekadar Tuan Puisi. Tuan, tidakkah kau tahu bahwa puisi ialah ruh bagi hati siapa saja yang mati? Puisi bisa menghidupkan apa saja kecuali tanaman yang sudah mati, hewan yang sudah mati, atau jasad yang sudah tak bernyawa. Bahkan kau tahu, puisi bisa menghidupi penyair yang tlah mati. Tentu bukan jasadnya, namun keberadaan arwah sang penyair yang menulisinya.
Tuan, andai kau tahu, sebelum ada kau satu bagian dari diriku telah mati digerogoti kepercayaan yang berlebihan dan pedih atas nama cinta. Bagian itu bernama hati. Hatiku sebenarnya tlah mati, tuan. Jauh sebelum engkau datang dan menghidupinya kembali. Dengan puisi yang kaudendangkan pada telingaku yang haus akan aksara surgawi dari bibirmu. Seperti aliran sungai yang kembali deras setelah musim kekeringan yang panjang.

Tuan, puisimu barangkali seruling yang meniupkan melodi yang menjelma ruh ke dalam relung hatiku nun jauh sampai dasar. Meresapi setiap bunyinya, hingga asap ruh itu mampu membangunkan kembali hati yang tlah mati, menyusun kembali hati yang tlah lama runtuh menjadi utuh. Seperti baru terlahir kembali.
Kau tiup perlahan-lahan aksara itu ke dalam dadaku, lalu gugur di sana seperti daun-daun kering yang akhirnya rontok pada tanah merah, ah tuan, mereka bilang ini yang namanya jatuh cinta.
Tuan, seandainya memang puisi yang kautiupkan itu bukanlah kepadaku, bukanlah untuk menghujani musim kering di dadaku, tapi engkau tlah terlanjur menghidupinya kembali. Ruh dari puisimu telah bersemayam dalam dadaku atas nama cinta. Jadi biarkanlah aku tetap memanggilmu Peniup Ruh Baru. Bukan Tuan Puisi.

Itu sebabnya, judul surat ini ialah Peniup Ruh Baru, Tuan.

puisimu ialah ruhku meskipun kautiupkan kepada orang lain.
yang hidup ialah debarku, menjelma gemetar paling syahdu.

Depok, 18 Februari 2015

Mereka Bilang, Saya Pikir

Mereka bilang,
Mereka tiang
Pemerkasa keadilan

Saya pikir,
Pemerkasa, Pemerkosa?

Mereka koyak habis lapis-lapis
Dalam tubuh keadilan
Menodai nama sang agung

Mereka bilang,
Kebenaran dipanggul
Dua pundak mereka

Saya pikir,
Kebenaran, kemunafikan?

Mereka bungkam bibir-bibir kebenaran
Mereka beri toa pada mulut-mulut berbisa

Ah, mereka bilang
Begini, begitu
Demi mengkibar nama baik

Ah, saya pikir
Begini, begitu
Percuma busuk nama tlah tercium

Mereka bilang,
Mereka begini, begitu
Ah, saya pikir
Mereka begini, begitu

Depok, 18 Februari 2015
Menyinggung kebusukan di balik KPK VS POLRI yang masih sengit di layar telivisi. Mumet ndasku, bung!

Perempuan Di Depan Pintu

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

“Diam. Diam di situ.” terdengar suara tawa dari balik pintu.
“Ah, kau memelukku terlalu erat!” suara perempuan memekik, lalu disusul gelak tawa.
“Bukan. Aku mencintaimu terlalu dalam.” suara laki-laki. Ah, kuhapal betul suara itu. Suaramu. Perempuan itu tertawa.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam? Bisikku. Tentu ada. Kau. Dan dia. Perempuan itu.

Suara tawa makin nyaring terdengar, ketukan pintu itu dianggapnya hanya suara angin yang lewat. Tidak terdengar, bilapun terdengar, tidak penting. Bagimu. Baginya. Bagi kalian.
Aku melabuhkan tubuhku sendiri pada pintu kayu itu. Semakin lama, semakin tenggelam tubuhku ke bawah. Terduduk lemah, sambil memeluk lututku sendiri. Menangis. Ah, bodoh! Sudah sejak kapan aku berada di sini? Di depan pintu, sebagai tamu yang tak pernah diajak masuk, atau disuguhi segelas teh saja. Menunggu kau membukakan pintu. Bodoh! Sudah berapa lama? Rutukku dalam hati. Hatiku tak mampu menjawab, ia lupa sudah berapa lama aku di sini.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

Tulang-tulang jemariku rasanya sakit sekali, lebam di segala permukaannya, lelah mengetuk pintu. Bukan hanya itu, rasanya tanganku juga pegal sebab setiap hari aku menulis surat untukmu dan menyelipkan puluhan surat itu di bawah pintu. Surat yang tak pernah tersentuh olehmu. Aku masih bisa melihat puluhan surat itu menumpuk di dalam, pada lantai kayu berwarna hangat, dan seringkali surat-surat itu terinjak olehmu, oleh perempuan itu. Yang kulakukan justru bukannya geram, tetapi malah tetap diam di sini. Di depan pintu. Seperti orang tolol yang tengah duduk di depan pintu, dilumuri air mata disekujur wajah, dan menunggui dua orang yang sedang dimabuk asmara. Dan aku mencintai salah satunya. Kau.

Tok, tok, tok.
Ada orang, di dalam? suaraku sudah melemah.

Kemudian hujan datang mengguyur tubuhku dengan gerimisnya yang tipis-tipis, kemudian menjadi deras yang menghujam tubuhku. Kuyup sudah. Namun aku masih terkulai di depan pintumu. Aku tidak bisa ke mana-mana. Aku tidak mau.
Seorang perempuan datang, lewat di depan pintu itu, mengenakan payung merah jambu. Perempuan itu menoleh.

“Hei, hujan. Meneduhlah sini.” katanya. Aku menggeleng.

“Ah, kau ingin menikmati hujan?” tanyanya. Aku mengangguk. Perempuan itu kemudian hanya tersenyum, lalu pergi.

Kemudian, satu, dua, tiga laki-laki lewat di hadapanku. Mengenakan jas hujan, tapi membawa payung.

“Hei, hujan! Mau satu payung denganku?” mereka menanyakan hal serupa. Aku menggeleng untuk ketiganya.

“Baiklah.” tukasnya sebelum pergi. “Ah, ya, jangan berlama-lama di bawah hujan, nanti flu.” sambung yang lain. Aku hanya bisa mengangguk.

Setelah hujan pasti ada pelangi. Aku percaya itu. Aku percaya.
Langit semakin gelap, hujan telah berangsur-angsur mereda bersama warna langit yang menghitam sebab hari lagi dilahap malam. Bulan hanya memamerkan separuh tubuhnya, entahlah ke mana separuhnya lagi. Namun, bulan itu masih menyisakan keindahan walaupun hanya terlihat separuh. Bintang-bintang berhamburan di angkasa raya. Aku tersenyum. Aku menunggu gelap ini; gelap yang kugunakan untuk merapalkan namamu dalam setiap larik doaku.

Hening.

Tok, tok, tok.
Perempuan itu masih di dalam. Kau juga. Entah sudah berapa lama perempuan itu di dalam sana hingga kau lupa untuk menyapa matahari, menyapa pagi, dan melihat tubuhku yang sudah sangat menyedihkan ini masih berada di depan pintu. Menunggu. Menunggu.

“Hei, kau masih ingin berada di situ sampai kapan?” tanya seorang laki-laki yang kebetulan melintas. Tapi aku sering melihatnya.

“Aku masih ingin–”

“Pergi saja. Dia tidak menginginkanmu!” ujar laki-laki itu jujur. Iya, aku tahu. Aku mengangguk.

“Aku tidak akan pergi.” kataku. Dia tersenyum meremehkan.

“Terserah saja.” katanya. Aku mengulas senyum untuk membalas perkataannya. Lalu laki-laki itu pergi.

Tok, tok, tok.
Aku kembali mengetuk pintu, meski jemariku masih lebam karenanya. Masa bodoh. Aku tidak peduli. Sama sekali.

Kemudian suara gelak tawa itu lagi. Disusul suara gaduh lainnya. Ah, aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Aku tersenyum pahit. Seperti kopi hitam yang kauseduh tanpa gula. Tanpa pemanis apa-apa. Itulah wujud senyumku kini.
Ah, bodoh! Sudah berapa lama aku di sini? Di depan pintu hati seseorang yang tak kunjung membukakan pintu, hati seseorang yang sedang sibuk oleh mabuk sebab cinta. Dan yang menyedihkan lagi, mabuknya itu bukan denganku. Ah! Tolol! Aku memaki diri.

Tapi, kau harus tahu; aku tidak akan pergi, entah sampai kapan aku bertahan, aku tidak tahu. Setidaknya, sampai hari ini, aku belum berniat untuk melangkahkan kaki dari sini; dari hatimu. Di luar hatimu, lebih tepatnya. Aku belum mau pergi. Biar saja hujan menghajarku sampai belur, dan menggigil. Biar saja matahari membakar tubuhku hingga legam. Biar saja bulan dan bintang menertawai aku, dan biar saja orang-orang menganggapku bodoh atau gila, aku tidak peduli.
Aku akan menunggumu, membukakan pintu. Untukku.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

i’ll always be a homeless woman in front of the door called your heart.

Depok, 14 Februari 2015

102 Hari

102, satu kosong dua
Seratus Dua Hari

Separuh bulan Oktober
Sepenuh November
Seluruh Desember
Separuhnya lagi Januari

102 hari yang lalu,
Negeri menahtakan pemimpin baru
Maraknya euforia dari pagi hingga malam menggantung di ujung
Memestakan sebuah pergerakan revolusi mental yang dijunjung

Namun bukan itu yang ingin kupuisikan
Di sini
Bukan itu
Anggap saja itu hanya sebuah bagian dari prolog

Monolog; puisiku ialah hasil aku bermonolog dengan pola pikirku
Bersenandika dengan bibir sendiri,

Aku ingin menamai bulan-bulan dengan nama warna
Oktober berganti jadi merah muda
November berganti jadi shocking pink
Desember berganti biru
Dan, Januari ialah abu-abu

Setiap warna memiliki makna, sama halnya sebuah nama
Oktober, bagiku ialah bulan jatuh cinta. Sebab tanggal-tanggal di kalenderku tak pernah libur dari senyum.
November, ialah bulan yang mengejutkan. Sebab, hadirmu kadangkala tanpa aba-aba. Seperti kado dari Santa. Surprisingly!
Kemudian Desember, ialah bulan berwarna biru. Sebab hujan turun tiada henti di hari kepergianmu yang tiba-tiba, lagi-lagi, tanpa aba-aba.
Dan Januari, ialah bulan berwarna buram. Pasi seperti puisi-puisi. Seperti sajak-sajak.

yang bercerita tentang kepergian, dan kehilangan.

1 0 2  h a r i
Beragam rasa berjejal dalam dada
Senang, gembira, sesak, sedih, sendu, nyeri, kosong
Bulan berganti, kalender membalik tubuhnya sendiri

Entah bagaimana empat bulan mampu menjungkirbalikkan hidupku
Menghapus lembut benci-benci yang tlah lama rapi tersimpan
Menabung rasa sukur banyak-banyak dalam dada
Dan melapangkan sabar luas-luas

Entah bagaimana empat nama bulan itu begitu berarti
Sebab tiap helai lembar kalender ialah langkah kaki yang baru
Meninggalkan yang usang, berani melangkah maju tanpa ragu
Mengabaikan resah yang selama bertahun-tahun hinggap

Bagiku, Oktober memiliki peran yang penting
Sebab tanpanya, tidak akan ada November
Tidak akan ada Desember dan Januari
Sebab di waktu-waktu itulah aku belajar banyak hal mengenai sisi-sisi lain hidup

Oktober mengajariku bahagia yang sederhana
November mengajariku bagaimana hidup selalu punya kejutan
Desember mengajariku cara melepaskan dengan rela penuh keikhlasan
Dan Januari mengajariku cara bersyukur dan melapangkan sabar

1 0 2  H a r i
Ialah andil dari Tuhan untuk hidupku
yang kerap bertanya-tanya, mana keadilan, mana kebahagiaan
yang kerap mencari rasa syukur dan keikhlasan

1 0 2  H a ri
Sebenarnya, ini bukanlah sebuah puisi
Melainkan sebuah kisah bagaimana nama empat bulan itu memporak-porandakan hidupku
Bagaimana seratus dua hari mengubahku, menjadi siska yang baru.

Hai, siska!
Salam kenal, dari diriku yang baru.

PS : Ini bukan soal revolusi mental Jokowi, ini soal revolusi siska!

Depok, 30 Januari 2015

Surat Untuk Si Pelaut

Hai, Pelaut!
Selamat hari Jum’at.

Hai pelaut samudera aksara di pikiranku, yang namanya enggan kutera di badan surat,
semoga lautku tak membuatmu ingin segera menepi sebab aksaraku bergelombang menghantam perahumu berkali-kali.
Tahukah engkau, pikiranku ialah samudera aksara, ratusan puisi bagai ikan-ikan di dalam laut yang memujamu.
Di kala malam, dikabut gelisah, dan badai beliung, semesta pikirku menjelma lautan; biru dan bergelombang. Kau ialah satu-satunya pelaut yang berani berlayar. Memancing ingatan-ingatan yang pernah kita lalui.
Di kala pagi, kau masih fasih mengarungi laut tanpa peta dan kompas. Aku ialah laut yang kelelahan menahan beban perahumu. Kemudian ratusan puisi bagai ikan-ikan yang menyerukan kerinduan.

Hai, Pelaut,
kini ragamu telah sampai di pelabuhan entah-di mana- aku tidak begitu hapal namanya.
Lautku merindukan ragamu yang berlayar, bukan hanya bayanganmu.
Meski begitu, bayanganmu tiada henti mengarungi samudera semesta pikirku. Melewati rute-rute perjalanan yang pernah kita lewati dengan suara tawa, percakapan, dan nyanyian-nyanyian konyol sang nahkoda kapal. Hal yang tidak dapat kuraih kembali. Hal yang hanya berupa kenangan.
Lautku, laut mati. Tiada lagi yang berlayar kecuali bayanganmu. Sepi. Ratusan puisi bagai ikan-ikan yang memuisikan kesedihan dan kehilangan secara bergantian. Tiada nyanyian. Tiada puisi jatuh cinta.

Pelaut,
aku ialah laut yang menunggu ragamu kembali berlayar di tubuhku.
Bila suatu hari nanti kau kembali, aku hanya punya dua pilihan, yakni;

  1. menenggelamkanmu dalam lautku, agar kau tak pernah pergi lagi dan akan tetap tinggal selamanya di sini, atau

  2. mengubah diriku menjadi dermaga, agar suatu hari kau akan berlabuh tuk terakhir kali.

Dua pilihan itu akan terus menjadi misteri, sampai kau kembali berlayar.
Pelaut, aku merindukanmu.

Dari aku,
Lautmu.

Depok, 30 Januari 2015