Sebuah Kisah Sedih yang Mungkin Saja Terjadi di Ruang-ruang Perkantoran

“Bagi saya, membaca novel itu tidak ada gunanya sama sekali,” ujar saya kepada perempuan yang sedang duduk di hadapan saya.

Mata perempuan itu hanya mampu menatap saja. Tidak ada sedikit pun garis protes di sana. Dia juga tidak mengungkapkan sepatah saja kata untuk mematahkan kalimat saya. Dan kelihatannya, dia tidak berusaha menyangkal. Barangkali dia gugup, atau mungkin saja dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak suka membaca novel seperti dia, atau mungkin saja dia enggan memancing kemarahan saya, atau barangkali dia mengerti alasan saya mengatakan hal itu kepadanya.

Beberapa detik kemudian dia hanya tersenyum dan mengatakan: ya, memang. Dengan raut yang tidak nampak sedikit pun kekesalan di sana.

Itu membuat saya lega, jujur saja. Jujur saja pula, saya mati-matian mencari kalimat yang pas untuk tidak menyakiti hati perempuan itu. Saya juga mati-matian tidak menumpahkan emosi saya di kalimat itu dan mengatakan hal yang lebih pedas dan mampu membuatnya menangis saat itu juga. Tetapi yang mampu keluar dari mulut bajingan saya hanya memang itu. Tapi untungnya, sebagai terlatih, saya mampu menyembunyikan emosi saya. Emosi dalam kalimat itu.

Tapi yang mengherankan, mengapa dia menyetujui pernyataan saya? Mengapa dia tidak berusaha menyangkal dan membela mati-matian bahwa hobi yang diasukai itu berguna? Barangkali dia gugup, atau mungkin saja dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak suka membaca novel seperti dia, atau mungkin saja dia enggan memancing kemarahan saya, atau barangkali dia mengerti alasan saya mengatakan hal itu kepadanya. Segala kemungkinan ada, dan hanya perempuan itu yang tahu.

Di bagian ini, saya akan menerangkan, bahwa kami berada di ruangan saya. Saya adalah manajer perusahaan milik orangtua saya, tentu saja. Saya pemilik warisan tunggal perusahaan ayah saya dan tentu saja saya adalah satu-satunya generasi yang akan mengurus segala aset perusahaan ayah saya. Tidak ada lagi. Dan perempuan ini, perempuan yang duduk di hadapan saya, adalah seorang pelamar kerja di perusahaan saya, tidak lebih, dan tidak kurang.

Hal yang menarik dari dia dan memancing reaksi yang ada di kalimat paling pertama adalah, dia menulis sesuatu yang menggelitik di kolom hobi dan kegiatan sehari-hari. Membaca novel (fiksi, sastra, dan sejenisnya), menulis di blog pribadi, dan menyeduh kopi, ya begitulah yang tertulis di sana. Tentu tidak ada salahnya dengan kegiatan ala-ala pengangguran tidak ada kerjaan semacam itu, tetapi dia harus tahu, saya mencari seorang yang professional. Bukan seorang yang gemar membaca novel atau kerajingan nulis di blog, apalagi sambil menyeduh kopi!

Usai kalimat paling pertama di kisah ini, kami memang berbincang sedikit. Sedikit saja. Kemudian saya cukupkan diskusi singkat itu. Barangkali dia sedikit terluka dengan ucapan saya atau dia terlalu gugup, atau entah hanya dia yang tahu alasannya. Dia keluar dari ruangan saya setelah menjabat tangan dan mengucap terima kasih. Selebihnya, hanya saya seorang. Di ruang pribadi yang selalu dingin dan selalu sepi.

Di ruang pribadi yang selalu dingin dan selalu sepi itu, saya merenungkan dia. Bukan, bukan perempuan itu. Tetapi tulisan dia di kolom hobi dan kegiatan sehari-hari dan ucapan saya barusan. Kalimat pertama di kisah ini.

Kalimat pertama dalam kisah ini sebetulnya pernah menyakiti saya. Menyakiti sampai ke akar-akarnya. Menyakiti sampai ke inti-intinya. Menyakiti sampai ke dalam sel-sel-nya.

Kalimat pertama dalam kisah ini sebetulnya pertama kali keluar dari mulut ayah saya. Keluar dari mulut ayah saya ketika saya menghabiskan uang tabungan saya untuk membeli buku-buku novel dan menghabiskan waktu liburan sekolah dengan membaca novel-novel itu di rumah. Dan mengabiskan separuh usia saya mencita-citakan sebagai penulis buku fantasi. Saya akan menjadi penulis yang hebat, saya tahu itu! Ya, dulu saya seyakin itu.

Hingga suatu ketika kalimat pertama dalam kisah ini yang keluar dari mulut ayah saya menghancurkan semuanya.

“Apa gunanya membaca novel-novel tidak berguna? Khayalanmu tidak berguna di dunia nyata! Menjadi penulis dan menjadi miskin, apa itu cita-citamu? Dasar anak bodoh! Ubah mindset kamu, Rob. Kamu satu-satunya penerus Papa…” lalu dia membanting pintu.

Selamat tinggal terburuk yang mampu kauberikan adalah selamat tinggalmu pada mimpi-mimpimu. Dan saya mengatakan selamat tinggal terburuk itu dua hari setelah ayah saya membanting pintu.

Tidak ada salahnya dari orangtua yang menginginkan anaknya meneruskan kerja kerasnya saat muda. Tidak ada salahnya dari ayah saya yang menginginkan saya meneruskan mimpi besarnya. Tidak ada salahnya dari seorang anak yang berbakti pada orangtua yang telah memberikan hampir seluruh jiwa raganya untuk menyenangkan hati saya. Rob kecil yang kini menjadi Rob besar yang akan memimpin perusahaan. Yang mana artinya saya harus merelakan mimpi masa kecil saya mati.

Tidak akan ada lagi Rob yang menandingi J.K Rowling. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Stephen King. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Stephanie Meyer. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Dean Koontz.

Ayah saya harus tahu, mereka adalah penulis yang kaya raya. Seandainya saja saya masih memegang mimpi itu, saya pasti mampu meyakini beliau bahwa saya, Robbert Schzuns, bisa kaya raya dengan menulis. Dengan mimpi masa kecil saya. Tetapi mimpi saya sudah mati. Begitu juga ayah saya.

Tetapi waktu tidak pernah bisa diputar ulang. Dan saya tidak mampu menghidupkan mimpi masa kecil saya kembali. Untuk saat ini. Untuk saat ini. Saat saya memilih menghidupi mimpi besar ayah saya. Ayah saya yang sudah mati.

Begitu pun dengan kalimat saya yang tak mampu ditarik kembali. Kalimat yang mungkin memukul perempuan itu mundur seribu langkah untuk meninggalkan mimpinya. Kalimat yang mungkin membuat perempuan itu berhenti membaca novel dan menulis di blog sambil menyeduh kopi. Kalimat yang mungkin mendorong dia untuk berdiam di kamar sambil mengepak novel-novelnya. Dan dua hari kemudian membuat dia mengucapkan selamat tinggal terburuk dalam hidupnya.

Saya merasa berdosa…

Saya merasa bersalah…

Tapi tidak ada yang mampu saya perbuat selain berharap agar perempuan itu tidak berhenti menulis.

Dan tidak berhenti bermimpi.

hgj

 

[TMT]


Depok, 26 Oktober 2016

Penulis yang Ganjil

Dia yakin akan hidup selamanya. Dia sangat percaya pada kata-katanya. Kata-kata, pikirnya, akan mampu memberi dia napas selamanya bahkan hingga raganya sudah diantar ke liang lahat. Dia sangat menyakini itu, maka dia tidak pernah berhenti menulis.

Selama hidup, dia hanya berkawan sepi dan kata-kata. Kawan sepermainannya sangat sedikit, bisa terhitung oleh jari. Dari dulu, dia memang tak pandai bergaul. Tak pernah mau repot berbasa-basi dengan orang lain. Menghindari kemunafikan, sebutnya.

Awalnya, dia pun heran dengan dirinya sendiri. Mengapa dia bisa sebegitu anti dengan orang lain, padahal mereka pun manusia. Dan anehnya, dia, sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Maka itu, tulisannya selalu tentang polah dan peristiwa manusia dan kemanusiaan. Tapi ia kesal lihat orang lain!

Setelah kerajingan jalan-jalan di internet lewat smartphone yang dia beli tempo lalu, ia jadi tahu mengapa ia sebegitu anti berhubungan dengan orang lain. Mengapa dia begitu khawatir berdekatan dengan orang lain. Akhirnya, dia menyebut dirinya introvert. Tak lama kemudian, dia mendaku-daku memiliki penyakit kejiwaan bernama Social Anxiety Disorder (SAD), yaitu penyakit yang membuat penderitanya selalu memiliki kekhawatiran berlebih bila berkomunikasi dengan orang lain. Ketika dia melihat keterangan itu di internet, dia langsung sumringah. Dia merasa kalau dia baru saja mampu mengenali dirinya sendiri. Dia seperti terlahir kembali.

Dia menelan segala informasi itu. Segala detil informasi itu terpenrinci masuk ke dalam batok kepalanya, rongga dadanya, dan celah-celah jiwanya. Dia menyebarkan informasi itu kepada orangtuanya yang sering mengeluhkan prilakunya yang enggan bersosialisasi. Dia menceritakan informasi itu kepada teman-temannya, agar mereka maklum atas sikap anehnya, atau agar mereka maklum ketika dia tiba-tiba tidak ingin diganggu gugat oleh siapa-siapa. Dia mengabarkan itu kepada kekasihnya, dan ia menambahkan embel-embel, seperti “sekarang kamu tahu kan kenapa aku tidak mau diajak ke rumahmu? bertemu saudara-saudaramu membuat aku tersiksa. Bukannya aku tidak serius, tapi nanti pasti ada waktunya.”

Awalnya mereka semua mafhum dengan penjelasan yang dia jelaskan dengan semangat. Tapi lama-kelamaan, dia jadi semakin tertutup. Semakin tertutup. Tertutup. Orangtuanya menuntut dia yang tertutup untuk terbuka mencari pekerjaan. Kekasihnya mengeluhkan bahwa dia telah berubah jadi semakin pendiam dan tertutup, kekasihnya menuntut dia yang tertutup menjadi kembali terbuka. Tapi dia bilang, tertutup dan terbuka adalah lawan kata yang mustahil disamakan. Dan dia tertutup. Orang lain tidak boleh mencoba membuatnya terbuka. Terbuka hanya memperparah penyakitnya, belanya di pikiran dia.

Orang-orang terdekatnya memberi saran, “Lawan SAD yang kau bilang! Itu omong kosong!”

“Kamu hanya memberi makan takutmu. Dan dia bisa hidup lebih kuat dari kamu!” begitu kata orangtuanya.

“Kamu tidak akan berubah kalau kamu tidak menkehendaki itu..” kata kekasihnya.

Tapi dia bersikeras.

“Kalian semua tidak merasakan. Yang tidak merasakan, tidak bakal mengerti!” Jiwanya tertekan.

Tapi ia tidak berhenti menulis. Hanya itu cara yang dia yakini mampu mengobati rasa kecewanya terhadap orang sekitar. Ia menulis terus. Setiap hari. Setiap matahari hampir sampai di atas kepala. Sampai menjelang malam. Omongan semua orang hanya dianggap angin lalu. Bagi dia, hanya sepi, kata-kata, dan kopi untuk menemaninya kuat begadang. Untuk apa lagi kalau bukan menulis? Dia menulis. Mengirimkan puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, esai-esainya ke surat-surat kabar, ke penerbit buku, ke tempat yang mau menerima tulisannya. Dia menyentuh dan menyinggung berkali-kali tentang hakikat kemanusiaan tanpa ia mau bersentuhan dengan manusia. Tapi dia mengerti, dia mengerti lewat bacaan-bacaan dia. Hanya itu! Dan sedikit perbekalan yang dia jadikan pengalaman.

Dia tidak memiliki kawan di dunia perbukuan, di dunia tulis menulis. Dia berjuang sendiri mengantar karyanya ke halaman-halaman Koran Minggu. Dia disarankan untuk ikut acara diskusi buku atau pelatihan menulis. Dia bersikeras menolak dengan alasan, semua itu hanya omong kosong untuk mengisi pundi-pundi rupiah si empunya acara atau penulis bersangkutan, karena dunia tulis menulis tidak mampu mengisi dompet mereka. Ya, dia sesinis itu. Dia sepesimis itu.

Tahun pertama nihil. Tidak ada yang mau memuat karyanya. Bukan tidak bagus. Karya dia jelas brilliant bagi dia sendiri dan beberapa kawan yang membaca. Tahun kedua, ada satu dua surat kabar yang mau memuat karyanya. Selebihnya tidak ada lagi. Tenggelam dengan nama-nama sastrawan muda dan baru. Selebihnya ia lelah menulis. Ia memberi dirinya rehat selama beberapa bulan tidak menulis.

Orangtuanya makin gencar menuntutnya tidak menganggur. ‘Cari kerja! Percuma sarjanamu!’ Oh iya, dalam riwayatnya, memang dia seorang sarjana komunikasi dengan ipk yang tidak buruk-buruk amat. Sarjana. Komunikasi. Dua kata yang seharusnya membuat dia mumpuni untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama manusia. Atau mumpuni pula untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah yang banyak.

Kekasihnya semakin gencar mengeluhkan dia bahwa dia tak sama sekali ada upaya untuk mengubah dirinya agar lebih baik. Dia bingung, “lebih baik yang bagaimana? Aku ini sudah melakukan yang terbaik. Kamu tidak pernah tahu. Kamu hanya senang menuntut!”
Kemudian dia ditinggalkan. Dia berusaha tegar. Dia membela dirinya, “alah, perempuan itu, saya tidak butuh perempuan yang banyak menuntut. Saya hanya butuh kekasih yang menerima saya apa adanya. Tidak banyak menuntut. Dan cukup bahagia bersama saya, kesepian saya, dan kata-kata saya.”

Ia akhirnya keluar dari rumah. Ia pamit kepada orangtuanya untuk merantau. Orangtuanya tak yakin sebenarnya, tapi mereka juga sebal bila bujangnya hanya berdiam diri di rumah. Jadi mau tak mau mereka merestuinya dan memberikan sedikit uang untuk biaya hidup dia selama beberapa bulan, selebihnya dia yang berusaha.

Di tempatnya merantau, dia menyewa kos paling murah. Ruang sempit. Hanya ada satu alas tidur, satu almari kecil, dan satu gantungan baju bekas orang yang dulu menyewa. Kamar mandi luar.

Kesendirian yang mewah itu membuat dia lebih rajin menulis. Lebih produktif menulis. Dalam satu hari dia bisa menulis 2 cerpen, 3 puisi, dan 1 esai. Bukan main! Semuanya dia kirim ke surat kabar. Besok dan besoknya seperti itu lagi. Hasilnya lumayan. Satu-dua-tiga minggu, karyanya dimuat. Upahnya dibelikan kuota internet, buku-buku, dan sekali dua menulis di kafe. Beberapa pembaca koran Minggu menyukai karyanya, sisanya lebih menyukai karya karangan sastrawan terkenal atau penyair terkenal. Dia mulai diperhitungkan karyanya bagi beberapa pembaca. Bagi sisanya, dia bukan siapa-siapa.

Belakangan dia merasa semua gemerlap ada padanya. Ada di matanya. Dia tidak perlu bekerja jadi apa-apa sekarang. Dia penulis, dan dia bangga. Tapi kebanggaan itu perlahan membunuh dirinya, sepinya, dan kata-katanya. Kebanggaan itu terlalu kuat, terlalu bising, terlalu tajam untuk menumpulkan kata-katanya.

Dia tidak menulis semenjak kebanggan itu ada.

Sementara, untuk membiayai hidupnya, dia perlu uang. Dia sadar akan hal itu. Terdesaknya akan makan dan minum dan menyambung hidup, akhirnya membuat dia mau tidak mau, menjual koleksi-koleksi bukunya. Satu buku yang laku bisa membiayai hidupnya satu sampai tiga hari kemudian. Tentunya, dengan dihemat-hematkan. Makan hanya dengan mie instan, minum dia rebus sendiri dari air keran, kopi dia seduh sendiri dari kopi bubuk  instan yang diabeli bulan lalu. Berbulan-bulan dia seperti itu. Inspirasi tidak datang sama sekali. Dirinya ada, kesepian pun ada, tetapi kata-kata sudah meninggalkannya.

Sampai suatu hari dia tumbang. Makan yang tidak teratur. Makan selalu dengan mie instan, kadang telor ceplok, bila hasil penjualan bukunya lumayan. Air keran yang direbus asal-asalan. Dan kopi sachetan yang sering diminumnya, kadang lebih dari lima kali sehari.

Dia tidak bisa bangun lagi dari kasur tipisnya. Dia tidak mampu bersuara untuk meminta tolong. Dia tidak bisa membuka pintu kamar kosnya untuk sekadar melihat matahari. Ia terkepung di situ, di dalam kamar itu. Dengan kesepian, dan kata-kata yang tak mampu ditulisnya lagi.

Orang-orang sekitar bukannya tidak mau peduli, bukannya jahat, bukannya kejam, bukannya membiarkan. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu siapa dia. Mereka bahkan tidak pernah berlangganan koran. Apalagi membaca koran Minggu.

Di hari kematiannya itu, dia mengubur jasadnya bersama kata-kata dan keyakinannya. Hanya ada petugas kepolisian, beberapa wartawan yang meliput peristiwa mayat tak dikenal yang mati di kamar kos di bilangan Jakarta Timur, dan warga sekitar yang penasaran.

Kemudian setelah diketahui identitasnya, Ali Ramlan Sadikin, Tempat Tanggal Lahir: Purworejo, 12 Januari 1984, Golongan Darah: A, keluarganya datang dengan terisak. Mereka membenarkan bahwa jasad itu benar-benar Ali Ramlan Sadikin. Anaknya, saudaranya, karibnya.

Nama Ali Ramlan Sadikin tidak pernah populer. Tidak pernah dikenang-kenang. Tidak dijadikan tanggal peringatan, apalagi hari libur nasional, atau hari cerpen nasional. Tidak ada. Tidak ada yang ingat karya-karyanya seperti apa. Tidak ada keabadian nama yang sering dia ucapkan. Tidak ada yang mengingat dia kecuali orangtuanya, dan mantan kekasih yang kini memiliki anak yang lucu-lucu.

082409_a

 

Depok, 13 Oktober 2016

 

 

Menggibahi Waktu

“Waktu adalah milik kita, namun datangnya dari Tuhan,” begitu pendapat saya perihal waktu yang Jumat (22/4) ini digibahi di acara peluncuran buku ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ karya Zivanna Letisha di Markas Bukalapak, Plaza City View, Kemang, Jakarta Selatan.

Peluncuran buku dan talkshow yang keduanya menggibahi waktu tersebut dibintangi oleh Putri Indonesia 2008 sekaligus penulis buku yang sedang diluncurkan Zivanna Letisha, dan CEO BukaLapak Ahmad Zaky. Keduanya saling membagi cerita tentang waktu yang terus berjalan gontai, yang kerap menimbulkan duri-duri dilema, dan memunculkan tanda tanya: “Waktu berjalan cepat, semua manusia memiliki waktu yang sama porsinya. Namun, mengapa ada manusia yang sukses dalam hidup dan karir, sementara ada juga yang biasa-biasa saja?”

Pertanyaan yang hinggap di benak Zivanna Letisha, kemudian mengantarnya ke layar monitor dan papan ketik. Ia menulis. Tentu, tahap sebuah menulis tidak semudah pergi dan bertatap muka dengan layar monitor sementara jari-jemari bersentuhan dengan papan ketik. Ia menulis. Ia mengingat-ingat kembali pengalamannya. Kenangannya bersama waktu, ia curahkan di layar kosong. Ia menulis.

Selama lima bulan bertatap mesra dengan layar, bersentuhan dengan papan ketik, kemudian terbitlah ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ yang dicetak oleh penerbit ternama Gagas Media, yang buku-buku cetakannya menghuni toko buku-toko buku besar, dan tak jarang ada di rak penjualan buku terbaik. Akhirnya, Jumat (22/4) sore yang—kita semua rekan media dan blogger harus bersyukur—didukung semesta karena cuaca yang baik dan tidak turun hujan, peluncuran buku dan penggibahan waktu dilalui dengan khidmat.

Waktu berjalan gontai. Banyak dari kita yang dikejar waktu. Bukan berjalan bersama waktu dan melakukan sesuatu untuk membangun mimpi. Banyak dari kita yang kelelahan dikejar-kejar waktu yang berjalan gontai. Terengah-engah menyusuri lorong-lorong waktu. Dan mendapati diri ini kosong, lelah, pegal, dan tak karuan melawan kecepatan waktu. Mungkin itulah yang menyebabkan kalimat seperti, “Wah, sudah Senin saja, padahal kemarin Minggu,” yang kerap muncul di awal minggu. Kalimat tadi diungkapkan dengan berat hati, sambil ngantuk, dan terpaksa bangkit dari kasur untuk mandi pagi, karena kelelahan begadang semalaman suntuk.

Lelah, lesu, lemah, pegal-pegal, dan keseleo, mungkin tidak akan terjadi apabila kita rajin minum sangobion bisa mengatur waktu. Banyak dari kita yang bertanya, “Mengatur waktu? Bagaimana caranya? Apakah semudah mengatur settingan di ponsel android?”

Zivanna Letisha, dalam acara penggibahan waktu tersebut menjawab, “Mengatur waktu sama artinya seperti battle dengan diri sendiri,” dalam artian, tidak semudah menyetting ponsel android agar bisa terkoneksi dengan wifi di kantor BukaLapak, misalnya. Perlu ada cara tersendiri. Langkah awalnya adalah, mengetahui dan mengenali diri sendiri. Jawaban Putri Indonesia 2008 itu mengatakan ada ‘battle’ dengan dirinya sendiri ketika mengatur waktu. Nah, bila kita ingin mengalahkan lawan, kenali dulu siapa lawan kita. Tanpa mengenali siapa lawan kita dan tekad yang kuat untuk melawan, kita tidak akan menang.

Waktu berjalan gontai. Dan kita jangan berjalan membungkuk di belakangnya atau berpeluh-peluhan dikejar waktu. Masih banyak cara berkawan dengan waktu. Merangkul ia dan mengajaknya membangun mimpi demi masa depan cemerlang. Mengajaknya berjalan santai hingga sampai ke tujuan. Caranya? Anda bisa pergi ke toko buku menggunakan kendaraan atau kuota internet dan segera membaca ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ karena saya pun harus memulai berkawan dengan waktu dengan… tidur bersama waktu. Esok pagi, ketika udara masih segar, baru deh baca bukunya Zivanna Letisha.

:))

Processed with VSCO

Foto launching buku ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ 

PS: Peluncuran buku saya kapan-kapan deh. Doain aja :”)

 

Depok, 22 April 2016

Subuh di Balik Pintu

Gelap malam menghantarkan saya kepada kesunyian-kesunyian. Tidak ada suara di luar. Senyap. Andoro Mega, anakku yang masih merah sudah tertidur pulas setelah saya susui. Saya memandang ke luar dari jendela dekat pintu utama. Sepi. Saya baru saja hendak tidur, tapi perasaan ganjil yang tak mengenakkan ini menekan uluhati. Ada apa? Tiba-tiba saja saya teringat Mas Gun. Suami saya yang selepas sholat maghrib tadi pamit untuk rapat internal partai.

Pukul sepuluh lewat duabelas menit, Mas Gun belum pulang. Barangkali dia menginap di kantor partai. Barangkali rapatnya sangat penting sehingga belum pulang selarut ini, kata saya coba menghibur diri. Saya memilih untuk menulis saja. Saya menyalakan lilin, dan mengambil buku catatan saya. Sambil terkenang Mas Gun yang memberi buku catatan ini. Dia senang sekali mengoleksi buku catatan yang ia dapat dari percetakan tempat dia bekerja. Mas Gun, selain anggota partai, ia juga penggerak penerbitan milik partai itu.

Saya mulai menuangkan kata-kata di kepala saya di kertas kuning ini. Warna kertas yang hangat dan permukaannya yang agak kasar, menambah inspirasi saya menggores-goresi pena di atasnya. Inspirasi bisa datang dari mana saja dengan cara yang apa saja, memang. Pasca-kemerdekaan, banyak permasalahan-permasalahan ekonomi, politik, dan sosial, terkadang saya mengambil masalah-masalah itu untuk menjadi bahan tulisan di kertas ini. Saya menulis apa saja, esai, cerita, atau puisi. Saya memang sudah kepalang cinta dengan negeri ini, negeri yang kemerdekaannya direbut dengan tumpah darah, dengan mayat-mayat orang-orang yang berjuang, pahlawan-pahlawan kemerdekaan. Biarlah banyak permasalahan yang ditanggung negeri ini, toh ini semua adalah proses yang harus dijalani. Negeri ini biar nanti, dewasa dengan sendirinya, seiring perkembangan pola pikir masyarakatnya.

Setelah setengah jam lewat saya menulis, perasaan ganjil ini rupanya belum lenyap juga. Ada apa gerangan? Tetapi rasa kantuk ini merubuhkan saya. Akhirnya saya bangkit dan menuju kamar. Sambil dalam hati, meminta maaf pada Mas Gun karena tak menunggunya pulang. Biarlah, semoga saja dia tidur di kantornya. Pulang sebegini larut bisa membahayakan keselamatannya. Negeri ini, walau sudah merdeka, belum sepenuhnya aman.

“Dik…” sayup suara itu membangunkan saya. Ternyata Mas Gun sudah pulang, entah pukul berapa.

“Mas…sudah pulang?” saya mencium tangannya, tanda hormat. Ia mencium kening saya, sayang.

“Dik, Mas pulang hanya sebentar. Keadaan di luar kota sedang genting. Sebentar lagi Mas mau pergi…”

“Lho, Mas, ada apa lagi, lho?” saya bertanya khawatir. Setelah saya benar-benar melek, saya baru sadar ternyata langit masih gelap. Saya makin panik.

“Situasi politik di Jakarta sedang panas, Dik. Tujuh jendral diculik, enam jendral tewas, dan partai Mas ini, Dik, dianggap sebagai dalang!”

“Apa?” bulu kuduk saya berdiri. Entah ada apa lagi sekarang ini. Politik macam apa yang sedang dijalankan. Rencana apa lagi ini?

“Mas tidak tahu apa-apa tentang ini, Dik. Tetapi dari rapat kemarin, Mas dengar, kejadian kemarin itu sangat membahayakan anggota partai. Kita harus waspada. Kamu jaga Mega baik-baik ya…” Mas Gun tersenyum. Wajahnya pucat. Saya tahu dia juga takut dan khawatir seperti saya, tapi dia mencoba sabar. Ya Tuhan…negeri ini mau Kau apakan lagi? Dada saya teriris.

“Tapi Mas…sesubuh ini harus pergi?”

“Benar, Dik. Mas harus mencari perlindungan.”

“Mas…..”

“Kuatkan diri kamu, Dik. Kamu perempuan yang kuat yang pernah saya kenal. Terus menulis, dan kenanglah saya sewaktu-waktu apabila saya tak kembali.”

Saya menangis deras. Saya rasakan Mas Gun mengusap lengan saya, menyabarkan, kemudia memeluk saya. Erat sekali. Saya rasakan napasnya hangat di ubun-ubun saya, kemudian rambut saya basah. Mas Gun menangis…

“Dik, semua ini bukan Mas yang kehendaki, Gusti Allah yang kehendaki semuanya. Kamu tahu, Mas hanya berjuang. Kita hanya berjuang, Dik!” Mas Gun mengusap punggung saya. Saya menangis makin hebat. Punggung kami tersentak-sentak. Seolah sadar bila pertemuan ini adalah pertemuan terakhir.

“Dik, kamu tidak perlu berjuang seperti Mas. Kamu bisa berjuang tanpa melakukan apa yang Mas lakukan. Kamu bisa berjuang dengan cara kamu sendiri. Kamu wanita yang mandiri. Kamu wanita yang perkasa. Ingat ini, Dik! Kamu bisa hidup tanpa Mas…”

“Mas!” saya sudah tidak tahan dengan omongannya. Mas Gun sangat pesimis kali ini. Sama, saya pun juga. Tapi saya perempuan. Saya pendampingnya! Saya harus lebih tegar!

“Mas, saya yakin kamu masih mampu berjuang. Saya tahu, Mas pejuang yang tulus, dan ketulusan tidak bisa dilumpuhkan oleh kekejian. Biarkan saja, mungkin ini bagian dari drama politik, entah siapa yang menjadi dalang semua ini. Biar nanti terbongkar sendiri! Saya yakin Mas nggak bersalah, dan taka da yang boleh menghukum orang yang tak bersalah!”

“Terima kasih, Dik. Mas benar-benar harus pergi sekarang juga. Ingat pesan Mas. Kamu dan Mega hati-hati. Tetaplah waspada. Semoga Mas cepat pulang.” Mas Gun memaksa tersenyum. Saya tahu dia sangat ketakutan kali ini. Saya peluk dia sekali lagi sebelum benar-benar pergi.

Koran-koran dipenuhi berita-berita politik dan kematian-kematian enam jendral yang dibunuh. Kemudian perintah pengganyangan anggota partai. Dada saya berdegup. Nyeri. Lemas. Tiba-tiba teringat Mas Gun yang memeluk saya dinihari tadi. Saya terkulai lemas di beranda membaca berita itu. Waspada, Dik, waspada. Saya langsung tercenung, mengingat kata-kata Mas Gun. Saya menutup Koran pagi. Menutup pintu dan menguncinya. Merosot tak berdaya. Oalah, Gusti…apa nanti Mas-ku akan diganyang? Dengan peluru senapan? Oalah…siapa yang bersalah, siapa yang dihukum?  Apakah kecintaan saya dan suami saya kepada negeri ini akan membawa kami ke tiang gantung? Atau menjadikan kami sasaran tembak?

Pintu digedor keras. Dada saya berdegup kencang sekali. Bertanya-tanya, siapa itu di luar pintu. Apakah tentara yang akan mengganyang saya? Tapi apa salah saya?

“Dik…” Mas Gun! Saya terlonjak. Cepat-cepat saya menghapus air mata saya dan membuka pintu.

“Mas…” Mas Gun cepat-cepat masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan menguncinya.

“Dik, ini berbahaya. Mas dengar pengganyangan ini akan sampai ke pelosok-pelosok. Di Solo, anggota-anggota partai beserta keluarganya diserbu warga. Kawan-kawan perempuanmu yang ikut mengajar juga dihabisi. Sungguh mereka tidak punya berbelas kasihan kepada perempuan! Mereka semua meneriaki kita pecundang pengkhianat bangsa padahal kelakuan mereka tidak lebih baik atau malah lebih hina daripada apa yang mereka sangkakan kepada kita! Kita harus pergi, Dik. Kemasi barang-barangmu. Titip Mega kepada ibumu. Ibu pasti maklum keadaan kita.”

“Sungguh biadab! Apa sebabnya mereka membunuh perempuan-perempuan? Apa salahnya mereka? Apa salahnya kita, Mas? Mengapa kita harus lari seperti orang yang benar-benar punya salah tetapi tidak bertanggung jawab?” saya menangis. Saya tidak menyangka bahwa saya juga dikejar-kejar. Padahal, saya, sebagai istri Mas Gun yang anggota partai hanya berjuang sesuai dengan kemampuan saya. Sesuai kemampuan istri-istri anggota lain. Dan…teman-teman saya….dihabisi…sungguh kejam! Dosa macam apa yang sedang dilakukan negeri ini, Gusti?!

“Kita harus tahu apa kesalahan kita sebenarnya. Mengapa kita dikejar Mas! Itu baru adil!” kata saya.

Mas Gun menggeleng. Matanya sedih.

“Hari ini sedang tidak ada keadilan, Dik. Nyawa murah. Kawan-kawan kita dibunuh hanya karena prasangka dan dugaan! Jangan harapkan keadilan, Dik.. jangan…” Mas Gun mengusap wajahnya yang lelah. Menghampiri saya dan menuntun saya ke kamar. Saya duduk lemas di atas kasur. Memeluk Mega yang kini tidur pulas.

“Dik, ayo kemasi barang-barangmu…”

1352448174

ilustrasi didapat dari google image

 

Tamat

Depok, 160416

Catatan: Cerita fiksi ini dibuat dengan tujuan mengingat sejarah kelam yang dilalui oleh sebagian perempuan di Indonesia pasca kemerdekaan. Peran perempuan di cerita ini menonjolkan sisi perempuan yang mempunyai hak-hak yang sama dengan laki-laki dalam kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Dalam cerita ini mengisahkan tentang seorang perempuan sekaligus istri yang melaksanakan tugasnya dengan baik seperti mengurus anak dan melayani suami, tetapi di sini sosok istri juga sebagai penopang kekuatan laki-laki (suami).
Perempuan tidak harus mampu betul-betul setara dengan laki-laki atau lebih tinggi dari laki-laki dan melupakan kodratnya sebagai perempuan, tetapi bagaimana si perempuan mampu menyeimbangi laki-laki dalam hal berpikir dan menyuarakan hak-hak serta pendapat. Maka dari itu, perempuan wajib memiliki kecerdasan dan mampu berjuang dengan caranya sendiri demi hidup dan juga bangsanya.

 

Ali Syamsudin, Si Aktipis

Waktu yang bersumber dari jam tangan Alba KW yang melingkari tangan Ali Syamsudin masih menunjukkan pukul dua siang. Masih pagi bagi Ali yang gemar mengaku sebagai aktivis kampus itu untuk pulang ke rumah dan rebahan di kasur sambil memikirkan nasib negara yang kini berada di genggaman penipu besar, begitu pikirnya, kesimpulan yang ia ambil berdasarkan diskusi kecil-kecilan. Usai menghabiskan satu jam tigapuluh menit di ruang kelas filsafat sambil menyiyiri konsep-konsep dan teori komunis-atheis tanpa ia ingin mendalami dan mengerti, Ali merasakan getaran di perutnya. Ia lapar. Belum makan siang. Sambil berjalan sengak, merasa paling tahu segala, dan merasa paling ‘mahasiswa’ karena demen berdiskusi dan berdemo dengan senior yang sikap dan gagasan kritis-nya tak perlu diragukan lagi, Si Aktivis Kampus pergi menuju kantin dan pesan hamberger Mang Anung. Lumayan, cukup sepuluh ribu rupiah, perut kenyang.  Sembari menunggu Mas Anung membuatkan pesanannya, Ali mengeluarkan sebungkus malboro dari saku celana jeans yang jarang dicuci. Ia ambil satu batang dari bungkus mungil itu dan menyelipkannya di antara telunjung dan jari tengah seakan ia sudah mahir melakukannya. Merokoklah ia sambil memikirkan nasib negara yang makin pro kapitalis, goblok, dan palsu itu. Sesekali ia memikirkan juga nasib kuliahnya yang sudah ditekuninya hampir sepuluh semester dan terancam ditendang dari kampus. Tetapi, selama kampus masih kepingin duit, Ali Syamsudin, si Aktivis Kampus akan aman-aman saja, pikirnya. Terkadang juga ia ngenes, memikirkan Ratih pacarnya yang jarang diajak jalan-jalan, bukan apa-apa, apalah Ali Syamsudin ini, cuma mahasiswa semester sepuluh yang boro-boro nyari duit tambahan buat pacaran, kuliah aja senen-kamis bareng sama bayar puasa yang bolong-bolong tahun lalu.

Hamberger pesanannya sudah diantarkan Mas Anung ke meja Ali. Kedua matanya langsung bersinar, perutnya bergetar lagi. Makanlah ia dengan lahapnya siang itu. Tak sampai lima menit, hambergernya sudah tinggal bungkusnya saja. Masih merasa kenyang, dan lupa bersukur, ia duduk sambil asik main gawai merek iPhune miliknya, cicilannya masih dua bulan lagi, itu juga bayarnya hasil minta sama orangtua. Akhirnya, pesan yang ditunggunya bunyi juga. Pesan dari Abang Marten, itu lho, senior maha kritis, yang sering mengajak Ali berdiskusi tentang kebusukan pemerentah dan mengajak Ali menggerakan kawan-kawannya untuk turun aksi ke jalan-jalan. Kan, biar mahasiswa banget tuh. Mahasiswa apaan tuh, yang anti sama demo-demo!

“Ali, nanti ke Kafe Olip, kita diskusi. Kemungkinan kita akan bikin pergerakan lagi,” begitu isi pesan Bang Marten.

Wah, bukan main semangatnya Ali Syamsudin mengangkat pantatnya dan pergi ke Kafe Olip. Kata-kata berdiskusi, dan pergerakan, menyalakan api semangatnya di tanggal-tanggal-muda-enggak-tua-juga-enggak. Biar tak ada uang, asal turun aksi, Bung!

Sampai di Kafe Olip, kedai makanan yang menjual beragam macam mie goreng dan sejenisnya, ia langsung melihat Bang Maten dengan seseorang yang tak pernah ia lihat. Wah, siapa tuh? tanyanya kepo dalam hati. Ali tak segan-segan menghampiri Bang Marten yang sedang bercakap-cakap serius dengan tamunya itu. Ali tanpa malu-malu tetapi sopan, langsung menyalami Bang Marten dan tamunya. Ali tersenyum dan ikut berbincang. Tak lama, Ali yang memang supel, mampu terlibat dalam percakapannya dengan Bang Marten dan Bang Raung, yang katanya kerja di dunia perpolitikan dan membawa isu-isu baru untuk bahan pergerakan.

“Jadi, bagaimana, Li? Kamu mau kan mengorganisir kawan-kawan di kampus? Lumayan lho, ini order besar sekali!”

“Gampang itu, Bang. Asal, persenan Ali di atas dari biasanya ya. Sekarang susah, Bang, ngajak mahasiswa buat demo. Mereka kebanyakan apatis, kerjanya belajar doang terus habis lulus jadi budak kapitalis!”

“Urusan persenan gampang, Li. Kewajiban kamu sekarang kerahkan massa secepatnya!”

 

—Tamat—

Depok, 08 Maret 2016

 

*: sekadar catatan, cerita ini murni fiksi tapi tidak menutup kemungkinan bahwa di dunia ini, khususnya di negeri kita, masih ada mahasiswa yang seperti ini. mengaku aktivis kampus, tetapi lupa kewajibannya sebagai mahasiswa. mengaku aktivis kampus, melakukan pergerakan, tetapi dibayar. perjuangan terlalu murah bila dibayar pakai uang yang tak seberapa. mengaku aktivis kampus di barisan paling depan, tetapi di kelas, duduk paling belakang (nah, ini kata dosen). saya di sini tak maksud menggurui, atau menyindir individu atau kelompok tertentu. saya juga mahasiswa dan pernah berdemo juga (waktu itu penasaran bagaimana sih rasanya berdemo, hehe). maka saya menuliskan ini untuk mengingatkan diri saya dan kalian yang mengaku mahasiswa untuk kembali ke jalan yang benar. maha-siswa itu lebih dari sekadar siswa yang kerjanya hanya masuk kelas dan belajar, tapi tak lantas ada gelar maha, mahasiswa jadi merasa superior. kewajiban-kewajiban tambahan seperti, perlunya memperhatikan isu-isu yang berkembang di tanah air kita, mempelajarinya, memahaminya, menelaah, dan mengkritisi. mengkritisi itu wajib dan perlu selama berada di jalan yang benar tanpa ada campuran sentimen pribadi dan dengan pikiran dan nalar yang terbuka. jangan gampang ikut arus, gampang tersulut, gampang terprovokasi, gampang turun ke jalan bukan untuk mengkritsi tapi hanya untuk memenangkan ego pribadi atau buruknya, dibayar. mengkritisi butuh nalar, itu sebabnya mahasiswa wajib sekali untuk sering membaca di luar buku-buku kuliah yang kebanyakan hanya teori-teori yang sulit dipahami dan malah ditafsir secara asal-asalan. nah, di akhir kalimat ini, saya mengajak diri saya, dan seluruh mahasiswa yang membaca untuk kembali ke kodratnya: belajar-banyak membaca-memahami-baru mengkritisi! terima kasih.

Pria Tua yang Mati dan Kenangan yang diabadikan jadi Taman Kota

Pagi itu saya sedang menyirami mawar di teras depan ketika dua kompi pria berseragam yang menyebut dirinya aparat negara datang ke perkampungan kami. Saya tidak tahu mengapa mereka datang begitu ramai dan berisik. Mereka juga tidak meninggalkan sepatah sapa ketika melewati saya yang sedang menyirami mawar-mawar. Seorang di antaranya melihat saya dengan pandangan yang tidak menyenangkan ketika lewat di hadapan saya. Sungguh, aparat negara macam apa? Dikerahkan demi melindungi rakyat, tapi melihat saya seolah saya ini seonggok bangkai tikus yang tertinggal di jalan. Dia pikir lucu melihat seorang kakek tua begini menyirami mawar di halaman depan rumahnya? Atau dia mencibir tubuh ringkih saya? Heh, nanti tua juga tubuhnya begitu. Dia tak tahu saja siapa saya ini dan siapa saya di masa muda saya dulu! Lebih gagah dari dia!

Setelah menyirami mawar-mawar, saya hendak pergi ke kedai bubur ayam milik Pak Samin yang kalau malam berubah jadi tempat perempuan-perempuan cantik berpakaian minim ketawa cekikikan bareng banyak laki-laki. Bubur Pak Samin memang dikenal enak sejak saya dan mendiang istri saya masih muda. Sayang, Pak Samin tak panjang umur seperti saya, dia lebih dulu pergi setahun sebelum istri saya yang meninggal karena kanker apa itu, stadium empat. Tapi untungnya, Pak Samin sempat mewarisi resep bubur ayamnya pada Khofifah, anak perempuan satu-satunya. Walaupun buburnya terasa sedikit berbeda, tetapi tetap enak, juara nomor satu di kampung sini! Walah, dalah, ada apa ini kedai bubur Pak Samin kok tutup dan jadi markas kumpulan aparat negara begini? Mereka asik saja duduk, ngerokok, dan ngopi di situ, mungkin beli di warung rokok Samsul. Waduh, saya terpaksa mencari tempat sarapan lain. Tapi kok, nasi uduk Bu Yani juga tutup? Biyung! Perut saya sudah kruyuk-kruyuk begini. Lela, anak saya, belum mengunjungi saya minggu ini, dan sembako sudah habis semua. Ah, terpaksa saya membeli telor dan memasaknya sendiri. Oh, iya seingat saya, minyak juga sudah habis. Duhalah, biyung! Kenapa bisa tutup semua begini?

Setelah ke warung Pak Budiman, Bu Saleh, yang tutup, saya akhirnya ke warung si Bakrie, yang lumayan jauh dari rumah saya. Saya bilang mau beli telor seperempat, dan minyak curah satu kantong kepada istrinya, kebetulan yang sedang jaga warung itu istrinya. Dia bilang, tumben saya belanja di situ. Saya ceritakan saja, di mana-mana warung makan dan sembako tutup, hanya di sini yang buka.

“Lho, bapak emang belum tahu, ya?”
“Belum tahu apa ya, bu?”
“Kampung kita ini mau digusur!”

Digusur?

Saya diam. Kehabisan kata-kata. Bulu kuduk saya merinding. Membayangkan rumah saya yang satu-satunya itu hancur berikut dengan mawar-mawar dan kenang-kenangan kampung ini bersama kerabat, tetangga, dan mendiang istri saya.

“Kata polisi-polisi itu, tanah ini digusur karena milik pemerentah!”

Tanah pemerintah? Tanah yang selama ini saya tinggali selama hidup saya, dibilang tanah pemerintah?

“Katanya buat lahan penghijauan, Pak! Buat bikin taman!”

Pemerintah menggusur kampung halaman ini untuk buat taman kota? Untuk sebuah taman kota harus menggusur rakyat-rakyat kecil seperti saya ini? Saya yang cuma pandai merawat kenangan dan mawar-mawar peninggalan istri saya?

Untuk sebuah taman kota haruskah menghancurkan ratusan taman milik kami?

Suara tertawa istri saya yang masih muda dan cantik tiba-tiba terdengar. Kemudian suara tangis Lela yang masih bayi. Kemudian suara Bapak dan Ibu saya yang sudah lama sekali meninggal. Kemudian suara saya sendiri yang melamar mendiang istri saya di kedai bubur Pak Samin. Kemudian suara ‘iya’ dari mendiang istri saya yang malu-malu ketika menerima lamaran saya. Kemudian suara Lela yang tertawa dan giginya yang ompong itu dipamerkan kepada saya, lalu saya menciumi gadis kecil saya satu-satunya itu. Kemudian suara mendiang istri saya yang selalu bersenandung bila sedang menyirami mawar. Kemudian wajah istri saya yang bahagia. Kemudian kenangan-kenangan baik dengan tetangga-tetangga kami. Kemudian rasa nikmat bubur ayam Pak Samin sambil bersenda gurau bersama istri tercinta. Kemudian tangisan terakhir istri saya menjelang kematiannya. Kemudian wangi mawar yang merebak semenit sebelum kematian istri saya. Kemudia permintaan terakhir istri saya; tolong rawat dan jaga mawar-mawarku seperti kamu merawat aku saat sakit seperti ini, Bang. Tolong cintai mawar-mawarku seperti kamu cintai aku, Bang. Saya ingat, dik. Saya ingat. Tetapi…tanah ini mau digusur, berikut juga mawar-mawar kita.

Barangkali para penggusur itu tak memiliki kenangan. Seperti kita ini, dik.

Saya diam cukup lama di depan warung Bakrie dan tidak berkata apa-apa kecuali mendengar perkataan istri Bakrie tadi. Kata-kata ‘tanah ini mau digusur. tanah ini milik negara. mau dibikin taman!’ telah membuat dada saya sakit sekali. Seperti ada yang meremas jantung saya seperti siswa yang meremas kertas ulangannya yang cuma dapat nilai tiga. Reflek, tangan saya memegang dada bagian kiri, dan tak mampu bergerak lagi.

“Pak! Pak Sutoyo, Pak!”

Kemudian mereka semua mengerubung di hadapan saya yang sudah rubuh tak bergerak. Tetapi berita tidak pernah memuat jasad saya. Dan sebentar lagi kenangan kami diganti dengan sebuah taman kota. Selamat menikmati!

 

Depok, 22 Februari 2016

 

P.S : Cerita ini hanya fiktif belaka. Tetapi fiksi, tak terlalu berjarak dengan realita.

Biru Kue Velvet

Mereka melihat benda ini hanya sebuah botol berisikan cairan adiksi, yang sering mereka sebut alkohol, tetapi benda ini adalah cinta. Cinta pertama dan terakhir. Saya tertawa kecil ketika memberitahu ini kepada anda semua yang membaca. Kalian pikir saya sedang berkelakar? Sedang membual? Tidak. Sepenuh-penuhnya tidak. Anda semua tidak percaya, kan? Dia, yang kalian sebut hanya sebuah botol berisikan cairan adiksi ini, telah membuat saya bahagia lebih dari apapun dan siapapun yang ada di dunia beserta omong kosongnya ini. Dia, seorang botol yang mempunyai sayap di punggunya, membuat saya terbang ke langit yang berwarna merah muda dan awan-awan putih yang seempuk sofa di rumah anda atau bantal yang saat ini sedang anda tepuk-tepuk. Kedengarannya lucu. Tidak, tidak saya tidak sedang menjadi pelawak, pelenong, atau stand-up comedian di televisi. Anda semua tahu, saya hanya seorang penyanyi dengan lirik-lirik paling sedih di kota ini. Kota yang indah ini, para penyimak sekalian.

Anda mungkin mengira, saya depresi dan semacamnya. Kalau begitu, anda salah. Saya bahagia, hanya lagu-lagu saya saja yang menyedihkan. Lagu-lagu yang saya tuliskan sendiri, dan kalian dengarkan di radio, di mobil bersama kekasih kerabat atau keluarga tercinta, di televisi, di situs video, di mana pun. Saya bahagia. Saya bahagia. Hahaha. Baiklah, saya bohong. Kalian tahu? Saat saya menulis saya bahagia sebanyak tiga kali, saya sedang bersama kekasih saya. Kekasih tercinta yang memabukan. Haha, ya, saya menemukan beberapa botol anggur di meja setelah saya terbangun. Dan ketika saya meneruskan tulisan ini, saya baru saja pulang dari petualangan langit merah muda, bintang biru terang, hijau limun, kuning mentari, dan di langit itu, sepotong wajah bulan seperti wajah seorang yang sedang mabuk. Merah bersemu. Tetapi bulan itu tak putus-putus cekikikan sambil menyanyi. Entahlah, lebih tepatnya saya terbangun dari mabuk semalaman. Baiklah, saya bingung hendak menulis apa lagi, ya? Saya lagi tersadar, dan mendadak lebih dungu untuk menulis ketimbang saya yang lagi mabuk. Oh, ya, saya baru ingat, hari ini saya ada konser menyanyi, mengisi festival hari kasih sayang di kota saya. Lagu yang akan saya nyanyikan, tentu saja, Jantung Kekasihku dalam Tas Ransel Kekasihmu. Sebuah lagu yang menyedihkan tentang seorang perempuan yang membunuh orang yang sangat ia cintai, namun tragis, tak bisa ia miliki karena laki-laki itu telah memiliki perempuan lain. Perempuan itu kemudian membunuh laki-laki itu di hotel setelah mereka bercinta untuk kesekian kalinya, mencongkel dada laki-laki itu dengan pisau dapur seharga ratusan dolar, dan mengambil jantungnya. Jantung yang tak lagi berdebar. Perempuan itu berniat akan menaruh jantung merah yang lama-kelamaan menjadi pucat itu ke tas ransel kekasih laki-laki itu, tetapi perempuan itu keburu ditangkap polisi setempat. Itu tragedi nyata, saya katakan. Saya terinspirasi dari tragedi pembunuhan yang paling puitik oleh seorang chef di restoran ternama di kota ini. Kalian pasti pernah mendengarnya apabila kalian bukan pendatang atau imigran. Sebab pembunuhan ini berada di headline koran-koran selama sebulan.

Cinta adalah jantungmu,
yang merah delima sebagai bibir kekasihmu,
Ya Tuhan, saya ingin jadi pencuri
Pendosa bagi pertama dan terakhir kali
Mimpi menggenggam jantungmu yang berdenyut tiga kali,
Lalu semua saya akhiri

Begitulah isi di dalam buku harian perempuan pembunuh itu. Sungguh puitik, bukan? Barangkali karena St. Valentine adalah sebuah tanggal kematian seseorang yang telah memperjuangkan cintanya, saya akhirnya memilih lagu ini. Supaya anda, kalian, yang mendengar itu tahu bahwa, cinta itu berbahaya. Tidak ada cinta yang tak berbahaya. Saya mungkin bisa mati di diskotek, di meja, di kasur, di kamar hotel, atau di manapun karena kekasih saya. Ya, dia, seorang botol bersayap itu. Mungkin karena saya terlalu bergairah padanya dan menghabiskan banyak cairan adiksi lalu terkapar di meja bar, ataupun meja di ruang tengah rumah saya. Tak ada yang tahu. Tetapi anda, kalian, harus tahu. Cinta itu berbahaya. Cinta yang terlalu bergairah, cinta yang selalu terlalu selalu berbahaya.

Saya sudah terlalu banyak melalui jatuh cinta, segala macam jenis jatuh cinta. Orangtua saya juga begitu. He, keduanya berakhir mengenaskan oleh sebab yang sama. Cinta. Baiklah, saya akan memulai kisah saya di sini. Sssttt! Jangan katakan pada siapa-siapa! Berjanjilah? Janji? Ayo, kaitkan kelingkingku dan kelingkingmu sekarang! Nah, begitu… saya selalu melakukan hal semacam itu di masa kecil saya kalau saya sehabis memecahkan vas bunga, memecahkan guci, mencoret tembok rumah, memilok body mobil ayah saya, atau memasukan anak kucing ke guci besar di rumah. Saya berjanji, saya tidak akan nakal lagi. Tetapi orangtua saya mudah sekali ditipu. Tapi, anda, kalian semua, berjanjilah jangan membohongi saya. Janji? Kebohongan sudah banyak di dunia ini, jadilah diri sendiri, dan jadilah unik. Jujur itu, unik, karena dia langka.

Orangtua saya, maksudnya mendiang orangtua saya mati karena kebohongannya sendiri. Bumi, kalian tahu, akan melenyapkan orang-orang yang pandai menipu. Pertama, ibu saya. Terkutuklah saya, Ibu saya adalah penipu paling gila yang pernah saya kenal. Tetapi saya mencintainya seperti seorang anak kepada ibunya sendiri. Saya tidak menyalahkan mengapa ia berbohong. Karena cinta telah mengajarkannya begitu. Terakhir, saya bersamanya ketika ia mengantarkan saya ke sekolah pagi itu. Dia bilang, sepulang nanti saya akan dijemput oleh Ayah, karena dia sendiri ada urusan pekerjaan. Saya percaya. Ibu selalu pergi ke luar kota. Dan itu merupakan hal yang wajar bagi saya. Ibu suka berangkat pagi dan pulang siang hari keesokan harinya. Tetapi saya tidak memiliki prasangka bahwa ia takkan pernah kembali lagi. Saya ingat betul pakaian terakhirnya. Biru bersinar yang gelap. Bukan biru donker, bukan juga biru cerah. Biru yang berkerlip-kerlip tetapi gelap. Sekarang saya mengenang dan menamai biru itu dengan istilah ‘biru kue velvet’. Dia cantik sekali dengan gaun biru kue velvet. Seperti kue yang menggoda bagi kaum laki-laki yang kelaparan. Dan dia mati, disantap laki-laki kelaparan itu. Di sebuah hotel, di kota ini, sekarang berganti jadi gedung kafe yang tidak pernah laku. Di kota ini, semua mengenal sejarah sebaik mereka mengenal bagian tubuh mereka sendiri. Mungkin itu yang menyebabkan kafe itu tidak laku karena dibangun di atas jasad Ibu saya dan laki-laki yang kelaparan yang sedang bercinta yang dua-duanya telah menjadi abu. Oleh api yang merah. Di hari itu, kau tahu, tidak ada senja. Senja seakan berpindah ke atap langit hotel yang terbakar itu. Tempat bercinta Ibu saya dan laki-laki kelaparan, yang bukan Ayah saya. Itulah kebohongan pertama yang saya tahu.

Setelah hari naas itu, sehari setelah hari terakhir saya bertemu Ibu saya, Ayah saya tak pernah berbicara pada saya barang sepatahpun. Ia begitu muram dan jadi penyendiri. Selamanya ia duduk di bangku kesayangannya. Sebuah sofa tua dengan warna biru kue velvet yang warnanya hampir menjadi abu-abu karena menjadi begitu muram setelah kematian Ibu. Laki-laki kesepian itu selalu menyeduh kopi di dapur dengan menambahkan sesloki anggur, menyetel pemutar musik tua yang memutar lagu-lagu jazz sedih. Betapa Ayah saya mencintai Ibu saya. Karena ia selalu mendengarkan lagu-lagu ibu saya. Ibu saya seorang penyanyi jazz tak terkenal yang liriknya begitu sedih dan lagunya hampir setiap hari saya dengarkan setelah hari kematiannya di pemutar musik tua yang dinyalakan Ayah saya setiap pagi. Saya menghabiskan separuh masa remaja saya dengan membuatkan telur dadar dan sosis bakar untuk Ayah saya, selain melihat kematian dan mengingatnya sepanjang hidup.

Di sebuah pagi yang mendung, dingin menusuk kulit, dan seluruh penduduk kota harus mengenakan mantel agar tak mati kedinginan, saya justru menemukan mayat laki-laki di ruang tengah. Di sofa tua biru kue velvet. Hening. Saya seperti tercekik tangan saya sendiri. Padahal pagi itu saya belum membuatkan sarapan telur dadar dan sosis bakar, tetapi. Ayah saya mati tanpa sarapan. Hanya ada secangkir kopi, tiga botol anggur, dan botol kecil kosong yang tak bernama. Dan sebuah surat.

Saya pernah katakan padamu, Alexandrine, saya mencintaimu, saya mencintaimu, dan cinta selamanya berbahaya. Kamu mati bersama dia, dan saya akan mati sendiran di sofa favoritmu, yang kaubeli demi mengingat laki-laki itu yang menyukai warna biru seperti sofa di rumah kita. Saya mencintaimu, Alexandrine, semoga kita bertemu di neraka, dan saya akan membunuh laki-laki itu di sana. Dengan pisau kesukaanmu. Kamu selamanya istriku, di dunia, ataupun di neraka. Sampai jumpa.

  • Brian McAdam

Seluruh bekas-bekas kematian Ayah saya di sofa dan di meja akhirnya diangkut ke kantor polisi. Dan koran-koran kota itu kemudian menurunkan berita kematian Ayah saya berjudul: Pria Mati Bunuh Diri dengan Anggur Basi. Kemudia mengganti beritanya lagi dengan: Seorang Pria Mati Menenggak Racun. Bukan anggur basi.

Bertahun-tahun kemudian, setelah kematian sejoli yang tidak saling mencintai, karena Ibu saya tidak mencintai Ayah saya, saya menemukan buku besampul hitam dengan corak bunga tinta perak. Buku rahasia Ibu saya. Di situ ada hal-hal yang mengejutkan. Sangat mengejutkan.Termasuk catatan ini, yang disadur dari isi catatan Chef Pencuri Jantung Kekasihnya:

Cinta adalah jantungmu,
yang merah delima sebagai bibir istrimu, di pesta pernikahanmu,

Ya Tuhan, saya ingin jadi pendosa
Pecinta bagi pertama dan terakhir kali yang penghabisan di tubuhnya
Mimpi menggenggam jantungnya yang berdenyut tiga kali,
Lalu semua saya akhiri

Rialtoputico Hotel, 02:01 a.m
Sampai jumpa, Malaikat. Kutitip putri kecilku.
Dan suami yang tak mampu kucintai dia daripada kau.

 

Saya terbangun dan menemukan tulisan ini. Semalaman saya mabuk. Saya tidak menyangka, kalau saya yang menulis ini. Tetapi, ini dia. Daripada saya hapus, lebih baik untuk kalian baca. Supaya kalian tahu, cinta yang terlalu selalu berbahaya. Hati-hati.

 

 

—END—

Depok, 17 Februari 2016

 

*Cerpen ini hanya fiktif belaka namun terinspirasi oleh lirik lagu Lana Del Rey berjudul: Blue Velvet*

“Blue Velvet”

She wore Blue Velvet
Bluer than velvet was the night
Softer than satin was the light
From the stars

She wore blue velvet
Bluer than velvet were her eyes
Warmer than May her tender sighs
Love was ours

Ours a love I held tightly
Feeling the rapture grow
Like a flame burning brightly
But when she left gone was the glow of

Blue Velvet
But in my heart there’ll always be
Precious and warm a memory through the years
And I still can see Blue Velvet through my tears

sdjfk