Kisah Cinta Perempuan Itu dan Sikap-sikap Buruknya

Sudah duabelas kali hatinya dihancurkan. Sebenarnya limabelas kali, tetapi ketiga sisanya dia yang menghancurkan sendiri sekaligus meremukkan hati ketiga laki-laki itu. Bukan kemauan dia sebenarnya. Hanya saja, entah mengapa, semua laki-laki yang dikencaninya mengaku tidak betah dengan sikap-sikap buruk dia.

Seperti perempuan kebanyakan, dia juga sama seperti perempuan kebanyakan. Dia ingin diterima apa adanya. Seperti ketika dia menginginkan laki-lakinya menerima dia ketika dia menumpahkan sikap-sikap buruknya di permulaan kencannya. Dia, kubilang, seperti perempuan kebanyakan. Biasa saja. Tidak ada yang berbeda, kecuali ekspektasi limabelas kekasihnya.

Dia seperti halnya perempuan pada umumnya. Memiliki payudara dan lubang, tentu saja. Senang berdandan dan gemar belanja. Memiliki hobi dan berkegiatan seperti biasa. Tapi tentu, ada hal-hal yang tidak bisa disamakan dengan perempuan pada umumnya. Sama, seperti perempuan pada umumnya yang tidak dapat disamakan satu-sama-lain. Hal-hal buruk ini lah yang membuat dia kerap berganti pasangan. Hal-hal buruk ini lah alasan dia menerima hatinya dihancurkan. Hal-hal buruk ini lah yang dia pertahankan demi kelangsungan menjadi dirinya sendiri.

Dia seperti halnya perempuan pada umumnya, namun di kala bersamaan, dia tidak seperti perempuan pada umumnya.

Dia memiliki payudara dan lubang, tentu saja. Senang berdandan bila hendak keluar rumah dan kencan, tentu saja. Gemar belanja, amatlah lazim bagi seorang perempuan. Tetapi barang belanjanya bukan pakaian seperti perempuan pada umumnya. Dia menghabiskan separuh gajinya demi buku-buku. Buku-buku yang dia beli setiap bulan-setiap minggu-setiap dia mampir ke toko buku- dibiarkannya menumpuk di rumah kontrakannya. Di meja tamu, di lantai, di kolong kasur, di atas lemari, di atas mesin cuci, di atas rak sepatu, di mana saja. Tapi dia hanya punya dua puluh tiga potong baju atasan, dua potong jeans, dan tiga pasang baju rumah. Dan selama dia memiliki gaji setiap bulan, dia tidak hendak menambahkannya.

Dia memiliki hobi seperti perempuan pada umumnya. Di samping senang membaca, dia juga hobi sinis. Nyinyir, walaupun dalam KBBI, arti nyinyir bukan sinis. Sarkas. Dia tidak segan ngomong goblok, anjing, bangsat, tolol, serta beruk-beruk umpatan lain yang tidak sempat dituliskan di kamus maupun kitab mana pun, bila diperlukan. Dia jorok. Jarang mandi bila tidak ada hal-hal penting seperti acara keluarga, kedatangan tamu, atau ada kencan. Jarang memoles tubuhnya dengan benda-benda ajaib di salon atau ruang spa. Dia, bahkan, tidak akan mengeluh, berteriak manja, mencakar kuku ke tembok, bila rambut yang dipotong di salon terlalu pendek karena ketidaksengajaan pegawai salon. Dia malah bilang; bondol saja lah mbak, lebih asyik.

Sudah duabelas kali hatinya dihancurkan. Sebenarnya limabelas, tetapi tiga sisanya dia yang menghancurkannya sendiri. Tujuh mantan kekasihnya mengaku menyerah dengan sikap-sikap buruknya selama hampir dua pekan. Empat mantan kekasihnya bosan dengan kemonotonan hidupnya selama hampir tiga pekan. Dan tiga sisanya, dia tidak pernah yakin dengan ketahanan laki-laki terhadap sikap buruk dan kemonotonan hidupnya. Dan dengan mantap, dia memutuskan perkaranya dengan ketiga laki-laki itu dalam jangka waktu masing-masing hampir sepekan.

*

Satu bulan setelah dia menganggur dari percintaan, dia pikir, dia tidak mau mulai lagi. Tetapi yang namanya hati, yang namanya takdir, yang namanya kebetulan tidak akan pernah tidak kita lewati dan bisa ditebak.

Namanya Galih. Dia bertemu dengan laki-laki itu di suatu minimarket di stasiun Cikini. Mereka sama-sama ingin menyeduh pop mie dan kopi instan setelah lelah bekerja dan malas berdesakan di kereta. Sayangnya, atau barangkali ini sebuah kesengajaan langit, mesin air panas di minimarket itu mati dan baru saja selesai diperbaiki. Artinya, mereka berdua sama-sama ingin menyeduh pop mie dan kopi instan tetapi harus menunggu mesin itu dinyalakan dan memanaskan airnya selama beberapa waktu yang telah ditentukan oleh pegawai minimarket itu.

“Mohon maaf kak, mesin air panasnya baru dinyalakan. Ditunggu saja 30 menit,” kata pegawai itu ramah.

Dalam hati perempuan itu, dia mengumpatkan beruk-beruk umpatan yang tidak sempat dicetak dalam kamus besar atau kitab manapun.

Dalam hati laki-laki itu, saya, sebagai pencerita, tidak tahu, mohon maaf sekali. Laki-laki ini sangat misterius, semoga pembaca maklum.

Sambil menunggu, perempuan dan laki-laki itu duduk menunggu di kursi yang disediakan di minimarket tersebut. Perempuan itu terpaksa memesan susu dingin dulu demi mengisi kekosongannya. Laki-laki itu duduk santai. Ia meletakkan tas, dan mengeluarkan sebuah novel. Perempuan itu juga duduk kesal, sambil minum susu rendah lemak, meletakkan tas, dan mengeluarkan sebuah novel.

Apakah langit sedang bercanda? Atau sedang menulis naskah cinta-cintaan?

Mereka berdua tidak tahu. Yang mereka berdua tahu hanyalah, novel yang mereka akan baca itu sama-sama karangan Tutu Bijaya. Judulnya, Stasiun. Perempuan itu membuka halaman 184, dan laki-laki itu membuka halaman 84.

Saat itu, memang langit sedang coba-coba membuat naskah cinta. Tetapi, ayolah, jangan terlalu banyak kebetulan!

Dan mereka berdua hanya menikmati takdir itu dan tidak mengirakan atau mempersangkakan langit.

Dari situ. Dari situ lah cerita bermula.

Dan pertanyaan ini bermula. Ayo, apa kalian, pembaca, mampu menjawabnya secara acak atau sistematis?

  1. Apakah mereka akan bersama?
  2. Apakah laki-laki itu menjadi laki-laki ke-tigabelas?
  3. Apakah laki-laki itu menjadi laki-laki ke-empat?
  4. Apakah laki-laki itu dihancurkan atau menghancurkan?
  5. Apakah perempuan itu akan menghancurkan atau dihancurkan?
  6. Apa kisah ini akan berakhir bahagia?
  7. Apa kisah ini akan berakhir sedih?

 

1a

 


Depok, 23 Oktober 2016

 

Suatu Hari di Ruang Redaksi

Seorang laki-laki setengah baya, rapi, dan klimis, tiba-tiba datang. Masuk ke dalam ruang rapat. Ia tersenyum. Tidak, tidak, lebih tepatnya menyeringai. Kita, semua yang ada dalam ruang rapat seketika terperangah kemudian saling berpandangan. Si pemimpin rapat, yang terkenal galak betul, tiba-tiba mukanya kusut dan mrengut.

“Saya habis membunuh istri saya. Tolong angkat saya jadi headline!” kata laki-laki setengah baya itu, sambil tetap tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai. Dingin. Girang!

Seketika saja ruang rapat bergemuruh dengan tawa. Di situ ada Sony Marpaung Redaktur Rubrik Nasional, Imran Hakim Redaktur Metropolitan, Isro Basuki Redaktur Pelaksana, Muis Sadikin, saya, dan jajaran redaksi lainnya. Semua tertawa. Bapak-bapak ini gila atau bagaimana? Apakah dia benar-benar membawa berita sungguhan? Atau lelucon semata?

“Bapak dari mana?” tanya salah satu kawan saya. Iseng. Orang gila kok ditanggapi.

“Saya dari gang Haji Salim. Istri saya masih tergeletak di sana, kalau bapak-bapak mau membuktikan,” katanya meyakinkan. Kita semua berpandangan. Ini sungguhan kah?

“Mengapa bapak ke sini? Bukan ke kantor polisi?” Sony menambahkan. Saya diam saja, memperhatikan. Kira-kira apa mau bapak ini?

“Saya mau masuk koran!” laki-laki tua itu menjawab tegas setegas-tegasnya.

“Masuk koran?”

“Ya!”

“Dengan cara apa bapak membunuh istri bapak?”

“Saya ajak bercinta, kemudian saya lubangi dadanya pakai pisau dapur. Pisau bekas saya bekerja. Harganya mahaaaalll sekali! Berkilat-kilat, mengkilau, dan berdarah!” laki-laki itu cengengesan. Saya bergidik. Orang gila!

Kami, di ruangan ini, masih berpandang-pandangan. Bertanya-tanya lewat tatapan. Mas Isro kemudian mengajak dia ke luar dari ruang rapat dan mengajaknya bercakap-cakap. Wajah bapak itu dingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas Isro. Dia sesekali mengangguk, tersenyum, terkekeh-kekeh. Muka Mas Isro yang tegang. Dengan suara berat dan intimidatif, Mas Isro memanggil Imran Hakim dan saya. Kami berdua ditugaskan membuktikan omongan bapak ini. Yang artinya, kami berdua harus datang ke gang Haji Salim nomor 12, dan membuktikan ada tidaknya mayit perempuan yang tergeletak di sana.

Kami bergerak ke lokasi menggunakan sepeda motor karena tidak terlalu jauh dan tidak memakan waktu. Rumah itu ada di pojok gang Haji Salim. Jalanan sepi, tak ada orang yang berlalu lalang. Dari jauh, kami tak mencium gelagat yang mencurigakan, misalnya bau amis darah atau bangkai. Namun ketika berjarak beberapa langkah dari rumah nomor 12 itu, kami samar-samar mencium bau bangkai dan amis darah.

Rumah nomor 12 itu tidak terkunci tapi tertutup. Pagar hijau tua itu ditutup rapat dan dislot, sedang pintu rumah warna merah maroon itu tertutup tanpa meninggalkan kesan mencurigakan sedikit pun. Kami mengetuk pintu terlebih dahulu. Takut-takut kalau bapak itu bohong dan di dalam ada pemilik rumah. Kami mengetuk pintu namun hingga lima menit menunggu tetap tidak ada jawaban sama sekali.

Akhirnya kami memutuskan masuk. Memutar knopnya perlahan-lahan. Bau itu benar-benar ada. Bangkai dan bau amis darah. Kami mencari sumber bau itu. Bau dan kerubungan lalat itu ternyata berpusat di dapur.

Perempuan muda. Cantik. Sintal. Ranum. Terbuka. Dan berdarah. Bangkai manusia!

*

“Benar kan?” bapak itu tersenyum.

“Orang gila!”

“Kita amankan bapak itu di sini. Nurdin dan Imran sedang ke kantor polisi.”

*

Detik itu juga, turun sebuah berita lelucon: Seorang Pria Membunuh Istri Demi Masuk Koran. Bapak itu senyum-senyum di dalam lapas.

“Ini saya! Masuk koran!” bapak itu terkekeh kepada teman satu lapasnya.

“Orang gila!” teman satu lapasnya itu mengumpat.

*

Seorang perempuan setengah baya mendatangi kantor. Ketika rapat redaksi keesokan hari setelah berita itu turun. Ia mengaku bekas istrinya. Istri ketiga. Memang, diketahui, mayit perempuan itu adalah istri kelima tersangka. Motif pembunuhannya adalah mental si tersangka yang diketahui mengidap psikopat. Kronologinya tak dijelaskan di koran, karena akan menimbulkan dampak sosial yang membahayakan.

“Yang anda beritakan itu suami saya,” kata perempuan itu.

“Ibu ini….siapa?”

“Saya istri ketiga bapak itu.”

“Mengapa datang ke sini?”

“Karena kami yang merencanakannya.”

“Anda kongkalikong?”

“Ya… kami ingin rujuk.”

“Anda otak pembunuhan itu? Tapi bapak itu tidak menyebut-nyebut nama ibu…”

“Ya, memang. Dia egois! Dia ingin menguasai laman koran sendirian, dan tanpa aku.”

“Sebentar…tanpa ibu? Maksudnya?”

“Saya juga mau masuk koran!”

Lelucon apakah ini, Tuhan?

conference20room_s

 

-fin-

Depok, 2016

Sebuah Kisah Cinta yang Bukan Kisah Cinta Biasa

Thalia
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak menyangka kalau kita menggulung kisah ini secepat menggulung karpet atau menggulung kalender atau menggulung kertas yang tak lagi dipakai. Apa kau bakal menyangka seperti ini? Apa kau menulis puisi untukku? Apa kau sedih ketika meninggalkanku? Apa kau menangis? Apa kau selalu merinduiku, seperti yang selalu kau ulang-ulang ketika kau mau pulang ke kotamu? Apa kau bahagia hari ini?

Dhanis
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku selalu berpikir, kaulah yang nanti memiliki seluruh pagi dan malamku. Aku selalu berpikir, kaulah tempat segalaku berbagi. Berbagi kegembiraan, kesedihan, dan kekosongan-kekosonganku. Apa kau masih menyimpan puisi-puisiku? Apa kau akan menangis ketika membacanya ulang? Apa kau masih ingin membacanya lagi? Apa masih kau simpan? Aku membuatkanmu tujuhbelas puisi selama satu tahun kita tak lagi berjumpa dan bercumbu. Puisi-puisimu, masih rapi tersimpan di laciku. Bersama foto-foto kita. Bersama puisi-puisiku yang tak pernah kukirimkan.

Bandara Soekarno – Hatta, 14 Desember 2015:

Dhanis
Aku tidak menyangka bakal begini jadinya. Pertengkaran kemarin adalah hal yang tak pernah kuduga-duga ketika aku kemari. Aku hanya mengharapkan peluk hangatmu, dapur hangatmu, ranjang hangatmu. Tapi kau siksa aku dengan dinginmu. Dinginmu, kau tahu, seperti dinding, aku tak mampu leluasa menyentuhmu lagi. Saat itu, kali terakhir aku mencium tengkukmu, saat itu pula aku tahu bahwa jiwamu tak lagi bersamaku. Hanya ragamu. Hanya raga dan kata-katamu yang semua bohong.

Thalia
Maafkan aku, Dhanis. Pertengkaran kemarin seharusnya tidak terjadi. Dan kepulanganmu seharusnya bukan hari ini. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Maaf aku tidak memelukmu yang lama dan erat seperti biasanya. Maaf aku tidak memintamu tinggal. Maaf aku tidak sempat meminta maaf.

15 Januari 2013

Thalia
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Dhanis. Pemilik nama itu yang menebus hatiku dari jerat-jerat masalalu dan krat-krat bir yang selalu kuminum setiap malam. Dhanis sangat baik, supel, dermawan, dan mampu membuat kedua mataku tak berpaling darinya ketika dia berbicara. Ini gila. Ini tidak pernah terjadi. Daya pikatnya kurasa terbuat dari serbuk ajaib yang terbuat dari rumah kurcaci atau peri-peri baik. Dia selalu menatap mataku ketika berbicara. Matanya tersenyum. Kupikir mata itu hanya laut dangkal, tetapi nyatanya sungai yang deras. Lima menit pertama aku terseret, lima menit kedua aku hanyut, lima menit ketiga aku tenggelam, lima menit keempat aku masuk ke dalam samudranya, dan lima menit kelima aku rasa aku tidak akan bisa kembali lagi. Ini sungguh gila, kan? Apa jatuh cinta segila ini?

Dhanis
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Yang benar saja, dia membaca Haruki Murakami dari Norwegian Wood hingga 1Q84, Emily Dickinson, dan Robert Frost. Yang benar saja, dia mendengarkan musik The Smiths, Simon & Garfunkel, The Everly Brothers, dan Bob Dylan. Yang benar saja, dia menggilai lagu-lagu Morissey. Yang benar saja, kita berdiskusi dari lepas pagi hingga semua toko tutup. Matanya, ada yang mengganjal di sana. Barangkali kesedihan. Dia seperti menyembunyikan kegelapan dalam matanya. Lima menit pertama, aku tak dapat melihat sama sekali, lima menit ke dua aku tersesat, lima menit ketiga aku kelimpungan, lima menit keempat aku mulai menikmati gelap itu, lima menit kelima aku menemukan cahaya. Cahaya itu bersinar setitik saat kita bertatapan. Ah, apakah ini ilusi melankolia saja? Atau memang jatuh cinta segila ini?

Maret, 2013

Thalia
Ada yang ingin meledak dalam tubuhku. Kau memasukkan puisi ke dalam tubuhku. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin meledakkan diriku saat itu juga. Puisi yang sunyi. Seperti malam dan hujan rintik-rintik turun bersamaan dari langit. Heningnya membuat terpaku. Kau menatapku. Sekali lagi, aku tidak ingin kembali. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

Dhanis
Ada yang ingin pecah dalam tubuhku. Aku memasuki belantara hutan paling gelap. Paling rimbun. Paling basah. Paling dingin. Dan paling berangin. Aku duduk di salah satu batunya dan menulis puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin menggetarkan hutan. Menggetarkanmu. Kemudian puisi paling sunyi. Puisi yang meninabobokanmu dalam rengkuhaku. Dalam selimut hangat kita. Pejammu sehening laut mati. Aku ingin berenang di sana dan tak kembali lagi. Mati pun boleh saja, aku tak keberatan. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

April 2013

Thalia & Dhanis
Kita tidak ingin meminta apa-apa lagi. Rasanya sudah lengkap. Kami saling mengisi kekosongan satu sama lain. Kami saling menukar kado. Isi kado itu selalu cerita yang Thalia bawa, atau Dhanis bawa setelah tak berjumpa. Thalia di Jakarta, Dhanis di Manado. Seminggu sekali kita bertemu, berciuman, berpelukan, bercinta. Kadang dua minggu sekali. Jarak tidak melunturkan cinta kami, kami yakin itu.

Thalia
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa kembali. Ketika kau pulang ke kotamu, aku akan terus tenggelam mencintaimu. Hari ini kau akan kembali ke Manado. Aku sudah buatkanmu bekal makan masakanku dan puisiku. Ada tiga puisi.

Dhanis
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa melihat dengan jernih. Ketika aku pulang ke kotaku, aku akan terus tersesat mencintaimu. Hari ini aku kembali ke Manado. Kita akan berpisah. Terima kasih bekalmu. Nasi goreng telur hangat yang enak. Aku sudah menyelipkan tiga puisi di buku puisi Lang Leav yang kuberikan padamu. Oh iya, aku akan membawakanmu masakan khas Manado ketika aku kembali. Tapi bukan masakanku, melainkan masakan ibuku, karena aku tidak bisa memasak, hehehe.

September 2014

Thalia & Dhanis
Terbukti, jarak tidak melunturkan cinta kami. Mungkin resepnya adalah puisi. Sudah tradisi kami, ketika hendak berpisah, masing-masing kami menulis puisi untuk dihadiahkan ke satu sama lain. Ini resep agar cinta tidak cepat luntur dan awet. Lagi pula, dalam diri kami tidak hanya ada cinta. Tetapi ada pula rasa persahabatan dan persaudaraan yang terjalin begitu saja. Kami, misalnya, bisa saja berdiskusi dari semua toko buka hingga semua toko tutup. Yang dibicarakan ada saja. Buku, musik, puisi, politik, kesenian, ekonomi, sosial budaya, soal-soal remeh keseharian, ya begitu lah. Kadangkala, bisa saja kami bertengkar seperti sepasang kakak adik yang rebutan remot tv, perkara rebutan makanan, perkara remeh yang membuat kami saling cemberut satu sama lain. Tapi tak pernah lama. Satu-dua jam, mungkin kami akan kembali tertawa dan bercinta di kamar tidur, kamar mandi, atau sofa. Thalia senang sekali di sofa. Kalau Dhanis lebih senang di kamar mandi.

Januari 2015

Thalia
Hampir sebulan kita tak bertemu. Apa kau rindu padaku? Kau selalu bilang, ‘aku selalu merindukanmu. I’ll miss you’. Kau selalu bilang, hari-harimu tidak pernah tidak dipenuhi rindu. Benarkah? Mengapa kini kau sibuk sekali? Tenggelam dalam rutinitasmu dan pekerjaan-pekerjaanmu. Mengapa semakin hari kau semakin dingin saja? Aku ingin datang ke Manado dan mengambil cuti kerja, tetapi kau selalu katakan jangan. Kau selalu bilang ‘aku sibuk. minggu depan aku akan datang ke Jakarta. Tunggu saja,’ katamu. Tapi, hei, ini sudah dua minggu!

Dhanis
Hampir sebulan kita tak bertemu. Aku sangat rindu padamu. Aku akan menemuimu, tapi tidak minggu ini. Maafkan aku. Wajahmu pasti sedang memasang raut kesal. Membayangkannya, aku ingin mencubit pipimu dan menenggelamkan wajahmu ke wajahku. Kau akan memasang wajah cemberut, dan aku akan memelukmu. Memelukmu erat. Dan kuyakin kau akan menangis dan memukuli punggungku. Kau benci punggung. Itu kan yang kau tulis di puisi-puisimu padaku? Belakangan ini aku memang sedang sibuk. Kuharap kau tak memiliki prasangka buruk kepadaku. Aku sedang mempersiapkan ini untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan kita. Untuk percakapan yang panjang, pagi yang lebih panjang, senja yang selalu merona, dan malam yang duakali lipat lebih hangat dan panjang. Rasanya dunia kita tidak memiliki siang. Tidak memiliki terik. Aku harap kau tabah menungguku. Aku akan kembali dan tersesat.

Agustus 2015

Thalia
Dhanis, entah mengapa ini rasanya lain bagiku. Asing. Asin.

Dhanis
Thalia, apa yang berubah darimu? Entah mengapa ini rasanya lain.

September 2015

Thalia
Apakah kita bisa jatuh cinta kepada dua orang secara bersamaan? Aku rasa, aku tidak bisa meneruskan ini, Dhanis. Tapi, apa yang terjadi denganku bila tanpa kamu? Aku rasa aku tidak bakal mati, tetapi aku akan kehilangan.

Dhanis
Kau bilang, aku adalah samudera di mana kau tak bisa kembali. Thalia, apa kau kini menemukan sebuah perahu dan berniat kembali?

Oktober 2015

Thalia
Aku tidak sanggup untuk tidak kembali. Aku ingin kembali. Aku tidak bisa berenang.

Dhanis
Proyekku gagal sudah. Maafkan aku Thalia, mungkin aku tak akan datang ke Jakarta dalam jangka waktu yang ditentukan. Aku perlu sendiri. Aku perlu merenung. Aku perlu memperbaiki.

November 2015

Thalia
Saat kau kembali ke Jakarta, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kulihat wajahmu dan tanganmu melambai, aku tak bisa menyunggingkan senyum tulusku. Tapi aku tetap tersenyum. Senyum palsu. Kau merasakan itu?

Dhanis
Saat aku kembali ke Jakarta, aku ingin segera memelukmu erat-erat. Tetapi ada apa matamu, Thalia? Gelap. Mengapa tak ada cahaya lagi? Aku seperti menemukan kegelapan yang sama saat pertama kali kita bertemu di bar itu. Bar tempat kau mencurahkan segala kesedihanmu dalam krat-krat bir di meja. Karena itu, aku tak jadi memelukmu. Hanya menggenggam tanganmu. Pelan.

Thalia
Saat kau memelukku, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kuliahat matamu, ternyata aku tidak terseret lagi. Aku sudah kembali ke daratan. Pun ketika kau masuki aku. Kau hentak-hentak tubuhmu ke dalam aku. Kau ciumi seluruh tubuhku. Kau hinggapi tengkukku berlama-lama. Telanjang. Basah. Berdenyut. Dan berdebar. Aku tidak akan meledak, tetapi aku berpura-pura meledakkan diri. Kita tidak bercinta. Bukan dalam artian sebenarnya. Kita tidak bercinta. Kita bersenggama.

Dhanis
Saat aku memelukmu, aku hanya merasakan dingin. Ketika kulihat matamu, gelap itu kini kembali menjadi dinding. Tembok batu. Keras dan tak tertembus apapun. Pun dengan sentuhan-sentuhanku yang katamu adalah puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut dan berdebar. Aku ingin menggetarkanmu lagi, tapi ku rasa kau hanya pura-pura bergetar. Kurasa kita tidak sedang bercinta. Tetapi bersenggama.

Desember 2015

Thalia
Sampai sini saja.

Dhanis
Sampai sini saja?

Sepanjang 2016

Dhanis
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Thalia. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Thalia hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Thalia, hanya Thalia yang mampu membuatnya. Perempuan itu bernama Rani. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Tahun depan aku akan menikahinya. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin, waktu satu dua hari pun tidak cepat bagimu.

Thalia
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Dhanis. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Dhanis hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Dhanis, hanya Dhanis yang mampu membuatnya. Laki-laki itu bernama Romi. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Minggu ini dia melamarku. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin. Aku dan Romi sudah yakin. Kami sepakat menikah tahun depan.

large

 

—END—

 

Depok, 14 Oktober 2016

 

Penulis yang Ganjil

Dia yakin akan hidup selamanya. Dia sangat percaya pada kata-katanya. Kata-kata, pikirnya, akan mampu memberi dia napas selamanya bahkan hingga raganya sudah diantar ke liang lahat. Dia sangat menyakini itu, maka dia tidak pernah berhenti menulis.

Selama hidup, dia hanya berkawan sepi dan kata-kata. Kawan sepermainannya sangat sedikit, bisa terhitung oleh jari. Dari dulu, dia memang tak pandai bergaul. Tak pernah mau repot berbasa-basi dengan orang lain. Menghindari kemunafikan, sebutnya.

Awalnya, dia pun heran dengan dirinya sendiri. Mengapa dia bisa sebegitu anti dengan orang lain, padahal mereka pun manusia. Dan anehnya, dia, sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Maka itu, tulisannya selalu tentang polah dan peristiwa manusia dan kemanusiaan. Tapi ia kesal lihat orang lain!

Setelah kerajingan jalan-jalan di internet lewat smartphone yang dia beli tempo lalu, ia jadi tahu mengapa ia sebegitu anti berhubungan dengan orang lain. Mengapa dia begitu khawatir berdekatan dengan orang lain. Akhirnya, dia menyebut dirinya introvert. Tak lama kemudian, dia mendaku-daku memiliki penyakit kejiwaan bernama Social Anxiety Disorder (SAD), yaitu penyakit yang membuat penderitanya selalu memiliki kekhawatiran berlebih bila berkomunikasi dengan orang lain. Ketika dia melihat keterangan itu di internet, dia langsung sumringah. Dia merasa kalau dia baru saja mampu mengenali dirinya sendiri. Dia seperti terlahir kembali.

Dia menelan segala informasi itu. Segala detil informasi itu terpenrinci masuk ke dalam batok kepalanya, rongga dadanya, dan celah-celah jiwanya. Dia menyebarkan informasi itu kepada orangtuanya yang sering mengeluhkan prilakunya yang enggan bersosialisasi. Dia menceritakan informasi itu kepada teman-temannya, agar mereka maklum atas sikap anehnya, atau agar mereka maklum ketika dia tiba-tiba tidak ingin diganggu gugat oleh siapa-siapa. Dia mengabarkan itu kepada kekasihnya, dan ia menambahkan embel-embel, seperti “sekarang kamu tahu kan kenapa aku tidak mau diajak ke rumahmu? bertemu saudara-saudaramu membuat aku tersiksa. Bukannya aku tidak serius, tapi nanti pasti ada waktunya.”

Awalnya mereka semua mafhum dengan penjelasan yang dia jelaskan dengan semangat. Tapi lama-kelamaan, dia jadi semakin tertutup. Semakin tertutup. Tertutup. Orangtuanya menuntut dia yang tertutup untuk terbuka mencari pekerjaan. Kekasihnya mengeluhkan bahwa dia telah berubah jadi semakin pendiam dan tertutup, kekasihnya menuntut dia yang tertutup menjadi kembali terbuka. Tapi dia bilang, tertutup dan terbuka adalah lawan kata yang mustahil disamakan. Dan dia tertutup. Orang lain tidak boleh mencoba membuatnya terbuka. Terbuka hanya memperparah penyakitnya, belanya di pikiran dia.

Orang-orang terdekatnya memberi saran, “Lawan SAD yang kau bilang! Itu omong kosong!”

“Kamu hanya memberi makan takutmu. Dan dia bisa hidup lebih kuat dari kamu!” begitu kata orangtuanya.

“Kamu tidak akan berubah kalau kamu tidak menkehendaki itu..” kata kekasihnya.

Tapi dia bersikeras.

“Kalian semua tidak merasakan. Yang tidak merasakan, tidak bakal mengerti!” Jiwanya tertekan.

Tapi ia tidak berhenti menulis. Hanya itu cara yang dia yakini mampu mengobati rasa kecewanya terhadap orang sekitar. Ia menulis terus. Setiap hari. Setiap matahari hampir sampai di atas kepala. Sampai menjelang malam. Omongan semua orang hanya dianggap angin lalu. Bagi dia, hanya sepi, kata-kata, dan kopi untuk menemaninya kuat begadang. Untuk apa lagi kalau bukan menulis? Dia menulis. Mengirimkan puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, esai-esainya ke surat-surat kabar, ke penerbit buku, ke tempat yang mau menerima tulisannya. Dia menyentuh dan menyinggung berkali-kali tentang hakikat kemanusiaan tanpa ia mau bersentuhan dengan manusia. Tapi dia mengerti, dia mengerti lewat bacaan-bacaan dia. Hanya itu! Dan sedikit perbekalan yang dia jadikan pengalaman.

Dia tidak memiliki kawan di dunia perbukuan, di dunia tulis menulis. Dia berjuang sendiri mengantar karyanya ke halaman-halaman Koran Minggu. Dia disarankan untuk ikut acara diskusi buku atau pelatihan menulis. Dia bersikeras menolak dengan alasan, semua itu hanya omong kosong untuk mengisi pundi-pundi rupiah si empunya acara atau penulis bersangkutan, karena dunia tulis menulis tidak mampu mengisi dompet mereka. Ya, dia sesinis itu. Dia sepesimis itu.

Tahun pertama nihil. Tidak ada yang mau memuat karyanya. Bukan tidak bagus. Karya dia jelas brilliant bagi dia sendiri dan beberapa kawan yang membaca. Tahun kedua, ada satu dua surat kabar yang mau memuat karyanya. Selebihnya tidak ada lagi. Tenggelam dengan nama-nama sastrawan muda dan baru. Selebihnya ia lelah menulis. Ia memberi dirinya rehat selama beberapa bulan tidak menulis.

Orangtuanya makin gencar menuntutnya tidak menganggur. ‘Cari kerja! Percuma sarjanamu!’ Oh iya, dalam riwayatnya, memang dia seorang sarjana komunikasi dengan ipk yang tidak buruk-buruk amat. Sarjana. Komunikasi. Dua kata yang seharusnya membuat dia mumpuni untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama manusia. Atau mumpuni pula untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah yang banyak.

Kekasihnya semakin gencar mengeluhkan dia bahwa dia tak sama sekali ada upaya untuk mengubah dirinya agar lebih baik. Dia bingung, “lebih baik yang bagaimana? Aku ini sudah melakukan yang terbaik. Kamu tidak pernah tahu. Kamu hanya senang menuntut!”
Kemudian dia ditinggalkan. Dia berusaha tegar. Dia membela dirinya, “alah, perempuan itu, saya tidak butuh perempuan yang banyak menuntut. Saya hanya butuh kekasih yang menerima saya apa adanya. Tidak banyak menuntut. Dan cukup bahagia bersama saya, kesepian saya, dan kata-kata saya.”

Ia akhirnya keluar dari rumah. Ia pamit kepada orangtuanya untuk merantau. Orangtuanya tak yakin sebenarnya, tapi mereka juga sebal bila bujangnya hanya berdiam diri di rumah. Jadi mau tak mau mereka merestuinya dan memberikan sedikit uang untuk biaya hidup dia selama beberapa bulan, selebihnya dia yang berusaha.

Di tempatnya merantau, dia menyewa kos paling murah. Ruang sempit. Hanya ada satu alas tidur, satu almari kecil, dan satu gantungan baju bekas orang yang dulu menyewa. Kamar mandi luar.

Kesendirian yang mewah itu membuat dia lebih rajin menulis. Lebih produktif menulis. Dalam satu hari dia bisa menulis 2 cerpen, 3 puisi, dan 1 esai. Bukan main! Semuanya dia kirim ke surat kabar. Besok dan besoknya seperti itu lagi. Hasilnya lumayan. Satu-dua-tiga minggu, karyanya dimuat. Upahnya dibelikan kuota internet, buku-buku, dan sekali dua menulis di kafe. Beberapa pembaca koran Minggu menyukai karyanya, sisanya lebih menyukai karya karangan sastrawan terkenal atau penyair terkenal. Dia mulai diperhitungkan karyanya bagi beberapa pembaca. Bagi sisanya, dia bukan siapa-siapa.

Belakangan dia merasa semua gemerlap ada padanya. Ada di matanya. Dia tidak perlu bekerja jadi apa-apa sekarang. Dia penulis, dan dia bangga. Tapi kebanggaan itu perlahan membunuh dirinya, sepinya, dan kata-katanya. Kebanggaan itu terlalu kuat, terlalu bising, terlalu tajam untuk menumpulkan kata-katanya.

Dia tidak menulis semenjak kebanggan itu ada.

Sementara, untuk membiayai hidupnya, dia perlu uang. Dia sadar akan hal itu. Terdesaknya akan makan dan minum dan menyambung hidup, akhirnya membuat dia mau tidak mau, menjual koleksi-koleksi bukunya. Satu buku yang laku bisa membiayai hidupnya satu sampai tiga hari kemudian. Tentunya, dengan dihemat-hematkan. Makan hanya dengan mie instan, minum dia rebus sendiri dari air keran, kopi dia seduh sendiri dari kopi bubuk  instan yang diabeli bulan lalu. Berbulan-bulan dia seperti itu. Inspirasi tidak datang sama sekali. Dirinya ada, kesepian pun ada, tetapi kata-kata sudah meninggalkannya.

Sampai suatu hari dia tumbang. Makan yang tidak teratur. Makan selalu dengan mie instan, kadang telor ceplok, bila hasil penjualan bukunya lumayan. Air keran yang direbus asal-asalan. Dan kopi sachetan yang sering diminumnya, kadang lebih dari lima kali sehari.

Dia tidak bisa bangun lagi dari kasur tipisnya. Dia tidak mampu bersuara untuk meminta tolong. Dia tidak bisa membuka pintu kamar kosnya untuk sekadar melihat matahari. Ia terkepung di situ, di dalam kamar itu. Dengan kesepian, dan kata-kata yang tak mampu ditulisnya lagi.

Orang-orang sekitar bukannya tidak mau peduli, bukannya jahat, bukannya kejam, bukannya membiarkan. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu siapa dia. Mereka bahkan tidak pernah berlangganan koran. Apalagi membaca koran Minggu.

Di hari kematiannya itu, dia mengubur jasadnya bersama kata-kata dan keyakinannya. Hanya ada petugas kepolisian, beberapa wartawan yang meliput peristiwa mayat tak dikenal yang mati di kamar kos di bilangan Jakarta Timur, dan warga sekitar yang penasaran.

Kemudian setelah diketahui identitasnya, Ali Ramlan Sadikin, Tempat Tanggal Lahir: Purworejo, 12 Januari 1984, Golongan Darah: A, keluarganya datang dengan terisak. Mereka membenarkan bahwa jasad itu benar-benar Ali Ramlan Sadikin. Anaknya, saudaranya, karibnya.

Nama Ali Ramlan Sadikin tidak pernah populer. Tidak pernah dikenang-kenang. Tidak dijadikan tanggal peringatan, apalagi hari libur nasional, atau hari cerpen nasional. Tidak ada. Tidak ada yang ingat karya-karyanya seperti apa. Tidak ada keabadian nama yang sering dia ucapkan. Tidak ada yang mengingat dia kecuali orangtuanya, dan mantan kekasih yang kini memiliki anak yang lucu-lucu.

082409_a

 

Depok, 13 Oktober 2016

 

 

Menggibahi Waktu

“Waktu adalah milik kita, namun datangnya dari Tuhan,” begitu pendapat saya perihal waktu yang Jumat (22/4) ini digibahi di acara peluncuran buku ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ karya Zivanna Letisha di Markas Bukalapak, Plaza City View, Kemang, Jakarta Selatan.

Peluncuran buku dan talkshow yang keduanya menggibahi waktu tersebut dibintangi oleh Putri Indonesia 2008 sekaligus penulis buku yang sedang diluncurkan Zivanna Letisha, dan CEO BukaLapak Ahmad Zaky. Keduanya saling membagi cerita tentang waktu yang terus berjalan gontai, yang kerap menimbulkan duri-duri dilema, dan memunculkan tanda tanya: “Waktu berjalan cepat, semua manusia memiliki waktu yang sama porsinya. Namun, mengapa ada manusia yang sukses dalam hidup dan karir, sementara ada juga yang biasa-biasa saja?”

Pertanyaan yang hinggap di benak Zivanna Letisha, kemudian mengantarnya ke layar monitor dan papan ketik. Ia menulis. Tentu, tahap sebuah menulis tidak semudah pergi dan bertatap muka dengan layar monitor sementara jari-jemari bersentuhan dengan papan ketik. Ia menulis. Ia mengingat-ingat kembali pengalamannya. Kenangannya bersama waktu, ia curahkan di layar kosong. Ia menulis.

Selama lima bulan bertatap mesra dengan layar, bersentuhan dengan papan ketik, kemudian terbitlah ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ yang dicetak oleh penerbit ternama Gagas Media, yang buku-buku cetakannya menghuni toko buku-toko buku besar, dan tak jarang ada di rak penjualan buku terbaik. Akhirnya, Jumat (22/4) sore yang—kita semua rekan media dan blogger harus bersyukur—didukung semesta karena cuaca yang baik dan tidak turun hujan, peluncuran buku dan penggibahan waktu dilalui dengan khidmat.

Waktu berjalan gontai. Banyak dari kita yang dikejar waktu. Bukan berjalan bersama waktu dan melakukan sesuatu untuk membangun mimpi. Banyak dari kita yang kelelahan dikejar-kejar waktu yang berjalan gontai. Terengah-engah menyusuri lorong-lorong waktu. Dan mendapati diri ini kosong, lelah, pegal, dan tak karuan melawan kecepatan waktu. Mungkin itulah yang menyebabkan kalimat seperti, “Wah, sudah Senin saja, padahal kemarin Minggu,” yang kerap muncul di awal minggu. Kalimat tadi diungkapkan dengan berat hati, sambil ngantuk, dan terpaksa bangkit dari kasur untuk mandi pagi, karena kelelahan begadang semalaman suntuk.

Lelah, lesu, lemah, pegal-pegal, dan keseleo, mungkin tidak akan terjadi apabila kita rajin minum sangobion bisa mengatur waktu. Banyak dari kita yang bertanya, “Mengatur waktu? Bagaimana caranya? Apakah semudah mengatur settingan di ponsel android?”

Zivanna Letisha, dalam acara penggibahan waktu tersebut menjawab, “Mengatur waktu sama artinya seperti battle dengan diri sendiri,” dalam artian, tidak semudah menyetting ponsel android agar bisa terkoneksi dengan wifi di kantor BukaLapak, misalnya. Perlu ada cara tersendiri. Langkah awalnya adalah, mengetahui dan mengenali diri sendiri. Jawaban Putri Indonesia 2008 itu mengatakan ada ‘battle’ dengan dirinya sendiri ketika mengatur waktu. Nah, bila kita ingin mengalahkan lawan, kenali dulu siapa lawan kita. Tanpa mengenali siapa lawan kita dan tekad yang kuat untuk melawan, kita tidak akan menang.

Waktu berjalan gontai. Dan kita jangan berjalan membungkuk di belakangnya atau berpeluh-peluhan dikejar waktu. Masih banyak cara berkawan dengan waktu. Merangkul ia dan mengajaknya membangun mimpi demi masa depan cemerlang. Mengajaknya berjalan santai hingga sampai ke tujuan. Caranya? Anda bisa pergi ke toko buku menggunakan kendaraan atau kuota internet dan segera membaca ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ karena saya pun harus memulai berkawan dengan waktu dengan… tidur bersama waktu. Esok pagi, ketika udara masih segar, baru deh baca bukunya Zivanna Letisha.

:))

Processed with VSCO

Foto launching buku ‘Trik Juara Mengatur Waktu’ 

PS: Peluncuran buku saya kapan-kapan deh. Doain aja :”)

 

Depok, 22 April 2016

Subuh di Balik Pintu

Gelap malam menghantarkan saya kepada kesunyian-kesunyian. Tidak ada suara di luar. Senyap. Andoro Mega, anakku yang masih merah sudah tertidur pulas setelah saya susui. Saya memandang ke luar dari jendela dekat pintu utama. Sepi. Saya baru saja hendak tidur, tapi perasaan ganjil yang tak mengenakkan ini menekan uluhati. Ada apa? Tiba-tiba saja saya teringat Mas Gun. Suami saya yang selepas sholat maghrib tadi pamit untuk rapat internal partai.

Pukul sepuluh lewat duabelas menit, Mas Gun belum pulang. Barangkali dia menginap di kantor partai. Barangkali rapatnya sangat penting sehingga belum pulang selarut ini, kata saya coba menghibur diri. Saya memilih untuk menulis saja. Saya menyalakan lilin, dan mengambil buku catatan saya. Sambil terkenang Mas Gun yang memberi buku catatan ini. Dia senang sekali mengoleksi buku catatan yang ia dapat dari percetakan tempat dia bekerja. Mas Gun, selain anggota partai, ia juga penggerak penerbitan milik partai itu.

Saya mulai menuangkan kata-kata di kepala saya di kertas kuning ini. Warna kertas yang hangat dan permukaannya yang agak kasar, menambah inspirasi saya menggores-goresi pena di atasnya. Inspirasi bisa datang dari mana saja dengan cara yang apa saja, memang. Pasca-kemerdekaan, banyak permasalahan-permasalahan ekonomi, politik, dan sosial, terkadang saya mengambil masalah-masalah itu untuk menjadi bahan tulisan di kertas ini. Saya menulis apa saja, esai, cerita, atau puisi. Saya memang sudah kepalang cinta dengan negeri ini, negeri yang kemerdekaannya direbut dengan tumpah darah, dengan mayat-mayat orang-orang yang berjuang, pahlawan-pahlawan kemerdekaan. Biarlah banyak permasalahan yang ditanggung negeri ini, toh ini semua adalah proses yang harus dijalani. Negeri ini biar nanti, dewasa dengan sendirinya, seiring perkembangan pola pikir masyarakatnya.

Setelah setengah jam lewat saya menulis, perasaan ganjil ini rupanya belum lenyap juga. Ada apa gerangan? Tetapi rasa kantuk ini merubuhkan saya. Akhirnya saya bangkit dan menuju kamar. Sambil dalam hati, meminta maaf pada Mas Gun karena tak menunggunya pulang. Biarlah, semoga saja dia tidur di kantornya. Pulang sebegini larut bisa membahayakan keselamatannya. Negeri ini, walau sudah merdeka, belum sepenuhnya aman.

“Dik…” sayup suara itu membangunkan saya. Ternyata Mas Gun sudah pulang, entah pukul berapa.

“Mas…sudah pulang?” saya mencium tangannya, tanda hormat. Ia mencium kening saya, sayang.

“Dik, Mas pulang hanya sebentar. Keadaan di luar kota sedang genting. Sebentar lagi Mas mau pergi…”

“Lho, Mas, ada apa lagi, lho?” saya bertanya khawatir. Setelah saya benar-benar melek, saya baru sadar ternyata langit masih gelap. Saya makin panik.

“Situasi politik di Jakarta sedang panas, Dik. Tujuh jendral diculik, enam jendral tewas, dan partai Mas ini, Dik, dianggap sebagai dalang!”

“Apa?” bulu kuduk saya berdiri. Entah ada apa lagi sekarang ini. Politik macam apa yang sedang dijalankan. Rencana apa lagi ini?

“Mas tidak tahu apa-apa tentang ini, Dik. Tetapi dari rapat kemarin, Mas dengar, kejadian kemarin itu sangat membahayakan anggota partai. Kita harus waspada. Kamu jaga Mega baik-baik ya…” Mas Gun tersenyum. Wajahnya pucat. Saya tahu dia juga takut dan khawatir seperti saya, tapi dia mencoba sabar. Ya Tuhan…negeri ini mau Kau apakan lagi? Dada saya teriris.

“Tapi Mas…sesubuh ini harus pergi?”

“Benar, Dik. Mas harus mencari perlindungan.”

“Mas…..”

“Kuatkan diri kamu, Dik. Kamu perempuan yang kuat yang pernah saya kenal. Terus menulis, dan kenanglah saya sewaktu-waktu apabila saya tak kembali.”

Saya menangis deras. Saya rasakan Mas Gun mengusap lengan saya, menyabarkan, kemudia memeluk saya. Erat sekali. Saya rasakan napasnya hangat di ubun-ubun saya, kemudian rambut saya basah. Mas Gun menangis…

“Dik, semua ini bukan Mas yang kehendaki, Gusti Allah yang kehendaki semuanya. Kamu tahu, Mas hanya berjuang. Kita hanya berjuang, Dik!” Mas Gun mengusap punggung saya. Saya menangis makin hebat. Punggung kami tersentak-sentak. Seolah sadar bila pertemuan ini adalah pertemuan terakhir.

“Dik, kamu tidak perlu berjuang seperti Mas. Kamu bisa berjuang tanpa melakukan apa yang Mas lakukan. Kamu bisa berjuang dengan cara kamu sendiri. Kamu wanita yang mandiri. Kamu wanita yang perkasa. Ingat ini, Dik! Kamu bisa hidup tanpa Mas…”

“Mas!” saya sudah tidak tahan dengan omongannya. Mas Gun sangat pesimis kali ini. Sama, saya pun juga. Tapi saya perempuan. Saya pendampingnya! Saya harus lebih tegar!

“Mas, saya yakin kamu masih mampu berjuang. Saya tahu, Mas pejuang yang tulus, dan ketulusan tidak bisa dilumpuhkan oleh kekejian. Biarkan saja, mungkin ini bagian dari drama politik, entah siapa yang menjadi dalang semua ini. Biar nanti terbongkar sendiri! Saya yakin Mas nggak bersalah, dan taka da yang boleh menghukum orang yang tak bersalah!”

“Terima kasih, Dik. Mas benar-benar harus pergi sekarang juga. Ingat pesan Mas. Kamu dan Mega hati-hati. Tetaplah waspada. Semoga Mas cepat pulang.” Mas Gun memaksa tersenyum. Saya tahu dia sangat ketakutan kali ini. Saya peluk dia sekali lagi sebelum benar-benar pergi.

Koran-koran dipenuhi berita-berita politik dan kematian-kematian enam jendral yang dibunuh. Kemudian perintah pengganyangan anggota partai. Dada saya berdegup. Nyeri. Lemas. Tiba-tiba teringat Mas Gun yang memeluk saya dinihari tadi. Saya terkulai lemas di beranda membaca berita itu. Waspada, Dik, waspada. Saya langsung tercenung, mengingat kata-kata Mas Gun. Saya menutup Koran pagi. Menutup pintu dan menguncinya. Merosot tak berdaya. Oalah, Gusti…apa nanti Mas-ku akan diganyang? Dengan peluru senapan? Oalah…siapa yang bersalah, siapa yang dihukum?  Apakah kecintaan saya dan suami saya kepada negeri ini akan membawa kami ke tiang gantung? Atau menjadikan kami sasaran tembak?

Pintu digedor keras. Dada saya berdegup kencang sekali. Bertanya-tanya, siapa itu di luar pintu. Apakah tentara yang akan mengganyang saya? Tapi apa salah saya?

“Dik…” Mas Gun! Saya terlonjak. Cepat-cepat saya menghapus air mata saya dan membuka pintu.

“Mas…” Mas Gun cepat-cepat masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan menguncinya.

“Dik, ini berbahaya. Mas dengar pengganyangan ini akan sampai ke pelosok-pelosok. Di Solo, anggota-anggota partai beserta keluarganya diserbu warga. Kawan-kawan perempuanmu yang ikut mengajar juga dihabisi. Sungguh mereka tidak punya berbelas kasihan kepada perempuan! Mereka semua meneriaki kita pecundang pengkhianat bangsa padahal kelakuan mereka tidak lebih baik atau malah lebih hina daripada apa yang mereka sangkakan kepada kita! Kita harus pergi, Dik. Kemasi barang-barangmu. Titip Mega kepada ibumu. Ibu pasti maklum keadaan kita.”

“Sungguh biadab! Apa sebabnya mereka membunuh perempuan-perempuan? Apa salahnya mereka? Apa salahnya kita, Mas? Mengapa kita harus lari seperti orang yang benar-benar punya salah tetapi tidak bertanggung jawab?” saya menangis. Saya tidak menyangka bahwa saya juga dikejar-kejar. Padahal, saya, sebagai istri Mas Gun yang anggota partai hanya berjuang sesuai dengan kemampuan saya. Sesuai kemampuan istri-istri anggota lain. Dan…teman-teman saya….dihabisi…sungguh kejam! Dosa macam apa yang sedang dilakukan negeri ini, Gusti?!

“Kita harus tahu apa kesalahan kita sebenarnya. Mengapa kita dikejar Mas! Itu baru adil!” kata saya.

Mas Gun menggeleng. Matanya sedih.

“Hari ini sedang tidak ada keadilan, Dik. Nyawa murah. Kawan-kawan kita dibunuh hanya karena prasangka dan dugaan! Jangan harapkan keadilan, Dik.. jangan…” Mas Gun mengusap wajahnya yang lelah. Menghampiri saya dan menuntun saya ke kamar. Saya duduk lemas di atas kasur. Memeluk Mega yang kini tidur pulas.

“Dik, ayo kemasi barang-barangmu…”

1352448174

ilustrasi didapat dari google image

 

Tamat

Depok, 160416

Catatan: Cerita fiksi ini dibuat dengan tujuan mengingat sejarah kelam yang dilalui oleh sebagian perempuan di Indonesia pasca kemerdekaan. Peran perempuan di cerita ini menonjolkan sisi perempuan yang mempunyai hak-hak yang sama dengan laki-laki dalam kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Dalam cerita ini mengisahkan tentang seorang perempuan sekaligus istri yang melaksanakan tugasnya dengan baik seperti mengurus anak dan melayani suami, tetapi di sini sosok istri juga sebagai penopang kekuatan laki-laki (suami).
Perempuan tidak harus mampu betul-betul setara dengan laki-laki atau lebih tinggi dari laki-laki dan melupakan kodratnya sebagai perempuan, tetapi bagaimana si perempuan mampu menyeimbangi laki-laki dalam hal berpikir dan menyuarakan hak-hak serta pendapat. Maka dari itu, perempuan wajib memiliki kecerdasan dan mampu berjuang dengan caranya sendiri demi hidup dan juga bangsanya.

 

Sebuah Kota

Siang bersinar terik sekali. Membakar kulit hingga ke tulang-tulang. Di langit sedang tidak ada awan yang sudi memayungi makhluk-makhluk ciptaan Gusti Allah. Pohon-pohon tumbuh di tempat yang sia-sia, yang fungsi dasarnya sebagai peneduh dari panas dan penghasil oksigen, kini bergeser jadi dekorasi ruang kota.

Gedung-gedung pencakar langit berlomba-lomba menumbuhkan dirinya sendiri. Siapa yang paling dekat dengan langit, dia lah yang paling kokoh, seolah karena tingginya yang sangat menjulang, ia bisa angkuh dan mengaku-aku kawan Tuhan. Orang-orang di dalam gedung sedang menikmati kenyamanan sejuk palsu dari mesin yang kerapkali berbunyi sekaligus sedang tersiksa karena tidak bisa bergerak leluasa padahal negara sudah merdeka sejak puluhan tahun lalu.

Sedangkan, orang-orang di luar gedung memayungi dirinya sendiri dengan belas kasihan orang lain dan bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai penyebrang jalan satu ke satu yang lain. Seorang ibu mendekap bayi yang masih merah, bayi itu ia bungkus dengan sehelai selendang merah tua kumal yang bau apak dan pesing bekas si bayi mengompol kemarin dan belum dibersihkan. Bapak-bapak tua di bawah jembatan itu meringis kepanasan, kain bajunya ia gunakan sebagai penyeka keringatnya. Ia hitung-hitung, rasanya sudah delapan jam ia di situ dan baru mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah. Orang-orang semakin kaya sekaligus miskin. Mereka tergesa ke dalam gedung dengan wajah segar tetapi pucat dan tebal, lalu pulang dengan loyo, pucat, dan tebal.

Di pinggir trotoar, depan gedung yang paling tinggi, seorang perempuan layu bak bunga mawar yang sekarat, yang kelopak-kelopaknya sudah mulai kering dan kuning, tak segar lagi, dan sedikit lagi mati. Perempuan itu membuka warung rokok bersama suaminya. Tapi suaminya sedang enak-enakan berjudi sambil menggoda janda kembang yang melingkari pundaknya tatkala ia sedang membanting-banting kartu. Perempuan itu cucu-ku. Lihatlah, betapa kuyu dia di tengah kota yang berpura-pura megah. Kasihan dia. Kasihan Desaku. Oh, Desaku.

Kalian barangkali tak percaya dengan ceritaku ini. Kota ini, dulu hanyalah desa dengan hamparan sawah yang hijau sepanjang mata memandang. Lahan-lahan padi, tebu, jagung, kebun-kebun tomat, wortel, cabai, bawang, semua kami punya dan kami yang menanam dan merawatnya seperti merawat bocah-bocah sendiri. Kami merawat mereka seperti merawat kehidupan kami. Pohon-pohon masih sangat banyak. Di depan rumah, di halaman belakang, di pos RT, di jalan-jalan setapak, di mana-mana. Pohon-pohon sepanjang mata memandang. Di depan rumahku sendiri ada pohon mangga yang kalau musim panen tiba, ibu-ibu di desa kami mengerubung sambil merujak seusai bertani. Ya, di desa kami ini, hampir seluruh penduduknya adalah petani. Mau bapak-bapak atau ibu-ibu, setiap pagi kami beriringan menuju sawah milik kami sambil bercengkrama, menggarap sawah kami masing-masing sambil mengobrol ringan dan menertawakan hal-hal keseharian, berleha-leha bersama suami di saung dekat sawah kami. Makan siang dengan tempe, telur dadar, dan sambal terasi bersama suami. Oh, kalian tidak akan percaya ini sebab di kota tempat sekarang tinggal, kalian samasekali tidak menemui apa yang baru saja kuceritakan tadi.

Kulihat dari ketinggian ini, desaku yang tercinta berubah jadi mengerikan. Tidak ada lagi hijau-hijau sejauh mata memandang. Hanya ada abu-abu gedung yang mengkilat, cokelat yang bukan lagi tanah tetapi kayu-kayu palsu, dan warna-warna lain dengan warna yang bau amis dan menyengat. Orang-orang tidak saling sapa, tidak saling bercengkrama, tidak tertawa bersama, dan jarang sekali makan bersama selain karena sebuah perayaan yang pura-pura dirayakan agar tak kesepian. Sekawanan perempuan makan bersama di meja, tetapi tidak saling bicara, hanya terpaku pada apa yang digenggamnya saja. Sibuk mengetik pesan ke teman di sebelahnya, sibuk memesan makanan dengan jari. Mereka jarang sekali menggunakan mulutnya. Jari mereka lebih cerewet ketimbang mulutnya. Bibir mereka hanya tersenyum ketika difoto atau saat memotret diri sendiri. Barangkali saat mati nanti, para malaikat lebih sering bertanya kepada jari mereka daripada mulut. Benar-benar kota yang abu-abu.

Sebenarnya, kota ini tidak akan ada bila perjuanganku dan kawan-kawanku semasa hidup tidak dikhianati orang-orang setelah kami yang hidup, yakni orang-orang yang kini menyesal karena hanya bisa melongo melihat perubahan desanya yang ramah menjadi kota buas. Mereka hanya bisa menengadah ke atas sambil mengeluarkan liur karena mengkhianati perjuangan kami. Mereka mengalahkan perjuangan kami dengan uang. Walau sedikit dari mereka ada yang membela kami, tapi pada zaman itu, keadaan sulit. Banyak yang butuh uang, banyak yang terprovokasi, dan banyak pula yang menawarkan uang dengan cara mudah. Mereka menghasut, mereka terhasut, mereka menikmati uang, kemudian menyesalinya hari ini. Lihatlah cucuku yang kuyu itu wajahnya. Dulu pipinya merah segar, kini pucat pasi. Bibirnya kering, tubuhnya kurus seperti padi yang kering di musim kemarau panjang. Dulu, dia membela kami, dia mengingat aku sebagai sosok nenek yang pernah berjuang, tetapi suaminya yang brengsek itu! Dia yang menghasut cucuku dan cucuku manggut saja karena kepalang cinta! Laki-laki yang hanya bisa berjudi itu menerima puluhan juta untuk jadi bajingan-bajingan kecil setelahnya. Cucuku ditelantarkan, cicitku dibiarkan menangis sampai kelelahan karena kelaparan. O, cucuku dan cicitku yang malang.

Seandainya saja cucuku tegas, sebagai seorang perempuan, memiliki wibawa, dan mampu berjuang tanpa terpancing iming-iming cinta lelaki, ia pasti tak jadi begini. Seandainya ia mampu bergerak, menghasut warga yang belum terhasut, menceritakan perjuanganku dan kawan-kawanku pada mereka yang mudah ditipu duit, pasti, barangkali, mungkin saja kota ini tidak berdiri sewenang-wenangnya saja. Sewenag-wenang, karena, kota ini berkuasa atas kehidupan manusia seluruh dan seutuhnya. Lapar harus beli beras impor, telur impor, daging impor, gula impor, jagung impor, segala bahan pangan impor! Bila haus, air harus beli, air gunung kami yang dulu gratis, kini dikemas botol-botol plastik yang susah diurai tanah, tetapi kini tanah sudah jarang, adanya aspal dan beton. Sungguh mahalnya hidup sekarang ini. Untung saja aku sudah mati! Tapi, kasihan cucuku…

Astaga, aku jadi dongkol lagi setelah melihat di sebelah utara desa kami yang kini sudah jadi kota. Itu dia lihat! Sebuah bangunan yang dengan congkak memusnahkan sawah-sawah kami, kebun-kebun kami, pohon-pohon kami, rumah-rumah kami, desa kami, hidup kami… Itu dia! Gara-gara pabrik semen itu! Aku jadi teringat dulu-dulu kala, saat aku masih mampu berjuang walaupun sudah tua, tetapi belum ringkih! Tenagaku masih sisa banyak karena sering menggarap sawah dengan sukacita. Aku ingat ketika menumbuk lesung berjam-jam di depan calon pabrik itu, duduk di atas lesung sebagai bentuk protes, jangan ambil desa kami! Jangan ratakan tanah kami! Itu hidup kami! Banyak orang yang membantu kami dalam aksi tersebut, aku jadi sering bicara dengan orang asing, orang yang mengaku wartawan dari kota, orang yang membantu perjuangan kami. Tak ada yang mewakili kami berdemo, bersuara, selain diri kami sendiri. Kami berdiri menentang orang-orang bersepatu lars dan berseragam itu yang ternyata lebih pengecut dari kami, kami dipukuli, hingga ada salah seorang temanku yang dilempar ke semak-semak. Astaga, Gusti! Pelindung kami apakah akan jadi buas ketika dikepreti duit? Kalimat ‘membela wong cilik’, sekarang cuma jadi alat sebagai slogan penuh tipudaya menjelang kampanye!

Kakiku kini merasa kaku, seolah aku berada di depan istana negara puluhan tahun lalu, saat masih berjuang, saat kakiku dipasung semen, kalau kalian bertanya untuk apa, ya itu! Untung memperjuangkan tanah kami! Penghidupan kami! Desa kami!

Kakiku sungguh merasa kaku, tetapi dadaku nyeri. Ealah, Ndoro Gusti Pangeraaannn! Tidak ada yang sia-sia, termasuk perjuangan kami, memang. Tetapi… ah!

Awan bergerumbul memenuhi langit yang keruh oleh polusi-polusi yang lahir setiap waktu. Langit sama abu-abunya seperti kota yang berpura-pura hidup dengan mesin-mesin penggerak, dan manusia-manusia yang digerakkan. Perempuan yang berwajah kuyu, ibu yang sedang menggendong bayi merah itu, laki-laki tua itu, diam-diam mengucap syukur karena lepas dari sengatan matahari yang membakar kulit hingga tulang-tulangnya. Dadaku masih nyeri, Tuhan yang Maha Tahu Segala, menatapku dengan iba. Perlahan hujan turun membasahi kota yang abu-abu itu, lalu manusia-manusia sibuk menghalau banjir yang mungkin saja tiba sebentar lagi…

large

 

-fin-

Depok, 160416

 

 

 

Ali Syamsudin, Si Aktipis

Waktu yang bersumber dari jam tangan Alba KW yang melingkari tangan Ali Syamsudin masih menunjukkan pukul dua siang. Masih pagi bagi Ali yang gemar mengaku sebagai aktivis kampus itu untuk pulang ke rumah dan rebahan di kasur sambil memikirkan nasib negara yang kini berada di genggaman penipu besar, begitu pikirnya, kesimpulan yang ia ambil berdasarkan diskusi kecil-kecilan. Usai menghabiskan satu jam tigapuluh menit di ruang kelas filsafat sambil menyiyiri konsep-konsep dan teori komunis-atheis tanpa ia ingin mendalami dan mengerti, Ali merasakan getaran di perutnya. Ia lapar. Belum makan siang. Sambil berjalan sengak, merasa paling tahu segala, dan merasa paling ‘mahasiswa’ karena demen berdiskusi dan berdemo dengan senior yang sikap dan gagasan kritis-nya tak perlu diragukan lagi, Si Aktivis Kampus pergi menuju kantin dan pesan hamberger Mang Anung. Lumayan, cukup sepuluh ribu rupiah, perut kenyang.  Sembari menunggu Mas Anung membuatkan pesanannya, Ali mengeluarkan sebungkus malboro dari saku celana jeans yang jarang dicuci. Ia ambil satu batang dari bungkus mungil itu dan menyelipkannya di antara telunjung dan jari tengah seakan ia sudah mahir melakukannya. Merokoklah ia sambil memikirkan nasib negara yang makin pro kapitalis, goblok, dan palsu itu. Sesekali ia memikirkan juga nasib kuliahnya yang sudah ditekuninya hampir sepuluh semester dan terancam ditendang dari kampus. Tetapi, selama kampus masih kepingin duit, Ali Syamsudin, si Aktivis Kampus akan aman-aman saja, pikirnya. Terkadang juga ia ngenes, memikirkan Ratih pacarnya yang jarang diajak jalan-jalan, bukan apa-apa, apalah Ali Syamsudin ini, cuma mahasiswa semester sepuluh yang boro-boro nyari duit tambahan buat pacaran, kuliah aja senen-kamis bareng sama bayar puasa yang bolong-bolong tahun lalu.

Hamberger pesanannya sudah diantarkan Mas Anung ke meja Ali. Kedua matanya langsung bersinar, perutnya bergetar lagi. Makanlah ia dengan lahapnya siang itu. Tak sampai lima menit, hambergernya sudah tinggal bungkusnya saja. Masih merasa kenyang, dan lupa bersukur, ia duduk sambil asik main gawai merek iPhune miliknya, cicilannya masih dua bulan lagi, itu juga bayarnya hasil minta sama orangtua. Akhirnya, pesan yang ditunggunya bunyi juga. Pesan dari Abang Marten, itu lho, senior maha kritis, yang sering mengajak Ali berdiskusi tentang kebusukan pemerentah dan mengajak Ali menggerakan kawan-kawannya untuk turun aksi ke jalan-jalan. Kan, biar mahasiswa banget tuh. Mahasiswa apaan tuh, yang anti sama demo-demo!

“Ali, nanti ke Kafe Olip, kita diskusi. Kemungkinan kita akan bikin pergerakan lagi,” begitu isi pesan Bang Marten.

Wah, bukan main semangatnya Ali Syamsudin mengangkat pantatnya dan pergi ke Kafe Olip. Kata-kata berdiskusi, dan pergerakan, menyalakan api semangatnya di tanggal-tanggal-muda-enggak-tua-juga-enggak. Biar tak ada uang, asal turun aksi, Bung!

Sampai di Kafe Olip, kedai makanan yang menjual beragam macam mie goreng dan sejenisnya, ia langsung melihat Bang Maten dengan seseorang yang tak pernah ia lihat. Wah, siapa tuh? tanyanya kepo dalam hati. Ali tak segan-segan menghampiri Bang Marten yang sedang bercakap-cakap serius dengan tamunya itu. Ali tanpa malu-malu tetapi sopan, langsung menyalami Bang Marten dan tamunya. Ali tersenyum dan ikut berbincang. Tak lama, Ali yang memang supel, mampu terlibat dalam percakapannya dengan Bang Marten dan Bang Raung, yang katanya kerja di dunia perpolitikan dan membawa isu-isu baru untuk bahan pergerakan.

“Jadi, bagaimana, Li? Kamu mau kan mengorganisir kawan-kawan di kampus? Lumayan lho, ini order besar sekali!”

“Gampang itu, Bang. Asal, persenan Ali di atas dari biasanya ya. Sekarang susah, Bang, ngajak mahasiswa buat demo. Mereka kebanyakan apatis, kerjanya belajar doang terus habis lulus jadi budak kapitalis!”

“Urusan persenan gampang, Li. Kewajiban kamu sekarang kerahkan massa secepatnya!”

 

—Tamat—

Depok, 08 Maret 2016

 

*: sekadar catatan, cerita ini murni fiksi tapi tidak menutup kemungkinan bahwa di dunia ini, khususnya di negeri kita, masih ada mahasiswa yang seperti ini. mengaku aktivis kampus, tetapi lupa kewajibannya sebagai mahasiswa. mengaku aktivis kampus, melakukan pergerakan, tetapi dibayar. perjuangan terlalu murah bila dibayar pakai uang yang tak seberapa. mengaku aktivis kampus di barisan paling depan, tetapi di kelas, duduk paling belakang (nah, ini kata dosen). saya di sini tak maksud menggurui, atau menyindir individu atau kelompok tertentu. saya juga mahasiswa dan pernah berdemo juga (waktu itu penasaran bagaimana sih rasanya berdemo, hehe). maka saya menuliskan ini untuk mengingatkan diri saya dan kalian yang mengaku mahasiswa untuk kembali ke jalan yang benar. maha-siswa itu lebih dari sekadar siswa yang kerjanya hanya masuk kelas dan belajar, tapi tak lantas ada gelar maha, mahasiswa jadi merasa superior. kewajiban-kewajiban tambahan seperti, perlunya memperhatikan isu-isu yang berkembang di tanah air kita, mempelajarinya, memahaminya, menelaah, dan mengkritisi. mengkritisi itu wajib dan perlu selama berada di jalan yang benar tanpa ada campuran sentimen pribadi dan dengan pikiran dan nalar yang terbuka. jangan gampang ikut arus, gampang tersulut, gampang terprovokasi, gampang turun ke jalan bukan untuk mengkritsi tapi hanya untuk memenangkan ego pribadi atau buruknya, dibayar. mengkritisi butuh nalar, itu sebabnya mahasiswa wajib sekali untuk sering membaca di luar buku-buku kuliah yang kebanyakan hanya teori-teori yang sulit dipahami dan malah ditafsir secara asal-asalan. nah, di akhir kalimat ini, saya mengajak diri saya, dan seluruh mahasiswa yang membaca untuk kembali ke kodratnya: belajar-banyak membaca-memahami-baru mengkritisi! terima kasih.

Pria Tua yang Mati dan Kenangan yang diabadikan jadi Taman Kota

Pagi itu saya sedang menyirami mawar di teras depan ketika dua kompi pria berseragam yang menyebut dirinya aparat negara datang ke perkampungan kami. Saya tidak tahu mengapa mereka datang begitu ramai dan berisik. Mereka juga tidak meninggalkan sepatah sapa ketika melewati saya yang sedang menyirami mawar-mawar. Seorang di antaranya melihat saya dengan pandangan yang tidak menyenangkan ketika lewat di hadapan saya. Sungguh, aparat negara macam apa? Dikerahkan demi melindungi rakyat, tapi melihat saya seolah saya ini seonggok bangkai tikus yang tertinggal di jalan. Dia pikir lucu melihat seorang kakek tua begini menyirami mawar di halaman depan rumahnya? Atau dia mencibir tubuh ringkih saya? Heh, nanti tua juga tubuhnya begitu. Dia tak tahu saja siapa saya ini dan siapa saya di masa muda saya dulu! Lebih gagah dari dia!

Setelah menyirami mawar-mawar, saya hendak pergi ke kedai bubur ayam milik Pak Samin yang kalau malam berubah jadi tempat perempuan-perempuan cantik berpakaian minim ketawa cekikikan bareng banyak laki-laki. Bubur Pak Samin memang dikenal enak sejak saya dan mendiang istri saya masih muda. Sayang, Pak Samin tak panjang umur seperti saya, dia lebih dulu pergi setahun sebelum istri saya yang meninggal karena kanker apa itu, stadium empat. Tapi untungnya, Pak Samin sempat mewarisi resep bubur ayamnya pada Khofifah, anak perempuan satu-satunya. Walaupun buburnya terasa sedikit berbeda, tetapi tetap enak, juara nomor satu di kampung sini! Walah, dalah, ada apa ini kedai bubur Pak Samin kok tutup dan jadi markas kumpulan aparat negara begini? Mereka asik saja duduk, ngerokok, dan ngopi di situ, mungkin beli di warung rokok Samsul. Waduh, saya terpaksa mencari tempat sarapan lain. Tapi kok, nasi uduk Bu Yani juga tutup? Biyung! Perut saya sudah kruyuk-kruyuk begini. Lela, anak saya, belum mengunjungi saya minggu ini, dan sembako sudah habis semua. Ah, terpaksa saya membeli telor dan memasaknya sendiri. Oh, iya seingat saya, minyak juga sudah habis. Duhalah, biyung! Kenapa bisa tutup semua begini?

Setelah ke warung Pak Budiman, Bu Saleh, yang tutup, saya akhirnya ke warung si Bakrie, yang lumayan jauh dari rumah saya. Saya bilang mau beli telor seperempat, dan minyak curah satu kantong kepada istrinya, kebetulan yang sedang jaga warung itu istrinya. Dia bilang, tumben saya belanja di situ. Saya ceritakan saja, di mana-mana warung makan dan sembako tutup, hanya di sini yang buka.

“Lho, bapak emang belum tahu, ya?”
“Belum tahu apa ya, bu?”
“Kampung kita ini mau digusur!”

Digusur?

Saya diam. Kehabisan kata-kata. Bulu kuduk saya merinding. Membayangkan rumah saya yang satu-satunya itu hancur berikut dengan mawar-mawar dan kenang-kenangan kampung ini bersama kerabat, tetangga, dan mendiang istri saya.

“Kata polisi-polisi itu, tanah ini digusur karena milik pemerentah!”

Tanah pemerintah? Tanah yang selama ini saya tinggali selama hidup saya, dibilang tanah pemerintah?

“Katanya buat lahan penghijauan, Pak! Buat bikin taman!”

Pemerintah menggusur kampung halaman ini untuk buat taman kota? Untuk sebuah taman kota harus menggusur rakyat-rakyat kecil seperti saya ini? Saya yang cuma pandai merawat kenangan dan mawar-mawar peninggalan istri saya?

Untuk sebuah taman kota haruskah menghancurkan ratusan taman milik kami?

Suara tertawa istri saya yang masih muda dan cantik tiba-tiba terdengar. Kemudian suara tangis Lela yang masih bayi. Kemudian suara Bapak dan Ibu saya yang sudah lama sekali meninggal. Kemudian suara saya sendiri yang melamar mendiang istri saya di kedai bubur Pak Samin. Kemudian suara ‘iya’ dari mendiang istri saya yang malu-malu ketika menerima lamaran saya. Kemudian suara Lela yang tertawa dan giginya yang ompong itu dipamerkan kepada saya, lalu saya menciumi gadis kecil saya satu-satunya itu. Kemudian suara mendiang istri saya yang selalu bersenandung bila sedang menyirami mawar. Kemudian wajah istri saya yang bahagia. Kemudian kenangan-kenangan baik dengan tetangga-tetangga kami. Kemudian rasa nikmat bubur ayam Pak Samin sambil bersenda gurau bersama istri tercinta. Kemudian tangisan terakhir istri saya menjelang kematiannya. Kemudian wangi mawar yang merebak semenit sebelum kematian istri saya. Kemudia permintaan terakhir istri saya; tolong rawat dan jaga mawar-mawarku seperti kamu merawat aku saat sakit seperti ini, Bang. Tolong cintai mawar-mawarku seperti kamu cintai aku, Bang. Saya ingat, dik. Saya ingat. Tetapi…tanah ini mau digusur, berikut juga mawar-mawar kita.

Barangkali para penggusur itu tak memiliki kenangan. Seperti kita ini, dik.

Saya diam cukup lama di depan warung Bakrie dan tidak berkata apa-apa kecuali mendengar perkataan istri Bakrie tadi. Kata-kata ‘tanah ini mau digusur. tanah ini milik negara. mau dibikin taman!’ telah membuat dada saya sakit sekali. Seperti ada yang meremas jantung saya seperti siswa yang meremas kertas ulangannya yang cuma dapat nilai tiga. Reflek, tangan saya memegang dada bagian kiri, dan tak mampu bergerak lagi.

“Pak! Pak Sutoyo, Pak!”

Kemudian mereka semua mengerubung di hadapan saya yang sudah rubuh tak bergerak. Tetapi berita tidak pernah memuat jasad saya. Dan sebentar lagi kenangan kami diganti dengan sebuah taman kota. Selamat menikmati!

 

Depok, 22 Februari 2016

 

P.S : Cerita ini hanya fiktif belaka. Tetapi fiksi, tak terlalu berjarak dengan realita.

Biru Kue Velvet

Mereka melihat benda ini hanya sebuah botol berisikan cairan adiksi, yang sering mereka sebut alkohol, tetapi benda ini adalah cinta. Cinta pertama dan terakhir. Saya tertawa kecil ketika memberitahu ini kepada anda semua yang membaca. Kalian pikir saya sedang berkelakar? Sedang membual? Tidak. Sepenuh-penuhnya tidak. Anda semua tidak percaya, kan? Dia, yang kalian sebut hanya sebuah botol berisikan cairan adiksi ini, telah membuat saya bahagia lebih dari apapun dan siapapun yang ada di dunia beserta omong kosongnya ini. Dia, seorang botol yang mempunyai sayap di punggunya, membuat saya terbang ke langit yang berwarna merah muda dan awan-awan putih yang seempuk sofa di rumah anda atau bantal yang saat ini sedang anda tepuk-tepuk. Kedengarannya lucu. Tidak, tidak saya tidak sedang menjadi pelawak, pelenong, atau stand-up comedian di televisi. Anda semua tahu, saya hanya seorang penyanyi dengan lirik-lirik paling sedih di kota ini. Kota yang indah ini, para penyimak sekalian.

Anda mungkin mengira, saya depresi dan semacamnya. Kalau begitu, anda salah. Saya bahagia, hanya lagu-lagu saya saja yang menyedihkan. Lagu-lagu yang saya tuliskan sendiri, dan kalian dengarkan di radio, di mobil bersama kekasih kerabat atau keluarga tercinta, di televisi, di situs video, di mana pun. Saya bahagia. Saya bahagia. Hahaha. Baiklah, saya bohong. Kalian tahu? Saat saya menulis saya bahagia sebanyak tiga kali, saya sedang bersama kekasih saya. Kekasih tercinta yang memabukan. Haha, ya, saya menemukan beberapa botol anggur di meja setelah saya terbangun. Dan ketika saya meneruskan tulisan ini, saya baru saja pulang dari petualangan langit merah muda, bintang biru terang, hijau limun, kuning mentari, dan di langit itu, sepotong wajah bulan seperti wajah seorang yang sedang mabuk. Merah bersemu. Tetapi bulan itu tak putus-putus cekikikan sambil menyanyi. Entahlah, lebih tepatnya saya terbangun dari mabuk semalaman. Baiklah, saya bingung hendak menulis apa lagi, ya? Saya lagi tersadar, dan mendadak lebih dungu untuk menulis ketimbang saya yang lagi mabuk. Oh, ya, saya baru ingat, hari ini saya ada konser menyanyi, mengisi festival hari kasih sayang di kota saya. Lagu yang akan saya nyanyikan, tentu saja, Jantung Kekasihku dalam Tas Ransel Kekasihmu. Sebuah lagu yang menyedihkan tentang seorang perempuan yang membunuh orang yang sangat ia cintai, namun tragis, tak bisa ia miliki karena laki-laki itu telah memiliki perempuan lain. Perempuan itu kemudian membunuh laki-laki itu di hotel setelah mereka bercinta untuk kesekian kalinya, mencongkel dada laki-laki itu dengan pisau dapur seharga ratusan dolar, dan mengambil jantungnya. Jantung yang tak lagi berdebar. Perempuan itu berniat akan menaruh jantung merah yang lama-kelamaan menjadi pucat itu ke tas ransel kekasih laki-laki itu, tetapi perempuan itu keburu ditangkap polisi setempat. Itu tragedi nyata, saya katakan. Saya terinspirasi dari tragedi pembunuhan yang paling puitik oleh seorang chef di restoran ternama di kota ini. Kalian pasti pernah mendengarnya apabila kalian bukan pendatang atau imigran. Sebab pembunuhan ini berada di headline koran-koran selama sebulan.

Cinta adalah jantungmu,
yang merah delima sebagai bibir kekasihmu,
Ya Tuhan, saya ingin jadi pencuri
Pendosa bagi pertama dan terakhir kali
Mimpi menggenggam jantungmu yang berdenyut tiga kali,
Lalu semua saya akhiri

Begitulah isi di dalam buku harian perempuan pembunuh itu. Sungguh puitik, bukan? Barangkali karena St. Valentine adalah sebuah tanggal kematian seseorang yang telah memperjuangkan cintanya, saya akhirnya memilih lagu ini. Supaya anda, kalian, yang mendengar itu tahu bahwa, cinta itu berbahaya. Tidak ada cinta yang tak berbahaya. Saya mungkin bisa mati di diskotek, di meja, di kasur, di kamar hotel, atau di manapun karena kekasih saya. Ya, dia, seorang botol bersayap itu. Mungkin karena saya terlalu bergairah padanya dan menghabiskan banyak cairan adiksi lalu terkapar di meja bar, ataupun meja di ruang tengah rumah saya. Tak ada yang tahu. Tetapi anda, kalian, harus tahu. Cinta itu berbahaya. Cinta yang terlalu bergairah, cinta yang selalu terlalu selalu berbahaya.

Saya sudah terlalu banyak melalui jatuh cinta, segala macam jenis jatuh cinta. Orangtua saya juga begitu. He, keduanya berakhir mengenaskan oleh sebab yang sama. Cinta. Baiklah, saya akan memulai kisah saya di sini. Sssttt! Jangan katakan pada siapa-siapa! Berjanjilah? Janji? Ayo, kaitkan kelingkingku dan kelingkingmu sekarang! Nah, begitu… saya selalu melakukan hal semacam itu di masa kecil saya kalau saya sehabis memecahkan vas bunga, memecahkan guci, mencoret tembok rumah, memilok body mobil ayah saya, atau memasukan anak kucing ke guci besar di rumah. Saya berjanji, saya tidak akan nakal lagi. Tetapi orangtua saya mudah sekali ditipu. Tapi, anda, kalian semua, berjanjilah jangan membohongi saya. Janji? Kebohongan sudah banyak di dunia ini, jadilah diri sendiri, dan jadilah unik. Jujur itu, unik, karena dia langka.

Orangtua saya, maksudnya mendiang orangtua saya mati karena kebohongannya sendiri. Bumi, kalian tahu, akan melenyapkan orang-orang yang pandai menipu. Pertama, ibu saya. Terkutuklah saya, Ibu saya adalah penipu paling gila yang pernah saya kenal. Tetapi saya mencintainya seperti seorang anak kepada ibunya sendiri. Saya tidak menyalahkan mengapa ia berbohong. Karena cinta telah mengajarkannya begitu. Terakhir, saya bersamanya ketika ia mengantarkan saya ke sekolah pagi itu. Dia bilang, sepulang nanti saya akan dijemput oleh Ayah, karena dia sendiri ada urusan pekerjaan. Saya percaya. Ibu selalu pergi ke luar kota. Dan itu merupakan hal yang wajar bagi saya. Ibu suka berangkat pagi dan pulang siang hari keesokan harinya. Tetapi saya tidak memiliki prasangka bahwa ia takkan pernah kembali lagi. Saya ingat betul pakaian terakhirnya. Biru bersinar yang gelap. Bukan biru donker, bukan juga biru cerah. Biru yang berkerlip-kerlip tetapi gelap. Sekarang saya mengenang dan menamai biru itu dengan istilah ‘biru kue velvet’. Dia cantik sekali dengan gaun biru kue velvet. Seperti kue yang menggoda bagi kaum laki-laki yang kelaparan. Dan dia mati, disantap laki-laki kelaparan itu. Di sebuah hotel, di kota ini, sekarang berganti jadi gedung kafe yang tidak pernah laku. Di kota ini, semua mengenal sejarah sebaik mereka mengenal bagian tubuh mereka sendiri. Mungkin itu yang menyebabkan kafe itu tidak laku karena dibangun di atas jasad Ibu saya dan laki-laki yang kelaparan yang sedang bercinta yang dua-duanya telah menjadi abu. Oleh api yang merah. Di hari itu, kau tahu, tidak ada senja. Senja seakan berpindah ke atap langit hotel yang terbakar itu. Tempat bercinta Ibu saya dan laki-laki kelaparan, yang bukan Ayah saya. Itulah kebohongan pertama yang saya tahu.

Setelah hari naas itu, sehari setelah hari terakhir saya bertemu Ibu saya, Ayah saya tak pernah berbicara pada saya barang sepatahpun. Ia begitu muram dan jadi penyendiri. Selamanya ia duduk di bangku kesayangannya. Sebuah sofa tua dengan warna biru kue velvet yang warnanya hampir menjadi abu-abu karena menjadi begitu muram setelah kematian Ibu. Laki-laki kesepian itu selalu menyeduh kopi di dapur dengan menambahkan sesloki anggur, menyetel pemutar musik tua yang memutar lagu-lagu jazz sedih. Betapa Ayah saya mencintai Ibu saya. Karena ia selalu mendengarkan lagu-lagu ibu saya. Ibu saya seorang penyanyi jazz tak terkenal yang liriknya begitu sedih dan lagunya hampir setiap hari saya dengarkan setelah hari kematiannya di pemutar musik tua yang dinyalakan Ayah saya setiap pagi. Saya menghabiskan separuh masa remaja saya dengan membuatkan telur dadar dan sosis bakar untuk Ayah saya, selain melihat kematian dan mengingatnya sepanjang hidup.

Di sebuah pagi yang mendung, dingin menusuk kulit, dan seluruh penduduk kota harus mengenakan mantel agar tak mati kedinginan, saya justru menemukan mayat laki-laki di ruang tengah. Di sofa tua biru kue velvet. Hening. Saya seperti tercekik tangan saya sendiri. Padahal pagi itu saya belum membuatkan sarapan telur dadar dan sosis bakar, tetapi. Ayah saya mati tanpa sarapan. Hanya ada secangkir kopi, tiga botol anggur, dan botol kecil kosong yang tak bernama. Dan sebuah surat.

Saya pernah katakan padamu, Alexandrine, saya mencintaimu, saya mencintaimu, dan cinta selamanya berbahaya. Kamu mati bersama dia, dan saya akan mati sendiran di sofa favoritmu, yang kaubeli demi mengingat laki-laki itu yang menyukai warna biru seperti sofa di rumah kita. Saya mencintaimu, Alexandrine, semoga kita bertemu di neraka, dan saya akan membunuh laki-laki itu di sana. Dengan pisau kesukaanmu. Kamu selamanya istriku, di dunia, ataupun di neraka. Sampai jumpa.

  • Brian McAdam

Seluruh bekas-bekas kematian Ayah saya di sofa dan di meja akhirnya diangkut ke kantor polisi. Dan koran-koran kota itu kemudian menurunkan berita kematian Ayah saya berjudul: Pria Mati Bunuh Diri dengan Anggur Basi. Kemudia mengganti beritanya lagi dengan: Seorang Pria Mati Menenggak Racun. Bukan anggur basi.

Bertahun-tahun kemudian, setelah kematian sejoli yang tidak saling mencintai, karena Ibu saya tidak mencintai Ayah saya, saya menemukan buku besampul hitam dengan corak bunga tinta perak. Buku rahasia Ibu saya. Di situ ada hal-hal yang mengejutkan. Sangat mengejutkan.Termasuk catatan ini, yang disadur dari isi catatan Chef Pencuri Jantung Kekasihnya:

Cinta adalah jantungmu,
yang merah delima sebagai bibir istrimu, di pesta pernikahanmu,

Ya Tuhan, saya ingin jadi pendosa
Pecinta bagi pertama dan terakhir kali yang penghabisan di tubuhnya
Mimpi menggenggam jantungnya yang berdenyut tiga kali,
Lalu semua saya akhiri

Rialtoputico Hotel, 02:01 a.m
Sampai jumpa, Malaikat. Kutitip putri kecilku.
Dan suami yang tak mampu kucintai dia daripada kau.

 

Saya terbangun dan menemukan tulisan ini. Semalaman saya mabuk. Saya tidak menyangka, kalau saya yang menulis ini. Tetapi, ini dia. Daripada saya hapus, lebih baik untuk kalian baca. Supaya kalian tahu, cinta yang terlalu selalu berbahaya. Hati-hati.

 

 

—END—

Depok, 17 Februari 2016

 

*Cerpen ini hanya fiktif belaka namun terinspirasi oleh lirik lagu Lana Del Rey berjudul: Blue Velvet*

“Blue Velvet”

She wore Blue Velvet
Bluer than velvet was the night
Softer than satin was the light
From the stars

She wore blue velvet
Bluer than velvet were her eyes
Warmer than May her tender sighs
Love was ours

Ours a love I held tightly
Feeling the rapture grow
Like a flame burning brightly
But when she left gone was the glow of

Blue Velvet
But in my heart there’ll always be
Precious and warm a memory through the years
And I still can see Blue Velvet through my tears

sdjfk