Ilusi Pagi

Selamat berganti hari, kau yang sedang sibuk entah dengan apa. Aku tidak akan mengucapkan selamat pagi lagi, sebab aku bangun ketika pagi sudah menua dan berakhir mati terbakar terik matahari siang. Hari ini suratku ingin menceritakanmu sebuah dongeng, ya.
Dongeng tentang bunga yang mekar di kepala perindu, judulnya Ilusi Pagi. Entah mengapa, sejak aku terbangun, aku ingin sekali berdongeng kepadamu, tentang apa saja seperti yang sering kaulakukan dulu. Yang sering kita lakukan dulu; bercerita. Ah, kau tahu kini ketika aku mulai menulis surat ini, aku sedang rindu-rindunya pada alis, mata, hidung, bibir, dan tanganmu yang bergerak-gerak ketika kau bercerita. Lucu sekali!
Hehe..kumulai saja ya dongengnya;


Pada suatu malam, ketika gugusan bintang pagi mulai merayapi langit yang kini tak hitam lagi sebab jarak antara bumi dan matahari semakin dekat, sekuntum bunga mekar pada kepala seorang perempuan. Bunga itu mekar disirami air mata dari sepasang mata perindu yang begitu lama menunggu temu.

Perempuan itu barangkali terlalu lelah menunggu harapan yang tak kunjung jadi nyata, menunggu do’a-do’a nya dianggukkan semesta. Ia tersedu sedan di kamarnya yang gulita oleh padam lampu di langit-langit kamarnya.

“Duhai Tuhan, sampai kapan aku menunggu dia yang tak lekas datang? Kau tahu, aku menunggunya sejak malam memiliki langit sehitam gaun malamku hingga warna langit malam itu luntur oleh cahaya matahari dan berubah ungu.” perempuan itu masih menengadahkan tangan sambil menatap jendela yang mempertunjukan warna langit yang hitamnya perlahan mengungu. Semesta tak kunjung mengangguk, Tuhan tak kunjung menjawab pertanyaan si perempuan.

Perempuan itu kini sudah pejam. Mengatupkan sepasang matanya yang masih menyisakan genangan air. Dibiarkannya air mata itu mengering sendiri diembus angin malam yang lewat dari ventilasi udara dalam kamarnya. Diam-diam, Tuhan masuk ke dalam kamar perempuan itu. Mengendap-endap, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia menghampiri perempuan malang itu dan menanam sesuatu di kepalanya. Bibit bunga. Tuhan menghadiahi perempuan itu bibit bunga. Usai menanam bibit bunga dalam kepala perempuan yang sedang tidur,Tuhan segera pulang ke tempat asalnya. Mengendap-endap tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dibiarkannya angin tak berembus ke dalam ventilasi kamar perempuan itu. Tuhan sengaja menahan angin agar tak tembus ke kamar perempuan itu supaya air matanya bisa menyirami bibit bunga yang baru saja Ia tanam di keningnya. Perlahan, senyum Tuhan terkembang di sudut-sudut bibirnya.

Malam itu, gugusan bintang pagi merayapi langit. Bulan purnama sudah menghapus riasan di wajahnya, bersiap pulang dan rebah pada ranjangnya. Pementasan langit malam sudah usai, diganti oleh dinihari. Dalam kepala perempuan itu, bunga perlahan mekar. Air mata di dua ujung kelopak matanya diserap bibit bunga tadi dan membuat kelopak-kelopak bunga yang indah. Perlahan, perempuan itu tersenyum. Sebab, di dalam kelopak bunga dalam kepalanya keluar seorang laki-laki. Laki-laki yang membuatnya menunggu sekian lama.

“Selamat pagi, Rinai.” ujar laki-laki itu menyapa perempuan yang sedang terpana di hadapannya. Perempuan yang semalam menanyakan keberadaannya pada Tuhan. Perempuan yang dipanggil Rinai, tersenyum.

“A…Awan…” ya, laki-laki itu bernama awan.

Laki-laki yang bernama Awan turun dari kelopak bunga, lalu menghampiri Rinai. Awan memeluk Rinai. Dibiarkannya tangis Rinai membasahi kemeja awan. Kemeja yang sering dipakainya. Awan mendekap perempuan itu lekat-lekat. Sekejap saja, sebelum akhirnya dilepas dan digantikan genggaman tangannya pada Rinai.

“Maafkan aku harus pergi dan meninggalkanmu.” kata laki-laki itu dengan wajah bersalah. Rinai mengangguk.

“Aku merindukanmu sepanjang malam.” Rinai mendesah lirih.

“Aku tahu. Ini berat untukmu, dan juga untukku, andai kau tahu.” Awan masih menggenggam tangan Rinai yang dingin. Yang halusnya masih sama seperti dulu.

“Aku tahu, Awan. Tetapi malam ketika merindumu itu terus berulang setiap malam.” Rinai menangis. Awan masih sibuk menghangatkan tangan Rinai.

“Kau seharusnya tidak merindukanku.” ujar Awan. Kini laki-laki itu menangis.

“A…aku tahu. Aku seharusnya melepasmu dan tak perlu lagi menunggu…” Rinai berkata lemah. Ia lepaskan genggaman tangan Awan lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Awan yang termangu sambil melelehkan air mata di sepasang mata yang jarang menangis. Kini ia menangis.

Rinai kini telah sampai di entah di mana. Meninggalkan Awan yang ingin sekali ia temui. Meninggalkan begitu saja laki-laki yang sudah ribuan malam ditunggunya. Angin membelai rambut sebahu Rinai. Dibiarkannya air mata itu kini dikeringkan angin dan waktu. Perempuan itu kembali terpejam. Dirasakannya air mata itu menghangatkan pipinya juga perasaannya. Ia ingat kata-kata Awan; kau seharusnya tidak merindukanku.
Ah, kini perempuan itu merasa dungu telah dipermainkan malam yang ia habiskan demi menunggu laki-laki itu. Laki-laki yang justru tidak menginginkan rindunya. Ia terpejam, mengingat detik-detik perpisahan waktu lalu dengan pelukan singkat dan aroma-aroma tubuh Awan yang lebih mirip hujan. Ia terpejam, mengingat air mata lelaki itu. Tunggu…air mata? Laki-laki itu menangis?

Perlahan, Rinai membuka matanya. Terang. Kini yang perempuan itu lihat hanya terang yang memenuhi pandangannya. Langit malam yang ungu itu sudah tak nampak, digantikan kuning matahari yang sedang nyengir pongah. Ia tahu ini musim panas dan bukan lagi musim hujan.
Perempuan itu ingin kembali, ke tempat di mana Awan berada di depannya, menggenggam tangannya, dan menangis. Tapi ia tak bisa kembali lagi. Pagi sudah memberangus mimpi itu menjadi tiada, bahkan bantalpun tak sanggup merekamnya. Ah, ya, yang barusan itu hanya mimpi belaka. Ilusi pagi yang sementara. Namun hujan di sepasang mata lelaki itu kembali mengusiknya, membuat ia ingin berlari ke tempat Awan berdiri, dan bertanya;
“Awan, apa kau bahagia?” hanya itu. Perempuan itu hanya ingin memastikan, apakah laki-laki yang ia rindukan, yang ia cintai itu bahagia dengan pilihan hidupnya; pilihan untuk pergi meninggalkan Rinai berdua saja oleh luka.

Ah, ia ingat doa semalam pada Tuhan yang ia pikir malas menjawab doanya. Ia ingat bunyi-bunyian semalam, suara mengendap-endap. Bunga itu. Bunga yang ditanam Tuhan di kepalanya semalam. Bunga itu dinamakannya bunga ilusi. Ilusi pagi. Perlahan, perempuan itu kembali tersenyum, dengan kesadaran yang lain; ternyata, Tuhan menjawab do’a umatnya dengan cara yang berbeda-beda. Seperti caraNya menjawab doaku lewat mimpi, bisiknya dalam hati sekaligus menyisipkan ucapan terima kasihnya pada Tuhan.

Perempuan itu kembali terpejam. Kali ini, bukan untuk kembali melihat Awan berada di kepalanya, tetapi untuk melupakan. Melupakan mimpi. Melupakan tangisan Awan. Dan menganggap, rindunya pada Awan telah usai diberangus matahari yang kian tinggi.

Tamat.


Bagaimana dongengnya? Kau suka?
Ah, Kau tahu?
Semalam, bunga yang sama mekar juga di kepalaku. Aku tidak menanggap ini sebuah pertanda atau apa,
tetapi, semoga kau selalu bahagia dan baik-baik saja.

Depok, 25 Februari 2015

Iklan

Surat Untuk Kopi

Surat ini kutulis kepada kopi; buah kopi dalam genggaman petani kopi, biji-biji kopi dalam toples kaca, biji-biji kopi yang tlah disangrai hingga baunya membuai indera penciuman siapa saja yang menghidu, bubuk kopi di mesin grinder, cairan kental dalam mug kopi, dan yang sudah tercerna dalam lambung. Surat ini untukmu, kopi.

Ya, kau boleh tertawa ketika membaca surat ini. Kopi mana bisa baca? lol.
Kopi itu memiliki nyawa, kau tahu? Senyawa kopi itu dinamakan antioksidan, dan itu berguna membantu tubuh dalam menangkal efek pengrusakan oleh senyawa radikal bebas, seperti kanker, diabetes, dan penurunan respon imun. Yang barusan itu dari wikipedia. Oh ya, selain itu, kopi juga memiliki beberapa nyawa lagi yakni; polifenol, flavonoid, proantosianidin, kumarin, asam klorogenat, dan tokoferol. Yang tadi juga dari wikipedia kok.
Oke, selesai intermezzo-nya.

Kopi yang kita sudah sama-sama tahu; ia memiliki aroma. Aroma pahit tapi tidak kecut, manis tapi tidak membuat mual, asam tapi bukan asam ketiak. Ya, aroma kopi bagiku memiliki magnet yang kuat bagi siapa saja yang menyukai kopi. Aku tidak bisa dibilang pecinta kopi ulung sih, karena minum kopi hitam tanpa gula saja aku ‘mbuh-lah daripada penyakit magh-ku harus kambuh, lebih baik menkonsumsi sanak saudaranya kopi macam moka, kapucino, atau istrinya kopi; kopi susu. Aku lebih suka yang begitu; perpaduan pahit-manisnya mengingatkan aku akan kehidupan di dunia yang fana ini. Atau kalau boleh melankolis sedikit, pahit-manisnya kadang lebih mirip kisah percintaan. Manisnya mirip manis ketika sedang jatuh cinta; hanya sementara di lidah. Lalu pahitnya selalu mengingatkan pada rindu-rindu yang tak pernah terbalaskan. Pahit kan? Hehe..

Seperti yang sudah-sudah, kopi identik dengan kesedihan, dan kesepian hidup seseorang. Semoga kopi tidak keberatan diidentikan dengan neraka dunia; sedih, sepi. Tapi kopi bukanlah neraka, melainkan minuman dari surga yang diberikan juga pada orang-orang yang sedang dalam neraka dunia; sedang sedih, sedang sepi. Entahlah bila di neraka sungguhan, ada kah kopi itu? Dan entahlah apa di neraka kita merasa sedih, dan sepi?

—skip.

Surat ini kutulis untuk kopi. Untuk berterima kasih saja kepada para petani kopi yang kini sedang memetik buah-buah kopi dan mengambil biji-biji terbaiknya. Terima kasih, sebab kopi-kopi yang kalian rawat, kalian hibah ke tangan-tangan peracik kopi, telah menemaniku menulis selama ini. Bukan hanya menemaniku menulis, melainkan menemaniku hidup selama beberapa tahun belakangan. Kopi-kopi itu juga telah membuatku mengerti dari tiap sesapannya; tentang pahit manis, tentang hidup, tentang cinta, dan rindu-rindu yang tak pernah terbalaskan.

Kepada kopi, kau akan selalu menjadi pengingat yang baik tentang pahit-manis hidup kapanpun saat aku menyesap tubuhmu ke dalam tenggorokan.

Depok, 22 Februari 2015

Love Me Like You Do

Seperti biasa, setiap hari aku akan menuliskanmu surat yang akan menumpuk menjadi link-link yang tak pernah kaubuka sama sekali.
Namun biarkanlah si bodoh ini tetap mengukiri aksara walau kepala rasanya pening akibat mengingatmu terlalu banyak, dan mencoba melupakanmu dengan banyak minum kopi. Oh what a fool me, melupakanmu dengan minum kopi? lol.

Belakangan ini, aku entah mengapa tergila-gila dengan lagu Love Me Like You Do-nya Ellie Goulding. Bila mendengar lagu itu pastilah tubuhku seperti kesurupan disco dancer, tangan menari-nari ke udara, tubuh berdansa mengikuti aliran tempo yang bersemangat, dan kepalaku seperti yang sudah-sudah; mengingatmu dalam ingar-bingar musik yang menyumbat telinga. Entah mengapa, setiap lirik yang kudengar bisa melayangkan ingatanku kepadamu. Setiap larik indah jatuh cinta seraya membuatku mengenangmu kembali, mengingat debar dan hangat yang sempat mampir di dadaku.

You’re the light, you’re the night
You’re the color of my blood
You’re the cure, you’re the pain
You’re the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so much

Kau ialah cahaya, kau ialah gelap, kau ialah warna dalam darahku; merah; cinta. Ah, lirik yang merayu, berkobar-kobar dengan rasa jatuh cinta yang membara. You’re the cure, you’re the pain, kau  ialah penyembuh, dan kau juga derita yang ditawarkan sekaligus dalam satu waktu. Ironis. Dan mencintaimu sama ironisnya dengan lirik lagu ini. Ya, jatuh cinta denganmu ialah penyembuh luka masa laluku, kemudian kau menawarkan aku luka lagi. Kau obat sekaligus penyebab sakit. Ah, ironis bukan?
You’re the only thing I wanna touch, ya lebih ironis lagi ketika engkau masih satu-satunya orang yang masih ingin kusentuh, padahal seharusnya tidak. Dan aku seharusnya jangan sekali-sekali mencoba menyentuhmu. Kau duri mawar, dan aku ialah yang tak gentar ingin menggenggammu kuat-kuat.
Never knew that it could mean so much. Aku tidak pernah tahu mengapa mencintaimu bisa sedemikian berarti banyak untukku. Sedemikian gila.

You’re the fear, I don’t care
Cause I’ve never been so high
Follow me to the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life

Kau ialah ketakutanku, di mana seharusnya cinta tidak tumbuh dariku untukmu. Cinta ini hanya benalu yang menempel pada dahan tubuhmu. Ada, dan mengganggu. I don’t care. Aku tidak peduli. Terdengar egois? Ya, memang benar adanya demikian. Aku tidak mau memunafikan diriku lebih jauh sebab aku tidak dapat membohongi diri lagi, aku tidak pernah merasa setinggi ini ketika mengenalmu. I’ve never been so high. So let me high, baby. Let me love you in my way and let it be my own sin. My beautiful sin.
Follow me to the dark. Ikuti aku ke dalam gelap. Mencintaimu ialah dosaku, dan berdosalah denganku. Cintai aku dengan semestinya. Love Me Like You Do. Tidakkah kau ingin ikut berdosa denganku? Meskipun itu dosa, meskipun itu dapat menggores wajah kesetiaan yang berparas ayu nan lugu nan dungu.
Let me take you past our satellites. Ayo jabat tanganku, berdosa dengan mencintaiku kembali, aku akan mengajakmu keliling ruang angkasa, melalui beragam planet, rasi bintang, dan satelit-satelit di angkasa raya. Dan kau akan melihat sesuatu yang pernah kaubawa dalam hidupku; ribuan bintang, cahaya, dan matahari. Ya, seluruh keindahan angkasa raya pernah engkau bawa ke kehidupanku yang gulita. Kau bawa lagi gemerlap itu, lalu kembali pergi, kembali meninggalkan gelap..

Fading in, fading out
On the edge of paradise
Every inch of your skin is a holy grail I’ve got to find
Only you can set my heart on fire, on fire

Loving you can brought me to the edge of paradise. Mencintaimu bisa membawaku ke tepian surga duniawi. Ah, surga duniawi. Ternyata, aku bisa menemukan surga di dunia ini selain kopi dan cokelat hangat yang mampu meleburkan duka menjadi senyuman hanya dalam satu sesapan saja, yaitu engkau. Kau.
Every inch of your skin is a holy grail I’ve got to find. Gila! Setiap inci tubuhmu ialah kesucian manusiawi yang pernah kutemui. Lagu ini benar-benar penuh oleh lirik rayuan!.
But damn! The last line of those lyric; only you can set my heart on fire. Yeah, only you can set my heart on fire and burning my heart inside. Ironic. Ironic. Ironic,

Yeah, I’ll let you set the pace
Cause I’m not thinking straight
My head spinning around I can’t see clear no more
What are you waiting for?

I let you set the pace. Cause i’m not thinking straight. Ya. Aku tidak bisa berpikir waras lagi bagaimana ini bisa terjadi begitu gilanya kepadaku. Rasanya seperti mabuk kepayang! My head spinning around I can’t see clear no more. 
What are you waiting for? Apa yang kau tunggu?

Love me like you do, love me like you do
Love me like you do, love me like you do
Touch me like you do, touch me like you do

Kuulangi lagi, mencintaimu ialah dosaku, dan berdosalah denganku. Cintai aku dengan semestinya. Love Me Like You Do. Love me like you do. Cintai aku dengan semestinya.

love me like you do
let me be your favorite mistake
because loving you is my beautiful sin i ever do.

– @chikopicinoo

So, What are you waiting for?

Depok, 21 Februari 2015

Rindu Yang Runtuh

Hai, tadi kita berjumpa, ya?
Hanya sebentar sih, hanya sekilas kerjapan mata, dan aku hanya memandangmu tanpa bicara apa-apa.
Entah mengapa, bibirku rasanya seperti dirantai tangan iblis agar tidak berbincang denganmu seperti biasa. Entah. Seperti kataku; asing. Padahal, kau tahu yang sebenarnya? Jangan ditanya lagi bagaimana semangat kinerja jantungku mengantarkan degup-degup aneh dari dalam dadaku ke gemetar tangan dan kakiku saat kau tiba-tiba tak sengaja tertangkap mata sedang berjalan sendirian melewati aku yang sedang menyaksikanmu menjauh, kau pasti tidak sadar, kan? Itulah hebatnya aku.
Jangan tanya bagaimana rasanya ketika jantung seolah lompat dari tempat asalnya dan terjun bebas ke udara saat kau tiba-tiba muncul di depanku, dan aku pura-pura tidak melihatmu sama sekali sehingga akhirnya kau yang menyapaku lebih dulu dengan tepukan singkat di lengan. Ah, aku baru saja mau menyapa, hai ketika kulihat kau masuk ke dalam dan punggungmu tak terlihat lagi. Dan kebetulannya lagi, aku sedang diburu-buru waktu.

Jangan tanya lagi bagaimana rasanya. Rasanya kurang-lebih seperti tertimpa durian runtuh, namun sayangnya bukan durian yang jatuh menimpaku, melainkan rindu. Ya, rinduku runtuh.
Jatuh patuh satu-satu ketika tiap detiknya kunikmati kehadiranmu di sekitarku. Sungguh, setelah sekian lama, aku ingin kembali mendengarmu. Meranggaskan rindu itu sampai tiada sisa untuk satu hari saja. Sungguh.

Berceritalah, tentang biru laut yang baru saja kaujelajahi…
Berceritalah, tentang dingin angin yang menerpa wajahmu…
Berceritalah, tentang debur ombak yang kaudengar….
Berceritalah, tentang suara burung-burung camar di atas kepalamu…
Berceritalah, tentang langit biru yang luas bisa kau tatap sepuasnya….
Berceritalah, tentang perjalanan…
Berceritalah tentang apa saja…
Apa saja….
Aku ingin mendengarnya lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Berceritalah, bicaralah, aku ingin menyaksikan rinduku runtuh seluruhnya. Untuk hari ini. Hanya untuk hari ini. Karena besok, kau tahu? Rindu akan hadir kembali.

Depok, 20 Februari 2015

Huruf-huruf Untuk Tuhan Baca

Sebenarnya, ‘kau’ di sini bukanlah kepadaTuhan. Melainkan memang untukmu. Iya, kau.
Ini sebabnya, judul surat ini juga bukan Surat Untuk Tuhan macam judul film itu. Bukan.
Hanya saja, surat-surat ini perlu dibaca Tuhan. Huruf-huruf yang kutulis di sini, untuk Tuhan baca, sebab ini berisi doa. Untukmu. Bahagiamu.

Baiklah, aku tidak perlu mengulang lagi, memperkenalkan aku ialah siapa dan kau ialah siapa untukku. Kau mungkin sudah bosan membaca aksara-aksaraku yang menulisimu setiap harinya, atau mungkin kau tidak peduli sampai rasanya tidak perlu membaca surat-suratku. Ini memang menyedihkan, di lain sisi. Tetapi buatku, ini cukup melegakan dan menyenangkan sebab rasanya seperti berbicara kepadamu secara langsung, tanpa perantara apa pun, dan tanpa kendala apapun. Menulis bagiku bukan hanya pengusir kesedihan, melainkan pengusir rindu yang kian hari kian menumpuk menyesaki rongga batin. Kau tahu? Ah, kau pasti tahu, aku tidak bisa apa-apa lagi selain menulis surat untukmu. Berbicara lewat aksara yang kuketik untukmu seolah-olah aku sedang berbicara sekaligus bertatap mata langsung denganmu. Aku tahu, aku dungu, tapi biarkanlah aku dungu untuk hal semacam ini lebih lama lagi karena ternyata dungu dalam mencintaimu tidak seburuk menjadi dungu pada pelajaran hitung-hitungan.

yang ingin kusampaikan di sini pendek saja, aku ingin kau tahu, dan huruf-huruf ini untuk Tuhan baca,
aku ingin kau bahagia, tersenyum, dan tertawa konyol dengan-atau-bukan-karena ulahku. Aku ingin kau bahagia sebab menjadi kau, tidak perlu jadi siapa-siapa untuk membuat dirimu dan orang lain bahagia.
Di surat ini, aku sekaligus menitipkan kebahagiaanku, sebab bahagiaku cukup sederhana; melihatmu bahagia, dan mencapai mimpimu lekas-lekas walau bukan aku yang memeluk tubuhmu dari belakang ketika engkau sibuk bersepeda mengayuh mimpi. Biar doa saja yang kutitipi lewat langit menuju Tuhan agar kau kuat mengayuh sepeda dan lekas sampai menuju mimpimu.

Huruf-huruf ini untuk kau baca, untuk Tuhan baca,
semoga dengan entah bagaimana, surat ini bisa sampai ke tanganmu. Sebab aku tahu, surat ini pasti sampai ke tangan Tuhan bahkan Ia sudah membaca tiap kata surat ini saat aku masih sibuk mengetik-hapus-dan ketik ulang. Pasti. Kau bilang, Tuhan Mah Tahu Segalanya, kan? Dan aku percaya.

Demikian saja ya isi suratku ini. Berbahagialah selalu, dengan siapa pun itu. Biar saja aku di sini menjadi penyaksi bahagiamu, sebab aku bukan hanya menyaksikan sambil mengiris-iris bawang, tetapi aku menikmatinya seolah sedang menikmati hidangan yang disajikan Tuhan untuk hidupku.
Kau pernah mengajariku bersyukur, ikhlas dalam hal melepaskan, dan beginilah caraku mengamalkan nilai hidup yang pernah kauajarkan.

Terima kasih.

Depok, 19 Februari 2015

Peniup Ruh Baru

Kepada engkau yang giat merajut benang-benang kata menjadi puisi paling memilukan sekaligus syahdu dalam satu-waktu, penjahit kata-kata yang kerap patah dalam dadamu yang ingar-bingar oleh apa yang tidak aku pahami.
Lagi-lagi, kukirimkan surat–entah keberapa kali–untukmu, tanpa bosan meski tanpa balasan.

Selamat mendengar kucuran hujan dari langit yang kian hari kian melebam, kian sembab oleh air mata dari mata musim.
Engkau tidakkah bertanya-tanya? Perihal judul Peniup Ruh Baru padahal Tuhan bukanlah gelarmu. Kau hanya Tuan dari kata-kata yang hidup dalam nadiku. Ya, nadiku yang basah oleh syair-syair yang kautulis di mana saja, rentetan aksara yang berulangkali buatku bertanya, dan mencoba mengerti seperti memahami apa yang tertulis pada buku ratusan lembar dengan sampul beledu merah muda; kau seringkali menyebutnya alkitab.
Aku ialah mata yang membaca judul-judul pada bait pertama yang kau tulis, mata yang mengeja tiap larik kesedihan yang kaualirkan ke darahku, dan mata yang terbuai oleh cantiknya aksaramu.

“Mengapa judul suratmu Peniup Ruh Baru, bukan Tuan Puisi saja?” bila hatimu bertanya demikian tuan, kau bisa lebih agung dari sekadar Tuan Puisi. Tuan, tidakkah kau tahu bahwa puisi ialah ruh bagi hati siapa saja yang mati? Puisi bisa menghidupkan apa saja kecuali tanaman yang sudah mati, hewan yang sudah mati, atau jasad yang sudah tak bernyawa. Bahkan kau tahu, puisi bisa menghidupi penyair yang tlah mati. Tentu bukan jasadnya, namun keberadaan arwah sang penyair yang menulisinya.
Tuan, andai kau tahu, sebelum ada kau satu bagian dari diriku telah mati digerogoti kepercayaan yang berlebihan dan pedih atas nama cinta. Bagian itu bernama hati. Hatiku sebenarnya tlah mati, tuan. Jauh sebelum engkau datang dan menghidupinya kembali. Dengan puisi yang kaudendangkan pada telingaku yang haus akan aksara surgawi dari bibirmu. Seperti aliran sungai yang kembali deras setelah musim kekeringan yang panjang.

Tuan, puisimu barangkali seruling yang meniupkan melodi yang menjelma ruh ke dalam relung hatiku nun jauh sampai dasar. Meresapi setiap bunyinya, hingga asap ruh itu mampu membangunkan kembali hati yang tlah mati, menyusun kembali hati yang tlah lama runtuh menjadi utuh. Seperti baru terlahir kembali.
Kau tiup perlahan-lahan aksara itu ke dalam dadaku, lalu gugur di sana seperti daun-daun kering yang akhirnya rontok pada tanah merah, ah tuan, mereka bilang ini yang namanya jatuh cinta.
Tuan, seandainya memang puisi yang kautiupkan itu bukanlah kepadaku, bukanlah untuk menghujani musim kering di dadaku, tapi engkau tlah terlanjur menghidupinya kembali. Ruh dari puisimu telah bersemayam dalam dadaku atas nama cinta. Jadi biarkanlah aku tetap memanggilmu Peniup Ruh Baru. Bukan Tuan Puisi.

Itu sebabnya, judul surat ini ialah Peniup Ruh Baru, Tuan.

puisimu ialah ruhku meskipun kautiupkan kepada orang lain.
yang hidup ialah debarku, menjelma gemetar paling syahdu.

Depok, 18 Februari 2015

Everyday Is Like Sunday

Hari ini aku bingung ingin menulis surat berjudul apa. Aku bingung.
Aku memang masih ingin menuliskanmu sebuah surat cinta dalam rangka perayaan bulan cinta bernama Februari ini. Tapi, entahlah. Aku merasa…..semakin….jauh saja. Jauh sekali. Belasan surat, dan puluhan puisi tetap saja tidak bisa mengembalikan jarak itu. Jarak yang tlah terlanjur panjang.

Omong-omong, ini hari Minggu. Jadwal kau libur dari rutinitas pekerjaan. Biasanya, kau lebih memilih tidur dan bangun lebih siang, lalu menonton film-film secara maraton, dengan kopi atau susu.
Dulu. Dulu sekali, waktu semua masih berjalan normal, saat dunia masih berputar pada porosnya, saya masih berada di tengah-tengah roda, hampir melambung naik, dan belum terinjak di bawah seperti sekarang, kau pernah mengajakku lari pagi–ajakan yang selalu aku tolak dengan alasan yang sama; minggu pagi aku mana boleh ke mana-mana? Ya, memang benar demikian. Hal itu seringkali membuatku mengeluh, aku kan sudah dewasa, tapi kebebasan rasanya masih jauh sekali untuk kugenggam dengan dua tangan. Ah, kau tahu? Aku menyesal tidak pernah menghabiskan Minggu pagi bersamamu.

Bagaimana Minggu pagimu?
Itu hanya pertanyaan basa-basi. Kau masih ingat? aku ialah stalker, yang menguntit apa saja tentangmu, selalu mencari tahu apa pun. Ya, kau juga demikian kan? Kalau kita berdua sama-sama tidak saling mencari tahu, mana mungkin aku duduk di jok belakang motormu waktu itu.
Dan dari pertanyaan di atas, aku rasa aku tahu jawabannya. Jadi, pertanyaan barusan, anggap saja basa-basi.

Oh iya, kau mau tahu tidak, bagaimana Minggu pagiku?
Tidak mau tahu juga tidak apa-apa. Aku tetap memberitahukan itu di surat ini.

Everyday Is Like Sunday. Itu lagu Morrissey.
Bagiku, Minggu pagi selalu sama dengan hari-hari lainnya. Sama dengan hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, juga Sabtu. Mereka semua berwarna abu-abu. Sama dengan warna langit bulan Desember, Januari, Februari, dan sampai entah bulan apa. Warna musim hujan.
Mana mungkin hariku bisa berwarna lain, apabila bocah yang seringkali mewarnai hariku itu sudah mewarnai buku gambar yang lain? Bocah itu sudah tak lagi mewarnaiku, kau tahu? Bocah itu sibuk mewarnai hari perempuan lain. Bocah itu kau. Dan perempuan lain itu bukan aku.

Everyday is like sunday
Everyday is silent and grey

Ini Minggu pagi yang biasa. Sama seperti hari-hari lainnya. Setiap hari rasanya seperti hari Minggu.
Hari Minggu yang sepi, senyap, dan abu-abu.
Hari Minggu yang biasa saja; sama seperti hari lain,
Setiap hari pun sama saja seperti hari Minggu;
sama-sama tak pernah libur merindukanmu.
Tak pernah libur mengharapkan jarak melenyap di antara kita.
Tak pernah libur dari segala hal tentangmu.

So, Everyday is like sunday, I still miss you, and wishing you were here.

Depok, 15 Februari 2015