Catatan Harian Orang Jahat

Senin, Januari 2016

Semalam saya memimpikan mantan kekasih saya mati bersimbah darah di kamar kosnya. Berita berita nasional mengangkatnya sebagai headline karena dia mati bersimbah darah, perut terkoyak-koyak, dada rompal, bola matanya hilang sebelah, dan sebelah tangan dan kakinya hampir putus. Pembunuhan macam itu hanya bisa dilakukan oleh hewan buas atau gergaji mesin. Ternyata memang ada hewan buas di kamar kos mantan kekasih saya itu. Seseorang telah mengirimkan harimau kelaparan ke dalam kamarnya. Kemudian polisi menciduk saya karena diduga saya lah pelaku tunggal. Saya lah pemilik harimau kelaparan itu. Tangan saya diikat ke belakang dan saya diborgol. Harimau itu sudah mati pula. Mungkin karena makan makanan busuk. Ya, tubuh mantan kekasih saya itu. Akhirnya harimau saya mati. Dan saya dibawa ke jeruji besi. Saya kemudian terbangun dengan perasaan sedih. Karena mantan kekasih saya mati dan itu hanya mimpi. Tapi ada pula rasa senang kalau itu hanya mimpi. Artinya, saya tidak jadi dipenjara. Kemudian timbul lagi rasa sedih. Karena itu artinya saya tidak pernah memelihara hewan buas.

Selasa, Januari 2016

Saya berdiri di atas peron jalur dua Stasiun Tanah Abang. Keramaian membludak. Banyak sekali orang-orang. Kenapa orang-orang itu banyak sekali? Seperti jumlah laron yang mati terinjak-injak di lantai warung bakso di gang sebelah. Bagaimana bila manusia itu seperti laron di warung bakso itu? Diinjak-injak, mati, dan gepeng begitu saja. Dan dunia ini, hanya warung bakso di sebuah gang.

“Woi awas!” teriak petugas kereta api gara-gara banyak orang nyebrang ketika kereta mau lewat. Kadang saya berpikir beruntungnya bukan saya yang jadi petugas kereta itu. Karena kalau saya, mungkin sudah saya biarkan mereka itu. Saya biarkan dan menunggu tragedi apa yang akan terjadi siang hari ini. Kereta menubruk gerombolan dan gerombolan itu seperti laron di lantai warung bakso. Saya cuma berharap tidak ada sanak keluarga dan kerabat dalam gerombolan yang menyebrang itu.

Rabu, Januari 2016

Hari ini sialnya saya ketemu teman lama saya waktu sekolah dulu. Dia semakin cerewet hingga beruang mati di kutub utara pun dia bicarakan. Sekarang dia sudah mapan. Punya rumah di real estate, mobil fortuner, kolam renang, motor Harley, dan hewan buas di belakang rumahnya. Saya tidak terkejut apalagi iri. Toh, dari dulu sekolah kan bapaknya sudah ketahuan korupsi, nah kalau sekarang beliau itu sudah bebas dan bisa bangun kekayaan lagi. Oh iya, dia cerita juga kalau punya tanah dimana-mana jadi sekarang dia bisa ongkang-ongkang kaki, pakai kolor doang, dan jalan-jalan ke mall sama istri dan anak-anak tercinta. Dia ceritakan itu seakan-akan dia orang paling bahagia di dunia. Lah kok bisa? Terus dia sesumbar begini “Saya amal banyak, ke mana-mana, jadi saya yakin tidak bakal melarat. Nggak mungkin banget deh. Kau tertarik nggak tanam saham di perusahaan saya?” dia nanya begitu. Saya cuma senyum terus pamit pulang. Jabat tangan, tersenyum, sembari berkelakar “Boleh nanti kalau kamu bangkrut!” dia tertawa saja.

Di jalan pulang ke rumah saya membayangkan kalau teman saya yang kaya itu tiba-tiba tersangkut kasus penipuan atau korupsi dan jadi buronan polisi. Anak istri ditelantarkan, diintrogasi polisi. Hidup tidak tenang. Perusahaan kanan kiri bangkrut. Relasi habis dan malah menusuk dari belakang. Dan terakhir jadi melarat. Roda hidup itu berputar, bung! Dan biarkan roda itu melindas kau punya cangkem!

Kamis, Januari 2016

Pulang liputan dari Pelmerah, saya langsung nulis berita. Tengah malam begini baru sempat merenung-renung. Lewat pasar palmerah tadi ada belasan tandan pisang dibungkus-bungkus koran kayak mayat dikafani. Iseng lah saya berpikir, bagaimana kalau di dalam itu ternyata orang? Dan penjual itu merupakan pembunuh bayaran yang berkedok penjual pisang? Dan di salah satu bungkusan itu ternyata ada mayat (bukan) teman saya yang cerewet atau mantan kekasih saya? Atau muka muka koruptor? Atau muka bos saya yang licik? Ah sudah lah, pikiran begini kalau dibiarkan muncul, nanti saya bisa mimpi mantan saya mati berdarah-darah kayak Senin lalu.

Jumat, Januari 2016

Pagi ini saya sudah dibuat kesal oleh ribuan pendemo yang turun ke jalan. Jalanan mampat. Macet di mana-mana. Bangsat! Saya ada liputan pagi-pagi sama orang penting. Akhirnya saya parkir mobil di pinggir jalan dan jalan kaki bareng pendemo itu. Orang-orang banyak kayak gula pasir tumpah di dapur. Lagi jalan itu, saya membayangkan, bagaimana bila salah satu dari mereka ada teroris yang meledakkan diri di tengah kerumunan massa? Mereka akan terpental dan darah di mana-mana. Persis kayak laron mati yang diinjak-injak di lantai warung bakso gang sebelah. Tiba-tiba saya hanya ingin berjalan cepat-cepat. Dan dari kejauhan itu saya ingin dengar suara ledakan. Tapi sampai di lokasi janjian dengan orang penting itu, tidak ada suara apa-apa dan tidak terjadi apa-apa. Saya kecewa. Kekecewaan itu bertambah tatkala saya bertemu teman lama saya. Pekan yang payah.

Dia cerita kalau dia baru menikah tiga bulan lalu. Minta maaf karena tidak mengundang saya. Lupa katanya. Bagus deh, saya tidak perlu melihat dua orang bahagia di atas panggung cengar-cengir. Saya juga tidak perlu mendengar dia bercerita tentang pengalamannya menikah, sebenarnya. Tapi dia ngomong mulu kayak laron. Muka dia merah sambil sungging senyum lebar. Cerita kalau bininya enak, penurut, cantik, semok, bohay, kalau udah di ranjang, ‘beuuuhh…’ Saya mau bilang kalau saya tidak perlu mendengar anda bercerita tetapi tidak enak, kan namanya teman, jadi saya cuma bilang begini, “Wah, gue nggak sabar nunggu cerita lo tiga tahun lagi.”

Saya cuma pengen dia tahu kalau waktu itu bisa mengubah apa pun. Dan pejabat sialan itu baru datang satu jam kemudian. Wajar kalau korupsi duit, waktu aja dibuang-buang!

Sabtu, Januari 2016

Pulang liputan sengaja saya mampir foodcourt di mall. Lagi pengen saja, tiba-tiba kangen sama mbak-mbak yang jual dimsum, entah pertanda apa. Ya sudah saya beli dimsum satu porsi seharga Rp11.000 yang saya bayar pakai uang Rp100.000, dia tanya, “Mas ada duit pas nggak?” katanya ketus. “Wah enggak ada mbak,” “Yah. Yaudah bentar kembaliannya” kata dia lagi dengan muka ketusnya. Terus dia kembali ke kios dan nyari duit buat kembalian duit saya sambil masih masang muka asemnya itu. Saya pingin tertawa kok ya ndak enak. Jadi ini alasan saya kangen mbak-mbak dimsum? Mungkin karena kebanyakan berpikiran jahat, jadi saya kena batunya. Sekeliling saya ramai orang memadu kasih. Saya lupa kalau ini Malam Minggu. Waduh, kampret tenan! Saya buru-buru habiskan dimsum dan pulang. Di sekeliling foodcourt itu sepasang kekasih jumlahnya ngalahin korban bunuh diri di Arab Saudi, kayaknya. Banyak banget. Ada yang gandengan, ada yang rangkulan, ada yang makan sambil diem-dieman, ada yang ngobrol cekakak-cekikik, ada yang mau gumoh. Ya, yang mau gumoh itu saya. Sudah tau enek, saya malah makin jadi melihat sepasang sepasang itu satu per satu. Lihat muka ceweknya, lihat muka cowoknya sambil bergumam, “Halah, paling besok udah nggak gandengan. Halah paling besok putus. Halah itu lihat aja muka ceweknya minta putus gitu. Haduh mbak, nggak ngeliat itu cowoknya bosen? Lho, lho mbak lihat tuh cowoknya matanya kemana-mana! Aduh goblok banget, udah ketahuan itu cewekmu cuma mau morotin doang!”

Minggu, Januari 2016

Libur. Libur. Libur. Libur dari berpikiran jahat. Namaste dulu sama kopi, buku, musik. Kopinya kapal api, bukunya Charles Bukowski, musiknya Leonard Cohen lagi putar lagu Bird On The Wire. Nikmat mana lagi yang kau dustai wahai pengeluh ulung? Tiba-tiba saya mulai menyelami hari-hari kemarin. Banyak pikiran-pikiran jahat terlintas begitu saja tanpa dimau ataupun dimau. Tiba-tiba saya kepikiran Ratih, pegawai marketing baru yang punya senyum ayu biyanget! Saat mikirin Ratih itulah, sepenggal lirik ini muncul begitu saja seperti pikiran jahat lainnya:

“If I, if I have been unkind
I hope that you can just let it go by
If I, if I have been untrue
I hope you know it was never to you.”

Sebuah pesan buat jodoh saya kelak.

 

 

Depok, 12 Februari 2017

Suatu Hari di Rumah Tangga-ku

Dia tidak ingin menyentuhku lagi. Entah mengapa, kini aku menjadi santapan basi untuknya. Berita dua minggu lalu. Atau susu kadaluwarsa. Sebagai perempuan tulen, masih muda, dan cerdas, diperlakukan seperti itu membuatku merasa dilecehkan.

Dia tidak ingin menyentuhku sama sekali. Seakan-akan aku sisik ular yang menjijikkan atau tahi sapi yang tak sengaja dia injak lalu dia limpahkan tahi itu ke atas aspal dengan cara menggesek-gesekkan sepatu ke jalan sampai tahi itu hilang dari sepatunya. Aku seperti tahi sapi. Aku seperti liur anjing.

Dia tidak ingin menyentuhku sama sekali. Hal itu terjadi semenjak dia pulang dari pondokan di sebuah kota di Jawa bagian tengah. Sebulan yang lalu, dia pamit kepadaku ingin pergi mencari tuhan supaya dia bisa mengajariku menjadi hamba Tuhan dan Mbah Wonokromoko, gurunya.

“Aku hendak ke Jawa, dik. Ke pondok Mbah Romo, aku mau dekatkan diri ke Tuhan, dik. Bagaimana?” tanyanya waktu itu sambil memeluk diriku dari belakang ketika lagi masak sayur asem kesukaannya.

“Mau dekatkan diri ke Tuhan mengapa jauh-jauh sih, mas? Kan bisa di rumah?” tanyaku balik.

Ndak bisa, dik. Aduh, kamu ndak paham kayaknya..”

Lho? Kok ndak paham?”

“Ya, Mbah Romo itu kan adanya di Jawa, dik.”

“Lha, kamu mau dekatkan diri ke Tuhan apa ke Mbah Romo?”

“Ilmu Mbah Romo itu tinggi, dik. Seperti langit. Ilmunya itu ibarat tangga yang mengantar murid-muridnya agar lebih dekat dengan Tuhan. Gitu, dik.”

“Apa tidak musyrik, mas?”

“Lho, kok musyrik? Ya tentu ndak dong. Wong mau dekatkan diri ke Tuhan masak musyrik sih…” dia langsung sewot. Padahal kan aku hanya bertanya baik-baik.

“Yha kan aku bertanya, mas.”

“Belajar agama itu ndak bisa seorang diri, dik. Harus belajar ke orang yang ilmunya lebih tinggi. Kalau sendiri bisa keblinger. Kayak kamu!”

“Lho? Kok kayak aku?”

“Lha iya. Ibadah aja jarang apalagi mendekatkan diri pada Tuhan. Doa saja ndak pernah apalagi dekat dengan Tuhan!”

“Lho?!”

“Jadi boleh ndak?”

“Ya boleh. Masak niat baik mau dilarang-larang.”

“Nah begitu dong daritadi. Jadi ndak usah ada perdebatan.”

“Lha….”

Besoknya dia berangkat ke pondokan. Aku siapkan baju-bajunya, alat-alat mandi, perlengkapan ibadah, cemilan-cemilan buat di perjalanan, dan bekal buat makan siang jadi dia tidak usah beli di kereta. Pagi itu, aku mengantarnya ke stasiun Senen sampai dia naik kereta. Saat dia mau naik kereta, dia sempatkan dulu mencium keningku pelan dan kubalas dengan mencium tangannya.

Aku tidak menyangka itu terakhir kalinya dia menyentuhku.

Sebulan kemudian dia pulang. Tidak mengabariku lewat sms atau aplikasi chatting mana pun. Tidak menelpon juga. Dia tiba-tiba datang ke rumah, mengucapkan salam. Aku menyambutnya dengan salam dan hendak mencium tangannya dan memeluknya. Tapi dia berkilah. Membuat gerakan menghindar. Kemudian aku tawari makan, dia hanya menggeleng pelan dan bilang, “saya sedang puasa sampai jam delapan malam nanti,” katanya.

Saya? Saya? Dia bilang saya?

Puasa? Dia bilang puasa? Puasa sampai jam delapan? Puasa jenis apa?

Pukul delapan itu, kuhidangi segelas teh panas, nasi hangat, sayur asem, tahu-tempe, apel, pisang, jeruk, dan anggur. Dia hanya meminum teh panas dan dua butir anggur. Lalu dia pamit tidur. Aku ikuti ke kamar. Aku kangen juga. Tapi dia tidur memunggungiku. Dia tidak pernah tidur memunggungiku.

Entah mengapa dia tidur memunggungiku. Apakah dia menemukan perempuan lain di pondokan? Ah, tapi tidak mungkin. Dia tidak mungkin begitu. Dia tidak gila perempuan, setahuku. Aku mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan baik. Prasangka-prasangka buruk ku singkirkan.

Aku masih belum tahu mengapa dia tidur memunggungiku. Jadi, kucopot saja semua pakaianku kecuali pakaian dalamku dan tidur di sampingnya. Berharap dengan ini, dia jadi kangen. Bayangkan, satu bulan lebih kau tidak tidur dengan istrimu. Apakah bisa kamu menghindari rasa kangen? Tentu tidak. Tapi sepertinya masih ada pengecualian yang aku belum tahu.

Aku mencoba memeluk punggungnya. Kurasa dia pulas sekali. Mungkin dia kelelahan, jadi kubiarkan saja dia tidur tenang selama aku masih bisa melepas kangen dengan memeluknya.

Subuh-subuh ketika aku bangun, dia sudah tidak ada di ranjang. Dia menutupi tubuhku dengan selimut hingga semuka-muka. Untungnya tidak sampai hidungku, kalau tidak, aku bisa kehabisan napas. Aku penasaran, akhirnya aku ke luar kamar tanpa memakai baju yang semalam kucopot. Ternyata dia sedang membaca-baca buku, entah buku apa.

Melihat aku membuka pintu kamar, dia melirik sekilas, lalu memejamkan mata. Lha, kenapa? Ada yang salah dengan tubuhku?

“Pakai bajumu,” katanya singkat. Ini aneh, karena biasanya dia langsung menerkamku sesubuh ini dan bercinta pagi-pagi. Ini tumben-tumbenan.

Aku mencoba maklum, mungkin dia masih lelah, mungkin dia sedang puasa, mungkin dia… ah, sudahlah. Aku mandi dan mengganti pakaian dan masak. Sedangkan dia duduk anteng di kursi tamu sambil baca buku, baca koran, menyetel radio siraman rohani. Aku masak sayur sop, tumis tahu, ayam goreng, dan sambal. Di dapur. Sendiri. Dia tidak datang menguyel-uyel rambutku, tidak datang menyergapku dari belakang, tidak datang untuk sekadar rebah di tengkuk, atau memeluk pinggangku erat-erat. Atau, dia tidak datang sekadar melihat dan bertanya, “masak apa kamu hari ini, sayang?” tidak ada.

Satu minggu. Dua minggu. Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Aku diperlakukan begitu. Tidak disentuh sama sekali. Dia sering meninggalkanku di rumah dengan alasan rapat ini-itu. Pertemuan murid Mbah Romo, dan bla-bla-bla lain yang kuanggap hanya alasan semata. Jelasnya, sudah hampir tiga bulan kami tidur saling memunggungi atau kalau aku sedang kegerahan dan melepas semua baju, dia malah pindah tidur di kamar tamu. Aku tidak mengerti. Padahal kita baru dua tahun menikah. Apa ini karena kita belum memiliki momongan?

Apakah dia ingin momongan? Mau anak? Tetapi kalau iya kenapa dia menolak bercinta denganku? Bagaimana mau punya anak kalau begini? Aku bingung. Aku dilema. Aku tidak tahu apakah ada kesalahanku yang membuat dia seperti ini? Atau, atau, atau, ini efek dia mondok empat bulan lalu?

Aku tanyai dia baik-baik. Ada apa, mengapa kamu begini, ada masalah, dan beban-beban lain semua kuungkapkan sampai keinginan untuk punya anak. Dia menjawab baik-baik tanpa memandang mataku barang sekejap saja. Ketika aku menanyai apakah ini ada hubungannya dengan ajaran Mbah Romo? Dia malah marah-marah. Menggebrak meja. Dan menuding-nuding telunjuknya ke mukaku. Gusti, aing salah apa?

“Kamu nggak usah bawa-bawa Mbah Romo ya! Kamu ndak tahu apa-apa! Kamu tahu apa tentang ajaran guru saya? Ibadah saja ndak pernah!”

Astaga.

Kemudian dia membanting pintu dan ke luar rumah.

Satu minggu tidak pulang. Dua minggu. Tiga minggu.

Tiga minggu kemudian, tetanggaku mengaku lihat suamiku di kanal youtube. Kanal youtube yang menunjukkan kekerasan dan radikalisme kelas berat.

Suamiku itu, ya memang benar itu suamiku. Dia sedang menyumpah serapah di hadapan kamera. Dia menenteng senjata. Berteriak. Mengajak. Memaki. Berseru. Kemudian dia berlari ke tengah kerumunan. Dan meledakkan diri. Ya. Meledakkan diri.

Meledakkan diri dengan arti sebenarnya. Aku ternganga. Tetanggaku yang sudah pernah melihat video itu hanya memegangi pundakku yang bergetar. Bergetar hebat.

 

-Tamat-

Catatan: Baru menulis lagi setelah lama tidak menulis. Jadi kalau tulisannya kurang bagus, harap maklum. Cerita di atas hanya fiksi belaka, tidak menuding atau menyinyiri kaum mana pun. Saya hanya mencoba menjadi jenaka di tengah-tengah kisruh sana-sini oke. hhe.

Gadis dari Selatan Jakarta

Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima saja orang yang beruntung di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, malaikat cinta hanya berpihak pada seperlima manusia saja di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima pasangan saja di dunia ini yang beruntung. Yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama. Kau tahu dan aku tahu, kita bukan bagian dari mereka; yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama.

Sabtu pagi ini, kau tahu, aku sedang membuka-buka buku lama-ku. Masih tersimpan Poems-nya Emily Dickinson pemberianmu itu. Buku itu di tanganku sekarang. Kalau seandainya kau bertanya bagaimana kabar buku itu, buku itu sudah kumal, bagian-bagian sampul terlipat dan terkelupas, bagian dalamnya jangan ditanya, tapi jangan khawatir aku masih bisa membacanya ulang. Membaca ulang buku ini, sama saja mengenang ulang kita.

Bukan kah kau ingat di suatu sore, di halte bis dekat rumahmu, saat kau hendak menemaniku menunggu bis? Saat itu hujan agak deras dan tak ada bis menuju rumahku yang lewat. Kau membawa Poems Emily Dickinson dan kita membacanya bersama-sama hingga bisku datang, dan kau pulang berjalan kaki dengan payung merah delima. Aku menatapmu dari bis dan pandanganmu berpaling ke arahku. Kita bertatapan lewat kaca bis yang ditetesi air hujan dan rintik hujan di luar yang mulai reda. Setelah bis-ku menjauh dan kau sudah tak kelihatan lagi, aku baru saja ingat bahwa bukumu itu berada di tanganku. Sejak empatpuluh tahun berlalu. Hingga sekarang, hari ini.

Di hari naas itu, aku bilang padamu, “Poems. Emily Dickinson-mu, masih ada padaku,” tentu saja aku berharap kau memintaku mengembalikannya padamu dan kita membuat jadwal pertemuan lagi di kedai, taman, atau halte bus. Tetapi kau bilang, “Ambil saja, aku punya dua,” lalu aku angkat bahu dan pergi. Sekali itu, aku benar-benar pergi dari pintu rumahmu, atau dari kehidupanmu. Di hari naas itu, kau tak lagi mengantarku menuju halte bus dan mengatakan selamat tinggal, aku akan merindukanmu dan menunggumu lagi, atau hal-hal semacam itu.

Kopi telah diantar ke mejaku saat aku sampai di halaman ke-31, Rani melirikku dan berdeham pendek. Aku meliriknya sekilas dan kembali ke buku itu. Aku tidak pernah tertarik dengan mata perempuan mana pun selain matamu. Sejak empatpuluh tahun berlalu hingga sekarang, hari ini.

Kau ingat Anggi? Pernahkah dia bercerita padamu? Bahwa kau adalah satu-satunya perempuan yang benar-benar ada di hidupku, perempuan lainnya hanya teman tidurku, teman nonton film-ku, teman minum kopi, teman mabuk-mabukan—yang dilanjutkan menjadi teman tidur. Tapi kau….

Kau tahu tidak, di antara semua jenis ‘pertemanan’, teman bercerita adalah satu yang paling istimewa; dan kau satu-satunya. Kau satu-satunya teman membaca, teman menulis, teman diskusi, dan yang paling penting, teman bercerita. Kita bisa bercerita apa saja dan di mana saja. Di kontrakanku yang sempit dan gerah, di teras warung jamu yang tidak buka 24 jam di Cikini, di halte bus yang sudah gelap dan tiada berlampu di Tanjung Barat, di depan toko listrik di Lenteng, di antara rak-rak buku di daerah Kalibata, di kolam renang dekat Pasar Minggu, di angkutan umum, atau di dalam mobil sedan tuamu yang kau bawa diam-diam untuk jalan-jalan denganku.

Kau masih ingat, di kolam renang itu? Kolam renang satu-satunya di kota itu. Pertama kali aku melihat hampir sekujur tubuhmu telanjang. Kau mengenakan bikini bekas kakak perempuanmu. Bikini itu sangat pas di tubuhmu yang memiliki lekuk pinggul paling seksi. Aku masih ingat warnanya, putih dengan garis-garis vertical yang lurus warna biru. Rambutmu yang panjang kau gerai saja hingga rambut-hitam-bergelombang-itu-menyentuh payudaramu. Aku masih mengingatnya-dengan-sangat-baik.

Barangkali kau akan mengingat kecupan kita di kolong air kaporit dan langit mendung waktu itu. Tapi bukan bagian itu yang membuat aku mengingatmu. Kau barangkali lupa atau bahkan kita sama-sama mengingat momen itu. Momen saat kita berdansa di air. Aku bersumpah, tidak akan ada pasangan seperti kita. Tidak akan ada pasangan yang berdansa di dalam air. Berdansa dengan gerak-gerak lamban karena air kaporit di antara kita. Flying and dancing, kau bilang. Dan kau bersumpah, kau tidak akan melupakan kolam renang ini.

“Aku tidak akan melupakan kolam renang ini,” katamu sambil mencelupkan kakimu ke dalam air dan menendang-nendang air seakan-akan air telah mengambilku darimu. Kau kemudian memandangku, “Dan tentunya, kamu.” Kau mengerling sedikit dan aku menciummu lama sekali. Di pinggir kolam renang yang lengang. Di bawah langit mahamendung. Dan ditetesi rintik-rintik tipis hujan Desember.

Sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Dan itulah mengapa dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh masa kecilku dan masa remajaku, membikinku jadi tulang punggung keluarga, membuatku jadi tukang minum dan pemabuk, berganti-ganti perempuan dari tempat pelacuran satu-ke-satu lainnya. Dan ketika dia mempertemukanku denganmu, barulah aku katakan pada langit, “Aku mencintaimu, takdir!” lawan kalimat yang selalu kukatakan pada langit dan Tuhan, di mana pun Ia berada.

“Aku tidak pernah mencintai hidupku sebelum kamu datang,” kataku.

“Kenapa? Hidupmu terlalu berharga untuk tidak kamu cintai,” katamu.

“Takdir tidak pernah mencintaiku.”

“Aku tidak ingin mengatakan kalau itu tidak benar. Tuhan selalu punya rencana untuk hidup kita.”

“Dengan cara menghancurkan hidupku?” tanyaku polos. Kau tertawa, tetapi bukan jenis tawa meledek.

“Barangkali begitu, tetapi Dia memperbaiki lagi, bukan? Dan membuat kau lebih baik. Dan lagi, bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku kalau kau tidak bisa mencintai dirimu sendiri?”

“Aku mencintai diriku sekarang, karena kamu telah datang.”

“Kalau begitu, jangan jadikan aku sebagai alasan kau membenci hidupmu, kelak,” kau tersenyum. Menatapku lurus-lurus. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa tidak menciummu sambil mengaitkan lenganku ke pinggulmu.

“Kau berjanji?” tanyamu.

“Janji apa?”

“Yang tadi…”

Aku tersenyum. Menyiumnya lagi.

“Janji.”

Kau mencintai Tuhan seperti kau mencintai hidupmu sendiri. Dan aku terbawa arusmu. Arus surga, kalau kataku, ketika teman-temanku dengan resek-nya meledekku karena belakangan rajin ikut kebaktian.

Aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku membenci hidupku sebagaimana aku dulu yang tanpamu. Setelah kau menutup pintu rumahmu dan kehidupanmu untukku. Setelah aku meninggalkan pintu rumahmu dan pergi dari kehidupanmu. Aku kembali membenci takdir. Ya, karena sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Setelah dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh hidupku, membikinku jadi tukang minum dan pemabuk, membuatku ke tempat-tempat pelacuran, mempertemukan denganmu—bagian ini tidak pernah aku sesalkan,—- menghadirkan pertengkaran di antara kita, membuatku mabuk lagi, membuatku ke tempat pelacuran, membuatku meniduri Rani, dan membiarkan Rani hamil dan menuntutku untuk menikahinya, dan memisahkan kau dan aku. Sudah kah kau sepakat bahwa takdir tidak pernah mencintaiku?

Kau pasti mengelak dan mengatakan, “Itu artinya takdir tidak menulis namaku di hidupmu. Itu artinya Rani lah perempuan yang Dia tuliskan,” dan kau akan melanjutkan, “Dan karena itu ibu dan kakak perempuanku melindungiku darimu,” dan kau akan melanjutkan, “Dan di hidupku, nama laki-laki yang dituliskan takdir adalah, Wijaya. Bukan namamu.”

Hidupku lesak-se-lesak-lesaknya ketika kau memutuskan untuk menikahi Wijaya di sebuah gereja dengan aksen lama di daerah Pasar Minggu. Gereja yang sering kita tunjuk-tunjuk untuk tempat kita nanti menikah, dan aku selalu menyetujuinya.

Aku menyesap kopi ketika ia sudah hampir dingin dan tidak enak. Rani tidak pernah becus membuat kopi. Dan aku telah sampai di halaman 41, aku terlalu banyak merenung.

Sabtu-masih-pagi- di luar hujan gerimis sudah turun. Beginilah Desember. Tanahmu basah, dan wangi bunga kenanga dan mawar menguar dari persemayamanmu. Aku belum sanggup menemuimu. Melayat ke pekuburanmu, dan meletakkan bunga-bunga kesukaanmu di sana. Aku tidak sanggup untuk tidak menangis dan mengakui bahwa aku masih sangat mencintaimu.

Semoga, Tuhan memberimu Poems-nya Emily Dickinson sekarang ini, dan membiarkan kita, sekali ini saja, untuk membaca buku yang sama, di alam yang beda.

Aku selalu mendoakanmu, di malam tergelapku,
Aku selalu mendoakanmu, di pagi tercerahku,
Aku selalu mendoakanmu, dan mencintaimu,
Di segala waktuku.


Jakarta, 10 November 2016

Catatan: Lagu ini terinspirasi dari lagu Bob Dylan di album The Freewheelin’ Bob Dylan, yang memakai foto Bob Dylan dan Suze Rotolo jadi sampul albumnya. Lagunya berjudul Girl from the North Country. Liriknya kutaruh di bawah catatan ini, ya!


Girl From The North Country
WRITTEN BY: BOB DYLAN

Well, if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

Well, if you go when the snowflakes storm
When the rivers freeze and summer ends
Please see if she’s wearing a coat so warm
To keep her from the howlin’ winds

Please see for me if her hair hangs long,
If it rolls and flows all down her breast.
Please see for me if her hair hangs long,
That’s the way I remember her best.

I’m a-wonderin’ if she remembers me at all
Many times I’ve often prayed
In the darkness of my night
In the brightness of my day

So if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

7fc02755b33af86a735744867f0e0249tumblr_l3x3k4k9rv1qc0beio1_500tumblr_nupoypmtjc1s82tn3o1_400

Sosok Gracia Mounray dari Oxford Town

Kisah ini tidak akan menceritakan tentang perang. Tidak juga tentang perjuangan. Tidak juga tentang cinta dan hal-hal yang seharusnya dibiarkan saja berlalu. Kisah ini tentang perempuan. Kisah ini tentang seorang perempuan. Seorang penyendiri yang ambisius. Perempuan penyendiri yang ambisius. Dan tidak membutuhkan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Baik, kita mulai kisah ini dari kata ‘perempuan’.

Perempuan itu bernama Gracia Mounray. Tinggal di Oxford Town dengan seorang ibu yang sakit-sakitan, kakak perempuan yang egois, dan adik laki-laki yang gemar menghabiskan waktu dan uangnya dengan berjudi dan pelacuran. Usia Gracia Mounray baru saja menginjak angka kepala tiga.

Dia bertubuh tinggi nyaris seperti model-model Victoria, rambutnya pirang dan ikal di bagian bawahnya, matanya mirip mata kucing yang mengincar ikan segar, hidungnya tinggi layaknya Everest, dan bibirnya seindah pegunungan di desa terpencil yang jauh dari perkotaan. Dia mempunyai leher jenjang yang mengundang lelaki ingin segera tunduk di tengkuknya tetapi dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dadanya seperti perempuan yang terkena anorexia. Dan tungkai kakinya mirip Taylor Swift. Nyaris sempurna. Nyaris, andai saja lengan-lengannya tidak sedikit berotot, dan betisnya berada di ukuran perempuan normal.

Tetapi, Gracia Mounray memang tidak seperti perempuan kebanyakan. Dia memang gemar melukis wajah, memakai heels terbaik di kota itu, tas jinjing prada, dan mengejar karir sampai heelsnya copot di tengah jalan. Dan membiarkan dia pulang tanpa alas kaki. Sebagian orang bilang, seharusnya Gracia Mounray bekerja di depan kamera, berlenggak-lenggok di panggung, memamerkan mata dan seluruh tubuhnya ke arah kamera. Tetapi nyatanya Gracia Mounray adalah seorang jurnalis politik di media Poulitico Time. Dan dia hanya memakai heels di saat-saat formal, selebihnya keputusan terserah Gracia Mounray.

Orang-orang di kota itu mengenal Gracia Mounray dan mengaguminya. Orang-orang di kota itu menganggap kehidupan Gracia Mounray adalah mimpi terbaik. Dia cantik, terlatih, bertalenta, dan masih banyak lagi. Tetapi hidup Gracia Mounray memang seperti mimpi. Mimpi buruk.

Gracia Mounray, seperti yang dikatakan sebelumnya, tinggal bersama ibu yang sakit-sakitan, kakak perempuan yang egois, dan adik laki-lakinya yang gemar berjudi, pelacuran, dan mabuk-mabukan. Yang terakhir, menyebabkan Gabriele Mounray, adik Gracia Mounray, mati karena overdosis dan komplikasi ginjal dan jantung di usia muda. Gabriele Mounray, mengisi lembar-lembar koran, tentang kematiannya yang seperti lagu The Smith. A Death Of A Disco Dancer. Gabriele Mounray mati di club malam, dengan tujuh botol vodka, serbuk ekstasi, dan ganja hisap.

Kakak perempuan Garcia Mounray, Febriene Grazie Mounray, selalu bertengkar dengan dirinya dan ibunya. Febriene selalu menyalahkan Gracia atas kematian Ayah mereka, Tuan Mounray. Febriene, sebelum hari-hari naas menimpanya, adalah gadis yang manis dan baik hati. Dia masih mau menjual bunga dan telur untuk membantu ibunya mencari nafkah selepas Tuan Mounray meninggal. Tetapi hari-hari naas berikutnya mengubah perangainya menjadi buruk. Febriene sebenarnya telah menikah dan seharusnya memiliki satu putri kecil yang cantik seperti dirinya dan Gracia. Tetapi bayi perempuannya tidak pernah lahir. Suaminya, yang seorang prajurit perang, mati terkena peluru tepat di batok kepalanya, dan itu menyebabkan Febriene keguguran. Semenjak itu, dia menyalahkan Gracia atas seluruh kehidupannya yang hancur.

Ibu Gracia Mounray sendiri merupakan seorang perempuan biasa. Tua dan penyakitan. Suzy Barton Mounray, ibu Gracia Mounray, karena tekanan mental yang bertubi-tubi, terkena struk ringan dan menjadi sering pikun. Dia bahkan pernah menyusuri Oxford Town seorang diri dan tak tahu jalan pulang, beruntung seseorang mengenalnya dan mengantar Nyonya Mounray ke rumah. Dia juga pernah tidak mengenal Gracia Mounray, Febriene, dan Gabriele. Baiknya, menurut Gracia, perempuan renta itu tidak perlu tahu ke mana Gabriele pergi dan apa yang terjadi dengan hidup Febriene.

Ayah Gracia Mounray, Febriene, dan Gabriele, telah lama mati. Ketika Gracia Mounray masih berumur delapan tahun. Ketika Tuan Mounray mengantar putri kecilnya ke sekolah dengan sedan biru tuanya. Sedan Daihatsu Charmant biru tua yang remnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Sedan biru tua yang mengantar Gracia Mounray ke sekolah, dan mengantar Tuan Mounray kepada maut. Sedan biru tua itu, dikabarkan oleh New York Times, pada musim panas tahun ’91, menabrak bus. Satu orang tewas, yaitu Tuan Mounray, dan seorang gadis kecil selamat, dia Gracia Mounray. Seluruh keluarga terpukul kecuali Gracia Mounray. Dia tidak dapat merasakan apa-apa.

Gadis secantik, semolek, secerdas, dan sesupel Gracia Mounray, di pikiran banyak orang memang sangat menarik. Tidak ada yang akan menolak menjadi teman atau sahabat baiknya. Tidak ada pula lelaki yang tidak mau berkencan dengannya. Tentu, lelaki itu harus mengimbangi kecerdasan perempuan itu. Tetapi hidup Gracia Mounray, seperti yang dikatakan, adalah mimpi buruk.

Pada kenyataannya, Gracia Mounray adalah perempuan penyendiri sejak kematian ayahnya. Kematian yang tidak membuat perempuan itu menangis sama sekali. Gracia, sedari kecil, tidak pernah memiliki teman yang akrab. Terakhir, dia memiliki teman bermain yang memiliki anjing, dan dia memotong buntut anjing itu dengan pisau dapur karena gemas. Anjing itu mati. Tangis temannya pecah, tetapi Gracia tidak merasakan apa-apa. Semenjak itu, Gracia Mounray enggan bergaul lagi. Ia menutup diri.

Individualitas yang tumbuh di jiwa Gracia Mounray, membuat dia harus mandiri hingga ia merasa tidak membutuhkan orang lain lagi. Dia tidak menaiki tangga-tangga kehidupan, tetapi dia cukup berdiri di atas elevator, dan membiarkan elevator itu bekerja untuk hidupnya. Hingga dia menjadi pewarta politik di majalah konvensional Poulitico Time. Dia menjalin relasi dengan sumber-sumbernya secara professional dan sebatas simbiosis mutualisme, tidak lebih.

Dalam riwayat perempuan ini, Gracia Mounray juga pernah dikabarkan dekat dengan sejumlah politisi, pejabat, hingga ‘lelaki berseragam’. Beberapa hanya teman tidur, dan sebatas rekan kerja, atau sebatas relasi karena pekerjaan. Tetapi satu orang, yang dikenal bernama Mauretz Mad’jid, wartawan asal Israel, dia lah laki-laki satu-satunya yang bukan hanya teman tidur atau rekan kerja atau relasi. Mauretz Mad’jid, lelaki Yahudi itu ‘pakai hati’ dengan Gracia Mounray. Mereka hampir saja menikah kalau saja ibu Mauretz Mad’jid tidak melarang dan Gracia Mounray tidak mengusulkan untuk membunuh perempuan tua itu dengan racun arsenik.

Tidak lama kemudian, Mauretz Mad’jid menikahi perempuan Israel yang memiliki darah Inggris, Ivory Me Diana. Dia seorang pengajar di sekolah anak-anak. Namun, nama Ivory Me Diana belakangan ini terkenal di mana-mana. Di televise nasional dan internasional.

Ivory Me Diana, korban pembunuhan berencana dengan pistol Belgia, FN 57, di sebuah parkiran mobil apartemennya. Peluru berukuran sekitar 5 mm itu bersarang tepat di lambungnya. Tubuh perempuan itu tergeletak begitu saja di basement hingga Mauretz Mad’jid menemukan tubuh istrinya yang berdarah dan kaku.

Tidak banyak yang diketahui dari kehidupan Ivory Me Diana selain dia istri dari Mauretz Mad’jid, dan seorang pengajar di sekolah anak-anak.

Pembunuhan ini menjadi misteri hingga satu minggu setelah Gracia Mounray tertangkap di mobil sedan tuanya. Mobil sedan tua yang diabeli untuk mengenang ayahnya. Mobil sedan tua yang dihadang polisi di sebuah jalan di Oxford Town. Sebuah sedan tua yang menyimpan pistol FN 57 dan peluru-peluru berukuran 5 mm.

Seorang wartawan kami, Izrael Bharnie, mengabadikan senyum Gracia Mounray ketika dirinya tertangkap. Dalam kutipan foto itu, Izrael Bharnie menulis: Senyum dingin Gracia Mounray.

Dan beginilah kisah perempuan penyendiri itu. Perempuan penyendiri yang menjadi tersangka pembunuhan berencana di Oxford Town. Perempuan penyendiri yang…(izb/nyt/pt)