Sebuah Kisah Cinta yang Bukan Kisah Cinta Biasa

Thalia
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak menyangka kalau kita menggulung kisah ini secepat menggulung karpet atau menggulung kalender atau menggulung kertas yang tak lagi dipakai. Apa kau bakal menyangka seperti ini? Apa kau menulis puisi untukku? Apa kau sedih ketika meninggalkanku? Apa kau menangis? Apa kau selalu merinduiku, seperti yang selalu kau ulang-ulang ketika kau mau pulang ke kotamu? Apa kau bahagia hari ini?

Dhanis
Aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku selalu berpikir, kaulah yang nanti memiliki seluruh pagi dan malamku. Aku selalu berpikir, kaulah tempat segalaku berbagi. Berbagi kegembiraan, kesedihan, dan kekosongan-kekosonganku. Apa kau masih menyimpan puisi-puisiku? Apa kau akan menangis ketika membacanya ulang? Apa kau masih ingin membacanya lagi? Apa masih kau simpan? Aku membuatkanmu tujuhbelas puisi selama satu tahun kita tak lagi berjumpa dan bercumbu. Puisi-puisimu, masih rapi tersimpan di laciku. Bersama foto-foto kita. Bersama puisi-puisiku yang tak pernah kukirimkan.

Bandara Soekarno – Hatta, 14 Desember 2015:

Dhanis
Aku tidak menyangka bakal begini jadinya. Pertengkaran kemarin adalah hal yang tak pernah kuduga-duga ketika aku kemari. Aku hanya mengharapkan peluk hangatmu, dapur hangatmu, ranjang hangatmu. Tapi kau siksa aku dengan dinginmu. Dinginmu, kau tahu, seperti dinding, aku tak mampu leluasa menyentuhmu lagi. Saat itu, kali terakhir aku mencium tengkukmu, saat itu pula aku tahu bahwa jiwamu tak lagi bersamaku. Hanya ragamu. Hanya raga dan kata-katamu yang semua bohong.

Thalia
Maafkan aku, Dhanis. Pertengkaran kemarin seharusnya tidak terjadi. Dan kepulanganmu seharusnya bukan hari ini. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Maaf aku tidak memelukmu yang lama dan erat seperti biasanya. Maaf aku tidak memintamu tinggal. Maaf aku tidak sempat meminta maaf.

15 Januari 2013

Thalia
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Dhanis. Pemilik nama itu yang menebus hatiku dari jerat-jerat masalalu dan krat-krat bir yang selalu kuminum setiap malam. Dhanis sangat baik, supel, dermawan, dan mampu membuat kedua mataku tak berpaling darinya ketika dia berbicara. Ini gila. Ini tidak pernah terjadi. Daya pikatnya kurasa terbuat dari serbuk ajaib yang terbuat dari rumah kurcaci atau peri-peri baik. Dia selalu menatap mataku ketika berbicara. Matanya tersenyum. Kupikir mata itu hanya laut dangkal, tetapi nyatanya sungai yang deras. Lima menit pertama aku terseret, lima menit kedua aku hanyut, lima menit ketiga aku tenggelam, lima menit keempat aku masuk ke dalam samudranya, dan lima menit kelima aku rasa aku tidak akan bisa kembali lagi. Ini sungguh gila, kan? Apa jatuh cinta segila ini?

Dhanis
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Yang benar saja, dia membaca Haruki Murakami dari Norwegian Wood hingga 1Q84, Emily Dickinson, dan Robert Frost. Yang benar saja, dia mendengarkan musik The Smiths, Simon & Garfunkel, The Everly Brothers, dan Bob Dylan. Yang benar saja, dia menggilai lagu-lagu Morissey. Yang benar saja, kita berdiskusi dari lepas pagi hingga semua toko tutup. Matanya, ada yang mengganjal di sana. Barangkali kesedihan. Dia seperti menyembunyikan kegelapan dalam matanya. Lima menit pertama, aku tak dapat melihat sama sekali, lima menit ke dua aku tersesat, lima menit ketiga aku kelimpungan, lima menit keempat aku mulai menikmati gelap itu, lima menit kelima aku menemukan cahaya. Cahaya itu bersinar setitik saat kita bertatapan. Ah, apakah ini ilusi melankolia saja? Atau memang jatuh cinta segila ini?

Maret, 2013

Thalia
Ada yang ingin meledak dalam tubuhku. Kau memasukkan puisi ke dalam tubuhku. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin meledakkan diriku saat itu juga. Puisi yang sunyi. Seperti malam dan hujan rintik-rintik turun bersamaan dari langit. Heningnya membuat terpaku. Kau menatapku. Sekali lagi, aku tidak ingin kembali. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

Dhanis
Ada yang ingin pecah dalam tubuhku. Aku memasuki belantara hutan paling gelap. Paling rimbun. Paling basah. Paling dingin. Dan paling berangin. Aku duduk di salah satu batunya dan menulis puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang mendebarkan. Puisi yang rasanya ingin menggetarkan hutan. Menggetarkanmu. Kemudian puisi paling sunyi. Puisi yang meninabobokanmu dalam rengkuhaku. Dalam selimut hangat kita. Pejammu sehening laut mati. Aku ingin berenang di sana dan tak kembali lagi. Mati pun boleh saja, aku tak keberatan. Kita bercinta. Dalam arti yang sebenarnya. Kita bercinta. Bukan bersenggama. Dan kita melakukannya empat kali lagi.

April 2013

Thalia & Dhanis
Kita tidak ingin meminta apa-apa lagi. Rasanya sudah lengkap. Kami saling mengisi kekosongan satu sama lain. Kami saling menukar kado. Isi kado itu selalu cerita yang Thalia bawa, atau Dhanis bawa setelah tak berjumpa. Thalia di Jakarta, Dhanis di Manado. Seminggu sekali kita bertemu, berciuman, berpelukan, bercinta. Kadang dua minggu sekali. Jarak tidak melunturkan cinta kami, kami yakin itu.

Thalia
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa kembali. Ketika kau pulang ke kotamu, aku akan terus tenggelam mencintaimu. Hari ini kau akan kembali ke Manado. Aku sudah buatkanmu bekal makan masakanku dan puisiku. Ada tiga puisi.

Dhanis
Jarak tidak melunturkan cintaku padamu. Kau datang dan selalu membuat aku tak bisa melihat dengan jernih. Ketika aku pulang ke kotaku, aku akan terus tersesat mencintaimu. Hari ini aku kembali ke Manado. Kita akan berpisah. Terima kasih bekalmu. Nasi goreng telur hangat yang enak. Aku sudah menyelipkan tiga puisi di buku puisi Lang Leav yang kuberikan padamu. Oh iya, aku akan membawakanmu masakan khas Manado ketika aku kembali. Tapi bukan masakanku, melainkan masakan ibuku, karena aku tidak bisa memasak, hehehe.

September 2014

Thalia & Dhanis
Terbukti, jarak tidak melunturkan cinta kami. Mungkin resepnya adalah puisi. Sudah tradisi kami, ketika hendak berpisah, masing-masing kami menulis puisi untuk dihadiahkan ke satu sama lain. Ini resep agar cinta tidak cepat luntur dan awet. Lagi pula, dalam diri kami tidak hanya ada cinta. Tetapi ada pula rasa persahabatan dan persaudaraan yang terjalin begitu saja. Kami, misalnya, bisa saja berdiskusi dari semua toko buka hingga semua toko tutup. Yang dibicarakan ada saja. Buku, musik, puisi, politik, kesenian, ekonomi, sosial budaya, soal-soal remeh keseharian, ya begitu lah. Kadangkala, bisa saja kami bertengkar seperti sepasang kakak adik yang rebutan remot tv, perkara rebutan makanan, perkara remeh yang membuat kami saling cemberut satu sama lain. Tapi tak pernah lama. Satu-dua jam, mungkin kami akan kembali tertawa dan bercinta di kamar tidur, kamar mandi, atau sofa. Thalia senang sekali di sofa. Kalau Dhanis lebih senang di kamar mandi.

Januari 2015

Thalia
Hampir sebulan kita tak bertemu. Apa kau rindu padaku? Kau selalu bilang, ‘aku selalu merindukanmu. I’ll miss you’. Kau selalu bilang, hari-harimu tidak pernah tidak dipenuhi rindu. Benarkah? Mengapa kini kau sibuk sekali? Tenggelam dalam rutinitasmu dan pekerjaan-pekerjaanmu. Mengapa semakin hari kau semakin dingin saja? Aku ingin datang ke Manado dan mengambil cuti kerja, tetapi kau selalu katakan jangan. Kau selalu bilang ‘aku sibuk. minggu depan aku akan datang ke Jakarta. Tunggu saja,’ katamu. Tapi, hei, ini sudah dua minggu!

Dhanis
Hampir sebulan kita tak bertemu. Aku sangat rindu padamu. Aku akan menemuimu, tapi tidak minggu ini. Maafkan aku. Wajahmu pasti sedang memasang raut kesal. Membayangkannya, aku ingin mencubit pipimu dan menenggelamkan wajahmu ke wajahku. Kau akan memasang wajah cemberut, dan aku akan memelukmu. Memelukmu erat. Dan kuyakin kau akan menangis dan memukuli punggungku. Kau benci punggung. Itu kan yang kau tulis di puisi-puisimu padaku? Belakangan ini aku memang sedang sibuk. Kuharap kau tak memiliki prasangka buruk kepadaku. Aku sedang mempersiapkan ini untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan kita. Untuk percakapan yang panjang, pagi yang lebih panjang, senja yang selalu merona, dan malam yang duakali lipat lebih hangat dan panjang. Rasanya dunia kita tidak memiliki siang. Tidak memiliki terik. Aku harap kau tabah menungguku. Aku akan kembali dan tersesat.

Agustus 2015

Thalia
Dhanis, entah mengapa ini rasanya lain bagiku. Asing. Asin.

Dhanis
Thalia, apa yang berubah darimu? Entah mengapa ini rasanya lain.

September 2015

Thalia
Apakah kita bisa jatuh cinta kepada dua orang secara bersamaan? Aku rasa, aku tidak bisa meneruskan ini, Dhanis. Tapi, apa yang terjadi denganku bila tanpa kamu? Aku rasa aku tidak bakal mati, tetapi aku akan kehilangan.

Dhanis
Kau bilang, aku adalah samudera di mana kau tak bisa kembali. Thalia, apa kau kini menemukan sebuah perahu dan berniat kembali?

Oktober 2015

Thalia
Aku tidak sanggup untuk tidak kembali. Aku ingin kembali. Aku tidak bisa berenang.

Dhanis
Proyekku gagal sudah. Maafkan aku Thalia, mungkin aku tak akan datang ke Jakarta dalam jangka waktu yang ditentukan. Aku perlu sendiri. Aku perlu merenung. Aku perlu memperbaiki.

November 2015

Thalia
Saat kau kembali ke Jakarta, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kulihat wajahmu dan tanganmu melambai, aku tak bisa menyunggingkan senyum tulusku. Tapi aku tetap tersenyum. Senyum palsu. Kau merasakan itu?

Dhanis
Saat aku kembali ke Jakarta, aku ingin segera memelukmu erat-erat. Tetapi ada apa matamu, Thalia? Gelap. Mengapa tak ada cahaya lagi? Aku seperti menemukan kegelapan yang sama saat pertama kali kita bertemu di bar itu. Bar tempat kau mencurahkan segala kesedihanmu dalam krat-krat bir di meja. Karena itu, aku tak jadi memelukmu. Hanya menggenggam tanganmu. Pelan.

Thalia
Saat kau memelukku, aku tak bisa merasai apa-apa lagi. Ketika kuliahat matamu, ternyata aku tidak terseret lagi. Aku sudah kembali ke daratan. Pun ketika kau masuki aku. Kau hentak-hentak tubuhmu ke dalam aku. Kau ciumi seluruh tubuhku. Kau hinggapi tengkukku berlama-lama. Telanjang. Basah. Berdenyut. Dan berdebar. Aku tidak akan meledak, tetapi aku berpura-pura meledakkan diri. Kita tidak bercinta. Bukan dalam artian sebenarnya. Kita tidak bercinta. Kita bersenggama.

Dhanis
Saat aku memelukmu, aku hanya merasakan dingin. Ketika kulihat matamu, gelap itu kini kembali menjadi dinding. Tembok batu. Keras dan tak tertembus apapun. Pun dengan sentuhan-sentuhanku yang katamu adalah puisi. Puisi yang telanjang. Puisi yang basah. Puisi yang berdenyut dan berdebar. Aku ingin menggetarkanmu lagi, tapi ku rasa kau hanya pura-pura bergetar. Kurasa kita tidak sedang bercinta. Tetapi bersenggama.

Desember 2015

Thalia
Sampai sini saja.

Dhanis
Sampai sini saja?

Sepanjang 2016

Dhanis
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Thalia. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Thalia hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Thalia, hanya Thalia yang mampu membuatnya. Perempuan itu bernama Rani. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Tahun depan aku akan menikahinya. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin, waktu satu dua hari pun tidak cepat bagimu.

Thalia
Aku menghabiskan setengah tahun ini untuk berduka. Dan setengah tahun lainnya untuk membuka hati. Berat melupakan Dhanis. Kurasa tidak ada lagi yang menyamainya. Dhanis hanya satu. Puisi-puisi, gagasan-gagasan, cerita-cerita Dhanis, hanya Dhanis yang mampu membuatnya. Laki-laki itu bernama Romi. Dia sesederhana namanya. Kisah percintaan kami biasa saja. Normal. Tapi entah mengapa, dia membuatku yakin. Minggu ini dia melamarku. Terlalu cepatkah? Tidak kalau kamu sudah yakin. Aku dan Romi sudah yakin. Kami sepakat menikah tahun depan.

large

 

—END—

 

Depok, 14 Oktober 2016

 

Iklan

Cinta Tak Sesederhana Menjadi Bahagia

Mungkin mereka pikir saya kelewat dungu, atau ketakutan. Mereka pikir, saya adalah pecundang paling naif yang tinggal di negeri ini. Pecundang yang mereka kenal sebagai pemuja cinta, padahal sebenarnya cinta lah yang menghabisi nyali saya. Cinta lah yang pecundangi saya selain dunia dan caci-maki mereka. Cinta. Ah, sebuah kata yang mengubah saya menjadi manusia yang bukan saya. Kata yang mengubah jiwa saya.

“Adendong, lama deh lo dandannya, yang mau kencan kan gue, masa jadi cakepan elo!” Itu suara Liana. Dia perempuan paling cantik setelah ibu saya. Dia perempuan paling gagah setelah ayah saya.

“Ey, mak! Secakep-cakepnya gue, laki lo nggak mungkin naksir sama gue!” Sahut saya sekenanya. Perempuan itu tertawa, suaranya renyah serenyah biskuit penganan teh sore.

Liana berkaca di cermin rias saya sekali lagi, merapikan sisa cokelat di bibir yang sudah dipoles gincu merah marun. Tangannya asik menyisir rambut sebahunya dengan jari-jari lentiknya. Jari-jari yang sering saya lihat mengambang di udara dengan gerakan-gerakan naik-turun seperti lenggokan pinggul penari yang paling gemulai. Ya, Liana suka menari. Dan saya suka melihatnya menari.

“Iya juga sih, lagi elo nama doang Adam, tapi kelakuan Hawa,” Liana terbahak.

“Ye, kampret lo, mak!” saya mencubit lengannya gemas, dia meringis.

*

Masih teringat di benak saya bagaimana suara Liana berteriak sekencang suara badai di telinga saya. Bagaimana suara tangisnya yang meraung-raung mencabik bahu saya. Suara-suara yang keluar mirip suara ibu saya di rumah ketika saya kecil. Suara-suara pilu perempuan terluka sebab laki-laki.

“Remon udah merkosa gue, Dam. Gue nggak tau harus gimana lagi. Gue udah kotor!” Liana terisak. Suaranya lirih seperti burung yang ingin menjemput ajalnya. Indah, tetapi menyedihkan. Suara Liana lima tahun silam. Suara yang tidak ingin saya dengar lagi.

Suara yang sama seperti masa lalu saya;

“Ampun, Yah. Ampuuunnn!” perempuan itu terisak setelah suara beling pecah di lantai. Suara tangisnya ikut pecah di muka pintu kamar saya. Saya mendengarnya.

Itu suara ibu saya. Setelah itu saya keluar kamar, dan melihat ibu saya tergolek di lantai dengan vas bunga pemberian ayah saya yang sudah pecah berhamburan. Seperti hati ibu saya. Usai malam itu, saya tidak pernah melihat vas bunga ditaruh di meja, dan juga ayah saya.

Tidak ada yang bisa saya lakukan kepada dua orang tersayang itu kecuali memberi rasa aman yang tak seberapa. Mereka membenci laki-laki, saya juga. Bedanya, saya adalah laki-laki, yang membenci raga saya sendiri.

*

Lima tahun sudah berlalu sejak tangis dan raungan Liana mendekam serupa ingatan di kepala saya. Hampir lima tahun pula saya tidak bisa mendengar suara tawa Liana yang serenyah biskuit penganan kopi pagi. Hampir lima tahun sebelum ia bertemu dengan Rajib Waguna Alanasakti, laki-laki pemabuk di bar langganan saya. Laki-laki itu senang menghabiskan lima botol chivas ketika menjelang pukul dua dini hari. Saya sempat mengobrol dengannya, sebelum ia dan Liana bertemu tak sengaja, katanya, hidup bahagia di dunia ini sebagai orang yang benar-benar sadar ialah dusta. Maka, ia habiskan tujuh tahun belakangan ini dengan mabuk-mabukan. Ketika saya bertanya alasannya, dia bilang, get drunk is my way to pleasure myself.

“Gue nggak bilang kalo bahagia itu harus dengan mabuk, but it’s my own way dan orang lain nggak berhak ngurusin gue seolah-olah ini dosa besar. Well, setiap orang punya dosanya masing-masing. Just, get a life, man.” katanya. Di depan saya dan Liana. Yang saya tahu, setelah itu senyum biskuit Liana terdengar lagi. Perempuan itu jatuh cinta. Dan saya baru sadar, letak kesalahan terbesar saya adalah ketika mengajak Liana ke bar langganan saya dan mengenalkannya pada Rajib.

*

Colony, 21:18 WIB.

Rajib sudah lebih dulu datang sebelum saya dan Liana. Mereka akan berkencan di depan saya, tapi yang saya suka dari Rajib adalah laki-laki ini tidak seperti laki-laki lainnya yang mencoba menjauhkan hubungan saya dengan Liana, dia malah sebaliknya. Dia tidak menghilangkan sebagian potongan dari hidup Liana, termasuk masa lalunya yang kelam dan juga saya. Tangan laki-laki itu seolah kuncup mawar yang mekar; terbuka untuk siapa dan apa saja tanpa pilih-pilih ras ataupun orientasi seksual.

people just people who judging each other. I may say that i’m not kind of them, but i’m only human.” dia pernah berkata begitu. Itulah yang saya tahu bahwa laki-laki bertubuh kurus dan berkulit cokelat gelap ini mempunyai hati yang lapang. Well, he’s not talking bullshit, anyway. Jadi saat dia bilang dia mencintai Liana, saya tahu laki-laki itu sungguh-sungguh. Dan saya tidak menyesali kesalahan saya; mempertemukan Liana dan Rajib. They’re such of lovely couple i’ve ever met.

Entah berapa jam kami bertiga menghabiskan waktu, dan berbotol-botol bir di sini dengan percakapan-percakapan yang tak kenal kata usai. Berkali-kali saya melihat bibir Liana dan Rajib bersentuhan seperti bibir saya dengan gelas bir di tangan saya. Berkali-kali ciuman mereka liar membangkitkan emosi saya. Berkali-kali saya berdebar melepaskan cemas di dada, berharap tatapan mata dari Rajib adalah kesungguhan pada Liana. Saya sama sekali tidak ingin mendengar tangis Liana. Tidak lagi. Namun yang saya lihat adalah kebahagiaan sekaligus kehilangan pada mata dan ciuman Rajib. Dia betul-betul mencintai Liana. Hal itu melegakan, membahagiakan, sekaligus menyakitkan bagi saya. Bila kalian ingin bertanya apa sebabnya, saya ingin mengakui beberapa hal; rahasia terbesar dalam hidup saya selama terjebak dalam tubuh ini;

Saya mencintai Liana. Setelah saya tahu dia membenci laki-laki, saya putuskan agar saya tidak menjadi laki-laki. Saya menjadi perempuan untuknya. Karena cinta.

Saya mencintai Rajib. Dia adalah laki-laki ‘straight’ satu-satunya yang saya cintai.

Pada mulanya, semua membingungkan. Apalagi ketika berhadapan dengan dua orang yang saya cintai dan tidak pernah bisa saya miliki. Dua orang yang saya cintai saling mencintai. It’s more difficult than you think. But at least, I know that, I love the way Rajib loves Liana.

Saya membiarkan dua orang yang saya cintai berbahagia dengan saling mencintai satu sama lain. Dan yang lebih membahagiakan untuk saya adalah, dua orang itu juga mencintai saya. Walau tak pernah bisa saya miliki.

Mereka boleh berpikir saya pecundang, atau bahkan sampah dunia, tetapi yang mereka tidak tahu adalah, bahwa Tuhan menciptakan manusia selalu ada gunanya, He knows what people don’ts, right?

At least, saya mungkin belum menemukan letak kebahagiaan saya yang utuh, tetapi saya tahu apa yang sedang saya lakukan; menjemput takdir. Seperti puisi yang pernah saya tulis.


Takdir Di Tangga Waktu

Saya pikir, saya pecundang
Saya pikir, dunia bukan untuk saya yang malang

Saya pikir, dunia tidak adil
Saya pikir, pemikiran saya yang kerdil

Saya pikir, manusia hanyalah manusia
Yang nanti akan menemukan takdir masing-masing

Biar saja waktu menyeret saya dari tanpa cahaya, sampai ada cahaya lagi
Terseret anak-anak tangga sambil mengaduh kesakitan
Berjalan meniti tangga naik
Menjemput takdir

Adam,
(Klender, 23 Januari 2014)

(sumber: weheartit.com)

(sumber: weheartit.com)

END-

Depok, 24 Maret 2015

Penjelajah

duhai pejelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
aku ialah lembah-lembah penawar sedih
tempat sejuta warna keindahan singgah

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
sebuah negeri yang tak pernah kaukunjungi
lintasilah segala sudutku

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
gurun pasir cokelat keemasan
yang siap menabur tubuhmu dengan cahaya

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
aku adalah gunung paling tinggi
yang menggiurkan para pendaki

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
si laut biru yang paling megah di belantara bumi
yang paling mampu membuat laki-laki tenggelam

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
jelajahilah aku
aku ialah apa saja yang ingin kau jelajahi
mulai lah dari mana saja, dan jangan pernah berhenti

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
jelajahilah aku
namai aku, sebut aku
aku; tujuan hidupmu

Depok, 12 Maret 2015

Ilusi Pagi

Selamat berganti hari, kau yang sedang sibuk entah dengan apa. Aku tidak akan mengucapkan selamat pagi lagi, sebab aku bangun ketika pagi sudah menua dan berakhir mati terbakar terik matahari siang. Hari ini suratku ingin menceritakanmu sebuah dongeng, ya.
Dongeng tentang bunga yang mekar di kepala perindu, judulnya Ilusi Pagi. Entah mengapa, sejak aku terbangun, aku ingin sekali berdongeng kepadamu, tentang apa saja seperti yang sering kaulakukan dulu. Yang sering kita lakukan dulu; bercerita. Ah, kau tahu kini ketika aku mulai menulis surat ini, aku sedang rindu-rindunya pada alis, mata, hidung, bibir, dan tanganmu yang bergerak-gerak ketika kau bercerita. Lucu sekali!
Hehe..kumulai saja ya dongengnya;


Pada suatu malam, ketika gugusan bintang pagi mulai merayapi langit yang kini tak hitam lagi sebab jarak antara bumi dan matahari semakin dekat, sekuntum bunga mekar pada kepala seorang perempuan. Bunga itu mekar disirami air mata dari sepasang mata perindu yang begitu lama menunggu temu.

Perempuan itu barangkali terlalu lelah menunggu harapan yang tak kunjung jadi nyata, menunggu do’a-do’a nya dianggukkan semesta. Ia tersedu sedan di kamarnya yang gulita oleh padam lampu di langit-langit kamarnya.

“Duhai Tuhan, sampai kapan aku menunggu dia yang tak lekas datang? Kau tahu, aku menunggunya sejak malam memiliki langit sehitam gaun malamku hingga warna langit malam itu luntur oleh cahaya matahari dan berubah ungu.” perempuan itu masih menengadahkan tangan sambil menatap jendela yang mempertunjukan warna langit yang hitamnya perlahan mengungu. Semesta tak kunjung mengangguk, Tuhan tak kunjung menjawab pertanyaan si perempuan.

Perempuan itu kini sudah pejam. Mengatupkan sepasang matanya yang masih menyisakan genangan air. Dibiarkannya air mata itu mengering sendiri diembus angin malam yang lewat dari ventilasi udara dalam kamarnya. Diam-diam, Tuhan masuk ke dalam kamar perempuan itu. Mengendap-endap, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia menghampiri perempuan malang itu dan menanam sesuatu di kepalanya. Bibit bunga. Tuhan menghadiahi perempuan itu bibit bunga. Usai menanam bibit bunga dalam kepala perempuan yang sedang tidur,Tuhan segera pulang ke tempat asalnya. Mengendap-endap tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dibiarkannya angin tak berembus ke dalam ventilasi kamar perempuan itu. Tuhan sengaja menahan angin agar tak tembus ke kamar perempuan itu supaya air matanya bisa menyirami bibit bunga yang baru saja Ia tanam di keningnya. Perlahan, senyum Tuhan terkembang di sudut-sudut bibirnya.

Malam itu, gugusan bintang pagi merayapi langit. Bulan purnama sudah menghapus riasan di wajahnya, bersiap pulang dan rebah pada ranjangnya. Pementasan langit malam sudah usai, diganti oleh dinihari. Dalam kepala perempuan itu, bunga perlahan mekar. Air mata di dua ujung kelopak matanya diserap bibit bunga tadi dan membuat kelopak-kelopak bunga yang indah. Perlahan, perempuan itu tersenyum. Sebab, di dalam kelopak bunga dalam kepalanya keluar seorang laki-laki. Laki-laki yang membuatnya menunggu sekian lama.

“Selamat pagi, Rinai.” ujar laki-laki itu menyapa perempuan yang sedang terpana di hadapannya. Perempuan yang semalam menanyakan keberadaannya pada Tuhan. Perempuan yang dipanggil Rinai, tersenyum.

“A…Awan…” ya, laki-laki itu bernama awan.

Laki-laki yang bernama Awan turun dari kelopak bunga, lalu menghampiri Rinai. Awan memeluk Rinai. Dibiarkannya tangis Rinai membasahi kemeja awan. Kemeja yang sering dipakainya. Awan mendekap perempuan itu lekat-lekat. Sekejap saja, sebelum akhirnya dilepas dan digantikan genggaman tangannya pada Rinai.

“Maafkan aku harus pergi dan meninggalkanmu.” kata laki-laki itu dengan wajah bersalah. Rinai mengangguk.

“Aku merindukanmu sepanjang malam.” Rinai mendesah lirih.

“Aku tahu. Ini berat untukmu, dan juga untukku, andai kau tahu.” Awan masih menggenggam tangan Rinai yang dingin. Yang halusnya masih sama seperti dulu.

“Aku tahu, Awan. Tetapi malam ketika merindumu itu terus berulang setiap malam.” Rinai menangis. Awan masih sibuk menghangatkan tangan Rinai.

“Kau seharusnya tidak merindukanku.” ujar Awan. Kini laki-laki itu menangis.

“A…aku tahu. Aku seharusnya melepasmu dan tak perlu lagi menunggu…” Rinai berkata lemah. Ia lepaskan genggaman tangan Awan lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Awan yang termangu sambil melelehkan air mata di sepasang mata yang jarang menangis. Kini ia menangis.

Rinai kini telah sampai di entah di mana. Meninggalkan Awan yang ingin sekali ia temui. Meninggalkan begitu saja laki-laki yang sudah ribuan malam ditunggunya. Angin membelai rambut sebahu Rinai. Dibiarkannya air mata itu kini dikeringkan angin dan waktu. Perempuan itu kembali terpejam. Dirasakannya air mata itu menghangatkan pipinya juga perasaannya. Ia ingat kata-kata Awan; kau seharusnya tidak merindukanku.
Ah, kini perempuan itu merasa dungu telah dipermainkan malam yang ia habiskan demi menunggu laki-laki itu. Laki-laki yang justru tidak menginginkan rindunya. Ia terpejam, mengingat detik-detik perpisahan waktu lalu dengan pelukan singkat dan aroma-aroma tubuh Awan yang lebih mirip hujan. Ia terpejam, mengingat air mata lelaki itu. Tunggu…air mata? Laki-laki itu menangis?

Perlahan, Rinai membuka matanya. Terang. Kini yang perempuan itu lihat hanya terang yang memenuhi pandangannya. Langit malam yang ungu itu sudah tak nampak, digantikan kuning matahari yang sedang nyengir pongah. Ia tahu ini musim panas dan bukan lagi musim hujan.
Perempuan itu ingin kembali, ke tempat di mana Awan berada di depannya, menggenggam tangannya, dan menangis. Tapi ia tak bisa kembali lagi. Pagi sudah memberangus mimpi itu menjadi tiada, bahkan bantalpun tak sanggup merekamnya. Ah, ya, yang barusan itu hanya mimpi belaka. Ilusi pagi yang sementara. Namun hujan di sepasang mata lelaki itu kembali mengusiknya, membuat ia ingin berlari ke tempat Awan berdiri, dan bertanya;
“Awan, apa kau bahagia?” hanya itu. Perempuan itu hanya ingin memastikan, apakah laki-laki yang ia rindukan, yang ia cintai itu bahagia dengan pilihan hidupnya; pilihan untuk pergi meninggalkan Rinai berdua saja oleh luka.

Ah, ia ingat doa semalam pada Tuhan yang ia pikir malas menjawab doanya. Ia ingat bunyi-bunyian semalam, suara mengendap-endap. Bunga itu. Bunga yang ditanam Tuhan di kepalanya semalam. Bunga itu dinamakannya bunga ilusi. Ilusi pagi. Perlahan, perempuan itu kembali tersenyum, dengan kesadaran yang lain; ternyata, Tuhan menjawab do’a umatnya dengan cara yang berbeda-beda. Seperti caraNya menjawab doaku lewat mimpi, bisiknya dalam hati sekaligus menyisipkan ucapan terima kasihnya pada Tuhan.

Perempuan itu kembali terpejam. Kali ini, bukan untuk kembali melihat Awan berada di kepalanya, tetapi untuk melupakan. Melupakan mimpi. Melupakan tangisan Awan. Dan menganggap, rindunya pada Awan telah usai diberangus matahari yang kian tinggi.

Tamat.


Bagaimana dongengnya? Kau suka?
Ah, Kau tahu?
Semalam, bunga yang sama mekar juga di kepalaku. Aku tidak menanggap ini sebuah pertanda atau apa,
tetapi, semoga kau selalu bahagia dan baik-baik saja.

Depok, 25 Februari 2015

Surat Untuk Kopi

Surat ini kutulis kepada kopi; buah kopi dalam genggaman petani kopi, biji-biji kopi dalam toples kaca, biji-biji kopi yang tlah disangrai hingga baunya membuai indera penciuman siapa saja yang menghidu, bubuk kopi di mesin grinder, cairan kental dalam mug kopi, dan yang sudah tercerna dalam lambung. Surat ini untukmu, kopi.

Ya, kau boleh tertawa ketika membaca surat ini. Kopi mana bisa baca? lol.
Kopi itu memiliki nyawa, kau tahu? Senyawa kopi itu dinamakan antioksidan, dan itu berguna membantu tubuh dalam menangkal efek pengrusakan oleh senyawa radikal bebas, seperti kanker, diabetes, dan penurunan respon imun. Yang barusan itu dari wikipedia. Oh ya, selain itu, kopi juga memiliki beberapa nyawa lagi yakni; polifenol, flavonoid, proantosianidin, kumarin, asam klorogenat, dan tokoferol. Yang tadi juga dari wikipedia kok.
Oke, selesai intermezzo-nya.

Kopi yang kita sudah sama-sama tahu; ia memiliki aroma. Aroma pahit tapi tidak kecut, manis tapi tidak membuat mual, asam tapi bukan asam ketiak. Ya, aroma kopi bagiku memiliki magnet yang kuat bagi siapa saja yang menyukai kopi. Aku tidak bisa dibilang pecinta kopi ulung sih, karena minum kopi hitam tanpa gula saja aku ‘mbuh-lah daripada penyakit magh-ku harus kambuh, lebih baik menkonsumsi sanak saudaranya kopi macam moka, kapucino, atau istrinya kopi; kopi susu. Aku lebih suka yang begitu; perpaduan pahit-manisnya mengingatkan aku akan kehidupan di dunia yang fana ini. Atau kalau boleh melankolis sedikit, pahit-manisnya kadang lebih mirip kisah percintaan. Manisnya mirip manis ketika sedang jatuh cinta; hanya sementara di lidah. Lalu pahitnya selalu mengingatkan pada rindu-rindu yang tak pernah terbalaskan. Pahit kan? Hehe..

Seperti yang sudah-sudah, kopi identik dengan kesedihan, dan kesepian hidup seseorang. Semoga kopi tidak keberatan diidentikan dengan neraka dunia; sedih, sepi. Tapi kopi bukanlah neraka, melainkan minuman dari surga yang diberikan juga pada orang-orang yang sedang dalam neraka dunia; sedang sedih, sedang sepi. Entahlah bila di neraka sungguhan, ada kah kopi itu? Dan entahlah apa di neraka kita merasa sedih, dan sepi?

—skip.

Surat ini kutulis untuk kopi. Untuk berterima kasih saja kepada para petani kopi yang kini sedang memetik buah-buah kopi dan mengambil biji-biji terbaiknya. Terima kasih, sebab kopi-kopi yang kalian rawat, kalian hibah ke tangan-tangan peracik kopi, telah menemaniku menulis selama ini. Bukan hanya menemaniku menulis, melainkan menemaniku hidup selama beberapa tahun belakangan. Kopi-kopi itu juga telah membuatku mengerti dari tiap sesapannya; tentang pahit manis, tentang hidup, tentang cinta, dan rindu-rindu yang tak pernah terbalaskan.

Kepada kopi, kau akan selalu menjadi pengingat yang baik tentang pahit-manis hidup kapanpun saat aku menyesap tubuhmu ke dalam tenggorokan.

Depok, 22 Februari 2015

Berceritalah

Suatu pagi telingaku merindu
Pada suara yang sering bercerita di masa dahulu
Barangkali karena suaranya yang bak cericit burung gereja
Atau karena cerita-cerita yang menggugah selera

Dia bukan bercerita bagaimana sebuah makanan terhidang di atas meja makan
Bukan pula bercerita tentang pulau yang dipenuhi bidadari setengah telanjang
Dia bercerita kehidupan yang beragam macamnya
Caranya berbicara ialah cara sebuah laut menenggelamkan kapal

Aku ialah kapal yang karam
Tenggelam sampai dasar
Tanpa mau kembali ke daratan
Tanpa mau kembali bernapas

Biar kuceritakan bagaimana ia berdongeng
Tentang waktu-waktu yang perna ia lalui, datang dan pergi, pergi dan datang
Tentang binar matanya yang sinar matahari tengah hari bolong pun kalah api;
Semangatnya yang menceritakan sebuah harapan-harapan mulia

Ketika bibirnya terbuka satu kali,
Aku masih berlayar pada laut yang tenang
Ketika bibirnya terbuka lima kali,
Aku mulai terseret ombak-ombak yang mendengkur panjang

Ketika bibirnya terbuka sebelas kali,
Lautnya sedang melahap kapalku sampai dasar, tenggelam karam tanpa mau kembali
Ketika bibirnya tertutup, tanda cerita telah usai
Kapal dan aku, kembali bernapas

Lalu di mana-mana udara
Lalu di mana-man angin
Lalu sudah terdampar di daratan

Ah, rupanya kau sudah selesai bercerita
Ah, tenggelamkan aku lagi
Aku rindu tenggelam
Berceritalah…

Depok, 22 Februari 2015

Love Me Like You Do

Seperti biasa, setiap hari aku akan menuliskanmu surat yang akan menumpuk menjadi link-link yang tak pernah kaubuka sama sekali.
Namun biarkanlah si bodoh ini tetap mengukiri aksara walau kepala rasanya pening akibat mengingatmu terlalu banyak, dan mencoba melupakanmu dengan banyak minum kopi. Oh what a fool me, melupakanmu dengan minum kopi? lol.

Belakangan ini, aku entah mengapa tergila-gila dengan lagu Love Me Like You Do-nya Ellie Goulding. Bila mendengar lagu itu pastilah tubuhku seperti kesurupan disco dancer, tangan menari-nari ke udara, tubuh berdansa mengikuti aliran tempo yang bersemangat, dan kepalaku seperti yang sudah-sudah; mengingatmu dalam ingar-bingar musik yang menyumbat telinga. Entah mengapa, setiap lirik yang kudengar bisa melayangkan ingatanku kepadamu. Setiap larik indah jatuh cinta seraya membuatku mengenangmu kembali, mengingat debar dan hangat yang sempat mampir di dadaku.

You’re the light, you’re the night
You’re the color of my blood
You’re the cure, you’re the pain
You’re the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so much

Kau ialah cahaya, kau ialah gelap, kau ialah warna dalam darahku; merah; cinta. Ah, lirik yang merayu, berkobar-kobar dengan rasa jatuh cinta yang membara. You’re the cure, you’re the pain, kau  ialah penyembuh, dan kau juga derita yang ditawarkan sekaligus dalam satu waktu. Ironis. Dan mencintaimu sama ironisnya dengan lirik lagu ini. Ya, jatuh cinta denganmu ialah penyembuh luka masa laluku, kemudian kau menawarkan aku luka lagi. Kau obat sekaligus penyebab sakit. Ah, ironis bukan?
You’re the only thing I wanna touch, ya lebih ironis lagi ketika engkau masih satu-satunya orang yang masih ingin kusentuh, padahal seharusnya tidak. Dan aku seharusnya jangan sekali-sekali mencoba menyentuhmu. Kau duri mawar, dan aku ialah yang tak gentar ingin menggenggammu kuat-kuat.
Never knew that it could mean so much. Aku tidak pernah tahu mengapa mencintaimu bisa sedemikian berarti banyak untukku. Sedemikian gila.

You’re the fear, I don’t care
Cause I’ve never been so high
Follow me to the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life

Kau ialah ketakutanku, di mana seharusnya cinta tidak tumbuh dariku untukmu. Cinta ini hanya benalu yang menempel pada dahan tubuhmu. Ada, dan mengganggu. I don’t care. Aku tidak peduli. Terdengar egois? Ya, memang benar adanya demikian. Aku tidak mau memunafikan diriku lebih jauh sebab aku tidak dapat membohongi diri lagi, aku tidak pernah merasa setinggi ini ketika mengenalmu. I’ve never been so high. So let me high, baby. Let me love you in my way and let it be my own sin. My beautiful sin.
Follow me to the dark. Ikuti aku ke dalam gelap. Mencintaimu ialah dosaku, dan berdosalah denganku. Cintai aku dengan semestinya. Love Me Like You Do. Tidakkah kau ingin ikut berdosa denganku? Meskipun itu dosa, meskipun itu dapat menggores wajah kesetiaan yang berparas ayu nan lugu nan dungu.
Let me take you past our satellites. Ayo jabat tanganku, berdosa dengan mencintaiku kembali, aku akan mengajakmu keliling ruang angkasa, melalui beragam planet, rasi bintang, dan satelit-satelit di angkasa raya. Dan kau akan melihat sesuatu yang pernah kaubawa dalam hidupku; ribuan bintang, cahaya, dan matahari. Ya, seluruh keindahan angkasa raya pernah engkau bawa ke kehidupanku yang gulita. Kau bawa lagi gemerlap itu, lalu kembali pergi, kembali meninggalkan gelap..

Fading in, fading out
On the edge of paradise
Every inch of your skin is a holy grail I’ve got to find
Only you can set my heart on fire, on fire

Loving you can brought me to the edge of paradise. Mencintaimu bisa membawaku ke tepian surga duniawi. Ah, surga duniawi. Ternyata, aku bisa menemukan surga di dunia ini selain kopi dan cokelat hangat yang mampu meleburkan duka menjadi senyuman hanya dalam satu sesapan saja, yaitu engkau. Kau.
Every inch of your skin is a holy grail I’ve got to find. Gila! Setiap inci tubuhmu ialah kesucian manusiawi yang pernah kutemui. Lagu ini benar-benar penuh oleh lirik rayuan!.
But damn! The last line of those lyric; only you can set my heart on fire. Yeah, only you can set my heart on fire and burning my heart inside. Ironic. Ironic. Ironic,

Yeah, I’ll let you set the pace
Cause I’m not thinking straight
My head spinning around I can’t see clear no more
What are you waiting for?

I let you set the pace. Cause i’m not thinking straight. Ya. Aku tidak bisa berpikir waras lagi bagaimana ini bisa terjadi begitu gilanya kepadaku. Rasanya seperti mabuk kepayang! My head spinning around I can’t see clear no more. 
What are you waiting for? Apa yang kau tunggu?

Love me like you do, love me like you do
Love me like you do, love me like you do
Touch me like you do, touch me like you do

Kuulangi lagi, mencintaimu ialah dosaku, dan berdosalah denganku. Cintai aku dengan semestinya. Love Me Like You Do. Love me like you do. Cintai aku dengan semestinya.

love me like you do
let me be your favorite mistake
because loving you is my beautiful sin i ever do.

– @chikopicinoo

So, What are you waiting for?

Depok, 21 Februari 2015