Kisah Para Pengikut

Alkisah di suatu peradaban yang modern, gedung-gedung perak, jalanan tol berlapis emas satu karat, rumah-rumah baja, gubuk-gubuk besi, dan pohon-pohon plastik, hiduplah para nabi, dengan garis miring, beserta pengikutnya masing-masing.

Peradaban ini bukanlah peradaban zaman nabi yang dikisahkan kitab suci agama mana pun. Ini adalah sebuah peradaban baru yang siapa saja bisa menjadi nabi dan mempunyai ribuan pengikut. Pengikut ini lah yang nanti jadi pohon cerita di kisah ini.

Pengikut, sebagaimana kata dasarnya, ikut, yang artinya gemar mengikuti yang diaikuti. Para pengikut sebagaimana laiknya hamba yang setia. Mereka perpaduan antara hamba yang setia dan juga si dungu yang lahir tanpa karakter. Mereka lahir begitu saja dan diciptakan untuk berjalan di belakang ‘nabi garis miring’, dan tidak ada inisiatif berjalan di depan atau menjadi ‘nabi garis miring’ yang baru.

Mereka sebenarnya hamba setia. Andai saja tidak tolol, mereka akan mendapatkan ‘surga garis miring’ pula atau bahkan menjadi ‘nabi garis miring’ baru. Pada kisah ini, kawan-kawan semua, ahli cerita ini akan menceritakan kisah kematian para pengikut. Hamba-hamba setia sekaligus orang-orang tolol.

Berikut nama-namanya. Nama-nama ini mungkin pernah anda sekalian baca di koran-koran besar di halaman-halaman terakhir. Atau juga di televise yang memberitakan hal-hal yang kurang penting. Atau di radio yang orang jarang mendengarnya. Atau di kisah ini. Ahli cerita ini, berinisiatif membuatkan sebuah memoriam agar mereka, biarpun hanya pengikut, bisa hidup abadi laiknya si ahli cerita yang namanya sampai mati pun tidak akan pernah dilupakan orang.

Dimulai dari kisah seorang perempuan bernama Archassy Ruvina Argaroba, ya, nama manusia manusia modern ini memang agak nyentrik dan panjang. Dia cukup dipanggil Has. Dia seorang pengikut alias hamba setia dari Venddyat Jazqualine Febrigarda. Dia cukup dipanggil Ven. Ven seorang ‘nabi garis miring’ perempuan yang mempunyai duaribu pengikut. Dia gemar berbelanja barang-barang nyentrik antik dan mahal untuk dipamerkan di akun pribadinya dan membuat hamba-hamba setianya keblinger untuk mengikutinya. Tetapi Has yang bernasib paling sial, atau mungkin mujur? Has mati. Di usia yang sangat muda, 20 tahun, dengan cara konyol, kelaparan.

Mati kelaparan bukan suatu yang patut ditertawakan dan konyol. Tapi itu patut ditertawakan dan menjadi konyol ketika Has lebih memilih membeli anting berlian seperti Ven dari seluruh uang gajinya bulan itu. Dan, Has, lupa tidak menyisakannya untuk makan, minum, bayar sewa kamar, dan ongkos bekerja. Bagaimana pun, Has seorang pegawai di sebuah restoran, sebagai tukang cuci piring, dan membersihkan meja. Gajinya tidak seberapa, hanya cukup makan dan bayar sewa. Untungnya kamar sewa Has dekat dengan tempat kerjanya, biasanya kalau tidak ada uang naik bus, dia bisa menyewa sepeda. Tetapi naas, Has kali itu kalap, dan dia tidak makan selama seminggu. Lalu jatuh sakit dan mati kesepian di kamar sewanya. Ven tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu.

Setelah kematian Has April lalu, disusul dengan Thomas Librandate Aleganza, dipanggil Tom, yang mati pada Juni. Tom adalah seorang pengikut dari seorang provokator bernama Ragaza Arzendra Irgha. Tom seorang mahasiswa yang tidak kritis. Sepanjang hidupnya di kampus, Tom hanya menopang dagu dan melihat-lihat dosen berganti-gantian memasuki kelas-menulis di papan tulis-bicara blablabla-keluar ruangan, dan Tom segera keluar dari kelas dengan tatapan muram dan kosong dan mengantuk.

Suatu hari, Ragaza Arzendra Irgha, menghina presiden, ulama, dan guru. Sebagai hamba setia, orang tolol, dan mahasiswa tidak kritis, Tom menyetujui ucapan Ragaza Arzendra Irgha dan ikut mengkompori kata-kata Ragaza Arzendra Irgha dan menambah-nambahi kata-kata cacian dan hinaan kasar kepada presiden, ulama, dan guru. Aparat keamanan langsung bertindak dan menangkap Tom. Sialnya, di tahanan, Tom satu sel dengan seorang fanatik presiden dan ulama-ulama, dan Tom dihajar habis-habisan hingga giginya tanggal tiga, hidungnya berdarah, bibirnya jontor, pelipisnya robek, dan kakinya patah. Darah mengucur deras dari kepala Tom hingga ia mati di sel. Dan Ragaza Arzendra Irgha tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu. Toh, Ragaza Arzendra Irgha juga rupanya ditangkap dan seminggu kemudian bebas setelah menulis permintaan maaf.

Peristiwa mengejutkan juga datang dari seorang perempuan (lagi) bernama Sadlinda Hereafro Daravatvrostki, dipanggil Sad. Seorang pengikut dari Hanniana Urichiru Uragama, dipanggil Uri. Sebenarnya Sad tidak menyukai gaya jepang Uri yang begitu modern dan kekomik-komikan. Tetapi sayangnya, Sad jatuh cinta kepada laki-laki yang sangat menyukai Uri. Laki-laki ini bernama Zabriandanath Karuichima Arichavotski, dipanggil Zab. Zab ini juga seorang hamba setia Uri, tetapi Zab bukan hanya hamba, tetapi seorang pecinta.

Dilansir dari New York Times, gadis bernama Sad ini berupaya untuk mengesankan Zab dengan menjadi Uri. Sad membeli semua perlengkapan yang dipakai Uri mengomikan-diri. Ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) juga ditemui satu setel kostum sailor moon di lemari Sad. Belakangan diketahui bahwa Uri pernah mengenakan kostum itu di pesta Halloween tahun lalu. Tetapi naas bagi Sad. Zab tidak pernah melihat cinta Sad. Sad ditolak saat mengenakan kostum Uri; seragam jepang yang ada pita merah besar, wig rambut kepang warna pink, topi pelayan putih yang dihiasi motif jangkar, dan kacamata bulat oversize. Lalu  Zab dengan teganya bilang, “kau tidak bisa menjadi Uri, Sad. Kau menggelikan dengan kostum itu,” katanya. Kata terakhir yang Zab ucapkan sebelum Sad bunuh diri di kamar apartemennya. Sad loncat dari lantai 14, dan mati begitu saja di atas mobil tamu yang hendak menuju basement. Dan Uri tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu perihal Sad atau Zab.

Masih banyak kasus semacam itu sepanjang tahun ini. Data statistik mencoba membeberkan datanya ke publik semalam. Tahun ini ada 25 kejadian serupa. Mereka itu orang-orang seperti Has, Tom, dan Sad. Ahli kisah tentu akan meneruskan memoriam ini. Tapi hari ini cukup Has, Tom, dan Sad saja dulu. Di samping karena kematian mereka begitu unik dan kontroversial, mereka juga lah yang diliput besar-besaran oleh beberapa media walaupun ujungnya ditaruh di halaman-halaman terakhir.

Namun zaman akan terus berganti-ganti-dan-ganti. Nabi garis miring baru pun banyak bermunculan dengan ribuan pengikut yang kemudian menyusul Has, Tom, dan Sad. Ahli cerita mulai tua dan sakit-sakitan. Pengikut ahli cerita pun banyak. Dan si ahli cerita tidak tahu bahwa minggu lalu seorang pengikutnya bernama Gregori Alexandrovich Vagara, tewas ditembak seorang tak dikenal di depan perpustakaan ketika Gre membawa buku karangan si ahli cerita. Seorang tak dikenal itu kemudian mengaku kalau dia membenci ahli cerita karena dia mengarang yang bukan-bukan tentang pengikut Ven, Ragaza, dan Uri. Orang itu mengaku kesal dibilang hanya seorang hamba setia dan orang tolol. Orang itu tidak terima dan langsung spontan menembak Gre yang membawa buku dengan sampul si ahli cerita itu di tangannya. Dan si ahli cerita pun tidak pernah tahu tentang Gregori Alexandrovich Vagara dan tidak pernah mau tahu. Si ahli cerita keburu lewat.

Tamat


Jakarta, 11 November 2016

 

Gadis dari Selatan Jakarta

Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima saja orang yang beruntung di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, malaikat cinta hanya berpihak pada seperlima manusia saja di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima pasangan saja di dunia ini yang beruntung. Yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama. Kau tahu dan aku tahu, kita bukan bagian dari mereka; yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama.

Sabtu pagi ini, kau tahu, aku sedang membuka-buka buku lama-ku. Masih tersimpan Poems-nya Emily Dickinson pemberianmu itu. Buku itu di tanganku sekarang. Kalau seandainya kau bertanya bagaimana kabar buku itu, buku itu sudah kumal, bagian-bagian sampul terlipat dan terkelupas, bagian dalamnya jangan ditanya, tapi jangan khawatir aku masih bisa membacanya ulang. Membaca ulang buku ini, sama saja mengenang ulang kita.

Bukan kah kau ingat di suatu sore, di halte bis dekat rumahmu, saat kau hendak menemaniku menunggu bis? Saat itu hujan agak deras dan tak ada bis menuju rumahku yang lewat. Kau membawa Poems Emily Dickinson dan kita membacanya bersama-sama hingga bisku datang, dan kau pulang berjalan kaki dengan payung merah delima. Aku menatapmu dari bis dan pandanganmu berpaling ke arahku. Kita bertatapan lewat kaca bis yang ditetesi air hujan dan rintik hujan di luar yang mulai reda. Setelah bis-ku menjauh dan kau sudah tak kelihatan lagi, aku baru saja ingat bahwa bukumu itu berada di tanganku. Sejak empatpuluh tahun berlalu. Hingga sekarang, hari ini.

Di hari naas itu, aku bilang padamu, “Poems. Emily Dickinson-mu, masih ada padaku,” tentu saja aku berharap kau memintaku mengembalikannya padamu dan kita membuat jadwal pertemuan lagi di kedai, taman, atau halte bus. Tetapi kau bilang, “Ambil saja, aku punya dua,” lalu aku angkat bahu dan pergi. Sekali itu, aku benar-benar pergi dari pintu rumahmu, atau dari kehidupanmu. Di hari naas itu, kau tak lagi mengantarku menuju halte bus dan mengatakan selamat tinggal, aku akan merindukanmu dan menunggumu lagi, atau hal-hal semacam itu.

Kopi telah diantar ke mejaku saat aku sampai di halaman ke-31, Rani melirikku dan berdeham pendek. Aku meliriknya sekilas dan kembali ke buku itu. Aku tidak pernah tertarik dengan mata perempuan mana pun selain matamu. Sejak empatpuluh tahun berlalu hingga sekarang, hari ini.

Kau ingat Anggi? Pernahkah dia bercerita padamu? Bahwa kau adalah satu-satunya perempuan yang benar-benar ada di hidupku, perempuan lainnya hanya teman tidurku, teman nonton film-ku, teman minum kopi, teman mabuk-mabukan—yang dilanjutkan menjadi teman tidur. Tapi kau….

Kau tahu tidak, di antara semua jenis ‘pertemanan’, teman bercerita adalah satu yang paling istimewa; dan kau satu-satunya. Kau satu-satunya teman membaca, teman menulis, teman diskusi, dan yang paling penting, teman bercerita. Kita bisa bercerita apa saja dan di mana saja. Di kontrakanku yang sempit dan gerah, di teras warung jamu yang tidak buka 24 jam di Cikini, di halte bus yang sudah gelap dan tiada berlampu di Tanjung Barat, di depan toko listrik di Lenteng, di antara rak-rak buku di daerah Kalibata, di kolam renang dekat Pasar Minggu, di angkutan umum, atau di dalam mobil sedan tuamu yang kau bawa diam-diam untuk jalan-jalan denganku.

Kau masih ingat, di kolam renang itu? Kolam renang satu-satunya di kota itu. Pertama kali aku melihat hampir sekujur tubuhmu telanjang. Kau mengenakan bikini bekas kakak perempuanmu. Bikini itu sangat pas di tubuhmu yang memiliki lekuk pinggul paling seksi. Aku masih ingat warnanya, putih dengan garis-garis vertical yang lurus warna biru. Rambutmu yang panjang kau gerai saja hingga rambut-hitam-bergelombang-itu-menyentuh payudaramu. Aku masih mengingatnya-dengan-sangat-baik.

Barangkali kau akan mengingat kecupan kita di kolong air kaporit dan langit mendung waktu itu. Tapi bukan bagian itu yang membuat aku mengingatmu. Kau barangkali lupa atau bahkan kita sama-sama mengingat momen itu. Momen saat kita berdansa di air. Aku bersumpah, tidak akan ada pasangan seperti kita. Tidak akan ada pasangan yang berdansa di dalam air. Berdansa dengan gerak-gerak lamban karena air kaporit di antara kita. Flying and dancing, kau bilang. Dan kau bersumpah, kau tidak akan melupakan kolam renang ini.

“Aku tidak akan melupakan kolam renang ini,” katamu sambil mencelupkan kakimu ke dalam air dan menendang-nendang air seakan-akan air telah mengambilku darimu. Kau kemudian memandangku, “Dan tentunya, kamu.” Kau mengerling sedikit dan aku menciummu lama sekali. Di pinggir kolam renang yang lengang. Di bawah langit mahamendung. Dan ditetesi rintik-rintik tipis hujan Desember.

Sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Dan itulah mengapa dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh masa kecilku dan masa remajaku, membikinku jadi tulang punggung keluarga, membuatku jadi tukang minum dan pemabuk, berganti-ganti perempuan dari tempat pelacuran satu-ke-satu lainnya. Dan ketika dia mempertemukanku denganmu, barulah aku katakan pada langit, “Aku mencintaimu, takdir!” lawan kalimat yang selalu kukatakan pada langit dan Tuhan, di mana pun Ia berada.

“Aku tidak pernah mencintai hidupku sebelum kamu datang,” kataku.

“Kenapa? Hidupmu terlalu berharga untuk tidak kamu cintai,” katamu.

“Takdir tidak pernah mencintaiku.”

“Aku tidak ingin mengatakan kalau itu tidak benar. Tuhan selalu punya rencana untuk hidup kita.”

“Dengan cara menghancurkan hidupku?” tanyaku polos. Kau tertawa, tetapi bukan jenis tawa meledek.

“Barangkali begitu, tetapi Dia memperbaiki lagi, bukan? Dan membuat kau lebih baik. Dan lagi, bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku kalau kau tidak bisa mencintai dirimu sendiri?”

“Aku mencintai diriku sekarang, karena kamu telah datang.”

“Kalau begitu, jangan jadikan aku sebagai alasan kau membenci hidupmu, kelak,” kau tersenyum. Menatapku lurus-lurus. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa tidak menciummu sambil mengaitkan lenganku ke pinggulmu.

“Kau berjanji?” tanyamu.

“Janji apa?”

“Yang tadi…”

Aku tersenyum. Menyiumnya lagi.

“Janji.”

Kau mencintai Tuhan seperti kau mencintai hidupmu sendiri. Dan aku terbawa arusmu. Arus surga, kalau kataku, ketika teman-temanku dengan resek-nya meledekku karena belakangan rajin ikut kebaktian.

Aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku membenci hidupku sebagaimana aku dulu yang tanpamu. Setelah kau menutup pintu rumahmu dan kehidupanmu untukku. Setelah aku meninggalkan pintu rumahmu dan pergi dari kehidupanmu. Aku kembali membenci takdir. Ya, karena sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Setelah dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh hidupku, membikinku jadi tukang minum dan pemabuk, membuatku ke tempat-tempat pelacuran, mempertemukan denganmu—bagian ini tidak pernah aku sesalkan,—- menghadirkan pertengkaran di antara kita, membuatku mabuk lagi, membuatku ke tempat pelacuran, membuatku meniduri Rani, dan membiarkan Rani hamil dan menuntutku untuk menikahinya, dan memisahkan kau dan aku. Sudah kah kau sepakat bahwa takdir tidak pernah mencintaiku?

Kau pasti mengelak dan mengatakan, “Itu artinya takdir tidak menulis namaku di hidupmu. Itu artinya Rani lah perempuan yang Dia tuliskan,” dan kau akan melanjutkan, “Dan karena itu ibu dan kakak perempuanku melindungiku darimu,” dan kau akan melanjutkan, “Dan di hidupku, nama laki-laki yang dituliskan takdir adalah, Wijaya. Bukan namamu.”

Hidupku lesak-se-lesak-lesaknya ketika kau memutuskan untuk menikahi Wijaya di sebuah gereja dengan aksen lama di daerah Pasar Minggu. Gereja yang sering kita tunjuk-tunjuk untuk tempat kita nanti menikah, dan aku selalu menyetujuinya.

Aku menyesap kopi ketika ia sudah hampir dingin dan tidak enak. Rani tidak pernah becus membuat kopi. Dan aku telah sampai di halaman 41, aku terlalu banyak merenung.

Sabtu-masih-pagi- di luar hujan gerimis sudah turun. Beginilah Desember. Tanahmu basah, dan wangi bunga kenanga dan mawar menguar dari persemayamanmu. Aku belum sanggup menemuimu. Melayat ke pekuburanmu, dan meletakkan bunga-bunga kesukaanmu di sana. Aku tidak sanggup untuk tidak menangis dan mengakui bahwa aku masih sangat mencintaimu.

Semoga, Tuhan memberimu Poems-nya Emily Dickinson sekarang ini, dan membiarkan kita, sekali ini saja, untuk membaca buku yang sama, di alam yang beda.

Aku selalu mendoakanmu, di malam tergelapku,
Aku selalu mendoakanmu, di pagi tercerahku,
Aku selalu mendoakanmu, dan mencintaimu,
Di segala waktuku.


Jakarta, 10 November 2016

Catatan: Lagu ini terinspirasi dari lagu Bob Dylan di album The Freewheelin’ Bob Dylan, yang memakai foto Bob Dylan dan Suze Rotolo jadi sampul albumnya. Lagunya berjudul Girl from the North Country. Liriknya kutaruh di bawah catatan ini, ya!


Girl From The North Country
WRITTEN BY: BOB DYLAN

Well, if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

Well, if you go when the snowflakes storm
When the rivers freeze and summer ends
Please see if she’s wearing a coat so warm
To keep her from the howlin’ winds

Please see for me if her hair hangs long,
If it rolls and flows all down her breast.
Please see for me if her hair hangs long,
That’s the way I remember her best.

I’m a-wonderin’ if she remembers me at all
Many times I’ve often prayed
In the darkness of my night
In the brightness of my day

So if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

7fc02755b33af86a735744867f0e0249tumblr_l3x3k4k9rv1qc0beio1_500tumblr_nupoypmtjc1s82tn3o1_400

Sosok Gracia Mounray dari Oxford Town

Kisah ini tidak akan menceritakan tentang perang. Tidak juga tentang perjuangan. Tidak juga tentang cinta dan hal-hal yang seharusnya dibiarkan saja berlalu. Kisah ini tentang perempuan. Kisah ini tentang seorang perempuan. Seorang penyendiri yang ambisius. Perempuan penyendiri yang ambisius. Dan tidak membutuhkan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Baik, kita mulai kisah ini dari kata ‘perempuan’.

Perempuan itu bernama Gracia Mounray. Tinggal di Oxford Town dengan seorang ibu yang sakit-sakitan, kakak perempuan yang egois, dan adik laki-laki yang gemar menghabiskan waktu dan uangnya dengan berjudi dan pelacuran. Usia Gracia Mounray baru saja menginjak angka kepala tiga.

Dia bertubuh tinggi nyaris seperti model-model Victoria, rambutnya pirang dan ikal di bagian bawahnya, matanya mirip mata kucing yang mengincar ikan segar, hidungnya tinggi layaknya Everest, dan bibirnya seindah pegunungan di desa terpencil yang jauh dari perkotaan. Dia mempunyai leher jenjang yang mengundang lelaki ingin segera tunduk di tengkuknya tetapi dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dadanya seperti perempuan yang terkena anorexia. Dan tungkai kakinya mirip Taylor Swift. Nyaris sempurna. Nyaris, andai saja lengan-lengannya tidak sedikit berotot, dan betisnya berada di ukuran perempuan normal.

Tetapi, Gracia Mounray memang tidak seperti perempuan kebanyakan. Dia memang gemar melukis wajah, memakai heels terbaik di kota itu, tas jinjing prada, dan mengejar karir sampai heelsnya copot di tengah jalan. Dan membiarkan dia pulang tanpa alas kaki. Sebagian orang bilang, seharusnya Gracia Mounray bekerja di depan kamera, berlenggak-lenggok di panggung, memamerkan mata dan seluruh tubuhnya ke arah kamera. Tetapi nyatanya Gracia Mounray adalah seorang jurnalis politik di media Poulitico Time. Dan dia hanya memakai heels di saat-saat formal, selebihnya keputusan terserah Gracia Mounray.

Orang-orang di kota itu mengenal Gracia Mounray dan mengaguminya. Orang-orang di kota itu menganggap kehidupan Gracia Mounray adalah mimpi terbaik. Dia cantik, terlatih, bertalenta, dan masih banyak lagi. Tetapi hidup Gracia Mounray memang seperti mimpi. Mimpi buruk.

Gracia Mounray, seperti yang dikatakan sebelumnya, tinggal bersama ibu yang sakit-sakitan, kakak perempuan yang egois, dan adik laki-lakinya yang gemar berjudi, pelacuran, dan mabuk-mabukan. Yang terakhir, menyebabkan Gabriele Mounray, adik Gracia Mounray, mati karena overdosis dan komplikasi ginjal dan jantung di usia muda. Gabriele Mounray, mengisi lembar-lembar koran, tentang kematiannya yang seperti lagu The Smith. A Death Of A Disco Dancer. Gabriele Mounray mati di club malam, dengan tujuh botol vodka, serbuk ekstasi, dan ganja hisap.

Kakak perempuan Garcia Mounray, Febriene Grazie Mounray, selalu bertengkar dengan dirinya dan ibunya. Febriene selalu menyalahkan Gracia atas kematian Ayah mereka, Tuan Mounray. Febriene, sebelum hari-hari naas menimpanya, adalah gadis yang manis dan baik hati. Dia masih mau menjual bunga dan telur untuk membantu ibunya mencari nafkah selepas Tuan Mounray meninggal. Tetapi hari-hari naas berikutnya mengubah perangainya menjadi buruk. Febriene sebenarnya telah menikah dan seharusnya memiliki satu putri kecil yang cantik seperti dirinya dan Gracia. Tetapi bayi perempuannya tidak pernah lahir. Suaminya, yang seorang prajurit perang, mati terkena peluru tepat di batok kepalanya, dan itu menyebabkan Febriene keguguran. Semenjak itu, dia menyalahkan Gracia atas seluruh kehidupannya yang hancur.

Ibu Gracia Mounray sendiri merupakan seorang perempuan biasa. Tua dan penyakitan. Suzy Barton Mounray, ibu Gracia Mounray, karena tekanan mental yang bertubi-tubi, terkena struk ringan dan menjadi sering pikun. Dia bahkan pernah menyusuri Oxford Town seorang diri dan tak tahu jalan pulang, beruntung seseorang mengenalnya dan mengantar Nyonya Mounray ke rumah. Dia juga pernah tidak mengenal Gracia Mounray, Febriene, dan Gabriele. Baiknya, menurut Gracia, perempuan renta itu tidak perlu tahu ke mana Gabriele pergi dan apa yang terjadi dengan hidup Febriene.

Ayah Gracia Mounray, Febriene, dan Gabriele, telah lama mati. Ketika Gracia Mounray masih berumur delapan tahun. Ketika Tuan Mounray mengantar putri kecilnya ke sekolah dengan sedan biru tuanya. Sedan Daihatsu Charmant biru tua yang remnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Sedan biru tua yang mengantar Gracia Mounray ke sekolah, dan mengantar Tuan Mounray kepada maut. Sedan biru tua itu, dikabarkan oleh New York Times, pada musim panas tahun ’91, menabrak bus. Satu orang tewas, yaitu Tuan Mounray, dan seorang gadis kecil selamat, dia Gracia Mounray. Seluruh keluarga terpukul kecuali Gracia Mounray. Dia tidak dapat merasakan apa-apa.

Gadis secantik, semolek, secerdas, dan sesupel Gracia Mounray, di pikiran banyak orang memang sangat menarik. Tidak ada yang akan menolak menjadi teman atau sahabat baiknya. Tidak ada pula lelaki yang tidak mau berkencan dengannya. Tentu, lelaki itu harus mengimbangi kecerdasan perempuan itu. Tetapi hidup Gracia Mounray, seperti yang dikatakan, adalah mimpi buruk.

Pada kenyataannya, Gracia Mounray adalah perempuan penyendiri sejak kematian ayahnya. Kematian yang tidak membuat perempuan itu menangis sama sekali. Gracia, sedari kecil, tidak pernah memiliki teman yang akrab. Terakhir, dia memiliki teman bermain yang memiliki anjing, dan dia memotong buntut anjing itu dengan pisau dapur karena gemas. Anjing itu mati. Tangis temannya pecah, tetapi Gracia tidak merasakan apa-apa. Semenjak itu, Gracia Mounray enggan bergaul lagi. Ia menutup diri.

Individualitas yang tumbuh di jiwa Gracia Mounray, membuat dia harus mandiri hingga ia merasa tidak membutuhkan orang lain lagi. Dia tidak menaiki tangga-tangga kehidupan, tetapi dia cukup berdiri di atas elevator, dan membiarkan elevator itu bekerja untuk hidupnya. Hingga dia menjadi pewarta politik di majalah konvensional Poulitico Time. Dia menjalin relasi dengan sumber-sumbernya secara professional dan sebatas simbiosis mutualisme, tidak lebih.

Dalam riwayat perempuan ini, Gracia Mounray juga pernah dikabarkan dekat dengan sejumlah politisi, pejabat, hingga ‘lelaki berseragam’. Beberapa hanya teman tidur, dan sebatas rekan kerja, atau sebatas relasi karena pekerjaan. Tetapi satu orang, yang dikenal bernama Mauretz Mad’jid, wartawan asal Israel, dia lah laki-laki satu-satunya yang bukan hanya teman tidur atau rekan kerja atau relasi. Mauretz Mad’jid, lelaki Yahudi itu ‘pakai hati’ dengan Gracia Mounray. Mereka hampir saja menikah kalau saja ibu Mauretz Mad’jid tidak melarang dan Gracia Mounray tidak mengusulkan untuk membunuh perempuan tua itu dengan racun arsenik.

Tidak lama kemudian, Mauretz Mad’jid menikahi perempuan Israel yang memiliki darah Inggris, Ivory Me Diana. Dia seorang pengajar di sekolah anak-anak. Namun, nama Ivory Me Diana belakangan ini terkenal di mana-mana. Di televise nasional dan internasional.

Ivory Me Diana, korban pembunuhan berencana dengan pistol Belgia, FN 57, di sebuah parkiran mobil apartemennya. Peluru berukuran sekitar 5 mm itu bersarang tepat di lambungnya. Tubuh perempuan itu tergeletak begitu saja di basement hingga Mauretz Mad’jid menemukan tubuh istrinya yang berdarah dan kaku.

Tidak banyak yang diketahui dari kehidupan Ivory Me Diana selain dia istri dari Mauretz Mad’jid, dan seorang pengajar di sekolah anak-anak.

Pembunuhan ini menjadi misteri hingga satu minggu setelah Gracia Mounray tertangkap di mobil sedan tuanya. Mobil sedan tua yang diabeli untuk mengenang ayahnya. Mobil sedan tua yang dihadang polisi di sebuah jalan di Oxford Town. Sebuah sedan tua yang menyimpan pistol FN 57 dan peluru-peluru berukuran 5 mm.

Seorang wartawan kami, Izrael Bharnie, mengabadikan senyum Gracia Mounray ketika dirinya tertangkap. Dalam kutipan foto itu, Izrael Bharnie menulis: Senyum dingin Gracia Mounray.

Dan beginilah kisah perempuan penyendiri itu. Perempuan penyendiri yang menjadi tersangka pembunuhan berencana di Oxford Town. Perempuan penyendiri yang…(izb/nyt/pt)

Risalah Mulut Besar dan Rencana Perang Rakyat Zapulatule

Besok akan ada perang besar di negeri Zapulatule. Begitulah berita yang didengar Yazumbe, salah satu rakyat Zapulatule. Menurut Yahmen, si tukang penyebar berita, Zapulatule akan dipecahkan oleh perang saudara. Perang antara rakyat Zapulatule pemuja Zhanzagah dengan rakyat Zapulatule pemuja Zhanamilut. Biang onarnya adalah Apelitua, penganut ajaran Zhanamilut, yang dikenal bermulut congor dan senang membual. Apelitua sudah dikenal begitu, bukan berarti penganut Zhanamilut memiliki kelakuan yang sama dengan Apelitua.

Apelitua. Dia lelaki yang dikenal di negeri Zapulatule sebagai pemabuk dan penceracau. Sepanjang jalan kerap melontarkan kata-kata yang tidak pantas, baik itu kebenaran maupun keisengannya belaka. Bila Apelitua sedang mabuk, dia akan berjalan menyusuri negeri kecil Zapulatule dan menghina siapa saja yang berpapasan. Beberapa masyarakat paham perangai buruk Apelitua, dia juga kerap menerima pukulan kecil berkat ulahnya itu, tetapi Apelitua tidak pernah kapok. Besok, besok, besok, dan besoknya lagi Apelitua akan selalu mabuk dan menceracau dan menghina siapa pun yang lewat di depannya.

Suatu subuh yang dingin menggigit kulit, Apelitua sedang berjalan ke rumah usai dari mabuk-mabukan. Di saat yang sama, Zamrud yang terkenal gampang marah dan suka main tangan itu, baru pulang dari tempat kerjanya dan dengan kesialan Zamrud yang baru saja dipecat dan dimaki-maki tuannya. Apelitua dan Zamrud berpapasan.

“Heh, kacung Wan Aragaba baru pulang..hik… kasihan….hik…berangkat pagi pulang subuh tetapi tetap miskin!” ujar Apelitua serampangan. Mata Zamrud memerah.

“Kau tahu, anak-anakmu hanya makan kerikil tadi pagi. Tolol kau, hik…mau saja digobloki Wan Aragaba si tengik itu…hik….dan kau…hik….si kacung tengik!” ujarnya lagi sambil tertawa kegirangan.

“Ke mana Zhanzagah-mu? Dasar tolol!”

Zamrud tahu Apelitua sedang mabuk. Tetapi ia tidak mampu meredam emosinya. Hingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.

Apelitua dipukuli dengan kepalan tangannya hingga badannya runyak dan berdarah-darah. Giginya tanggal dua. Apelitua tidak sempat memohon ampun, dia malah memaki Zamrud lebih serampangan lagi. Dan Zamrud makin kalap.

Zamrud hanyalah seorang budak dari Wan Aragaba. Ia miskin dan memiliki tujuh anak. Anak-anaknya, yang Apelitua temui pagi sehari sebelumnya, tengah mengumpulkan kerikil untuk direbus dan dimakan bersama. Istri Zamrud sudah mati setelah melahirkan anak terakhir satu tahun lalu. Dan saat ia berpapasan dengan Apelitua, ia sedang dilanda musibah. Zamrud dipecat Wan Aragaba dan dia tidak punya uang sama sekali untuk makan esok hari. Sial untuk Zamrud. Sial pula untuk Apelitua yang dihajar habis-habisan hingga pingsan di pinggir jalan.

Apelitua tidak mati. Belum. Dia hanya koma sepuluh hari di rumah rawat tabib Abazizaziwue. Dia koma sepuluh hari dan sembuh total dalam keadaan penuh dendam yang hampir tumpah.

Apelitua kembali turun ke jalan. Dia masih menyimpan dendam kepada Zamrud. Hingga dia mendesiskan fitnah-fitnah ke seantero negeri Zapulatule.

Dia berbisik kepada kawan-kawannya, “Zamrud menghajar saya dan menghina Zhanamilut kita. Dia bilang, Zhanamilut tidak ada.  Dia hanya mitos.”

Kebetulan. Sangat  kebetulan, Zamrud adalah masyarakat Zapulatule yang memuja Zhanzagah. Dan Apelitua sangat membenci Zhanzagah karena Dia telah mengambil Ayah dan Ibu Apelitua saat dia masih kecil. Apelitua marah kepada Zhanzagah dan dia berhenti memuja Zhanzagah sejak saat itu. Dan seterusnya.

“Zamrud bilang lagi, bahwa pemuja Zhanzagah lebih baik dan lebih unggul daripada pemuja Zhanamilut. Pemuja Zhanamilut dibilang anak buah setan!” begitu mulut Apelitua berucap.

Beberapa pemuja Zhanamilut murka. Bukan lagi kepada Zamrud, tetapi juga kepada pemuja Zhanzagah. Sebagian kawan Apelitua menginginkan perang. Sebagian lagi menyebarkan cerita ke seantero rakyat pemuja Zhanamilut. Beberapa tahu kalau itu hanya ulah Apelitua, namun beberapa lagi tersulut.

Yazumbe adalah salah satu bagian dari kelompok pertama. Dia tahu siapa Apelitua. Dia tahu bagaimana perangainya. Dia pula yang mendengar cerita pertama dari Apelitua dan mendengar pula cerita dari Zamrud. Yazumbe mendengar dari dua pihak. Apelitua adalah tetangga dekat Yazumbe, sedangkan Zamrud adalah kawan dekatnya. Yazumbe tahu bagaimana Apelitua dan dia pun tahu bagaimana Zamrud.

Yazumbe tahu perang akan segera terjadi. Sebagian besar golongannya, golongan pemuja Zhanamilut, akan turun ke tanah dan membawa senjata untuk mengepung Gunung Zapentehu, tempat pemujaan penganut Zhanzagah. Yazumbe tahu dan sudah memperingatkan mereka dengan kata yang baik dan santun. Tetapi sebagian besar dari mereka tidak mau mendengar. Mereka malah mencap Yazumbe sebagai hamba Zhanamilut palsu. Tapi Yazumbe yakin Zhanamilut tidak akan berpikir begitu. Yazumbe yakin Zhanamilut tahu kalau dia mempercayainya meskipun sebagian hambanya berkata Yazumbe ingkar.

Yazumbe pasrah. Dia sudah memang sudah melakukan sesuatu untuk mencegah perang saudara besok hari. Tetapi ia tahu, mereka yang ingin perang sedang dibutakan oleh Nafsu yang besar. Nafsu itulah iblis pertama yang turun di tanah Zapulatule. Iblis berbadan besar dan hitam, memiliki bola mata merah menyala, kuku-kukunya tajam, dan memiliki kemampuan mengelabui siapa saja yang membawa dia ke dalam jiwa mereka. Yazumbe juga bisa saja dikelabui, tetapi Zhanamilut lebih perkasa di dalam jiwa Yazumbe, dan warga lainnya yang tidak terpicu amarah dan tipudaya Apelitua.

Malam hari sebelum perang, Apelitua sedang gembira. Dia berjanji akan menebas leher Zamrud. Dia mempersiapkan samurai panjang yang sudah diasahnya.

Gunung Zapentehu akan berdarah dan Zhanzagah tidak mampu melakukan apa-apa, batinnya.

Malam hari sebelum perang, para pasukan sedang mempersiapkan senjata dan kuda-kudanya. Dia yakin, Zhanamilut akan bangga kepada mereka. Zhanamilut akan bangga dan berkata, “mereka lah pemuja-pemuja setiaku,” kepada Zhanzagah.

Malam hari sebelum perang, para penganut Zhanzagah tengah mempersiapkan ayam merah, lintingan tembakau, dua batok beras padi burgun (padi yang bewarna ungu), buah kelepato (kelapa muda), kaki kambing bunting, cingur babi hutan, dan ceker ayam untuk dibawa ke Gunung Zapentehu. Mereka akan melawat esok pagi kepada Zhanzagah. Begitu juga Zamrud dan tujuh anaknya yang menyisihkan sebagian beras kampung untuk Zhanzagah. Hanya itu yang mampu mereka berikan kepada Zhanzagah. Dia tidak tahu, Apelitua sedang menyiapkan kematiannya.

Malam hari sebelum perang, Yazumbe mendaki bukit Zalapatuta. Dia ingin berbicara kepada Zhanamilut tentang keluh kesahnya. Tentang perang esok. Ini jalan terakhirnya. Sepanjang malam dia duduk di puncak bukit Zalapatuta, memohon kepada Zhanamilut untuk menghentikan perang esok hari. Menghentikan pertumpahan darah yang akan terjadi.

“Saya percaya, ya Zhanamilut, kau ada di pihak kami, dan kau akan menghentikan perang. Saya percaya, ya Zhanamilut, kau dan Zhanzagah tidak akan menghendaki perang terjadi. Saya percaya ya Zhanamilut dan Zhanzagah bahwa kau akan menghetikan perang. Kau tidak akan rela para pemujamu mati bersimbah darah karena bualan semata. Ya Zhanzagah, saya percaya pada kau yang tidak akan menyertai mereka yang dikelabui Nafsu. Karena ajaranmu ya Zhanamilut dan ajaranmu ya Zhanzagah, adalah untuk saling menciptakan kedamaian dan cinta kepada negeri Zapulatule.” Begitu Yazumbe memohon.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Hujan rintik-rintik dan keyakinan akan terkabulnya permohonan, menyertai Yazumbe turun dari bukit Zalapatuta, bukit yang dipercaya tempat tinggal Zhanamilut dan Zhanzagah. Titik temu pemuja Zhanamilut dan Zhanzagah yang selalu hidup rukun sebelum Apelitua menebar fitnah.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Dan dia melewati kedai di mana Apelitua, sang pemimpin perang yang akan menebas leher Zamrud, sedang minum-minum. Begitu juga dari golongan mereka yang esok akan ikut menyerbu Gunung Zapentehu.

Yazumbe pulang menjelang tengah malam. Dan entah bagaimana, ia yakin perang tidak akan terjadi.

Yazumbe sampai rumah saat tengah malam. Ia mencuci kaki dan segera tidur dengan hati yang tenang dan juga lapang.

Sedangkan di langit dini hari, permohonan Yazumbe sedang diproses dengan cara yang sangat jauh dari nalar pemuja Zhanamilut dan Zhanzagah atau seluruh rakyat negeri Zapulatule.

 

Tamat.


Depok, 3 November 2016

Sebuah Kisah Sedih yang Mungkin Saja Terjadi di Ruang-ruang Perkantoran

“Bagi saya, membaca novel itu tidak ada gunanya sama sekali,” ujar saya kepada perempuan yang sedang duduk di hadapan saya.

Mata perempuan itu hanya mampu menatap saja. Tidak ada sedikit pun garis protes di sana. Dia juga tidak mengungkapkan sepatah saja kata untuk mematahkan kalimat saya. Dan kelihatannya, dia tidak berusaha menyangkal. Barangkali dia gugup, atau mungkin saja dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak suka membaca novel seperti dia, atau mungkin saja dia enggan memancing kemarahan saya, atau barangkali dia mengerti alasan saya mengatakan hal itu kepadanya.

Beberapa detik kemudian dia hanya tersenyum dan mengatakan: ya, memang. Dengan raut yang tidak nampak sedikit pun kekesalan di sana.

Itu membuat saya lega, jujur saja. Jujur saja pula, saya mati-matian mencari kalimat yang pas untuk tidak menyakiti hati perempuan itu. Saya juga mati-matian tidak menumpahkan emosi saya di kalimat itu dan mengatakan hal yang lebih pedas dan mampu membuatnya menangis saat itu juga. Tetapi yang mampu keluar dari mulut bajingan saya hanya memang itu. Tapi untungnya, sebagai terlatih, saya mampu menyembunyikan emosi saya. Emosi dalam kalimat itu.

Tapi yang mengherankan, mengapa dia menyetujui pernyataan saya? Mengapa dia tidak berusaha menyangkal dan membela mati-matian bahwa hobi yang diasukai itu berguna? Barangkali dia gugup, atau mungkin saja dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak suka membaca novel seperti dia, atau mungkin saja dia enggan memancing kemarahan saya, atau barangkali dia mengerti alasan saya mengatakan hal itu kepadanya. Segala kemungkinan ada, dan hanya perempuan itu yang tahu.

Di bagian ini, saya akan menerangkan, bahwa kami berada di ruangan saya. Saya adalah manajer perusahaan milik orangtua saya, tentu saja. Saya pemilik warisan tunggal perusahaan ayah saya dan tentu saja saya adalah satu-satunya generasi yang akan mengurus segala aset perusahaan ayah saya. Tidak ada lagi. Dan perempuan ini, perempuan yang duduk di hadapan saya, adalah seorang pelamar kerja di perusahaan saya, tidak lebih, dan tidak kurang.

Hal yang menarik dari dia dan memancing reaksi yang ada di kalimat paling pertama adalah, dia menulis sesuatu yang menggelitik di kolom hobi dan kegiatan sehari-hari. Membaca novel (fiksi, sastra, dan sejenisnya), menulis di blog pribadi, dan menyeduh kopi, ya begitulah yang tertulis di sana. Tentu tidak ada salahnya dengan kegiatan ala-ala pengangguran tidak ada kerjaan semacam itu, tetapi dia harus tahu, saya mencari seorang yang professional. Bukan seorang yang gemar membaca novel atau kerajingan nulis di blog, apalagi sambil menyeduh kopi!

Usai kalimat paling pertama di kisah ini, kami memang berbincang sedikit. Sedikit saja. Kemudian saya cukupkan diskusi singkat itu. Barangkali dia sedikit terluka dengan ucapan saya atau dia terlalu gugup, atau entah hanya dia yang tahu alasannya. Dia keluar dari ruangan saya setelah menjabat tangan dan mengucap terima kasih. Selebihnya, hanya saya seorang. Di ruang pribadi yang selalu dingin dan selalu sepi.

Di ruang pribadi yang selalu dingin dan selalu sepi itu, saya merenungkan dia. Bukan, bukan perempuan itu. Tetapi tulisan dia di kolom hobi dan kegiatan sehari-hari dan ucapan saya barusan. Kalimat pertama di kisah ini.

Kalimat pertama dalam kisah ini sebetulnya pernah menyakiti saya. Menyakiti sampai ke akar-akarnya. Menyakiti sampai ke inti-intinya. Menyakiti sampai ke dalam sel-sel-nya.

Kalimat pertama dalam kisah ini sebetulnya pertama kali keluar dari mulut ayah saya. Keluar dari mulut ayah saya ketika saya menghabiskan uang tabungan saya untuk membeli buku-buku novel dan menghabiskan waktu liburan sekolah dengan membaca novel-novel itu di rumah. Dan mengabiskan separuh usia saya mencita-citakan sebagai penulis buku fantasi. Saya akan menjadi penulis yang hebat, saya tahu itu! Ya, dulu saya seyakin itu.

Hingga suatu ketika kalimat pertama dalam kisah ini yang keluar dari mulut ayah saya menghancurkan semuanya.

“Apa gunanya membaca novel-novel tidak berguna? Khayalanmu tidak berguna di dunia nyata! Menjadi penulis dan menjadi miskin, apa itu cita-citamu? Dasar anak bodoh! Ubah mindset kamu, Rob. Kamu satu-satunya penerus Papa…” lalu dia membanting pintu.

Selamat tinggal terburuk yang mampu kauberikan adalah selamat tinggalmu pada mimpi-mimpimu. Dan saya mengatakan selamat tinggal terburuk itu dua hari setelah ayah saya membanting pintu.

Tidak ada salahnya dari orangtua yang menginginkan anaknya meneruskan kerja kerasnya saat muda. Tidak ada salahnya dari ayah saya yang menginginkan saya meneruskan mimpi besarnya. Tidak ada salahnya dari seorang anak yang berbakti pada orangtua yang telah memberikan hampir seluruh jiwa raganya untuk menyenangkan hati saya. Rob kecil yang kini menjadi Rob besar yang akan memimpin perusahaan. Yang mana artinya saya harus merelakan mimpi masa kecil saya mati.

Tidak akan ada lagi Rob yang menandingi J.K Rowling. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Stephen King. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Stephanie Meyer. Tidak ada lagi Rob yang menandingi Dean Koontz.

Ayah saya harus tahu, mereka adalah penulis yang kaya raya. Seandainya saja saya masih memegang mimpi itu, saya pasti mampu meyakini beliau bahwa saya, Robbert Schzuns, bisa kaya raya dengan menulis. Dengan mimpi masa kecil saya. Tetapi mimpi saya sudah mati. Begitu juga ayah saya.

Tetapi waktu tidak pernah bisa diputar ulang. Dan saya tidak mampu menghidupkan mimpi masa kecil saya kembali. Untuk saat ini. Untuk saat ini. Saat saya memilih menghidupi mimpi besar ayah saya. Ayah saya yang sudah mati.

Begitu pun dengan kalimat saya yang tak mampu ditarik kembali. Kalimat yang mungkin memukul perempuan itu mundur seribu langkah untuk meninggalkan mimpinya. Kalimat yang mungkin membuat perempuan itu berhenti membaca novel dan menulis di blog sambil menyeduh kopi. Kalimat yang mungkin mendorong dia untuk berdiam di kamar sambil mengepak novel-novelnya. Dan dua hari kemudian membuat dia mengucapkan selamat tinggal terburuk dalam hidupnya.

Saya merasa berdosa…

Saya merasa bersalah…

Tapi tidak ada yang mampu saya perbuat selain berharap agar perempuan itu tidak berhenti menulis.

Dan tidak berhenti bermimpi.

hgj

 

[TMT]


Depok, 26 Oktober 2016

Kisah Cinta Perempuan Itu dan Sikap-sikap Buruknya

Sudah duabelas kali hatinya dihancurkan. Sebenarnya limabelas kali, tetapi ketiga sisanya dia yang menghancurkan sendiri sekaligus meremukkan hati ketiga laki-laki itu. Bukan kemauan dia sebenarnya. Hanya saja, entah mengapa, semua laki-laki yang dikencaninya mengaku tidak betah dengan sikap-sikap buruk dia.

Seperti perempuan kebanyakan, dia juga sama seperti perempuan kebanyakan. Dia ingin diterima apa adanya. Seperti ketika dia menginginkan laki-lakinya menerima dia ketika dia menumpahkan sikap-sikap buruknya di permulaan kencannya. Dia, kubilang, seperti perempuan kebanyakan. Biasa saja. Tidak ada yang berbeda, kecuali ekspektasi limabelas kekasihnya.

Dia seperti halnya perempuan pada umumnya. Memiliki payudara dan lubang, tentu saja. Senang berdandan dan gemar belanja. Memiliki hobi dan berkegiatan seperti biasa. Tapi tentu, ada hal-hal yang tidak bisa disamakan dengan perempuan pada umumnya. Sama, seperti perempuan pada umumnya yang tidak dapat disamakan satu-sama-lain. Hal-hal buruk ini lah yang membuat dia kerap berganti pasangan. Hal-hal buruk ini lah alasan dia menerima hatinya dihancurkan. Hal-hal buruk ini lah yang dia pertahankan demi kelangsungan menjadi dirinya sendiri.

Dia seperti halnya perempuan pada umumnya, namun di kala bersamaan, dia tidak seperti perempuan pada umumnya.

Dia memiliki payudara dan lubang, tentu saja. Senang berdandan bila hendak keluar rumah dan kencan, tentu saja. Gemar belanja, amatlah lazim bagi seorang perempuan. Tetapi barang belanjanya bukan pakaian seperti perempuan pada umumnya. Dia menghabiskan separuh gajinya demi buku-buku. Buku-buku yang dia beli setiap bulan-setiap minggu-setiap dia mampir ke toko buku- dibiarkannya menumpuk di rumah kontrakannya. Di meja tamu, di lantai, di kolong kasur, di atas lemari, di atas mesin cuci, di atas rak sepatu, di mana saja. Tapi dia hanya punya dua puluh tiga potong baju atasan, dua potong jeans, dan tiga pasang baju rumah. Dan selama dia memiliki gaji setiap bulan, dia tidak hendak menambahkannya.

Dia memiliki hobi seperti perempuan pada umumnya. Di samping senang membaca, dia juga hobi sinis. Nyinyir, walaupun dalam KBBI, arti nyinyir bukan sinis. Sarkas. Dia tidak segan ngomong goblok, anjing, bangsat, tolol, serta beruk-beruk umpatan lain yang tidak sempat dituliskan di kamus maupun kitab mana pun, bila diperlukan. Dia jorok. Jarang mandi bila tidak ada hal-hal penting seperti acara keluarga, kedatangan tamu, atau ada kencan. Jarang memoles tubuhnya dengan benda-benda ajaib di salon atau ruang spa. Dia, bahkan, tidak akan mengeluh, berteriak manja, mencakar kuku ke tembok, bila rambut yang dipotong di salon terlalu pendek karena ketidaksengajaan pegawai salon. Dia malah bilang; bondol saja lah mbak, lebih asyik.

Sudah duabelas kali hatinya dihancurkan. Sebenarnya limabelas, tetapi tiga sisanya dia yang menghancurkannya sendiri. Tujuh mantan kekasihnya mengaku menyerah dengan sikap-sikap buruknya selama hampir dua pekan. Empat mantan kekasihnya bosan dengan kemonotonan hidupnya selama hampir tiga pekan. Dan tiga sisanya, dia tidak pernah yakin dengan ketahanan laki-laki terhadap sikap buruk dan kemonotonan hidupnya. Dan dengan mantap, dia memutuskan perkaranya dengan ketiga laki-laki itu dalam jangka waktu masing-masing hampir sepekan.

*

Satu bulan setelah dia menganggur dari percintaan, dia pikir, dia tidak mau mulai lagi. Tetapi yang namanya hati, yang namanya takdir, yang namanya kebetulan tidak akan pernah tidak kita lewati dan bisa ditebak.

Namanya Galih. Dia bertemu dengan laki-laki itu di suatu minimarket di stasiun Cikini. Mereka sama-sama ingin menyeduh pop mie dan kopi instan setelah lelah bekerja dan malas berdesakan di kereta. Sayangnya, atau barangkali ini sebuah kesengajaan langit, mesin air panas di minimarket itu mati dan baru saja selesai diperbaiki. Artinya, mereka berdua sama-sama ingin menyeduh pop mie dan kopi instan tetapi harus menunggu mesin itu dinyalakan dan memanaskan airnya selama beberapa waktu yang telah ditentukan oleh pegawai minimarket itu.

“Mohon maaf kak, mesin air panasnya baru dinyalakan. Ditunggu saja 30 menit,” kata pegawai itu ramah.

Dalam hati perempuan itu, dia mengumpatkan beruk-beruk umpatan yang tidak sempat dicetak dalam kamus besar atau kitab manapun.

Dalam hati laki-laki itu, saya, sebagai pencerita, tidak tahu, mohon maaf sekali. Laki-laki ini sangat misterius, semoga pembaca maklum.

Sambil menunggu, perempuan dan laki-laki itu duduk menunggu di kursi yang disediakan di minimarket tersebut. Perempuan itu terpaksa memesan susu dingin dulu demi mengisi kekosongannya. Laki-laki itu duduk santai. Ia meletakkan tas, dan mengeluarkan sebuah novel. Perempuan itu juga duduk kesal, sambil minum susu rendah lemak, meletakkan tas, dan mengeluarkan sebuah novel.

Apakah langit sedang bercanda? Atau sedang menulis naskah cinta-cintaan?

Mereka berdua tidak tahu. Yang mereka berdua tahu hanyalah, novel yang mereka akan baca itu sama-sama karangan Tutu Bijaya. Judulnya, Stasiun. Perempuan itu membuka halaman 184, dan laki-laki itu membuka halaman 84.

Saat itu, memang langit sedang coba-coba membuat naskah cinta. Tetapi, ayolah, jangan terlalu banyak kebetulan!

Dan mereka berdua hanya menikmati takdir itu dan tidak mengirakan atau mempersangkakan langit.

Dari situ. Dari situ lah cerita bermula.

Dan pertanyaan ini bermula. Ayo, apa kalian, pembaca, mampu menjawabnya secara acak atau sistematis?

  1. Apakah mereka akan bersama?
  2. Apakah laki-laki itu menjadi laki-laki ke-tigabelas?
  3. Apakah laki-laki itu menjadi laki-laki ke-empat?
  4. Apakah laki-laki itu dihancurkan atau menghancurkan?
  5. Apakah perempuan itu akan menghancurkan atau dihancurkan?
  6. Apa kisah ini akan berakhir bahagia?
  7. Apa kisah ini akan berakhir sedih?

 

1a

 


Depok, 23 Oktober 2016

 

Suatu Hari di Ruang Redaksi

Seorang laki-laki setengah baya, rapi, dan klimis, tiba-tiba datang. Masuk ke dalam ruang rapat. Ia tersenyum. Tidak, tidak, lebih tepatnya menyeringai. Kita, semua yang ada dalam ruang rapat seketika terperangah kemudian saling berpandangan. Si pemimpin rapat, yang terkenal galak betul, tiba-tiba mukanya kusut dan mrengut.

“Saya habis membunuh istri saya. Tolong angkat saya jadi headline!” kata laki-laki setengah baya itu, sambil tetap tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai. Dingin. Girang!

Seketika saja ruang rapat bergemuruh dengan tawa. Di situ ada Sony Marpaung Redaktur Rubrik Nasional, Imran Hakim Redaktur Metropolitan, Isro Basuki Redaktur Pelaksana, Muis Sadikin, saya, dan jajaran redaksi lainnya. Semua tertawa. Bapak-bapak ini gila atau bagaimana? Apakah dia benar-benar membawa berita sungguhan? Atau lelucon semata?

“Bapak dari mana?” tanya salah satu kawan saya. Iseng. Orang gila kok ditanggapi.

“Saya dari gang Haji Salim. Istri saya masih tergeletak di sana, kalau bapak-bapak mau membuktikan,” katanya meyakinkan. Kita semua berpandangan. Ini sungguhan kah?

“Mengapa bapak ke sini? Bukan ke kantor polisi?” Sony menambahkan. Saya diam saja, memperhatikan. Kira-kira apa mau bapak ini?

“Saya mau masuk koran!” laki-laki tua itu menjawab tegas setegas-tegasnya.

“Masuk koran?”

“Ya!”

“Dengan cara apa bapak membunuh istri bapak?”

“Saya ajak bercinta, kemudian saya lubangi dadanya pakai pisau dapur. Pisau bekas saya bekerja. Harganya mahaaaalll sekali! Berkilat-kilat, mengkilau, dan berdarah!” laki-laki itu cengengesan. Saya bergidik. Orang gila!

Kami, di ruangan ini, masih berpandang-pandangan. Bertanya-tanya lewat tatapan. Mas Isro kemudian mengajak dia ke luar dari ruang rapat dan mengajaknya bercakap-cakap. Wajah bapak itu dingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas Isro. Dia sesekali mengangguk, tersenyum, terkekeh-kekeh. Muka Mas Isro yang tegang. Dengan suara berat dan intimidatif, Mas Isro memanggil Imran Hakim dan saya. Kami berdua ditugaskan membuktikan omongan bapak ini. Yang artinya, kami berdua harus datang ke gang Haji Salim nomor 12, dan membuktikan ada tidaknya mayit perempuan yang tergeletak di sana.

Kami bergerak ke lokasi menggunakan sepeda motor karena tidak terlalu jauh dan tidak memakan waktu. Rumah itu ada di pojok gang Haji Salim. Jalanan sepi, tak ada orang yang berlalu lalang. Dari jauh, kami tak mencium gelagat yang mencurigakan, misalnya bau amis darah atau bangkai. Namun ketika berjarak beberapa langkah dari rumah nomor 12 itu, kami samar-samar mencium bau bangkai dan amis darah.

Rumah nomor 12 itu tidak terkunci tapi tertutup. Pagar hijau tua itu ditutup rapat dan dislot, sedang pintu rumah warna merah maroon itu tertutup tanpa meninggalkan kesan mencurigakan sedikit pun. Kami mengetuk pintu terlebih dahulu. Takut-takut kalau bapak itu bohong dan di dalam ada pemilik rumah. Kami mengetuk pintu namun hingga lima menit menunggu tetap tidak ada jawaban sama sekali.

Akhirnya kami memutuskan masuk. Memutar knopnya perlahan-lahan. Bau itu benar-benar ada. Bangkai dan bau amis darah. Kami mencari sumber bau itu. Bau dan kerubungan lalat itu ternyata berpusat di dapur.

Perempuan muda. Cantik. Sintal. Ranum. Terbuka. Dan berdarah. Bangkai manusia!

*

“Benar kan?” bapak itu tersenyum.

“Orang gila!”

“Kita amankan bapak itu di sini. Nurdin dan Imran sedang ke kantor polisi.”

*

Detik itu juga, turun sebuah berita lelucon: Seorang Pria Membunuh Istri Demi Masuk Koran. Bapak itu senyum-senyum di dalam lapas.

“Ini saya! Masuk koran!” bapak itu terkekeh kepada teman satu lapasnya.

“Orang gila!” teman satu lapasnya itu mengumpat.

*

Seorang perempuan setengah baya mendatangi kantor. Ketika rapat redaksi keesokan hari setelah berita itu turun. Ia mengaku bekas istrinya. Istri ketiga. Memang, diketahui, mayit perempuan itu adalah istri kelima tersangka. Motif pembunuhannya adalah mental si tersangka yang diketahui mengidap psikopat. Kronologinya tak dijelaskan di koran, karena akan menimbulkan dampak sosial yang membahayakan.

“Yang anda beritakan itu suami saya,” kata perempuan itu.

“Ibu ini….siapa?”

“Saya istri ketiga bapak itu.”

“Mengapa datang ke sini?”

“Karena kami yang merencanakannya.”

“Anda kongkalikong?”

“Ya… kami ingin rujuk.”

“Anda otak pembunuhan itu? Tapi bapak itu tidak menyebut-nyebut nama ibu…”

“Ya, memang. Dia egois! Dia ingin menguasai laman koran sendirian, dan tanpa aku.”

“Sebentar…tanpa ibu? Maksudnya?”

“Saya juga mau masuk koran!”

Lelucon apakah ini, Tuhan?

conference20room_s

 

-fin-

Depok, 2016

Penulis yang Ganjil

Dia yakin akan hidup selamanya. Dia sangat percaya pada kata-katanya. Kata-kata, pikirnya, akan mampu memberi dia napas selamanya bahkan hingga raganya sudah diantar ke liang lahat. Dia sangat menyakini itu, maka dia tidak pernah berhenti menulis.

Selama hidup, dia hanya berkawan sepi dan kata-kata. Kawan sepermainannya sangat sedikit, bisa terhitung oleh jari. Dari dulu, dia memang tak pandai bergaul. Tak pernah mau repot berbasa-basi dengan orang lain. Menghindari kemunafikan, sebutnya.

Awalnya, dia pun heran dengan dirinya sendiri. Mengapa dia bisa sebegitu anti dengan orang lain, padahal mereka pun manusia. Dan anehnya, dia, sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Maka itu, tulisannya selalu tentang polah dan peristiwa manusia dan kemanusiaan. Tapi ia kesal lihat orang lain!

Setelah kerajingan jalan-jalan di internet lewat smartphone yang dia beli tempo lalu, ia jadi tahu mengapa ia sebegitu anti berhubungan dengan orang lain. Mengapa dia begitu khawatir berdekatan dengan orang lain. Akhirnya, dia menyebut dirinya introvert. Tak lama kemudian, dia mendaku-daku memiliki penyakit kejiwaan bernama Social Anxiety Disorder (SAD), yaitu penyakit yang membuat penderitanya selalu memiliki kekhawatiran berlebih bila berkomunikasi dengan orang lain. Ketika dia melihat keterangan itu di internet, dia langsung sumringah. Dia merasa kalau dia baru saja mampu mengenali dirinya sendiri. Dia seperti terlahir kembali.

Dia menelan segala informasi itu. Segala detil informasi itu terpenrinci masuk ke dalam batok kepalanya, rongga dadanya, dan celah-celah jiwanya. Dia menyebarkan informasi itu kepada orangtuanya yang sering mengeluhkan prilakunya yang enggan bersosialisasi. Dia menceritakan informasi itu kepada teman-temannya, agar mereka maklum atas sikap anehnya, atau agar mereka maklum ketika dia tiba-tiba tidak ingin diganggu gugat oleh siapa-siapa. Dia mengabarkan itu kepada kekasihnya, dan ia menambahkan embel-embel, seperti “sekarang kamu tahu kan kenapa aku tidak mau diajak ke rumahmu? bertemu saudara-saudaramu membuat aku tersiksa. Bukannya aku tidak serius, tapi nanti pasti ada waktunya.”

Awalnya mereka semua mafhum dengan penjelasan yang dia jelaskan dengan semangat. Tapi lama-kelamaan, dia jadi semakin tertutup. Semakin tertutup. Tertutup. Orangtuanya menuntut dia yang tertutup untuk terbuka mencari pekerjaan. Kekasihnya mengeluhkan bahwa dia telah berubah jadi semakin pendiam dan tertutup, kekasihnya menuntut dia yang tertutup menjadi kembali terbuka. Tapi dia bilang, tertutup dan terbuka adalah lawan kata yang mustahil disamakan. Dan dia tertutup. Orang lain tidak boleh mencoba membuatnya terbuka. Terbuka hanya memperparah penyakitnya, belanya di pikiran dia.

Orang-orang terdekatnya memberi saran, “Lawan SAD yang kau bilang! Itu omong kosong!”

“Kamu hanya memberi makan takutmu. Dan dia bisa hidup lebih kuat dari kamu!” begitu kata orangtuanya.

“Kamu tidak akan berubah kalau kamu tidak menkehendaki itu..” kata kekasihnya.

Tapi dia bersikeras.

“Kalian semua tidak merasakan. Yang tidak merasakan, tidak bakal mengerti!” Jiwanya tertekan.

Tapi ia tidak berhenti menulis. Hanya itu cara yang dia yakini mampu mengobati rasa kecewanya terhadap orang sekitar. Ia menulis terus. Setiap hari. Setiap matahari hampir sampai di atas kepala. Sampai menjelang malam. Omongan semua orang hanya dianggap angin lalu. Bagi dia, hanya sepi, kata-kata, dan kopi untuk menemaninya kuat begadang. Untuk apa lagi kalau bukan menulis? Dia menulis. Mengirimkan puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, esai-esainya ke surat-surat kabar, ke penerbit buku, ke tempat yang mau menerima tulisannya. Dia menyentuh dan menyinggung berkali-kali tentang hakikat kemanusiaan tanpa ia mau bersentuhan dengan manusia. Tapi dia mengerti, dia mengerti lewat bacaan-bacaan dia. Hanya itu! Dan sedikit perbekalan yang dia jadikan pengalaman.

Dia tidak memiliki kawan di dunia perbukuan, di dunia tulis menulis. Dia berjuang sendiri mengantar karyanya ke halaman-halaman Koran Minggu. Dia disarankan untuk ikut acara diskusi buku atau pelatihan menulis. Dia bersikeras menolak dengan alasan, semua itu hanya omong kosong untuk mengisi pundi-pundi rupiah si empunya acara atau penulis bersangkutan, karena dunia tulis menulis tidak mampu mengisi dompet mereka. Ya, dia sesinis itu. Dia sepesimis itu.

Tahun pertama nihil. Tidak ada yang mau memuat karyanya. Bukan tidak bagus. Karya dia jelas brilliant bagi dia sendiri dan beberapa kawan yang membaca. Tahun kedua, ada satu dua surat kabar yang mau memuat karyanya. Selebihnya tidak ada lagi. Tenggelam dengan nama-nama sastrawan muda dan baru. Selebihnya ia lelah menulis. Ia memberi dirinya rehat selama beberapa bulan tidak menulis.

Orangtuanya makin gencar menuntutnya tidak menganggur. ‘Cari kerja! Percuma sarjanamu!’ Oh iya, dalam riwayatnya, memang dia seorang sarjana komunikasi dengan ipk yang tidak buruk-buruk amat. Sarjana. Komunikasi. Dua kata yang seharusnya membuat dia mumpuni untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama manusia. Atau mumpuni pula untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah yang banyak.

Kekasihnya semakin gencar mengeluhkan dia bahwa dia tak sama sekali ada upaya untuk mengubah dirinya agar lebih baik. Dia bingung, “lebih baik yang bagaimana? Aku ini sudah melakukan yang terbaik. Kamu tidak pernah tahu. Kamu hanya senang menuntut!”
Kemudian dia ditinggalkan. Dia berusaha tegar. Dia membela dirinya, “alah, perempuan itu, saya tidak butuh perempuan yang banyak menuntut. Saya hanya butuh kekasih yang menerima saya apa adanya. Tidak banyak menuntut. Dan cukup bahagia bersama saya, kesepian saya, dan kata-kata saya.”

Ia akhirnya keluar dari rumah. Ia pamit kepada orangtuanya untuk merantau. Orangtuanya tak yakin sebenarnya, tapi mereka juga sebal bila bujangnya hanya berdiam diri di rumah. Jadi mau tak mau mereka merestuinya dan memberikan sedikit uang untuk biaya hidup dia selama beberapa bulan, selebihnya dia yang berusaha.

Di tempatnya merantau, dia menyewa kos paling murah. Ruang sempit. Hanya ada satu alas tidur, satu almari kecil, dan satu gantungan baju bekas orang yang dulu menyewa. Kamar mandi luar.

Kesendirian yang mewah itu membuat dia lebih rajin menulis. Lebih produktif menulis. Dalam satu hari dia bisa menulis 2 cerpen, 3 puisi, dan 1 esai. Bukan main! Semuanya dia kirim ke surat kabar. Besok dan besoknya seperti itu lagi. Hasilnya lumayan. Satu-dua-tiga minggu, karyanya dimuat. Upahnya dibelikan kuota internet, buku-buku, dan sekali dua menulis di kafe. Beberapa pembaca koran Minggu menyukai karyanya, sisanya lebih menyukai karya karangan sastrawan terkenal atau penyair terkenal. Dia mulai diperhitungkan karyanya bagi beberapa pembaca. Bagi sisanya, dia bukan siapa-siapa.

Belakangan dia merasa semua gemerlap ada padanya. Ada di matanya. Dia tidak perlu bekerja jadi apa-apa sekarang. Dia penulis, dan dia bangga. Tapi kebanggaan itu perlahan membunuh dirinya, sepinya, dan kata-katanya. Kebanggaan itu terlalu kuat, terlalu bising, terlalu tajam untuk menumpulkan kata-katanya.

Dia tidak menulis semenjak kebanggan itu ada.

Sementara, untuk membiayai hidupnya, dia perlu uang. Dia sadar akan hal itu. Terdesaknya akan makan dan minum dan menyambung hidup, akhirnya membuat dia mau tidak mau, menjual koleksi-koleksi bukunya. Satu buku yang laku bisa membiayai hidupnya satu sampai tiga hari kemudian. Tentunya, dengan dihemat-hematkan. Makan hanya dengan mie instan, minum dia rebus sendiri dari air keran, kopi dia seduh sendiri dari kopi bubuk  instan yang diabeli bulan lalu. Berbulan-bulan dia seperti itu. Inspirasi tidak datang sama sekali. Dirinya ada, kesepian pun ada, tetapi kata-kata sudah meninggalkannya.

Sampai suatu hari dia tumbang. Makan yang tidak teratur. Makan selalu dengan mie instan, kadang telor ceplok, bila hasil penjualan bukunya lumayan. Air keran yang direbus asal-asalan. Dan kopi sachetan yang sering diminumnya, kadang lebih dari lima kali sehari.

Dia tidak bisa bangun lagi dari kasur tipisnya. Dia tidak mampu bersuara untuk meminta tolong. Dia tidak bisa membuka pintu kamar kosnya untuk sekadar melihat matahari. Ia terkepung di situ, di dalam kamar itu. Dengan kesepian, dan kata-kata yang tak mampu ditulisnya lagi.

Orang-orang sekitar bukannya tidak mau peduli, bukannya jahat, bukannya kejam, bukannya membiarkan. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu siapa dia. Mereka bahkan tidak pernah berlangganan koran. Apalagi membaca koran Minggu.

Di hari kematiannya itu, dia mengubur jasadnya bersama kata-kata dan keyakinannya. Hanya ada petugas kepolisian, beberapa wartawan yang meliput peristiwa mayat tak dikenal yang mati di kamar kos di bilangan Jakarta Timur, dan warga sekitar yang penasaran.

Kemudian setelah diketahui identitasnya, Ali Ramlan Sadikin, Tempat Tanggal Lahir: Purworejo, 12 Januari 1984, Golongan Darah: A, keluarganya datang dengan terisak. Mereka membenarkan bahwa jasad itu benar-benar Ali Ramlan Sadikin. Anaknya, saudaranya, karibnya.

Nama Ali Ramlan Sadikin tidak pernah populer. Tidak pernah dikenang-kenang. Tidak dijadikan tanggal peringatan, apalagi hari libur nasional, atau hari cerpen nasional. Tidak ada. Tidak ada yang ingat karya-karyanya seperti apa. Tidak ada keabadian nama yang sering dia ucapkan. Tidak ada yang mengingat dia kecuali orangtuanya, dan mantan kekasih yang kini memiliki anak yang lucu-lucu.

082409_a

 

Depok, 13 Oktober 2016

 

 

Dunia dari Cangkir Kopi

khkhk

setiap kali bangun dari lorong mimpi, cahaya seperti menusuk mataku dengan tombak-tombak tajam. hampir seluruh mimpiku terluka, tetapi ia takkan menancapkan pedang ke leherku sekalipun aku ingin. aku membuka pagi pada jendela kamar, aroma kopi berjalan di sekeliling rumahku, koran pagi terhampar di depan pagar. peristiwa-peristiwa bagai tak memiliki gerak ruang dan waktu, ia seperti terjebak dalam halaman-halaman, tetapi mataku akan menyelamatkannya.

aroma kopiku ternyata berasal dari wangi hujan yang kau simpan dalam botol. tetapi warnanya lain dari bening hujan. ia hitam seperti dosa atau lubang dalam bumi, sebagai jurang, yang ketika kau menatapnya, kau kehilangan seluruh dirimu, digantikan rasa-rasa yang memakanmu seumur hidup. wajahmu tiba-tiba saja keluar dari dasar kopi, seperti mainan masa kecil dari dalam kotak, hadiah dari waktu ketika hidup hanya mengenal warna-warna balon. aku merasakan hawa napasmu mulai naik merambati dadaku, leherku, daguku, bibirku, hidungku, mataku. kau berhenti. bibirmu turun merayapi hidungku seperti pengelana yang berada dalam puncak ketinggian dan hendak kembali ke muasal.

apa yang kau cari? tanyaku. kau hanya bernapas lewat bibirku. diam. hening.

aku ingin menghidu kembali kenangan. katamu. kini tak kurasai lagi hawa hangat napasmu, seperti cahaya matahari pagi yang mencium leherku. bibirmu seperti memiliki nyawa sendiri, dan mendadak bibirku dan bibirmu jadi musim hujan.

kemudian ‘clup’ kau kembali lagi ke dasar cangkir kopi pagiku. mataku masih pejam, dan bisikanmu masih terdengar samar,

aku akan kembali. lagi. lagi. lagi.

kepalaku dipadati percakapan, tubuh dan kepalaku tidak berada di tempat yang sama. dua-duanya seperti tercerabut waktu, dan aku seperti melewati lubang yang memiliki banyak warna, yang memiliki banyak waktu. tiba-tiba lubang itu runtuh menjadi langit yang mirip masa lampau. aku seperti dilemparkan, tetapi bukan di sebidang tanah atau rerumputan liar. aku terjatuh duduk di sebuah kursi kedai kopi yang menawarkan sepi dan sunyi sekaligus. aku memesan keduanya, tetapi pelayan malah memberiku secangkir kopi. dan kau ada di sana, tersenyum.

‘dalam setiap cangkir kopi, adalah wajah kenangan.’

Depok, 17 Oktober 2015

Gerobak Marwan

Serenceng kemasan bubuk minuman jatuh di gerobak Marwan, suamiku. Gerobak Marwan tampak seperti pohon yang ditumbuhi daun-daun dari plastik kemasan minuman bubuk. Kardus-kardus bersisian memenuhi lapak dagangan kami. Di dalamnya ada banyak mie instan untuk tetangga-tetangga kami makan. Mereka jarang sekali mengeluarkan uang dan memberi makan perut mereka dan anak-anak mereka sayur-mayur. Kesibukan mereka mencuci baju, mencari kutu sambil mengurus kehidupan Imey, si janda kembang yang suka keluyuran malam dengan mulut mereka, sehingga tak sempat memasak. Selang beberapa menit, ada saja tetangga-tetangga kami yang datang membeli makan buat perut mereka atau mulut anaknya yang doyan mengunyah penyakit. Di sini, kamu dapat mendengarkan suara gigi bayi mengunyah remah cokelat wafer, chiki jagung, dan es teh berbiang gula sebagai sarapan, makan siang, dan makan malam. Bukan hanya gerobak Marwan yang menjadi pohon makanan mereka, tetapi ada beberapa gerobak lain yang tak ditumbuhi apapun sebab tetanggaku lebih suka jendela rumahnya sebagai pohon yang ditumbuhi serenceng kemasan bubuk minuman.

Hayu, anakku sedang tertidur pulas di bahuku. Tenang sekali ia tidak memikirkan nasib orang-orang malang seperti ibunya ini. Ia tidak tahu bagaimana hangat dekapan rumah yang kini telah serupa remah-remah wafer yang dibeli bocah di sini untuk sarapan. Ia tidak pernah merasakan bila lengan-lengan yang selama hidupnya jadi tempat bernaung harus diremat dan dihancurkan oleh lengan-lengan lain yang lebih berkuasa. Pipinya tidak pernah tersentuh hangat airmata kesedihan ketika menyaksikan mainan kesayangannya menyatu dengan bumi setelah dilindas gerigi mobil. Ia bahkan tidak tahu bagaimana kenangan yang diawetkan dalam rumah bersamanya, bersama ayahnya harus dihancurkan oleh bulldozer. Kadang, aku ingin menyelinap masuk ke dalam pejamnya yang tenang. Melupakan bayangan yang sewaktu lalu aku rasakan bersama tetangga-tetangga kami yang lain; menyaksikan kenangan yang dari mula kehidupanku, sampai hari kemarin runtuh diratakan bulldozer. Kami semua diperintakan untuk pindah ke tempat yang lain, yang asing, yang aromanya dan kenangannya berbeda dengan rumahku, dengan masa kecilku, dengan masa kecil kami.

Gadis kecil di dekapanku tenang sekali seperti memasuki lorong surga yang tak kenal panasnya ibukota. Hidungnya kembang kempis, juga dadanya, seolah aroma yang ia cium ini bukan polusi udara. Rambutnya yang tipis dan kemerah-merahan tersapu angin sore. Matanya terpejam tenang dan lengang, sedangkan bapaknya, Marwan tengah sibuk menciduk es batu dari baskom ke dalam plastik. Seorang bocah SD sedang menunggu sebab-musabab batuk dan pilek dibuatkan. Haus, katanya. Ia ogah minum air putih, lebih senang minuman berwarna, katanya. Anak-anak kampung kami memang seperti itu, selalu merindukan warna. Bocah itu namanya Wiro, dulu saat di kampung halaman, dia adalah tetangga dekat kami tetapi di sini, tempat tinggal dia berjauhan, beda lantai, beda gedung, bahkan. Ayahnya sudah tiada sejak ia belum sekolah, ibunya buruh pabrik tekstil yang sekarang sedang ketar-ketir oleh ancaman PHK yang sudah mulai meluas di wajah ibukota. Aku tidak tahu darimana uang Wiro untuk belanja wafer, chiki, mie instan, es teh biang gula, atau es jeruk yang ia beli selang beberapa jam saja. Kalau dari desas-desus tetangga, Wiro ini sepulang sekolah atau di saat liburan mengamen dulu, sebab ibunya yang buruh pabrik itu jarang memberikannya uang. Kadang, kalau musim hujan tiba, aku sering melihat dia keluar rumah dengan payung besar bermotif pelangi.

Hayu, Rahayu menggeliat di dekapanku. Bahuku sudah mulai pegal menggendongnya berjam-jam demi menemani Marwan mengurus lapak dagang gratis dari pemerintah. Gerobak yang seperti pohon itu juga dari pemerintah, mungkin tebusan atas ratanya ingatan-ingatan kami di kampung halaman karenanya. Aku harus kembali ke unit, menidurkan rahayu di kasur yang kami bawa dari kampung halaman. Bau kasur itu membawa sedikit aroma kampung halaman kami. Mungkin sebab itu yang membuat tidurku bisa nyenyak seperti di rumah.

Sambil mengayunkan tubuhku dan meniupkan bunyi-bunyian pengantar tidur ke telinga Rahayu, aku menatap wajah Marwan, yang kini sedang mengelap meja gerobaknya, bekas tumpahan air, bubuk minuman atau bumbu mie instan. Sapu tangan hijau muda itu menyisir setiap tempat yang dijatuhi bercak noda hingga alumunium itu kembali berkilat ketika dijatuhi cahaya sore, sementara Marwan sambil mengelap permukaan wajahnya yang berkeringat dan cemas. Jelas sekali cemas itu nangkring di wajahnya yang kuning gelap dan ditumbuhi rambut-rambut halus di atas dan di bawah bibirnya. Saat itu tak ada yang menunggu Marwan memasak mie atau menyeduh es.

‘Rat…’ ia memanggilku. Rat. Ratri.
‘Bawa aja Hayu ke kamar. Kasihan dia, kamu juga.’ katanya masih sambil membenahi letak dagangannya.
‘Hari ini aku aja dulu yang jaga warung’

Aku diam saja sambil mengayunkan Hayu di dekapanku. Marwan seperti tahu apa yang dirasakan bahuku sekarang ini.

‘Oh iya, Rat. Kalo lapak ini udah mulai bayar bulan depan, Mas bingung mau lanjut jualan di sini lagi apa kaga..’ katanya, kali ini ia menyeka keningnya dari keringat yang hampir menetes. Keresahan dia langsung meresap masuk ke dalam keresahanku.

‘Masalah itu, lihat ke depannya aja Mas, Ratri mau bawa Hayu ke kamar dulu ya.’ kataku sambil melangkah menuju lift. Ah, untung saja lift lagi berfungsi normal, kalau tidak, bahuku akan tambah pegal membopong Hayu ke lantai lima naik tangga. Di dalam lift aku bertemu Yu Rifah, ia berjualan pecel di unitnya. Ia enggan berjualan di lantai dua, tempat gerobak-gerobak itu dibiarkan kosong, hingga yang tersisa hanya gerobak Marwan dan tiga gerobak lain yang sudah jarang difungsikan. Kata perempuan paruh baya yang hidup berdua cucunya yang sudah sd itu, tak sanggup ia harus naik-turun dari unitnya di lantai tujuh ke lantai 2 untuk mengangkut keperluan berdagangnya. Ia tetap bersikeras berjualan di unitnya, lantai 7 walaupun keadaan di sana sepi pembeli. Kalau sudah begini, kadang aku bersukur memiliki Marwan yang masih mau naik-turun mengangkut barang dagangan dari unit ke lapak dagang demi isi perut kami semua.

Sebelah tanganku memutar kunci unit. Hawa hangat sore terbawa angin yang masuk dari jendela yang terbuka. Hayu sudah kuletakkan di kasur. Tubuh mungilnya menggeliat. Di pejamnya aku melihat kesunyian yang damai. Mungkin pejam itu berasal dari aroma masa kecilku yang tersisa dari kasur yang kubawa dari kampung halamanku yang sudah rata. Menatapnya tertidur tenang, membuatku lupa akan keresahan-keresahanku yang memadati kepala. Kata-kata orang-orang yang datang untuk memberi penyuluhan kepada kami beberapa minggu lalu mengulang di kepaku. Bulan Desember nanti, Marwan dan aku, dan warga lain yang tinggal di bangunan ini harus menyiapkan uang minimal dua juta. Dulu, di kampung halaman, kami bernapas tidak pakai bayar. Di sini, tiba-tiba saja semua harus bayar sewa. Sewa tempat tinggal. Sewa listrik. Sewa air.

Ah, angin sore ini berbau lain. Asin. Asing. Tiba-tiba aku mendengar suara aku yang lain. Suara dari masa kecilku. Kemudian suara kenangan yang diruntuhkan bulldozer berdentam-dentam.

—END—

Depok, 16 Oktober 2015

p.s : karangan ini dibuat berdasarkan hasil kunjungan ke rusunawa, hunian bagi warga kampungpulo yang rumahnya diratakakan dengan tanah demi mengatasi banjir tahunan Jakarta. karangan ini fiktif, tapi sejatinya fiksi tidak jatuh terlalu jauh dari pohon realitas.