Ibu Tercinta

“Bu, aku tahu, aku percaya, kau selalu menyayangiku.” bisik anak perempuan itu lirih. Langit-langit bergaun ungu ditatapnya sendu. Malam seraya tersenyum ketika mendengar kata ‘ibu’ itu sampai pada wajahnya yang polos tanpa hiasan apa-apa; bulan maupun bintang. Malam sedang mendung serupa dengan mata anak perempuan itu.

“Bu, aku tahu kau juga rindu padaku.” bisiknya lagi. Tidak ada siapa-siapa di taman itu. Hanya ada dia. Anak perempuan yang merindukan ibunya. Ibunya yang jauh, atau dekat, dia tidak tahu. Dia asik saja duduk di ayunan taman itu sendirian. Kedua tangannya sibuk memegang erat rantai-rantai ayunan, kakinya menekan-nekan ke tanah agar ayunan itu bisa membawa angin kepada tubuhnya yang mungil, bibirnya menggumam-gumam menyebut satu kata; Ibu.

“Bu, Lana kangen Ibu…” ayunan itu sudah tinggi mengangkat tubuhnya ke angkasa. Dirasakannya angin menerpa sekujur wajahnya yang basah oleh air mata. Tanda kerinduan yang amat mendalam.

“Lana, sudah malam. Ayo masuk ke dalam, lalu tidur.” sapa seorang perempuan berkerudung putih yang sedang berdiri di belakang Lana. Perempuan itu tersenyum ramah. Lana menoleh kepada perempuan itu. Mengangguk kemudian tersenyum memaksa. Bukan dia Ibuku, Ya Tuhan.. bisiknya.

“Bu Nila, apa Lana boleh bertanya?” anak perempuan itu bertanya pada perempuan yang sedang menuntunnya ke dalam sebuah bangunan tua. Nila mengangguk.

“Apa Ibu Lana juga merindukan Lana, Bu? Lana kangen Ibu…” ungkap Lana dengan mata polos yang menyimpan kesedihan di sana. Nila tertegun. Bibirnya memaksa tersenyum pada anak perempuan malang ini. Lana yang malang, gumamnya dalam hati.

“Iya Lana. Ibu kamu pasti sangat mencintai dan merindukan kamu.” ujar perempuan itu lembut, mata Lana langsung berbinar-binar mendengar Nila berkata demikian. Aku tahu, kau juga merindukanku, Bu, bisik Lana.

Jauh dalam lubuk hati, Nila sebenarnya tahu latar belakang anak perempuan ini. Lana. Ia sudah tujuh tahun menempati bangunan bernama Panti Asuhan Kasih Ibu. Saat itu Lana masih bayi, ia diantarkan oleh segerombolan warga dan polisi. Kata mereka, bayi malang itu hendak dibunuh ibunya sendiri karena lahir tanpa tahu siapa bapaknya.

-END-

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 11 Maret 2015

Kado Untuk Shizuka

Aku masih menemani laki-laki yang senang memakai baju warna kuning seperti warna kulitku ini mengelilingi mall. Kakinya menyusuri berbagai sudut gerai-gerai yang menjual kado-kado manis untuk perempuan. Ya, Nobita kini sibuk mencari kado yang cocok untuk Shizuka. Bukan rahasia umum lagi kan kalau Nobita sungguh-sungguh menyukai Shizuka. Gadis cantik yang sering mengikat dua rambutnya.

“Dorami, kalau kamu jadi Shizuka, kado apa yang paling kamu inginkan?” tanya Nobita padaku yang sedang sibuk melamun. Ha? Kalau aku jadi Shizuka? Aku sempat menatap Nobita lama. Seandainya saja, aku bisa bertukar tempat dengan Shizuka.

“Hmm…kalau kamu bertanya padaku, aku akan menjawab buku.” jawabku sambil tersenyum. Nobita mengangguk.

“Buku ya? Boleh juga. Shizuka suka buku apa ya?” Nobita berjalan menyusuri mall, menghampiri toko buku yang ada di dalamnya. Aku hanya diam saja, menyejajarkan langkahnya.

“Kalau gaun bagaimana?” tanya Nobita lagi. Dia bingung buku apa yang disukai Shizuka. Dia bertanya padaku, buku kesukaan Shizuka, tapi aku bukan Shizuka, jadi mana kutahu?

“Boleh saja.” ujarku singkat. Aku ingin ini segera berakhir, tetapi Nobita kelihatan sangat bersemangat ingin membelikan Shizuka kado ulang tahun. Besok adalah ulang tahun Shizuka.

“AAAAA ini bagus sekali ya, Dorami!” Nobita menunjuk gaun selutut warna merah muda. Persis dengan baju yang sering dikenakan Shizuka, tetapi gaun ini lebih gemerlap, lebih indah.

“Ba…ba..gus Nobita.” aku benar-benar terkesima dengan gaun itu. Berharap, aku yang akan memakainya.
Ah, seharusnya kakak Doraemon yang menemani Nobita, tapi justru aku yang harus menahan rasa terluka ini sebab seharian aku sudah mendengar nama Shizuka ratusan kali dari bibir Nobita. Dan aku cemburu. Awas nanti ya kak Doraemon! geramku dalam hati.

“Ah, aku sudah tidak sabar melihat Shizuka mengenakan gaun ini! Pasti cantik sekali!” Nobita nyengir super-lebar. Aku melihat cinta itu di matanya tumbuh sedemikian besar untuk Shizuka. Dan itu membuatku terluka.

Ah, siapalah aku. Hanya robot kucing perempuan yang jatuh cinta pada manusia. Robot dan manusia? Robot kucing pula! Huh, mana mungkin cinta semacam itu ada pada kisah ini. Biarkan saja aku melihat Nobita menggapai cinta Shizuka, toh aku lebih suka melihat senyum Nobita terkembang meski bukan karena aku. Si Dorami, robot kucing abad 21. Dan melihat Nobita bahagia saja seperti sekarang ini, sudah cukup bagiku.

ilustrasi : weheartit.com

-end-

Depok, 25 Februari 2015
#RabuMenulis

Perempuan Di Depan Pintu

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

“Diam. Diam di situ.” terdengar suara tawa dari balik pintu.
“Ah, kau memelukku terlalu erat!” suara perempuan memekik, lalu disusul gelak tawa.
“Bukan. Aku mencintaimu terlalu dalam.” suara laki-laki. Ah, kuhapal betul suara itu. Suaramu. Perempuan itu tertawa.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam? Bisikku. Tentu ada. Kau. Dan dia. Perempuan itu.

Suara tawa makin nyaring terdengar, ketukan pintu itu dianggapnya hanya suara angin yang lewat. Tidak terdengar, bilapun terdengar, tidak penting. Bagimu. Baginya. Bagi kalian.
Aku melabuhkan tubuhku sendiri pada pintu kayu itu. Semakin lama, semakin tenggelam tubuhku ke bawah. Terduduk lemah, sambil memeluk lututku sendiri. Menangis. Ah, bodoh! Sudah sejak kapan aku berada di sini? Di depan pintu, sebagai tamu yang tak pernah diajak masuk, atau disuguhi segelas teh saja. Menunggu kau membukakan pintu. Bodoh! Sudah berapa lama? Rutukku dalam hati. Hatiku tak mampu menjawab, ia lupa sudah berapa lama aku di sini.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

Tulang-tulang jemariku rasanya sakit sekali, lebam di segala permukaannya, lelah mengetuk pintu. Bukan hanya itu, rasanya tanganku juga pegal sebab setiap hari aku menulis surat untukmu dan menyelipkan puluhan surat itu di bawah pintu. Surat yang tak pernah tersentuh olehmu. Aku masih bisa melihat puluhan surat itu menumpuk di dalam, pada lantai kayu berwarna hangat, dan seringkali surat-surat itu terinjak olehmu, oleh perempuan itu. Yang kulakukan justru bukannya geram, tetapi malah tetap diam di sini. Di depan pintu. Seperti orang tolol yang tengah duduk di depan pintu, dilumuri air mata disekujur wajah, dan menunggui dua orang yang sedang dimabuk asmara. Dan aku mencintai salah satunya. Kau.

Tok, tok, tok.
Ada orang, di dalam? suaraku sudah melemah.

Kemudian hujan datang mengguyur tubuhku dengan gerimisnya yang tipis-tipis, kemudian menjadi deras yang menghujam tubuhku. Kuyup sudah. Namun aku masih terkulai di depan pintumu. Aku tidak bisa ke mana-mana. Aku tidak mau.
Seorang perempuan datang, lewat di depan pintu itu, mengenakan payung merah jambu. Perempuan itu menoleh.

“Hei, hujan. Meneduhlah sini.” katanya. Aku menggeleng.

“Ah, kau ingin menikmati hujan?” tanyanya. Aku mengangguk. Perempuan itu kemudian hanya tersenyum, lalu pergi.

Kemudian, satu, dua, tiga laki-laki lewat di hadapanku. Mengenakan jas hujan, tapi membawa payung.

“Hei, hujan! Mau satu payung denganku?” mereka menanyakan hal serupa. Aku menggeleng untuk ketiganya.

“Baiklah.” tukasnya sebelum pergi. “Ah, ya, jangan berlama-lama di bawah hujan, nanti flu.” sambung yang lain. Aku hanya bisa mengangguk.

Setelah hujan pasti ada pelangi. Aku percaya itu. Aku percaya.
Langit semakin gelap, hujan telah berangsur-angsur mereda bersama warna langit yang menghitam sebab hari lagi dilahap malam. Bulan hanya memamerkan separuh tubuhnya, entahlah ke mana separuhnya lagi. Namun, bulan itu masih menyisakan keindahan walaupun hanya terlihat separuh. Bintang-bintang berhamburan di angkasa raya. Aku tersenyum. Aku menunggu gelap ini; gelap yang kugunakan untuk merapalkan namamu dalam setiap larik doaku.

Hening.

Tok, tok, tok.
Perempuan itu masih di dalam. Kau juga. Entah sudah berapa lama perempuan itu di dalam sana hingga kau lupa untuk menyapa matahari, menyapa pagi, dan melihat tubuhku yang sudah sangat menyedihkan ini masih berada di depan pintu. Menunggu. Menunggu.

“Hei, kau masih ingin berada di situ sampai kapan?” tanya seorang laki-laki yang kebetulan melintas. Tapi aku sering melihatnya.

“Aku masih ingin–”

“Pergi saja. Dia tidak menginginkanmu!” ujar laki-laki itu jujur. Iya, aku tahu. Aku mengangguk.

“Aku tidak akan pergi.” kataku. Dia tersenyum meremehkan.

“Terserah saja.” katanya. Aku mengulas senyum untuk membalas perkataannya. Lalu laki-laki itu pergi.

Tok, tok, tok.
Aku kembali mengetuk pintu, meski jemariku masih lebam karenanya. Masa bodoh. Aku tidak peduli. Sama sekali.

Kemudian suara gelak tawa itu lagi. Disusul suara gaduh lainnya. Ah, aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Aku tersenyum pahit. Seperti kopi hitam yang kauseduh tanpa gula. Tanpa pemanis apa-apa. Itulah wujud senyumku kini.
Ah, bodoh! Sudah berapa lama aku di sini? Di depan pintu hati seseorang yang tak kunjung membukakan pintu, hati seseorang yang sedang sibuk oleh mabuk sebab cinta. Dan yang menyedihkan lagi, mabuknya itu bukan denganku. Ah! Tolol! Aku memaki diri.

Tapi, kau harus tahu; aku tidak akan pergi, entah sampai kapan aku bertahan, aku tidak tahu. Setidaknya, sampai hari ini, aku belum berniat untuk melangkahkan kaki dari sini; dari hatimu. Di luar hatimu, lebih tepatnya. Aku belum mau pergi. Biar saja hujan menghajarku sampai belur, dan menggigil. Biar saja matahari membakar tubuhku hingga legam. Biar saja bulan dan bintang menertawai aku, dan biar saja orang-orang menganggapku bodoh atau gila, aku tidak peduli.
Aku akan menunggumu, membukakan pintu. Untukku.

Tok, tok, tok.
Ada orang di dalam?

i’ll always be a homeless woman in front of the door called your heart.

Depok, 14 Februari 2015

Laki-laki Perayu Itu

Laki-laki itu masih menyisakan senyum pada bibirnya padahal matanya tidak sedang terbuka.
Dalam pejam, laki-laki itu masih bisa tersenyum dengan amat manisnya.

‘Aku akan mencintaimu selama tubuhku mampu menopang berat badanku, kasih.’ katanya pada perempuan di sampingnya. Ia genggam tangan perempuan itu yang nyaris saja terjatuh. Perempuan itu tahu, lelaki yang sedang menggandeng tangannya ini ialah perayu ulung. Dan dia harus berhati-hati.

‘Hei, hei jangan pikir aku hanya merayumu. Aku sungguh-sungguh, kau tahu?’ seolah bisa membaca pikiran sang perempuan, lelaki itu berkata demikian, untuk meyakinkan.

‘Ya, ya, ya aku percaya.’ kata perempuan itu sambil berlalu. Lelaki itu mengejarnya. Perempuan itu terus saja berlari, mendekati pohon apel.

‘Kau mau apel, sayang? Mau?’ tanya lelaki itu. Perempuannya menatap lelaki itu sejenak, kemudian mengangguk.

‘Jangankan apel, bintang pun akan kuraih demi kamu.’ rayu lelakinya. Perempuan itu bergeming, tidak mau menanggapi omong kosongnya.

Laki-laki itu benar-benar memanjat pohon apel, dan mengambilnya satu untuk perempuannya. Perempuan itu tertegun, setahunya, laki-laki ini tidak bisa memanjat. Tapi, yang baru saja dilakukannya membuat mata perempuan itu terbuka, ia tak lagi memandang laki-laki yang sedang mengejarnya dengan sebelah mata. Kini ia memandang laki-laki itu dengan kedua matanya. Perempuan itu terpukau.

BUUURRRKK.

Laki-laki itu jatuh saat turun dengan satu tangan memegang apel. Perempuan itu kaget setengah mati, takut kalau lelaki itu kenapa-kenapa.

‘K-kau tidak apa-apa?’ Ia menyentuh punggung laki-laki itu. Mengusapnya lembut.

Tidak ada jawaban.

‘H-hei bangun. Tolong jangan mati dulu. Aku mau berterima kasih atas apel ini!’ perempuan itu panik. Ia menggoncang-goncang tubuh lelaki itu.

Tidak ada jawaban.

Perempuan itu menangis.

‘HAAA! Hei,hei jangan menangis.’ laki-laki itu tiba-tiba sudah duduk di samping perempuannya. Perempuan itu sedang menangis.

‘Kau ini! Tidak lucu tahu!’ perempuan itu mencubit lengan laki-lakinya.

Ah, itu kejadian empat puluh tahun lalu. Saat Robb mencoba mengambil hatiku. Ya, aku adalah perempuan yang dikejarnya dengan susah payah. empat puluh tahun yang lalu. Apa kau masih ingat Robb? Aku mengusap pipinya yang sudah kriput dimakan usia. Waktu begitu cepat berlalu, Robb.
Lelaki itu masih terpejam. Damai sekali. Bibirnya tersenyum.

‘Jangankan hanya apel, aku bisa mencintaimu selama mungkin. Ah, sampai aku berusia tujuh puluh tahun. Aku sanggup!’ Lelaki itu merayunya lagi.

Kau bohong Robb, usiamu kini baru enam puluh sembilan tahun, tapi sekarang kau pergi! Apa kau bisa mencintaiku satu tahun lagi saja? Bisikku lirih.
Beberapa orang menepuk pundakku. Lilly dan An, anak-anak kita.
Kemudian peti ditutup.

“Sudahlah Ma, iklaskan Papa.” ujar Lilly.

I will be loving you till we’re 70
And baby my heart could still fall as hard at 23
Lagu yang sering diputar An, mirip sekali dengan rayuanmu dulu, Robb.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 10 Feb 2015

AFFAIR

‘A…apa yang kulihat barusan itu nyata? A…apa itu benar kau?’

Saat ini aku hanya berharap aku sedang dikelabui mimpi. Aku hanya berharap semua ini tak nyata. Namun ketika kucoba mencubit lenganku, aku merasa sakit. Aku tidak sedang bermimpi. Ini nyata!
Aku kembali ke lorong sepi yang baru saja kulewati dengan langkah gontai yang terburu-buru seperti melihat hantu. Langkahku kaku begitu sampai pada lorong tadi. Benar. Aku tidak sedang bermimpi. Itu kau. Di sana. Kau masih di sana.
Iya, itu kau.

Aku melihatmu dari kejauhan. Tubuhmu condong ke arahnya, menempelkan tubuh perempuan itu ke sudut tembok. Tanganmu melingkari pinggangnya, kau mengucap sesuatu pada perempuan itu. Perempuan itu tersenyum. Entah kau berkata apa, tapi dia tersenyum. Manis sekali. Lalu kulihat bibirmu mendarat lembut pada bibir merah muda perempuan itu. Ya, bibir tipis yang senyumnya acapkali membuatmu gemas melihatnya. Kini wajah perempuan itu tertutupi oleh kepalamu, oleh rambut ikalmu. Kau telah menghabisi saripati bibir perempuan itu dengan beringas. Ah, itu pergulatan bibir paling panas yang pernah aku lihat. Pergulatan bibirnya biasa saja, tetapi hatiku terbakar.

‘Reina, aku mencintaimu, selamanya. Cintaku tidak pernah mati untukmu.’ Suaramu terdengar berbisik pada telingaku. Aku menutup telinga. Berteriak. Seketika saja pergulatan bibir yang kusaksikan berganti menjadi tatapan penuh rasa kaget.

“Reina?!” Kau dan perempuan itu berbarengan memanggil namaku. Kakiku rasanya ingin berlari saja dari sana. Jauh sejauh-jauhnya.

Mario, kau lupa? Kau lupa, siapa aku? Kau lupa siapa perempuan yang bibirnya baru saja kauhujani cinta? Kau lupa bahwa kau pernah menjanjikanku selamanya?

Aku berlari ke ujung jalan. Tak perduli banyak kendaraan yang lalu lalang. Kau dan perempuan itu tetap mengejarku. Aku tahu mereka merasa bersalah. Ya, memang mereka seharusnya merasa bersalah. Memang mereka salah!

Mario, kuingatkan beberapa hal kepadamu yang mungkin saja kau lupa;

Aku istrimu, Mario.
Dan perempuan itu adalah adikku.

My love to you will never die..’ you said.

Kamu bohong, Mario.
Kamu bohong.

BRAAAAKKKKK

Yang terakhir kuingat adalah suara teriakanmu dan Mey, adikku. Lalu setelahnya, gelap.

I don’t wanna cry, no more feeling this love….wasted by you.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 10 Feb 2015

Aku mencintai(semesta)mu

https://soundcloud.com/angelina57/andien-feat-marcell-sempurnalah-cinta-from-merry-riana


Kau masih berbicara di depanku. Menceritakan apa saja yang ada di kepalamu. Menceritakan rencana-rencanamu ke depan denganku. Aku masih sama. Menyaksikanmu dengan takzim. Bibirmu kasih, ialah sebuah kota yang ingin kujelajahi sendiri, dan aku tidak keberatan apabila tersesat. Kepalamu itu kasih, entah mengapa dari dulu ialah rumah tempat inginku kembali ke sana. Tidak pernah mau pergi. Sedikitpun. Aku akan betah berlama-lama, di mana saja asal bersama kepala dan bibirmu. Dua hal yang mampu membuatku mencintai seluruhmu.

Dalam kepalamu, ialah kota yang ingin aku tinggali. Gagasan-gagasanmu yang membuatku menganga, tersimpan rapi di sana serupa arsip. Dan kau akan menuangkannya ketika bersamaku. Aku mencintai gagasanmu.
Dalam bibirmu, ialah kota indah yang ingin kujelajahi, lalu tersesat. Sebab kata-katamu yang mebuatku mabuk kepayang, bagai wine dalam botol. Dan kau akan membuka tutup botolnya ketika bersamaku.
Dalam dirimu, ialah semesta tempat aku hidup dan bernapas. Kasih, kaulah orang yang membuatku berhenti mencari. Sebab kurasa, tak ada lagi semesta seindah dirimu. Tak ada lagi semesta untukku hidup dan bernapas, kecuali semestamu. Dirimu.

“Mau kah kau menikah denganku?” Ucapmu pelan, lembut, namun pasti. Begitulah kau. Aku masih menganga. Bingung menjawab apa, aku terkejut, aku terpukau, aku kehabisan napas saking senangnya.

Kasihku, aku bersedia. Hidup dalam kota di kepalamu. Tersesat dalam kota di bibirmu. Dan hidup selamanya dalam semestamu. Aku bersedia.

Aku mengangguk sampai tak sadar meneteskan air mata bahagia. Bahagia. Aku bahagia! Ya Tuhan…sampai aku sendiri tidak dapat berkata apa-apa selain mengangguk.

Kau tersenyum. Dan aku tersesat dalam kota di bibirmu. Dalam senyummu.

Kemarin dan esok nanti
kenangan dan harapan bercahaya di dalam hati
sejuta mimpi menjadi nyata
denganmu kasihku untukmu cintaku

aku bersamamu selalu
di sampingmu
untuk menjadi teman hidup
dalam sempurna cinta kita

Sempurnalah cinta kita, kasih.
Aku mencintai semestamu. Segalamu.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 04 Februari 2015

Namanya, Rindu

Merindumu tidak mengenal waktu. Bahkan, asal kau tahu saja, bahwa rinduku buta angka. Ia tidak tahu pukul berapa harus merindumu terlalu banyak, dan kapan harus menenggelamkan dirinya.
Aku sangat mengenalnya. Namanya, rindu. Ia begitu mencintaimu.
Aku hapal jadwal-jadwalnya; dimulai pukul dua dini hari, di mana orang-orang terlelap dalam mimpinya, atau saat beberapa sejoli sedang membagi cinta yang lagi hangat-hangatnya. Dia malah melakukan hal sebaliknya. Terbangun dari mimpi tentangmu, dengan napas yang memburu, kemudian merindumu. Ya, sepagi itu rinduku terbangun dari tidurnya. Kejadian itu terus berulang walaupun jam terbangnya kadang berubah-ubah, kadang pukul dua, kadang pukul satu, atau pukul tiga. Namun kesimpulan yang kutangkap ialah, rindu selalu bangun lebih pagi daripada kesadaranku.

Pukul lima atau enam subuh, rindu kembali terjaga. Satu-satunya teman ketika mataku baru saja terbuka, ketika mimpi perlahan melenyap dari ingatan. Aku terbangun dari kasurku, dari bantal yang berisi mimpi-mimpi buruk atau indah bersamamu. Menunaikan kewajiban. Dalam sujud dan simpuhku, aku bertemu lagi dengan rindu itu. Rindu yang bangun pukul dua dini hari. Rindu yang pertama menemaniku ketika kesadaranku baru mulai terkumpul. Dalam sujud, dan tengadah tangan yang berdoa, rindu memuisikanmu terlalu dalam. Kerap, sepasang matanya basah sembari menyebut namamu, lalu perlahan leleh oleh air mata yang jatuh ke wajah sajadah. Ya, sepagi itu ia mendoakanmu.

Pukul tujuh pagi, di mana aroma kopi masih kuat tercium di dapurku, rindu hadir lagi sebagai uap kopi yang mengepul di atas cangkirnya. Aromanya seolah-olah bagai nasabah yang sedang menabung receh-receh ingatan tentangmu. Mungkin mudahnya, seperti fragmen-fragmen yang menyusun utuh bayanganmu. Satu sesap, dua sesap, rindu kembali muncul. Ia mungkin teringat bagaimana aroma kopi lebih pekat bila dihirup oleh dua hidung yang berbeda. Bagaimana dua cangkir kopi terlihat lebih candu dari pada secangkir di atas meja. Dan bagaimana paduan rasa pahit-manis lebih mantap jika dinikmati berdua. Namun sayang, rindu lebih memilih menelan kecewa bersama pahit kopi itu dari pada harus mendepakmu dari ingatannya.

Pukul delapan, sampai sepuluh, rindu makin menggila. Dengan lagu-lagu yang ia putar lewat mp3 player miliknya, dia merindumu lebih banyak lagi. Lagu-lagu berisi kenangan yang tak habis-habis dia lamunkan. Seringkali kutatap matanya yang sayu sedang memutar bayanganmu di sana, dengan sisa-sisa ingatan yang makin hari makin kuat namun tipis seiring waktu melenyapkannya satu-satu. Tak jarang rindu bernyanyi terlalu keras, sampai tetangga-tetangganya heran dengan kelakuannya yang aneh di setiap pagi namun tak berani berkomentar di depannya. Suaranya yang cempreng dan tak jarang fals itu terdengar seribu kali memilukan di telingaku yang mendengarnya.

Pukul sebelas, adalah jam-jam di mana rasanya rindu ingin meledakkan tubuhnya sendiri ke udara. Saat-saat di mana mendung menggelayut di langit Januari, dan siap menumpahkan air kencingnya ke bumi. Maka, diseduhlah kopi kedua, menghidupkan laptop dan semangat yang ia punya hari itu. Rindu memiliki blog. Jadi, setiap pukul sebelas, dia selalu duduk di meja kerjanya bersama laptop dan secangkir kopi–biasanya kopi itu berjenis cappuccino–lalu menuliskan dirinya sendiri lewat papan digital yang lagi dirabanya, ditekan-tekannya, dan disetubuhinya dengan kata-kata puitis tentang dirinya dan kau. Tak peduli suara hujan yang mengganggu di luar sana. Nampaknya, suara langit yang sedang kencing itu lebih  syahdu di telinganya dan mampu membuat dirinya meledak, berhamburan, dan semrawut sehingga yang ditulisnya bisa mencapai lima sampai tujuh paragraf tentangmu. Atau dua sampai lima puisi untukmu. Ya, segila itu rindu padamu.

Kegiatan yang terakhir bisa dilakukannya hingga bertemu lagi dengan pukul angka sebelas. Sebelas malam. Tentu rinduku tidak tahu. Rinduku tidak mengenal waktu, seperti kataku di paragraf pertama. Rinduku memang buta angka, sehingga tidak peduli seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk merindumu. Terdengar bodoh? Ya, memang terkadang bodoh dan tulus itu setipis urat nadi dan kematian.

Jadwal terakhir rindu ialah tidur. Semua orang perlu tidur, kan? Begitu juga rinduku. Rinduku bukan Tuhan atau kota Jakarta yang tak pernah terlelap. Rinduku agaknya seperti manusia biasa. Sebelum tidur, ia akan terus bekerja. Mencari-cari wujudmu di ingatanku, mencoba menangkapnya lalu mengurungnya agar kau tidak bisa terus berlarian di kepalaku. Ia terus berlari sampai mendapatkanmu, sampai ia lelah sendiri akhirnya tertidur. Karena terus gagal menangkapmu dan mengurungmu, alhasil ia selalu terbangun pukul dua dini hari. Terus berulang setiap hari. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, Minggu.

Terkadang ia lelah bertanya sendiri, sampai kapan ia terus ada menemani hari-hariku. Mungkin ia bosan dengan jadwal sehari-harinya. Atau mungkin ia terlalu lelah mengejarmu yang tak pernah berhasil ditangkap dan dipenjarakan dalam ruang bernama masa lalu. Namun yang kutahu pasti, rindu itu takkan pernah lenyap sekalipun kita bertemu satu-dua tatap mata saja. Hadirnya akan selalu ada seiring kakimu melangkah menjauh dari tempat di mana aku berpijak hari ini. Menjauh sampai entah akan kembali atau tidak. Menjauh sampai tak kenal waktu.

Tapi, jangan khawatir. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Sebab rinduku sudah cukup setia menemani sepiku akibat kau yang pergi.
Pergilah sepanjang jarak ingin menarikmu dari hidupku. Aku cukup mampu meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini takkan sulit bagiku. Dan aku akan meyakinkanmu, bahwa tak apa bila kau ingin menyeret ragamu jauh-jauh dari batang hidungku. Sebab itu takkan pernah mengurangi jumlah cinta rindu untukmu. Rindu akan selalu mengingatmu; baik pukul dini hari atau di saat malam tergelap sekali pun. Hanya itu yang tersisa darimu di hidupku, selain kenangan tentu saja.

Sekali lagi aku ingin meyakinkanmu; Jangan takut pada jarak, sebab jarak tak sekuat doa. Sekali pun jarak merenggutmu, doa senantiasa mendekatkan batin kita. Doa selalu siap sebagai sepasang tangan untuk saling merengkuh dan menguatkan. Walau tanpa raga. Tanpa hangat napas. Tanpa suara.

“pergilah sejauh ombak menyeretmu sampai ujung samudera, aku pasti selalu menantimu selayaknya sebuah dermaga.”

Semoga terus sehat dan bahagia.

Dari aku, dan Rindu.

Depok, 24 Januari 2015

Hening Di Kepalanya

“Apa yang kaucari dari sebuah hening?” Kau bertanya.
“Ketenangan.” Aku menjawabmu setenang laut di kamar mandiku. Kau memantik korek itu pada tubuh lintingan tembakau di jari-jemari kurusmu.
“Hanya itu?” Dia mulai mengisap benda itu di bibirnya yang berwarna senja melepas cahaya. Hitam. Benda itu telah merenggut merah muda ke-oranye-an di bibirnya. Benda keparat yang tak seharusnya berada di sana.
Aku mengangguk. Memangnya apa lagi yang kita cari dalam hening selain ketenangan?
“Kau belum cukup mencintaiku, ternyata.” Dia mengepulkan asap dari bibirnya yang kini lebih mirip knalpot motor dua tak.
Bagaimana dia berpikir kalau aku belum cukup mencintainya? Tak cukupkah enam belas puisi cinta untuknya? Bagaimana dia berpikir kalau aku belum cukup mencintainya? Tak cukupkah lima kartu kredit pemberianku yang terselip di dompetnya? Bagaimana dia berpikir kalau aku belum cukup mencintainya? Tak cukupkah berlian yang melingkar tenang di jarinya, yang kubeli dengan keringatku selama dua tahun?

“Mengapa kau bilang begitu?” Aku bertanya demikian. Dia harus tahu betapa napasku saja bisa untuk menghidupinya.

“Karena kau hanya mencari ketenangan dalam sebuah hening. Apa ketenangan itu tak bisa kaudapatkan ketika tubuhmu dan tubuhku bersatu?” Dia bertanya lagi. Tentu saja aku dapatkan ketenangan dalam peluknya yang seliar auman singa. Tenang berada sejengkal dari hidupku ketika saat itu terjadi. Tenang sekaligus riuh dalam dada. Tenang yang ramai.

“Tentu saja aku dapatkan itu bersamamu. Namun bukan ketenangan semacam itu.” Aku menyangkal. Dia menyeringai. Mengisap lagi lintingan keparat itu dari bibirnya.

“Mengapa kau tak bertanya kembali padaku, apa yang aku cari dalam hening? Tidakkah kau ingin tahu?”

“Memangnya apa?” Kini pertanyaan itu menukar bibir. Dia tersenyum tipis. Setipis lingerie-nya ketika malam menjelang.

“Kenangan.” Apa? Aku menatapnya bingung. Menyelipkan tanya pada tatapanku. Dia tersenyum lagi. Kini senyumnya melebar. Selebar luas rumah yang kuberikan untuknya. Rumah untuk membayar cinta.

“Kalau kau mendapatkan ketenangan dalam hening, aku mendapatkan kenangan.” Lintingan putih itu hampir habis di jemarinya. Tersedot oleh ciuman-ciuman bibirnya. Membuatku cemburu pada benda sialan itu.

“Kenangan, tentang kita? Kau merindukan itu, hah?” Aku hampir mendaratkan ciuman di bibirnya yang seperti senja melepas cahaya. Hitam. Pekat. Dan bau tembakau.

Namun dia hanya menggeleng.

“Bukan. Aku merindukan diriku sendiri.”

“Maksudnya? Dirimu yang mana?”

“Diriku ketika Ibu memanggilku dengan sebutan, cah lanang-ku.” Dia tersenyum. Matanya menerawang pada dinding kamar. Mengingat masa lalu seolah masa lalu itu terputar luwes di permukaan tembok.

“Aku rindu ketika diriku masih menjadi laki-laki.” Ujarmu.

Aku tergugu. Diam. Tak mampu berkata apa-apa.

-fin-

Kompas Dalam Tubuh Manusia

“Tahu kah kau, bahwa tubuh kita memiliki kompas?”
tanyaku padamu di suatu malam yang sedikit bintang.
Kulihat kepalamu menggeleng. Wajahmu mengernyit bingung.
“Di mana bisa kutemukan kompas dalam tubuhku?”

Kau bertanya heran, mencari-cari kompas itu dalam tubuhmu
bertelanjang badan, mencari satu-satu, melepas satu-per-satu organ dalam
mempreteli paru-paru, ginjal, jantung, limpa, usus, lambung…
Aku diam, menyaksikanmu. Tersenyum, diam-diam menikmati ketelanjangan itu bisa kulihat utuh.

“Mengapa kau tertawa? Kau sudah membuatku penasaran setengah mati
sekarang, katakan di mana kompas itu berada!”
ujarmu menggertak. Aku masih tersenyum memungut satu-satu apa yang tlah kau lepas demi rasa penasaranmu.
Kuletakkan lagi paru-paru, ginjal, jantung, usus, lambung pada tubuhmu kecuali hati.

“Ini, kompas yang kumaksudkan.” ujarku sambil menyerahkan hati itu ke tangannya.
Kau masih menatapku bingung. Tanganmu menggenggam benda berbentuk cinta itu dengan tatapan bertanya.
“Kau bisa melakukan perjalanan dengan itu. dia bisa membantumu agar tidak tersesat ke manapun kau pergi.”
wajahnya masih terlihat bingung. “Aku tidak melihat jarum penunjuk arahnya”, keluhmu.

“Kau akan tahu ke mana arahnya ketika kau memasangnya di tubuhmu. dengar, dan rasakan.”
“dengar, dan rasakan”, kau mengulang kalimatku sambil meletakkan hati itu ke tubuhmu sendiri.
“Sekarang, rasakan. Bagaimana? Kau sudah menemukan arah yang ingin kautuju?” tanyaku penasaran.
Kau mengangguk dengan senyum melebar di seluruh wajahmu.

“Aku akan ke Utara!” kau berteriak girang. aku terpaku mendengar itu.
seperti ditembaki ribuan peluru tentara Amerika
seperti disengat kalajengking atau laba-laba beracun.
“Ke Utara? kompasmu salah! Harusnya itu menuju ke Selatan!” aku berteriak. Sedangkan kau, sudah pergi berlari ke Utara.

Hai, pengelana, kompasmu rusak. Seharusnya bukan ke Utara kau berlari, tapi ke Selatan.

– Dari aku, Selatan yang menunggumu kembali. Sembari berdo’a; agar kompasmu lekas sembuh.

Fiksi,

(SPS, 13 Januari 2015)