102 Hari

102, satu kosong dua
Seratus Dua Hari

Separuh bulan Oktober
Sepenuh November
Seluruh Desember
Separuhnya lagi Januari

102 hari yang lalu,
Negeri menahtakan pemimpin baru
Maraknya euforia dari pagi hingga malam menggantung di ujung
Memestakan sebuah pergerakan revolusi mental yang dijunjung

Namun bukan itu yang ingin kupuisikan
Di sini
Bukan itu
Anggap saja itu hanya sebuah bagian dari prolog

Monolog; puisiku ialah hasil aku bermonolog dengan pola pikirku
Bersenandika dengan bibir sendiri,

Aku ingin menamai bulan-bulan dengan nama warna
Oktober berganti jadi merah muda
November berganti jadi shocking pink
Desember berganti biru
Dan, Januari ialah abu-abu

Setiap warna memiliki makna, sama halnya sebuah nama
Oktober, bagiku ialah bulan jatuh cinta. Sebab tanggal-tanggal di kalenderku tak pernah libur dari senyum.
November, ialah bulan yang mengejutkan. Sebab, hadirmu kadangkala tanpa aba-aba. Seperti kado dari Santa. Surprisingly!
Kemudian Desember, ialah bulan berwarna biru. Sebab hujan turun tiada henti di hari kepergianmu yang tiba-tiba, lagi-lagi, tanpa aba-aba.
Dan Januari, ialah bulan berwarna buram. Pasi seperti puisi-puisi. Seperti sajak-sajak.

yang bercerita tentang kepergian, dan kehilangan.

1 0 2  h a r i
Beragam rasa berjejal dalam dada
Senang, gembira, sesak, sedih, sendu, nyeri, kosong
Bulan berganti, kalender membalik tubuhnya sendiri

Entah bagaimana empat bulan mampu menjungkirbalikkan hidupku
Menghapus lembut benci-benci yang tlah lama rapi tersimpan
Menabung rasa sukur banyak-banyak dalam dada
Dan melapangkan sabar luas-luas

Entah bagaimana empat nama bulan itu begitu berarti
Sebab tiap helai lembar kalender ialah langkah kaki yang baru
Meninggalkan yang usang, berani melangkah maju tanpa ragu
Mengabaikan resah yang selama bertahun-tahun hinggap

Bagiku, Oktober memiliki peran yang penting
Sebab tanpanya, tidak akan ada November
Tidak akan ada Desember dan Januari
Sebab di waktu-waktu itulah aku belajar banyak hal mengenai sisi-sisi lain hidup

Oktober mengajariku bahagia yang sederhana
November mengajariku bagaimana hidup selalu punya kejutan
Desember mengajariku cara melepaskan dengan rela penuh keikhlasan
Dan Januari mengajariku cara bersyukur dan melapangkan sabar

1 0 2  H a r i
Ialah andil dari Tuhan untuk hidupku
yang kerap bertanya-tanya, mana keadilan, mana kebahagiaan
yang kerap mencari rasa syukur dan keikhlasan

1 0 2  H a ri
Sebenarnya, ini bukanlah sebuah puisi
Melainkan sebuah kisah bagaimana nama empat bulan itu memporak-porandakan hidupku
Bagaimana seratus dua hari mengubahku, menjadi siska yang baru.

Hai, siska!
Salam kenal, dari diriku yang baru.

PS : Ini bukan soal revolusi mental Jokowi, ini soal revolusi siska!

Depok, 30 Januari 2015

Iklan

Mencintaimu;

Selamat malam, kau yang sedang dikerudungi bahagia. Semoga aku tak mengganggu.
Malam ini, entah malam ke berapa aku merindukanmu terlalu banyak, lewat doa atau puisi yang tertulis di surat digital ini. Aku tak pernah sempat menghitung berapa banyak aksara yang melebur ketika bayanganmu hadir sesering napasku berembus. Aku pun enggan menganggapnya sebagai beban. Sebab, terluka karena merindumu ternyata patut dinikmati. Seperti yang sedang aku lakukan ini; menulisimu. Menulisi deru rindu yang menderas di dada ketika malam menggelap ataupun pagi merayap menuju langit. Ya, sepagi itu.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mataku enggan terpejam karena begitu banyak cairan kafein di lambungku. Ini bukan tentang kopi. Melainkan tentang ingatan tentangmu yang tak mau hilang dari benakku. Bayanganmu, kafein. Lihat, sekarang pukul berapa? 00:00
Seawal itukah aku mencintaimu? Ya. Tetapi tidak cukup lebih awal untuk bisa bersamamu.

Kenyataan dan harapan terkadang tidak membaur jadi satu-padu yang harmonis. Malah, terkadang mereka saling berpunggungan. Seperti nasib baik dan nasib buruk.
Seperti malam ini. Tak perlu aku menceritakan maksudnya, sebab kurasa kau sudah tahu maksudku.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mencintaimu, cukup hanya lewat barisan kata dan doa; sebab ketulusan bisa menjelma apa saja. Dan mencintaimu, juga bisa melalui cara apa saja.

Depok, 26 Januari 2015

[CERPEN] Sekali Lagi – Sheila On 7

https://soundcloud.com/reno-as-a-hippearce/sheila-on-7-sekali-lagi


Taman ini masih sama bentuknya, tata letak bangkunya, bahkan aromanya pun masih seperti dulu. Malam ini juga mirip seperti malam-malam kita yang lalu. Bertabur bintang. Indah. Kau pernah bilang, bintang-bintang itu ialah pikiran-pikiranku yang cemerlang, berkilauan, dan membuatmu terkagum. Kau ingat? Ah, kedengarannya aku begitu mengharapkanmu, padahal kan….memang iya. Tapi, apakah masih mungkin kau mengingatku sekarang? Setelah berjauh-jauh hari yang lalu keadaan tak sama lagi, dan kau kini sedang memiliki seseorang, apa masih sempat mengingatku? Ah, mana mungkin. Aku kan hanya serpihan debu saja di ingatanmu.

Bangku taman warna hijau pudar yang sisi pinggirnya berkarat kini menjadi sandaran dudukku. Tak ada siapa-siapa lagi yang duduk di sana kecuali aku. Dulu, kau duduk di sampingku. Membicarakan apa saja yang telah terjadi pada harimu bahkan sampai membicarakan hal yang sedang terjadi di sekitar kita. Apapun. Aku tidak mengingat kita memperbincangkan apa saja sih, terlalu banyak bahasan dan memori otakku tak mampu menampung sebanyak itu. Atau biasanya, taman ini hanya dipakai untuk kita bertemu sebentar lalu setelah itu pergi ke mana, entah nonton, entah ke toko buku, entah makan malam.

Aku ingat betul ketika menyuruhmu berdandan sebelum bertemu denganku. Bukannya aku tidak menerimamu apa adanya. Kau cantik meski wajahmu tak tersentuh make up, tetapi alangkah kau akan seribu kali lebih cantik bila berdandan, sedikit saja. Satu jam aku menunggu di taman ini, menunggumu berdandan. Dan aku benar. Kau seribu kali lebih cantik. Malam itu kau mengenakan dress selutut warna hitam berkilau, mirip langit malam. Rambutmu yang biasa diikat, tergerai lurus di belakang bahumu. Riasan tipis di wajahmu membuatmu nampak lebih segar dan tidak pucat seperti biasanya. Bibirmu kelihatan menggoda dengan gincu merah yang kaupoles tipis-tipis. Terbayar sudah waktuku untuk menunggumu. Kau benar-benar seribu kali lebih cantik.

Kau tersipu setelah kupuji demikian. Keesokannya lagi, setiap ingin bertemu denganku, kau selalu berdandan. Aku tetap setia menunggumu di bangku taman warna hijau pudar yang di pinggirnya terdapat karat-karat besi. Tidak peduli satu, dua, bahkan tiga jam aku menunggumu, tidak masalah.
Namun, setelah sekian lama kejadian itu terus berlangsung, perangaimu jadi berubah. Kau yang polos tanpa make up dan kau yang bergincu merah tipis menjadi dua pribadi yang berbeda padahal satu orang yang sama. Aku tidak mengerti.

Hanya tiga bulan kita menjalin kasih, tiba-tiba kau datang padaku menuntut perpisahan. Bukan main rasanya, kau tidak harus merasakannya, cukup aku katakan saja. Itu menyakitkan! Di saat cintaku padamu sedang mekar-mekarnya, kemudian kau gunting batang bunga itu dan kau buang ke tempat sampah. Kedengarannya kejam ya? Iya memang seperti itu lah adanya.

Aku mengiyakan permintaanmu. Perpisahan yang kau tuntut itu berhasil kupenuhi tanpa air mata. Kupikir saat itu, gampang saja aku melupakanmu nanti, toh kita hanya berjalan tiga bulan. Seumur jagung. Aku pasti akan melupakanmu dan cepat menemukan penggantimu.
Malam itu ialah malam terakhir kita bertemu. Setelah kita saling menukar kata pisah, hujan datang tipis-tipis seolah ikut bersedih dengan perpisahan ini. Kau pulang dengan air mata waktu itu, entah itu air mata sungguhan atau buaya, aku tidak tahu.

Kau tahu? Malam itu aku menunggumu dari pukul tujuh malam, lalu kau datang hampir pukul sembilan malam dengan wajah senyum-bersalah. Kulihat senyum itu berbeda, dan benar. Alasanmu meninggalkanku cukup terdengar masuk akal; Kita tidak bisa meneruskan ini, aku tidak tahu mengapa sebabnya, tapi rasanya hambar. Itu. Hambar katamu? Jadi, cinta itu hanya mekar sendirian di dadaku, dan sebaliknya di dadamu. Mungkin, cuaca buruk sedang melanda hatimu sehingga cinta tidak ikut mekar di sana. Atau ada cinta yang lain, entahlah. Setelah kau berkata begitu, aku mengerti. Kau menginginkan perpisahan. Bukannya aku tidak mau berjuang lagi, hanya saja percuma bukan? Menanam pohon misalnya saat musim kekeringan dan tidak ada hujan sama sekali? Tidak akan mekar, tidak akan tumbuh subur. Lalu kau pulang meninggalkanku dengan raut sedih lengkap dengan air mata pula. Aku masih duduk di bangku taman, tidak berniat pulang dalam keadaan kacau seperti itu.

Malam itu, aku duduk di taman sampai pukul dua belas. Merenungi saja sebelum memutuskan untuk ke toko tujuh-sebelas dan memesan beberapa kaleng bir.
Kupikir, mengapa aku sampai setolol itu? Baru kali ini aku putus cinta lalu setelahnya minum-minum. Biasanya, setelah putus cinta aku lebih memilih bermain gitar, nge-band dengan teman-temanku atau semacamnya. Tidak pernah berpikir untuk melupakan seorang perempuan dengan minum-minum bir sendirian. Yah, walaupun tidak sampai mabuk sih, tapi kupikir lucu saja bisa terlihat semenyedihkan itu aku kehilanganmu. Padahal, putus cinta bukan hal yang baru untukku. Bahkan, aku pernah putus dari mantan pacarku yang sudah menjalin kasih sampai tiga tahun lamanya, aku tidak mengapa. Tidak sampai menenggak belasan bir kaleng seperti malam itu.

Aku salah. Ternyata dugaanku kali ini salah. Aku tak mampu melupakanmu secepat kilat seperti aku melupakan perempuan-perempuan yang pernah singgah di hidupku. Aku tidak pernah menyangka sampai sejauh itu perasaanku padamu, sampai sedalam ini aku terluka olehmu. Padahal, kedekatan kita hanya sesaat. Seumur jagung. Entah mengapa. Sudah hampir satu tahun aku mendekam dengan perasaan seperti ini. Luntang-luntung memikirkanmu yang sudah melupakanku. Beberapa kawan pernah mengenalkanku dengan beberapa perempuan, tapi tak sama sepertimu. Bagiku, kau cuma satu. Terdengar gombal? Memang, tapi aku tidak sedang merayumu. Ini sungguhan.

Bagaimana kabarmu? Itu adalah pertanyaan pertama yang ingin kulontarkan padamu. Apakah kau bahagia setelah kita berpisah, atau sama sepertiku? Itu adalah pertanyaan yang kedua. Masih banyak lagi hal yang ingin kutanyakan padamu namun tak pernah sempat, dan kita tak pernah bertemu lagi semenjak hari itu.
Ah, aku harap kau di sini. Duduk di sampingku, di bangku taman warna hijau pudar yang pinggir-pinggirnya sudah berkarat dimakan usia. Membicarakan banyak hal lagi. Mungkin bila kau di sini, kita akan membahas isu-isu terhangat yang sedang terjadi di bumi kita seperti misalnya saja, kasus Charlie Hebdo. Aku ingin tahu, ingin mendengarmu bercerita tentang tanggapanmu terhadap kasus dua pemuda yang meneror kantor surat kabar kontroversial itu. Lalu mengenai hukuman mati pada narapidana pengedar narkoba. Aku juga ingin tahu apa pendapatmu mengenai Jokowi, presiden favoritmu itu yang mencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri dan perseteruan antara KPK vs POLRI yang sedang ramai. Lalu yang lebih parahnya lagi, tentang kasus penangkapan Bambang Widjojanto, wakil ketua KPK yang sebab-musababnya ditangkap masih mengambang tidak jelas dan terkesan dibuat-buat.

dasaaaaaa

ilustrasi : weheartit

Aku ingin tahu. Aku ingin mendengar argumenmu. Permintaan yang tidak muluk-muluk bukan? Tapi rasanya mustahil dikabulkan.

Tak pernah aku menyangka
Sejauh ini aku melangkah
Tak pernah aku menyangka
Sedalam ini aku terluka

Aku tak pernah menyangka bisa sejauh ini. Bisa sesakit ini.
Mungkin aku terlalu congkak, mengatakan bahwa melupakanmu adalah hal yang mudah dan tidak begitu sulit. Tapi nyatanya? Jauh api dari panggangan. Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan harapan dan kenyataan yang kupunya saat ini.

Tapi biarlah. Mungkin aku perlu waktu. Entah sampai berapa lama untuk melupakanmu. Melenyapkanmu dari ingatanku. Bila kemarin aku begitu merasa bahagia bersamamu, kali ini terpuruk sedih. Tidak apa. Bagian dari hidup. Bagian dari hukum alam bahwa hidup akan terus berputar. Bumi akan terus berputar pada rotasinya sampai ia menua dan tak mampu lagi berputar alias kiamat.

Jika hidup terus berputar
Biarlah berputar
Akan ada harapan
Sekali lagi
Seperti dulu

Aku percaya, pasti akan ada harapan lagi untuk kita kembali bertemu. Entah di mana, dan entah dengan keadaan seperti apa. Semoga.

So, aku masih duduk di bangku taman warna hijau pudar yang pinggirannya sudah dipenuhi karat. Di bawah langit malam yang bertaburan bintang. Sendirian. Seolah aku menunggu seseorang. Menunggumu.

-FIN-

Depok, 26 Januari 2015

[CERPEN] Tanyaku – Sheila On 7


Seolah tak tahu
Hanya engkau yang kutuju
Akan kunantikan hatimu mengiyakanku
Ku mau kau tahu tiap tetes tatapmu
Iringi tanyaku, kapan kau jadi milikku?

Pagi ini adalah pagi yang sama dengan Minggu-minggu pagi kemarin. Suara derap kaki-kaki orang berlarian mengenakan running shoes warna-warni mengelilingi bundaran yang merupakan track berjogging.
Delima masih di sampingku, duduk di pinggir track sambil mengusap peluhnya dengan saputangan biru yang dibawanya.

“Dapet berapa putaran?” tanyaku basa-basi, tentu saja. Selama dia berlari di depanku, aku selalu memerhatikannya. Itulah alasan mengapa aku selalu berlari di belakangnya. Selain untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja, aku bisa lebih lama memperhatikan dia. Di putaran ke tujuh, aku membalap larinya dan istirahat di pinggir track. Aku sudah tahu dia pasti akan berhenti di putaran ke tujuh. Dia selalu begitu. Aku tersenyum ketika dia menghampiriku dengan napas terengah lalu duduk di sampingku, menenggak botol air mineral, lalu mengusap peluhnya. As always. Pagi seperti ini sudah sangat sering kami lalui berdua. Jumlahnya bisa tak terhitung.

“Tujuh. As always, you know me so well, right?” jawabnya sambil tertawa singkat. Aku mengikutinya, tertawa. Orang-orang masih berlarian di depanku, tapi suara degup jantungku seolah lebih ingar terdengar daripada suara-suara langkah running shoes mereka.

Pagi ini memang seperti pagi yang biasanya. Seperti minggu-minggu lalu. Delima masih mengenakan jaket lari yang sama; jaket adidas warna merah muda bergaris warna neon, celana jogging biru donker selutut, dan running shoes-nya yang berwarna senada dengan jaket lari. Kemudian rambutnya yang hitam, lurus, dan panjang itu selalu terikat rapi ke belakang seperti ekor kuda. Aku selalu menarik buntut kuda itu bila tingkahnya membuatku gemas, atau kadang malah tanpa alasan apa-apa. Senang saja bisa melihat wajahnya merengut ke arahku dan memarahiku seperti seorang kakak pada adiknya yang nakal. Bila sudah seperti itu, aku hanya bisa tertawa menikmatinya.

Namun hari ini berbeda. Sedikit berbeda. Semalam, aku benar-benar membulatkan tekadku untuk menyatakan sesuatu untuknya. Bisa ditebak, pernyataan seperti apa yang ingin kukatakan. Berminggu-minggu lalu aku melatih diri untuk mempersiapkan ini. Bukan main, seperti mau menghadapi pertandingan lari saja harus latihan berminggu-minggu. Malah, berbulan-bulan yang lalu aku ingin menyatakan ini, sayangnya keberanianku kerap ciut saat berhadapan dengannya. Entahlah hari ini akan bagaimana, kembali ciut atau aku bisa menebas rasa takutku sendiri? Berada di dekatnya seperti ini saja sudah membuatku berdegup gugup.

“Del,” aku memanggilnya. Dia sedang asik memainkan ponselnya.

“Hmm..?” sahutnya asal tanpa menoleh.

“Del,” panggilku lagi.

“Nyaut, nyaut, Val. Apaan?” Delima masih belum mau menoleh.

“Del! Buset dah asik banget sampe budek..”

“Ye elah Val, ribet bener. Apaan sih?” kali ini dia malah menatapku. Aku malah menelan ludah. Matanya itu lho, menyiutkan nyali.

“Itu….ngggg....” gumamku jadi tak jelas. Ah! Jangan sampai ciut lagi dong, Val!

Delima masih menatapku bulat-bulat seolah aku baso yang kuahnya sudah merah dilumuri sambal kesukaannya.

“Ada sesuatu yang pengen gue omongin.” jawabku sok serius. Delima malah tertawa.

“Ya, omongin aja, Val. Masih kaku aja deh kayak keset welcome.” Delima terbahak.

Nggg...nggak bisa di sini, Del.” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

“Ya elah, Val. Kok lo jadi ribet gini pagi-pagi. Salah makan apa gimana?” tanyanya dengan raut yang menyebalkan. Kalau saja perempuan ini bukan Delima, pasti sudah kutinggal sendirian saking gondoknya.

“Hmm…jalan-jalan deh yuk! Cari spot yang sepi, yang enak.”

“Nyari tempat sepi? Lo mau merkosa gue, Val? Gila lo parah, parah!” selorohnya. Gantian, kini aku yang memandanginya dengan tatapan gondok setengah mati.

Don’t look at me like that. Gue semakin yakin lo mau merkosa gue.” katanya sambil tertawa.

“Heh! Mulut kalo ngomong, ye! Siapa yang meu merkosa lo? Buset, dikasih gratis aja gue ogah.” balasku sambil berlalu pergi. Kalau tak begini, Delima akan terus berseloroh dan membuatku kesal.

Begitulah cara aku dan Delima selama ini berkawan. Lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi aku dan Delima untuk menjalin komunikasi selancar-lancarnya tanpa saringan, tanpa kenal yang namanya gengsi. Seperti barusan. Caranya bercanda, berseloroh, mengumpat, marah, tertawanya yang seringkali ngakak, ngupil, kentut, sampai segala keluhannya sehari-hari pun aku hapal tanpa menghapalnya. Semuanya sudah biasa, di luar kepala. Kecuali isi hatinya. Tak pernah berani aku terka.

“Val, Noval! Tungguin gue! Ih diamah ngambek..” setengah berlari, Delima mengejarku. Benar kan, harus dengan cara seperti ini untuk menarik Delima.

Akhirnya, aku dan Delima sampai ke sebuah tempat di tepi danau buatan, agak jauh bila berjalan kaki dari track jogging. Delima pastinya mengeluh sepanjang jalan sambil rewel bertanya-tanya mau ke mana. Di sini, tidak ada yang namanya bangku taman atau semacamnya, sepi, hampir tidak ada orang yang lalu lalang lewat. Mungkin cuma satu-dua orang itu juga dalam durasi yang lama. Satu-satunya tempat untuk merebahkan diri adalah di tempat pijakan kaki itu sendiri. Dialasi rumput hijau yang masih basah oleh embun sisa semalam.

“Masih jauh lagi nggak, Val? Nggak sekalian lo ajak gue pulang jalan kaki.” gerutunya.

“Udah sampe. Buset berisik banget dari tadi.”

“Oh. Udah. Terus, di sini mau ngapain? Mana sepi banget, Val. Lo beneran kan nggak pengen merkosa gue?” Delima sok bergidik.

“Nggak. Gue mau nyeburin lo tuh ke danau. Biar kelelep nggak balik-balik lagi. Males gue.” aku kesel sendiri jadinya.

“Dih, gitu. Ntar gue nggak ada aja, kangen lo sampe ke ubun-ubun.”

“Oh iya dong pasti. Ah, gue lelepin juga lo lama-lama.” aku duduk di atas rumput berembun itu. Sedang Delima masih berdiri, enggan membasahi celana joggingnya.

“Yaelah jangan, Val. Eh, duduk di sini nih? Basah dong celana gue..” Kan.

“Iya duduk. Pilih duduk apa gue ceburin ke danau?” Delima menyoroti sekeliling tempat itu dan mengamati rumput-rumputnya. Kemudian ia berjongkok, masih enggan duduk di atas rumput. Delima memang seperti itu. Sudah tabiatnya tidak akrab dengan kotor.

“Basah, Val. Celana gue baru dicuci kan..”

“Ntar cuci lagi gampang. Enak deh duduk sini bikin pantat lo adem, cobain deh.” aku menarik tangannya agar duduk di sampingku.

“Iya lah, Val. Elo dudukin embun bukan kompor!” Delima akhirnya menyerah, ia duduk juga.

“Nah, udah lo pengen ngomong apaan dah? Cepetan, sebelum embun-embun ini meresap ke pori-pori kulit gue.” tembaknya jitu.

Degup itu masih ada, meski cair oleh suasana yang kami bangun sendiri. Justru suasana santai seperti ini membuatku berpikir dua kali untuk bagaimana memutar keadaan menjadi lebih serius sedikit. Sebab, pernyataan ini bukan pernyataan main-main. Tidak ada kata bercanda dalam urusan ini.

Berikutnya, mungkin hanya berisi dialog saja.

“Iya..ya adem juga pantat gue jadinya…” gumam Delima. Sontak kata-katanya membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia menoleh dengan wajahnya yang merengut.

“Heh, heh siapa suruh ketawa? Ngomong cepetan!” Delima melotot. Aku menelan ludah.

“Iye…iya nggak sabaran banget..”

Jeda. Aku terdiam. Delima juga. Dia sibuk memandangi danau yang sedang merefleksikan matahari pagi di tubuhnya. Gradasi warna antara warna danau bertemu sinar kuning matahari membuat matanya terpukau melihat pemandangan itu.
Aku berdeham. Delima langsung menoleh tanpa kupinta terlebih dahulu.

“Del, ada sesuatu….yang….” aku masih gugup melanjutkan kalimatku. Delima geming. Tatap matanya menyorotiku dengan beragam pertanyaan yang tak terlontarkan.

“…perlu gue kasih tau ke elo…tapi ini serius banget gue..” aku menelan ludah. Delima masih menatapku dengan tatapan yang sama. Penuh tanya.

“Selama ini, gue sayang sama lo, Del.” sekali lagi, aku menelan ludah. Pernyataan barusan menciptakan raut wajah kaget di wajah Delima hanya sebentar. Sebelum dia tertawa singkat menanggapi pernyataanku. Hasil latihanku lenyap sudah, aku sampai lupa skenario manis rancanganku sendiri untuk mengungkapkannya. Runtuh sudah. Biar saja berjalan apa adanya, natural tanpa skenario.

“Lo ngajak gue jauh-jauh ke sini buat ngomong gitu doang? Yaelah, Val, kayak baru temenan satu-dua bulan aja deh. Jelas lah lo sayang gue, gue sayang elo. Kalo nggak gitu mana mungkin kita masih temenan sampe lama banget gini?”

“Bu…bukan gitu, Del. Aduh…” aku menggaruk kepalaku lagi untuk kesekian kalinya pagi ini tanpa gatal sekalipun.

“Gue…cinta, Del sama lo. Rasa sayang gue, kebersamaan kita, membuat gue kayak semakin terperosok jauh. Gue….udah cinta sama lo jauh sebelum hari ini.” Nah, lega sudah. Akhirnya terucapkan sebagian teks skenario buatanku beberapa minggu lalu. Degup itu semakin keras, malah terasa seperti ingin melompat dan menyeburkan diri ke danau.
Delima terperangah sepersekian detik sebelum menghamburkan tawanya keras-keras. Lama.

“Lo…lo lagi latihan nembak cewek, Val?” ujarnya patah-patah sambil tertawa sampai air matanya berlinang. Entah di mana bagian lucunya, aku tidak tahu.

Kuraih tangannya. Sentuhan yang baru kurasakan bisa sehangat ini, bisa semendebarkan ini.

“Gue serius, Del.” Delima menatapku. Seperti mencari sesuatu, mungkin kesungguhan yang ia cari. Lalu ia geming, tak berkata apa-apa dan membuang muka. Kulihat, pipinya memerah.

“Bahkan, gue udah nyiapin ini, seandainya gue bener-bener nggak bisa ngomong langsung ke elo.” aku mengambil sesuatu dari dalam tasku. i-Pod touch gen 5 lengkap dengan earphone-nya. Aku memasangkan sebelah ke telinganya, sebelahnya lagi di telingaku.

“Dengerin, deh. Gue cover lagu ini buat lo…” Aku memutarkan hasil rekamanku dua malam yang lalu dengan gitar akustik yang sering menemaniku di atas panggung.

Tanyaku – Sheila On 7

Tak pernah ku merasa hawa sehangat ini
Di dalam hidupku
Kau beri kau bagi
Semua marah dan candamu
Kuharap hanya untukku

Tak pernah ku dihinggapi bahagia
Seperti ini, Jatuh hati
Tumbuhkan nyaliku
Tuk nyanyikan kepadamu,
Aku cinta

Sesaat tersenyum dan kau pun mulai terdiam
Dan berpaling
Biaskan laguku

Seolah tak tahu
Hanya engkau yang kutuju
Akan kunantikan hatimu mengiyakanku
Ku mau kau tahu tiap tetes tatapmu
Iringi tanyaku, kapan kau jadi milikku?

“Val, lo….nggak lagi nyepik gue kan?” Delima masih meragu.

“Gue bener-bener serius, Del.” aku menatap matanya seolah meyakinkannya. Wajah Delima merah tomat.

Diam. Tak ada suara. Delima memalingkan wajahnya. Sibuk dengan pikirannya.

“Val, kita temenan udah lama banget. Gue tau perasaan kayak gini pasti ada di antara kita. Nggak munafik lah, di dunia ini, temenan lawan jenis tanpa perasaan itu bullshit. Satu atau dua di antaranya pasti nyimpen rasa. Tapi,…” Delima menoleh ke arahku yang sudah gugup tak tertahankan akibat kata-katanya yang pelan-pelan mematikan nyali dan percaya diri.

“Gue takut, Val.” Delima menggenggam tanganku. Erat.

“Apa yang lo takutin, Del?”

“Gue takut kalo seandainya kita saling memiliki, kita pacaran, kita nggak bisa konyol-konyolan, nggak bisa songong-songongan, nggak bisa kayak gini lagi, Val.” katanya sedih. Itu memang salah satu resikonya.

“Kita kan udah laluin ini selama lima tahun, harusnya saling memiliki malah saling menguatkan hubungan kita..”

“Jujur….gue juga….punya….perasaan yang sama kayak lo.” akunya. Aku benar-benar terkejut. Wow, jadi selama ini kita saling memendam? Macam di film-film saja rupanya.

“Gue malah sering kangen sama suara lo ngunyah pop corn kalo lagi nggak nonton sama lo. Gue juga….cemburu waktu lo deket sama Nimas..” akunya lagi. Nimas itu temanku beberapa bulan yang lalu, sempat dekat hanya karena projek rekaman saja. Lucu juga mendengar pengakuan Delima kalau ia sampai cemburu pada Nimas. Lucunya lagi, ternyata dia merindukan suara pop corn yang kukunyah ketika menonton film. Suara yang sering ia maki-maki karena katanya mengganggu konsentrasinya menonton.

“Lo cemburu sama Nimas?” aku menertawakannya sampai wajahnya tertekuk bagai kertas yang dilipat, aku menghentikannya.

“Abisnya lo ngomongin Nimas mulu. Dipikir gue nggak bete apa?” Delima manyun. Aku semakin keras tertawa sebelum perutku dicubit habis-habisan olehnya.

So, what’s we’re waiting for? Kita udah sama-sama nunggu, kita punya perasaan yang sama.. Apa lagi, Del?”

“Ini nggak semudah yang lo pikir, Val.”

“Apanya yang nggak mudah, coba ceritain ke gue.”

“Bayangin, orang pacaran itu harus pake aku-kamuan, sedangkan kita udah belangsak banget pake elo-gue. Nggak bisa dah pake aku-kamu. Terus, orang pacaran punya panggilan sayang yang romantis macem abi-umi, ayah-bunda. Lah, kita? Panggilan aja jelek bener, Kuya ama curut.” aku tertawa mendengarnya bercerita.

“Jadi karena itu? Kamu mau aku panggil bunda? honey? bunny? sweetie?”

“Val, sumpah ye, gue geli banget!” Delima mendorongku ke samping kanan, membuat dudukku oleng. Aku tertawa.

“Nggak semudah itu, Val. Gue takut…kalo kita pacaran, kita malah jadi…garing. Nggak kayak gini lagi.”

“Terus juga, gimana kalo kita putus? Keadaan nggak mungkin pernah sama seperti semula, Val.”

“Kita pacaran bukan menginginkan untuk putus di tengah jalan kan?” tanyaku heran.

“Kita kan udah sama-sama dewasa, Del.”

“Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk, Val. Gue atau elo nggak tau kan siapa jodoh kita nantinya? Rencana kita nggak selalu sama dengan catatan rencana dari Tuhan.” ceramahnya. Perempuan satu ini memang terkadang konyol, resek, menyebalkan, tapi di satu sisi dia mempunyai jiwa bijak yang tertanam di dalamnya. Setiap perempuan sepertinya punya jiwa bijak semacam itu. Dalam hati, aku juga mengiyakan celotehannya.

“Jadi, gimana Del?” Delima menoleh ke arahku. Tersenyum.

“Gue masih mau kita yang kayak begini, Val.” katanya. Aku tidak sedih setelah mendengar jawabannya. Setidaknya aku lega telah mengatakan hal yang ganjil selama bertahun-tahun ini padanya, dan terjawab sudah pertanyaan di kepala. Ternyata, Delima juga sama menginginkanku.

“Oke. Akan kunantikan, hatimu mengiyakanku..” aku menyanyikan sepotong lirik lagu itu. Delima tertawa.

Lalu kita saling terdiam. Bernapas lega karena setelah ini tidak ada lagi yang disembunyikan.

“Kan diem-dieman gini. Jadi garing kan. Elo sih, Val!”

“Yeee curut siapa suruh nolak gue!”

“OPAAALLL!!!” Kemudian Delima mencubiti perutku sambil tertawa-tawa.

563300_573625525995079_309645005_n

Mungkin memang lebih baik begini. Membiarkannya alami, mengalir seperti air. Ikuti arusnya. Terserah arus membawa kita  ke mana; menuju satu laut yang sama atau ke dua laut yang berbeda, saling berpencar arah. Entahlah. Masih rahasia sang laju sungai. Intinya, nikmati saja apa yang ada hari ini. Toh, kebahagiaan konyol-konyolan seperti ini belum tentu bisa dinikmati lagi beberapa tahun ke depan. Waktu bisa melakukan apa saja kan? Memudarkan dan meniadakan itu bad skills-nya waktu kan? Seperti kata Delima, aku juga masih mau kita yang seperti ini. Dan aku akan menantinya seperti sepenggal lirik lagu itu; sampai hatinya mengiyakanku. Sampai laju sungai mengalirkan kita ke satu laut yang sama.

-fin-

Depok, 25 Januari 2015

Namanya, Rindu

Merindumu tidak mengenal waktu. Bahkan, asal kau tahu saja, bahwa rinduku buta angka. Ia tidak tahu pukul berapa harus merindumu terlalu banyak, dan kapan harus menenggelamkan dirinya.
Aku sangat mengenalnya. Namanya, rindu. Ia begitu mencintaimu.
Aku hapal jadwal-jadwalnya; dimulai pukul dua dini hari, di mana orang-orang terlelap dalam mimpinya, atau saat beberapa sejoli sedang membagi cinta yang lagi hangat-hangatnya. Dia malah melakukan hal sebaliknya. Terbangun dari mimpi tentangmu, dengan napas yang memburu, kemudian merindumu. Ya, sepagi itu rinduku terbangun dari tidurnya. Kejadian itu terus berulang walaupun jam terbangnya kadang berubah-ubah, kadang pukul dua, kadang pukul satu, atau pukul tiga. Namun kesimpulan yang kutangkap ialah, rindu selalu bangun lebih pagi daripada kesadaranku.

Pukul lima atau enam subuh, rindu kembali terjaga. Satu-satunya teman ketika mataku baru saja terbuka, ketika mimpi perlahan melenyap dari ingatan. Aku terbangun dari kasurku, dari bantal yang berisi mimpi-mimpi buruk atau indah bersamamu. Menunaikan kewajiban. Dalam sujud dan simpuhku, aku bertemu lagi dengan rindu itu. Rindu yang bangun pukul dua dini hari. Rindu yang pertama menemaniku ketika kesadaranku baru mulai terkumpul. Dalam sujud, dan tengadah tangan yang berdoa, rindu memuisikanmu terlalu dalam. Kerap, sepasang matanya basah sembari menyebut namamu, lalu perlahan leleh oleh air mata yang jatuh ke wajah sajadah. Ya, sepagi itu ia mendoakanmu.

Pukul tujuh pagi, di mana aroma kopi masih kuat tercium di dapurku, rindu hadir lagi sebagai uap kopi yang mengepul di atas cangkirnya. Aromanya seolah-olah bagai nasabah yang sedang menabung receh-receh ingatan tentangmu. Mungkin mudahnya, seperti fragmen-fragmen yang menyusun utuh bayanganmu. Satu sesap, dua sesap, rindu kembali muncul. Ia mungkin teringat bagaimana aroma kopi lebih pekat bila dihirup oleh dua hidung yang berbeda. Bagaimana dua cangkir kopi terlihat lebih candu dari pada secangkir di atas meja. Dan bagaimana paduan rasa pahit-manis lebih mantap jika dinikmati berdua. Namun sayang, rindu lebih memilih menelan kecewa bersama pahit kopi itu dari pada harus mendepakmu dari ingatannya.

Pukul delapan, sampai sepuluh, rindu makin menggila. Dengan lagu-lagu yang ia putar lewat mp3 player miliknya, dia merindumu lebih banyak lagi. Lagu-lagu berisi kenangan yang tak habis-habis dia lamunkan. Seringkali kutatap matanya yang sayu sedang memutar bayanganmu di sana, dengan sisa-sisa ingatan yang makin hari makin kuat namun tipis seiring waktu melenyapkannya satu-satu. Tak jarang rindu bernyanyi terlalu keras, sampai tetangga-tetangganya heran dengan kelakuannya yang aneh di setiap pagi namun tak berani berkomentar di depannya. Suaranya yang cempreng dan tak jarang fals itu terdengar seribu kali memilukan di telingaku yang mendengarnya.

Pukul sebelas, adalah jam-jam di mana rasanya rindu ingin meledakkan tubuhnya sendiri ke udara. Saat-saat di mana mendung menggelayut di langit Januari, dan siap menumpahkan air kencingnya ke bumi. Maka, diseduhlah kopi kedua, menghidupkan laptop dan semangat yang ia punya hari itu. Rindu memiliki blog. Jadi, setiap pukul sebelas, dia selalu duduk di meja kerjanya bersama laptop dan secangkir kopi–biasanya kopi itu berjenis cappuccino–lalu menuliskan dirinya sendiri lewat papan digital yang lagi dirabanya, ditekan-tekannya, dan disetubuhinya dengan kata-kata puitis tentang dirinya dan kau. Tak peduli suara hujan yang mengganggu di luar sana. Nampaknya, suara langit yang sedang kencing itu lebih  syahdu di telinganya dan mampu membuat dirinya meledak, berhamburan, dan semrawut sehingga yang ditulisnya bisa mencapai lima sampai tujuh paragraf tentangmu. Atau dua sampai lima puisi untukmu. Ya, segila itu rindu padamu.

Kegiatan yang terakhir bisa dilakukannya hingga bertemu lagi dengan pukul angka sebelas. Sebelas malam. Tentu rinduku tidak tahu. Rinduku tidak mengenal waktu, seperti kataku di paragraf pertama. Rinduku memang buta angka, sehingga tidak peduli seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk merindumu. Terdengar bodoh? Ya, memang terkadang bodoh dan tulus itu setipis urat nadi dan kematian.

Jadwal terakhir rindu ialah tidur. Semua orang perlu tidur, kan? Begitu juga rinduku. Rinduku bukan Tuhan atau kota Jakarta yang tak pernah terlelap. Rinduku agaknya seperti manusia biasa. Sebelum tidur, ia akan terus bekerja. Mencari-cari wujudmu di ingatanku, mencoba menangkapnya lalu mengurungnya agar kau tidak bisa terus berlarian di kepalaku. Ia terus berlari sampai mendapatkanmu, sampai ia lelah sendiri akhirnya tertidur. Karena terus gagal menangkapmu dan mengurungmu, alhasil ia selalu terbangun pukul dua dini hari. Terus berulang setiap hari. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, Minggu.

Terkadang ia lelah bertanya sendiri, sampai kapan ia terus ada menemani hari-hariku. Mungkin ia bosan dengan jadwal sehari-harinya. Atau mungkin ia terlalu lelah mengejarmu yang tak pernah berhasil ditangkap dan dipenjarakan dalam ruang bernama masa lalu. Namun yang kutahu pasti, rindu itu takkan pernah lenyap sekalipun kita bertemu satu-dua tatap mata saja. Hadirnya akan selalu ada seiring kakimu melangkah menjauh dari tempat di mana aku berpijak hari ini. Menjauh sampai entah akan kembali atau tidak. Menjauh sampai tak kenal waktu.

Tapi, jangan khawatir. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Sebab rinduku sudah cukup setia menemani sepiku akibat kau yang pergi.
Pergilah sepanjang jarak ingin menarikmu dari hidupku. Aku cukup mampu meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini takkan sulit bagiku. Dan aku akan meyakinkanmu, bahwa tak apa bila kau ingin menyeret ragamu jauh-jauh dari batang hidungku. Sebab itu takkan pernah mengurangi jumlah cinta rindu untukmu. Rindu akan selalu mengingatmu; baik pukul dini hari atau di saat malam tergelap sekali pun. Hanya itu yang tersisa darimu di hidupku, selain kenangan tentu saja.

Sekali lagi aku ingin meyakinkanmu; Jangan takut pada jarak, sebab jarak tak sekuat doa. Sekali pun jarak merenggutmu, doa senantiasa mendekatkan batin kita. Doa selalu siap sebagai sepasang tangan untuk saling merengkuh dan menguatkan. Walau tanpa raga. Tanpa hangat napas. Tanpa suara.

“pergilah sejauh ombak menyeretmu sampai ujung samudera, aku pasti selalu menantimu selayaknya sebuah dermaga.”

Semoga terus sehat dan bahagia.

Dari aku, dan Rindu.

Depok, 24 Januari 2015

Air Mata Januari

Januari masih menggantung di udara
Kesedihan kerapkali menjadikan langitnya abu
Beberapa pasang sepatu memaki air matanya
Hujan Bulan Januari yang katanya candu

Dua tatap mata kadangkala redup menatap langit
Betapa hujan serupa petaka pereguk kebahagiaan
Beberapa lainnya menjadikannya bait-bait
do’a supaya langit Januari bisa menyingkap awan

Hujan Bulan Januari, katanya candu
Bagi setiap hati yang kehilangan pemandu
Betapa kesedihan dinikmati bagai tetes madu
Serupa pemanis gulali dalam liang ladang tebu

Januari masih beraroma sama
Kesedihan dan air mata dalam satu napas
Desember pun punya aroma sama
Kesedihan dan air mata dalam satu lapas

Di luar kamarku ini, sayang
Hujan menampar-nampar jendela riang
Seolah bayangmu hadir sebagai kenangan yang lamat-lamat
tergerus waktu yang tenggat, dan kau masih kucintai sangat

Januari masih menggantung di udara
Kebahagiaan tak dapat lagi membirukan langit yang abu
Jadi biarkan hujan berdansa di luar sana
Sebagai pengingat bahwa kita pernah satu

Air mata Januari
Biar ia menyimpan kenang kita sendiri-sendiri

Depok, 21 Januari 2015
Di luar hujan, aku kuyup oleh rinduku sendiri.