Kisah Para Pengikut

Alkisah di suatu peradaban yang modern, gedung-gedung perak, jalanan tol berlapis emas satu karat, rumah-rumah baja, gubuk-gubuk besi, dan pohon-pohon plastik, hiduplah para nabi, dengan garis miring, beserta pengikutnya masing-masing.

Peradaban ini bukanlah peradaban zaman nabi yang dikisahkan kitab suci agama mana pun. Ini adalah sebuah peradaban baru yang siapa saja bisa menjadi nabi dan mempunyai ribuan pengikut. Pengikut ini lah yang nanti jadi pohon cerita di kisah ini.

Pengikut, sebagaimana kata dasarnya, ikut, yang artinya gemar mengikuti yang diaikuti. Para pengikut sebagaimana laiknya hamba yang setia. Mereka perpaduan antara hamba yang setia dan juga si dungu yang lahir tanpa karakter. Mereka lahir begitu saja dan diciptakan untuk berjalan di belakang ‘nabi garis miring’, dan tidak ada inisiatif berjalan di depan atau menjadi ‘nabi garis miring’ yang baru.

Mereka sebenarnya hamba setia. Andai saja tidak tolol, mereka akan mendapatkan ‘surga garis miring’ pula atau bahkan menjadi ‘nabi garis miring’ baru. Pada kisah ini, kawan-kawan semua, ahli cerita ini akan menceritakan kisah kematian para pengikut. Hamba-hamba setia sekaligus orang-orang tolol.

Berikut nama-namanya. Nama-nama ini mungkin pernah anda sekalian baca di koran-koran besar di halaman-halaman terakhir. Atau juga di televise yang memberitakan hal-hal yang kurang penting. Atau di radio yang orang jarang mendengarnya. Atau di kisah ini. Ahli cerita ini, berinisiatif membuatkan sebuah memoriam agar mereka, biarpun hanya pengikut, bisa hidup abadi laiknya si ahli cerita yang namanya sampai mati pun tidak akan pernah dilupakan orang.

Dimulai dari kisah seorang perempuan bernama Archassy Ruvina Argaroba, ya, nama manusia manusia modern ini memang agak nyentrik dan panjang. Dia cukup dipanggil Has. Dia seorang pengikut alias hamba setia dari Venddyat Jazqualine Febrigarda. Dia cukup dipanggil Ven. Ven seorang ‘nabi garis miring’ perempuan yang mempunyai duaribu pengikut. Dia gemar berbelanja barang-barang nyentrik antik dan mahal untuk dipamerkan di akun pribadinya dan membuat hamba-hamba setianya keblinger untuk mengikutinya. Tetapi Has yang bernasib paling sial, atau mungkin mujur? Has mati. Di usia yang sangat muda, 20 tahun, dengan cara konyol, kelaparan.

Mati kelaparan bukan suatu yang patut ditertawakan dan konyol. Tapi itu patut ditertawakan dan menjadi konyol ketika Has lebih memilih membeli anting berlian seperti Ven dari seluruh uang gajinya bulan itu. Dan, Has, lupa tidak menyisakannya untuk makan, minum, bayar sewa kamar, dan ongkos bekerja. Bagaimana pun, Has seorang pegawai di sebuah restoran, sebagai tukang cuci piring, dan membersihkan meja. Gajinya tidak seberapa, hanya cukup makan dan bayar sewa. Untungnya kamar sewa Has dekat dengan tempat kerjanya, biasanya kalau tidak ada uang naik bus, dia bisa menyewa sepeda. Tetapi naas, Has kali itu kalap, dan dia tidak makan selama seminggu. Lalu jatuh sakit dan mati kesepian di kamar sewanya. Ven tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu.

Setelah kematian Has April lalu, disusul dengan Thomas Librandate Aleganza, dipanggil Tom, yang mati pada Juni. Tom adalah seorang pengikut dari seorang provokator bernama Ragaza Arzendra Irgha. Tom seorang mahasiswa yang tidak kritis. Sepanjang hidupnya di kampus, Tom hanya menopang dagu dan melihat-lihat dosen berganti-gantian memasuki kelas-menulis di papan tulis-bicara blablabla-keluar ruangan, dan Tom segera keluar dari kelas dengan tatapan muram dan kosong dan mengantuk.

Suatu hari, Ragaza Arzendra Irgha, menghina presiden, ulama, dan guru. Sebagai hamba setia, orang tolol, dan mahasiswa tidak kritis, Tom menyetujui ucapan Ragaza Arzendra Irgha dan ikut mengkompori kata-kata Ragaza Arzendra Irgha dan menambah-nambahi kata-kata cacian dan hinaan kasar kepada presiden, ulama, dan guru. Aparat keamanan langsung bertindak dan menangkap Tom. Sialnya, di tahanan, Tom satu sel dengan seorang fanatik presiden dan ulama-ulama, dan Tom dihajar habis-habisan hingga giginya tanggal tiga, hidungnya berdarah, bibirnya jontor, pelipisnya robek, dan kakinya patah. Darah mengucur deras dari kepala Tom hingga ia mati di sel. Dan Ragaza Arzendra Irgha tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu. Toh, Ragaza Arzendra Irgha juga rupanya ditangkap dan seminggu kemudian bebas setelah menulis permintaan maaf.

Peristiwa mengejutkan juga datang dari seorang perempuan (lagi) bernama Sadlinda Hereafro Daravatvrostki, dipanggil Sad. Seorang pengikut dari Hanniana Urichiru Uragama, dipanggil Uri. Sebenarnya Sad tidak menyukai gaya jepang Uri yang begitu modern dan kekomik-komikan. Tetapi sayangnya, Sad jatuh cinta kepada laki-laki yang sangat menyukai Uri. Laki-laki ini bernama Zabriandanath Karuichima Arichavotski, dipanggil Zab. Zab ini juga seorang hamba setia Uri, tetapi Zab bukan hanya hamba, tetapi seorang pecinta.

Dilansir dari New York Times, gadis bernama Sad ini berupaya untuk mengesankan Zab dengan menjadi Uri. Sad membeli semua perlengkapan yang dipakai Uri mengomikan-diri. Ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) juga ditemui satu setel kostum sailor moon di lemari Sad. Belakangan diketahui bahwa Uri pernah mengenakan kostum itu di pesta Halloween tahun lalu. Tetapi naas bagi Sad. Zab tidak pernah melihat cinta Sad. Sad ditolak saat mengenakan kostum Uri; seragam jepang yang ada pita merah besar, wig rambut kepang warna pink, topi pelayan putih yang dihiasi motif jangkar, dan kacamata bulat oversize. Lalu  Zab dengan teganya bilang, “kau tidak bisa menjadi Uri, Sad. Kau menggelikan dengan kostum itu,” katanya. Kata terakhir yang Zab ucapkan sebelum Sad bunuh diri di kamar apartemennya. Sad loncat dari lantai 14, dan mati begitu saja di atas mobil tamu yang hendak menuju basement. Dan Uri tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu perihal Sad atau Zab.

Masih banyak kasus semacam itu sepanjang tahun ini. Data statistik mencoba membeberkan datanya ke publik semalam. Tahun ini ada 25 kejadian serupa. Mereka itu orang-orang seperti Has, Tom, dan Sad. Ahli kisah tentu akan meneruskan memoriam ini. Tapi hari ini cukup Has, Tom, dan Sad saja dulu. Di samping karena kematian mereka begitu unik dan kontroversial, mereka juga lah yang diliput besar-besaran oleh beberapa media walaupun ujungnya ditaruh di halaman-halaman terakhir.

Namun zaman akan terus berganti-ganti-dan-ganti. Nabi garis miring baru pun banyak bermunculan dengan ribuan pengikut yang kemudian menyusul Has, Tom, dan Sad. Ahli cerita mulai tua dan sakit-sakitan. Pengikut ahli cerita pun banyak. Dan si ahli cerita tidak tahu bahwa minggu lalu seorang pengikutnya bernama Gregori Alexandrovich Vagara, tewas ditembak seorang tak dikenal di depan perpustakaan ketika Gre membawa buku karangan si ahli cerita. Seorang tak dikenal itu kemudian mengaku kalau dia membenci ahli cerita karena dia mengarang yang bukan-bukan tentang pengikut Ven, Ragaza, dan Uri. Orang itu mengaku kesal dibilang hanya seorang hamba setia dan orang tolol. Orang itu tidak terima dan langsung spontan menembak Gre yang membawa buku dengan sampul si ahli cerita itu di tangannya. Dan si ahli cerita pun tidak pernah tahu tentang Gregori Alexandrovich Vagara dan tidak pernah mau tahu. Si ahli cerita keburu lewat.

Tamat


Jakarta, 11 November 2016