Sosok Gracia Mounray dari Oxford Town

Kisah ini tidak akan menceritakan tentang perang. Tidak juga tentang perjuangan. Tidak juga tentang cinta dan hal-hal yang seharusnya dibiarkan saja berlalu. Kisah ini tentang perempuan. Kisah ini tentang seorang perempuan. Seorang penyendiri yang ambisius. Perempuan penyendiri yang ambisius. Dan tidak membutuhkan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Baik, kita mulai kisah ini dari kata ‘perempuan’.

Perempuan itu bernama Gracia Mounray. Tinggal di Oxford Town dengan seorang ibu yang sakit-sakitan, kakak perempuan yang egois, dan adik laki-laki yang gemar menghabiskan waktu dan uangnya dengan berjudi dan pelacuran. Usia Gracia Mounray baru saja menginjak angka kepala tiga.

Dia bertubuh tinggi nyaris seperti model-model Victoria, rambutnya pirang dan ikal di bagian bawahnya, matanya mirip mata kucing yang mengincar ikan segar, hidungnya tinggi layaknya Everest, dan bibirnya seindah pegunungan di desa terpencil yang jauh dari perkotaan. Dia mempunyai leher jenjang yang mengundang lelaki ingin segera tunduk di tengkuknya tetapi dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dadanya seperti perempuan yang terkena anorexia. Dan tungkai kakinya mirip Taylor Swift. Nyaris sempurna. Nyaris, andai saja lengan-lengannya tidak sedikit berotot, dan betisnya berada di ukuran perempuan normal.

Tetapi, Gracia Mounray memang tidak seperti perempuan kebanyakan. Dia memang gemar melukis wajah, memakai heels terbaik di kota itu, tas jinjing prada, dan mengejar karir sampai heelsnya copot di tengah jalan. Dan membiarkan dia pulang tanpa alas kaki. Sebagian orang bilang, seharusnya Gracia Mounray bekerja di depan kamera, berlenggak-lenggok di panggung, memamerkan mata dan seluruh tubuhnya ke arah kamera. Tetapi nyatanya Gracia Mounray adalah seorang jurnalis politik di media Poulitico Time. Dan dia hanya memakai heels di saat-saat formal, selebihnya keputusan terserah Gracia Mounray.

Orang-orang di kota itu mengenal Gracia Mounray dan mengaguminya. Orang-orang di kota itu menganggap kehidupan Gracia Mounray adalah mimpi terbaik. Dia cantik, terlatih, bertalenta, dan masih banyak lagi. Tetapi hidup Gracia Mounray memang seperti mimpi. Mimpi buruk.

Gracia Mounray, seperti yang dikatakan sebelumnya, tinggal bersama ibu yang sakit-sakitan, kakak perempuan yang egois, dan adik laki-lakinya yang gemar berjudi, pelacuran, dan mabuk-mabukan. Yang terakhir, menyebabkan Gabriele Mounray, adik Gracia Mounray, mati karena overdosis dan komplikasi ginjal dan jantung di usia muda. Gabriele Mounray, mengisi lembar-lembar koran, tentang kematiannya yang seperti lagu The Smith. A Death Of A Disco Dancer. Gabriele Mounray mati di club malam, dengan tujuh botol vodka, serbuk ekstasi, dan ganja hisap.

Kakak perempuan Garcia Mounray, Febriene Grazie Mounray, selalu bertengkar dengan dirinya dan ibunya. Febriene selalu menyalahkan Gracia atas kematian Ayah mereka, Tuan Mounray. Febriene, sebelum hari-hari naas menimpanya, adalah gadis yang manis dan baik hati. Dia masih mau menjual bunga dan telur untuk membantu ibunya mencari nafkah selepas Tuan Mounray meninggal. Tetapi hari-hari naas berikutnya mengubah perangainya menjadi buruk. Febriene sebenarnya telah menikah dan seharusnya memiliki satu putri kecil yang cantik seperti dirinya dan Gracia. Tetapi bayi perempuannya tidak pernah lahir. Suaminya, yang seorang prajurit perang, mati terkena peluru tepat di batok kepalanya, dan itu menyebabkan Febriene keguguran. Semenjak itu, dia menyalahkan Gracia atas seluruh kehidupannya yang hancur.

Ibu Gracia Mounray sendiri merupakan seorang perempuan biasa. Tua dan penyakitan. Suzy Barton Mounray, ibu Gracia Mounray, karena tekanan mental yang bertubi-tubi, terkena struk ringan dan menjadi sering pikun. Dia bahkan pernah menyusuri Oxford Town seorang diri dan tak tahu jalan pulang, beruntung seseorang mengenalnya dan mengantar Nyonya Mounray ke rumah. Dia juga pernah tidak mengenal Gracia Mounray, Febriene, dan Gabriele. Baiknya, menurut Gracia, perempuan renta itu tidak perlu tahu ke mana Gabriele pergi dan apa yang terjadi dengan hidup Febriene.

Ayah Gracia Mounray, Febriene, dan Gabriele, telah lama mati. Ketika Gracia Mounray masih berumur delapan tahun. Ketika Tuan Mounray mengantar putri kecilnya ke sekolah dengan sedan biru tuanya. Sedan Daihatsu Charmant biru tua yang remnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Sedan biru tua yang mengantar Gracia Mounray ke sekolah, dan mengantar Tuan Mounray kepada maut. Sedan biru tua itu, dikabarkan oleh New York Times, pada musim panas tahun ’91, menabrak bus. Satu orang tewas, yaitu Tuan Mounray, dan seorang gadis kecil selamat, dia Gracia Mounray. Seluruh keluarga terpukul kecuali Gracia Mounray. Dia tidak dapat merasakan apa-apa.

Gadis secantik, semolek, secerdas, dan sesupel Gracia Mounray, di pikiran banyak orang memang sangat menarik. Tidak ada yang akan menolak menjadi teman atau sahabat baiknya. Tidak ada pula lelaki yang tidak mau berkencan dengannya. Tentu, lelaki itu harus mengimbangi kecerdasan perempuan itu. Tetapi hidup Gracia Mounray, seperti yang dikatakan, adalah mimpi buruk.

Pada kenyataannya, Gracia Mounray adalah perempuan penyendiri sejak kematian ayahnya. Kematian yang tidak membuat perempuan itu menangis sama sekali. Gracia, sedari kecil, tidak pernah memiliki teman yang akrab. Terakhir, dia memiliki teman bermain yang memiliki anjing, dan dia memotong buntut anjing itu dengan pisau dapur karena gemas. Anjing itu mati. Tangis temannya pecah, tetapi Gracia tidak merasakan apa-apa. Semenjak itu, Gracia Mounray enggan bergaul lagi. Ia menutup diri.

Individualitas yang tumbuh di jiwa Gracia Mounray, membuat dia harus mandiri hingga ia merasa tidak membutuhkan orang lain lagi. Dia tidak menaiki tangga-tangga kehidupan, tetapi dia cukup berdiri di atas elevator, dan membiarkan elevator itu bekerja untuk hidupnya. Hingga dia menjadi pewarta politik di majalah konvensional Poulitico Time. Dia menjalin relasi dengan sumber-sumbernya secara professional dan sebatas simbiosis mutualisme, tidak lebih.

Dalam riwayat perempuan ini, Gracia Mounray juga pernah dikabarkan dekat dengan sejumlah politisi, pejabat, hingga ‘lelaki berseragam’. Beberapa hanya teman tidur, dan sebatas rekan kerja, atau sebatas relasi karena pekerjaan. Tetapi satu orang, yang dikenal bernama Mauretz Mad’jid, wartawan asal Israel, dia lah laki-laki satu-satunya yang bukan hanya teman tidur atau rekan kerja atau relasi. Mauretz Mad’jid, lelaki Yahudi itu ‘pakai hati’ dengan Gracia Mounray. Mereka hampir saja menikah kalau saja ibu Mauretz Mad’jid tidak melarang dan Gracia Mounray tidak mengusulkan untuk membunuh perempuan tua itu dengan racun arsenik.

Tidak lama kemudian, Mauretz Mad’jid menikahi perempuan Israel yang memiliki darah Inggris, Ivory Me Diana. Dia seorang pengajar di sekolah anak-anak. Namun, nama Ivory Me Diana belakangan ini terkenal di mana-mana. Di televise nasional dan internasional.

Ivory Me Diana, korban pembunuhan berencana dengan pistol Belgia, FN 57, di sebuah parkiran mobil apartemennya. Peluru berukuran sekitar 5 mm itu bersarang tepat di lambungnya. Tubuh perempuan itu tergeletak begitu saja di basement hingga Mauretz Mad’jid menemukan tubuh istrinya yang berdarah dan kaku.

Tidak banyak yang diketahui dari kehidupan Ivory Me Diana selain dia istri dari Mauretz Mad’jid, dan seorang pengajar di sekolah anak-anak.

Pembunuhan ini menjadi misteri hingga satu minggu setelah Gracia Mounray tertangkap di mobil sedan tuanya. Mobil sedan tua yang diabeli untuk mengenang ayahnya. Mobil sedan tua yang dihadang polisi di sebuah jalan di Oxford Town. Sebuah sedan tua yang menyimpan pistol FN 57 dan peluru-peluru berukuran 5 mm.

Seorang wartawan kami, Izrael Bharnie, mengabadikan senyum Gracia Mounray ketika dirinya tertangkap. Dalam kutipan foto itu, Izrael Bharnie menulis: Senyum dingin Gracia Mounray.

Dan beginilah kisah perempuan penyendiri itu. Perempuan penyendiri yang menjadi tersangka pembunuhan berencana di Oxford Town. Perempuan penyendiri yang…(izb/nyt/pt)